BAB I PENDAHULUAN
F. Defenisi Istilah
Defenisi istilah merupakan penjelasan atas konsep yang ada dalam judul penelitian.32 Defenisi istilah sangat berguna untuk memberikan pemahaman dan batasan yang jelas agar penelitian ini tetap terfokus pada kajian yang diinginkan peneliti. Adapun istilah-istilah yang perlu didefenisikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut;
32 Wahid Murni, Pendekatan kualitatif dan kuantitatif (Malang, 2008), hlm. 17
1. Modernisasi
Pembaharuan berasal dari kata baru artinya ”yang sebelumnya tidak ada atau belum pernah ada baik (dilihat, didengar, dan diketahui)”.33 Kata baru dalam bahasa Indonesia selalu dipahami sama dengan kata modern. Sebagai suatu bentuk perubahan sosial, modernisasi biasanya merupakan bentuk perubahan yang terarah dan terencana. Modernisasi dalam masyarakat Barat mengandung arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk merubah faham, adat istiadat, institusi-institusi lama untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh Ilmu pengetahuan dan teknologi modern.34
Modernisasi atau inovasi dapat diartikan sebagai upaya untuk memecahkan masalah. Atau dengan kata lain, inovasi adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang, baik berupa hasil penemuan (invention) maupun discovery, yang digunakan untuk mencapai tujuan atau memecahkan masalah.35
Soerjono Soekanto menegaskan, “Modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan sosial.Biasanya merupakan perubahan sosial yang terarah (directed change) dan didasarkan suatu perencanaan (social palnning).”36Sedangkan Menurut Wibert E.Moore, “Modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan bersama dalam bidang teknologi dan organisasi sosial dari yang tradisional ke arah pola-pola ekonomis dan politis yang didahului oleh negara-negara Barat yang telah stabil.”
Sementara Schoorl menjelaskan, “Modernisasi adalah penggantian teknik produksi dari cara-cara tradisional ke cara-cara yang tertampung dalam pengertian Revolusi Industri. Dan secara umum modernisasi adalah "Suatu perubahan masyarakat dalam seluruh aspeknya dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern.”37
Secara etimologis, ada beberapa tokoh yang mengajukan pendapat tentang makna modernisasi. Everett M. Rogers dalam “Modernization Among Peasants:
The 10 Impact of Communication” menyatakan bahwa modernisasi merupakan proses dimana individu berubah dari cara hidup tradisional menuju gaya hidup lebih kompleks dan maju secara teknologis serta cepat berubah.”
Cyril E. Black dalam “Dinamics of Modernization” berpendapat bahwa secara historis “Modernisasi adalah proses perkembangan lembaga-lembaga secara perlahan disesuaikan dengan perubahan fungsi secara cepat dan menimbulkan peningkatan yang belum pernah dicapai sebelumnya dalam hal pengetahuan
33W.J.S Poerwadanminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1987), hlm.
93.
34Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakannya (Jakarta:
Bulan Bintang, 1992), hlm. 11
35Muryono, dkk, Manajemen Pondok Pesantren,Cet. II (Jakarta: Diva Pustaka, 2005), hlm.6
36 Soerjono Soekanto, Sosiologi suatu pengantar Edisi baru-4 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007).
37 Schoorl, J.W, Modernisasi (Jakarta: Gramedia: 1982)
manusia. Dengan pengetahuan tersebut, akan memungkinkan manusia untuk menguasai lingkungannya dan melakukan revolusi ilmiah.”
Daniel Lerner dalam “The Passing of Traditional Society: Modernizing the Middle East” menyatakan bahwa “Modernisasi merupakan suatu trend unilateral yang sekuler dalam mengarahkan cara-cara hidup dari tradisional menjadi partisipan. Marion Ievy dalam “Modernization and the Structure of Societies” juga menyatakan bahwa “Modernisasi adalah adanya penggunaan ukuran rasio sumberdaya kekuasaan, jika makin tinggi rasio tersebut, maka modernisasi akan semakin mungkin terjadi.”
Dalam bahasa Arab modernisasi diterjemahkan menjadi tajdid. Modernisasi atau pembaruan juga berarti proses pergeseran sikap dan mentalitas mental sebagai warga masyarakat untuk bisa hidup sesuai dengan tuntunan hidup masa kini.
Dengan kata lain, pembaruan sesungguhnya lebih merupakan upaya atau usaha perbaikan keadaan, baik dari segi cara, konsep, dan serangkai metode yang baik ditetapkan dalam rangka mengantarkan keadaan yang lebih baik.
Dari beberapa definisi tersebut, modernisasi dapat dipahami sebagai sebuah upaya tindakan menuju perbaikan dari kondisi sebelumnya. Selain upaya, modernisasi juga berarti proses yang memiliki tahapan dan waktu tertentu dan terukur. Modernisasi atau pembaruan bisa diartikan apa saja yang belum dipahami, diterima, atau dilaksanakan oleh penerima pembaruan, meskipun bukan hal baru bagi orang lain. Pembaruan biasanya dipergunakan sebagai proses perubahan untuk memperbaiki keadaan yang ada sebelumnya ke cara atau situasi dan kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.
2. Pondok Pesantren
Podok pesentren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu pengertian.
Pondok berarti tempat tinggal sederhana, sedangkan pesantren pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri. Kata “pondok” mungkin berasal dari bahasa Arab
“funduq” yang berarti asrama atau hotel. Di Jawa umumnya digunakan istilah pondok dan pesantren. Sedangkan di Aceh dikenal dengan istilah “Dayah” atau
“Rangkang” atau “Menuasa”. Sedangkan di Minangkabau disebut “Surau”.38
Sedangkan “pesantren” berasal dari kata “santri” yang mendapat imbuhan pe dan akhiran an yang menunjukkan tempat . Dengan demikian, pesantern artinya tempat tinggal para santri. Selain itu, asal kata pesantren terkadang dianggap gabungan dari kata santri (manusia baik) dengan kata “tra” (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.39
Adapun secara terminologi, defenisi pondok pesnatren banyak sekali ragamnya sesuai dengan visi para ahli, akan tetapi ragam definisi tersebut memiliki dasar yang kuat dan rasional serta dapat dipertanggungjawabkan dan masing- masing defenisi tersebut saling melengkapi kekurangannya. Di antara pendapat para ahli tersebut adalah:
38Zamahsyari Dhofir, Op.cit,hlm. 18.
39Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren (Jakarta: Gema Insani Press,1997), hlm. 5
Zamakhsayri Dhofir dalam bukunya Trdaisi Pondok Pesantren menjelaskan
“Pesantren adalah sebuah asrama pendidikan tradisional di mana para siswanya semua tinggal bersama di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kyai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santri tersebut berada dalam komplek yang menyediakan masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar dan kegiatan keagamaan lainnya. Komplek ini biasanya dikelilingi oleh tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku.”40
Menurut Dawam Raharjo “Pondok Pesantren adalah suatu lembaga keagamaan yang mengajarkan dan menyebarkan ilmu-ilmu agama Islam.”41 Sedangkan menurut Sudjoko Prasodjo “Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara non klasikal, di mana seorang kyai mengajarkan ilmu agam Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama’ abad pertengahan dan para santri biasanya tinggal di pondok (asrama dalam pesantren tersebut).”42
Abdurrahman Wahid manyatakan bahwa pesantren adalah “sebuah kompleks dengan lokasi yang umumnya terpisah dari kehidupan di sekitarnya.
Dalam kompleks itu berdiri beberapa buah bangunan: rumah kediaman pengasuh (di daerah berbahasa jawa disebut kyai, di daerah berbahasa sunda ajengan, dan di aderah berbahasa Madura nun atau bendara, disingkat ra); sebuah surau atau masjid; tempat pengajaran diberikan (bahasa Arab madrasah, yang juga lebih sering mengandung konotasi sekolah); dan asrama sebaagai tempat tinggal para siswa pesantren (santri, pengambil alihan dari bahasa Sankerta denagan perubahan pengertian).”43
Sedangkan Arifin menjelaskan bahwa “pesantren sebagai suatu lembaga pendidikan Islam yang tumbuh serta diakui masyarakat sekitar, dengan system asrama (komplek) di mana santri-santri menerima pendidikan agama melalui system pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada di bawah kedaulatan dari seorang atau beberapa orang kyai dengan cirri-ciri khas yang bersifat kharismatik serta independen dalam segala hal.”44
Sedangkan Mastuhu menjelaskan Pondok Pesantren adalah “Lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pada pentingnya aspek moralitas keagamaan sebagai dasar pedoman perilaku sehari-hari.”45 Kata tradisional dalam batasan ini menunjukkan bahwa lembaga ini hidup sejak ratusan
40 Zamahsyari Dhofir, Op.cit, hlm. 18.
41Dawam Raharjo,. Penguatan Dunia Pesantren Membangun dari Bawah(Jakarta: P3M 1985), hlm. 2
42 Sudjoko Prasodjo, Profil Pesantren (Jakarta: LP3S, 1982), 6.
43 Abdurrahman Wahid, Pesantren dan perubahan (Jakarta: Pustaka LP3ES, 1995), cet.5, hlm.
40
44 M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum (Jakarta: Bumi Akasara, 1991), hlm.
240
45Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta: INIS, 1994), hlm. 55
tahun lalu dan telah menjadi bagian yang mendalam bagi system kehidupan sebagian besar umat Islam Indonesia.46
Sedangkan Soegarda Poerbakatwajta yang dikutip oleh Haidar Putra Dauly mengatakan pesantren berasal dari kata santri yaitu seorang yang belajar agama Islam, sehingga dengan demikian pesantren mempunyai arti tempat orang berkumpul untuk belajar agama Islam. Selanjutnya Lembaga Research Islam (Pondok Pesantren Luhur) mendefinisikan “Pesantren adalah suatu tempat yang tersedia untuk para santri dalam menerima pelajaran-pelajaran agama Islam sekaligus tempat berkumpul dan tempat tinggalnya.”47
Ziemek dalam Umar menjelaskan bahwa pesantren berasal dari kata santri yang diimbuhi awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat para santri.
Sedangkan menurut Kafrawi dalam Junaidi, “Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut diberikan dengan cara nonklasikal dimana seorang kiai mengajar santri-santrinya berdasarkan kitab-kitab dalam bahasa Arab yang ditulis oleh ulama-ulama besar sejak abad pertengahan.”
Lebih komprehensif lagi, K.H. Imam Zarkasyi mengartikan pesantren
“sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok di mana kiai sebagai figur sentral dan masjid sebagai pusatkegiatan yang menjiwai dan pengajaran agama Islam di bawah bimbingan kiai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya.”
Dari uraian panjang lebar di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian pesantren adalah suatu lembaga pendidikan dan keagamaan yang berusaha melestarikan, mengajarkan dan menyebarkan ajaran Islam serta melatih para santri untuk siap dan mampu mandiri. Atau juga dapat diambil pengertian dasarnya sebagai suatu tempat di mana para santri belajar pada seorang kyai untuk memperdalam/memperoleh ilmu, utamanya ilmu-ilmu agama yang diharapkan nantinya menjadi modal bagi santri dalam menghadapi kehidupan di dunia dan akhirat.48
Adapun tujuan Pondok Pesantren secara umum adalah mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang memiliki kepekaan terhadap kesalehan religius individu dan kesalehan sosial. Dengan demikian kajian terhadap lembaga- lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren tersebut tidak bisa pisah dengan sistem nilai yang menjadi tradisi Pondok Pesantren tersebut. Oleh karena itu fungsi lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan sebuah Pondok Pesantren benar-benar mencerminkan nilai-nilai dan fungsi Pondok Pesantren yang menjadi induknya.
Bertitik tolak dari definisi istilah tersebut di atas, dapat dipahami bahwa
“Modernisasi Pondok Pesantren” artinya adalah adanya konsep, cara, pola atau sistem
46 Suharto,Babun, Dari Pesantren,hlm. 11.
47Suharto,Babun, Dari Pesantren,hlm. 11.
48 Http://indoskrip .Wordpress. Com/ 2017/02/11, Pengertian Pesantren.
baru yang dilakukan oleh Pondok Pesantren sebagai upaya untuk mengembangkan diri sesuai perkembangan zaman dan tuntutan realita.