• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.2. Desain Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan paradigma penelitian positivistik. Paradigma ini menggunakan logika deduktif dengan pengamatan empiris untuk menemukan hubungan kausalitas diantara dua variabel atau lebih guna memprediksi pola-pola umum dari suatu fenomena atau gejala komunikasi.

Positivis memandang ilmu sosial sebagai suatu metodologi yang terogarnisir untuk memadukan logika deduktif dengan pengujian empiris pada perilaku individu untuk menemukan dan mengkonfirmasikan seperangkat kemungkinan hukum sebab akibat yang dapat digunakan untuk memprediksi pola-pola umum aktivitas manusia (Yuliana, 2019: 29).

Gambar 3.1 Logika berfikir deduktif (Sumber: Yuliana, 2019: 30).

Paradigma Positivistik melihat realitias sebagai enitas objektif dan tunggal.

Cara pandang seperti ini memberi konsekuensi kepada perangkat epistimologi dan metodologis yang bersifat mengukur. Paradigma ini seringkali disebut juga dengan istilah paradigma ekperimental, paradigma empiris. Paradigma ini menggunakan protokol utama dengan pengujian teori-teori melalui prosedur statistik dengan pengukuran terhadap variabel penelitian (Yuliana, 2019: 30).

Paradigma positivistik mengasumsikan bahwa kebenaran ojektif dapat ditemukan dan bahwa proses penyelidikan yang menemukan kebenaran ini dapat setidaknya sebagian bernilai netral. Tradisi ini mendukung metode ilmu alam, dengan tujuan membangun hukum-hukm umum yang mengatur interaksi manusia.

Dengan kata lain menurut Reynolds (2007), model pendekatan positivistik bergerak sepanjang teori lalu penelitian yang disebutkan (Richard dan Turner, 2017: 47-48).

Secara ringkas, menurut Neuman (2003) positivisme adalah pendekatan yang diadopsi dari ilmu alam yang menekankan pada kombinasi antara angka dan logika deduktif dan penggunaan alat-alat kuantitatif dalam menginterpretasikan suatu fenomena secara objektif. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa

legitimasi sebuah ilmu dan penelitian berasal dari penggunaan data-data yang terukur secara tepat, yang diperoleh melalui survei/kuesioner dan dikombinasikan dengan statistik dan pengujian hipotesis yang bebas nilai/objektif (Fitrah dan Lufiyah, 2017: 39).

3.2.2. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif, karena peneliti ingin mengukur variabel penelitian dan tingkat pengaruh komunikasi influencer instagram terhadap keberhasilan promosi digital di PT Kibar AVG Internasional. Berikut gambar proses penelitian kuantitatif :

Gambar 3.2 Proses Penelitian Kuantitatif (Sumber: Hamdi, 2014: 19).

Penelitian kuantitatif (Quantitatif Research) adalah suatu metode penelitian yang bersifat objektif dan ilmiah dimana data yang diperoleh berupa angka-angka (score, nilai) atau pernyataan-pernyataan yang dinilai, dan dianalisis dengan analisis statistik. Penelitian kuantitatif biasanya digunakan untuk membuktikan dan menolak suatu teori. Karena penelitian ini biasanya bertolak dari suatu teori yang kemudian diteliti, dihasilkan data, kemudian dibahas dan diambil kesimpulan (Hermawan, 2019: 16).

Metode kuantitatif disebut sebagai metode positivistik karena berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini sebagai metode ilmiah karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu, konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional, dan sistematis. Metode ini juga disebut metode discovery, karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai IPTEK baru. Metode ini disebut metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik (Sugiyono, 2017: 7).

Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang menggunakan analisis data yang berbentuk numerik/angka. Pada dasarnya, pendekatan ini menggambarkan data melalui angka-angka, seperti presentasi tingkat pengangguran, kemiskinan, data rasio keuangan, dsb. Tujuan penelitian kuantitatif yaitu untuk mengembangkan dan menggunakan model matematis, teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena yang diselidiki oleh peneliti (Suryani dan Hendryadi, 2015: 109).

Pendekatan kuantitatif memandang tingkah laku manusia dapat diramal dan realitas sosial; objektif dan dapat diukur. Oleh karena itu, penggunaan penelitian kuantitatif dengan instrumen yang valid dan reliabel serta analisis statistik yang sesuai dan tepat menyebabkan hasil penelitian yang dicapai tidak menyimpang dari kondisi yang sesungguhnya. Hal itu ditopang oleh pemilihan masalah, identifikasi masalah pembatasan dan perumusan masalah yang akurat, serta dibarengi dengan penetapan populasi dan sampel yang benar (Yusuf, 2014: 58).

Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi dan sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen

penelitian, analisis data bersifat kuantitatif statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2017: 8).

3.2.3. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode survei guna untuk mengumpulkan informasi dengan pengamatan dan analisis data sosial terhadap suatu subjek penelitian dari sejumlah populasi responden yang diaggap mewakili.

Adapun pengumpulan data akan melalui kuesioner sebagai instrumen utama dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan peneliti dalam penelitian ini.

Menurut Kerlinger, survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar ataupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan hubungan antarvariabel sosiologis ataupun psikologis (Abidin, 2015: 100).

Van Dalen Menyatakan, “Their objective (of survey) may not merely be to

as certain status, but also to determine the adequacy of status by comparing it with selected or established standards, norms, or criteria”. Artinya, survei tidak hanya bermaksud mengetahui status gejala, tetapi juga menentukan kesamaan status dengan cara membandingkan dengan standar yang sudah dipilih atau ditentukan.

Selain itu, survei dilakukan untuk membuktikan atau membernarkan suatu hipotesis (Abidin, 2015: 101).

Penelitian survei pada dasarnya adalah penelitian yang secara operasional mempunyai ciri-ciri menggunakan sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat instrumen utama dalam pengumpulan data. Penelitian survei merupakan studi kuantitatif yang digunakan dengan tujuan untuk meneliti perilaku

individu, perilaku kelompok atau realitias sosial. Ruang lingkup penelitian survei meliputi pengumpulan informasi untuk meneliti hubungan antar variabel dalam suatu populasi melalui pengumpulan informasi dari responden tentang variabel;

tindakan, pengetahuan, kemauan, pendapat, perilaku, dan nilai yang dianut (Zainuddin, 2012: 87).

Wirartha menyatakan bahwa survei mempunyai 2 ruang lingkup penelitian, yaitu : (a) Sensus adalah survei yang meliputi seluruh populasi yang diinginkan; (b) Sampel dilakukan hanya dilakukan pada sebagian kecil suatu populasi. Sehubungan dengan itu, menurut Suryana dan Priyatna, penelitan survei digunakan untuk melakukan penarikan kesimpulan secara umum (generalisasi) dari sampel yang ditentukan (Abidin, 2015: 103).

3.2.4. Sifat Penelitian

Penelitian ini menggunakan sifat penelitan eksplanatif, dimana bertujuan untuk menemukan penjelasan tentang mengapa suatu fenomena atau gejala sosial terjadi. Penelitian eksplanatif adalah penelitian yang bertujuan untuk menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana. Tujuan penelitian eksplanatif antara lain mempertanyakan kembali kebenaran konsep atau teori yang telah ada, mencari hubungan sebab akibat antara berbagai konsep (Zainuddin, 2012: 50).

Format eksplanasi dimaksud untuk menjelaskan suatu generalisasi sampel terhadap populasinya atau menjelaskan hubungan, perbedaan atau pengaruh suatu variabel dengan variabel yang lain. Karena itu penelitian eksplanasi menggunakan sampel dan hipotesis. Untuk menguji hipotesis digunakan statistik inferensial.

Beberapa pakar mengatakan format eksplanasi digunakan untuk mengembangkan

dan menyempurnakan teori. Juga dikatakan penelitian eksplanasi memiliki kredibilitas untuk mengukur, menguji hubungan sebab-akibat dari dua atau beberapa variabel dengan menggunakan analisis statistik inferensial itu (Bungin, 2017: 46).

Penggunaan sampel dan format eksplanasi, baik sampel eksperimen (utama) maupun sampel kontrol, dilakukan dengan random. Cara ini dimaksud agar sampel mengandung nilai representatif yang dapat dipertanggungjawabkan untuk dilakukan generalisasi sedangkan ukuran besar-kecil sampel tergantung permasalahan apa yang hendak dieksperimenkan (Bungin, 2017: 47).

Karena ingin menjawab pertanyaan “mengapa” (why) atau pertanyaan

“sebab akibat”, penelitian eksplanatif memasukan beberapa variabel, bukan hanya variabel jaringan komunikasi melainkan nonjaringan komunikasi. Seperti ketika kita ingin menjawab pertanyaan mengenai mengapa struktur jaringan cenderung mengerucut kepada beberapa faktor, kita mungkin harus mencari penjelasan dari variabel-variabel nonjaringan seperti pendidikan, status sosial ekonomi, pandangan masyarakat, dsb (Eriyanto, 2014: 65).

Dalam penelitian ini variabel independen (bebas) adalah pengaruh komunikasi influencer instagram dan untuk variabel dependen (terikat) ialah keberhasilan promosi digital di PT Kibar AVG Internasional, Kemang, Jakarta Selatan.

3.3. Populasi dan Sampel

Dokumen terkait