• Tidak ada hasil yang ditemukan

DASAR-DASAR INVESTASI

Dalam dokumen Ebook Pengelolaan keuangan pribadi (Halaman 147-171)

> TUJUAN BAB:

1. Mendeskripsikan alasan membuat sebuah program investasi.

2. Menilai bagaimana keamanan, risiko, pendapatan, pertumbuhan, dan likuiditas memengaruhi keputusan investasi Anda.

3. Menjelaskan bagaimana alokasi aset dan alternatif investasi yang berbeda memengaruhi rencana investasi Anda.

A

nita adalah investor yang cerdas. Pada 2012 ia menginvestasikan Rp30.000.000 pada saham perusahaan X . Pada 2020 investasi awalnya bernilai Rp 80.000.000. Sementara itu, Lisa menginvestasikan Rp30.000.000 pada saham PT.AB dan mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi daripada saham PT X . Namun, pada tahun 2020 PT AB bangkrut, sehingga saham Lisa tidak berharga.

https://static.pexels.com/photos/127713/pexels-photo-127713.jpeg

134 BAGIAN III PENGELOLAAN INVESTASI

ontoh ini menunjukkan jenis investasi yang sama tetapi memiliki hasil yang sangat berbeda. Seperti yang akan Anda pelajari dalam bab ini, terdapat berbagai jenis investasi.

Kemampuan Anda untuk menganalisis investasi dapat meningkatkan pendapatan investasi dan kekayaan bersih Anda.

Prinsip Investasi

Apakah perbedaan antara berinvestasi dengan menabung? Hal ini serupa, namun tidak sama. Menurut Tanata (2015) menabung adalah menyisihkan sebagian pendapatan atau income, dengan tujuan untuk keperluan dana cepat (likuiditas), mudah dijangkau, dengan jangka waktu pendek dalam wadah penyimpanan yang disebut “celengan” atau sekarang di bank-bank ritel.

Berinvestasi adalah membeli barang hari ini dengan harapan nilai jualnya akan naik sehingga memberikan keuntungan (income) pada masa depan. Secara ekonomis, berinvestasi adalah membeli barang yang tidak dikonsumsi hari ini, tetapi untuk masa depan di mana biasanya dengan jangka waktu investasi yang panjang.

Ketika berinvestasi, setiap orang memiliki toleransi yang berbeda terhadap risiko. Faktanya, beberapa orang akan menyembunyikan investasi yang menawarkan risiko minimal. Sebagai contoh, tiga tahun yang lalu Ana terluka saat bekerja. Setelah gugatan panjang, ia menerima ganti rugi sebagai penyelesaian hukum sebesar Rp500.000.000. Ketika ia berpikir tentang masa depan, ia menyadari bahwa ia perlu mendapatkan pekerjaan dan harus memperoleh keterampilan kerja baru.

Namun demikian, Ana menyadari bahwa ia menerima banyak uang yang dapat diinvestasikan untuk menyediakan sumber pendapatan yang kuat tidak hanya untuk dua tahun ke depan saat ia memperoleh pelatihan kerja tetapi juga untuk sisa hidupnya. Karena belum pernah berinvestasi sebelumnya, ia menyadari bahwa toleransinya terhadap risiko bersifat minimal. Ketika orang memilih investasi dengan tingkat risiko yang lebih tinggi, mereka mengharapkan pengembalian yang besar. Secara singkat, hubungan antara faktor-faktor dari keselamatan dan risiko–pengembalian potensial dalam investasi apapun seharusnya secara langsung terkait dengan risiko yang investor asumsikan–

dapat dilihat pada Tabel 8.1. Tabel 8.1 merupakan daftar sejumlah faktor yang terkait dengan keselamatan dan risiko yang dapat memengaruhi pilihan investor dalam berinvestasi.

©penerbit

© salemba

Menghitung Imbal Hasil atas Investasi

Ketika berinvestasi, tentunya seseorang mengharapkan imbal hasil atas investasi (return on investment). Sebagai contoh, jika Anda membeli sertifikat deposito 1 tahun dengan bunga 4 persen per tahun, maka pada akhir tahun pertama Anda akan menerima investasi awal ditambah 4 persen bunga. Alternatif investasi lainnya adalah reksa dana yang bisa memberikan bunga 9 persen per tahun.

Dalam kasus ini, Anda akan menerima tambahan pengembalian 5 persen jika dibandingkan dengan sertifikat deposito karena Anda memilih berinvestasi pada reksa dana yang meningkatkan nilai. Meskipun sebagian besar investor tidak memikirkan tentang hal ini, reksa dana dapat mengurangi nilai investasi asli Anda karena sejumlah alasan atau kemungkinan pengembalian apa pun yang tidak dijamin.

Untuk menentukan berapa keuntungan yang Anda dapatkan dalam investasi selama periode tertentu, Anda dapat menghitung tingkat imbal hasil atas investasi tersebut. Untuk menghitung tingkat imbal hasil, total pendapatan yang Anda dapatkan dalam investasi selama periode waktu tertentu dibagi dengan jumlah asli yang diinvestasikan.

Investasi yang tidak memberikan pendapatan periodik (seperti dividen atau pembayaran kupon) dapat diukur sebagai persentase perubahan harga (Δ) dari waktu investasi dibeli (waktu t – 1) sampai waktu di mana investasi tersebut dijual (waktu t):

R P P

P R P P D

P

t t

t

t t t

t

= −

= − +

1

1

1 1

atau

>TABEL 8.1 aktor-faktor yang memengaruhi toleransi risiko dan pemilihan investasi seseorang

Investasi konservatif dengan risiko rendah

Investasi spekulatif dengan risiko tinggi

Orang tanpa pelatihan keuangan atau latar belakang investasi.

nvestor dengan pelatihan keuangan dan latar belakang investasi.

nvestor tua (ol e inve to ). nvestor muda (youn e inve to ).

nvestor memiliki pendapatan lebih rendah (lo e in ome inve to ).

nvestor memiliki pendapatan lebih tinggi ( i e in ome inve to ).

Keluarga dengan anak. Pasangan menikah tanpa anak atau individu tunggal.

Karyawan yang takut akan kehilangan pekerjaan.

Karyawan dengan posisi kerja yang aman.

Sumber: Kapoor, dkk. (2015)

136 BAGIAN III PENGELOLAAN INVESTASI

Misalnya, jika Anda membayar Rp1.000.000 untuk melakukan investasi dan menerima Rp1.100.000 ketika Anda menjual investasi dalam satu tahun, Anda mendapatkan pengembalian sebagai berikut.

R= -

=

Rp Rp

Rp atau

1 100 000 1 000 000 1 000 000

0 10 10

. . . .

. .

, %

Komponen Faktor Risiko

Terdapat perubahan dalam faktor risiko yang harus dievaluasi ketika memilih investasi. Secara keseluruhan, terdapat 5 komponen faktor risiko:

1. Risiko inflasi.

2. Risiko suku bunga.

3. Risiko kegagalan usaha.

4. Risiko pasar.

5. Risiko investasi global.

Risiko inflasi

Inflasi adalah peningkatan tingkat harga secara umum. Selama periode inflasi tinggi, terdapat risiko bahwa pengembalian keuangan pada investasi tidak dapat mengimbangi tingkat inflasi. Untuk melihat bagaimana inflasi mengurangi daya beli Anda, dapat dilihat pada contoh berikut. Asumsikan Anda mendepositokan Rp10.000.000 di bank dengan bunga 4 persen. Pada akhir tahun pertama, uang Anda akan bertambah Rp400.000 dalam bentuk bunga deposito [Rp10.000.000 × 4%= Rp400.000]. Dengan tingkat inflasi sebesar 7 persen, maka akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp700.000 [Rp10.000.000

× 7%=Rp700.000], atau total dari Rp10.700.000, untuk membeli jumlah kebutuhan yang sama yang dapat Anda beli dengan Rp10.000.000 pada tahun sebelumnya. Sehingga, meskipun Anda mendapatkan bunga Rp400.000, Anda kehilangan daya beli sebesar Rp300.000.

Risiko Suku Bunga

Risiko suku bunga yang terkait dengan obligasi pemerintah atau obligasi korporat atau saham preferen adalah hasil dari perubahan suku bunga dalam

©penerbit

© salemba

perekonomian. Nilai dari investasi dengan tingkat imbal hasil tetap menurun ketika suku bunga secara keseluruhan meningkat. Sebaliknya, nilai dari investasi yang sama akan naik ketika tingkat suku bunga menurun secara keseluruhan.

Dengan menggunakan rumus berikut, Anda dapat menghitung jumlah rupiah dari bunga tahunan untuk obligasi.

CONTOH: PERHITUNGAN BUNGA OBLIGASI

Anda membeli obligasi korporasi dengan nilai nominal sebesar Rp10.000.000 yang dikeluarkan oleh AMR–induk perusahaan dari AMR–yang jatuh tempo pada tahun 2021 dan membayar bunga 10 persen sampai dengan jatuh tempo.

Dengan menggunakan rumus berikut, Anda dapat menghitung jumlah rupiah dari bunga tahunan untuk obligasi AMR.

Jumlah bunga tahunan nilai nominal suku bunga Rp

= ×

= 10 000 000. . ××

= ×

=

10 10 000 000 0 10 1 000 000

%

. . ,

. . Rp Rp

Jika tingkat bunga obligasi meningkat menjadi 11 persen, nilai pasar obligasi Anda akan turun 10 persen. Tidak ada seorang pun yang akan bersedia membeli obligasi pada harga yang Anda bayar, di mana obligasi yang sebanding dengan membayar 11 persen dapat dibeli sebesar Rp10.000.000 atau bertahan hingga jatuh tempo.

CONTOH: PERKIRAAN NILAI PASAR

Jika suku bunga untuk obligasi meningkat menjadi 11 persen dan Anda memutuskan untuk menjual obligasi AMR dengan membayar bunga tahunan 10 persen, maka perkiraan harga jual untuk obligasi tersebut adalah Rp9.090.000 dengan perhitungan sebagai berikut.

Perkiraan nilai pasar jumlah bunga tahunan tingkat suku bun

= gga

Rp Rp Rp

=

=

=

10 000 000 11 10 000 000

0 11 9 090 000

. .

% . .

, . .

Harga yang dihitung dalam contoh di atas akan memberikan pembeli tingkat imbal hasil 11 persen dan Anda akan kehilangan Rp910.000 Rp10.000.000–

Rp9.090.000= Rp910.000 karena Anda memiliki obligasi dengan tingkat bunga tetap selama periode ketika tingkat suku bunga secara keseluruhan meningkat.

Tentu saja, jika suku bunga secara keseluruhan menurun, nilai obligasi Anda akan meningkat.

138 BAGIAN III PENGELOLAAN INVESTASI

Risiko Kegagalan Usaha

Kegagalan usaha berkaitan dengan investasi pada saham, obligasi negara, obligasi korporasi, dan reksa dana. Pada masing-masing investasi tersebut, terdapat kemungkinan Anda akan menghadapi manajemen yang buruk, produk gagal, persaingan, atau sejumlah faktor lain yang menyebabkan bisnis menjadi kurang menguntungkan daripada yang diharapkan. Keuntungan yang lebih rendah biasanya menandakan bahwa dividen lebih kecil, tidak ada dividen sama sekali, bahkan jika bisnis terus beroperasi pada kerugian, pembayaran bunga dan pelunasan obligasi akan dipertanyakan.

Dalam hal investasi, bisnis mungkin saja gagal sehingga terpaksa mengajukan kebangkrutan. Sebelum mengabaikan kemungkinan kegagalan bisnis, mempertimbangkan nasib karyawan dan investor yang memiliki saham di perusahaan yang akan bangkrut menjadi hal penting. Tentu saja, cara terbaik untuk melindungi diri terhadap risiko kerugian tersebut adalah dengan mengevaluasi secara teliti perusahaan yang menerbitkan saham dan obligasi yang dibeli. Hal tersebut juga membantu untuk membeli berbagai jenis investasi lain. Risiko kegagalan bisnis juga dapat memengaruhi nilai reksa dana yang diinvestasikan dalam saham dan obligasi.

Risiko Pasar

Dua jenis risiko pasar yang berbeda yaitu sistematik dan tidak sistematik dapat memengaruhi nilai pasar dari saham, obligasi, reksa dana, real estat, dan investasi lainnya. Risiko sistematik terjadi disebabkan oleh risiko pada pasar secara keseluruhan dan faktor-faktor ekonomi seperti krisis ekonomi, peningkatan suku bunga, perubahan daya beli konsumen, dan semua sumber dari risiko sistematik. Karena jenis risiko ini memengaruhi seluruh pasar, maka tidak mungkin untuk menghapus risiko sistematik melalui diversifikasi. Di sisi lain, risiko yang tidak sistematik memengaruhi perusahaan atau industri tertentu. Karena jenis risiko ini memengaruhi satu perusahaan atau satu industri, risiko yang tidak sistematik dapat dikurangi dengan mendiversifikasi investasi portofolio.

Sebagai contoh, seorang investor yang memiliki 30 saham berbeda dalam industri yang berbeda dapat mengurangi risiko yang tidak sistematik karena hal tersebut terdiversifikasi dengan baik. Apa pun yang terjadi pada satu perusahaan dari portofolio investor tidak dapat menghapus nilai dari seluruh portofolio, harga saham, obligasi, reksa dana, dan investasi lainnya yang juga bersifat fluktuatif karena perilaku investor di pasar. Misalnya, selama tahun 2008 dan

©penerbit

© salemba

sebagian tahun 2009, banyak investor tidak dapat menjual real estat karena pemerintah menekan pasar perumahan. Fluktuasi harga pasar untuk saham, obligasi, dan reksa dana mungkin tidak berkaitan dengan perubahan mendasar dalam kesehatan keuangan perusahaan atau perusahaan yang mengeluarkan saham yang terkandung dalam reksa dana. Fluktuasi tersebut dapat disebabkan oleh kondisi politik atau sosial. Misalnya, harga saham minyak dunia dapat meningkat atau menurun sebagai akibat dari aktivitas politik di negara-negara Timur Tengah.

Risiko Investasi Global

Saat ini investor lebih banyak berinvestasi saham dan obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan asing dan reksa dana global karena investasi pada saham global dapat mendiversifikasi portofolio. Misalnya, ketika pasar saham AS menurun, pasar lain di seluruh dunia mungkin saja meningkat. Seorang investor dapat membeli saham atau obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan asing atau membeli saham dalam reksa dana global. Sebelum berinvestasi dalam investasi global, perlu diingat bahwa investasi global harus dievaluasi seperti halnya investasi domestik. Namun, mengevaluasi perusahaan asing dan reksa dana global mungkin akan lebih sulit karena informasi akuntansi yang andal dan informasi keuangan pada perusahaan asing sulit untuk diperoleh.

Mengukur Risiko

Ketika mengukur risiko investasi, investordapat menentukan tingkat ketidakpastian imbal hasil di masa depan. Dua ukuran umum dari risiko investasi adalah range dan standar deviasi dari tingkat imbal hasilnya.

Kisaran Imbal asil atas Investasi. Dengan meninjau kembali tingkat imbal hasil atas investasi selama periode waktu tertentu, Anda dapat menentukan kisaran imbal hasil atas investasi (range of returns), dari yang terkecil (paling negatif ) hingga imbal hasil terbesar. Bandingkan investasi yang memiliki berbagai keuntungan bulanan dari 0,2 persen menjadi 1,4 persen selama periode tahun lalu dengan investasi lain yang memiliki jangkauan dari –3,0 persen menjadi 4,3 persen. Investasi pertama kurang berisiko karena jangkauan pengembaliannya lebih kecil, sehingga lebih stabil. Investasi yang kedua memiliki lebih banyak risiko karena memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami penurunan harga yang besar.

140 BAGIAN III PENGELOLAAN INVESTASI

tandar eviasi dari Imbal asil. Ukuran risiko kedua adalah standar deviasi dari imbal hasil bulanan saham yang mengukur tingkat volatilitas imbal hasil saham dari waktu ke waktu. Standar deviasi yang besar berarti bahwa imbal hasil menyimpang secara substansial secara rata-rata dari waktu ke waktu. Semakin besar standar deviasi, semakin besar kesempatan bahwa saham tersebut akan menyimpang jauh dari rata-rata dalam suatu periode tertentu. Sehingga, investasi dengan standar deviasi yang tinggi memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mendapatkan keuntungan atau mengalami kerugian yang besar dalam suatu periode tertentu. Imbal hasil atas investasi tersebut bergantung pada ketidakpastian yang lebih besar, sehingga dianggap lebih berisiko. Meskipun kedua ukuran tersebut berbeda, keduanya cenderung menunjukkan tingkat risiko yang konsisten. Artinya, saham yang sangat berisiko biasanya akan memiliki kisaran imbal hasil yang relatif besar dan standar deviasi yang tinggi.

Pengukuran ubjekti dari Risiko. Penggunaan kisaran dan standar deviasi bersifat terbatas karena langkah-langkah ini tidak selalu akurat untuk prediksi masa depan. Sebagai contoh, investasi yang memiliki imbal hasil yang stabil di masa lalu dapat mengalami penurunan harga secara substansial di masa depan dalam menanggapi kondisi ekonomi yang buruk. Karena keterbatasan ini, risiko beberapa investasi umumnya diukur secara subjektif. Misalnya, risiko obligasi dapat diukur dengan penilaian subjektif terhadap kemampuan perusahaan penerbit obligasi dalam membayar utang. Penilaian tersebut dapat mencakup taksiran pendapatan bulanan masa depan perusahaan untuk menentukan apakah perusahaan akan memiliki dana yang cukup untuk membayar bunga dan biaya lainnya. Seorang investor dapat mengandalkan para ahli untuk memberikan penilaian risiko dari suatu jenis investasi.

Trade-Off Antara Imbal Hasil dan Risiko

Setiap investor menginginkan investasi yang menawarkan imbal hasil yang tinggi dan tidak memiliki risiko. Namun, investasi semacam itu tidak ada.

Investor harus mempertimbangkan trade-off antara potensi imbal hasil atas investasi dan risiko. Jika Anda menginginkan investasi yang dapat menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi, Anda harus menghadapi tingkat risiko yang lebih tinggi (ragu-ragu) terkait investasi tersebut.

©penerbit

© salemba

CONTOH:

Sella memiliki uang senilai Rp10.000.000 yang dapat diinvestasikan untuk tiga bulan ke depan. Alternatif pilihan investasinya adalah deposito dengan tenor tiga bulan atau saham. Sella berpikir bahwa harga saham akan naik sebesar 15 persen selama tiga bulan ke depan. Namun, karena harga saham di masa depan tidak pasti, imbal hasil tersebut dapat kurang dari 15 persen, atau mungkin negatif. Sella memutuskan untuk berinvestasi dengan membuka deposito di bank walaupun hanya dengan bunga sebesar 5 persen.

Contoh di atas menggambarkan trade-off antara investasi bebas risiko dan investasi yang berisiko. Terdapat juga trade-off antara aset dengan berbagai tingkat risiko, seperti yang dijelaskan di bawah ini untuk setiap jenis investasi.

Return-Risk pada Saham

Beberapa perusahaan memiliki potensi untuk mencapai tingkat kinerja yang jauh lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang lain. Namun untuk melakukannya, mereka mengambil lebih banyak risiko daripada perusahaan lain. Investor yang berinvestasi di salah satu perusahaan ini bisa mendapatkan keuntungan yang sangat tinggi jika strategi perusahaan tersebut berhasil.

Namun, para investor dapat kehilangan sebagian atau seluruh investasi mereka jika strategi perusahaan gagal.

Secara umum, perusahaan-perusahaan kecil memiliki lebih banyak potensi pertumbuhan yang cepat dan saham mereka memiliki potensi yang lebih besar untuk meningkatkan nilai. Namun, karena terdapat banyak perusahaan kecil, saham yang berisiko tersebut tidak pernah mencapai potensi maksimal.

Perusahaan-perusahaan yang lebih matang dan telah mencapai pertumbuhan yang tinggi memiliki potensi pertumbuhan di masa depan yang lebih kecil.

Namun, perusahaan-perusahaan tersebut cenderung memilki risiko yang lebih rendah karena bisnis mereka lebih stabil.

Penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) adalah pilihan investasi saham yang lain. Anda mungkin pernah mendengar bahwa imbal hasil IPO sering kali lebih dari 20 persen dibanding hari pertama. Namun, terdapat banyak risiko untuk jenis investasi ini. Investor individu jarang memiliki akses ke IPO pada harga awal. Investor institusional (seperti reksa dana atau perusahaan asuransi dengan jumlah besar untuk berinvestasi) biasanya memiliki penawaran pertama pada pembelian saham IPO. Kebanyakan investor individu dapat berinvestasi (jika terdapat saham yang tersisa) hanya setelah investor institusional memiliki kesempatan untuk membeli saham. Pada saat investor individu dapat berinvestasi dalam saham yang baru diterbitkan, harga sudah naik. Dengan demikian, investor individu sering kali mendapatkan saham hanya

142 BAGIAN III PENGELOLAAN INVESTASI

setelah harga telah mencapai puncaknya, dan dapat menimbulkan kerugian besar karena penurunan harga saham selama beberapa bulan berikutnya.

Banyak IPO gagal karena secara umum imbal hasil jangka panjang pada IPO lemah dibandingkan dengan imbal hasil saham lainnya secara agregat.

Banyak perusahaan yang terlibat dalam IPO diajukan dalam waktu beberapa tahun dan menyebabkan investor kehilangan semua investasi mereka.

Return-Risk pada Obligasi

Anda dapat berinvestasi pada obligasi yang diterbitkan oleh suatu perusahaan untuk mendapatkan pembayaran kupon tinggi. Risiko investasi pada obligasi adalah kemungkinan bahwa perusahaan tidak dapat membayar pembayaran kupon jika kondisi keuangan memburuk. Jika Anda membeli obligasi dari perusahaan besar, terkenal, dan sukses, terdapat risiko minimal bahwa perusahaan tersebut akan mengalami gagal bayar (default). Jika Anda membeli obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan yang sedang berjuang secara finansial, terdapat risiko yang lebih besar bahwa perusahaan tersebut akan gagal bayar.

Jika perusahaan mengalami gagal bayar pada obligasi, Anda akan menjadi sangat miskin. Selama krisis keuangan pada 2008-2009, banyak perusahaan yang menerbitkan obligasi mengalami gagal bayar.

Obligasi yang berisiko tinggi cenderung menawarkan pembayaran kupon yang lebih tinggi. Dengan demikian, Anda harus memilih trade-off antara potensi imbal hasil dan risiko. Jika Anda bersedia untuk menghadapi risiko yang lebih besar, Anda dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi pada obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan yang lemah. Atau, jika Anda memilih risiko yang lebih kecil, Anda dapat membeli obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan yang sukses dan mapan, selama Anda bersedia untuk menerima imbal hasil yang lebih rendah atas investasi tersebut.

Return-Risk pada Reksa Dana

Jika Anda berinvestasi dalam reksa dana yang terdiri dari saham, Anda mendapatkan imbal hasil dari pembayaran dividen dan kenaikan harga saham pada reksa dana. Risiko reksa dana saham adalah bahwa harga saham dapat turun dalam jangka waktu tertentu. Karena reksa dana terdiri dari berbagai saham, dampak negatif yang disebabkan oleh saham tunggal berkurang.

Namun, ketika kondisi ekonomi melemah, sebagian besar saham cenderung berkinerja buruk. Sama halnya, saham yang lebih kecil lebih berisiko daripada reksa dana dengan saham yang lebih besar. Namun, beberapa investor masih

©penerbit

© salemba

memilih reksa dana yang terdiri dari saham kecil karena mereka mengharapkan imbal hasil yang lebih tinggi dari saham-saham tersebut.

Bila Anda berinvestasi dalam reksa dana yang terdiri dari obligasi, risiko utama Anda adalah bahwa obligasi yang dimiliki oleh reksa dana tersebut bisa saja gagal bayar. Karena reksa dana obligasi mengandung banyak obligasi, dampak buruk dari gagal bayar ikatan tunggal dalam reksa dana berkurang.

Namun, ketika kondisi ekonomi memburuk, banyak perusahaan yang mengeluarkan obligasi dapat mengalami masalah keuangan dan mengalami kesulitan melakukan pembayaran kupon mereka. Beberapa reksa dana obligasi tidak terlalu berisiko karena mereka berinvestasi hanya dalam obligasi korporasi yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan kredit. Sedangkan yang lain sangat terbuka karena mereka berinvestasi dalam obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan yang relatif lemah yang membayar tingkat kupon yang tinggi.

Investor yang lebih memilih obligasi reksa dana berisiko karena potensi mereka untuk menawarkan imbal hasil yang tinggi harus menghadapi tingkat risiko yang tinggi.

Return-Risk Investasi pada Real Estat

Bila Anda berinvestasi dalam real estat, risiko Anda tergantung pada investasi yang dipilih. Jika Anda membeli properti, hal tersebut mungkin tidak menghasilkan pendapatan secara periodik. Selain itu, terdapat risiko bahwa nilai properti akan menurun dari waktu ke waktu. Tingkat risiko bervariasi sesuai dengan jenis investasi real estat.

Pertimbangan dalam Berinvestasi

Selain risiko, terdapat beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam berinvestasi, yaitu;

1. Pendapatan investasi.

2. Pertumbuhan investasi.

3. Likuiditas investasi.

Pendapatan Investasi

Investor kadang membeli investasi tertentu karena mereka menginginkan sumber pendapatan yang dapat diprediksi. Investasi yang paling aman;

rekening tabungan, sertifikat deposito, dan surat berharga yang diterbitkan

Dalam dokumen Ebook Pengelolaan keuangan pribadi (Halaman 147-171)