BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Bus Rapid Transit
Menurut Anas (2012. http://anasaff.blogspot.co.id/2012/10/bus-rapid- transit-brt-busway.html) Bus Rapid Transit Maminasata adalah istilah yang digunakan untuk berbagai sistem transportasi umum yang menggunakan bus untuk menyediakan layanan yang lebih cepat dan lebih efisien daripada jalur bus biasa. Bus Rapid Transit Maminasata merupakan sebuah sistem transportasi pada jalur khusus yang diperuntukan bagi bus, sehingga dapat diperoleh efisiensi yang tinggi. Bus ini memiliki pelayanan yang kualitasnya lebih baik dibandingkan pelayanan bus yang lain, setiap sistem Bus Rapid Transit Maminasata pasti menggunakan sistem pengembangan yang berbeda,
walaupun pengembangannya terkait dengan sistem Bus Rapid Transit Maminasata yang lain.
Sistem Bus Rapid Transit Maminasata umumnya terdiri dari beberapa komponen yaitu: 1) jalur bus terpisah, 2) koridor terpisah, 3) pembayaran di stasiun pemberhentian, 4) prioritas untuk bus di persimpangan jalan dan 5) ketinggian stasiun dan bus sama untuk memudahkan aksesibilitas penumpang.
Salah satu keunggulan Bus Rapid Transit Maminasata tidak diperlukan adanya pembangunan infrastruktur jalan baru sebagai lintasan/jalur bus yang beroperasi sehingga dapat menghemat pembiayaan.
Disamping itu, Bus Rapid Transit Maminasata lebih unggul dari sisi kecepatan dibanding bus biasa karena Bus Rapid Transit Maminasata tidak menggunakan jalur/jalan biasa serta dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk menurunkan dan menaikkan penumpang, pembayaran ongkos bus serta waktu untuk kembali ke lalu lintas
Konsep Bus Rapid Transit Maminasata disusun untuk dapat menghubungkan antar titik-titik pertumbuhan perekonomian di Sulawesi bagian Selatan (umumnya) dan di dalam Kota Makassar (khusus) dengan mengembangkan koridor Bus Rapid Transit Maminasata melalui jalan-jalan nasional dengan lebar 9- 11 meter (Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2006).
Konsep transportasi sebagai sarana perpindahan ataupun pergerakan orang, binatang atau barang dari satu tempat ke tempat yang lain diperlukan
untuk mendukung pertumbuhan perekonomian. Adapun desain Bus Rapid Transit Maminasata dilakukan secara bertahap (Wikipedia:2015) meliputi:
a. Pengembangan 2 koridor Bus Rapibd Transit Maminasata sebagai ajang ujicoba dalam menilai animo masyarakat. Dua koridor ini akan melalui lokasi-lokasi kompleks perkantoran dan kompleks pariwisata di dalam Kota Makassar seperti: Pantai Losari, Trans Studio Makassar, Port Rotterdam dan Lokasi Wisata Kuliner Coto Makassar.
b. Pengembangan prasarana jalan (perbaikan, pelebaran dan pemasangan pembatas jalur Bus Rapibd Transit Maminasata) dan halte/stasiun di sepanjang kedua koridor tersebut.
c. Pengembangan sarana pendukung untuk pengguna Bus Rapibd Transit Maminasata, contohnya: parkir yang luas dan aman di sekitar halte/stasiun utama.
d. Pembentukan Badan Usaha Milik Daerah yang bertanggungjawab kepada Pimpinan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat sebagai organisasi pengelola Bus Rapid Transit Maminasata.
e. Adanya peraturan daerah yang mengatur kepemilikan kendaraan pribadi termasuk diantaranya pembatasan kepemilikan kendaraan pribadi, pajak pertambahan barang mewah.
E. Teori Sosiologi Yang Relevan 1. Teori-Teori Perubahan Sosial
Setiap masyarakat selama hidup pasti mengalami perubahan- perubahan yang dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti
kurang mecolok. Adapun pengaruh-pengaruhnya terbatas maupun yang luas serta adapula perubahan-perubahan yang lambat sekali tetapi ada juga yang berjalan denga cepat.
Perubahan-perubahan hanya akan dapat ditemukan oleh seseorang yang sempat meneliti susunan dan kehidupan suatu masyarakat pada suatu waktu dan membandingkannya dengan susunan dan kehidupan masyarakat tersebut pada waktu yang lampau. Seseorang yang tidak sempat menelaah susunan dan kehidupa masyarakat desa di Indoesia misalnya akan berpendapat bahwa masyarakat tersebut statis, tidak maju, dan tidak berubah.
Pernyataan demikian didasarkan pada padangan sepintas yang tentu saja kurang mendalam dan kurang teliti karena tidak ada suatu masyarakat pun yang berhenti pada suatu titik tertetu sepanjang masa. Orang-orang desa sudah mengenal pandangan, alat-alat transportasi modern, bahkan dapat mengikuti berita-berita. Adapun defenisi perubahan sosial meurut para toko sosiologi yaitu diantaranya:
a. William F. Ogburt dalam Soekanto (2012:262)
Ogburt menemukan bahwa ruang lingkup perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun inmaterial, yang fokusnya adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan materi terhadap unsur-unsur immaterial.
b. Kingles Davis dalam Soekanto (2012:262)
Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Dari defenisi ini dapat
dijelaskan bahwa, dalam perubahan sosial yang mengalami perubahan adalah strtuktur sosial dan sistem sosialnya.
c. J.P. Gillin dan J.L. Gillin dalam Soekanto (2012:263)
J.P. Gillin dan J.L. Gillin mengemukakan bahwa perubahan- perubahan Sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.
d. Selo Soemarjan dalam Martono (2012:4)
Selo Soemarjan medefenisikan perubahan sosial sebagai perubahan- perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat yang mempegaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku dintara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Penekanan defenisi ini tertumpu pada lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai himpunan pokok manusia, dimana perubahan yang terjadi akan mempengaruhi segi-segi struktur masyarakat lainnya.
Secara garis besar, perubahan sosial dipengaruhi oleh faktor dari dalam dan luar masyarakat itu sendiri. Di antara faktor yang berasal dari dalam masyarakat seperti perubahan pada kondisi ekonomi, sosial, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun yang berasal dari luar masyarakat biasanya ialah yang terjadi diluar perencanaan manusia seperti bencana alam. Menurut Setiadi (2011: 611), dimana kedua faktor diatas memunculkan teori perubahan sosial, diantaranya
1) Teori evolusi
Perubahan Teori ini banyak diilhami oleh pemikiran darwin yang kemudian dijadikan patokan teori perubahan Spencer dalam Setiadi (2011:611) dalam konsep teoritis ini yang dikemukakan oleh para ahli ini dinyatakan bahwa evolusi mempengaruhi cara pengorganisasian masyarakat, utamanya yang berhubungan dengan sistem kerja. Berhubungan dengan pemikiran Tonnies dalam Setiadi (2011:611) memandang bahwa masyarakat berubah dari tingkat peradaban sederhana ke tingkat peradaban yang lebih kompleks.
Gejala ini dapat dilihat di dalam struktur sosial masyarakat desa yang identik dengan masyarakat pedesaan yang bergerak kearah pola-pola masyarakat perkotaan yang justru menekankan pada aspek-aspek individualisme. Dari pemaparan ini perubahan dapat dibedakan menjadi dua yaitu ;
a. Perubahan sosial secara lambat (evolusi)
Perubahan sosial dapat dikatakan terjadi secara lambat hanya apabila dilihat dari waktunya. Biasanya waktu perubahan ini terjadi secara lambat, memerlukan rentetan perubahan kecil secara lamban yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku masyarakat yang menyesuaikan dirinya dengan pergeseran sosial sesuai denga keperluan, keadaan, dan kondisi yang baru dan sejalan dengan adanya proses pertumbuhan ini.
b. Teori Sosial Secara Cepat (Revolusi)
Perubahan secara cepat akan terjadi pada sendi-sendi atau dasar-dasar pokok dari kehidupan masyarakat (yaitu lembaga-lembaga kemasyarakatan) lazimnya dinamakan Revolusi. Di dalam revolusi, perubahan-perubahan yang terjadi dapat direncanakan terlebih dahulu maupun terjadi tanpa perencanaan.
Sebenarnya ukuran kecepatan suatu perubahan yang dinamakan revolusi sifatnya relatif, sebab revolusi dapat memakan waktu yang lama, misalnya revolusi industri yang dimulai di inggris, dimana terjadi perubahan pada tahap produksi tanpa mesin ke tahap produksi dengan menggunakan mesin.
Perubahan di dalam masyarakat berasal dari asal mula perubahan itu sendiri. Manusia sebagai agen perubahan memiliki sifat dinamis yang diwujudkan dalam bentuk perubahan dari waktu ke waktu, Cooley dalam Kartono (2013:6) bahwa kehidupan sosial terdapat interaksi timbal balik dari masyarakat dengan individu.
Jika dilihat dari asal mula perubahan, maka perubahan sosial dapat digolongkan menjadi; perubahan yang dikehendaki atau perubahan yang direncanakan, dan perubahan yang tidak dikehendaki atau perubahan yan tidak direncanakan. Yang dimaksud dengan perubahan yang dikehendaki ialah prubahan yang diperkirakan atau telah direncanakan terlebih dahulu pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat.
Adapun pihak yang mengadakan perubahan di dalam masyarakat disebut agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai sebagai pemimpin atau lebih
lembaga-lembaga kemasyarakatan. Agent of change inilah yang memimpin perubahan ini. Perubahan yang dikehendaki biasanya selalu dibawah kendali dan pengawasan sehingga perjalanan perubahan ini akan teratur dan terencana.
Lain halnya dengan perubahan yang tidak dikehendaki atau tidak terencana. Perubahan ini adalah perubahan yang terjadi tanpa dikehendaki sehingga proses perubahan ini di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat mengakibatkan akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan. Termasuk dalam hal ini bisa mengakibatkan timbulnya sikap atau perilaku menyimpang di dalam masyarakat.
2. Dampak Perubahan Sosial
Perubahan sosial adalah proses sosial yang berlangsung secara tersu- menerus dalam kehidupan masyarakat, berkaitan denga pergeseran fungsi, sistem dan struktur sosial sehingga megubah pola perilaku dalam masyarakat, perubahan masyarakat dapat berarti kemunduran (regress) dan kemajuan (progress). Maksudnya adalah perubahan masyarakat memiliki arti luas, dapat diartikan sebagai perubahan dan perkembangan dalam arti positif maupun negatif.
a. Dampak Positif
Menunjunkka bahwa peruabah sosial memberika pengaruh kemajuan dalam kehidupan masyarakat. Adapun dampak positif perubahn sosial adalah sebagai berikut:
1) Perembangan Ilmu pengetahua dan teknologi
Perkembangan IPTEK dapat mengubahn nilai-nilai lama menjadi nilai-nilai baru yang mendorong berbagai inovasi yang dapat memudahkan kehidupan masyarakat menuju perubahan sosial kearah moderniasasi
2) Terciptanya lapangan pekerjaan baru
Dapat mendorong industrialisasi dan perkembagan perusahaaan multinasional. Degan pegembangan perusahaan secara global dan pembuakaan industi kecil, tersedia banyak lapangan pekerjaan sehingga mampu meyerap teaga kerja secara maksima.
3) Tercipta tenaga kerja professional
untuk mendukung persaingan indusrtri diperlukan tenaga kerja yang memiliki kecakapan, keterampilan, keahlian dan profesionalisme yang tinggi.
4) Nilai dan norma baru terbentuk
Nilai merupakan sesuatu yang baik, penting, serta dihargai.
Sedangkan norma adalah aturan yang mengikat nilai.
5) Efektifitas dan efesiensi kerja meningkat
Efektifitas dan efesiesi kerja selalu berkaitan dengan penggunaan alat produksi yang dapat meghasilkan produk lebih cepat, lebih banyak dan tepat sasaran.
b. Dampak Negatif
Menunjukkan kerugian yang dialami oleh masyarakat, kerugian tersebut berupa material maupun non material. Adapun dampak negatif perubahan sosial adalah sebagai berikut:
1) Terjadi disintegrasi sosial
Disintegrasi sosial terjadi karena adanya revolusi, kesenjangan sosial, perbedaan kepentingan yag dapat mendorong perpecahan dalam masyarakat.
2) Terjai pergolakan daerah
Pergolakan daerah dapat muncul akibat keseangan ekonomi, tidak memperhatikan tatanam hidup, mengabaikan nilai dan norma serta perbedaan agama, ras, suku, bangsa dan politik.
Menurut Soekanto (2012:299) gerak perubahan (Direction of Change) merupakan perubahan bergerak meninggalkan faktor yang diubah. Akan tetapi, setelah meninggalkan faktor itu, mungkin perubahan bergerak kepada sesuatu bentuk yang sama sekali baru atau mungkin pula bergerak ke arah suatu bentuk yang sudah ada di dalam waktu yang lampau.
3. Kajian Teori Mengenai Perubahan Sosial
Setiap masyarakat dalam kehidupan pasti akan mengalami perubahan- perubahan walaupun ruang ligkup perubahan tersebut tidak terlalu luas.
Perubahan-perubaha yang terjadi di dalam masyarakat dapat megenai nila-nilai sosial, norma sosial, pola-pola perilaku dalam orgaisasi, susunan lembaga- lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya. Disamping itu, kebutuha maupun kepentinga masyarakat senantiasa berkembag terus, sehigga diperlukan perubaha agar kebutuha dan kepentingan dapat dipenuhi secar wajar.
Para sosiolog mengklasifikasikan masyarakat menjadi dua yaitu masyarakat statis dan masyarakat dinamis. Masyarakat statis adalah masyarakat yag mengalami perubahan yang berjala lambat. Masyarakat dinamis adalah masyarakat yang mengalami berbagai perubahan yang cepat.
Jadi setiap masyarakat, pada suatu masa dapat dianggap sebagai masyarakat yang statis, sedangkan pada masyarakat lainnya dianggap sebagai masyarakat yang dinamis.
Perubahan-perubahan bukanlah semata-mata berarti suatu kemajuan (progress) namun dapat pula berarti kemunduran dari bidang-bidang kehidupan tertentu. Penemuan baru di bidang tehnologi yang terjadi di suatu tempat dengan cepat dapat diketahui oleh masyarakat lain yang berada jauh tempat tersebut. Perubahan yang berjalan secara kostan terjadi karena memang terikat oleh waktu dan tempat. Akan tetapi karena sifatnya yang berkaitan antara satu dengan yang lain. Maka perubaha terlihat berlangsung terus-menerus walau diselingi keadaan dimana masyarakat mengadakan reorganisasi unsur-unsur yang terkena perubahan.
Perubahan yang terjadi dalam masyarakat dapat berupa perubahan sosial. Masyarakat itu sendiri dapat dilihat dari sebagai sebuah sistem dimana seluruh struktur sosialnya (juga masing-masing elemen) terintegrasi menjadi satu, masing-masing memiliki fungsi yang berbeda-beda tapi saling berkaitan dan menciptakan konsensus dan keteraturan serta keeluruhan elemen aka saling beradaptasi baik terhadap perubahn interal dan eksternal dari masyarakat.
Menurut Gillin perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi cara- cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan keadaan geografis, kebudaaan material, komposisi penduduk, ideologi maupu karena adanya difusi maupun penemuan-penemun baru dalam masyarakat.
F. Kerangka Pikir
Bus Rapid Transit Maminasata adalah istilah yang digunakan untuk berbagai sistem transportasi umum yang menggunakan bus untuk menyediakan layanan yang lebih cepat dan lebih efisien daripada jalur bus biasa.
Bus Rapid Transit Maminasata merupakan sebuah sistem transportasi pada jalur khusus yang diperuntukan bagi bus, sehingga dapat diperoleh efisiensi yang tinggi. Bus ini memiliki pelayanan yang kualitasnya lebih baik dibandingkan pelayanan bus yang lain.
Bus Rapid Transit Maminasata ini kini mulai beroperasi di kota Makassar baru-baru ini sehingga peneliti berinisiatif untuk melakukan suatu penelitian untuk mengetahui perspsi masyarakat terkait kebradaan Bus Rapid Transit Maminasata di kota Makassar ini, mulai dari persepsi masyarakat umum, pengguna Bus Rapid Transit Maminasata serta yang tidak akan terlupakan pegawai Bus Rapid Transit Maminasata yang notabenenya memiliki pekerjaan atau mata pencaharian dari transportasi umum yang digunakan oleh masyarakat di kota Makassar.
Kehadiran Bus Rapid Transit Maminasata ini tentulah memiliki dampak, baik positif maupun negatif karena segala sesuatu pasti memiliki
dampak sama halnya dengan Bus Rapid Transit Maminasata ini. Salah satu dampak positifnya yakni dapat mengatasi kemacetan dan mendapatkan pelayanan angkutan umum yang lebih nyaman bagi penggunanya, sedangkan salah satu dampak negatifnya yakni menambah saingan supir angkutan umum (Pete-pete). Adapun kerangka konsep pada penelitian ini yaitu:
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir
Pegawai Bus Rapid Transit Maminasata Masyarakat Umum
Pengguna Rapid Transit Maminasata
Persepsi Masyarakat
Dampak keberadaan Bus Rapid Transit Maminasata di Kota
Makassar
Bus Rapid Transit Maminasata
32