• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 P EMBAHASAN H ASIL P ENELITIAN

4.4.1 Deskripsi Data

Table 4.4.1 Hasil wawancara

No Pertanyaan Jawaban

1 Diakui sebagai apakah biaya lingkungan di PT. Pertamina Balikpapan?

Diakui sebagai Work Environment and Safety Service

2 Biaya apa saja yang diakui sebagai biaya Work Environment and Safety Service di PT. Pertamina Balikpapan?

Pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3, Pemakaian jasa Reboisasi, Pembersihan dan Pengelolaan hama atau Pest.

3 Adakah biaya-biaya pengelolaan limbah di luar biaya-biaya lingkungan yang diakui di PT.

Pertamina Balikpapan?

Ada

4 Adakah pelaporan untuk pengelolaan lingkungan di PT.

Pertamina Balikpapan?

Ada

Pengakuan Biaya lingkungan PT Pertamina Balikpapan diklasifikasikan dalam 2 jenis, yaitu biaya yang diakui sebagai Work Environment and Safety Service. Akun Work Environment and Safety Service merupakan akun yang dipakai untuk mencatat biaya jasa pemeliharaan dan pengolahan untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman.

Beberapa biaya lingkungan yang diakui sebagai Work Environment and Safety Service, yaitu pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3, pemakaian jasa reboisasi,

41 pembersihan dan pengelolaan hama atau pest. Beberapa biaya lingkungan yang tidak diakui sebagai biaya Work Environment and Safety Service tetapi diakui sebagai aset perusahaan berikut:

1) Fixed Asset-Installation

Akun Fixed Asset-Installation merupakan untuk mencatat aktiva tetap yang berkaitan dengan instalasi. Proyek instalasi pengolahan air limbah (IPAL) menjadi salah satu akun yang semua biaya yang dikeluarkan akan dicatat.

2) Fixed Asset-Plants

Akun Fixed Asset-Plants merupakan aktiva tetap yang berkaitan dengan pabrik atau sarana pengolahan. Beberapa peralatan-peralatan environment assets yang terdapat dalam fixed asset kilang pengolahan limbah sulfur berikut:

a. Sulfur Recovery Unit (SRU) b. Fuel Oil Complex (FOC) c. Lubbe Oil Complex (LOC) d. Paraxylene

e. Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) 3) Capital Lease – Installation

Capital Lease – Installation yang di mana akun ini digunakan untuk mencatat aktiva tetap yang didapat. Akun ini diperoleh melalui sewa guna usaha (Capital Lease). Contoh dari akun ini yaitu instalasi pembangkit listrik dan instalasi pemrosesan limbah.

4) Capital Lease-Moveable Asset (Machinery & Equipment)

Capital Lease-Moveable Asset merupakan akun yang dipakai untuk mencatat aktiva tetap melalui sewa guna usaha (Capital Lease). Contoh dari akun ini yaitu mesin, kendaraan, dan pemadam api.

Selanjutnya, beberapa biaya lingkungan yang tidak diakui sebagai Work Environment and Safety Service tetapi diakui sebagai Expense perusahaan berikut:

A. Fuel & Utilities Expense

Fuel and Utilities Expense merupakan akun yang diakui dari pemakaian SDA atau energi yang berkaitan dengan kegiatan operasional perusahaan.

1) Electricity Expense

Electricity Expense merupakan akun yang diakui dari beban pemakaian listrik kegiatan

42 operasional.

2) Water Expense

Water Expense merupakan akun yang diakui dari pemakaian air yang kaitannya dengan berbagai kegiatan operasional perusahaan.

3) Steam Expense

Steam expense merupakan akun yang diakui dari pemakaian uap yang kaitannya dengan kegiatan operasional perusahaan.

4) Auxiliaries Expense

Auxiliaries Expense merupakan akun yang diakui dari beban pemakaian perlengkapan fasilitas penunjang lainnya yang operasional perusahaannya saling terkait.

5) Own use crude and Oil Products-Productive

Own use crude and Oil Products-Productive merupakan akun yang diakui dari penggunaan yang berkaitan dengan refinery. Contoh dari akun ini yaitu minyak mentah, produk bahan bakar maupun non bahan bakar, minyak pelumas, dan gas bahan bakar.

6) Own Use Material-Productive

Own Use Material-Productive merupakan akun yang diakui dari pemanfaatan material yang produktif dan berkaitan pada kegiatan operasional perusahaan.

7) Chemical Expense

Chemical Expense merupakan akun beban yang diakui dari material kimia yang digunakan pada pemrosesan bahan kimia. Misalnya pada saat peristiwa minyak dari PT Pertamina tercemar ke sungai, adsorbent yang menjadi penyerap atau pemisah senyawa yang terkandung dalam minyak dengan zat cair lainnya. Adsorbent menjadi bagian dari limbah padat B3 setelah digunakan.

8) Catalyst Expense

Catalyst Expense merupakan akun yang diakui dari penggunaan material katalis yang penggunaannya pada saat bahan kimia dalam proses. Katalis yang sudah digunakan menjadi bagian dari limbah padat B3.

9) Additives Expense

Additives Expense merupakan akun yang diakui dari penggunaan material aditif.

material aditif yang dicampurkan pada produksi BBM dan bahan bakar non minyak.

43 10) Compounds Expense

Compound Expense merupakan akun untuk mencatat biaya penggunaan senyawa material yang digunakan ketika pencampuran pada saat proses produksi BBM dan Non bahan bakar minyak.

B. Maintenance and Repairs

Di dalam Work Environment & Safety service ada biaya yang tidak dianggap, di mana terdapat pada biaya Maintenance and Repairs. Maintenance and Repairs sendiri adalah akun yang diakui dari penggunaan biaya lingkungan dan non-lingkungan seperti perawatan dan perbaikan mesin dan instalasi.

1. Pumping Station Service

Pumping Station Service merupakan akun yang diakui dari biaya jasa stasiun pompa dari pihak ketiga sebagai bantuan dalam kegiatan produksi perusahaan.

2. Waste Water Treatment Service

Waste Water Treatment Service merupakan akun yang diakui dari biaya jasa pengelolaan limbah air sebelum dibuang, seperti pembersihan oil spill, pemakaian jasa untuk proper activity, pengawasan lingkungan, peninjauan air limbah, dan pengelolaan air limbah.

3. Waste Oil Treatment Service

Waste Oil Treatment Service merupakan akun yang diakui dari biaya jasa pengelolaan limbah minyak sebelum dibuang.

4. Installation Service

Installation Service merupakan akun yang diakui dari biaya jasa instalasi dari aktiva tetap dari kegiatan operasional perusahaan.

C. Material and Equipment consumed

Material and Equipment consumed merupakan akun yang diakui dari biaya pembelian dan penggunaan atas material maupun peralatan perusahaan, seperti peralatan dan perlengkapan dari kegiatan laboratorium penghasil limbah.

D. Salaries and wages

Salaries and wages merupakan akun yang diakui dari beban umum dan administrasi seperti gaji dan upah. Yang dimaksud dengan gaji dan upah di sini seluruh pembayaran

44 secara langsung kepada orang pribadi yang sudah memberikan waktu dan tenaganya untuk melakukan kegiatan perusahaan yang menangani bidang lingkungan.

E. Pajak, Retribusi, dan denda

Merupakan akun yang diakui dari biaya yang ada kaitannya dengan Pajak, Retribusi, dan denda, seperti retribusi dari kegiatan perusahaan yang kaitannya dengan pengolahan limbah cair, retribusi izin gangguan atau biaya perizinan dari pemerintah daerah kepada perusahaan untuk kegiatan operasional perusahaan, dan biaya ganti rugi (klaim expense).

F. Certification, Donation, and Membership

Merupakan akun yang diakui dari biaya untuk certificate expenses dan Charitable donation and Construction (COMDEV).

G. Insurance

Merupakan akun yang diakui dari tanggungan perusahaan atas kerugian dan premi asuransi perusahaan, seperti Asuransi risiko kebakaran, Asuransi risiko bencana gempa bumi, Asuransi risiko petir, dan Asuransi risiko bencana alam.

H Professional and Labor Service

Merupakan akun yang diakui dari biaya jasa menggunakan tenaga ahli dan tenaga bantu perusahaan, seperti analisis air di laboratorium dan audit expenses.

I. Depreciation

Merupakan akun yang diakui dari alokasi beban penyusutan, aktiva tetap seperti:

1) Depreciation-Plant 2) Depreciation-Installation

3) Depreciation-Movable Asset (Machinery & Equipment)

4) Depreciation capital lease-Movable Asset (Machinery & Equipment)

Dari hasil analisis data untuk menjawab rumusan masalah diatas, penulis menggunakan metode komparasi. Yaitu dengan membandingkan pengelompokan biaya lingkungan pada PT. Pertamina dengan acuan International Guidance Document- Environmental Management Accounting dari IFAC. Kemudian penulis menemukan informasi mengenai biaya lingkungan tersebut. Biaya lingkungan di PT. Pertamina diklasifikasikan ke dalam 4 kelompok biaya. Biaya-biayanya sudah termasuk biaya umum yang terjadi di PT. Pertamina Balikpapan. sedangkan biaya lingkungan menurut

45 International Guidance Document-Environmental Management Accounting dari IFAC diklasifikasikan ke dalam 6 kelompok biaya. Biaya-biaya lingkungan menurut IFAC seharusnya dibedakan dengan biaya umum, dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut:

Table 4.3

Perbandingan Pengelompokan Biaya Lingkungan

No. PT. Pertamina Balikpapan

International Guidance Document- Environmental Management Accounting

(IFAC) tahun 2005 1 Biaya Pencegahan Biaya Bahan Output Produk 2 Biaya Deteksi Biaya Bahan Output Non Produk 3 Biaya Kegagalan Internal Biaya Pengendalian Limbah dan Emisi 4 Biaya Kegagalan

Eksternal

Biaya Pencegahan dan Pengelolaan Lingkungan

5 Biaya Penelitian dan pengembangan

6 Biaya Tidak Berwujud

Sumber: diolah penulis

Pada entitas tersebut mengelompokkan biaya lingkungannya sesuai dengan Charts of Accounts pada entitas itu sendiri. Biaya non produksi masih dimasukkan ke dalam biaya produksi. Biaya produksi seperti Chemical Expense, Pumping Station Service, Waste Water Treatment Service, Waste Oil Treatment Service. Perbedaan dalam pengelompokkan biaya lingkungan pada PT. Pertamina Balikpapan, sesuai dengan acuan International Guidance Document- Environmental Management Accounting dari IFAC memiliki perbedaan. Pada PT Pertamina Balikpapan dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu:

1. Biaya Pencegahan

Biaya pencegahan meliputi biaya pelatihan, pendidikan karyawan, pemerolehan sertifikat ISO 14001, 2015 sistem manajemen lingkungan dan ISO 45001, 2018 Sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja, mencegah kejahatan keuangan, anti pencucian uang, mendesain produk, memiliki pemasok pengadaan barang dan

46 jasa keuangan keberlanjutan.

2. Biaya Deteksi

Biaya deteksi meliputi pembangunan investasi guna meminimalkan kerusakan dan pencemaran lingkungan, membangun budaya keberlanjutan, mengaudit aktivitas lingkungan, dan mengembangkan ukuran kinerja lingkungan.

3. Biaya Kegagalan Internal

Biaya kegagalan internal meliputi biaya pengelolahan limbah dan air buangan atau efluen berupa sampah padat, limbah cair, limbah bahan berbahaya dan beracun atau B3, dan mendaur ulang sisa bahan.

4. Biaya Kegagalan Eksternal

Biaya kegagalan eksternal meliputi biaya tanggung jawab sosial perusahaan, sebagai pelestarian lingkungan hidup seperti penanaman bibit pohon dan penyebaran benih ikan, membersihkan lingkungan yang tercemar, membersihkan minyak tumpah, mereboisasi tanah akibat rusaknya ekosistem dari kegiatan operasional perusahaan.

47 BAB V

PENUTUP 5.1 Kesimpulan

PT. Pertamina Balikpapan merupakan perusahaan yang menghasilkan minyak bumi dan gas alam (MIGAS) dari kegiatan minyak eksplorasi dan produksi dalam mendukung PT. Pertamina (Persero) menyediakan energi yang penting bagi pembangunan dan perekonomian Indonesia. Berdasarkan uraian dan pembahasan yang telah dilakukan oleh peneliti mengenai analisis pengimplementasian biaya lingkungan pada PT. Pertamina EP Balikpapan, maka dapat disimpulkan bahwa Pengelompokan biaya lingkungan yang ada di PT. Pertamina EP Balikpapan terdapat perbedaan dengan acuan International Guidance Document- Environmental Management Accounting dari IFAC. Pada PT. Pertamina EP Balikpapan masih mengklasifikasikan biaya lingkungan sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia.

PT. Pertamina merealisasikan biaya lingkungan sesuai acuan International Guidance Document-Environmental Management Accounting dari IFAC secara sukarela. Penerapan sesuai acuan International Guidance Document-Environmental Management Accounting memberikan manfaat bagi perusahaan dalam pengambilan keputusan yang tepat bagi internal PT. Pertamina Balikpapan.

5.2 Keterbatasan Penulis

Penulis memiliki keterbatasan, di mana annual report PT. Pertamina Balikpapan hanya menyajikan biaya Maintenance and Repairs, tidak mencantumkan biaya lingkungan atau Work Environment and Safety Service. Maka dari itu, penulis tidak mendapatkan secara detail besarnya biaya lingkungan yang ada di PT. Pertamina Balikpapan.

5.2 Saran

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dan keterbatasan di atas, maka penulis merekomendasikan saran kepada peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian terhadap perusahaan yang dapat memberikan informasi moneter secara terperinci yang dibutuhkan oleh penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Pemerintah Indonesia. Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Sekertariat negara. Jakarta

Pemerintah Indonesia. Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Sekertariat negara. Jakarta

Awantara, I. G. P. D. (2014). Sistem Manajemen Lingkungan: Perspektif Agrokompleks.

Yogyakarta. Deepublish

Chariri, A., & Ghozali, I. (2007). Teori Akuntansi. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Chikmatin, E. (2006). Analisis Implementasi Environmental Management Accounting Sebagai Bentuk Eco-Efficiency Pada CV. Mikado. Seminar Nasional Ekonomi & Bisnis Dewantara.

https://ejournal.stiedewantara.ac.id/index.php/SNEB/issue/view/46

Collis J., & Hussey. (2003). A Practical Guide for Undergraduate and Postgraduate Students (2nd edn). Palgrave Macmillan.

Djogo, T. (2006). Akuntansi Lingkungan (Enviromental Accounting). Jakarta. Rineka Cipta.

Halim, A. Bambang, S., & M, S, K. (2012). Akuntansi Manajemen (Akuntansi Manajerial).

Edisi 2. Yogyakarta: BPFE

Helvegia, T. (2001). Socio Acoounting For Environmental, First Edition. United Kingdom:

Grammarica Press Journey Nixxon Offset.

Hamidi. (2019). Analisis Penerapan Green Accounting Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Equilibiria, 6(2), 23-35.

Hansen, Don R., & Maryanne. M. M. (2009). Akuntansi Manajerial, edisi 8. Jakarta. Salemba empat.

Hesse-Biber, S., & Leavy, P. (2010). The Practice Of Qualitative Research. SAGE Publications, Inc., Thousand Oaks.

IFAC. (2005). International Federation Of Accountants, International Guidance Document:

Environmental Manajemen Accounting. New York.

Ikhsan, A. (2008). Akuntansi Lingkungan dan Penerapannya. Yogyakarta. Graha ilmu.

Johnson, J. (2002). In-Depth Interviewing’, In JF Gubrium & JA Holstein (eds), Handbook Of Interview Research: Context & Method. SAGE Publications, Inc., Thousand Oaks.

Lako, A. (2018). Akuntansi Hijau Isu, Teori, Dan Aplikasi. Jakarta. Salemba Empat.

Laksmi, A. C. (2015). Continuing Professional Development For the Auditing Profession:

Evidence from Indonesia (doctor of philosophy thesis). RMIT University.

Lanita, I & Rachmawati, D. (2020). Penerapan Environmental Management Accounting (EMA) Terhadap Kinerja Perusahaan. Jurnal Bisnis dan Infestasi, 16(2), 28-43.

Perdana. Galih B. K. (2015). Penerapan Akuntansi Lingkungan Sebagai Bentuk Pertanggung Jawaban Perusahaan Terhadap Lingkungan (Studi Kasus Pada PT. Pesona Khatulistiwa Nusantara. Yogyakarta.

Pramanik, A. K., Shill, O. H., & Das, A. B. (2007). Environmental Accounting and Reporting.

New Delhi: Deep Publication PVT Ltd.

Rounaghi, M. M. (2019). Economic Analysis Of Using Green Accounting And Environmental Accounting To Identify Environmental Costs And Sustainability Indicators. International Journal of Ethics and Systems, 35(4), 504-512.

Sakdiyah, H. (2017). Analisis Penerapan Enviromental Management Accounting (EMA) Pada RSUD Dr.H. Slamet Martodjirjo Pamekasan. Jurnal performance, 7(1), 15-17.

Salim, E. (1989). Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Mutiara Sumber Widya.

Sarwono, J. (2006). Metedelogi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogykarta. Graha Ilmu.

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif. Alfabeta.

Sulistiwati, E., & Novi, D. (2016). Analisis Pengaruh Penerapan Green Accounting Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Pertambangan Yang Terdaftar Dibursa Efek Indonesia. Jurnal

Reviu Akuntansi Dan Keuangan, 6(1), 865-872.

Suyudi, M. Permana, D., & Suganda, D. (2020). Penerapan Akuntansi Lingkungan sebagai bentuk pertanggung jawaban perusahaan terhadap lingkungan. Auditing dan Vokasi, 4(2), 189-214.

Talitha, N., & Zulaikha. (2022). Analisis Implementasi Environmental Management Accounting (EMA) Sebagai Bentuk Penerapan Eko-Efisiensi Dalam Mewujudkan Kinerja Ekonomi Perusahaan. Diponegoro Journal of Accounting, 11(2), 1–11. http://ejournal-

s1.undip.ac.id/index.php/accounting

Wibisono, A. G. (2011). Pengaruh Environmental Performance dan Environmental Disclosure terhadap Economic Performance pada Perusahaan Pertambangan dan Pemegang

HPH/HPHTI yang terdaftar di BEI. Yogyakarta. Kajian Pendidikan Akuntansi Indonesia, 1(2), 13-33.

LAMPIRAN 1) Berita Acara

2) Surat Keterangan Penerimaan Magang

3) Peta Blok PHSS

4) Charts of Accounts PT. Pertamina EP Balikpapan

Dokumen terkait