BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Mutu Pembelajaran dan Pendidikan Agama Islam
4. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam
Sebagai aktivitas yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim, maka pendidikan islam memerlukan landasan atau asas yang dijadikan landasan kerja. Dengan dasar ini akan memberikan arah bagi pelaksanaan pendidikan yang telah diprogramkan. Dalam konteks ini, dasar menjadi acuan pendidikan islam hendaknya merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat mengantar peserta didik kearah pencapaian pendidikan. Oleh karena itu dasar yang terpenting dalam pendidikan islam adalah Al-qur’an dan Sunnah
Rasulullah (Hadits). Menetapkan Al-qur’an dan Sunnah sebagai dasar pendidikan islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata, namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dapat dibuktikan sejarah atau pengalaman kemanusiaan. Sebagai pedoman yang pertama, al-qur’an tidak ada keraguan padanya, sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Al-Baqarah (2): 2 yang berbunyi :
Terjemahnya: “inilah kitab yang tiada keraguan didalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”. (Kemenag RI. 2011: 2).
Al-qur’an dan Sunnah Rasulullah adalah sumber pedoman segala usaha dan aktifitas umat islam, tak terkecuali dengan pendidikan islam. Ketika tidak bersandar kepada keduanya, maka pendidikan islam tak ubahnya pendidikan sekuler atau pendidikan lainnya.
Sedangkan tujuan pendidikan islam berarti apa yang ingin dicapai dengan pendidikan islam. Menurut hasil konfersi pendidikan islam, di islam abad tahun 1990 bahwa pendidikan islam harus merealisasikan cita-cita islam yang mencakup pengembangan kepribadian muslim yang bersifat menyeluruh
secara harmonis yang berdasarkan psikologis dan fisiologis maupun yang mengacu pada keimanan dan sekaligus berilmu pengetahuan secara keseimbangan sehingga terbentuklah manusia muslim yang paripurna yang berjiwa tawakkal pada Allah SWT.
Sebagaimana dalam hadits dijelaskan tentang pentingnya menuntut ilmu :
ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص ِالله ُل ْوُس َر َلاَق : َلاَق ِصاَعْلا ُنْب وَرَمُع ِنْبا ِاللهِدْبَع ْنَع َّنِإ : َمَّلَس َو ُءاَمَلُعْلا ُضِبْقَي ْنِكَل َو ِساَّنلا َنِم ُهُع ِزْنَي اًعاَزِتْنِإ ُمِلاَعْلا ُضِبْقَي َلَ َالله
ا ْوُّلَضَف ٍمْلِع ِرْيَغِب ا ْوُتْفاَف ا ْوُلَئْسَف ًلًْه َج اًس ْو ُؤُر ُساَّنلا َذَخَّتِإ اًمِلاَع ْكَرْتَي ْمَل اَذِإ ىَّتَح ا ْوُّلَضَا َو
َخُبْلا ُه َج َر ْخَا(
) ْى ِرا
Dari Abdullah bin Amr bin Ash berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan mencabutnya dari manusia tetapi Allah mengambil ilmu dengan cara mengambil para ulama, sehingga jika Dia tidak meninggalkan seorang alim, maka orang-orang menjadikan pemimpin mereka orang-orang yang bodoh, lalu mereka ditanya maka mereka menjawab tanpa dengan ilmu, jadilah mereka sesat dan menyesatkan. (HR. Bukhori (.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Q.S Al-An’am (6): 162, yang berbunyi :
Terjemahnya: “Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Tuhan seluruh alam”.
(Kemenag RI. 2011: 150).
Begitu juga Firman Allah dalam Q.S. Az-Dzariyat (51: 56) yang berbunyi :
Terjemahnya: “aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepada-KU”. (Kemenag RI. 2011: 523).
Tujuan pendidikan secara formal diartikan sebagai rumusan kualifikasi pengetahuan, kemampuan dan sikap yang harus dimiliki oleh anak didik setelah selesai suatu pelajaran disekolah, karena tujuan berfungsi mengarahkan, mengontrol dan memudahkan evaluasi suatu aktifitas sebab tujuan pendidikan itu adalah identik dengan tujuan hidup manusia.
Tujuan umum pendidikan agama terbagi menjadi dua, yaitu:
a. Tujuan umum pendidikan agama islam adalah untuk mencapai kualitas yang disebutkan al-qur’an dan hadits, sedangkan tujuan umum pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003.
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus pendidikan agama adalah tujuan yang disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan jenjang pendidikan yang dilaluinya, sehingga setiap tujuan pendidikan agama pada setiap jenjang pendidikan berbeda-beda. Seperti tujuan pendidikan agama disekolah dasar berbeda dengan tujuan pendidikan agama di SMP dan SMA dan berbeda pula dengan tujuan pendidikan agama diperguruan tinggi.
Sedangkan tujuan lain untuk menjadikan anak didik agar menjadi pemeluk agama yang aktif dan menjadi masyarakat atau warga negara yang baik dimana keduanya itu terpadu untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan merupakan suatu hakikat, sehingga setiap pemeluk agama yang aktif secara otomatis akan menjadi warga negara yang baik, terciptalah warga negara yang pancasila dengan sila KeTuhanan yang Maha Esa.
Pentingnya menuntut ilmu dalam agama islam yakni sebagai umat muslim (orang yang beragama islam) kita memerlukan belajar secara teratur (long live education). Belajar dalam islam bertujuan agar kita dapat ilmu untuk hidup didunia dan
memperoleh bekal untuk diakhirat. Hal-hal penting ilmu yang harus kita pelajari nantinya akan berpengaruh dan Insya Allah dapat menjadi pegangan kita selama hidup didunia yaitu dengan ilmu kita dapat mencari nafkah untuk kebutuhan hidup.
Setiap hal didunia ini memerlukan ilmu. Sebab kelebihan yang dimiliki manusia adalah akal. Dengan akal maka manusia dapat berpikir dan mempergunakan pikirannya untuk memperoleh dan mengamalkan ilmu, menuntut ilmu dan sebagainya. Terdapat didalam Q.S An-Nahl (16: 43) yang menerangkan tentang pentingnya menuntut ilmu :
Terjemahnya : “Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”.
(Kemenag RI. 2011: 272).
Menurut sebaliknya jangan dianggap kewajiban tetapi sebuah kebutuhan yang asasi dan sangat penting. Menuntut ilmu dapat mengembangkan pola berpikir sesorang sehingga dapat memudahkan dalam menjalani kehidupan. Orang yang menghargai ilmu dan mengamalkannya dengan baik maka hidupnya akan menjadi damai dan sejahterah. Tak jarang
manusia menyepelehkan ilmu, sebab untuk menuntut ilmu memerlukan biaya dan waktu yang lama. Mereka adalah orang- orang yang tidak bisa membuka hati dan pikiran kita untuk menerima bahwa ilmu itu ada dan berguna, maka dengan sendirinya diri kita akan terbiasa menuntut ilmu karena hidup selalu berkaitan dengan ilmu sebagaimana yang terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah (2: 151) :
Terjemahnya: “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu dan mengajarkanmu kepada kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui”. (Kemenag RI. 2011: 23).
Sebagaimana dalam hadits di jelaskan tentang Pentingnya niat dalam mencari ilmu dan Menuntut Ilmu :
َع ْن ِب َا ْى َر ُه ْي َر َر َة َي ِض ُاللَّ
َع ْن ُه ن َا َر ُس َل ْو ِاللَّ
َص ُاللَّ ى ل َع َل ْي َو ِه َس ْم ل َلا َق َم : ْن
َع ُد َءا ِا ُه ى َل َد َك ى َا َل ن ُه ِم ُل ْث ُج ُا ْو َر َم ْن ِب َع َت ُه َي َلَ
ْن ُص ُق َذ
ِل َك ْن ِم ُج ُا ِر ْو ْم ِه
َي ِش ٌءا )ملسم هاور(
Artinya: “Dari Abi Hurairah RA sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: siapa yang memberi petunjuk ke jalan yang baik (dengan ilmunya) maka ia akan mendapat pahala seperti yang di dapatkan oleh orang yang mengikutinya tanpa kurang sedikit pun”. (H.R. Muslim).
َنَا ْنَع َو ْنَم ،َم لَس َو ِهْيَلَع ُاللَّ ى لَص ِاللَّ ُل ْوُس َر َلاَق :َلاَق ُهْنَع ُاللَّ ي ِضَر ِس
)يذمرتلا هاور( َعِج ْرَي ى ت َح ِاللَّ ِلْيِبَس ىِف َوُهَف ِمْلِعْلا ِبَلَط ىِف َجَرَخ
Artinya: “Dari Anas RA ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
Barang siapa yang keluar dengan tujuan menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga sampai pulang”. (H.R. Muslim).