• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dewi Farah Diba 1 , Frida Alifia 1 , Sri Rukmini 1

Dalam dokumen Prosiding (Halaman 166-173)

156

HISTOPATHOLOGY OF SKIN TISSUE OF GOLDFISH (Cyprinus caprio)

157

konsumsi ikan dalam negeri. Perkembangan produksi ikan mas secara nasional menunjukkan kinerja yang cukup baik. Menurut (Rys, 2015) produksi ikan mas di Sulawesi Selatan menjadi andalan di sektor budidaya ikan air tawar dengan menempati posisi pertama dari ikan jenis lainnya seperti nila, gurami, patin dan lele. Adapun daerah produksi ikan mas terbesar di Sulawesi Selatan yaitu di Kabupaten Pinrang, Sidrap, Enrekang, Tanah Toraja, Soppeng dan Gowa.

Didukung potensi budidaya yang besar saat ini, usaha budidaya tidak terlepas dari berbagai macam kendala. Salah satu kendala dalam budidaya ikan mas adalah penyakit disebabkan oleh parasit yang dapat mengakibatkan kematian ikan dan berdampak pada kerugian ekonomis bagi para pembudidaya. Menurut Afrianto dan Liviawaty (1990), diantara penyakit yang disebabkan oleh parasit yang sering menyerang ikan mas adalah dari golongan ektoparasit seperti Argulus sp., sedangkan menurut (Bhagawati et al. 1991), ektoparasit adalah parasit yang menyerang tubuh ikan bagian luar.

Parasit adalah organisme yang hidup pada tubuh organisme lain dan biasanya menimbulkan dampak negatif pada inangnya, namum infeksi ektoparasit dapat menjadi salah satu faktor predisposisi bagi organisme patogen yang lebih berbahaya (Pujiastuti, 2015).

Pengelolaan lingkungan dengan penggunaan pupuk kandang mempengaruhi keadaan stress pada ikan. Menurut Pamukas (2004), Penggunaan pupuk kandang dalam jumlah yang besar dapat meningkatkan kelimpahan fitoplankton pada media budidaya tetapi memberikan dampak negatif terhadap beberapa parameter kualitas air seperti terjadinya peningkatan kekeruhan, kandungan CO2 bebas dan peningkatan suhu pada proses penguraiannya, sedangkan Nofyan, dkk (2015) mengemukakan bahwa perkembangbiakan parasit dapat terjadi pada kolam, jika kolam tersebut kurang perawatannya, pakan yang berlebihan, perubahan lingkungan yang dapat menurunkan resistensi ikan tersebut.

Ikan yang terinfeksi Argulus sp. biasanya terdapat bercak pendarahan dan pembengkakan di sekitar kulit serta dapat menimbulkan infeksi sekunder (Yildiz dan Kumantas, 2002). Lebih lanjut Partasasmita (1978), mengemukakan bahwa Argulus sp dapat merusak dan merobek jaringan dalam yang akhirnya mensekresikan dan memasukkan racun sitolitik dalam darah.

Perubahan eksternal dari serangan Argulus sp. terhadap ikan mas dapat diketahui melalui pengamatan tingkah laku, sedangkan untuk perubahan internal perlu dilakukan pengamatan lebih lanjut melalui uji histopatologi organ yg terinfeksi Argulus sp. Melalui histopatologi tersebut akan didapatkan gambaran sel, jaringan dan organ yang terinfeksi sehingga dapat diketahui perbedaan sel, jaringan organ yang terinfeksi Argulus sp dan organ yang tidak terinfeksi Argulus sp.

Pemeriksaan secara histopatologi merupakan pendukung dari suatu diagnosa jaringan spesifik

158

pada penyakit tertentu. Selain itu, melihat gambaran histopatologi merupakan pemeriksaan lanjutan dari penyakit parasit pada kulit ikan, karena perubahan yang terjadi sering diakibatkan perubahan lingkungan (air pemeliharaan ikan) yang terjadi secara ekstrem. (Hossain, et al, 2007).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerusakan jaringan kulit ikan mas (Cyprinus carpio) akibat infeksi Argulus sp.

METODE

Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan September 2019 dengan tahapan pengambilan sampel ikan mas dari Balai Benih Ikan (BBI) Citta Kabupaten Soppeng, pengamatan sampel dii Laboratorium STITEK Balik Diwa serta preparasi spesimen di Laboratorium Histopatologi Klinik Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Ikan mas yang diambil secara acak dari dua tambak yang berbeda yaitu tambak yang tidak diberi pupuk kandang dan yang diberi pupuk kandang kemudian dibedah, dan dilakukan pengamatan organ kulit dan sirip yang terinfeksi Argulus sp. kemudian dibuat preparat histologinya dengan metode mikroteknik dan pewarnaan Heamatoxilin Eosin (HE) (Diba, 2005).

Pengamatan dilakukan dibawah mikroskop cahaya pengambilan gambar yang difokuskan pada kerusakan jaringan. Analisis data dilakukan secara deskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran histopatologi organ ikan mas (Cyprinus caprio) pada tambak tanpa pupuk kandang

Gambaran histopatologi organ ikan mas (Cyprinus caprio) pada tambak tanpa pupuk kandang dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 1. A (kulit ikan mas yang tidak terinfeksi Argulus sp.) Pembesaran 10x10, B (kulit ikan mas yang tidak terinfeksi Argulus sp.), Pembesaran 40x10. Pewarnaan HE. Tidak ada perubahan. .

A B

159

Hasil pengamatan kerusakan histopatologi jaringan kulit ikan mas menunjukkan bahwa pada Gambar A yang diambil dari tambak tanpa pupuk kandang, yaitu pada organ kulit jaringan yang diamati terlihat normal atau tidak terdapat perubahan histopatologi, dilihat dari warna dan struktur yang normal. Gambar A dan B menunjukkan bahwa jaringan kulit yang diamati tidak menunjukkan adanya perubahan atau kerusakan yang terjadi.

Gambar 2. A (Organ sirip yang terinfeksi Argulus sp.). Pembesaran 10x10, B (Organ sirip yang terinfeksi Argulus sp.). Pembesaran 40x10. Pewarnaan HE. Terlihat adanya pendarahan (hemoragik) (panah putih)..

Perubahan histopatologi dapat dilihat pada Gambar B yang diambil dari tambak tanpa pupuk kandang, yaitu dilihat pada organ sirip ikan mas yang terinfeksi oleh Argulus sp., gejala klinis yang terjadi terlihat adanya pendarahan (hemoragik) yang ditandai oleh tanda panah yang berwarna putih. Pendarahan (hemoragik) ini ditandai dengan adanya guratan berwarna merah pada sirip. Hemoragik itu sendiri adalah keluarnya eritrosit dari pembuluh darah yang ditandai dengan rupturnya pembuluh darah (Spector 1988 dalam Khoirun 2005).

B. Gambaran histopatologi organ ikan mas (Cyprinus caprio) pada tambak dengan pemberian pupuk kandang

Gambaran histopatologi organ ikan mas (Cyprinus caprio) pada tambak yang diberi pupuk kandang dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

A B

160

Gambar 3. A (Organ kulit yang terinfeksi Argulus sp.). Pembesaran 10x10, B (Organ sirip yang terinfeksi Argulus sp.). Pembesaran 40x10. Pewarnaan HE. Melanomakrofag meningkat (panah hijau). Terdapat daerah yang mengalami pendarahan atau hemoragik (panah putih).

Pada Gambar 3 yaitu pada organ kulit dan sirip ikan mas yang terinfeksi Argulus sp., menunjukkan gejala klinis yang terjadi yaitu sirip terlihat lebih aktif yang ditandai dengan jaringan berwarna lebih gelap dibandingkan normal dan terdapat daerah yang mengalami pendarahan hemoragik yang selanjutnya akan menjadi borok. Selain itu pada gambar juga dijelaskan bahwa melanomakrofag meningkat. Banyaknya tanda panah yang bewarna putih dan hijau menunjukkan kerusakan melanomakrofag dan hemoragik pada kulit dan sirip yang terinfeksi dilihat dari gambar A dan B menunjukkan hasil yang sama banyaknya, sehingga menandakan bahwa kerusakan hemoragik dan melanomakrofag yang ditemukan sama jumlahnya.

Hemoragik kecil dimana berbentuk titik darah tidak lebih besar dari ujung peniti disebut ptechiae. Hemoragik dengan spot agak besar di permukaan tubuh atau jaringan disebut ekimosis (tunggal). Ektrafasasi merupakan hemoragik dalam jaringan yang sudah sangat menyebar (Fazra 2008).

Hemoragik disebabkan oleh berbagai macam sebab, diantaranya adalah adanya toksin yang dikeluarkan oleh parasit pada saat menginfeksi inang. Toksin yang dikeluarkan oleh Argulus sp. berupa enzim anti koagulan (simultaneously releasing toxic anticoagulan subtance) yang berfungsi untuk mencegah terjadinya pembekuan darah pada saat Argulus sp. menginfeksi inangnya. Adanya sekresi toksin oleh Argulus sp. menyebabkan terganggunya sistem vaskularisasi pada sistem peredaran darah. Gangguan tersebut berupa distribusi darah tidak lancar dan juga absorpsi pada darah yang berlebih oleh Argulus sp. sehingga eritrosit keluar dari jaringan endotel pembuluh darah yang mengakibatkan pembuluh darah ruptur (pecah, hancur) dan akhirnya terjadi hemoragik (Spector 1988 dalam Khoirun 2005). Sedangkan melanomakrofag atau endapan coklat akibat infeksi Argulus sp. terjadi karena adanya eksudasi kuman di dalam jaringan. Selain karena infeksi Argulus sp. melanomakrofag dapat pula dijumpai pada ikan yang

A B

161

menderita Pseudomoniasis (Ratnawati dkk, 2013). Pembetukan melanomakrofag karena racun toksin yang dikeluarkan oleh Argulus sp. mengalir masuk ke dalam sel endotel pebuluh darah yang menyebabkan kerusakan pada jaringan endotel sehingga meransang pembentukan melanomakrofag (David dan Kartheek, 2015).

Gambar 4. A (Organ sirip yang terinfeksi Argulus sp.). Pembesaran 10x10. B (Organ sirip yang terinfeksi Argulus sp.). Pembesaran 40x10. Pewarnaan HE. Terlihat melanomakrofag lebih meningkat (panah biru).

Perubahan histopatologi dapat dilihat pada sampel Gambar 4 yaitu pada organ sirip ikan mas yang terinfeksi Argulus sp., gejala klinis yang terjadi terlihat adanya melanomakrofag lebih meningkat jumlahnya, sehingga warna menjadi gelap menandakan sel-sel lebih aktif. Banyaknya tanda panah warna biru yang menunjukkan kerusakan melanomakrofag pada sirip yang terinfeksi dilihat dari gambar A dan B menandakan bahwa perubahan kerusakan yang banyak terjadi adalah melanomakrofag. Melanomakrofag adalah kumpulan dari makrofag yang berisi hemosiderin, lipofuchhsin dan ceroid sama seperti pigmen melanin. Lebih lanjut menurut (Wakita dkk, 2007), melanomakrofag adalah sejenis makrofag yang mempunyai banyak pigmen melanin di dalam sitoplasmanya. Melanomakrofag banyak ditemukan di dalam jaringan limfoid kebanyakan teleost yang diakibatkan oleh peradangan (Wikiandy dkk 2013).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian bahwa kerusakan jaringan yang terjadi pada kulit ikan mas (Cyprinus carpio) akibat infeksi Argulus sp. adalah kerusakan berupa hemoragik dan melanomakrofag.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih pada semua pihak yang turut membantu dalam penelitian ini.

A B

162 DAFTAR PUSTAKA

Afrianto dan Liviawaty, 1990. Mas koki Budidaya dan Pemasarannya. Kanisius. Yogyakarta.

Bhagawati D, Petrus H.T., dan Siti R. 1991. Mengenal Ektoparasit Penyebab Penyakit Pada Kolam Rakyat Di Desa Beji Purwokerto. Fakultas Biologi UNSOED. Purwokerto.

David, M and R.M Kartheek, 2015. Histopatological Alterations In Spleen Of Freshwater Fish Cyprinus carpio Exposed To Sublethal Concebtration Of Sodium Cyanide. Environmental Dan Molecular Toxycology Labratory, Departement Of PG Studies And Research In Zoology, India. Veterinary Journal. Vol 5 (1) : 1-5.

Diba, D.F., 2005. Struktur Histologi Badan Malpighi Nephron Ginjal Mencit (Mus musculus) Akibat Pemberian Parasetamol. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Fazra D.F., 2008. Gambaran Histopatologi Insang, Otot dan Usus Pada Ikan Lele (Clarias Spp.) Asal dari Daerah Bogor. Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.Bogor.

Hossain MK, Hossain MD, Rahma MH. 2007. Histopathology of some diseased fishes. Journal Life Earth Science 2(2): 47-50.

Khoirun Mukhammad, 2005. Gambaran Histopatologi Organ Sirip Ekor Ikan Maskoki Tosa (Carrasius auratus) yang Terinfestasi Argulus sp. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Surabaya.

Nofyan E, Ridho M.S, Fitrin R. 2015. Identifikasi Dan Prevalensi Ektoparasit Dan Endoparasit Pada Ikan Nila (Oreochromis Niloticus Linn) Di Kolam Budidaya Palembang, Sumatera Selatan. Universitas Tanjungpura Pontianak.

Pamukas, N.A., 2004. Perkembangan Jenis dan Kelimpahan Plankton dengan Pemberian Dosis Pupuk Kotoran Kambing Yang Berbeda. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau.

Partasasmita, S., 1978. Metode Diagnosa dan Epidemilogi Penyakit Ikan oleh Crustacea dan Protozoa Parasiter di dalam Lokakarya Pemberantasan Hama dan Penyakit Ikan. Bogor:

Direktorat Jenderal Perikanan, Lembaga Penelitian Perikanan Darat.

Pujiastuti Novy, 2015. Identifikasi Dan Prevalensi Ektoparasit Pada Ikan Konsumsi Di Balai Benih Ikan Siwarak. Universitas Negeri Semarang

Rys, 2015. Sulse Genjot Produksi Ikan Mas. Upeks.co.id

Wikiandy Novianty, Rosidah, Titin Herawati, 2013. Dampak Pencemaran Limbah Industri Tekstil Terhadap Kerusakan Struktur Organ Ikan yang Hidup di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Bagian Hulu. Fakultas Perikanan dan Kelautan Unpad. Bandung. Jurnal Perikanan Dan Kelautan. Vol. 4. No. 3 : 215-225.

Yildiz, K and A. Kumantas. 2002. Argulus foliaceus infection in a goldfish (Carassius auratus).

Israel. 57 (3): 118- 120.

163

PEMANFAATAN BERBAGAI JENIS SUBSTRAT UNTUK MENINGKATKAN

Dalam dokumen Prosiding (Halaman 166-173)