• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEONTOLOGI

Dalam dokumen Etika Profesi Hukum (Widodo (Z-Library) (Halaman 108-114)

ALIRAN-ALIRAN ETIKA

5.3 DEONTOLOGI

Kant membedakan antara imperatif kategoris dan imperatif hipotetis sebagai dua perintah moral yang berbeda. Imperatif kategoris merupakan perintah tak bersyarat yang mewajibkan begitu saja suatu tindakan moral, adapun imperatif hipotesis selalu mengikutsertakan struktur “jika…. maka…..”.

Sebagai contoh imperatif hipotesis, “Jika saya ingin terpilih menjadi bupati, maka saya memberikan derma kepada orang miskin.” Imperatif hipotesis tidak mempunyai makna moral apa- apa karena selalu diikuti dengan pamrih.

Kant menganggap imperatif hipotetis lemah secara moral karena yang baik direduksi pada akibatnya saja, sehingga manu- sia bertindak semata-mata berdasarkan pamrih. Otonomi ma- nusia hanya dimungkinkan apabila manusia bertindak sesuai dengan imperatif kategoris yang mewajibkan tanpa syarat apa pun. Imperatif kategoris menjiwai semua perbuatan moral se- perti janji harus ditepati. Imperatif kategoris bersifat otonom (manusia menentukan dirinya sendiri) adapun imperatif hipotetis bersifat heteronom (manusia membiarkan diri ditentukan oleh faktor eksternal seperti kecenderungan, keinginan (mood), takut ancaman sanksi, dan sebagainya.

Prinsip deontologi menyatakan, perbuatan tidak pernah menjadi baik karena hasilnya baik, melainkan hanya karena wa- jib dilakukan. Karena itu, bisa dimengerti bahwa deontologi se- lalu menekankan bahwa perbuatan tidak boleh menghalalkan segala cara, meski tujuannya baik. Meskipun suatu perbuatan itu tujuannya baik, namun cara yang ditempuh salah maka tetap tidak bisa dianggap baik. Contoh misalnya, ada mahasiswa yang bertujuan untuk memperoleh nilai indeks prestasi yang tinggi agar menyenangkan orang tua, dengan melakukan segala cara, termasuk dengan cara menyontek.

PRENADAMEDIA

Kant menyerukan, “act according to a Maxim which can be adopted at the same time as a Universal Law.74 Prinsip “ber- tindaklah senantiasa berdasarkan maksim (maxim)” adalah prin sip universalisasi untuk melihat atau menguji apakah se- buah tindakan itu dapat diwajibkan secara moral atau tidak.

Artinya, apakah tindakan tersebut berhak menuntut kewajiban moral atau tidak. Kalau sebuah tindakan itu diuniversalisasi- kan, apa yang akan terjadi? Misalnya, mencuri. Kalau mencuri diuniversalisasikan, lalu semua orang mencuri, maka akibat logisnya adalah bahwa mencuri itu sendiri tidak mungkin. Me- ngapa? Karena pencurian hanya mungkin kalau ada orang yang percaya bahwa hartanya tidak akan dicuri. Andai semua orang pencuri, maka setiap orang akan menjaga hartanya siang malam dan itu mengakibatkan pencurian menjadi tidak mungkin. Jadi kalau pencurian diuniversalisasikan akan terjadi self-defeating, yakni pencurian menjadi tidak mungkin. Itu berarti, pencurian tidak mungkin dijadikan hukum universal. Artinya, kita wajib tidak mencuri.75

Prinsip orang bebas membunuh orang lain, apakah bisa di- universalkan? Kita bisa membayangkan, apabila diri kita seba- gai orang lain yang boleh dibunuh, maka seketika itu kita akan menolak prinsip setiap orang bebas membunuh orang lain.

Artinya, prinsip ini tidak bisa diuniversalkan.

Menolong orang lain, apakah dapat dijadikan maksim uni- versal? Tentu bila semua orang saling menolong, maka secara logis bukan berarti menolong orang lain itu suatu yang tidak mungkin. Oleh karena itu, tindakan menolong orang lain adalah baik karena dapat dijadikan maksim universal.

Prinsip kedua, penghormatan kepada manusia. Hormat ke pada person merupakan prinsip dalam melakukan tindakan

74 Immanuel Kant, General Introduction to The Metaphysic of Morals, Op. cit.. hlm. 34.

75 Diskusi dengan Fitzerald Sitorus, 20 Oktober 2020. Fitzerald Sitorus adalah Dosen Filsafat Fakultas Liberal Art, Universitas Pelita Harapan – Jakarta.

PRENADAMEDIA

moral. Boleh saja kita berbuat baik, tapi kita harus tetap meng- hormati manusia, person. Menolong orang lain, tentu baik. Tapi kalau kita menolong orang lain sampai kita sendiri sakit, itu berarti kita tidak menghormati person, yakni diri kita sendiri.

Tidak baik kalau kita sendiri sampai sakit ketika menolong orang sakit.76

Prinsip itu juga memaksudkan bahwa manusia tidak boleh direndahkan menjadi semata-mata sebagai alat atau objek.

Dalam arti ini, pemerkosaan tidak bermoral karena dalam kasus pemerkosaan, tubuh manusia digunakan semata-mata sebagai alat atau sarana untuk memuaskan nafsu seksual. Bunuh diri karena putus asa juga tidak boleh karena dalam kasus tersebut tubuh manusia digunakan semata-mata sebagai sarana untuk keluar dari masalah. Perbudakan juga tidak bermoral karena menggunakan tubuh manusia semata-mata sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Pelacuran tidak bermoral karena menggunakan tubuh manusia semata-mata sebagai alat untuk mencari uang.

Menurut Kant tindakan tersebut disebut sebagai tindakan bermoral apabila ia melakukannya berdasarkan kehendak yang otonom (freedom).77 Maksudnya, semua tindakan yang kita la- kukan harus murni karena kehendak kita sendiri, bukan karena pengaruh apalagi paksaan dari luar. Kant menyebut prinsip ini dengan “kehendak otonom”, yaitu kehendak yang mau mela- kukan sesuatu berdasarkan hukum universal yang diten tu kan- nya sendiri. Lawan dari kehendak otonom adalah kehendak heteronom, yaitu melakukan sesuatu bukan karena kehendak kita sendiri, misalnya hakim menolak suap karena merasa se- dang diawasi Komisi Yudisial atau KPK, maka tindakan seperti itu tidak mempunyai makna moral apa-apa. Dalam konsep im- peratif kategoris, hakim menolak suap berdasarkan kehendak

76 Diskusi dengan Fitzerald Sitorus, 21 Oktober 2020.

77 Immanuel Kant, General Introduction to the Metaphysics of Morals, Op. cit., hlm. 34.

PRENADAMEDIA

otonom, tidak dipengaruhi faktor eksternal (ada atau tidak ada pengawasan dari KY dan KPK). Seorang hakim bertindak jujur dan menjaga integritas dalam memeriksa dan memutus perkara, merupakan kewajiban tak bersyarat.

Pada titik ini bermoral tidaknya (apakah tindakan itu me- rupakan tindakan moral atau tidak) sebuah tindakan itu diten- tukan apa motivasi (motif batin) kita dalam melakukan tindakan tersebut. Kalau hakim itu menolak hadiah dari si advokat ber- dasarkan kesadaran bahwa hadiah itu tidak boleh diterima (karena hal itu melanggar sumpah jabatan atau merupakan bentuk lain dari korupsi), maka tindakan hakim itu mengandung nilai moral. Mengapa? Karena tindakan itu dilakukan berdasar- kan ketaatan terhadap kewajiban moral, yakni bahwa ia tidak boleh melanggar sumpah jabatan. Sebuah tindakan disebut ber- moral kalau tindakan itu dilakukan berdasarkan kesadaran akan kewajiban untuk menaati hukum moral.

Namun, jika hakim itu menolak hadiah dari advokat ber- dasarkan pertimbangan, misalnya, nanti kalau ketahuan ia bisa dipecat, atau, dia akan malu kalau digelari si hakim yang bisa disuap, maka tindakan menolak hadiah itu tidak mengandung nilai moral. Mengapa? Karena tindakan penolakan tersebut dilakukan BUKAN berdasarkan ketaaan terhadap hukum moral, melainkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan eksternal.

Tindakan penolakan karena alasan ketakutan kalau ketahuan itu bukan tindakan yang mengandung nilai moral, melainkan (menurut Kant) nilai legal, yakni kesesuaian tindakan lahiriah dengan perintah hukum (moral).

Di sinilah Kant membedakan antara moralitas dan legali- tas. Moralitas sudah dijelaskan di atas. Adapun legalitas adalah kesesuaian tindakan lahiriah dengan hukum moral. Motivasi da- lam legalitas tidak penting. Kalau orang bayar pajak berdasarkan kesadaran akan kewajiban untuk bayar pajak, maka itu tindakan moral. Tapi kalau orang bayar pajak karena tahu bahwa kalau

PRENADAMEDIA

tidak bayar nanti kena denda atau harta bendanya disita, maka tindakan itu tidak mengandung nilai moral, melainkan nilai legal atau legalitas saja.

Jadi motif untuk melakukan tindakan itulah yang menen tu- kan apakah tindakan itu bermoral atau tidak. Itu berarti, kata Kant, hanya Tuhan dan orang yang bersangkutan yang tahu apakah seseorang itu bermoral atau tidak. Kita tidak pernah dapat mengetahui motif-motif orang, yang dapat kita tahu ha- nyalah tindakan-tindakan lahiriahnya. Sumbangan deontologi bagi mo ralitas profesi adalah melakukan kewajiban tanpa syarat, tanpa pamrih. Itu yang menjadi fondasi altruisme profesi.

Pesan etika deontologi, kita hendaknya melakukan kebaik- an tanpa pamrih, tentu perintah seperti itu sangat universal, abstrak dan objektif, tidak tersangkut dengan preferensi-pre- ferensi subjektivitas. Apabila kita berderma dengan maksud untuk dilihat orang, “oh kamu baik karena berderma”, maka se- betulnya tindakan berderma dengan preferensi subjektif, un- tuk mendapatkan citra baik di hadapan sesama manusia, itu sebenarnya sudah cukup memenuhi suatu nilai, bahkan juga perintah dari akal. Akan tetapi menurut Kant, moral ini be- lum cukup, karena ada kesenjangan antara kehendak subjektif dengan suatu perintah objektif untuk berbuat baik, sehingga kesenjangan itu harus dijembatani sebetulnya.

Seandainya kita adalah malaikat, tentu tidak ada perbeda- an antara maxim, yaitu kehendak subjektif dengan kesadaran moral universal. Karena kita manusia, sehingga ada kesenjang- an tersebut. Jadi, kita misalnya memberikan pelayanan hukum tanpa pamrih, hal itu dirasa sebagai kewajiban bukan sebagai sukacita. Nah, andaikata kita malaikat tentulah kita melayani klien dengan sukacita dan betul-betul tanpa beban perasaan bahwa ini kewajiban.

Di balik kelebihannya, bukan berarti etika deontologi ini tidak mempunyai kelemahan. Pertama, dalam “imperatif kategoris”,

PRENADAMEDIA

terkandung absolutisme, perintah yang harus dipatuhi subjek tanpa syarat, sementara dalam mengenali imperatif ini subjek tidak membuka dialog dengan subjek-subjek lain (intersubjek- tivitas). Hasil dari pengenalan yang diperoleh secara monologal ini lalu diklaim sebagai kewajiban tak bersyarat (unconditional obligation). Kedua, dalam kondisi dilematis, misalnya, ada orang yang lari ketakutan dan sembunyi di bawah meja. Lima menit kemudian ada orang-orang dengan garang datang membawa parang bertanya dan mencari ciri-ciri orang yang sembunyi di bawah meja. Apakah kita harus jujur mengatakan yang sebenar- nya?

Dalam dokumen Etika Profesi Hukum (Widodo (Z-Library) (Halaman 108-114)