BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2 Penyajian Karakteristik Data Umum
5.3.1 Dukungan Keluarga Pada Pasien Skizofrenia
Tabel 5.8 Dukungan Keluarga Secara umum Pada Pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
No Dukungan Keluarga Frekuensi (f) Presentase (%)
1. Kurang 48 48,98
2. Cukup 40 40,82
3. Baik 10 10,20
Total 98 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.8 dapat diketahui bahwa dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun dari 98 responden
didapatkan 48,98%% dukungan keluarga kurang sedangkan 40,82%
didapatkan dukungan keluarga cukup dan 10,20% untuk dukungan keluarga baik.
Tabel 5.9 Dukungan Keluarga Pada Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun Dukungan
Keluarga
Dukungan Penilaian
(%) Dukungan Instrumental
(%) Dukungan Informasional
(%) Dukungan Emosi
(%)
Baik 14 14,29 12 12,24 12 12,24 15 15,31
Cukup 41 41,83 44 44.90 40 40,82 43 43,88
Kurang 43 43,88 42 42,86 46 46,94 40 40,81
Total 98 100 98 100 98 100 98 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.9 dapat diketahui bahwa dari 98 responden untuk dukungan keluarga penilaian pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun didapatkan 14 kategori baik, 41 kategori cukup dan 43 kategori kurang. Kemudian untuk dukungan keluarga instrumental pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun didapatkan 12 kategori baik, 44 kategori cukup dan 42 kategori kurang. Selanjutnya untuk dukungan keluarga informasional pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun didapatkan 12 kategori baik, 40 kategori cukup dan 46 kategori kurang. Dan untuk dukungan keluarga emosi pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun didapatkan 15 kategori baik, 43 kategori cukup dan 40 kategori kurang.
Pada dukungan keluarga didapatkan hasil mayoritas untuk kategori
dukungan emosional dan minoritas untuk kategori dukungan informasional.
5.3.2. Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
Tabel 5.10 Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun No Kekambuhan Pada
Pasien Skizofrenia
Frekuensi (f)
Presentase (%)
1. Ya 72 73,47
2. Tidak 26 26,53
Total 98 100
Sumber : Data Primer
Tabel 5.11 Frekuensi Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun Selama 1 Tahun
Kekambuhan Pada
Pasien Skizofrenia Kambuh Tidak Kambuh
Persentase (%)
Jumlah 72 26 100
0 – 10 kali 19 7 26,53
11 – 20 kali 20 5 25,51
21 – 30 kali 3 4 7,14
31 – 40 kali 14 6 20,41
41 – 50 kali 16 4 20,41
Total 98 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.10 dan 5.11 dapat diketahui bahwa dari 98 responden dengan jumlah kambuh 72 orang dan tidak kambuh 26 orang.
Dimana, dalam rasio 20 kali kekambuhan pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun dalam 1 tahun terjadi pada 21 orang yang mengalami kekambuhan dan 11 orang tidak mengalami kekambuhan dengan presentase sebanyak 32,65%. Kemudian untuk rasio 40 kali kekambuhan pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun dalam 1 tahun terjadi pada 22 orang yang mengalami kekambuhan dan 10 orang tidak mengalami kekambuhan dengan presentase sebanyak
32,65%. Selanjutnya untuk rasio 50 kali kekambuhan pada pasien Skizofrenia Kecamatan Geger Kabupaten Madiun dalam 1 tahun terjadi pada 29 orang yang mengalami kekambuhan dan 5 orang tidak mengalami kekambuhan dengan presentase sebanyak 34,70%.
5.3.3. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
Tabel 5.12 Tabel silang hubungan dukungan keluarga dengan
Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun Dukungan Keluarga Kekambuhan
Total % P. Value
Kambuh Tidak
Kambuh
F % F %
Kurang 38 52,78 10 38,46 48 48,98 0,037
Cukup 30 41,67 10 38,46 40 40,82
Baik 4 5,55 6 23,08 10 10,20
Total 72 100 26 100 98 100
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 5.12 diatas dilihat dari 98 responden, pasien yang mendapatkan dukungan keluarga kurang sehingga mengakibatkan pasien skizofrenia sering mengalami kekambuhan sebanyak 52,78% sedangkan untuk yang tidak mengalami kekambuhan sebanyak 38,46%. Kemudian untuk dukungan keluarga cukup menunjukan pasien skizofrenia sering mengalami kekambuhan sebanyak 41,67%, sedangkan untuk yang tidak mengalami kekambuhan sebanyak 38,46%. Dan untuk dukungan keluarga baik mengakibatkan pasien skizofrenia sering mengalami kekambuhan sebanyak 5,55% sedangkan untuk yang tidak mengalami kekambuhan sebanyak 23,08%. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti berasumsi bahwa dukungan keluarga baik sangat berguna untuk menekan tingkat
kekambuhan pada pasien skizofrenia, walaupun masih ada terjadi kekambuhan pada pasien hal ini disebabkan bukan meraka kekurangan dukungan keluarga melainkan banyak faktor yang mempengaruhi kekambuhan pasien salah satunya hal yang paling penting yaitu motivasi dari pribadi pasien, dimana pasien harus memiliki semangat untuk sembuh.
Hasil analisa dengan menggunakan uji chi square dengan program spss versi 20.0 didapatkan nilai Asymp.Sig sebesar = 0,037 Karena nilai Asymp.Sig < 0,05 maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang siginifikan antara dukungan keluarga dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun.
5.4. Pembahasan
5.4.1. Dukungan Keluarga Pada Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
Menurut Friedman (2010) dukungan keluarga merupakan bentuk support system yang diberikan oleh keluarga dalam menghadapi masalah anggota keluarganya. Keluarga merupakan orang yang paling dekat dan tempat yang paling nyaman bagi pasien gangguan jiwa. Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap pasien gangguang jiwa. Dukungan keluarga yang di wujudkan dalam bentuk kasih sayang, adanya kepercayaan, kehangatan, perhatian saling mendukung dan menghargai antar keluarga.
Pada kuesioner dukungan keluarga terdapat 4 indikator yang menjadi kajian penelitian yaitu : dukungan penilaian, dukungan instrumental, dukungan informasional dan dukungan emosi.
Dukungan penilaian dari dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 14 orang, cukup sebanyak 41 orang dan kurang sebanyak 43 orang. Dukungan penilaian pada penilitan menunjukan mayoritas pasien skizofrenia dalam penelitian ini diketahui kurang dalam mendapatkan dukungan penilaian. Hasil sama dengan penelitian Idris, dkk (2017) menunjukan bahwa bahwa dukungan penilaian dari keluarga pasien skozofrenia mayoritas kurang masing-masing dengan hasil 38,6%. Sama hal nya dengan penelitian Nasution, dkk (2018) terhadap 43 pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Medan Sumatra Utara menujukkan bahwa mayoritas responden mendapatkan dukungan nyata kurang sebanyak 51,2%. Jadi, dalam penelitian ini diketahui bahwa dukungan penilaian pada dukungan keluarga sudah menunjukan hasil yang cukup, dimana dukungan penilaian berperan peranting terhadap proses kekambuhan pada pasien.
Dukungan instrumental yang diberikan keluarga secara umum menunjukan dukungan yang kurang. Dukungan instrumental dari dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 12 orang, cukup sebanyak 44 orang dan kurang sebanyak 42 orang. Berdasarkan
hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas pasien skizofrenia dalam penelitian ini diketahui cukup dalam mendapatkan dukungan instrumental.
Penelititian ini sejalan dengan penelitian Susanti (2019) pada penelitian terhadap 28 responden tentang penilaian kekambuhan pasien skizoprenia dari beberapa aspek dukungan keluarga menunjukkan bahwa dukungan instrumental yang diberikan keluarga untuk mencegah terjadinya kekambuhan pasien masih kurang. Sementara itu penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Idris, dkk (2017) menunjukan bahwa mayoritas responden mendapatkan dukungan instrumental baik sebanyak 73,7%. Jadi, dalam penelitian ini diketahui bahwa dukungan instumental pada dukungan keluarga menunjukan hasil yang kurang, hal ini disebabkan karena mayoritas penegtahuan keluarga terhadap kondisi pasien masih minim.
Dukungan informasional pada penelitian ini menunjukan mayoritas pasien skizofrenia dalam penelitian ini diketahui kurang dalam mendapatkan dukungan penilaian. Dimana, dukungan informasional dari dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 12 orang, cukup sebanyak 40 orang dan kurang sebanyak 46 orang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Nasution, dkk (2018) terhadap 43 pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Medan Sumatra Utara menujukkan bahwa mayoritas responden mendapatkan dukungan informasi kurang baik sebesar 51,2%. Sementara penelitian tidak sejalan dengan penelitian
Ratnawati, (2016) terhadap 40 pasien skizofrenia di Puskesmas Kaibon menunjukkan bahwa mayoritas pasien mendapatkan dukungan informasi baik. Jadi, peneliti berpendapat bahwa pada kuesioner dukungan informasi banyak keluarga yang memahami maksud dari setiap kuesioner yang diberikan walaupun masih ada yang tidak memahami maksud dari dukungan informasi terhadap pasien, hal ini disebabkan karena penelitian berlangsung saat pandemic sehingga terdapat aturan dalam berinteraksi dengan responden.
Dukungan emosional berdasarkan rekapitulasi jawaban kuesioner oleh keluarga pasien mayoritas secara umum menunjukkan dukungan yang cukup. Dimana, dukungan informasional dari dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia di Kecamatan Geger Kabupaten Madiun yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 15 orang, cukup sebanyak 43 orang dan kurang sebanyak 40 orang. Hasil penelitian berbeda dengan penelitian Nasutiaon, dkk (2018) menunjukkan bahwa dari 43 responden diketahui bahwa mayoritas keluarga yang memiliki dukungan emosional kurang baik sebanyak 76,7%.5 Namun hasil berbeda dengan penelitian Susanti, (2019) menunjukkan bahwa dari 126 responden mayoritas memiliki dukungan emosional baik sebanyak 62%. Dukungan Emosional yaitu keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti berpendapat bahwa mayoritas hasil rekapitulasi kuesioner kurang, hal ini kemungkinan disebabkan karena
banyak faktor yang mempengaruhi kekambuhan pasien menurun salah satunya adalah keteraturan dalam pengobatan serta motivasi dari diri pasien yang menginginkan sehat dan hidup seperti orang normal lainnya, dalam hal ini peneliti tidak meneliti variabel keteraturan pengobatan dan motivasi dari pasien skizofrenia sehingga hal tersebut mempengaruhi hasil penelitian, oleh karena ini penelitia berharap agar dapat dilakukan penelitian selanjutnya mengenai keteraturan pengobatan dan motivasi pasien skizofrenia dengan kekambuhan.
Dukungan keluarga merupakan suatu proses hubungan antara keluarga dengan lingkungan sosialnya. Anggota keluarga sangat membutuhkan dukungan dari keluarganya karena hal ini akan membuat individu tersebut merasa dihargai dan anggota keluarga siap memberikan dukungan untuk menyediakan bantuan dan tujuan hidup yang ingin dicapai individu (Marlisa, 2017). Komponen dukungan menurut Kohen dan MC Kay dalam Marlisa (2017) adalah dukungan emosional, dukungan informasional, dukungan nyata, dan dukungan pengharapan.
Menurut Irma (2015), keluarga merupakan sistem pendukung utama dalam memberi perawatan langsung pada setiap keadaan pasien baik itu sehat maupun sakit. Merupakan suatu kondisi yang umum apabila dalam suatu keluarga memiliki keterbatasan-keterbatasan baik keterbatasan dalam pengetahuan atau informasi tentang penyakit maupun dalam perawatan untuk angota kaluarga yang mengalami masalah gangguan jiwa.
Dukungan keluarga yang tinggi dapat memperkuat setiap individu, menciptakan kekuatan keluarga,memperbesar penghargaan terhadap diri sendiri, dan mempunyai potensi sebagai strategi pencegahan yang utama bagi seluruh keluarga dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.
Kekacauan dinamika keluarga ini memegang peranan penting dalam menimbulkan kekambuhan. Penderita yang dipulangkan kerumah lebih cenderung kambuh pada tahun berikutnya dibandingkan dengan penderita yang ditempatkan pada lingkungan residensial. Penderita yang paling beresiko untuk kambuh adalah penderita yang berasal dari keluarga dengan suasana permusuhan keluarga yang cemas berlebihan dan terlalu protektif terhadap penderita.
Dukungan keluarga yang tinggi merupakan hal penting dalam proses kesembuhan penyakit seseorang terutama dukungan keluarga. Untuk itu diharapkan keluarga harus memberikan dukungan pada pasien skizofrenia agar bisa sembuh dan tidak mengalami kekambuhan lagi (Febria, 2017).
5.4.2. Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
Hasil penelitian menunjukan bahwa kekambuhan pada pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun sebanyak 73,47% sebagian besar terjadi kekambuhan pada pasien Skizofrenia.
Kekambuhan pada pasien Skizofrenia terjadi karena kurang adanya informasi dengan pihak puskesmas. Selain itu diketahui bahwa masih ada pasien yang tidak mau untuk berobat.
Hal ini sejalan dengan penelitian Wijaya (2010) bahwa, semakin sulit atau semakin tidak adanya pelayanan kesehatan yang diterima oleh klien semakin besar kemungkinan untuk seringnya terjadi kekambuhan atau kata lain semakin baik pelayanan kesehatan semakin besar peluangnya dalam mencegah terjadinya kekambuhan.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Madrifai (2015), berjudul hubungan peran keluarga dengan kekambuhan pasien skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I Klaten yaitu lebih dari separoh klien mengalami kekambuhan sering yaitu sebesar (63%) karena peran keluarga yang rendah semakin sering kekambuhan skizofrenia yang terjadi berarti semakin kurang kepedulian keluarga pada klien dan menimbulkan kerugian bagi keluarga.
Sejalan dengan penelitian Taufik (2014), yang berjudul hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan skizofrenia di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Ghrasia DIY yaitu kekambuhan dengan kategori tinggi yaitu sebesar (43,5%), rata-rata pasien yang mempunyai riwayat skizofrenia lebih sering mengalami kekambuhan dibandingkan dengan pasien gangguan jiwa pada umumnya, karena kekambuhan skizofrenia berpengaruh pada dukungan, peran dan lingkungan keluarga.
Lain hal nya dengan penelitian yang dilakukan Pratama (2015), yang berjudul hubungan keluarga pasien terhadap kekambuhan skizofrenia di Badan Pelayanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa Aceh yaitu dengan kategori kambuh sebesar (50%) dan tidak kambuh sebesar (50%).
5.4.3. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
Hasil analisa dengan menggunakan uji chi square dengan program spss versi 20.0 didapatkan nilai Asymp.Sig sebesar = 0,037. Artinya H1 diterima berarti Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia di Wilayah Kerja Puskesmas Geger Kabupaten Madiun. Maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang siginifikan antara dukungan keluarga dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Wahyuningrum (2015) berjudul dukungan keluarga dengan durasi kekambuhan pasien skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang menyatakan bahwa dukungan keluarga berpengaruh pada kekambuhan skizofrenia. Hasil ini diperkuat dengan uji chi square didapatkan nilai p value sebesar 0,047. Karena nilai signifikasi yang didapatkan (ρ) < α, maka hipotesis penelitian H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan durasi kekambuhan pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Fitra (2015), berjudul hubungan antara faktor kepatuhan mengkonsumsi obat dukungan keluarga dan lingkungan masyarakat dengan kekambuhan skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta yaitu Hasil analisis Rank Spearman tentang
hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan pasien skizofrenia diperoleh nilai r hitung sebesar -0,346 dengan nilai signifikansi (p-value) 0,000. Analisis uji adalah H0 ditolak karena p-value lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05) sehingga disimpulkan terdapat hubungan dukungan keluarga terhadap kekambuhan pasien skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.
Hal ini dijelaskan oleh Taufik (2014), kekambuhan biasanya terjadi karena hal-hal buruk yang menimpa penderita gangguan jiwa, seperti di asingkan oleh keluarganya sendiri.
Dukungan keluarga yang tinggi merupakan hal penting dalam proses kesembuhan penyakit seseorang terutama dukungan keluarga. Untuk itu diharapkan keluarga harus memberikan dukungan pada pasien skizofrenia agar bisa sembuh dan tidak mengalami kekambuhan lagi.
Maka dapat diasumsikan bahwa dukungan keluarga seharusnya diberikan sejak awal pasien masuk rumah sakit jiwa dan setelah pulang ke rumah agar kebutuhan pasien terpenuhi. Sikap positif harus dimiliki oleh keluarga pasien agar kekambuhan pada pasien skizofrenia dapat dicegah.
Keluarga juga perlu memotivasi pasien untuk bertanggung jawab dalam merawat diri dan melakukan aktivitas secara mandiri (Kaplan, dkk 2010).
5.5 Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti mempunyai keterbatasan penelitian sehingga mamungkinkan hasil yang belum optimal atau bisa dikatakan belum sempurna, banyak sekali kekurangan-kekurangan tersebut, antara lain:
1. Peneliti tidak meneliti variabel keteraturan pengobatan dan motoivasi dari pasien skizofrenia.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini peneliti akan menyampaikan tentang hubungan dukungan keluarga dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan data dan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Sebagian besar dukungan keluarga pada pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun termasuk dalam kategori dukungan keluarga kurang.
2. Kekambuhan pada Pasien Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun adalah sebagian besar mengalami kekambuhan pada pasien Skizofrenia
3. Ada hubungan yang siginifikan antara Dukungan Keluarga dengan Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun.
6.2 Saran
1. Bagi Puskesmas
Diharapkan bagi pihak puskesmas agar lebih memperhatikan diskusi bersama keluarga lebih mendalam. Tujuannya agar keluarga lebih leluasa menceritakan keluh kesahnya yang mungkin saja selama ini
belum tersampaikan secara keseluruhan dan kemungkinan karena keterbatasan waktu dan perhatian. Misalnya dapat dilakukan melalui konseling atau pertemuan-pertemuan dengan pihak keluarga.
2. Bagi Keluarga
Kepada keluarga agar menyediakan waktu untuk bercerita atau berkumpul bersama pasien untuk saling bertukar pikiran. dan memberikan dukungan emosional yang baik karena dapat menekan kekambuhan pada pasien skizofrenia. Dukungan emosional dapat membantu anggota keluarga untuk penguasaan emosi lebih baik.
Aspek-aspek dari dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam bentuk afeksi, adanya kepercayaan, perhatian, mendengarkan dan didengarkan. Bentuk dukungan ini membuat individu memiliki perasaan nyaman, yakin, diperdulikan dan dicintai oleh keluarga sehingga individu dapat menghadapi masalah dengan baik.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini hanya menganalisis adanya hubungan mengenai dukungan keluarga dengan kekambuhan pada pasien skizofrenia di 10 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun, diharapakan agar peneliti selanjutnya lebih meningkatkan variabel dan sampel yang akan digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Z. 2010. Pengantar Keperawatan Keluarga. Jakarta. EGC.
Berita Jatim 2016. Dinas Sosial Jawa Timur 2016.
http://m.beritajatim.com/pendidikan_kesehatan/286829/penderita
Gangguan_jiwa_di_jatim_naik_drastis.html (Diakses pada November 2017).
Departemen Kesehatan RI . 2015.
(http://www.depkes.go.id/article/print/16100700005/peran-keluarga- dukung-kesehatan-jiwa-masyarakat.html) diakses 25 Juni 2018.
Dewi Emi Putri.2016.Pengalaman Keluarga Dalam Merawat Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.Fakultas Ilmu Kesehatan Skripsi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dinas Kesehatan Madiun. 2016. Data Orang dengan Gangguan Jiwa . Madiun : Dinas Kesehatan Madiun.
Febria, Syafyu Sari. 2017. Dukungan Keluarga Dengan Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia. Akper Nabila Padang Panjang : Jln.DR.Khamarullah No.1 Busur Padang Panjang.
Fitra. Sandy. 2015. Hubungan Faktor Kepatuhan Mengkonsumsi Obat Dukungan Keluarga Dan Lingkungan Masyarakat Dengan Tingkat Kekambuhan Pasien Skizofrenia Di RSJD Surakarta. Jurnal Kesehatan . Surakarta
Friedman, Marilyn M. 2010. Keperawatan Keluarga Teori dan Praktek. Edisi 5, Jakarta: EGC.
Hawari, D. 2007. Pendekatan Holistik pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.
Hawari, D. 2014. Skizofrenia Pendekatan Holistik (BPPS) Bio- PsikoSosial_Spiritual Edisi Ketiga. Jakarta : Badan Penerbit akultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Hidayat. 2011. Metodelogi Penelitian Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika.
Idris, M., & Nurwasilah, S. (2017). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia Di Poliklinik Psikiatri Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta Timur Tahun 2016. Afiat, 3(1), 253–264.
Irna Wahyuningrum, Anjas Surtiningrum and Ulfa Nurulita.(2015) „Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Durasi Kekambuhan Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr. Amino Gondohutomo Semarang‟, 44, 1–6.
Kaplan, H. I, Sadock, B. J dan Grebb, J. A. 210. Sinopsis Psikiatri, Jilid 1.Tangerang: Binarupa Aksara Publisher.
Keliat, B., A. 1996. Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Pasien Gangguan Jiwa. Jakarta: EGC.
Madrifai. Arif . 2015. Hubungan Peran Keluarga Dengan Kekambuhan Skizofrenia Di Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I Klaten. Penelitian Kesehatan. Klaten
Maramis. 2005. Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga University Press.
Marlisa. 2017. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia Rawat Jalan Di Rumah Sakit Jiwa Prof Dr Muhammad Ildrem Medan Tahun 2017. Medan : Universitas Sumatera Utara.
Mastiyas Yhunika Nur.2017. Hubungan Resiliensi Keluarga Dengan Kekambuhan Pada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya.
Nasution, J. D., & Pandiangan, D. (2018). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara Tahun 2018. Jurnal Ilmiah PANNMED (Pharmacist, Analyst, Nurse, Nutrition, Midwivery, Environment, Dentist), 13(2), 126–
129.
Nazir, A & Muhith, A. 2011. Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.
Nazir. 2011. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Notoatmodjo,S. 2010. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya. Cetakan 2.
Jakarta : Rineka Cipta.
. 2011. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
. 2012. Metodelogi Penelitian Kesehatan, Edisi 2. Jakarta : Rineka Cipta.
Nurmalasari Melta, dkk. 2019. Hubungan Pengetahuan dan Peran Keluarga Dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Poli Klinik RSKJ Soeprapto Provinsi Bengkulu. Chmk Nursing Scientific Joernal Volume 3 No 2 September 2019.
Nursalam. 2013. Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan Pendekatan Praktis, Ed.3. Jakarta : Salemba Medika.
Prameswari Roshella Avinka. 2018. Hubungan Kecerdasan Emosi dengan Dukungan Keluarga Pada Pasien Skizofrenia Di 3 Desa Kecamatan Geger Kabupaten Madiun. Perpustakaan Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun Pratama, Yudi. 2015. Hubungan Keluarga Pasien Terhadap Kekambuhan
Skizofrenia Di BLUD RSJ Aceh. Jurnal Penelitian. Aceh.
Ratnawati, R. (2016). Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan berobat penderita skizofrenia. Stikes Bakti Husada.
Sugiono, S. 2013. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Susanti. (2019). Determinan Kekambuhan Pasien Gangguan Jiwa Yang Dirawat Keluarga Di Wilayah Kerja Uptd Puskesmas Suak Ribee Aceh Barat.
MaKMA, 2(1), 99–109.
Sumber Data Puskesmas Geger. 131 Jumlah Penderita Skizofrenia di Puskesmas Geger Kabupaten Madiun.
Taufik, Yunus. 2014. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia Di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Grhasia DIY . Jurnal Keperawatan Yogyakarta : Stikes Aisyiyah Yogyakarta.
Wahyuningrum. Irma. 2015. Hubungan Keluarga Dengan Durasi Kekambuhan Pasien Skizofrenia Di Rsj Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Jurnal Keperawatan . Semarang : Stikes Telogrejo Semarang.
Wijayanti, L.2010. Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Puri Nirmala Yogyakarta. Skripsi Tidak dipublikasikan Yogyakarta : STIKes Aisyiah
WHO 2016. World Health Organization. World Health Statistic, Geneva : WHO.
Diakses pada September 2017.
Triyani Feri Agus, dkk. 2019. Peran Dukungan Keluarga Dalam Pencegahan Kekambuhan Pasien Skizofrenia : Literatur Review. Jurnal Ilmu Keperawatan Indonesia Vol.12, No.1. April 2019.
Yosep, I. 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT. Refika Aditama
Lampiran 1
SURAT IZIN PENCARIAN DATA AWAL
Lampiran 2
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Kepada
Yth. Calon Responden Di Tempat
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun,
Nama : Febby Putri Damayanti Nim : 201602018
Bermaksud melakukan penelitian tentang “Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Kekambuhan Pada Pasien Skizofrenia Di Wilayah Kerja Puskesmas Geger Kabupaten Madiun”. Sehubungan dengan ini, saya mohon kesediaan saudara/i untuk bersedia menjadi responden dalam penelitian yang akan saya lakukan. Kerahasiaan data pribadi saudara akan sangat kami jaga dan informasi yang akan saya gunakan untuk kepentingan penelitian.
Demikian permohonan saya, atas perhatian dan kesediaan saudara saya ucapkan terimakasih.
Madiun, September 2020 Peneliti
Febby Putri Damayanti NIM : 201602018