BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Pustaka
13. Cara Menumbuhkan Minat Baca
Ada beberapa cara menumbuhkan minat baca menurut Hasyim (dalam http://www1.bpkpenabur.or.id), yaitu berikut ini:
1. Bacakan buku sejak anak lahir.
2. Dorong anak bercerita tenang apa yang telah didengar atau dibacanya.
3. Ajak anak ke toko buku/perpustakaan.
4. Beli buku yang menarik minat anak.
5. Sisihkan uang untuk membeli buku.
6. Nonton filmnya dan beli bukunya.
7. Ciptakan perpustakaan keluarga.
8. Tukar buku dengan teman.
9. Hilangkan penghambat seperti televisi.
10. Beri hadiah (reward) yang memperbesar semangat membaca.
11. Jadikan buku sebagai hadiah (reward) untuk anak.
12. Jadikan kegiatan membaca sebagai kegiatan setiap hari.
13. Dramtisi buku yang anda baca.
14. Peningkatan minat baca dapat dilakukan dengan berbagai cara.
15. Memiliki kesadaran dan minat yang tinggi terhadap membaca.
16. Menyediakan waktu untuk membaca.
Berdasarkan keterangan di atas minat baca seorang anak bergantung dengan kreativitas orang tuanya dalam menumbuhkan minat membaca kepada anaknya, tentunya hal ini dilakukan dengan berbagai cara yang harus ditempuh.
14. Faktor-faktor yang Memengaruhi Minat Baca
Menururt Hurlock (http:www1.or.id), minat yang berkembang pada anak karena hal berikut ini.
1. Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan mental.
2. Minat bergantung pada kesiapan belajar.
3. Minat diperoleh dari pengaruh budaya.
4. Minat dipengaruhi oleh bobot emosi.
5. Minat adalah sifat egosentrik di keseluruhan masa anak-anak.
Berdasarkan uraian di atas indikator minat baca dapat dilihat pada : 1. Aktifitas membaca anak yaitu di sekolah dan di rumah.
Aktifitas kegiatan membaca di sekolah tidak termasuk kegiatan membaca materi pelajaran yang sedang diajarkan oleh guru, karena hal itu dianggap bagian dari kegiatan (proses belajar mengajar).
Aktivitas kegiatan membaca di sekolah dibatasi pada kegiatan membaca yang dilakukan anak di luar jam belajar yang dilakukan di sekolah.
Sedangkan aktivitas membaca materi pelajaran atau buku-buku pelajaran sekolah yang dilakukan di rumah.
2. Objek atau bahan bacaan
Objek atau bahan bacaan yang dikategorikan dalam minat baca dalam penelitian ini, meliputi buku-buku pelajaran di sekolah, di perpustakaan sekolah termasuk buku cerita, karena diasumsikan buku cerita tersebut juga menunjang materi pelajaran siswa, majalah populer, dan koran.
15. Surat Kabar
Surat kabar atau koran merupakan salah satu media massa yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Surat kabar diterbitkan secara berkala, maka dari itu surat kabar termasuk salah satu media massa periodik yang diterbitkan secara berkala, yakni harian, mingguan, dan bulanan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2012: 733) disebutkan bahwa koran adalah lembaranlembaran kertas bertuliskan kabar berita yang terbagi dalam 8-9 kolom yang diterbitkan secara periodik. Danesi (2010: 84) mengemukakan bahwa surat kabar merupakan salah satu bentuk teks yang di
dalamnya terdapat hubungan yang acak karena mengorganisasikan keseluruhan teks. Isi surat kabar yaitu cerita kriminal, 16 laporan kecelakaan, ulasan film dan buku, iklan, dan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Fungsi utama surat kabar adalah melaporkan berit
16. Tahap Perkembangan Bahasa
Bahasa adalah alat komunikasi yang utama dari manusia, dengan bahasa manusia dengan sesama manusia dapat berhubungan dengan yang lainnya, dan dengan bahasa pula seseorang dapat mengungkapkan pikiranya, perasaannya, dan kehendaknya kepada orang lain. Bahasa sebagai komunikasi, mengandung pengertian bahwa bila sekelompok manusia memiliki bahasa yang sama, maka mereka akan dapat saling bertukar pikiran mengenai segala sesuatu yang dialami secara konkret maupun abstrak. Tanpa mengenal bahasa yang digunakan suatu masyarakat akan sukar untuk mengambil bagian dalam kehidupan sosial mereka.
B. Kerangka Pikir
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang menggunakan pendekatan scientific approach, di dalam kurikulum 2013 terdapat pembelajaran bahasa Indonesia.
Dalam aspek kebahasaan dan kesastraan terdiri dari membaca, menyimak, berbicara, dan menulis. Menyimak merupakan suatu proses yang mencakup kegiatan mendengar bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasikan, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya dan memahami pesan, ide serta gagasan yang terdapat pada materi atau bahan
simakan. Dengan demikian tujuan menyimak dapat dijabarkan sebagai menyimak memperoleh fakta atau mendaptkan fakta, menganalisis fakta, mengevaluasi fakta, mendapatkan inspirasi, dan mendapatkan hiburan atau menghibur diri.
Minat baca merupakan aktivitas individu. Di mana individu tersebut mempunyai ketertarikan atau perhatian yang terarah kepada suatu kegiatan membaca dalam upaya memahami, mengartikan, menafsirkan, dan menerapkan ide-ide yang terkandung dalam bahan bacaan yang diwujudkan dalam perilakunya.
PENGAJARAN KEBAHASAAN DI SMPN 1 BONTONOMPO
DI SMA NEGERI 2 BONE
KURIKULUM 2013
MAMBACA MENYIMAK
TIDAK TERDAPAT HUBUNGAN YANG SIGNIFIKAN TERDAPAT HUBUNGAN
YANG SIGNIFIKAN
MINAT BACA SISWA
HUBUNGAN
MENULIS BERBICARA
C. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah hubungan sementara terhadap suatu rumusan masalah peneliti, dimana rumusan masalah peneliti tersebut telah dinyatakan ke dalam bentuk pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori-teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data (Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alfabeta).
Berdasarkan pendapat diatas bisa diartikan bahwa hipotesis adalah dugaan atau praduga sementara dari permasalahan yang perlu diuji suatu kebenarannya melalui analisis. Berdasarkan dari kerangka berpikir yang telah diuraikan, hipotesis pada penelitian ini adalah:
H0 : Tidak ada hubungan antara kemampuan menyimak dan minat baca H1 : Ada hubungan antara kemampuan menyimak dan minat baca
27
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional, yaitu penelitian yang dilakukan antara dua variabel atau lebih yang bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, berapa eratnya hubungan serta berarti atau tidak hubungan antara kemampuan menyimak dengan minat baca siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VIII SMPN 1 Bontonompo Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa.
B. Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel Penelitian
Menurut Sugiyono (2006:60) “variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya”.
Menurut Arikunto (1992:89) menjelaskan bahwa variabel penelitian adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Sehubungan dengan itu, variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah, kemampuan menyimak sebagai variabel bebas dengan simbol (X) dan minat baca siswa sebagai variabel terikat, dilambangkan dengan simbol (Y).
Keterangan:
X : variabel bebas Y : variabel terikat
Sumber: Sugiyono (2005: 12) 2. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian jenis korelasional.
Dikatakan sebagai penelitian korelasional karena penelitian ini akan menyelidiki dan mendeskripsikan secara empiris yang sistematik hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Penelitian korelasi digunakan untuk menentukan tingkat hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Peneliti akan meneliti seberapa besar kontribusi variabel- variabel bebas terhadap variabel terikat (Umar, 2007: 25).
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dengan demikian, yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII A SMPN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa.
X Y
2. Sampel
Penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel atau purposive sampel yakni peneliti sendiri yang menentukan sampel yang akan diteliti mengingat keterbatasan waktu dan dana peneliti. Hal ini sejalan dengan pendapat Arikunto (2002:112), bahwa “apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10- 15% atau 20-25% atau lebih, tergantung setidak-tidaknya dari kemampuan peneliti dilihat dari waktu, tenaga, dan dana, sempit luasnya pengamatan dari setiap subjek, dan besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti”. Selain asumsi di atas, penarikan sampel ini dilakukan peneliti sesuai dengan metode penelitian ini. Maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas VIII A SMPN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa.
D. Instrumen Penelitian
Variabel penelitian yang sudah ditetapkan akan diukur menggunakan instrumen penelitian. Instrumen penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data. Instrumen tes bersifat mengukur karena berisi pertanyaan atau pernyataan yang alternatif jawabannya memiliki standar jawaban tertentu (Sukmadinata, 2013: 230).
1. Instrumen Kemampuan Menyimak
Instrumen kemampuan menyimak dalam bentuk uraian teks berita yang dibacakan secara langsung. Instrumen yang berbentuk uraian digunakan untuk
mengetahui pemahaman siswa terhadap berita yang disimak dengan mengidentifikasi unsur-unsur berita. Pemahaman itu juga dapat mengacu kepada pemahaman secara umum seperti topik yang dibahas atau sekedar garis besar isinya, atau bagian-bagian yang lebih terinci termasuk pelaku, lokasi, waktu, dan beberapa aspek yang menonjol.
Instrumen tes menyimak berita berikut ini merupakan pengembangan tes bahasa yang diuraikan oleh Djiwando (2011:117) dalam bukunya yang berjudul
“Tes Bahasa Pegangan bagi Pengajar Bahasa, bahwa baik menyimak maupun membaca pemahaman kemampuan yang diukur untuk tingkat dasar antara lain : (1) memahami arti kata-kata sesuai penggunaan dalam wacana; (2) mengenali susunan organisasi wacana dan antar hubungan bagiannya; (3) mengenali pokok- pokok pikiran yang terungkapkan dalam wacana; (4) mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya secara eksplisit terdapat dalam wacana.
Tabel 3.1 Kisi-Kisi Instrumen Keterampilan Menyimak Berita
Aspek Jumlah
Soal
Nomor Soal Memahami arti kata-kata sesuai penggunaan dalam teks berita 1 1 Mengenali susunan organisasi berita dan antar hubungan
bagian-bagiannnya.
3 2,3,4 Mengenali pokok-pokok pikiran yang terungkapkan dalam
teks berita.
3 5,6,7 Mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya
secara eksplisit terdapat dalam teks berita.
3 8,9,10
Jumlah 10
Setelah instrumen diuji cobakan dan diuji validitas serta reliabilitasnya maka instrumen dapat digunakan untuk penelitian. Dalam instrumen tes menyimak ini menggunakan tes berbentuk uraian teks berita, skor maksimal 6 dan skor minimal 2 didapat dari setiap skor kriteria 1 yaitu kesesuaian isi Dengan pedoman penskoran sebagai berikut:
Tabel 3.2 Pedoman Penskoran Tes Uraian
No Kriteria Rincian Kriteria Skor
1. Kesesuaian Isi Isi jawaban sesuai dengan yang ditanyakan 3 Isi jawaban kurang sesuai dengan yang ditanyakan 2 Isi jawaban tidak sesuai dengan yang ditanyakan 1 Djiwandono (2011:68)
2. Instrument Minat Baca
Angket kebiasaan membaca surat kabar merupakan angket tertutup dan memiliki skala. Skala tersebut untuk memberi skor jawaban yang dibuat berdasarkan skala model Likert. Angket ini memiliki empat alternatif jawaban dengan skor tertinggi 4 dan skor terendah 1, yaitu selalu (SL), sering (SR), kadang-kadang (KK), dan tidak pernah (TP). Aspek kebiasaan membaca surat kabar diukur dengan menggunakan kisi-kisi yang meliputi frekuensi atau waktu membaca, keinginan atau kemauan, motivasi, dan lingkungan.
Tabel 3.3 Kisi-Kisi Instrumen Minat Baca
No. Indikator Jumlah Soal Nomor Soal
1. Frekuensi atau waktu membaca
6 1,2,3,4,5,6
2. Keinginan atau kemauan 11 7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17
3. Motivasi 4 18,19,20,21
4. Lingkungan 6 22,23,24,26,26,27
Jumlah 27
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Tes Kemampuan Menyimak
Menurut Sukmadinta, (2013:223) tes umumnya bersifat mengukur, tes dalam pendidikan dibedakan menjadi dua yaitu tes hasil belajar (achievement test) dan tes psikologis (psychological test). Tes adalah teknik yang digunakan untuk mendapatkan data skor hasil tingkat keterampilan menyimak. Dalam tes menyimak, peneliti meminta siswa untuk berkonsentrasi menyimak berita.
Selanjutnya peneliti memberikan soal berbentuk uraian dan siswa mengerjakannya.
Tes ini digunakan untuk mengetahui dan mengukur kemampuan siswa dalam menyimak teks berita. Sasaran utama tes kemampuan menyimak adalah kemampuan peserta tes untuk memahami isi berita yang dikomunikasikan secara lisan oleh pembicara, atau sekedar mendengar rekaman audio atau video.
Pemahaman itu dapat mengacu kepada pemahaman secara umum seperti topik yang dibahas atau sekedar garis besarnya, atau bagian-bagian yang lebih terinci termasuk pelaku, lokasi waktu, dan beberapa aspek yang menonjol.
2. Angket Minat Baca
Arikunto (2006: 151) menjelaskan bahwa metode angket adalah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dan laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang diketahui.
Menurut Arikunto (2006: 152), angket dalam penelitian ini digunakan untuk mendapat data tentang minat baca siswa dengan memberikan daftar pernyataan yang diberikan kepada subyek penelitian atau responden secara individu guna memperoleh informasi yang dibutuhkan peneliti, kemudian menyebarkan angket dan menghimpunnya kembali setelah diisi oleh responden.
F. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan, baik melalui tes kemampuan menyimak berupa teks berita yang dikomunikasikan secara lisan oleh pembicara maupun angket yang disebarkan ke peserta didik untuk mengetahui minat baca siswa akan dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi, teknik ini digunakan untuk menguji hipotesis, ada tidaknya hubungan antara variabel bebas (kemampuan menyimak) dan variabel terikat (minat baca).
Priyatno (2014:30) menyatakan bahwa analisis deskriptif digunakan untuk penggambaran tentang statistik data seperti min, max, mean, sum, standar deviasi, variance, range, dll dan untuk mengukur distribusi data dengan skewness dan kurtosis. Sedangkan menurut Sugiyono (2015:207-208) bahwa statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana
adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Statistika deskriptif berhubungan dengan hal menguraikan atau memberikan keterangan mengenai suatu data atau keadaan. Statistika deskriptif berfungsi menerangkan keadaan, gejala, atau persoalan. Penarikan simpulan pada statistika deskriptif hanya ditujukan pada kumpulan data yang ada. Data dalam penelitian ini adalah skor tes keterampilan menyimak berita dan skor penyebaran angket minat baca siswa kelas VIII SMPN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa.
Pengkategorian analisis deskriptif dalam penelitian ini menurut (Sugiyono, 2012:36), bahwa setiap variabel dibuat daftar distribusi dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Menghitung jumlah kelas interval K= 1 + 3,3 log n
Keterangan:
K = Jumlah kelas n = jumlah responden log = logaritma 2) Menghitung rentang data
Yaitu data terbesar dikurangi data yang terkecil kemudian ditambah 1.
3) Menghitung panjang kelas = rentang dibagi jumlah kelas 4) Menyusun Interval Kelas
Secara teoritis penyusunan kelas interval dimulai dari data yang terkecil.
Penyajian data akan lebih mudah dipahami jika dinyatakan dalam persen (%). Penyajian data yang mengubah frekuensi menjadi persen dinamakan
Tabel Distribusi Frekuensi. Untuk pengelompokan siswa ke dalam tiga kategori untuk variabel kemampuan menyimak berita dan minat baca didasarkan pada rata-rata hitung dan simpangan baku hasil pengujian (Nurgiyantoro, 2014:265).
Dalam menganalisis data, penulis menggunakan teknik analisis korelasi Pearson Product moment (r). Korelasi ini digunakan oleh Karl Pearson tahun 1900. Kegunaannya untuk mengetahui derajat hubungan antara variabel bebas (independen) dengan variabel terikat (dependen).
Teknik analisis korelasi Pearson Product moment (r) termasuk teknik statistik parametik yang menggunakan interval dan ratio dengan persyaratan tertentu. Rumus yang digunakan korelasi Pearson Product Moment (r) adalah sebagai berikut:
√ Keterangan:
rxy = Koefisien korelasi N = jumlah responden x = skor item
y = skor total angket
Korelasi Pearson Product Moment dilambangkan (r) dengan ketentuan nilai r tidak lebih dari harga (-1 ≤ r ≤ + 1). Apabila nilai r = -1 artinya
korelasinya negatif sempurna: r = artinya tidak ada korelasi: dan r = 1 berarti korelasinya sangat kuat.
Terhadap angka koefisien korelasi yang diperoleh dari perhitungan (proses komputasi), selanjutnya dapat diberikan interpretasi atau penafsiran tertentu.
Menurut Sugiono (2010 : 192) dalam hubungan ini ada dua macam cara yang dapat ditempuh, yaitu interpretasi terhadap angka indeks korelasi “r” Product Moment itu dilakukan dengan secara kasar atau dengan cara yang sederhana, dan interpretasi itu diberikan dengan terlebih dahulu berkonsultasi pada nilai r Product Moment.
Menurut Guilford dalam Sugiono (2010 : 193), dalam memberikan interpretasi secara sederhana terhadap angka koefisien korelasi “r” Product Moment (rxy), pada umumnya digunakan pedoman atau ancar-ancar sebagai berikut :
Tabel 3.4 Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r
Nilai r Interpretasi
0.00 – 0.20 Sangat lemah/sangat rendah
0.21 – 0.40 Lemah/rendah
0.40 – 0.70 Sedang/cukup
0.71 – 0.90 Kuat/tinggi
0.91 – 1.00 Sangat kuat/sangat tinggi Sumber: Sugiono (2010 : 193)
Sugiyono (2015:260) menyatakan bahwa analisis korelasi digunakan untuk mencari arah dan kuatnya hubungan antara dua variabel atau lebih, baik hubungan yang bersifat simetris, kausal dan reciprocal. Priyatno (2014:141)
menyatakan unuk mengetahui hasil analisis korelasi menggunakan SPPS versi 16 dengan melihat Output Model Summary pada kolom R. R adalah korelasi berganda, yaitu korelasi antara dua atau lebih variabel independen terhadap variabel dependen. Dalam regresi sederhana kolom R menunjukkan korelasi sederhana (korelasi Pearson) antara variabel X terhadap variabel Y. Bila pada kolom R mendekati angka 1, maka hubungan variabel X terhadap variabel Y adalah kuat.
38 1. Deskripsi Data Penelitian
Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai hasil penelitian beserta pengolahan data dan pembahasan berupa deskripsi serta analisis data untuk menguji hipotesis. Jumlah variabel penelitian ini ada dua, yaitu satu variabel bebas dan satu variabel terikat sehingga data penelitian ada dua. Data penelitian tersebut adalah data mengenai kemampuan menyimak berita (X), minat baca (Y).
a. Deskripsi Data Kemampuan Menyimak Berita
Data keterampilan menyimak berita diperoleh melalui tes menyimak berita yang terdiri dari 1 berita dengan 10 soal berbentuk uraian. Berita dibacakan dengan dua kali pengulangan. Pedoman penskoran dapat dilihat pada tabel 3.1.
Pedoman tersebut digunakan untuk memberikan skor setiap soal dengan skor maksimal 6 dan skor minimal 2. Didapat dari setiap skor kriteria 1 Sehingga skor total tertinggi 60 dibagi 6 dan dikalikan 10 diperoleh hasil 100 dan skor terendahnya 20 dibagi 6 dikalikan 10 diperoleh hasil 33,3.
Skor tertinggi yang diperoleh dari data adalah 95, dan skor terendah yang diperoleh dari data adalah 53. Berdasarkan data tersebut juga diperoleh rata-
rata (M) sebesar 75, median (Me) sebesar 81, modus (Mo) sebesar 86, dan standar deviasi (SD) sebesar 9,63.
Menurut Sugiyono, (2012:35) untuk menentukan jumlah kelas interval digunakan rumus, yaitu jumlah kelas = 1+3,3 log n, dimana n adalah jumlah sampel atau responden. Sampel dalam penelitian ini adalah 29, sehingga diperoleh banyak kelas 1+3,3 log 29=5,82 dibulatkan menjadi 6 kelas interval.
Rentang data dihitung dengan rumus nilai maksimal dikurangi nilai minimal, sehingga diperoleh rentang data sebesar 95-53=42. Sedangkan panjang kelas dihitung dengan rumus (rentang) dibagi kelas interval, sehingga diperoleh (42)/6=7
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Variabel Kemampuan Menyimak Berita
No. Interval Frekuensi Prosentase
1. 88-95 2 6,896%
2. 81-88 8 27,58%
3. 74-81 5 17,24%
4. 67-74 6 20,68%
5. 60-67 7 24,13%
6. 53-60 1 3,44%
Jumlah 29 100,00 %
Berdasarkan tabel 4.1 mayoritas frekuensi variabel kemampuan menyimak berita terletak pada interval 81-88 yaitu sebanyak 8 siswa (27,58%) dan paling sedikit terletak pada interval 53-60 yaitu sebanyak 1 siswa (3,44%).
Pengelompokan siswa ke dalam tiga kategori untuk variabel kemampuan menyimak berita didasarkan pada rata-rata hitung dan simpangan baku hasil pengujian (Nurgiyantoro, 2014:265). Diketahui standar deviasi (SD) sebesar 9,63 dan mean (Me) sebesar 81. Pengelompokan atau pengkategoriasian data menggunakan pedoman yang dikemukakan oleh Azwar (2016: 149), pengelompokan tersebut menggunakan pedoman sebagai berikut.
Tinggi = X ≥ (µ + 1σ)
Sedang = (µ - 1σ) ≤ X < (µ + 1σ) Rendah = X < (µ - 1σ)
Keterangan : X = skor subjek µ = mean σ = standar deviasi
Berdasarkan perhitungan tersebut dapat dibuat tabel distribusi kecenderungan sebagai berikut:
Tabel 4.2 Distribusi Kategori Variabel Kemampuan Menyimak Berita
No. Skor Frekuensi Kategori
Frekuensi Prosentase
1. X≥90,63 6 20,68% Tinggi
2. 71,37≤X<90,63 17 58,62% Sedang
3. X<71,37 6 20,68% Rendah
Jumlah 29 100%
Berdasarkan tabel 4.2 kemampuan menyimak berita, dengan kategori tinggi sebanyak 6 siswa (20,68%), sedangkan siswa yang memiliki tingkat
kemampuan menyimak dengan kategori sedang sebanyak 17 siswa (58,62%) dan kategori rendah sebanyak 6 siswa (20,68%). Maka, dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan menyimak berita siswa kelas VIII SMPN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa berada pada kategori sedang dengan persentase 58,62%.
Kemampuan menyimak berita hanya dibatasi pada kemampuan tingkat dasar, adapun indikator yang digunakan meliputi: (1) memahami arti kata sesuai penggunaan dalam berita; (2) mengenali susunan organisasi berita dan antar hubungan bagian-bagiannya; (3) mengenali pokok-pokok pikiran yang terungkapkan dalam berita; (4) mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan secara eksplisit terdapat dalam berita.
b. Deskripsi Data Minat Baca
Minat baca termasuk variabel bebas dalam penelitian ini. Data variabel kebiasaan membaca surat kabar siswa Kelas VIII SMPN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa diperoleh dari hasil jawaban responden terhadap instrumen angket tertutup dan langsung sejumlah 27 item dengan jumlah responden sebanyak 29 siswa. Instrumen angket memiliki 4 alternatif jawaban dengan penskoran menggunakan skala Likert. Adapun skor berdasarkan skala Likert adalah skor tertinggi 4 dan skor terendah 1. Berdasarkan data yang terkumpul, diperoleh skor tertinggi 98 dan skor terendah 44.
Hasil analisis mean (Me) sebesar 75,18; median (Md) sebesar 74,3;
modus (Mo) sebesar 72,5 ; dan standar deviasi (SD) sebesar 11,92. Jumlah
kelas interval dihitung menggunakan rumus K = 1+3,3 Log n, n merupakan jumlah sampel atau responden. Diketahui bahwa n = 29 sehingga K = 1+3,3 Log 29 = 5,82 dibulatkan menjadi 6 kelas interval. Rentang data dihitung menggunakan rumus R = (Skor tertinggi−skor terendah) + 1 sehingga R = (98−44) + 1 = 55. Panjang kelas dihitung dengan cara rentang kelas dibagi jumlah interval kelas, yakni 55 : 6 = 9,1 dibulatkan ke atas menjadi 10.
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Data Minat Baca Siswa Kelas VIII SMPN 1 Bontonompo Gowa
No. Interval Frekuensi Porsentasi
1. 89-98 3 10,34%
2. 80-89 8 27,58%
3. 71-80 9 31,03%
4. 62-71 5 17,24%
5. 53-62 2 6,89%
6. 44-53 2 6,89%
Jumlah 29 100%
Dari tabel tersebut diketahui mayoritas minat baca siswa berada pada interval 71-80 sebanyak 9 siswa (31,03%), minat baca terendah siswa berada pada interval 44-53 sebanyak 2 siswa (6,89%), sedangkan minat baca tertinggi siswa berada pada interval 89-98 sebanyak 3 siswa (10,34%). Hal ini menunjukan persebaran minat baca siswa Kelas VIII SMPN 1 Bontonompo Kabupaten Gowa tidak menonjol.
Sebelum mengkategorikan tingkat gejala yang diamati, data dikelompokkan menjadi 3, yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Kategorisasi ini
berdasarkan standar deviasi dan nilai rata-rata empirik. Pengelompokan atau pengkategoriasian data menggunakan pedoman yang dikemukakan oleh Azwar (2016: 149), pengelompokan tersebut menggunakan pedoman sebagai berikut.
Tinggi = X ≥ (µ + 1σ)
Sedang = (µ - 1σ) ≤ X < (µ + 1σ) Rendah = X < (µ - 1σ)
Keterangan : X = skor subjek µ = mean σ = standar deviasi
Diketahui standar deviasi (SD) sebesar 11,92 dan mean (Me) sebesar 75,18. Dari data tersebut dapat disusun klasifikasi data minat baca siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontonompo Kabupaten Gowa. Adapun klasifikasi tersebut sebagai berikut.
Tabel 4.4 Klasifikasi Data Minat Baca Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Bontonompo Kabupaten Gowa
No. Skor Frekuensi Porsentase Kategori
1. X≥87,1 8 27,58% Tinggi
2. 63,26≤X<87,1 16 55,17% Sedang
3. X<63,26 5 17,24% Rendah
Jumlah 29
Tabel data minat baca siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Bontonompo Kabupaten Gowa menunjukkan bahwa terdapat 27,58% berkategori tinggi, artinya terdapat 8 siswa mendapatkan skor di atas 87,1. Hal ini menunjukkan