• Tidak ada hasil yang ditemukan

LATAR BELAKANG BEHAVIORISME

8.1. Pendahuluan 1. Deskripsi Singkat

8.2.1. Edward Lee Thorndike

Edward Lee Thorndike lahir tanggal 31 Agustus 1874 di Williamsburg, Massachusetts. Ayahnya adalah seorang pendata. Ibunya seorang pekerja rumah tangga. Thorndike dan keluarganya sering berpindah-pindah tiap dua atau tiga tahun dikarenakan ayahnya sering dipindahtugaskan ke tempat berbeda. Hal

ini membuatnya memiliki sifat pemalu karena selalu dianggap sebagai anak baru di lingkungannya. Namun, Thorndike tumbuh menjadi siswa yang luar biasa lantaran ibunya sangat disiplin dalam hal pendidikan. Dia masuk Universitas Wesleyan di Middletown, Connecticut pada tahun 1891 dan berhasil menjadi mahasiswa unggul. Thorndike mengambil kursus psikologi dan membaca karya-karya William James. Dia kagum dengan karya James dan memutuskan melanjutkan studi ke Harvard untuk belajar psikologi langsung dengan William James. Sejak di Harvard, Thorndike mulai aktif melakukan penelitian. Salah satu eksperiman pertamanya menggunakan ayam. Thorndike memperkenalkan studi pembelajaran hewan ke dalam psikologi. Thorndike mulai terkenal karena penelitian hewannya (Lawson, dkk, 2018).

Pada tahun 1897, Thorndike memutuskan untuk meninggalkan Harvard meskipun eksperimennya berjalan baik dan mendapat banyak dukungan dari William James. Dia pergi akibat hubungan asmara yang tidak berujung baik pada saat itu. Dia kemudian mendapatkan beasiswa di Universitas Columbia dan belajar dengan James McKeen Cattell. Selama di Universitas Columbia, Thorndike melanjutkan eksperimennya mengenai hewan, terutama kucing. Hasil eksperimennya dipublikasikan pada bulan Juni 1898. Dia mendapat gelar doktor dengan disertasi yang berjudul “Animal Intelligence: An Experimental Study of the Associative Processes in Animals” (Lawson, dkk, 2018).

Setelah mendapat gelar doktor, Thorndike mengajar di Cleveland, Ohio. Dia kembali ke Uniersitas Columbia atas permintaan Cattell. Dia tetap di Columbia selama sisa karir akademisnya. Dia mengisi 43 tahun karir dengan memfokuskan sebagian besar waktunya pada psikologi pendidikan dengan rata- rata antara 10—12 publikasi pertahun. Salah satu publikasi yang paling terkenal berjudul Educational Psychology, diterbitkan pada

108

tahun 1913. Publikasi Thorndike membuatnya menjadi orang yang terbilang cukup kaya. Pada tahun 1924, pendapatan royalti dari bukunya mencapai $68.000. Pada tahun 1912, Thorndike terpilih sebagai presiden American Psychological Assocation, dan pada tahun 1933 terpilih sebagai presiden American Association for the Advancement of Science (AAAS) (Lawson, dkk, 2018).

Koneksinisme

Thorndike memperkenalkan pendekatan eksperimentalnya tentang asosiasi sebagai pendekatan koneksionisme. Thorndike menyatakan bahwa pikiran adalah sistem koneksi manusia. Belajar ialah tentang menghubungkan (koneksi) stimulus dan respon.

Sehingga dapat dikatakan bahwa koneksionisme adalah pendekatan Thorndike tentang pembelajaran berdasarkan koneksi antara situasi dan respon (Schultz & Schultz, 2016).

Trial and Error

Penelitian Thorndike menempatkan seekor kucing yang kelaparan dalam sebuah kotak yang terkunci. Makanan diletakkan di luar kotak sebagai pemancing sekaligus hadiah bagi kucing jika berhasil keluar kotak. Agar bisa keluar dari kotak, kucing harus mengoperasikan sebuah grendel dengan cara menarik pengungkit atau rantai yang tersedia. Awalnya, kucing melakukan tindakan secara acak, seperti menyodok, mengendus, menyakar untuk sampai pada makanan. Setelah melakukan banyak hal, akhirnya kucing melakukan perilaku yang benar dan melepas grendel pintu.

Bagi Thorndike, percoban pertama tersebut terjadi karena sebuah kebetulan atau tidak sengaja. Pada percobaan-percobaan selanjutnya, kucing semakin sedikit menunjukkan perilaku acaknya. Sampai pembelajaran selesai, kucing terlatih dan menunjukkan tindakan yang benar saat ditempatkan di dalam kotak tersebut. Berdasarkan eksperimen tersebut, Thorndike menuliskan tentang “pendekatan” dan “peniadaan” sebuah tendensi respon, ia menemukan bahwa tindakan-tindakan kucing (tendensi respon) yang gagal untuk keluar dari kotak cenderung tidak akan diulangi.

Tindakan-tindakan (tendensi respon) yang menuntun pada keberhasilan terus digunakan kucing dalam sejumlah percobaan.

Pelajaran semacam ini disebut trial-and-error, yaitu pembelajaran berdasarkan pada pengulangan tendensi respon yang menuntun pada keberhasilan. Meskipun demikian, Thorndike sendiri lebih

109 suka menyebutnya sebagai trial-and-accidental-succes (Schultz &

Schultz, 2016).

Hukum Pembelajaran

Thorndike (dalam Schultz & Schultz, 2016) menyampaikan secara resmi gagasannya mengani pelekatan atau peniadaan sebuah tendensi respon sebagai law of effect (hukum akibat). Law of effect menyatakan bahwa setiap tindakan yang menghasilkan kepuasan pada situasi tertentu, maka kemungkinan besar tindakan sejenis akan muncul kembali (diasosiasikan kembali) ketika muncul situasi yang serupa. Sebaliknya, tindakan yang tidak memuaskan pada situasi tertentu, maka tindakan itu akan memiliki kemungkinan kecil untuk muncul kembali ketika situasi yang serupa muncul kembali. Law of exercise (hukum latihan) menyatakan bahwa setiap respon yang ditunjukkan dalam situasi tertentu akan diasosiasikan dengan situasi tersebut, semakin sering sebuah tindakan atau respon digunakan dalam situasi tertentu, semakin kuat tindakan tersebut diasosiasikan dengan situasi yang bersangkutan. Dengan mengulang sebuah respon dalam situasi tertentu cenderung akan memperkuat respon. Namun, riset Thorndike lebih lanjut menemukan bahwa konsekuensi- konsekuensi imbalan dari sebuah respon (situasi yang menghasilkan kepuasan) lebih efektif daripada sekedar pengulangan respon. Memberi imbalan untuk sebuah respon ternyata dapat memperkuat respon, tetapi memberi hukuman terhadap sebuah respon tidak menghasilkan akibat negatif yang sebanding. Thorndike lebih menekankan terhadap imbalan daripada hukuman. Thorndike juga terkenal dengan law of readiness (hukum kesiapan), yang menyatakan bahwa pembelajaran lebih optimal jika dilakukan dalam kondisi yang siap.

Catatan Kritis terhadap Pemikiran E.L. Thorndika

Köhler merupakan salah satu tokoh pendiri aliran psikologi Gestalt. Köhler mengkritik penelitian Thorndike mengenai pembelajaran trial-and-error. Köhler menganggap eksperimental Thorndike adalah hanya memungkinkan hewan melakukan perilaku acak. Köhler mengatakan bahwa kucing dalam kotak tersebut tidak dapat mensurvei seluruh mekanisme situasi dan dengan demikian hanya membuat respon coba-coba. Dalam pandangan Gestalt, hewan harus dapat merasakan kondisi secara

110

keseluruhan dan hubungan antara berbagai masalah sebelum pembelajaran terjadi.

Dalam dokumen B-18 a. Buku Ajar Sejarah dan Aliran Psikologi (Halaman 112-115)