• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dasar Hukum Hak-hak Istri dalam Perkawinan

Dalam dokumen PDF repository.metrouniv.ac.id (Halaman 41-45)

B. Hak-hak Istri dalam Perkawinan 1. Pengertian Hak

2. Dasar Hukum Hak-hak Istri dalam Perkawinan

Dasar hukum terkait hak-hak istri dalam Islam memiliki landasan kuat baik dari al-Qur’an, hadis, ijma’, dan qiyas. Perspektif al-Qur’an dan hadis Nabi saw. terhadap hak istri menempati porsi yang cukup besar.

Banyak ayat maupun hadis yang berbicara tentang masalah ini. Sehingga dalam pembahasan berikut, hanya diarahkan pada beberapa ayat maupun hadis yang berbicara secara langsung dan dianggap relevan dengan pembahasan. Berikut diuraikan dasar hukum tentang hak-hak istri dalam rumah tangga secara berurutan dari al-Qur’an, hadis, ijma’, dan qiyas.

a. al Qur’an

Al-Thalaq [65]: 6



































































“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.”

Pada dasarnya, ayat ini berbicara tentang perempuan yang diceraikan (talak). Kewajiban suami tetap melekat, terutama hak nafkah berupa tempat tinggal. Nafkah tempat tinggal ini dibebankan sesuai

dengan kemampuan suami.21 Menurut Abu Zahrah, meskipun ayat tersebut berkaitan dengan kewajiban yang harus ditunaikan seorang suami yang menceraikan istrinya pada masa ‘iddah, namun dapat dijadikan landasan hukum terkait hak istri dalam rumah tangga.

Argumentasi yang dikemukakan Abu Zahrah bahwa apabila hak mendapatkan tempat tinggal dan nafkah secara umum tetap melekat pada masa ‘iddah, maka tentu saja hak-hak tersebut lebih utama didapatkan istri dalam perkawinan.22 Nafkah yang diterima istri dalam ikatan perkawinan tidak terbatas hanya nafkah tempat tinggal, namun meliputi nafkah lainnya. Namun kewajiban nafkah pada suami tergantung pada standar kemampuan suami sebagaimana diuraikan pada ayat berikut.

Al-Thalaq [65]: 7





















































“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.”

Standar nafkah yang wajib diberikan kepada istri adalah sesuai kemampuan suami. Sehingga tidak memberatkan suami di luar kemampuan yang dimiliki suami. Penghujung ayat ini menyatakan

21 Ahmad Mushthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi (Mesir: Mushthafa al-Babi al-Halabi wa Awladuh, 1946), Juz 28, h. 145-146.

22 Muhammad Abu Zahrah, al-Ahwal asy-Syakhsiyyah (Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, tt), h. 232.

bahwa Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya.23 Terkait nafkah, maka kewajiban memberi nafkah pada suami yang miskin tidak sama dengan standar nafkah bagi suami yang kaya. Ayat berikut lebih memperjelas tentang tolok ukur pemberian nafkah dari suami kepada istrinya.

Al-Baqarah [2]: 228











…

“…para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma‘ruf…”

Menafsirkan ayat tersebut, al-Maraghi menjelaskan bahwa hak nafkah istri disesuaikan dengan kebiasaan dan tradisi di mana suami dan istri tersebut tinggal.24 Oleh karena itu, nafkah yang diterima istri didasarkan pada dua aspek yang saling terkait. Kedua aspek tersebut berupa kemampuan suami dan kebiasaan (‘urf) yang berlaku. Ketetapan cara pemenuhan hak nafkah istri diperkuat dengan kata yang sama yaitu al-ma’ruf pada ayat berikut yang dihubungkan dengan hak nafkah istri.

Al-Baqarah [2]: 233











































…

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.”

23 Ahmad Mushthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Juz 28, h. 147.

24 Ahmad Mushthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Juz 2, h. 166.

Al-Thabari menyatakan bahwa penggalan ayat ini memberikan hak nafkah bagi istri, termasuk dalam posisi menyusui. Hak istri yang secara eksplisit disebutkan dalam ayat tersebut meliputi nafkah tha’am (pangan) dalam redaksi rizquhunna dan hak kiswah (sandang) dari redaksi wa kiswatuhunna. Lebih lanjut al-Thabari mengomentari bahwa kedua hak tersebut dibingkai dengan kata al-ma’ruf, yaitu sesuai dengan kondisi pasangan suami istri dan kebiasaan masyarakat setempat.25 Semangat membangun hubungan suami istri dengan baik dan sesuai dengan konsep al-ma’ruf lebih dipertegas dalam surah al-Nisa [4]: 19 berikut:





“…dan pergaulilah mereka (para istri) secara patut (al-ma’ruf)…”

Ayat ini menegaskan perintah bagi para suami untuk mempergauli istri dengan cara-cara yang baik yang tidak bertentangan dengan syariat sekaligus kebiasaan setempat. Berdasarkan ayat ini maka suami dilarang untuk mempersempit istri dalam hal nafkah sesuai kemampuannya, sekaligus larangan menyakiti hati istri dengan perkataan dan perbuatan yang jelek.26 Dengan kata lain, hak-hak istri yang harus ditunaikan suami meliputi hak kebendaan dan non-kebendaan terkait tingkah laku yang baik.

Berdasarkan kumpulan ayat tersebut, terlihat bahwa Islam sangat memperhatikan eksistensi nafkah istri dalam rumah tangga. Perhatian al-

25 Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Qur’an (Kairo: Maktabah Ibn Taymiyyah, tt), Juz 5, h. 44.

26 Ahmad Mushthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Juz 4, h. 213.

Qur’an untuk menjamin hak-hak istri mempertegas posisi perempuan tidak semata obyek dalam perkawinan, tetapi individu yang harus ditunaikan berbagai macam haknya dalam rumah tangga. Terdapat beberapa hak yang dinyatakan secara gamblang dalam al-Qur’an, berupa hak tempat tinggal (maskan), pangan (tha’am), sandang (kiswah), dan hak-hak non-kebendaan berupa perlakuan yang baik dalam upaya membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Ketetapan al-Qur’an terkait hak-hak istri dalam rumah tangga diperkuat dengan berbagai hadis Nabi saw yang diuraikan pada sub bab berikut.

b. Hadis

Hadis pertama berupa hadis penggalan khutbah yang disampaikan Nabi saw pada saat haji wada’. Hadis ini menjadi penting karena wasiat Nabi saw di akhir masa kehidupan beliau memperlihatkan perhatian besar Islam terhadap hak-hak perempuan terutama istri dalam rumah tangga. Berikut hadis tersebut.

َ فاَ ت ...

Dalam dokumen PDF repository.metrouniv.ac.id (Halaman 41-45)