BAB III METODE PENELITIAN
E. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus (case study research). Desain penelitian yang digunakan adalah purposive sampling yaitu penelitian yang melakukan pengambilan sampel atau data penelitian berdasarkan tujuan dengan memperhatikan kriteria tertentu, Metode ini dilakukan secara sengaja dalam mengambil penentuan titik lokasi penelitian. Adapaun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif jenis deskriptif (penelitian yang menggambarkan atau mendeskripsikan fenomena yang diteliti dan disajikan dalam bentuk data numerik dan tabel) dengan menggunakan metode survei.
F. Instrumen atau Alat dan Bahan Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, buku pedoman identifikasi, dan dokumentasi.
1. Wawancara dilakukan dengan bertanya kepada pemilik lahan sayuran organik yang berfungsi untuk mendapatkan informasi.
24
2. Buku pedoman identifikasi spesies cacing tanah (2010)
3. Dokumentasi adalah salah satu metode yang digunakan untuk mengumpulkan data yang bertujuan untuk memperoleh interpretasi melalui sumber dokumentasi. Dokumentasi, dilakukan untuk memperoleh data penelitian dalam bentuk dokumentasi mengenai identifikasi cacing tanah pada lahan sayuran organik.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kantong plastik (kertas spesimen), cangkul, sekop kecil, tali rapia, patok bambu ukuran 1x1 m, meteran, kertas label, alat tulis, botol sampel, parang, gunting, wadah dan kamera. Sedangkan bahan yang digunakan berupa alkohol dengan ukuran 70 %, aquades.
G.Teknik Pengumpulan Data atau Prosedur Penelitian
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode kuandran (point-centered Quarter method) yaitu salah satu metode jarak (distance menthod) dengan membuat garis di lokasi penelitian dengan menggunakan tali rapia sebagai garis kuandran disekitar lokasi penelitian, kemudian disetiap garis kuandran dibuatkan plot (titik sampel) dengan ukuran yang telah ditentukan sebelumnya. Metode kuandran digunakan dengan ukuran masing- masing garis sesuai dengan luas lokasi yang akan dijadikan sebagai
25
tempat pengambilan sampel atau data penelitian. wilayah yang akan dijadikan sebagai tempat pengambilan sampel dibagi menjadi beberapa jalur dengan jarak tiap jalur ditentukan sebelumnya.
Setelah metode kuandran ditentukan, kemudian membuat plot dengan ukuran masing-masing plot sekitar 1x1 meter di sepanjang garis kuandran pada lokasi penelitian dan dilakukan pengulangan sebanyak 2 (dua) kali di sekitar lokasi penelitian, sehingga akan dilakukan pembuatan plot sebanyak 4 (empat) di sekitar lokasi penelitian yang berbeda-beda.
Gambar 3.2 Bagan Metode kuandran
Adapun teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik hard sorting method (sorting engan tangan)
Kuandran 3 Kuandran 1
Kuandran 4 Kuandran 2
26
secara lansung pada setiap plot yang telah dibuat di lokasi penelitian dengan menggali tanah menggunakan sekop kecil atau cangkul dan diukur menggunakan penggaris dengan kedalaman kurang lebih 20-30 cm dari permukaan tanah. Kemudian cacing tanah yang diperoleh dimasukan ke dalam plastik sampel lalu diikat menggunakan karet gelang, selanjutnya diberi label dan identifikasi jenis cacing apa saja yang ditemukan.
Pengambilan dan pengumpulan data penelitian dilakukan empat hari setelah pembuatan plot di lokasi penelitian. Pengambilan sampel dilakukan mulai pada pukul 07:30- 09- 30 WITA agar suhu matahari tidak terlalu panas. Sedangkan pengumpulan dan analisis data dilakukan secara lansung oleh peneliti setelah semua sampel sudah dikumpulkan di lokasi penelitian.
1 Meter
1 Meter
Gambar Bagan 3.3 Ukuran Plot Pada Lokasi Penelitian
27 H.Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah suatu jenis cacing tanah dinyatakan dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit contoh atau persatuan luas, persatuan volum, persatuan, adapun rumus dapat ditulis sebagai berikut.
Kepadatan Populasi (K) K =
= = 2,5 % cacing tanah jenis A = = 0,5 % cacing tanah jenis B Kepadatan Relatif (KR)
KR =
X 100%
KR = X 100%
KR =83,33% cacing tanah jenis A KR = X 100%
KR = 16, 66 % cacing tanah jenis B Frekuensi Kehadiran (Fk)
FK =
X 100%
28 FK = X 100%
FK = 33, 34%
Di mana
0-25% = Konstansinya sangat jarang (aksidental) 25-50% = konstansinya jarang (aksesoris)
50-75% = konstansinya sering (konstan)
≥ 75% = konstansinya sangat sering (absolut)
29 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Desa bug-bug merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa bug-bug adalah salah 1 dari 10 desa dan kelurahan yang berada di Kecamatan Lingsar dengan kode pos 83371. Desa ini memiliki jumlah penduduk sebagian besar bersuku daerah sasak. Desa bug-bug kecamatan lingsar dengan jumlah penduduk sekitar 3.129 jiwa / 952 KK dengan luas wilayah 135 Ha. Desa bug-bug terletak di antara:
a. Sebelah Utara : Desa Segerongan b. Sebelah Selatan : Kelurahan Bertais c. Sebelah Timur :Kelurahan Selagalas d. Sebelah Barat : Desa Peteluan Indah 2. Identifikasi
Identifikasi jenis cacing tanah yang digunakan dalam penelitian ini dilihat dari dari bentuk tubuh, warna, letak dan
30
bentuk klitelum, tipe prostomium, tipe seta dan posisi lubang genetal jantan dan betina.
Jenis Cacing Tanah
Plot
A B C C
Pontoscolex corethurus 4 2 3 1
Metaphire javanica 0 1 0 1
a. Identifikasi jenis cacing tanah pada plot A
Jenis cacing tanah yang ditemukan pada plot A yaitu cacing tanah jenis Pontoscolex corethurus karena pada plot A tesktur tanahnya agak basah yang menyebapkan cacing tanah lebih dominan ditemukan pada plot A hewan-hewan yang ditemukan pada plot A seperti ulat sayuran. Peran cacing tanah yaitu memperbaikan sifat fisik tanah seperti porositas tanah dan kelembapan tanah, kimia seperti pH yang optimum dan kandungan hara tanamanm dan biologis seperti populasi mikroba dan makro organisme bermanfaat untuk perbaikan kualitas tanah.12
12 Dr. Ir. Nurhayati, M.Pd (2018) Biodiversitas Cacing Tanah Spesies Dan Dampak Cacing Tanah Pada Lahan Tebu Hlm 30-31
31
1).Ciri-ciri dan morfologi cacing tanah jenis Pontoscolex corethurus
Salah satu ciri cacing tanah jenis Pontoscolex corethurus yaitu panjang tubuh Pontoscolex corethurus 55-105 mm, diameternya 3,5-4,0 mm, segmennya 190-209. Waranya keputih- putihan dengan sedikit kecoklatan. Prostoriumnya dan segmen I tertarik ke dalam. Seta empat pasang pada tiap segmen, dari tipe lubrisin (lumbricine), seta bagian anterior letak masing-masing pasangannya berdekatan. Tubuhnya tersusun atas segmen-segmen yang terbentuk cincin (chaeta) yaitu terbentuk rambut yang berguna untuk memegang subtrat dan bergerak. Tubuh dibedakan atas bagian anterior dan posterior. Pada bagian anteriornya terdapat mulut dan beberapa segmen yang tebal membentuk klitelum.
Cacing tanah jenis Potoscolex corethurus jika dilihat dari segi habitatnya cacing tanah jenis ini berada pada tanah yang banyak mengandung bahan organik. Selain itu, cacing tanah jenis Pontoscolex corethurus memiliki peran penting dalam berbagai fungsi ekosistem tanah lainnya seperti kemampuan untuk mendegradasi bahan-bahan organik yang membusuk di dalam tanah kemudian dipecah menjadi bahan-bahan organik sederhana dan dapat digunakan oleh mikroorganisme tanah lainnya untuk
32
dirubah menjadi bahan anorganik yang berguna bagi kesuburan tanah serta berperan sebagai organisme tanah yang dapat menjaga sifat fisik, kimia dan biologi tanah serta struktur tanah itu sendiri.13 2) Klasifikasi Cacing Tanah Jenis Pontoscolex corethurus
Kingdom :Animalia Pylum :Annelida Class :Clitellata Subclass :Oligochaeta Ordo :Haplotaxida Subordo :Lumbricina Family :Glossoscolecidae Genus : Pontoscolex corethurus
13Nafira putri rahmasari “ produksi dan viabilitas kokon cacing tanah potoscolex corethurus pada berbagai kosentrasi insektisida sevin “ universitas sriwijaya 2020
1 2 3
4
5
6 7
8
33 Keterangan
1) Mulut
2) Pangkal tenggorokan 3) Pembuluh penampung 4) Sistem syaraf
5) Pembuluh ventral 6) Saluran ekskresi 7) Usus
8) Ruas
b. Identifikasi jenis cacing tanah pada plot B
Cacing tanah yang ditemukan pada plot B yaitu cacing tanah jenis Metaphire javanica. Karena cacing jenis ini ditemukan pada kedalaman 20-30 cm. karena kondisi tanah pada plot B tidak begitu basah seperti halnya plot A, dan kondisi tanah pada plot B kondisi Ph mendeketi netral ini yang menyebapkan cacing tanah jenis Metaphire javanica. Ditemukan pada plot B.
1). Ciri-ciri dan morfologi cacing tanah jenis Metaphire javanica Cacing tanah jenis Metaphire javanica mempunyai tubuh dengan pigmentasi bewarna coklat tua pada bagian dorsal dan coklat muda pada bagan ventral, serta mempunyai gerakan yang cepat. Cacing tanah jenis Metaphire javanica memiliki bentuk
34
lubang jantan yang kecil pada tubuhnya dan tidak kresentrik.
Cacing ini termasuk ke dalam kelompok Megascolecidae.
Keberadaan cacing tanah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti derajat keasaman tanah (pH) spesies ini menyukai tanah dengan kondisi (pH) yang mendekati netral. Aktivitas, metabolisme, pertumbuhan dan reproduksi cacing tanah seluruhnya dipengaruhi oleh suhu suatu daerah. Kelahiran dan masa pertumbuhan dari mulai menetas sampai matang seksual juga tergantung pada suhu. Suhu terbaik untuk cacing tanah adalah pada kisaran 20 derajat celsius -25 derajat celsius, suhu yang terlalu tinggi cacing tanah akan berhenti makan untuk mengurangi pengeluaran air tubuh.14
Cacing tanah secara terus-menerus mengalami perubahan baik secara morfologi atau anatomi. Hal ini merupakan suatu mekanisme adaftasi terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Kondisi lingkungan yang menjadi faktor pembatas kehidupan cacing tanah antara lain kelembapan, pH, temperatur, kadar air, salinitas, tekanan, zat-zat organik dan zat-zat anorganik.
Keberadaan zat-zat organik dan zat-zat anorganik dalam tanah
14 Siti Nur Akbarrahman Widowati Budijasuti “ Hubungan Jenis Kepadatan Dan Morfometri Tubuh Cacing Tanah Dengan Logam Berat Timbal (Pb) Dan Kromium (Cr) Dalam Tanah Di Kabupaten Sidoarjo “ 2018 Vol. 7 No. 3:256-771
35
mampu mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan cacing tanah termasuk Metaphire javanica. 15
2). Klasifikasi cacing tanah jenis Metaphire javanica Kingdom : Animalia
Pylum :Annelida Class :Clitellata Subclass :Oligochaeta Ordo :Haplotaxida Subordo :Metagynophora Family :Megadrile
Genus : Metaphire javanica
15Tara Mayang Ramadhany Dan Widowati Budijastuti “ Hubungan Morfometri Tubuh Dengan Organ Reproduksi Cacing Tanah Metaphire Javanica Di Kabupaten Sidoarjo “ 2020 Vol. 9 No. 3: 226-232
1
2 3 4
5
6 7
8
36 Keterangan
1) Mulut
2) Pangkal tenggorokan 3) Pembuluh penampung 4) Sistem syaraf
5) Pembuluh ventral 6) Saluran ekskresi 7) Usus
8) Ruas
c. Identifikasi jenis cacing tanah pada plot C
Cacing tanah yang ditemukan pada plot C yaitu cacing tanah jenis Pontoscolex corethurus sama halnya dengan cacing tanah yang ditemukan pada plot A.
d. Identifikasi jenis cacing tanah pada plot D
Cacing tanah yang ditemukan pada plot D yaitu cacing tanah jenis Metaphire javanica sama dengan cacing tanah yang ditemukan di plot B.
37
3. Gambar Cacing Tanah Yang Ditemukan Di Lokasi Penelitian
a). Cacing Tanah Jenis Pontoscolex corethurus
b). Cacing Tanah Jenis Metaphire javanica
Gambar 4.1 Jenis-Jenis Cacing Tanah Yang Ditemukan Pada Lokasi Penelitian.
B. Pembahasan
1. Jenis-Jenis Cacing Tanah Yang Ditemukan Pada Lahan Sayuran Organik
Cacing tanah yang ditemukan di lokasi penelitian yang bertempat di Desa Bug-Bug Selatan Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat yaitu cacing tanah jenis Pontoscolex corethurus dan
38
cacing tanah jenis Metaphire Javanica. Hal ini sebapkan karena para petani sayuran menggunakan bahan-bahan kimia yang berlebihan yang menyebapkan kehadiran cacing tanah lebih sedikit. Faktor lain yang menyebapkan kepunahan cacing tanah pada lahan sayuran organik, karena pada proses penanaman sayuran, tanah pada lahan yang akan ditanami sayuran dikeringkan terlebih dahulu atau tidak diairi kemudian ditaburkan zat-zat kimia yang menyebapkan cacing tidak bisa bertahan hidup lama. Pada dasarnya cacing tanah menyukai tanah yang agak basah atau lembap.
Cacing tanah jenis Pontoscolex corethurus adalah hewan yang hidup dan tergantung pada tanah. Cacing jenis ini merupakan makrofauna tanah yang memiliki peran penting dalam ekosistem tanah. Keberadaan cacing tanah jenis Pontoscolex corethurus merupakan salah satu indikator kesuburan tanah, karena melalui aktivitasnya cacing tanah jenis ini dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Secara fisik cacing tanah jenis Pontoscolex corethurus dapat memperbaiki tekstur tanah dan aerasi, dan secara kimia melalui
39
mekanisme pencernaannya mengeluarkan kotoran di tanah, sehingga dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanah.16
Cacing tanah jenis Pontoscolex corethurus tergolong dalam cacing tanah tipe anaceic yaitu cacing tanah yang aktif memakan bahan organik dan bergerak dari permukaan tanah ke bawah permukaan tanah. Cacing ini banyak dijumpai pada lapisan tanah bagian atas. Ciri-ciri eksternal cacing tanah jenis Pontoscolex corethurus yang menonjol antara lain panjang sekitar 55-105 mm, warna keputih-putihan dengan sedikit kecoklatan , prostomium (mulut) dan segmen pertama tertarik ke dalam, jumlah seta empat pasang pada tiap segmen, klitelum terletak pada segmen ke 15 atau 16 sampai segmen ke 21. Spesies cacing tanah jenis Pontoscolex corethurus mempunyai kelenjar keras (otot), esopagus, kelenjar empedu dan jantung pada segmen ke 7-9. Ciri-ciri internal cacing tanah jenis Pontoscolex corethurus adalah sea bagian anteriornya tebal dan kuat, spermateka seperti silinder yang ujungnya membesar, vesika seminalis sangat panjang, jantung pada segmen 7-9.17
16Jhon Kevin Purba, Rama R Sintijak, Nur Ariyani Agustina Dan Julaili Irni “ Kepadatan Populasi Cacing Tanah Pada Perkebunan Kelapa Sawit Di Desa Salang Tungir Kecamatan Namorambe “ Jurnal Ilmiah Sains. 2022, 22(1):17-22
17Eni Maftuah dan Maulana Aries Susanti “ Komonitas Cacing Tanah Pada Beberapa Penggunaan Lahan Gambut Kalimantan Tengah “ 2009, 9(4)
40
Cacing tanah jenis Metaphire javanica merupakan cacing tanah yang memiliki peran ekologis penting dalam ekosistem tanah.
Umumnya cacing tanah jenis ini disebut sebagai soil enginer karena populasinya yang sangat besar, memiliki kontribusi sangat aktif dalam menguraikan bahan organik, serta mampu mengembalikan dan mempertahankan produktivitas tanah. Melalui kegiatan meliang, cacing tanah ini berperan dalam menjaga stabilitas tanah, dan meningkatkan laju infiltrasi dalam tanah, dan mempercepat aerasi tanah. Salah satu spesies cacing tanah di indonesia ialah Metaphire javanica. Metaphire javanica tergolong dalam famili megascolacidae dengan tipe epigic yaitu cacing tanah yang aktif di permukaan, tidak menggali tanah, hidup diserasah dan warna kulitnya gelap kemudian kotorannya tidak nampak jelas dan tidak mencerna tanah. Cacing tanah jenis Metaphire javanica memiliki ciri-ciri bewarna coklat, memiliki panjang tubuh 5,5-12,5 cm, klitelum terletak pada segmen ke 14, satae bertipe perichitine, lubang genital jantan bertipe kresentrik terletak pada segmen ke 17, kelenjar prostat bertipe rasemosa terletak pada segmen ke 17. Tubuh cacing tanah jenis ini secara alami terus-menerus mengalami perubahan, baik secara
41
morfologi maupun anatomi. Hal ini merupakan suatu mekanisme adaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan.18
Cacing tanah sangat sensitif terhadap gangguan lingkungan seperti halnya bahan yang berbau kimia seperti pestisida. Residu pestisida di dalam tanah dapat menurunkan pertumbuhan dan kehadiran cacing tanah. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan cacing tanah yaitu kelembapan.19 Kehadiran cacing tanah pada lahan sayuran organik mengidikasikan bahwa lahan sayuran organik pada lokasi tertentu dapat berubah menjadi lingkungan yang ramah bagi cacing tanah. Pada lahan sayuran organik ditemukan cacing tanah dan terdapat titik tertentu yang tidak di temukan cacing tanah sama sekali. Hal ini disebapkan oleh penggunaan bahan-bahan kimia yang berlebihan pada proses penanaman sayuran yang mengakibatkan kurangnya kehadiran cacing tanah pada lokasi penelitian.20
18 Hari Nugroho “ Ekologi Cacing Tanah Metaphire Javanica Di Gunung Ciremai, Jawa Barat “ Jurnal Biologi Indonesia. 2008.4(5):417-421.
19 Firmansyah, Tri Rima Setyawati Dan Ari Hepi Yanti “ Struktur Komonitas Cacing Tanah (Kelas Oligochaeta) Di Kawasan Hutan Desa Mega Timur Kecamatan Sungai Ambawang “ 2017. Vol 6(3):108-117
20Christina,R, Muhammad,A & Yus, Y “ Kelimpahan Dan Biomassa Cacing Tanah Dibeberapa Jenis Penggunaan Lahan Gambut Di Kawasan Bukit Batu, Riau 2013.
42
Sejak zaman charles darwin, scientist pertama didunia, cacing tanah telah dicatat memberikan peran penting dalam kesuburan tanah karena mampu memecahkan bahan tanaman yang sudah mati, medaur ulang hara yang terkandung di dalamnya, dan mencampurkannya dengan tanah. Oleh karena itu cacing tanah sebagai invertebrata yang dapat ditemukan hampir pada setiap penggunaan lahan, dan sebagai penyumbang biomassa terbesar diantara komonitas biota tanah.21 2. Populasi Cacing Tanah Pada Lahan Sayuran Organik
Populasi cacing tanah pada suatu area dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti jenis bahan organik, pH tanah, kadar air tanah dan suhu tanah. Faktor lain yang menyebapkan kepadatan cacing tanah yaitu musim dan penggunaan lahan. Kepadatan cacing tanah pada musim hujan lebih banyak ditemukan dikarenakan cacing tanah lebih menyukai tanah yang agak basah atau lembap kemudian cacing tanah yang di temukan pada musim kemarau lebih sedikit hal ini dikarenakan sruktur tanah agak kering yang menyebabkan cacing tanah yang di temukan agak sedikit. Jika dilihat dari frekuensi kehadiran cacing tanah yang berkisar 33,34%. Maka dapat disimpulkan bahwa kehadiran cacing tanah pada lokasi penelitian
21 Dr. Ir Nurhayati, M. Pd “ Biodiversitas Cacing Tanah Spesies Dan Dampak Cacing Tanah Pada Ahan Tebu “ 2018: 30-31
43
sangat rendah. Faktor-faktor yang mempengaruhi kehadiran cacing tanah yaitu peralihan fungsi lahan yang mengakibatkan berkurangnya serasah pada permukaan tanah yang merupakan makanan bagi cacing tanah. Faktor lain yang menyebapkan kehadiran cacing tanah sangat sedikit yaitu struktur tanah pada lokasi penelitian agak kering kemudian lahan yang akan di tanami sayuran dikeringkan terlebih dahulu dan ditaburi bahan-bahan kimia yang menyebapkan kehadiran cacing tanah sangat sedikit.
a. Popuasi cacing tanah terbanyak yang ditemukan berturut-turut pada lahan sayuran organik yaitu cacing tanah jenis Pontoscolex corethurus hal ini dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terutama tekstur tanah.
Kepadatan cacing tanah tergantung pada kondisi yang cocok untuk kehidupan cacing tanah seperti faktor tanah, kelembapan, suhu dan cahaya serta makanan cacing berupa serasah. Iklim juga merupakan faktor penentu untuk kepadatan cacing tanah seperti musim penghujan akan banyak ditemukan cacing tanah pada permukaan tanah dan sebaiknya pada musim kemarau cacing tanah akan berada di dalam tanah, hal ini dikarenakan pada musim kemarau terjadi penguapan pada permukaan tubuh cacing, padahal respirasi cacing melalui kulit sehingga memerlukan permukaan tubuh yang selalu lembap dan
44
tempat berlansungnya difusi gas. Jadi interaksi antara faktor lingkungan dan cacing tanah sangat diperlukan untuk menunjang kehidupannya.22
b. Populasi cacing tanah paling rendah yang ditemukan pada lahan sayuran organik yaitu cacing tanah jenis Metaphire javanica hal ini disebabkan oleh kelembapan, karena cacing tanah jenis ini menyukai tekstur tanah yang lembap.
22 Sri Dwiastuti, Sri Widoretno Dan Puguh Karyanto “ Identifikasi Cacing Tanah Dan Interaksinya Dengan Lingkungan Berkapur “ Jurnal Biogenesis, 2018, 14 (2):23-28
45 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Jenis-jenis cacing tanah yang ditemukan pada lokasi penelitian yang bertempat di Desa Bug-Bug Selatan Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat terdiri dari 2 jenis yaitu Pontoscolex corethurus dan Metaphire javanica.
2. Populasi cacing tanah pada lokasi penelitian termasuk dalam katagori rendah karena dari 1.250 jenis cacing tanah yang telah teridentifikasi hanya ada 2 jenis cacing tanah yang ditemukan pada lokasi penelitian. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai-nilai kepadatan atau populasi cacing tanah yang berkisar 2,5 %. Jika dilihat dari hasil perhitungan kepadatan dan populasi cacing tanah keberadaan cacing tanah di lokasi penelitian sangat rendah.
B. Saran
Adapun saran yang dapat disampaikan oleh peneliti dari hasil penelitinnya yaitu:
46
1. Bagi para petani khususnya para petani sayuran diharapkan dapat meningkatkan kualitas sayuran dan mampu mengembangkan usaha tani yang ditekuninya.
2. Bagi masyarakat diharapkan mampu menggunakan teknologi informasi seperti internet sehingga pengelolahan sayuran organik dapat dilakukan secara optimal.
3. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menemukan lebih banyak lagi jenis cacing tanah pada lahan sayuran organik.
47
DAFTAR PUSTAKA
Arofi, F. Rukmana, D. & Ibrahim, B. The analysis of integration sustainability of coffee plantation and goat husbandry (a case study in Ampelgading subdistrict, Malang Regency, East Java, Indonesia). Journal of Economics and Sustainable. Development.
6, no.10 (2015):1-8
Adnan, R. N, Nofyan, E. & Setiawan, A. Pembimbing: Pengaruh Berbagai Konsentrasi Insektisida Profenofos Terhadap Bobot Tubuh Dan Kelangsungan Hidup Cacing Tanah Pheretima Javanica Gates (Doctoral Dissertation, Fakultas MIPA, Universitas Sriwijaya) (2020)
Arofi,F, & Wahyudi, S.( Budidaya Sayuran Organik Dipekarangan. Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan. 5, no.3 (2017):1-10.
Christina, R, Muhammad, A, & Yus, Y. Kelimpahan Dan Biomassa Cacing Tanah Di Beberapa Jenis Penggunaan Lahan Gambut Di Kawasan Bukit Batu, Riau (2013)
Dwiastuti, S. Maridi, M. Suwarno, S. & Puspitasari, D. Bahan Organik Tanah Di Lahan Marjinal dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. (In Proceeding Biology Education Conference:
Biology, Science, Enviromental, And Learning). 13, no.1 (2016):748-751
Damayanti, N. A. Keanekaragaman dan Dominansi Jenis Makrofauna Dekomposer pada Komposter Sampah Organik Rumah Tangga di Kecamatan Kenjeran, Surabaya (Doctoral dissertation, Universitas Airlangga) (2020)
Dr. Ir. Nurhayati, M. Pd Biodiversitas Cacing Tanah Spesies Dan Dampak Cacing Tanah Pada Lahan Tebu (2018):30-31.
Eni Maftuah Dan Maulana Aries Susanti “ Komonitas Cacing Tanah Pada Beberapa Penggunaan Lahan Gambut Kalimantan Tengah “ 9, no.4 (2009)
48
Firmansyah “ Struktur Komonitas Cacing Tanah (Kelas Oligochaeta) Di Kawasan Hutan Desa Mega Timur Kecamatan Sungai Ambawang ” Jurnal Protobiont (2017)
Hari Nugroho“ Aspek Ekologi Cacing Tanah Metaphire Javanica di Gunung Ceremai, Jawa Barat “ Jurnal Biologi Indonesia. 4, no.5 (2016): 417-421
Hamdani Yuwafi. Kepadatan Cacing Tanah Perkebunan Kopi PTPN XII Bangelan Kecamatan Onosori Kabupaten Malang, (2016):3
Hanif Maulana Siregar. Analisis tingkat kepuasan konsumen terhadap sayuran organik, (2018):1
Ida Kinasih dan Asep Komarudin “Pengaruh Tiga Jenis Insektisida Karbamat Terhadap Kematian Dan Bobo Tubuh Cacing Eisenia Fetida “Jurnal Penelitian Edisi Juli. 8, no.1 (2014):109-110.
Indriyanti, D. R, Banowati, E. & Margunani, M. Pengolahan Limbah Organik Sampah Pasar Menjadi Kompos. Jurnal Abdimas. 19, no.1 (2015):25-526.
Jhon Kevin Purba, Rama R Sintijak, Nur Ariyani Agustina Dan Julaili Irni
“ Kepadatan Populasi Cacing Tanah Pada Perkebunan Kelapa Sawit Di Desa Salang Tungir Kecamatan Namorambe “ Jurnal Ilmiah Sains. 22, no.1( 2022):17-22
Juhairiyah, J. Indriyati, L. Hairani, B. & Fakhrizal, D. Kontaminasi Telur Dan Larva Cacing Usus Pada Tanah Di Desa Juku Eja Kabupaten Tanah Bumbu. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia. 9, no.2 (2020):127-132.
Jayanthi, S. Widhiastuti, R., & Jumilawaty, EKomposisi komunitas cacing tanah pada lahan pertanian organik dan anorganik di Desa Raya Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo. Biotik: Jurnal Ilmiah Biologi Teknologi dan Kependidikan,. 2, no.1 (2018): 1-9.
Jayanthi, S. Komposisi Komunitas Cacing Tanah Pada Lahan Pertanian Organik dan Anorganik (Studi Kasus Kajian Cacing Tanah Untuk