BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.5 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu variabel dengan cara memberikan arti, menspesifikasi kegiatan, ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut.
Variabel-variabel yang dibutuhkan dalam penelitian ini penulis uraikan sebagai berikut:
1. Pengadaan (rekruitmen) yaitu pelaksanaan program pengadaan yang dilakukan oleh Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar untuk kualitas dan kuantitas sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan Perusahaan.
2. Pengembangan yaitu pola peningkatan dalam pekerjaan sepanjang waktu kehidupan kerja seseorang yang meliputi peningkatan kemampuan, kepuasan kerja dan sikap serta perilaku pegawai.
3. Kompensasi yaitu kompensasi yang diterima oleh karyawan berupa Gaji yang meliputi Upah dan Gaji, Insentif, Tunjangan dan Fasilitas.
4. Kinerja Pegawai yaitu kemampuan yang dicapai dan diinginkan dari perilaku pegawai dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan yang menjadi tanggung jawab secara individu atau kelompok yang meliputi kualitas kerja, kuantitas, ketepatan waktu, efektifitas dan kemandirian.
36 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar 4.1.1 Sejarah Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar
Secara historis, perkembangan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar sejak didirikan tahun 1982 sampai sekarang, mengalami beberapa kali perubahan nama sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan pada masanya. Pada awal didirikannya (tahun 1982) bernama Balai Latihan Kesehatan (BLKM) dengan lokasi bersama dengan Pelatihan Kusta di Kompleks Kesehatan Banta-Bantaeng.
Melalui SK Menkes RI No. 45/Menkes/SK/I tahun 1987 Nama berubah menjadi Kursus Latihan Kesehatan Masyarakat (KLKM), dan lokasi di jalan Moha No. 59 Antang Raya Makassar. Selanjutnya dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 911/Menkes/SK/XI/1993 namanya berubah menjadi Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Makassar. Dan pada tanggal 22 Oktober 2008 melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 971/Menkes/Per/X/2008 berubah menjadi Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar yang meliputi 10 (sepuluh) Propinsi Kemitraan, yaitu Sulsel, Sulbar, Sulteng, Sultra, Sulut, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Dan pada tanggal 22 November 2011 melalui Peraturan Menteri Kesehatan No. 2361/Menkes/Per/XI/2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Bidang Pelatihan Kesehatan dengan Nama tetap sebagai Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar cuma daerah mitranya berubah menjadi 8 (delapan) Provinsi Mitra yang terdiri dari Sulsel, Sulbar, Sulteng, Sultra, Sulut, Gorontalo, Maluku dan Maluku Utara.
4.1.2 Visi dan Misi Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar Adapun Visi dan Misi Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar antara lain:
a) Visi Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar
Pusat rujukan diklat Aparatur dan Tenaga Kesehatan untuk mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan.
b) Misi Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar
1) Meningkatkan mutu aparatur dan tenaga kesehatan melalui penyelenggaraan diklat yang bermutu.
2) Memberikan pelayanan diklat yang bermutu melalui peningkatan sumber daya BBPK Makassar
3) Meningkatkan mutu diklat melalui pengendalian, pengkajian dan pengembangan mutu
4) Meningkatkan mutu diklat melalui pelayanan informasi
5) Mengembangkan program – program diklat melalui kerjasama lintas sector
4.1.3 Struktur Organisasi
Gambar 4.1 Struktur Organisasi
Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar Kepala BBPK Makassar
Laode Musafin
Kabag. Tata Usaha Mappeasse Toro,SKM, M.pd Kasubag. Umum dan Kepegawaian
Tabrang, S.Kom, SKM, M.Kes
Kasubag. Keuangan dan BMN Kartini Yunus, S.Psi Kabid pelatiahan manajemna & teknis Non Kes
Dra. Lenny suaib
Kasie. Pelatihan Teknis Non Kesehatan
Sapta Dewi Kanti Wiludjeng, SS, MM
Kasie. Pelatihan Manajemen Agussalim, S.Kom.Msi
Kasie. Pelatihan Fungsional St. Astuti Azis,SKM. M.Kes
Kasie. Pelatihan Teknis Armita Muchtar, SKM, M.Kes Kabid. Pelatihan Teknik Fungsional
Masrida Baharuddin, SKM,M.Pd
Kelompok Widyaiswara
4.1.4 Gambaran Umum Responden
Penelitian ini dilakukan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar yang berlokasi di Jl. Moha No 59 Antang, Kota Makassar. Total kuesioner yang didistribusikan adalah 66 kuesioner. Adapun tingkat pengembalian kuesioner disajikan pada tabel 4.1.
Tabel 4.1
Tingkat Pengembalian Kuesioner
No Keterangan Jumlah
1 Kuesioner yang disebarkan 66
2 Kuesioner yang tidak kembali 0
3 Kuesioner yang kembali 66
4 Kuesioner yang gugur (Jawaban tidak
lengkap) 0
5 Kuesioner yang dapat digunakan dalam
analisis 66
Tingkat Pengembalian (Usable Response
Rate) 100%
Sumber: Data Primer diolah (2020)
Berdasarkan data di atas, kuesioner yang telah diisi dan dikembalikan sebanyak 66. Diantara kuesioner yang telah dikembalikan tidak terdapat kuesioner yang tidak terisi secara lengkap, sehingga total kuesioner yang dapat diolah sebanyak 66. Dari tingkat pengembalian tersebut sesuai dengan yang telah dipersyaratkan, bahwa tingkat pengembalian kuesioner yang dapat dipertanggungjawabkan lebih dari 30% dari total kuesioner yang telah didistribusikan.
4.1.5 Karakteristik Responden
Responden pada unit analisis ini adalah karyawan Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar. Adapun karakteristik dari identitas
responden yang diungkap dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, usia, dan jenjang pendidikan.
A. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 4.2
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No Karakteristik Kriteria Frekuensi Presentase
1 Jenis Kelamin Laki-laki 38 58%
Perempuan 28 42%
Total 66 100%
Sumber: Data Primer diolah (2020)
Berdasarkan tabel 4.2 mayoritas responden dalam penelitian ini adalah berjenis kelamin laki-laki dengan persentase 58% atau sebanyak 38 orang.
Adapun sisanya 42% atau sebanyak 28 orang adalah berjenis kelamin perempuan. Hal ini mengindikasikan bahwa laki-laki lebih dominan dari pada perempuan dalam lingkup kerja di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar (2020).
B. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Tabel 4.3
Karateristik Responden Berdasarkan Usia
No Karakteristik Kriteria Frekuensi Presentase
1 Usia 21-30 tahun 19 29%
2 31-40 tahun 15 23%
3 41-50 tahun 17 26%
4 51-55 tahun 12 18%
5 56-60 tahun 3 5%
Total 66 100%
Sumber: Data Primer diolah (2020)
Berdasarkan tabel 4.3 karakteristik usia, mayoritas responden berada pada kelompok usia 21-30 tahun, yaitu sebesar 29% atau sebanyak 19 orang. Hal
tersebut menunjukkan bahwa pada rentan usia tersebut responden masih cukup muda dan matang mengemban tanggungjawab untuk mengelola perusahaan.
C. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Tabel 4.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
No Karakteristik Kriteria Frekuensi Presentase
1 Pendidikan SMP 2 3%
2 SMA/Sederajat 6 10%
3 DIII/DIV 2 3%
4 Sarjana (S1) 39 63%
5 Magister (S2) 12 19%
6 Magister (S3) 1 2%
Total 62 100%
Sumber: Data Primer diolah (2020)
Berdasarkan tabel 4.4 Jika memiliki pendidikan terakhir, mayoritas responden berpendidikan S1 yaitu dengan persentase 63% atau sebanyak 39 orang. SMP dengan presentase 3% atau sebanyak 2 oarng, SMA/Sederajat dengan persentase 10% atau sebanyak 6 orang, DIII/DIV dengan presentase 3%
atau sebanyak 2 oarang, Magister (S2) dengan presentase 19% atau sebanyak 12 orang dan Magister (S3) dengan jumlah responden 1 orang atau 2%. Tingkat pendidikan yang cukup baik dari responden penelitian ini, maka diharapkan dapat memahami dengan baik semua item pernyataan yang disajikan dalam kuesioner.
4.2 Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Penelitian ini menggunakan kuesioner sebagai instrumen untuk mendapatkan data dari responden. Pengukuran masing-masing instrumen menggunakan skala ordinal (likert). Data yang telah dikumpulkan akan diuji dengan pengujian validitas dan reliabilitas untuk memastikan kualitas data tersebut sebelum diolah lebih lanjut
4.2.1 Pengujian Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dinyatakan valid jika pernyataan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur pada kuesioner tersebut.
Pengujian validitas dengan menggunakan Pearson Correlation, yaitu dengan cara membandingkan nilai r hitung dan r tabel. Jika nilai r hitung > nilai r tabel maka data tersebut valid. Sebaliknya jika nilai r hitung < nilai r tabel maka data tersebut tidak valid (Ghozali, 2013). Hasil pengujian validitas untuk data penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut.
Tabel 4.5 Hasil Uji Validitas
Variabel Item r-
hitung r-tabel Keterangan
Pengadaan (Rekrutmen) (X1)
X1.1 0,603** 0,243 Valid X1.2 0,724** 0,243 Valid X1.3 0,802** 0,243 Valid X1.4 0,671** 0,243 Valid X1.5 0,755** 0,243 Valid X1.6 0,678** 0,243 Valid
Pengembangan (X2)
X2.1 0,518** 0,243 Valid X2.2 0,646** 0,243 Valid X2.3 0,681** 0,243 Valid X2.4 0,616** 0,243 Valid X2.5 0,544** 0,243 Valid X2.6 0,598** 0,243 Valid
Kompensasi (X3)
X3.1 0,643** 0,243 Valid X3.2 0,746 0,243 Valid X3.3 0,635** 0,243 Valid X3.4 0,533** 0,243 Valid X3.5 0,631** 0,243 Valid X3.6 0,699 0,243 Valid
kinerja (Y)
Y1.1 0,762** 0,243 Valid Y1.2 0,662** 0,243 Valid Y1.3 0,675** 0,243 Valid Y1.4 0,802** 0,243 Valid Y1.5 0,739** 0,243 Valid Y1.6 0,798 0,243 Valid Sumber: Data Diolah (2020)
Tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa hasil pengujian validitas untuk semua item diperoleh nilai r-hitung yang lebih besar dari nilai r-tabel. Semua item yang telah diuji memiliki nilai r-hitung diatas nilai r-tabel yaitu 0,243 sehingga dapat disimpulkan bahwa semua item pernyataan pada instrumen tersebut valid.
4.2.2 Pengujian Reliabilitas
Uji realibilitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten apabila dilakukan dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat ukur yang sama. Suatu variabel dikatakan reliabel jika memiliki nilai Cronbach Alpha > 0, 70. Berikut ini disajikan hasil pengujian reliabilitas data penelitian.
Tabel 4.6
Hasil Pengujian Reliabilitas
Variabel
Standar Koefisien Alpha
Cronbach‟s
Alpha Keterangan
Pengadaan
(Rekrutmen) (X1) 0,7 0,797 Reliable
Pengembangan (X2) 0,7 0,703 Reliable
Kompensasi (X3) 0,7 0,715 Reliable
kinerja (Y) 0,7 0,835 Reliable
Sumber: Data diolah (2020)
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa nilai cronbach’s alpha seluruh variabel lebih besar dari nilai standar koefisien alpha 0, 70. Hal ini berarti instrumen yang digunakan dalam penelitian ini reliabel (handal).
4.3 Statistik Deskiptif
Statistik deskriptif variabel penelitian memberikan gambaran suatu data.
Dalam penelitian ini, statistik deskriptif dapat dilihat dari nilai minimum, maksimum, rata-rata, dan standar deviasi. Data sampel yang diolah dalam penelitian ini sebanyak 66.
Statistik deskriptif untuk keseluruhan variabel dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut ini.
Tabel 4.7
Statistik Deskriptif Variabel
Variabel Minimum Maksimum Rata-rata Standar Deviasi Pengadaan (X1) 3 5 4,38 0,54 Pengembangan (X2) 3 5 4,22 0,53 Kompensasi (X3) 1 5 3,88 0,84 Kinerja (Y) 3 5 4,28 0,51 Sumber: Data diolah (2020)
Berdasarkan tabel 4.7, Pengadaan (Rekrutmen) memiliki nilai minimum 3 dan nilai maksimum 5. Hal ini berarti, nilai terkecil dari jawaban responden adalah cukup (C) dan nilai terbesar dari jawaban responden adalah sangat baik (SB). Adapun nilai rata-rata dari jawaban responden untuk variabel Pengadaan (Rekrutmen) sebesar 4,38 dengan nilai penyimpangan (standar deviasi) sebesar 0,54. Nilai standar deviasi yang lebih kecil dari nilai mean pada variabel Pengadaan (Rekrutmen) mengindikasikan bahwa, nilai mean merupakan representasi yang baik dari keseluruhan data yang ada dalam penelitian.
Pengembangan memiliki nilai minimum 3 dan nilai maksimum 5. Hal ini berarti, nilai terkecil dari jawaban responden adalah cukup (C) dan nilai terbesar
dari jawaban responden adalah sangat baik (SB). Adapun nilai rata-rata dari jawaban responden untuk variabel pengembangan sebesar 4, 22 dengan nilai penyimpangan (standar deviasi) sebesar 0, 53. Nilai standar deviasi yang lebih kecil dari nilai mean pada variabel komitmen mengindikasikan bahwa, nilai mean merupakan representasi yang baik dari keseluruhan data yang ada dalam penelitian.
Kompensasi memiliki nilai minimum 1 dan nilai maksimum 5. Hal ini berarti, nilai terkecil dari jawaban responden adalah tidak baik (TB) dan nilai terbesar dari jawaban responden adalah sangat baik (SB). Adapun nilai rata-rata dari jawaban responden untuk variabel kompensasi sebesar 4, 22 dengan nilai penyimpangan (standar deviasi) sebesar 0, 53. Nilai standar deviasi yang lebih kecil dari nilai mean pada variabel komitmen mengindikasikan bahwa, nilai mean merupakan representasi yang baik dari keseluruhan data yang ada dalam penelitian.
Kinerja pegawai memiliki nilai minimum 3 dan nilai maksimum 5. Hal ini berarti, nilai terkecil dari jawaban responden adalah cukup (C) dan nilai terbesar dari jawaban responden adalah sangat baik (SB). Adapun nilai rata-rata dari jawaban responden untuk variabel kinerja pegawai sebesar 4, 28 dengan nilai penyimpangan (standar deviasi) sebesar 0, 51. Nilai standar deviasi yang lebih kecil dari nilai mean pada kinerja pegawai mengindikasikan bahwa, nilai mean merupakan representasi yang baik dari keseluruhan data yang ada dalam penelitian.
4.3.1 Deskripsi Jawaban Responden
Setelah statistik deskriptif keseluruhan variabel, berikut disajikan deskripsi jawaban responden untuk setiap variabel.
4.3.1.1. Pengadaan (Rekrutmen) (X1)
Variabel Pengadaan (Rekrutmen) (X1) diukur dengan enam pertanyaan dengan distribusi frekuensi jawaban responden pada setiap pernyataan yang mewakili variabel secara lengkap disajikan pada tabel 4.9.
Tabel 4.8
Deskripsi Variabel Pengadaan (Rekrutmen) (X1)
Variabel Item Frekuensi Pilihan Jawaban
TB CB C B SB Rata-rata
Pengadaan (Rekrutmen)
(X1)
X1.1 1 39 26 4,34
4,32 X1.2 5 40 21 4,10
X1.3 35 31 4,41 X1.4 2 31 33 4,46 X1.5 2 37 27 4,32 X1.6 2 41 23 4,27
Sumber: Data diolah (2020)
Berdasarkan Tabel 4.8, penilaian responden terkait dengan pertanyaan ke empat berada pada tingkat yang tinggi, yaitu dengan nilai rata-rata 4, 46.
Perbandingan antara pertanyaan pada variabel Pengadaan (Rekrutmen) tidak berbeda jauh yaitu pertanyaan pertama (X1.1) dengan nilai rata-rata 4,34, pertanyaan kedua (X1.2) dengan nilai rata-rata 4,10, pertanyaan ketiga (X1.3) dengan nilai rata-rata 4,41, pertanyaan kelima (X1.5) nilai rata-rata 4,32, pertanyaan keenam (X1.6) dengan nilai rata-rata 4,32, sedangkan rata rata keenam pertanyaan dari variabel Pengadaan (Rekrutmen) memiliki nilai rata-rata 4,32.
Hal ini menunjukkan bahwa Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar telah mengoptimalkan Pengadaan (Rekrutmen) pegawai dengan baik dari rekrutmen secara terbuka, seleksi, kenaikan jabatan dan evaluasi pegawai baru. Dengan demikian, rekapitulasi dari hasil jawaban responden di atas logis.
4.3.1.2 Pengembangan (X2)
Variabel Pengembangan (X2) diukur dengan enam pertanyaan dengan distribusi frekuensi jawaban responden pada setiap pernyataan yang mewakili variabel secara lengkap disajikan pada tabel 4.10.
Tabel 4.9
Deskripsi Pengembangan (X2)
Variabel Item Frekuensi Pilihan Jawaban
TB CB C B SB Rata-rata
Pengembangan (X2)
X2.1 5 45 16 4,17
4,22
X2.2 5 37 24 4,29
X2.3 3 49 14 4,17
X2.4 6 43 17 4,17
X2.5 48 18 4,27
X2.6 3 44 19 4,24
Sumber: Data diolah (2020)
Penilaian responden terkait dengan variabel pengembangan pada Tabel 4.8 berada pada tingkat yang tinggi, yaitu pertanyaan kedua (X2.1) dengan nilai rata- rata 4, 29. Perbandingan antara pertanyaan pada variabel Pengadaan (Rekrutmen) tidak berbeda jauh yaitu pertanyaan pertama (X2.1) dengan nilai rata-rata 4,17, pertanyaan ketiga (X2.3) dengan nilai rata-rata 4,17, pertanyaan keempat (X2.4) dengan nilai rata-rata 4,17, pertanyaan kelima (X2.5) nilai rata-rata 4,27, pertanyaan keenam (X2.6) dengan nilai rata-rata 4,24, sedangkan rata rata keenam pertanyaan dari variabel pengembangan memiliki nilai rata-rata 4,22.
Hal ini menunjukkan bahwa Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar telah mengoptimalkan pengembangan pegawai dengan baik dari meningkatkan kemampuan, prestasi kerja, arahan, delegasi tugas, dan jaringan kerja. Dengan demikian, rekapitulasi dari hasil jawaban responden di atas logis.
4.3.1.3 Kompensasi (X3)
Variabel kompensasi (X3) diukur dengan enam pertanyaan dengan distribusi frekuensi jawaban responden pada setiap pernyataan yang mewakili variabel secara lengkap disajikan pada tabel 4.10.
Tabel 4.10
Deskripsi Variabel Kompensasi (X3)
Variabel Item Frekuensi Pilihan Jawaban
TB CB C B SB Rata-rata
Kompensasi (X3)
X3.1 10 48 8 3,97
3,88
X3.2 1 4 6 40 15 3,97
X3.3 2 6 36 22 4,18
X3.4 3 4 29 22 8 3,42
X3.5 10 28 28 4,27
X3.6 3 4 21 34 4 3,48
Sumber: Data diolah (2020)
Penilaian responden terkait dengan variabel pengembangan pada Tabel 4.10 berada pada tingkat yang tinggi, yaitu pertanyaan kelima (X3.5) dengan nilai rata-rata 4, 27. Perbandingan antara pertanyaan pada variabel Pengadaan (Rekrutmen) tidak berbeda jauh yaitu pertanyaan pertama (X3.1) dengan nilai rata-rata 3,97, pertanyaan kedua (X3.2) dengan nilai rata-rata 3,97, pertanyaan ketiga (X3.3) dengan nilai rata-rata 4,18, pertanyaan keempat (X3.4) dengan nilai rata-rata 3,42, pertanyaan keenam (X3.6) dengan nilai rata-rata 3,48, sedangkan rata rata keenam pertanyaan dari variabel kompensasi memiliki nilai rata-rata 3,88.
Hal ini menunjukkan bahwa Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar masih kurang mengoptimalkan kompensasi pegawai baik dari meningkatkan gaji, asuransi, tunjangan dan lembur pegawai. Dengan demikian, rekapitulasi dari hasil jawaban responden di atas logis.
4.3.1.4 Kinerja (Y)
Variabel kinerja (Y) diukur dengan enam pertanyaan dengan distribusi frekuensi jawaban responden pada setiap pernyataan yang mewakili variabel secara lengkap disajikan pada tabel 4.11.
Tabel 4.11
Deskripsi Variabel Kinerja(Y)
Variabel Item Frekuensi Pilihan Jawaban
TB CB C B SB Rata-rata
Kinerja (Y)
Y1.1 1 43 22 4,32
4,28
Y1.2 51 15 4,23
Y1.3 1 40 25 4,36
Y1.4 5 41 20 4,23
Y1.5 2 43 21 4,29
Y1.6 3 45 18 4,23
Sumber: Data diolah (2020)
Penilaian responden terkait dengan variabel pengembangan pada Tabel 4.11 berada pada tingkat yang tinggi, yaitu pertanyaan kelima (Y.3) dengan nilai rata-rata 4, 36. Perbandingan antara pertanyaan pada variabel kinerja tidak berbeda jauh yaitu pertanyaan pertama (Y.1) dengan nilai rata-rata 4.32, pertanyaan kedua (X2.2) dengan nilai rata-rata 4,23, pertanyaan keempat (Y.4) dengan nilai rata-rata 4,23, pertanyaan kelima (Y.5) dengan nilai rata-rata 4,29, pertanyaan keenam (Y.6) dengan nilai rata-rata 4,23, sedangkan rata rata keenam pertanyaan dari variabel kompensasi memiliki nilai rata-rata 4,28.
Hal ini menunjukkan bahwa Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar telah mengoptimalkan kinerja pegawai dengan baik dari meningkatkan pencapaian hasil, ketelitian dan kerapian, waktu yang di butuhkan dan kemapuan bekerja sama dengan karyawan lain. Dengan demikian, rekapitulasi dari hasil jawaban responden di atas logis.
4.4 Analisis Data
4.4.1 Analisis Regresi Linear Berganda
Pengujian ini dilakukan untuk mengukur seberapa besar pengaruh variabel bebas yakni Pengadaan (Rekrutmen) (X1), Pengembangan (X2), Kompensasi (X3) terhadap kinerja pegawai (Y) pada Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar. Agar diperoleh hasil perhitungan koefisien regresi yang tepat dalam pengolahan data digunakan bantuan program SPSS.
Tabel 4.12
Hasil Regresi Linear Berganda
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B
Std.
Error Beta
1 (Constant) 5,104 3,769 1,354 ,181
X1.Pengadaan
(Rekrutmen) ,352 ,107 ,355 3,302 ,002
X2.Pengembangan ,426 ,121 ,380 3,515 ,001
X3.Kompensasi ,022 ,077 ,029 ,287 ,775
a. Dependent Variable: Y.TOTAL
Sumber: Data diolah (2020)
Berdasarkan analisis data dengan menggunakan SPPS 20, maka diperoleh hasil persamaan regresi berganda sebagai berikut:
Y = 5,104 + 0,352X1 + 0,426X2 +0,022X3 + e
Persamaan regresi diatas memperlihatkan hubungan antara variabel independent dengan variabel dependen secara parsial, dari persamaan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Nilai costanta adalah 5,104, artinya jika tidak terjadi perubahan variabel Pengadaan (Rekrutmen), pengembangan dan kompensasi (nilai X1, X2 dan X3 adalah 0) maka kinerja pegawai pada Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar (BBPK) adalah sebesar 5,104 satuan.
2. Nilai koefisien regresi Pengadaan (Rekrutmen) adalah 0,352, artinya jika variabel Pengadaan (Rekrutmen) (X1) meningkat 1% dengan asumsi variabel pengembangan, kompensasi dan kinerja pegawai adalah nol (0) maka variabel Pengadaan (Rekrutmen) 0,352. Hal tersebut menunjukan bahwa variabel Pengadaan (Rekrutmen) yang disedikan berkontribusi positif bagi kinerja pegawai, sehingga makin kompleks Pengadaan (Rekrutmen) karyawan pada Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar (BBPK), maka makin melambung pula tingkat kinerja yang karyawan rasakan.
3. Nilai koefisien regresi pengembangan adalah 0,426, artinya jika variabel pengembangan (X2) meningkat 1 % dengan asumsi variabel Pengadaan (Rekrutmen), kompensasi dan variabel kinerja pegawai adalah nol (0) maka variabel pengembangan sebesar 0,426. Hal tersebut menunjukan bahwa variabel pengembangan yang disedikan berkontribusi positif bagi kinerja pegawai, sehingga makin kompleks pengembangan karyawan pada Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar, maka makin melambung pula tingkat kinerja yang karyawan rasakan.
4. Nilai koefisien regresi kompensasi adalah 0,022, artinya jika variabel kompensasi (X3) meningkat 1 % dengan asumsi variabel Pengadaan (Rekrutmen), pengembangan dan variabel kinerja pegawai adalah nol (0) maka variabel kompensasi sebesar 0,426. Hal tersebut menunjukan bahwa variabel kompensasi yang disedikan berkontribusi positif bagi kinerja pegawai, sehingga makin kompleks kompensasi karyawan pada Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar (BBPK), maka makin melambung pula tingkat kinerja yang karyawan rasakan.
4.4.2 Analisis Koefisien Determinasi (R2)
Uji koefisien determinasi (R2) digunakan untuk menguji besarnya persentase variasi variabel dependen yaitu kinerja pegawai yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel independen, yaitu Pengadaan (Rekrutmen), pengembangan dan kompensasi.
Hasil koefisien determinasi dapat dilihat pada kolom R Square, yang ditampilkan pada tabel 4.14 berikut.
Tabel 4.13
Uji Koefisien Determinasi (R2)
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 ,601a ,361 ,331 1,857
a. Predictors: (Constant), X3.TOTAL, X1.TOTAL, X2.TOTAL
Sumber: data diolah (2020)
Pada tabel 4.14 menunjukkan bahwa Adjusted R Square adalah sebesar 0,361 atau 36 %. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel dependen yaitu kinerja pegawai (Y) dipengaruhi oleh variabel Pengadaan (Rekrutmen) (X1),
pengembangan (X2) dan kompensasi (X3) adalah sebesar 36%. Sedangkan sisanya 64% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini.
Angka koefisien korelasi (R) pada tabel 5.13 sebesar 0,361 yang menunjukkan bahwa hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen adalah kuat karena memiliki nilai koefisien korelasi di atas 0, 05.
4.4.3 Uji Parsial (Uji t)
Uji t bertujuan untuk menguji pengaruh dari masing-masing variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh tersebut dapat dilihat dengan membandingkan nilai probabilitas (p-value) dari masing-masing variabel dengan tingkat signifikansi yang digunakan sebesar 0,05. Jika p-value lebih kecil dari 0,05, maka hal ini menunjukkan bahwa variabel-variabel independen secara parsial mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen.
Tabel 4.14
Hasil Pengujian Parsial (Uji t)
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B
Std.
Error Beta
1 (Constant) 5,104 3,769 1,354 ,181
X1.Pengadaan
(Rekrutmen) ,352 ,107 ,355 3,302 ,002
X2.Pengembanga
n ,426 ,121 ,380 3,515 ,001
X3.Kompensasi ,022 ,077 ,029 ,287 ,775
a. Dependent Variable: Y.TOTAL
Sumber: Data Diolah (2020)
Berdasarkan Tabel 4.14 dengan mengamati baris, kolom t dan sing, bisa di jelaskan sebagai berikut.
H1. Pengaruh Pengadaan (Rekrutmen) (X1) terhadap kinerja (Y) Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar
Hasil analisis regresi untuk hubungan antara Pengadaan (Rekrutmen) dan kinerja pegawai memiliki nilai signifikan (X1) 0,002 < 0,05. Nilai ini mengindikasikan bahwa hubungan antara Pengadaan (Rekrutmen) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pada Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar. Dilihat dari nilai t tabel = (α/2: n-k-1= t (0,05/2);66-3-1) = (0,025;62) = 1,99. Berarti nilai t hitung lebih besar dari t tabel (3,302 > 1,990), maka variabel penggadan (X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai (Y).
H2. Pengaruh Pengembangan (X2) terhadap terhadap kinerja (Y) Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar
Hasil analisis regresi untuk hubungan antara kompetensi dan kinerja pegawai memiliki nilai signifikan (X2) 0,001 < 0, 05. Nilai ini mengindikasikan bahwa hubungan antara pengembangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pada Balai Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar. Dilihat dari nilai t tabel = (α/2: n-k-1= t (0, 05/2); 66-3-1) = (0,025; 62) = 1, 99. Berarti nilai t hitung lebih besar dari t tabel (3,515 > 1, 99), maka variabel pengembangan (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai (Y).
H3. Pengaruh Kompensasi (X3) terhadap terhadap kinerja (Y) Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar
Hasil analisis regresi untuk hubungan antara kompetensi dan kinerja pegawai memiliki nilai signifikan (X3) 0,775 >0, 05. Nilai ini mengindikasikan bahwa hubungan kompensasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap
terhadap kinerja pada Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar. Dilihat dari nilai t tabel = (α/2: n-k-1= t (0, 05/2); 66-3-1) = (0,025; 62) = 1, 99. Berarti nilai t hitung lebih besar dari t tabel (0,287 > 1, 99), maka variabel pengembangan (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai (Y).
H4. Pengaruh Pengadaan (Rekrutmen) (X1), Pengembangan (X2), dan Kompensasi (X3) yang paling dominan terhadap Kinerja pegawai (Y) pada Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Makassar.
Hasil analisis regresi yang paling dominan antara variabel Pengadaan (Rekrutmen) dan variabel pengembangan dan kompensasi terhadap kinerja pegawai adalah variabel pengembangan dengan nilai signifikan 0,001, sedangkan dilihat dari nilai t tabel pengembangan lebih dominan dengan nilai 3,515, maka dapat di simpulkan variabel pengembangan lebih dominan dan signifikan terhadap kinerja pegawai.
4.4.4 Uji Simultan (Uji F)
Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama- sama terhadap variabel dependennya. Hasil perhitungan Uji F dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.15 Hasil Uji F
ANOVAa Model
Sum of Squares df
Mean
Square F Sig.
1 Regression 121,093 3 40,364 11,700 ,000b Residual 213,891 62 3,450
Total 334,985 65
a. Dependent Variable: Y.TOTAL
b. Predictors: (Constant), X3.TOTAL, X1.TOTAL, X2.TOTAL
Sumber: Data diolah (2020)