BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.6 Desain Penanganan Kerusakan
4.6.1 Desain Penanganan Overlay
Desain penanganan kerusakan yang digunakan pada ruas ini ditentukan berdasarkan pemicu lendutan karena menurut Ditjen Bina Marga, 2017 nilai pemicu lendutan lebih menetukan dibandingkan dengan nilai pemicu IRI karena jenis penanganan yang ditinjau dari nilai lendutan mampu menanganai kerusakan secara struktural, sedangkan jenis penanganan yang ditinjau dari nilai pemicu IRI hanya mampu menangani kerusakan secara fungsional saja.
Gambar 4.4 Tebal Overlay Berdasarkan Lendutan Maksimum pada STA 0+200 – 0+300
• Penentuan Potensi Retak Kelelahan
Berdasarkan nilai CESA sebesar 20.686.706 ESA5, maka potensi adanya retak kelelahan perlu diperhatikan dan diperhitungkan. Dengan menggunakan grafik penentuan tebal overlay dengan menggunakan lengkung lendutan pada Gambar 2.8 untuk tebal overlay tipis dan Gambar 2.9 untuk tebal overlay tebal, maka diperoleh tebal overlay tipis aspal beton sebesar 60 mm dan tebal overlay tebal sebesar 100 mm seperti Gambar 4.4 dan Gambar 4.5 di bawah ini.
Gambar 4.5 Tebal Overlay Tipis Berdasarkan Lengkung Lendutan STA 0+200 – 0+300
Gambar 4.6 Tebal Overlay Tebal Berdasarkan Lengkung Lendutan STA 0+200 – 0+300
Dari kedua desain ketebalan overlay tersebut dipilih desain overlay yang memiliki ketebalan paling besar, sehingga desain tebal overlay yang digunakan untuk mengantisipasi retak lelah pada perkerasan adalah sebesar 100 mm.
•
Penentuan Tebal Mill and Inlay
Dikarenakan tebal overlay untuk mengantisipasi retak lelah (OLAYfat) yang diperlukan pada segmen jalan STA 0+200 – 0+300 lebih dari 50 mm, maka dibutuhkan tindakan mill and inlay untuk memberikan tebal yang lebih tipis. Berdasarkan Gambar 2.11 dan tebal OLAYfat pada segmen jalan STA 0+200 – 0+300 dengan overlay rencana setelah pelapisan sebesar 50 mm, maka diperoleh tebal lapisan pondasi agregat yang harus dilakukan pengupasan adalah sebesar 65 mm.
Gambar 4.7 Tebal Pengupasan Lapisan Pondasi Agregat Berdasarkan OLAYfat STA 0+200 – 0+300
• Rekapitulasi Perhitungan Desain STA 0+200 – 0+300
Tabel 4.14 Rekapitulasi Perhitungan Desain Tebal Overlay STA 0+200 – 0+300 STA 0+200 - 0+300
Ketebalan Overlay untuk mencegah Deformasi Permanen 20 mm Ketebalan Overlay untuk mencegah Fatigue 100 mm Ketebalan Pengupasan untuk mencegah Fatigue 65 mm
Dari rekapitulasi perhitungan yang tertuang pada Tabel 4.14, maka ketebalan pengupasan lapisan pondasi agregat adalah sebesar 65 mm dan sebesar 100 mm untuk lapisan aspal perkerasan yang kemudian dilanjutkan dengan pelapisan ulang sebesar 165 mm dan diakhiri dengan pemberian overlay sebesar 50 mm untuk keseluruhan segmen jalan 0+200 – 0+300.
4.6.1.2 Desain Overlay STA 1+300 – 1+400
• Data Perencanaan 5 CESA =
3 =
15.99 .785 ESA4 20.686.706 ESA
BB-FWD
CF = (D0 - D200) FP = (1,21 - 0,89) 0, 79 = 0, 255 mm
Tabel 4.15 Data Perencanaan Perhitungan Tebal Overlay STA 1+300 – 1+400
n ΣdB (ΣdB)2 Σ dB2 dR D0 S D wakil dR D200 D0 - D200
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm)
2 2,426 5,884 2,968 1,213 0,160 1,475 0,891 0,255
FK (%) 13,16 Keseragaman sangat baik
• Penentuan Tebal Overlay
Berdasarkan Gambar 2.6 dan lendutan wakil diperoleh tebal overlay untuk mengantisipasi deformasi permanen pada STA 1+300 – 1+400 adalah sebesar 100 mm yang telah tertuang pada Gambar 4.7 di bawah ini.
Gambar 4.8 Tebal Overlay Berdasarkan Lendutan Maksimum STA 1+300 – 1+400
•
Penentuan Potensi Retak Kelelahan
Berdasarkan nilai CESA sebesar 20.686.706 ESA5, maka potensi adanya retak kelelahan perlu diperhatikan dan diperhitungkan. Dengan menggunakan grafik penentuan tebal overlay dengan menggunakan lengkung lendutan pada Gambar 2.8 untuk tebal overlay tipis dan Gambar 2.9 untuk tebal overlay tebal, maka diperoleh tebal overlay tipis aspal beton sebesar 40 mm dan tebal overlay tebal sebesar 140 mm seperti Gambar 4.8 dan Gambar 4.9 di bawah ini.
Gambar 4.9 Tebal Overlay Tipis Berdasarkan Lengkung Lendutan STA 1+300 – 1+400
Gambar 4.10 Tebal Overlay Tebal Berdasarkan Lengkung Lendutan STA 1+300 – 1+400
Dari kedua desain ketebalan overlay tersebut dipilih desain overlay yang memiliki ketebalan paling besar, sehingga desain tebal overlay yang digunakan untuk mengantisipasi retak lelah pada perkerasan adalah sebesar 140 mm.
•
Penentuan Tebal Mill and Inlay
Dikarenakan tebal overlay untuk mengantisipasi deformasi permanen (OLAYdef ) dan retak lelah (OLAYfat) yang diperlukan pada segmen jalan STA 1+300 – 1+400 lebih dari 50 mm, maka dibutuhkan tindakan mill and inlay untuk memberikan tebal yang lebih tipis.
Berdasarkan Gambar 2.10 dan tebal OLAYDef pada segmen jalan STA 1+300 – 1+400 dengan overlay rencana setelah pelapisan sebesar 50 mm, maka diperoleh tebal lapisan pondasi agregat yang harus dilakukan pengupasan adalah sebesar 100 mm.
Gambar 4.11 Tebal Pengupasan Lapisan Pondasi Agregat Berdasarkan OLAYdef STA 1+300 – 1+400
Berdasarkan Gambar 2.11 dan tebal OLAYFat pada segmen jalan STA 1+300 – 1+400 dengan overlay rencana setelah pelapisan sebesar 50 mm, maka diperoleh tebal lapisan pondasi agregat yang harus dilakukan pengupasan adalah sebesar 120 mm.
Gambar 4.12 Tebal Pengupasan Lapisan Pondasi Agregat Berdasarkan OLAYfat STA 1+300 – 1+400
Dari hasil penentuan tebal pengupasan berdasarkan OLAYdef dan OLAYfat pada Gambar 4.10 dan Gambar 4.11, maka akan dipilih angka ketebalan yang paling besar yakni adalah ketebalan pengupasan berdasarkan OLAYfat sebesar 120 mm.
• Rekapitulasi Perhitungan Desain STA 1+300 – 1+400
Tabel 4.16 Rekapitulasi Perhitungan Desain Tebal Overlay STA 1+300 – 1+400 STA 1+300 - 1+400
Ketebalan Overlay untuk mencegah Deformasi Permanen 100 mm Ketebalan Overlay untuk mencegah Fatigue 140 mm Ketebalan Pengupasan untuk mencegah Deformasi Permanen 100 mm Ketebalan Pengupasan untuk mencegah Fatigue 120 mm
Dari rekapitulasi perhitungan yang tertuang pada Tabel 4.16, maka ketebalan pengupasan lapisan pondasi agregat adalah sebesar 120 mm dan sebesar 100 mm untuk lapisan aspal perkerasan yang kemudian dilanjutkan dengan pelapisan ulang sebesar 220 mm dan diakhiri dengan pemberian overlay sebesar 50 mm untuk keseluruhan segmen jalan 1+300 – 1+400.
4.6.1.3 Desain Overlay STA 1+800 – 1+900
•
Data perencanaan
5 CESA =
3 =
15.99 .785 ESA4 20.686.706 ESA
BB-FWD
CF = (D0 - D200) FP = (1,1 - 0,89) 0, 79 = 0,17 mm
Tabel 4.17 Data Perencanaan Perhitungan Tebal Overlay STA 1+800 – 1+900
n ΣdB (ΣdB)2 Σ dB2 dR D0 S D wakil dR D200 D0 - D200
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm)
2 2,204 4,857 2,430 1,102 0,040 1,167 0,887 0,170
FK (%) 3,60 Keseragaman sangat baik
•
Penentuan Tebal Overlay
Berdasarkan Gambar 2.6 dan lendutan wakil diperoleh tebal overlay untuk mengantisipasi deformasi permanen pada STA 1+800 – 1+900 adalah sebesar 60 mm yang telah tertuang pada Gambar 4.12 di bawah ini.
Gambar 4.13 Tebal Overlay Berdasarkan Lendutan Maksimum STA 1+800 – 1+900
•
Penentuan Potensi Retak Kelelahan
Berdasarkan nilai CESA sebesar 20.686.706 ESA5, maka potensi adanya retak kelelahan perlu diperhatikan dan diperhitungkan. Dengan menggunakan grafik penentuan tebal overlay dengan menggunakan lengkung lendutan pada Gambar 2.8 untuk tebal overlay tipis dan Gambar 2.9 untuk tebal overlay tebal, maka diperoleh tebal overlay tipis aspal beton sebesar 60 mm dan tebal overlay tebal sebesar 100 mm seperti Gambar 4.13 dan Gambar 4.14 di bawah ini.
Gambar 4.14 Tebal Overlay Tipis Berdasarkan Lengkung Lendutan STA 1+800 – 1+900
Gambar 4.15 Tebal Overlay Tebal Berdasarkan Lengkung Lendutan STA 1+800 – 1+900
Dari kedua desain ketebalan overlay tersebut dipilih desain overlay yang memiliki ketebalan paling besar, sehingga desain tebal overlay yang digunakan untuk mengantisipasi retak lelah pada perkerasan adalah sebesar 100 mm.
•
Penentuan Tebal Mill and Inlay
Dikarenakan tebal overlay untuk mengantisipasi deformasi permanen (OLAYdef ) dan retak lelah (OLAYfat) yang diperlukan pada segmen jalan STA 1+800 – 1+900 lebih dari 50 mm, maka dibutuhkan tindakan mill and inlay untuk memberikan tebal yang lebih tipis.
Berdasarkan Gambar 2.10 dan tebal OLAYDef pada segmen jalan STA 1+800 – 1+900 dengan overlay rencana setelah pelapisan sebesar 50 mm, maka diperoleh tebal lapisan pondasi agregat yang harus dilakukan pengupasan adalah sebesar 20 mm.
Gambar 4.16 Tebal Pengupasan Lapisan Pondasi Agregat Berdasarkan OLAYdef STA 1+800 – 1+900
Berdasarkan Gambar 2.11 dan tebal OLAYFat pada segmen jalan STA 1+300 – 1+400 dengan overlay rencana setelah pelapisan sebesar 50 mm, maka diperoleh tebal lapisan pondasi agregat yang harus dilakukan pengupasan adalah sebesar 65 mm.
Gambar 4.17 Tebal Pengupasan Lapisan Pondasi Agregat Berdasarkan OLAYfat STA 1+800 – 1+900
Dari hasil penentuan tebal pengupasan berdasarkan OLAYdef dan OLAYfat pada Gambar 4.15 dan Gambar 4.16, maka akan dipilih angka ketebalan yang paling besar yakni adalah ketebalan pengupasan berdasarkan OLAYfat sebesar 65 mm.
• Rekapitulasi Perhitungan Desain STA 1+800 – 1+900
Tabel 4.18 Rekapitulasi Perhitungan Desain Tebal Overlay STA 1+800 – 1+900 STA 1+800 - 1+900
Ketebalan Overlay untuk mencegah Deformasi Permanen 60 mm Ketebalan Overlay untuk mencegah Fatigue 100 mm Ketebalan Pengupasan untuk mencegah Deformasi Permanen 20 mm Ketebalan Pengupasan untuk mencegah Fatigue 65 mm
Dari rekapitulasi perhitungan yang tertuang pada Tabel 4.18, maka ketebalan pengupasan lapisan pondasi agregat adalah sebesar 65 mm dan sebesar 100 mm untuk lapisan aspal perkerasan yang kemudian dilanjutkan dengan pelapisan ulang sebesar 165 mm dan diakhiri dengan pemberian overlay sebesar 50 mm untuk keseluruhan segmen jalan 1+800 – 1+900.