• Tidak ada hasil yang ditemukan

DIAGNOSIS 1. Anamnesis

Dalam dokumen Laporan Kasus Fraktur Os Humerus Dextra (Halaman 34-39)

biasanya jaringan lunak tetap utuh. Tekanan pada tulang dapat berupa tekanan berputar, membengkok, kompresi bahkan tarikan. Sementara kondisi patologis disebabkan karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kondisi patologis yang terjadi di dalam tulang. Akibat trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya. Sementara fraktur spontan terjadi akibat stress tulang yang terjadi terus menerus misalnya pada orang yang bertugas kemiliteran.

J. DIAGNOSIS

- Sejak kapan dan apa sudah mendapat pertolongan,

- Bagaimana sifatnya: pegal/seperti ditusuk-tusuk/rasa panas/ditarik-tarik, terus-menerus atau hanya waktu bergerak/istirahat dan seterusnya,

- Apa yang memperberat/mengurangi nyeri, - Nyeri sepanjang waktu atau pada malam hari,

- Apakah keluhan ini untuk pertama kali atau sering hilang timbul.

2) Kelainan bentuk/pembengkokan

- Angulasi/rotasi/discrepancy (pemendekan/selisih panjang), - Benjolan atau karena ada pembengkakan.

3) Kekakuan/kelemahan

Kekakuan: Pada umumnya mengenai persendian. Apakah hanya kaku, atau disertai nyeri, sehingga pergerakan terganggu?

Kelemahan: Apakah yang dimaksud instability atau kekakuan otot menurun/melemah/kelumpuhan?

b. Allo-anamnesis

Allo-anamnesis dasarnya sama dengan auto-anamnesis, bedanya yang menceritakan adalah orang lain. Hal ini penting bila kita berhadapan dengan anak kecil/bayi atau orang tua yang sudah mulai dementia atau penderita yang tidak sadar/sakit jiwa; oleh karena itu perlu dicatat siapa yang memberikan allo anamnesis, misalnya:

1) allo anamnesis mengenai bayi tentunya dari ibu lebih cocok daripada ayahnya,

2) atau mungkin pada saat ini karena kesibukan orangtua, maka pembantu rumah tangga dapat memberikan keterangan yang lebih baik,

3) juga pada kecelakaan mungkin saksi dengan pengantar dapat memberikan keterangan yang lebih baik, terutama bila yang diantar tidak sadarkan diri.

2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dibagi menjadi dua yaitu (1) pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan (2) pemeriksaan setempat (status lokalis).

a. Pemeriksaan umum

1) Keadaan Umum (KU): baik/buruk, yang dicatat adalah tanda- tanda vital yaitu:

a) Kesadaran penderita; apatis, sopor, koma, gelisah b) Kesakitan/nyeri: visual analogue scale (VAS) score

c) Tanda vital seperti tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu 2) Kemudian secara sistematik diperiksa dari kepala, leher, dada

(toraks), perut (abdomen: hepar, lien) kelenjar getah bening, serta kelamin,

3) Ekstremitas atas dan bawah serta punggung (tulang belakang).

b. Pemeriksaan lokal

Harus dipertimbangkan keadaan proksimal serta bagian distal dari anggota terutama mengenai status neuro vaskuler. Pada pemeriksaan orthopaedi/muskuloskeletal yang penting adalah:

1) Look (Inspeksi)

a) Bandingkan dengan sisi yang sehat, b) Perhatikan posisi anggota gerak,

c) Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur tertutup/terbuka,

d) Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari,

e) Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi, dan kependekan.

2) Feel (Palpasi)

Posisi penderita diperbaiki terlebih dahulu sebelum dipalpasi agar dimulai dari posisi netral/posisi anatomi. Pada dasarnya ini

merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik si pemeriksa maupun si pasien, karena itu perlu selalu diperhatikan wajah si pasien atau menanyakan perasaan si pasien.

Hal-hal yang perlu diperhatikan:

a) Temperatur setempat yang meningkat,

b) Nyeri tekan, nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang,

c) Krepitasi,

d) Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena. Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal daerah trauma, temperatur kulit;

e) Pengukuran tugkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai.

3) Move (Pergerakan terutama mengenai lingkup gerak)

Setelah memeriksa feel pemeriksaan diteruskan dengan menggerakkan anggota gerak dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pada anak periksalah bagian yang tidak sakit dulu, selaiam untuk mendapatkan kooperasi anak pada waktu pemeriksaan, juga untuk mengetahui gerakan normal si penderita.

Pencatatan lingkup gerak ini perlu, agar kita dapat berkomunikasi dengan sejawat lain dan evaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya.

Apabila terdapat fraktur tentunya akan terdapat gerakan abnormal di daerah fraktur (kecuali pada incomplete fracture).

Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat gerakan dari setiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dengan ukuran metrik. Pencatatan ini penting untuk mengetahui apakah

ada gangguan gerak. Kekakuan sendi disebut ankilosis dan hal ini dapat disebabkan oleh faktor intra artikuler atau ekstra artickuler.

a) Intra artikuler: Kelainan/kerusakan dari tulang rawan yang menyebabkan kerusakan tulang subkondral; juga didapat oleh karena kelainan ligament dan kapsul (simpai) sendi;

b) Ekstra artikuler: oleh karena otot atau kulit.

Pergerakan yang perlu dilihat adalah gerakan aktif (penderita sendiri disuruh menggerakkan) dan pasif (dilakukan oleh pemeriksa). Selain pemeriksaan, penting untuk mengetahui gangguan gerak, hal ini juga penting untuk melihat kemajuan/kemunduran pengobatan. Selain diperiksa pada posisi duduk dan berbaring juga perlu dilihat waktu berdiri dan jalan.

Jalan perlu dinilai untuk mengetahui apakah pincang disebabkan karena instability, nyeri, discrepancy, fixed deformity.

3. Pemeriksaan Penunjang a. Laboratorium

Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hemoglobin, hematokrit sering rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED) meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas. Pada masa penyembuhan Ca dan P mengikat di dalam darah.13

b. Radiologi

Berbagai pemeriksaan radiologi antara lain foto polos tulang, foto polos dengan media kontras, serta pemeriksaan radiologis khususnya seperti CT scan, MRI, pindai radioisotopi, serta unltrasonografi. Pada foto polos tulang perlu diperhatikan keadaan densitas tulang baik setempat maupun menyeluruh, keadaan korteks dan medula, hubungan antara kedua tulang pada sendir, kontinuitas kontur, besar rang sendi, perubahan jaringan lunak, pemeriksaan foto polos dengan media kontras antara lain sinografi (untuk melihat batas dan lokasi sinus), artografi (untuk melihat batas ruang sendi), mielografi (dengan

memasukkan cairan media ke dalam teka spinalis), dan arteriografi (untuk melihat susunan pembuluh darah).

c. Artroskopi

Untuk memperlihatkan kelainan pada sendi.

d. Elektrodiagnosis

Berguna untuk mengetahui fungsi saraf dan otot dengan menggunakan metode elektrik.

K. PENATALAKSANAAN

Dalam dokumen Laporan Kasus Fraktur Os Humerus Dextra (Halaman 34-39)

Dokumen terkait