• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam Asuhan Lingkungan Bani Sa‟d

Dalam dokumen Sirah Nabawiyah (Halaman 34-38)

Bab III 21

B. Dalam Asuhan Lingkungan Bani Sa‟d

Tradisi permanen dilakukan di kalangan bangsa Arab yang relatif sudah maju, mereka mencari wanita-wanita yang bisa menyusui anak-anaknya, sebagai langkah untuk menjauhkan anak- anak itu dari penyakit yang bisa mewabah di daerah yang sudah maju, agar tubuh bayi menjadi kuat, otot-ototnya kekar dan agar keluarga yang menyusui bisa melatih bahasa Arab. Maka Abdul Muththalib mencari para wanita yang bisa menyusui bagi beliau.

Dia meminta kepada seorang wanita Bani Sa‟d bin Bakr agar menyusui beliau, yaitu Halimah bin Abu Dzu‟aib, dengan didampingi suaminya. Al-Harits bin Abdul Uzza, yang dijuluki Abu Kabsyah, dari kabilah yang sama.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memiliki saudara-saudara dari satu susuan di sana adalah Abdullah bin Al-Harits, Anisah binti Al-Harits, Hudzafah atau Judzamah binti Al-Harits, yang julukan justru lebih terkenal dari pada namanya sendiri, yaitu Asy- Syaima‟.Wanita inilah yang menyusui beliau, Abu Sufyan bin Al- Harits bin Abdul Muthalib, anak paman beliau. Di suatu hari ibu susuan Rasulullah SAW ini juga pernah menyusui Hamzah bin Abdul Muthalib paman nabi saat beliau masih dalam susuannya.

Jadi Hamzah adalah saudara sesusu Rasulullah SAW dari dua pihak, yaitu dari Tsuaibah dan dari Halimah As-Sa‟diyah.

Halimah dan keluarganya bisa meraskan berkah yang dibawa beliau, sehingga bisa mengundang kekaguman. Inilah penuturannya sebagaimana yang dikatakan Ibnu Ishaq, bahwa Halimah pernah berkisah, suatu saat ketika dia pergi dari negerinya bersama suami dan anaknya yang masih kecil dan disusuinya, bersama beberapa wanita dari Bani Sa‟d. Tujuan mereka mencari anak yang bisa disusui.

Dia berkata:“Itu terjadi pada masa paceklik, tak banyak kekayaan kami yang tersisa. Aku pergi sambil naik keledai betina berwarna putih milik kami dan seekor unta yang sudah tua dan tidak bisa lagi diambil air susunya walau setetes pun. Sepanjang malam kami tidak pernah tidur karena harus meninabobokan bayi kami yang terus-menerus menangis karena kelaparan. Air susuku juga tidak bisa diharapkan. Kami tetap masih mengharapkan adanya pertolongan agar ada jalan keluar. Aku pun pergi sambil menunggang keledai betina milik kami dan hampir tak pernah turun dari punggungnya, sehinga kondisi keledai itu pun semakin lemah. Akhirnya rombongan kami pun tiba di Mekkah dan kami langsung mencari bayi yang bisa kami susui. Setiap wanita dari rombongan kami yang ditawari Rasullullah SAW pasti menolaknya, setelah tahu bahwa beliau adalah anak yatim. “tidak ada yang bisa diharapkan imbalannya, sedangkan kami mengharapkan imbalan yang cukup memadai dari bapak bayi yang hendak kami susui.

Kami semua berkata, „Dia adalah anak yatim‟. Tidak ada pilihan bagi ibu dan kakek beliau, karena kami tidak menyukai keadaan seperti itu. Setiap wanita dari rombongan kami sudah mendapatkan bayi yang disusuinya, kecuali aku. Ketika kami sudah siap-siap untuk kembali, suamiku berkata kepadaku, “Demi Allah, aku tidak ingin kembali bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi yang kau susui. “Demi Allah, akupun berharap demikian.”

Jawab Halimah. “Aku benar-benar akan mendatangi anak yatim itu dan membawanya.”

Halimah melanjutkan perkataannya, “Dan akupun menemui bayi itu dan aku siap membawanya. Ketika sedang menggendongnya seakan-akan aku tidak mersasa repot karena mendapat beban yang lain. Aku segera menghampiri hewan tungganganku, dan disaat puting susuku kusodorkan kepadanya, bayi itu bisa menyedot air susu sesukanya dan meminumnya hingga kenyang. Anak kandungku sendiri juga bisa menyedot air susunya sepuasnya hingga kenyang, setelah itu keduanya tertidur pulas.

Padahal sebelum itu, kami tidak pernah tidur sekejap pun karena mengurus bayi kami. Suamiku menghampiri untanya yang sudah tua. Ternyata air susunya menjadi penuh. Maka kami pun memerahnya. Suamiku bisa minum air susu unta kami, begitu pula aku, himgga kami benar-benar kenyang. Malam itu adalah masa yang paling indah bagi kami. “Demi Allah, tahukah engkau wahai Halimah, engkau telah mengambil satu jiwa yang penuh berkah.”

kata suamiku pada esok harinya. “Demi Allah, aku pun berharap yang demikian itu.” Kata ku.

Halimah melanjutkan penuturannya, “Kemudian kami pun bersiap-siap pergi dan aku bergegas menunggang keledaiku. Semua bawaan kami juga kunaikkan bersamaku di atas pungungnya. Demi Allah, setelah kami menempuh perjalanan sekian jauh, tentulah keledai-keledai mereka tidak akan mampu membawa beban seperti yang aku bebankan di atas punggung keledaiku. Sehinga teman- temanku berkata kepadaku. “Wahai putri Abu Dzu‟aib, celakalah engkau! Tunggulah kami! Bukankah ini keledai mu yang pernah kau bawa bersama kita dulu?,” “Demi Allah, itu benar. Ini adalah keledaiku yang dulu.” Kata ku.“Demi Allah, keledai mu itu kini bertambah kuat.” Kata mereka.

Kami pun tiba di tempat tinggal kami di daerah Bani Sa‟ad.

Aku tidak pernah melihat sepetak tanah pun milik kami yang lebih subur saat itu. Domba-domba kami datang menyongsong kedatangan kami dalam keadaan kenyang dan air susunya penuh

berisi, sehingga kami bisa memerahnya dan meminumnya.

Sementara setiap orang yang memerah air susu hewannya sama sekali tidak mengeluarkan air susu walau hanya setetes pun dan kelenjar usunya juga kempes. Kami senantiasa mendapatkan banyak berkah dan kebaikan dari Allah selama dua tahun menyusui anak susuan kami tersebut. Lalu kami menyapihnya. Dia tumbuh dengan sehat, tidak seperti bayi-bayi yang lain. Bahkan sebelum usia dua tahun pun dia sudah tumbuh pesat.

Hingga kami membawanya kembali kepada ibunya, meskipun kami masih berharap agar anak itu tetap berada bersama kami, karena kami bisa merasakan berkahnya. Kami pun menyampaikan niat ini kepada ibunya. Aku berkata kepada ibunya. Aku berkata kepadanya, “Andaikan saja engkau mau membiarkan anak ini tetap bersama kami hingga menjadi besar. Karena aku khawatir dia terserang penyakit yang biasa mewabah di Makkah”. Kami terus merajuk kepada ibunya supaya dia berkenan mengembalikan anak itu tinggal bersama kami.

Begitulah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tinggal di tengah Bani Sa‟ad, hingga saat ia berumur empat atau lima tahun, terjadi peristiwa pembelahan dada beliau. Shahih Muslim meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah SAW di datangi Jibril, yang saat itu beliau sedang bermain-main dengan beberapa anak kecil lainnya. Jibril memegang beliau dan menelentangkannya, lalu membelah dada dan mengeluarkan hati beliau dan mengeluarkan segumpal darah dari dada beliau, seraya berkata, “Ini adalah bagian syetan yang ada pada dirimu”.

Lalu jibril mencucinya dengan air Zamzam di sebuah baskom dari emas. Lalu kemudian menata dan memasukannya kembali ke tempatnya semula. Anak-anak kecil lainnya berlarian mencari ibu susuannya dan berkata. “Muhammad telah dibunuh!”. Mereka pun datang menghampiri beliau yang wajah beliau semakin berseri-seri.

Dalam dokumen Sirah Nabawiyah (Halaman 34-38)