BAB III: PROFIL MUSHAF STANDAR INDONESIA DAN MUSHAF
B. Sejarah Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-Utsmânî
2. Identifikasi Fisiologis
87 Ahmad Nashih, “Studi Mushaf Pojok Menara Kudus: Sejarah dan Karakteristik”, dalam Jurnal Nun, Vol. 3 No. 1 2017, h. 3
88 Fina Izzatul Muna, “Menelisik Sejarah dan Karakteristik Mushaf Al-Qur‟an Pojok Menara Kudus”, http://almunawwirkomplekq.com/menelisik-sejarah-dan-karakteristik- mushaf-al-quran-pojok-menara-kudus/” diakses pada tanggal 21 Juni 2020 Pukul 07.34 89 Ali Akbar, “Qur‟an Kudus, Qur‟an dari Turki”, http://quran-
nusantara.blogspot.com/2013/03/v-behaviorurldefaultvmlo.html diakses pada tanggal 20 Juni 2020 Pukul 19.18
Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî yang penulis miliki memiliki bentuk fisik dengan ukuran 12 x 2 x 15cm, yang terdiri dari dua jilid dengan cover berwarna dasar hitam dan dihiasi dengan iluminasi berwarna kuning emas dan hijau toska.
Terdapat tulisan Al-Quddus Al-Qur‟an Terjemah pada bagian atas, ميركلا فآرقلا pada bagian tengah dengan khat tsulust, dan Bi Rosm Utsmani pada bagian bawah.
Jilid pertama berisi juz 1-15 dan jilid kedua berisi juz 16-30.
Terdiri dari 610 halaman disertai doa khattam, penjelasan tanda baca dan tanda waqaf, daftar isi, dan keterangan penerbit juga percetakan. Setiap halamannya terdiri dari 15 baris termasuk iluminasi dan basmallah, kecuali pada permulaan juz 1 yang berjumlah 7 baris dan akhir dari juz 30 yang berjumlah 13 baris yang disertai dengan kalimat tashdîq dan doa sebagai imbuhan.
Iluminasi mushaf berwarna hitam putih, baik pada halaman awal mushaf, tengah, mauupun akhir. Iluminasi bagian atas terdapat urutan tulisan juz beserta nomornya, halaman dengan tulisan Arab, urutan surat baik nomor maupun nama suratnya.
Pada iluminasi bagian bawah terdapat urutan shofhah/pojok dan potongan ayat untuk mengatahui awal kalimat atau kata yang terdapat pada halaman selanjutnya. Bagian atas di luar iluminasi terdapat profil surah dan halaman mushaf. Bagian pinggir mushaf terdapat urutan juz disertai dengan nama surah yang terdapat pada juz tersebut. Pada bagian bawah di luar iluminasi terdapat kotak keterangan yang menjelaskan kata yang digaris bawahi pada ayat di atasnya. Setiap juz diberi garis bawah/underline.
Jumlah hizib pada mushaf ini terdapat 60 hizib dan ruku‟
sebanyak 558 ruku‟. Simbol tanda hizib dan ruku‟ terdapat di
dalam iluminasi mushaf. Mushaf ini menggunakan khat naskhi dengan model kertas HVS putih. Melihat dari rasm yang memiliki kesamaan persis dengan Mushaf Madinah, penulis menduga bahwa Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî ini mengikuti pola penulisan yang diriwayatkan oleh syaikhânî yakni Abȗ „Amr al-Dânî dan Abȗ Dâwud Sulaimân ibn al-Najâh dengan mentarjih pendapat Abȗ Dâwud Sulaimân ibn al-Najâh.
Untuk lebih detail mengenai gambar fisik mushaf, penulis sertakan di bagian lampiran.
50
ANALISIS PERBEDAAN MUSHAF STANDAR INDONESIA DAN MUSHAF AL-QUDDUS BI AL-RASM AL-‘UTSMÂNÎ DALAM
PERSPEKTIF ILMU DHABTH
Pada bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai profil umum Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî. Pada bab ini penulis akan mencoba untuk membandingkan persamaan dan perbedaan yang terdapat pada Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî baik dari segi Naqthu al-I‟jâm maupun Naqthu al-I‟râb.
A. Persamaan dan Perbedaan Penulisan Harakat dan Tanda Baca Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-Utsmani Cetakan 2014
1. Naqthu al-I’jâm
Naqthu al-I‟jâm adalah tanda-tanda yang membedakan antara huruf satu dengan huruf lainnya, agar tidak ada kesamaran antara huruf mu‟jam90 dan muhmal91.92 Dalam kitab Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn pembagian huruf terbagi menjadi dua, yakni huruf bertitik dan huruf tanpa titik. Huruf bertitik terdiri dari 15 huruf dan huruf tanpa titik terdiri dari 13 huruf. Pada pembahasan ini, Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Al- Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî tidak memiliki perbedaan tanda titik pada huruf, karena, disamping mushaf yang terbit di Indonesia juga memiliki riwayat yang sama yakni Hafs dari Imam
„Âshim. Sehingga, bentuk huruf dan cara bacanya pun sama.
90 Huruf yang bertitik
91 Huruf yang tidak bertitik
92 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h. 6
2. Naqthu al-I’râb
Naqthu al-I‟râb atau naqthu al-harakat adalah tanda titik atau tanda bunyi yang menunjukkan bunyi akhir suatu kata dalam tulisan Arab93, dengan kata lain Naqthu al-I‟râb adalah tanda titik yang menandakan baris pada huruf. Tanda-tanda ini berupa harakat, sukȗn, tasydîd, mad, dan lain sebagainya. Pada pembahasan ini, penulis merujuk pada kitab Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn yang membahas 5 pembahasan dalam aspek ilmu dhabth. Untuk mempermudah dalam membandingkan dan memahami, maka penulis akan membuat tabel seperti berikut ini,
Tabel 1. Perbandingan Naqthu al-I‟râb pada Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî
No Pembahasan MSI MQ Keterangan
1 Harakat
ﹷ ﹷ
Fathahﹻ ﹻ
Kasrahﹹ ﹹ
Dhammah2
Tanda Tanwîn atau
Nȗn Sâkinah
dengan Huruf yang
Jatuh Setelahnya
Tanwîn Tarkîb (Tanwin
Sejajar)
x Tanwin
Tatâbu‟
(Tanwin berjajar
depan x
x
93 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, 364
belakang) Tanda Bacaan
Iqlâb
3 Tanda
Tasydîd
Tanda tasydîd
4
Tanda Huruf Sukȗn dengan Huruf yang
Jatuh Setelahnya
Tanda Sukȗn
+ x
Tanda Sukȗn yang
diikuti tasydîd
+ x
Tanda Sukȗn yang
tidak diikuti tasydîd
x +
Tanpa tanda sukun
dan diikuti dengan
tanda tasydîd
x +
Tanpa tanda sukun
dan tanpa tanda tasydîd
5 Tanda Mad
Gelombang dengan
bentuk ujung keluar Gelombang
dengan
bentuk ujung ke
dalam
x , ,
Bentuk alif, waw, dan kepala ya‟
kecil
, , x
Bentuk fathah berdiri, dhammah
terbalik, dan kasrah
berdiri
6
Tanda hamzah qatha‟ dan
tashîl
Tanda hamzah
qatha‟
ليهست
●Tanda hamzah yang dibaca
tashil
7
Tanda Baca Hamzah Washal dan
Ibtidâ‟
x
Tanda hamzah
washal
x
Tanda hamzah
Ibtidâ‟
8
Tanda Baca Isymâm, Ikhtilâs,dan
Imâlah
ماشمإ
◊ Tanda BacaIsymâm
لامإ
◊ Tanda BacaImâlah
9
Tanda Huruf yang Rasm-
nya Dibuang , , x
Tanda baca fathah berdiri,
kasrah
berdiri, dan dhammah
terbalik
x , ,
Tanda baca alif kecil, waw kecil, kepala ya‟
kecil
10
Tanda Huruf yang Rasm-
nya Ditambah
, ,
Shifrun Mustadîr dan Shifrun
Mustathîl
11 Tanda Lâm
Alif لأ لأ
Posisi hamzah
yang terdapat pada lâm
alif
Sumber: Mushaf Standar Indonesia Mina Al-Qur‟an Tilawah (Insan Kamil: 9 Rabî‟ul Âkhir 1432 H/ 14 Maret 2011 M) dan Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî (CV. Mubarokatan
Thoyyibah: 14 April 2014 M)
Berdasarkan penjelasan tabel di atas ada beberapa persamaan dan perbedaan terkait dhabth yang terdapat pada Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî.
Berikut adalah penjelasan dan fungsinya tentang persamaan dan perbedaan tanda baca yang terdapat pada kedua mushaf tersebut, berdasarkan yang telah penulis temukan:
a. Harakat 1) Fathah
Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî memiliki tanda baca fathah yang sama yaitu, berasal dari alif yang dibentangkan sehingga membentuk garis horizontal dan terletak di atas huruf yang dikembangkan oleh Khalîl bin Ahmad al-Farâhîdî (w. 175 H).94 Posisi tanda fathah pada kedua mushaf ini pun sama, yakni, berbentuk miring dari kanan ke kiri.
Contoh:
Q.S. „Abasa [80]: 1 pada Mushaf Standar Indonesia
Q.S. „Abasa [80]: 1 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî
Q.S. „Abasa [80]: 7 pada Mushaf Standar Indonesia
Q.S. „Abasa [80]: 7 Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-
„Utsmânî
2) Kasrah
Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî juga memiliki tanda baca kasrah yang sama yakni, berasal dari huruf ya‟ yang kepalanya
94 Ayman Rusydi Suwayd, al-Tajwîd al-Mushawwar, (Damaskus: Maktabah Ibnu al-Jazary, 2011), Jilid 1, Cet. 2, h. 540
dibuang dan terletak di bawah huruf yang dikembangkan oleh Khalîl bin Ahmad al-Farâhîdî.95 Contoh:
Q.S. Al-Muthaffifîn [83]: 1 Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Muthaffifîn [83]: 1 Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî
Q.S. Al-Muthaffifîn [83]: 7 Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Muthaffifîn [83]: 7 Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî
3) Dhammah
Mushaf Standar Indonesia Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî juga memiliki tanda baca dhammah yang sama yakni, berasal dari huruf waw dan terletak di atas huruf yang juga dikembangkan oleh Khalîl bin Ahmad al-Farâhîdî.96
Contoh:
Q.S. Al-Burȗj [85]: 14 Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Burȗj [85]: 14 Mushaf Al-Quddus
95 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, h. 372 96 Ayman Rusydi Suwayd, al-Tajwîd al-Mushawwar, h. 540
b. Tanda Tanwîn atau Nȗn Sâkinah dengan Huruf yang Jatuh Setelahnya
1) Tanwîn Tarkîb/ Nȗn Sâkinah
Tanwîn tarkîb adalah tanwîn sejajar yang dalam Mushaf Standar Indonesia dipakai di setiap huruf yang dibaca tanwîn baik pada bacaan izhâr, idghâm, maupun ikhfâ.
Namun, dalam Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-
„Utsmânî membedakan antara tanwîn yang dibaca izhar dan tanwin yang dibaca idghâm. Yaitu, tanwîn murakkab (bacaan izhâr) dan tanwîn tatâbu‟ (bacaan idghâm) yang akan dibahas setelah ini.
Contoh:
Q.S. Al-Ghâsyiyah [88]: 2 MSI
Q.S. Al-Ghâsyiyah [88]: 2 MQ
Q.S. Al-Ghâsyiyah [88]: 4 MSI
Q.S. Al-Ghâsyiyah [88]: 4 MQ
2) Tanwin Tatâbu‟/ Nȗn Sâkinah
Tanwin tatâbu‟ adalah tanwîn yang berjajar depan belakang. Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî
tanda ini digunakan pada bacaan idghâm dan ikhfâ‟.
Sedangkan, Mushaf Standar Indonesia tidak mengenal tanwin tatâbu‟ karena di setiap bacaan idghâm dan ikhfâ‟ tetap menggunakan tanwîn tarkîb. Di dalam Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî juga terdapat perbedaan mengenai penempatan tasydîd yang jatuh setelah huruf yang bertanwin. Diantaranya,
a) Jika setelah tanwîn pada bacaan idghâm berupa huruf ( ر ف ـ ؿ ) maka, di atas huruf tersebut disertakan tasydîd dan harakat, dengan maksud bacaan tersebut merupakan idghâm kamîl97.98
Contoh:
Q.S. Al-Fath [48]: 1 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî
Q.S. Al-Kahfi [18]: 81 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî
b) Jika setelah tanwîn pada bacaan idghâm berupa huruf ( م ك ), maka di atas huruf tersebut tidak diberi tanda tasydîd, dengan alasan bahwa bacaan tersebut merupakan idghâm nâqish99.100
Contoh,
97 Idghâm kamîl bi ghunnah adalah hilangnya bunyi huruf serta sifat-sifatnya sekaligus 98 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h. 13 99 Idghâm nâqish adalah hilangnya hakikat bunyi huruf akan tetapi sifatnya masih ada 100 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h. 13
Q.S. Al-Zalzalah [99]: 8 pada Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Zalzalah [99]: 8 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî
Q.S. Al-Furqân [25]: 4 pada Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Furqân [25]: 4 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî
...
c) Jika setelah tanwîn berupa huruf ikhfâ‟, maka di atas huruf tersebut tidak diberi tanda tasydîd. Contoh, Contoh:
Q.S. Al-Kahfi [18]: 8 pada Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Kahfi [18]: 8 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî
Q.S. Al-Kahfi [18]: 40 pada Mushaf Standar Indonesia
...
Q.S. Al-Kahfi [18]: 40 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî
...
3) Tanda Baca Iqlâb
Tanda bacaan Iqlâb pada Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî ditandai dengan huruf mîm kecil ( ـ ). Pada Mushaf Standar Indonesia mîm kecil diletakkan diantara sukûn dan tanwîn tanpa menghilangkan keduanya. Sedangkan, Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî memberi harakat saja tanpa tanwîn. Oleh sebab itu, tanda mîm kecil ini merupakan alasan pengganti tanda tanwîn pada bacaan iqlâb.101
Contoh:
Q.S. Al-Baqarah [2]: 171 pada Mushaf Standar Indonesia
...
Q.S. Al-Baqarah [2]: 171 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî
...
Q.S. Al-Qalam [68]: 11 pada Mushaf Standar Indonesia
101 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h. 13
Q.S. Al-Qalam [68]: 11 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî
4) Tanwîn Washal
Pada setiap huruf ber-tanwîn yang bertemu dengan hamzah washal dalam Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî diberi tanda nȗn washal atau nȗn kecil. Karena, pada hakikatnya tanwîn adalah bunyi nun mati yang pada riwayat Hafs jika terdapat pertemuan dua huruf sukun memberi harakat kasrah pada huruf sukun pertama.102 Namun, bentuk dan letaknya berbeda. Dalam Mushaf Standar Indonesia terdapat 3 perbedaan bentuk103, yaitu:
a) Apabila harakat tanwînnya berupa dhammatain atau kasratain, maka, bentuk dhammatain atau kasratain tersebut diubah menjadi harakat dhammah atau kasrah saja, dan bentuk nȗn washal diberi harakat kasrah.
b) Apabila harakat tanwînnya berupa fathatain, maka, bentuk fathatain tidak diubah dan nȗn washal tidak diberi harakat kasrah kecuali, jika huruf yang berharakat fathatain berupa ta‟ marbuthah. Maka, bentuk fathatain diubah menjadi fathah dan nȗn washal diberi harakat kasrah.
102 Ahmad Fathoni, Petunjuk Praktis Tahsin Tartil Al-Qur‟an Metode Maisura, h. 283 103 Tim Lajnah Pentashihan Mushaf, Pedoman Pentashihan Mushaf Al-Qur‟an,h. 117
c) Apabila huruf yang berharakat tanwîn berada di akhir ayat yang memiliki tanda waqaf لا atau ى ا, kemudian, diikuti oleh huruf ber-sukȗn di awal ayat berikutnya, maka, nȗn washal tidak diberi harakat.
Contoh:
a) Q.S. Al-Hajj [22]: 11
b) Q.S. Al-Hadîd [57]: 27
c) Q.S. Al-Hajj [22]: 25
d) Q.S. Fâthir [35]: 34
Namun, tidak semua dalam Mushaf Standar Indonesia ketika ada huruf yang ber-tanwîn bertemu hamzah washal diberi tanda nȗn shilah atau nȗn kecil.
Jika huruf yang ber-tanwîn dan hamzah washal dipisah dengan tanda waqaf yang menunjukkan berhenti lebih utama yaitu waqaf ى ق, maka Mushaf Standar Indonesia tidak memberi nȗn shilah.104 Seperti,
Q.S. Al-Nisâ‟ [4]: 171 pada Mushaf Standar Indonesia
104 Jumroni Ayana, “Tanda Baca dalam Al-Qur‟an (Studi Perbandingan Mushaf Al- Qur‟an Indonesia dengan Mushaf Madinah)”, Tesis, (Tangerang Selatan: IIQ Jakarta, 2016), h. 133
Semua tanda nȗn washal pada Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî diberi kasrah, namun, terdapat perbedaan mengenai peletakkannya, ketika huruf tanwînnya berupa fathatain atau dhammatain maka, nun washal diletakkan di tengah huruf yang berharakat fathatain atau dhammatain. Namun, ketika huruf tanwînnya berupa kasratain maka, letak nun washal di bawah huruf yang berharakat kasratain.
Contoh:
Q.S. Q.S. Al-Hajj [22]: 11
Q.S. Al-Hadîd [57]: 27
Q.S. Al-Hajj [22]: 25
Q.S. Fâthir [35]: 34
c. Tanda Tasydîd
Pada Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî memiliki tanda tasydîd yang sama yakni ditandai dengan kepala syîn tanpa titik yang berasal dari kata ديدش yang artinya kuat. Pada Mushaf Al-Quddus Bi
Al-Rasm Al-„Utsmânî tanda tasydîd hanya tertulis pada bacaan ghunnah dan idghâm kâmil. Sedangkan, pada bacaan idghâm nâqish tidak tertulis. Namun, pada Mushaf Standar Indonesia selalu membubuhkan tanda tasydîd pada setiap bacaan ghunnah, idghâm kâmil, dan idghâm nâqish. Karena, prinsip Mushaf Standar Indonesia adalah selalu membubuhkan tanda baca dalam Al-Qur‟an secara utuh.
Contoh:
Q.S. Al-Insyiqâq [84]: 14 pada Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Insyiqâq [84]: 14 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî
d. Tanda Huruf Sukȗn dengan Huruf yang Jatuh Setelahnya
1) Tanda Sukȗn
Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî memiliki tanda sukȗn yang sama yakni berbentuk setengah lingkaran yang diambil dari kepala kha‟ dan berasal dari kata في خ yang artinya ringan. Hal ini dikarenakan bacaan sukȗn adalah ringan. Pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-
„Utsmânî tanda sukûn di setiap bacaan idghâm, ikhfâ‟, iqlâb, dan huruf mad tidak tertulis. Sedangkan, pada
Mushaf Standar Indonesia di setiap huruf mati ataupun huruf mad selalu diberi tanda sukûn.
Contoh:
Q.S. Al-Qadr [97]: 3 pada Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Qadr [97]: 3 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî
2) Tanda Sukûn di atas Huruf yang Mati
Dalam Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî, apabila terdapat bacaan izhâr dan terdiri dari dua kata maka tanda sukȗn ditulis dan ditampakkan di atas huruf, dengan alasan bahwa bacaan tersebut dibaca jelas, dan tidak diberi tanda sukȗn pada huruf yang dibaca idghâm dan ikhfâ‟. Sedangkan, dalam Mushaf Standar Indonesia bacaan idghâm dan ikhfâ‟ tetap menggunakan tanda sukȗn, begitu pula pada bacaan izhâr yang tertulis secara terpisah.
Contoh:
Q.S. Al-Kahfi [18]: 96 pada Mushaf Standar Indonesia .... ...
Q.S. Al-Kahfi [18]: 96 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî
.... ...
3) Tanda sukûn tidak diikuti tasydid
Dalam Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî tanda baca pada huruf yang jatuh setelah huruf sukȗn pada bacaan izhar hanya diberikan tanda harakat saja tanpa diberikan tanda tasydîd. Sebagai tanda bahwa kedua bacaan itu tidak dibaca idghâm.105 Sedangkan, Mushaf Standar Indonesia tanda seperti ini terdapat pada bacaan ikhfâ haqiqî dan ikhfâ syafawî.
Contoh:
Q.S. Al-Hâqqah [69]: 36 pada Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Hâqqah [69]: 36 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî
4) Tanpa tanda sukȗn diikuti tasydîd
Dalam Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî bacaan seperti ini hanya ada pada idghâm kamil, yaitu, hilangnya bunyi huruf serta sifat-sifatnya sekaligus. Hal ini terjadi di beberapa bacaan diantaranya,
a) Ketika nun sukûn bertemu dengan huruf
ر ن م ل
Contoh:
Q.S. Qaf [50]: 38 pada Mushaf Standar Indonesia ...
105 Muhammad Salim Muhaisin, Irsyâdu al-Thâlibîn ilâ Dhabt al-Kitâb al-Mubîn, h.17
Q.S. Qaf [50]: 38 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî
...
Q.S. Al-Lail [92]: 19 pada Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Lail [92]: 19 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî
b) Idghâm Mutamâtsilain Contoh:
Q.S. Al-Hujurât [49]: 12 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî
.... ...
Q.S. Al-Nahl [16]: 76 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî
c) Idghâm Mutajânisain Contoh:
Q.S. Ali „Imrân [3]: 69 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî (idghâm kâmil)
Q.S. Al-Mâidah [5]: 28 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî (idghâm nâqish)
d) Idghâm Mutaqâribain Contoh:
Q.S. Al-Kahfi [18]: 22 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî (idghâm kâmil)
Pada Mushaf Standar Indonesia bacaan idghâm baik idghâm kâmil maupun nâqish, juga idghâm mutamâtsilain, mutajânisain, dan mutaqâribain tetap menggunakan tanda sukȗn dan diikuti tasydîd.
Contoh:
Q.S. Al-Nahl [16]: 76 pada Mushaf Standar Indonedia
Q.S. Ali Imrân [3]: 69 pada Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Mâidah: [5]: 28 pada Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Kahfi [18]: 22 pada Mushaf Standar Indonesia
5) Tanpa tanda sukȗn tanpa tasydîd
Dalam Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî tanpa sukûn dan tanpa tasydid hanya ada pada bacaan ikhfâ dan idghâm naqish. Sedangkan, pada Mushaf Standar Indonesia tanda seperti ini tidak ada.
Q.S. Al-Ghâsyiyah [88]: 6 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî
e. Tanda Mad
Mad adalah bacaan panjang dengan memanjangkan bacaan suara. Tanda mad ( / ) hanya dipakai pada bacaan selain mad thabi‟î.
1) Tanda gelombang dengan ujung ke luar ( )
Tanda gelombang dengan ujung ke luar dipakai pada bacaan selain mad thabi‟î. Dalam Mushaf Standar Indonesia tanda baca ini hanya berlaku pada bacaan mad jaiz munfashil, sedangkan pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî tanda baca ini berlaku pada bacaan mad jaiz munfashil dan mad wajib muttashîl.
Contoh:
Q.S. Al-Qadar [97]: 2 (mad jâiz munfashil) pada Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Qadar [97]: 2 (mad jâiz munfashil) pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî
Q.S. Al-Dhuhâ [93]: 10 (mad wâjib muttashîl) pada Mushaf Standar Indonesia
x Q.S. Al-Dhuhâ [93]: 10 (mad wâjib muttashîl) pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî
2) Tanda gelombang dengan ujung ke dalam ( ) Tanda gelombang dengan ujung ke dalam dipakai pada bacaan selain mad thabi‟î. Pada Mushaf Standar Indonesia tanda mad seperti ini berlaku pada bacaan mad wajib muttashîl dan mad lazim. Sedangkan, pada Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî tanda baca ini berlaku hanya pada bacaan mad lazim.
Contoh:
Q.S. Al-Dhuhâ [93]: 8 (mad wâjib muttashîl) pada Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Dhuhâ [93]: 8 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî
x Q.S. Al-Dhuhâ [93]: 7 (Mad Lâzim) pada Mushaf Standar Indonesia
Q.S. Al-Dhuhâ [93]: 7 pada Mushaf Al-Quddus Bi Al- Rasm Al-„Utsmânî
3) Bentuk alif kecil, waw kecil, dan kepala ya‟ kecil
Dalam Mushaf Al-Quddus Bi Al-Rasm Al-„Utsmânî tanda baca mad thabi‟î atau bacaan dengan panjang dua harakat ditandai dengan alif kecil, waw kecil, dan kepala ya‟ kecil dan tidak diberi tanda sukûn. Sedangkan, Mushaf Standar Indonesia tidak mengenal tanda alif kecil, waw kecil, dan kepala ya‟ kecil.
Contoh:
Q.S. Al-Thâriq [86]: 8
4) Bentuk fathah berdiri, kasrah berdiri, dan dhammah terbalik
Dalam Mushaf Standar Indonesia tanda baca mad thabi‟î atau bacaan dengan panjang dua harakat ditandai dengan fathah berdiri, kasrah berdiri, dan dhammah terbalik dan selalu diberi tanda sukûn. Sedangkan,