• Tidak ada hasil yang ditemukan

CUMA DIA YANG MAMPU MEMBALIKKAN HATI MANUSIA

Dalam dokumen Book Love in Edinburgh by Indah Hanaco (Halaman 115-119)

SEBASTIAN tidak percaya pada kebetulan. Tapi, hari ini dia dihadapkan pada banyak sekali peristiwa yang berhak dimasukkan ke kategori itu. Bagaimana bisa Frans memimpin perusahaan yang menjadi distributor untuk Belle Femme? Artinya lagi, apa Frans yang seharusnya ditemui Sebastian bersama Edward saat dia malah memutuskan terbang ke Edinburgh?

"Tapi, saya tidak pernah berurusan dengan Frans. Maksudnya, saya tidak pernah bertemu dia sebelum hari ini. Saya membuat kesepakatan dengan Edward Bimantara," Sebastian tampak berpikir.

Keningnya dipenuhi kerut halus.

"Edward itu ayahnya Frans. Dulu, Frans memegang perusahaan yang membuat pakaian olahraga.

Tapi, belakangan dia malah ditarik untuk menggantikan ayahnya," urai Tony.

Kepala Sebastian langsung terasa pengar. Masalah yang dihadapinya ternyata tidak sederhana. Bukan cuma Katya yang harus terhubung dengan laki-laki berengsek itu. Sebastian juga. Peliknya masalah yang terbentang di hadapannya segera terbayang.

Jika menuruti emosinya, dia ingin segera memutus kontrak dan mengalihkannya pada Darius. Tapi, itu berarti dia bekerja tidak profesional dan masalah pribadi sudah memengaruhi penilaian Sebastian.

Dia memang datang ke sini untuk melihat apa yang ditawarkan oleh tiga perusahaan baru yang mengajukan proposal. Sekaligus menjajaki kemungkinan perpanjangan kontrak dengan distributor lama. Mendapati bahwa Darius adalah salah satu pengaju proposal saja sudah mengejutkannya tadi.

Ditambah lagi masalah Frans.

Ini benar-benar hari yang aneh sekaligus melelahkan. Sebastian tidak pernah membayangkan dia terperangkap dalam situasi seperti ini. Namun, ada satu kelegaan yang memenuhi dadanya, karena keluarga Katya tampaknya sudah memutuskan untuk mendukung perempuan itu.

"Seb, aku minta maaf," pinta Katya saat mereka punya waktu untuk bicara berdua. Tony, Arimbi, dan Darius akhirnya pamit untuk beristirahat.

"Minta maaf? Ya, kau memang harus melakukannya. Aku masih marah kalau ingat kau tidakberterus terang soal statusmu," sungutnya. Tapi, Sebastian tidak punya tenaga untuk benar-benar marah pada Katya. Tadi saat di bandara dia memang nyaris meledak. Namun, makin lama tensi kegeramannya berkurang. Katya membuatnya bisa memaklumi banyak hal dengan mudah. Tapi, kenapa harus Katya, perempuan dengan kehidupan yang rumit?

Katya menggigit bibir. "Apakah kau percaya kalau kubilang aku melakukan semuanya tanpa... maksud jelek?"

"Apakah itu penting?"

"Tentu saja! Aku tak mau kau salah memahamiku, Aku tidak bermaksud untuk membuatmu sakit hati.

Walau...," Katya berhenti. Seakan baru tersadar dia hampir mengucapkan sesuatu yang terlarang.

"Kenapa kau tidak bercerai saja sebelum berangkat ke Edinburgh sehingga semuanya tidak kacau seperti ini?" Sebastian mengangkat tangan kanannya dengan gerakan sigap. "Sudah, jangan dijawab!

Aku mengerti dilemamu. Dan kurasa kalau kau tidak kabur dari sini, kita takkan pernah bertemu. Jadi, kutarik kata-kataku. Tidak ada yang perlu disesali. Ini hal terbaik yang sudah diberikan Allah, kan?"

Katya terkesima dengan bibir terbuka. "Allah? Kau tidak...."

Sebastian mengangkat bahu. "Aku ingin mengejutkanmu, sengaja tidak memberitahumu soal ini. Tapi, aku belum sempat melakukannya. Malah kau yang lebih dulu mengagetkanku. Katya, aku sudah

menjadi seorang Muslim sejak tiga minggu lalu. Tapi, aku belum bisa mengerjakan shalat tanpa membaca buku sontekan. Bacaannya susah."

"Apa?"

Sebastian malah tertawa. Dia merasa terhibur melihat kekagetan yang tergurat di tiap pori-pori wajabKatya. "Kenapa kau sekaget itu?"

Katya menjawab dengan terbaca-bata. "Itu... hal yang tak terduga. Bagaimana bisa... kau...."

"Aku tidak tahu, Kat. Sejak remaja, aku tidak pernah lagi tertarik pada kehidupan religius. Dulu, aku tergolong pemeluk Yahudi yang lumayan taat. Saat itu, ibuku masih ada dan selalu mengingatkan kami agar beribadah dengan total. Sampai... yah, kau tahu apa yang terjadi pada ibuku. Sejak itu, aku tak pernah lagi ke sinagoga. Bukan karena membenci Tuhan atau semacamnya. Sama sekali bukan itu.

Hanya saja, aku merasa tempat itu menjadi asing. Terdengar aneh, ya?"

Katya tidak tertawa. "Lalu?" desaknya.

"Aku tidak merasa ada yang kurang dalam hidupku, semua baik-baik saja. Aku punya teman yang beragama Islam," Sebastian berhenti sesaat. Sempat terpikir untuk menyebut siapa sebenarnya Gary, tapi segera dibatalkannya. Masa lalu tidak akan memberi efek positif jika diseret ke masa depan.

"Temanku ini namanya Gary, sering menasihati soal perasaan antipatiku pada orang Muslim. Aku menganggapnya sok tahu dan menyebalkan. Aku tidak pernah menyukai Gary. Kami berinteraksi lebih karena terpaksa. Sampai suatu pagi dia datang ke kantorku, pada hari aku terbang ke Edinburgh untuk kali kedua."

Katya mendengarkan Sebastian menceritakan apa yang terjadi padanya tatkala Gary pamit ke kamar mandi. "Aku tidak tahu apakah ini bisa dibilang hidayah. Yang jelas, membaca ayat tentang larangan untuk bersikap tidak adil karena kebencian yang membabibuta ini, seakan menonjokku. Eh, jangan tanya itu surah apa dan ayat berapa. Aku benar-benar tidak tahu," Sebastian mengangkat bahu tak berdaya.

"Kau ingat aku membaca buku Yvonne waktu kau menyiapkan makan malam, kan? Nah, pengalaman yang mirip kembali kualami. Aku membaca ayat yang isinya menjelaskan tentang Al-Qur'an menjadi penyempurna Taurat. Begitulah kira-kira. Tapi, aku mengabaikan kedua pengalaman ini. Kukira, ini cuma terjadi tanpa maksud apa-apa. Hingga malamnya, aku bermimpi bertemu Muhammad. Rasul

kalian, eh... rasul kita," tukas Sebastian agak canggimg. "Jangan tertawakan, ya? Aku sendiri pun masih tidak benar-benar percaya bahwa aku sekarang beragama Islam."

"Ya Allah, kau... memimpikan Rasulullah?"

"Selama empat malam berturut-turut. Tiga malam pertama, waktu aku masih di Edinburgh. Dan malam terakhir setelah aku pulang ke London. Aku tidak melihat wajah beliau dengan jelas. Tapi, waktu kutanya siapa dia, jawabannya cuma 'aku Muhammad, rasulmu'." Sebastian merasakan bulu halus di tubuhnya meremang. "Setelah mimpi keempat kalinya, aku menelepon Gary. Memintanya membantuku mencari tahu tentang Islam. Selama lebih satu bulan Gary menghabiskan berjam-jam bersamaku. Kadang dia membawa temannya yang lebih paham tentang Islam. Hingga tiga minggu lalu, aku mantap mengucap kalimah... apa namanya. Sulit sekali mengucapkan kata-kata dalam bahasa Arab," desah Sebastian.

"Kalimah syahadat," imbuh Katya. "Kenapa kau merahasiakan ini dariku? Padahal kita bicara di telepon nyaris setiap hari."

"Aku tidak mau kau anggap pamer," goda Sebastian. "Seperti yang kubilang tadi, aku ingin

mengejutkanmu. Tapi, aku malah membongkarnya lebih awal, Tadinya, aku berniat memberitahumu setelah aku bisa... minimal shalat. Sekarang kan belum. Aku bahkan kadang lupa kalau aku sudah berpindah agama. Semua masih dalam tahap penyesuaian."

Sebastian mendapati mata Katya berkaca-kaca. "Aku iri padamu, Seb. Aku belum pernah mimpi bertemu Rasulullah."

"Gary juga bilang, itu pengalaman yang tidak semua orang mengalaminya. Aku tidak punya ketertarikan khusus pada agama apa pun. Tidak sedang mengalami kegelisahan atau apalah. Tidak mencari-cari kebenaran untuk sesuatu. Aku menjalani hidup tanpa ada keinginan untuk mengenal Tuhan lebih dekat. Lalu tiba-tiba semua ini terjadi. Mengejutkan, tentu saja. Tapi, aku benar-benar bersyukur. Semoga aku bisa beribadah sesuai ketentuan. Seperti yang kubilang tadi, menghafal bacaan shalat itu jadi kesulitan yang luar biasa. Aku baru hafal surah Al-Fatihah dan doa saat membungkuk.

Aku lupa namanya."

"Itu namanya rukuk," Katya tampak geli. "Itu sudah bagus, Seb. Aku, sejak kecil terlahir sebagai Muslim. Tapi, aku pernah bertahun-tahun meninggalkan shalat dan ibadah lainnya. Terakhir kali shalat, aku masih berumur empat belas tahun. Dua belas tahun aku tidak pernah melakukan ritual agama sama sekali. Aku mulai kembali shalat setelah berada di Edinburgh," Katya mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Allah ini membolak-balikkan hati, seperti yang kita alami."

"Jangan menangis, Kat," pinta Sebastian dengan suara lembut. "Aku tidak tahan melihatmu mengeluarkan air mata."

Katya memaksakan senyum. "Ini air mata bahagia, Seb. Aku senang kau akhirnya memilih agamamu dan bertekad menjalaninya dengan serius. Allah punya cara yang misterius untuk membuka atau menutup hati seseorang."

"Kau seharusnya mengajariku tentang Islam. Itu sekarang menjadi kewajibanmu, ya?"

"Tentu," balas Katya dengan senyum indah. "Itu kewajiban semua orang yang seagama dengan kita.

Aku akan membantumu sebisaku. Tapi, kau harus maklum, ilmu agamaku masih sangat minim. Aku masih harus terus belajar." Perempuan itu menatap Sebastian dengan konsentrasi tertinggi yang bisa diberikan oleh manusia. "Selamat ya, Seb. Aku ikut bahagia untukmu."

"Terima kasih, Kat," Sebastian mengangguk senang. "Aku sempat ragu cukup lama. Haruskah aku menjadi seorang Muslim? Mungkinkah ini sekadar mimpi yang tidak ada maknanya? Tapi, lama- kelamaan aku mulai yakin, ini akan menjadi keputusan terbaik dalam hidupku. Aku sempat berdiskusi dengan kedua kakakku, Noah menentang, Adlai lebih permisif. Noah itu sama sepertiku di masa lalu.

Kematian ibu kami membawa dampak yang begitu besar. Juga kebencian."

Katya memandangi kedua tangannya yang berada di pangkuan. "Aku bisa mengerti," cetusnya lirih.

"Jadi, kalau suatu hari kau bertemu Noah, kau harus maklum ya, Kat. Dia mungkin akan bersikap ketus. Jauh lebih parah dibanding sikapku saat pertama kali melihatmu selesai shalat." Sebastian tampak malu, "Aku masih takjub, kok bisa bersikap jahat seperti itu."

"Sudah ah, aku tidak mau membahas hal-hal yang sudah lewat." Katya menunjuk ke arah jam dinding.

"Ini sudah malam, kurasa sudah saatnya kau beristirahat. Oh ya, soal bacaan shalat, kau bisa mengunduh aplikasinya di ponsel. Tersedia, kok. Jadi kau bisa belajar kapan saja." Katya berdiri.

"Ide yang bagus. Kenapa aku tidak terpikir sama sekali, ya?" Sebastian menjulang di sebelah perempuan itu.

"Eh, satu hal lagi. Kenapa kau tadi menyinggung soal 'bertemu Noah'?"

Sebastian batal melangkah, dia menghadap ke arah Katya. "Apa kau serius akan bercerai?"

"Tentu saja! Kenapa kau malah menanyakan hal itu sih?"

Sebastian mengeluh pelan. "Seharusnya tidak seperti ini, Kat."

"Maksudmu?" Katya menyipitkan mata dengan alis bertaut.

"Tampaknya aku tidak bisa menunda lagi," Sebastian menarik napas. "Ah, masa bodohlah! Aku tidak mau membuang kesempatan lagi. Begini, salah satu tujuanku datang ke Jakarta adalah untuk menikah.

Denganmu. Setelah kau bercerai, tidak ada masalah lagi, kan? Kita sudah seagama sekarang. Kau mau kan, Kat? Khusus soal ini, aku tidak menerima segala bentuk penolakan."

BAB 20

Dalam dokumen Book Love in Edinburgh by Indah Hanaco (Halaman 115-119)