BAB II LANDASAN TEORI
2.6 Corporate Governance (CG)
Corporate governance didefinisikan sebagai suatu pola hubungan, sistem, dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan (Direksi, Dewan Komisaris, RUPS) guna memberikan nilai tambah kepada pemegang saham secara berkesinambungan dalam jangka panjang, dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan pertauran perundangan dan norma yang berlaku (Daniri, 2006).
Corporate governance menurut komite Cadburry adalah prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para shareholders khusunya dan stakeholders pada umumnya. Tentu saja hal ini dimaksudkan untuk mengatur kewenangan direktur, manajer, pemegang saham, dan pihak lain yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu.
Sedangkan menurut Center for Eurpoean Policy Studies (CEPS) GCG merupakan seluruh sistem yang dibentuk mulai dari hak (right), proses, serta pengendalian, baik yang ada di dalam maupun di luar manajemen perusahaan.
Corporate governance menurut kelompok negara maju (OECD) didefinisikan sebagai cara-cara manajemen perusahaan bertanggung jawab pada shareholder-nya.
Pengambilan keputusan di perusahaan haruslah dapat dipertanggungjawabkan, dan keputusan tersebut mampu memberikan nilai tambah bagi shareholders.
GCG diperlukan untuk mendorong terciptanya pasar yang efisien, transparan dan konsisten dengan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu penerapan GCG perlu didukung oleh tiga pilar yang saling berhubungan, yaitu negara dan perangkatnya sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaku pasar, dan masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha.
Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) pada pedoman umum Good Corporate Governance Indonesia menjelaskan bahwa corporate governance merupakan acuan bagi perusahaan dalam rangka :
1. Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang didasarkan pada asa transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan.
2. Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing organ perusahaan, yaitu Dewan Komisaris, Direksi dan Rapat Umum Pemegang Saham.
3. Mendorong pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakannya dilandasi oleh nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
4. Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di sekitar perusahaan.
5. Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan tetap memperhatikan pemangku kepentingan lainnya.
6. Meningkatkan daya saing perusahaan secara nasional maupun internasional, sehinnga meningkatkan kepercayaan pasar yang dapat mendorong arus investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan.
Berdasarkan pedoman umum GCG Indonesia, setiap perusahaan harus memastikan prinsip good corporate governance diterapkan untuk mencapai kesinambungan usaha (sustainability) perusahaan dengan memperhatikan pemangku kepentingan (stakeholders), berikut prinsip dasar good corporate governance berdasarkan Daniri (2006) adalah :
1. Transparency (Keterbukaan Informasi)
Transparansi bisa diartikan sebagai keterbukaan informasi, baik dalam proses pengambilan keputusan maupun dalam mengungkapkan
informasi material dan relevan mengenai perusahaan. Menurut peraturan di pasar modal Indonesia, yang dimaksud informasi material dan relevan adalah informasi yang dapat mempengaruhi naik turunnya harga saham perusahaan tersebut.
Manfaat dari penerapaan prinsip ini salah satunya adalah stakeholder dapat mengetahui risiko yang mungkin terjadi dalam melakukan transaksi dengan perusahaan dan karena adanya informasi kinerja perusahaan yang diungkap secara akurat, tepat waktu, jelas, konsisten, dan dapat diperbandingkan, maka dimungkinkan terjadinya efisiensi pasar.
2. Accountability (Akuntabilitas)
Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, struktur, sistem, dan pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.
3. Responsibility (Pertanggungjawaban)
Pertanggungjawaban perusahaan adalah kesesuaian (kepatuhan) di dalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan peundangan yang berlaku.
4. Independency (Kemandirian)
Independensi adalah suatu keadaan di mana perusahaan dikelola secara professional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan
dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perunda- undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
5. Fairness (Kesetaraan dan Kewajaran)
Secara sederhana kesetaraan dan kewajaran (fairness) bisa didefinisikan sebagai perlakuan yang adil dan setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku. Fairness juga mencakup adanya kejelasan hak-hak pemodal, sistem hukum dan penegakan peraturan untuk melindungi hak-hak investor khususnya pemegang saham minoritas dari berbagai bentuk kecurangan.
Manfaat penerapan GCG bagi perusahaan menurut Daniri (2006) yaitu:
Mengurangi agency cost, biaya yang harus ditanggung pemegang saham akibat pendelegasian wewenangnya kepada manajemen
Menurunkan biaya modal (cost of capital) sebagai dampak dikelolanya perusahaan secara sehat dan bertanggung jawab
Meningkatkan nilai saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkan citra perusahaan di mata publik dalam jangka panjang
Menciptakan dukungan stakeholder terhadap perusahaan (license to operate) dan berbagai strategi dan kebijakan yang ditempuh perusahaan
Gambar 2.1
Struktur dan Mekanisme CG dengan CSR
Sumber : Data olahan penulis
Berdasarkan gambar 2.1 diatas, irisan pada gambar menujukkan persamaan prinsip antara CG dengan CSR dimana persamaan prinsip tersebut terdiri dari akuntabilitas dan transparansi. Sedangkan perbedaannya adalah pada struktur dan mekanisme dari CG dan CSR yang sesuai dengan pedoman umum Good Corporate Governance penerapan CSR merupakan salah satu bentuk implementasi dari konsep corporate governance yang baik. CSR merupakan aplikasi dari prinsip responsibility, yang mana bertujuan untuk memberikan suatu tanggung jawab kepada stakeholders.
GCG yang kemudian menjadi indikator keberhasilan badan usaha menjadi pedoman dalam pelaksanaan CSR agar dapat mencapai tujuan sesuai dengan visi dan misi
CSR
Corporate Governance
Struktur dan mekanisme Aktivitas CSR
Prinsip
perusahaan. Pada CSR terdapat nilai-nilai yang merupakan etika bisnis dan nilai-nilai tersebut merupakan wujud dari implementasi corporate governance, kemudian implementasi keduanya akan mewujudkan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
Secara konseptual corporate governance menyangkut tanggung jawab perusahaan kepada pihak-pihak lain yang berkepentingan terutama atas kegiatan ekonomi dan segala dampaknya, sedangkan CSR adalah kegiatan yang diselenggarakan perusahaan untuk menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat di luar kegiatan utama perusahaan.
2.6.1 Multiple Large Shareholders (MLS)
Banyak perusahaan memliki beberapa pemegang saham besar yang dalam istilah lain dinamakan dengan Multiple Large Shareholders (MLS). Menurut Gutierrez (2004), multiple large shareholders adalah pemegang saham selain pemegang saham pengendali yang memegang saham tidak sebesar pemegang saham pengendali sehingga tidak memiliki kontrol yang lebih besar dibandingkan pemegang saham pengendali, namun pada saat yang sama, fraksinya sudah cukup untuk mengendalikan perusahaan.
Sedangkan Attig dkk. (2008) menyatakan bahwa investor dapat merasakan kehadiran MLS dengan monitoring yang efisien karena pemegang saham yang besar dapat membawa pengawasan internal baik dengan membentuk koalisi dengan saham ekuitas besar atau dengan bersaing untuk kontrol perusahaan.
Multiple large shareholders dapat dijadikan sebagai mekanisme alternatif yang dapat melindungi pemegang saham minoritas. Lebih khusus, struktur kepemilikan dengan beberapa pemegang saham pengendali dapat dijadikan sebagai perangkat komitmen yang memungkinkan mencapai intensitas monitoring yang optimal (Pagano, 1998 dalam Boubaker & Sami, 2011).
Berdasarkan definisi menurut beberapa ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa MLS dapat dijadikan sebagai salah satu cara dalam bentuk pengawasan di dalam manajemen perusahaan. Oleh karena itu, dengan adanya MLS, pengawasan tata kelola perusahaan diharapkan akan menjadi lebih baik sehingga bentuk penghindaran perusahaan dalam agresivitas pajak akan berkurang.
2.6.2 Komisaris Independen
Pengertian dari komisaris independen sesuai peraturan yang dikeluarkan oleh BEI yaitu dalam UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata-mata untuk kepentingan perseroan.
Pihak independen adalah pihak di luar perusahaan yang tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga dengan dewan Komisaris, Direksi dan/atau pemegang saham pengendali atau
hubungan lain yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen (Peraturan Bank Indonesia nomor 8/4/PBI/2006).
Komisaris independen diukur berdasarkan kapasitas dari setiap komisaris dimana dalam penelitian ini menggunakan profil latar belakang pendidikan yaitu akuntansi dan keuangan. Hal ini sesuai dengan ketentuan pedoman GCG Indonesia (2006) yang menyatakan bahwa salah satu dari anggota Komisaris Independen harus mempunyai latar belakang akuntansi atau keuangan.