minuman kesehatan dan lainnya (Sari Asam, Sari Kacang Ijo dan Coco Pandan Drink), susu bubuk (Morinaga, diproduksi untuk PT Sanghiang Perkasa yang merupakan anak usaha dari Kalbe Farma Tbk (KLBF)), susu kental manis (Cap Sapi) dan konsentrat buah-buahan (Ultra).
Pada tanggal 15 Mei 1990, ULTJ memperoleh ijin Menteri Keuangan Republik Indonesia untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham ULTJ (IPO) kepada masyarakat sebanyak 6.000.000 saham dengan nilai nominal Rp1.000,- per saham dengan harga penawaran Rp7.500,- per saham. Saham- saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 2 Juli 1990.
NO Kode Emiten
Earning Per Share (EPS) (Rp)
2013 2014 2015 2016 2017
1 ALTO 5.51 4.61 -11.11 -12.09 -28.48
2 CEKA 218.72 137.82 358.15 419.66 180.54
3 DLTA 16.515 17.621 11.895 316.90 349.39
4 ICBP 381.63 446.62 514.62 308.73 325.55
5 INDF 285.16 442.50 338.02 472.02 474.75
6 MLBI 55.576 37.717 235.74 465.98 627.34
7 MYOR 1.165 451.31 1.364 60.60 71.31
8 ROTI 31.22 37.26 53.45 55.31 28.84
9 SKBM 67.83 80.23 44.48 30.43 15.40
10 SKLT 16.90 24.56 29.55 29.88 33.45
11 STTP 87.38 94.27 141.78 133.18 165.16
12 ULTJ 112.60 100.89 179.71 243.17 60.86
Rata-Rata 106.683 156.283 158.137 210.314 219.12 Sumber : www.idx.co.id data diolah 2018
Dari tabel diatas, bisa dilihat bahwa Earning Per Share (EPS) setiap perusahaan dari tahun ke tahun ada yang mengalami fluktuasi, ada yang mengalami peningkatan setiap tahunnya dan ada juga yang mengalami penurunan.
Perusahaan dengan nilai Earning Per Share (EPS) tertinggi selama periode penelitian adalah PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk sebesar Rp 627.24 pada periode 2017, sedangkan perusahaan dengan nilai Earning Per Share (EPS)
terendah adalah PT. Tri Banyan Tirta Tbk sebesar Rp.-28.48 pada periode 2017.
Dan untuk rata-rata Earning Per Share (EPS) dari keseluruhan perusahaan selama periode penelitian mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada tahun 2013 sebesar Rp. 106.683, tahun 2014 mengalami kenaikan menjadi Rp. 115.531, pada tahun 2015 nilai EPS naik lagi menjadi 158.137 dan pada tahun 2016 nilai EPS semakin naik sebesar Rp. 210.314 dan tahun 2017 mengalami kenaikan lagi menjadi Rp.
219.12.
4.2.2 Return On Equity (ROE)
Return On Equity (ROE) merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio menandakan bahwa posisi pemilik perusahaan semakin kuat. Adapun nilai Return On Equity (ROE) Food and beverages periode 2013-2017 yang di jadikan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Tabel 4.2 Nilai Return On Equity (ROE) Industri Food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2013-2017 yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
NO Kode Emiten
Return On Equity (ROE) (%)
2013 2014 2015 2016 2017
1 ALTO 2.2 -1.90 -4.80 -5.51 -14.09
2 CEKA 12.32 7.63 16.65 28.12 11.90
3 DLTA 39.98 37.68 22.60 25.14 24.44
4 ICBP 16.85 16.83 17.84 19.63 17.43
5 INDF 8.90 12.48 8.60 11.99 11.00
6 MLBI 118.60 143.53 64.83 119.68 124.15
7 MYOR 26.87 9.99 24.07 22.16 22.18
8 ROTI 20.07 19.64 22.76 19.39 4.80
9 SKBM 28.97 28.03 11.67 6.12 2.53
10 SKLT 8.19 10.75 13.20 6.97 7.47
11 STTP 16.49 15.10 18.41 14.91 15.60
12 ULTJ 16.13 12.51 18.70 20.34 16.91
Rata-Rata 26.29 26.01 19.54 24.07 20.36
Sumber : www.idx.co.id data diolah 2018
Dari tabel diatas, bisa dilihat bahwa nilai Return On Equity (ROE) setiap perusahaan dari tahun ke tahun ada yang mengalami fluktuasi, ada yang mengalami peningkatan setiap tahunnya dan ada juga yang mengalami penurunan.
Perusahaan dengan nilai Return On Equity (ROE) tertinggi selama periode penelitian adalah PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk sebesar 124.15% pada periode 2017, sedangkan perusahaan dengan nilai Return On Equity (ROE) terendah
adalah PT. Tri Banyan Tirta Tbk sebesar -14.09% pada periode 2017. Dan untuk rata-rata Return On Equity (ROE) dari keseluruhan perusahaan selama periode penelitian mengalami fluktuasi. Pada tahun 2013 sebesar 26.29%, tahun 2014 mengalami penurunan menjadi 26.01%, pada tahun 2015 nilai ROE kembali mengalami penurunan menjadi 19.04% dan pada tahun 2016 nilai naik sebesar 24.07% dan tahun 2017 kembali mengalami penurunan sebesar 20.36%.
4.2.3 Return On Asset (ROA)
Return On Asset merupakan rasio yang menunjukkan hasil atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. Semakin tinggi Return On Asset (ROA) suatu perusahaan, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh perusahaan.
Tabel 4.3 Nilai Return On Asset (ROA) Industri Food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2013-2017 yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
NO Kode Emiten Return On Asset (%)
2013 2014 2015 2016 2017
1 ALTO 0.80 -0.82 -2.06 -2.27 -5.67
2 CEKA 6.08 3.19 7.17 17.51 7.71
3 DLTA 31.20 29.04 18.50 21.25 20.87
4 ICBP 10.51 10.16 11.01 12.56 11.21
5 INDF 4.38 5.99 4.04 6.41 5.85
6 MLBI 65.72 35.63 23.65 43.17 52.67
7 MYOR 10.90 3.98 11.02 10.75 10.93
8 ROTI 8.67 8.80 10.00 9.58 2.97
9 SKBM 11.71 13.72 5.25 2.25 1.59
10 SKLT 3.79 4.97 5.32 3.63 3.61
11 STTP 7.78 7.26 9.67 7.45 9.22
12 ULTJ 11.56 9.71 14.78 16.74 13.72
Rata-Rata 14.42% 10.96% 9.87% 12.41% 11.22%
Sumber : www.idx.co.id data diolah 2018
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa Return On Asset tertinggi pada tahun 2013 pada perusahaan Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) sebesar 65.72%, sedangkan terendah pada tahun 2017 perusahaan Tri Banyan Tirta, Tbk sebesar -5.67%. Dan untuk rata-rata Return On Asset (ROA) dari keseluruhan perusahaan selama periode penelitian mengalami fluktuasi. Pada tahun 2013 sebesar 14.42%, tahun 2014 mengalami penurunan menjadi 10.96%, pada tahun 2015 nilai ROE kembali mengalami penurunan menjadi 9.87%, pada tahun 2016 nilai ROE kembali naik sebesar 12.41% dan tahun 2017 kembali mengalami penurunan sebesar 11.22%.
4.2.4 Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin (NPM) merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba bersih dari penjualan yang dilakukan perusahaan.
Tabel 4.4 Nilai Net Profit Margin (NPM) Industri Food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2013-2017 yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
NO Kode Emiten Net Profit Margin (%)
2013 2014 2015 2016 2017
1 ALTO 2.48 -3.05 -8.07 -8.94 -23.98
2 CEKA 2.57 1.11 3.06 6.07 2.52
3 DLTA 31.20 32.76 27.45 32.84 35.99
4 ICBP 8.91 8.43 9.21 10.54 9.95
5 INDF 5.92 8.09 5.79 7.89 7.33
6 MLBI 32.88 26.60 18.43 30.10 39.00
7 MYOR 8.81 2.89 8.84 7.57 7.83
8 ROTI 10.50 10.03 12.44 11.09 5.43
9 SKBM 4.49 6.02 2.95 1.50 1.41
10 SKLT 2.02 2.42 2.69 2.48 2.51
11 STTP 6.75 5.69 7.30 6.62 7.65
12 ULTJ 9.40 7.23 11.91 15.15 14.58
Rata-Rata 10,49% 9.02% 8.5% 9,06% 9,18%
Sumber : www.idx.co.id data diolah 2018
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa Net Profit Margin tertinggi pada tahun 2017 pada perusahaan Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) sebesar 39.00%, sedangkan terendah pada tahun 2017 perusahaan Tri Banyan Tirta, Tbk sebesar -23,98%. Dan untuk rata-rata Net Profit Margin (NPM) dari keseluruhan perusahaan selama periode penelitian mengalami fluktuasi. Pada tahun 2013 sebesar 10.49%, tahun 2014 mengalami penurunan menjadi 9.02%, pada tahun 2015 nilai NPM kembali mengalami penurunan menjadi 8.5%, pada tahun 2016 nilai NPM kembali naik sebesar 9.06% dan tahun 2017 naik sebesar 9.08%.
4.2.5 Harga Saham
Harga saham merupakan harga jual beli yang yang sedang berlaku dipasar efek yang ditentukan oleh kekuatan pasar tergantung dari permintaan dan penawaran. Harga saham yang digunakan dalam penelitian ini merupakan harga saham penutupan (closed Price). Adapun harga saham tiap perusahaan food and beverages selama periode 2013-2017 yang dijadikan sampel dalam penelitian adalah sebagai berikut :
Tabel 4.5 Harga saham food and beverages periode 2013-2017 yang dijadikan sampel dalam penelitian.
NO Kode Emiten Harga Saham (Rp)
2013 2014 2015 2016 2017
1 ALTO 570 352 330 388 390
2 CEKA 1,160 1,500 675 1,350 1,290
3 DLTA 7,600 7,800 5,200 5,000 4,590
4 ICBP 5,100 6,550 6,738 8,575 8,900
5 INDF 6,600 6,750 5,175 7,925 7,625
6 MLBI 12,000 11,900 8,200 11,750 13,675
7 MYOR 1,040 836 1,220 1,645 2,020
8 ROTI 1,020 1,385 1,265 1,600 1,275
9 SKBM 480 970 945 640 715
10 SKLT 180 300 370 308 1,100
11 STTP 1,550 2,880 3,015 3,190 4,360
12 ULTJ 1,125 930 986 1,143 1,295
Rata-Rata 3,202.083 3,512.75 2,850.75 3,625.166 3,936.25 Sumber : www.idx.co.id data diolah 2018
Berdasarkan tabel 4.5 diatasdapat dilihat bahwa harga saham pada beberapa periode penelitian mengalami fluktuasi, ada yang mengalami peningkatan maupun penurunan. Perusahaan dengan Harga saham tertinggi selama periode penilitian yaitu PT. Multi Bintang Indonesia Tbk pada tahun 2017 sebesar Rp. 13.675, sedangkan perusahaan dengan saham terendah selama periode penelitian yaitu PT.
Sekar Laut Tbk pada tahun 2013 sebesar Rp.180.
Untuk rata-rata harga saham dari keseluruhan perusahaan yang di ambil menjadi sampel selama periode penelitian juga mengalami fluaktuasi. Rata-rata harga saham pada tahun 2013 Rp. 3.202,08, kemudian pada tahun 2014 meningkat sebesar Rp.3.512.75, kemudian pada tahun 2015 mengalami penurunan menjadi Rp.2.850,75, pada tahun 2016 kembali mengalami kenaikan sebesar Rp.3.625,16, dan pada tahun 2017 terus meningkat sebesar Rp.3.936,25.