Epistemologi merupakan cabang dari ilmu filsafat yang khusus membicarakan atau mendiskusikan secara intraktif tentang cara mendapatkan suatu ilmu pengetahuan. Oleh Stephen didefinisikan sebagai unsur terpenting dalam filsafat yang mempertanyakann tentang asal-usul atau hakekat dari suatu pengetahuan, dan yang menjadi pertanyaan pentingnya adalah bagaimana seseorang yang berfikir tentang ilmu pengatahuan sampai kepada suatu ilmu pengetahuan baru yang sebelumnya tidak diketahuinya.19 Jadi, Epistemologi ini hakekatnya tidak saja berbicara tentang keilmuan, melainkan pembicaraan tentang suatu keilmuan itu harus menghasilkan ilmu baru, yang sebelumnya tidak ada. Sehingga, agar diskusi suatu keilmuan dapat berujung pada memproduksi ilmu baru, maka diperlukan cara kerja dari Epistemologi ini. Menurut Aholiab, Epistemologi dalam kerangka konseptualnya mengandalkan bebearpa hal penting, diantaranya, adanya sumber-sumber pengetahuan, harus ada struktur logis (nalar) dari suatu pengetahuan, adanya jangkauan terhadap suatu pengetauan atau suatu pengetahuan harus dapat dijangkau, adanya metode atau cara kerja untuk mewujudkan suatu pengetahuan, dan adanya nilai dan tanggung jawab terhadap suatu pengetahuan.20 Kajian
19 Lihat Stephen Palmquis, The Tree of Philosophy: Ac Course of Introductory Lectures for Biginning Students of Philosphy, dalam bahasa Indonesia berjudul Pohon Filsafat: Teks Kuliah Pengantar Filsafat, penj.
Muhammad Shodiq, cet. Ke-2 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm.
542.
20 Aholiab Watloly, Sosio Epistemologi: Membangun Pengetahuan Berwatak Sosial, cet. Ke-4 (Yogyakarta: Kanisius, 2016) hlm. 34.
Epistemoligi ini tidak saja dikenal pada filsafat umum, melainkan juga dikenal dalam filsafat Islam. Dalam filsafat Islam mengenal beberapa epistemologi dalam mewujudkan ilmu baru, yakni disebut sebagai epistemologi Bayani, Burhani, dan Irfani.
Epistemologi Bayani merupakan metode penggalian ilmu pengetahaun yang bersumber dari teks, yang menggandalkan metode interpretasi atau penafsiran terhadap teks, dan menjamin bahwa orisinilitas dari teks tetap terjaga. Dalam konteks hukum Islam, Epistemologi Bayani merupakan metode ijtihad yang digunakan oleh para ulama fikih untuk menemukan hukum baru terhadap persoalan konkrit hukum yang dihadapi oleh setiap mukallaf atau orang yang cakap hukum. Metode Ijtihad hukum yang digunakan oleh ulama fikih ini tetap mengacu kepada teks keagamaan, diantaranya Al-Quran dan Al-Hadis, sedangkan metode sentral yang digunakan dalam epistemologi Bayani ini adalah Qiyas dan Ijmak. Qiyas merupakan analogi teks dengan realitas faktual dari perbuatan seorang mukallaf, dan bersifat ijtihadi individual atau personalitas dari Mujtahid. Sedangkan Ijmak, ijtihad yang dilakukan oleh semua imam mazhab atau fukaha dalam menjawab satu persoalan hukum yang sedang menimpa seorang mukallaf, dan ijmak ini bersifat kolektif-kolegia.21
Jadi, dapat disimpulkan bahwa epistemologi Bayani ini lebih banyak digunakan oleh para Fukahadalam memberikan ijtihad hukum terhadap mukallaf, dan
21 Baca Sembodo Ardi Widodo, “Nalar Bayani, Burhani, Irfani dan Implikasinya terhadap Ilmuan Pesantren”, Hermenia: Jurnal Kajian Islam Interdisipliner, Vol. 6, No. 1, Januari-Juni 2007, hlm. 65-92.
Mutakallimun dalam mempertahankan dan menjelaskan berbagai argumen keagamaan.Dalam tradisi keilmuan masyarakat Arab, Epistemologi Bayani ini tidak saja digunakan oleh para fukaha dan mutakallimun semata, melainkan merupakan tradisi lama masyarakat Arab yang terkenal dengan kegemarannya menulis sair, dan tulisan sair yang paling bagus akan ditempel di Ka’bah. Sehingga, wajar jika dalam pradaban pra Islam para penyair mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi dalam masyarakat Arab.
Hebat meulis dan membuat sair menunjukkan bahwa yang bersangkutan hebat menulis, menguasai kaidah- kaidah bahasa Arab, mungkin tata bahasa Arab seperti Nahu dan Sharaf yang kita kenal hari ini, jauh hari mereka sudah mengenalnya dengan nama lain, dan sudah melekat dalam setiap kehidupan dan kebudayaan para penyair di masa itu. Untuk mempermudah pembaca, gampangnya, Bayani merupakan metode menemukan ilmu pengetahuan berdasarkan apa yang terkandung dalam teks, dengan cara menjelaskan makna yang terkandung dari teks tersebut, dan mengandalkan kekuatan rasionalitas dari teks semata.22
Epistemologi Burhani ini hakekatnya cara memperoleh ilmu pengetahuan yang semata-mata mengandalkan logika
22 secara leksikal-etimologis, kata bayani berasal dari kata (ينبت-ينبتي-ينبت) artinya menjadi jelas, terang, memeriksa, mengecek, mencari kejelasan, melakukan verifikasi, mengetahui. Lihat Kamus Arab Indonesia. Terma Bayani juga mengandung beragam arti, yaitu, kesinambungan (al-washl), keterpilahan (al-fashl), jelas dan terang (al- zhuhurwa al-wudhuh) dan kemampuan membuat terang dan jelas. Untuk lebih jelas, silahkan baca Wira Hadi Kusuma, “Epistemologi Bayani, Irfani, Burhani Al-Jabiri dan Relevansinya bagi Studi Agama Untuk Resolusi Konflik dan peacebuilding”, dalam jurnal Syi’ar, vol. 18, No. 1, Januari-Juni 2018, hlm. 3 dan 1-19.
rasionalitas dari akal, dan tidak terpaku dengan teks apapun.
Mungkin cukup berlebihan jika penulis mengatakan bahwa metode Burhani ini sangat anti terhadap teks, nalar Burhani ini berusaha membebaskan diri dari segala bentuk teks yang ada. Tradisi berfikir Burhani ini sebenarnya tidak saja dikenal dalam tradisi mayarakat Arab, namun dikenal juga dalam lintas pradaban manusia. Dalam pradaban Yunani Kuno misalnya, dikenal seorang tokoh filsafat atau filsuf yang bernama Aristoteles, Aristoteles diyakini sebagai orang pertama yang memberi landasan terhadpa permikiran ini. Dalam nalar rasionalnya tentang relasi Alam- Tuhan-Manusia, Aristoteles memaksimalkan kemampuan rasionalitas dengan menggunakan logika mantiq. Logika mantiqnya Aristoteles ini kemudian populer atau dikenal luas dengan sebutan metode analitik.Ciri khas dari metode burhani ini adalah memaksimalkan kekuatan rasio dan akal manusia, yang didukung oleh bawaan naluriah manusia, inderawi, ekperimen, dan fakta-takta empiris alam semesta.23
Pegangan kuat dari epistemologi burhani bahwa ilmu pengetahuan itu bersumber atau berpangkal pada rasio dan akal manusia. Melalui rasioanalitas atau akal yang dimiliki oleh manusia inilah akan digunakan untuk menganalisis fakta-fakta sosial, fakta alam semesta, fakta lingkungan sekitar, fakta tentang bawaan natural manusia itu sendiri,
23 Mochamad Hasyim, “Epistemologi Islam (Bayani, Burhani, Irfani)”, dalam Al-Murabbi: Jurnal Pendidikan Agama Islam, vol. 3, No. 2, Juni 2018, hlm. 216-228.
dan lain sebagianya yang bersifat empiris dan dapat dicerna oleh inderawi manusia.24
Melihat perkembangan ilmu pengetahuan masyarakat modern belakangan, seperti yang paling digemari adalah epistemologi burhani. Hampir seluruh dunia memposisikan ekpirimental sciences sebagai salah satu cara mendapatkan ilmu pengetahuan yang paling tinggi. Tidak akan dikatakan ilmu pengetahuan belakangan ini jikda tidak berdasarkan ekspirem dan fakta empiris. Pengaruh keuat filsafat positifisme beberapa abad terakhir menjadikan metode burhani ini sebagai metode yang paling handal dalam menggali ilmu pengetahuan. Melalui gaya eksperimental ilmu pengetahuan yang merupakan bagian penting dari filsafat positifistik ini, dapat mengantarkan manusia dengan segenap pradabannya hari ini menjadi masyarakat global. Masyarakat yang sudah berhasil melewati berbagai tahadapan revolusi industri, dari 1.0, 2.0, 3.0, 4.0, hingga hari ini dikemukakan tentang refolusi industri yang ke 5.0. Refolusi indsutri 5.0 ini diarahkan menjadi industri yang ramah lingkungan, menjaga kesinambungan alam semesta, sehingga, tidak jarang beberapa tahun terakhir kita mendengarkan kembali kepada alam (back to nature).
Dalam arti bahwa, bukan ingin kembali kepada masa kuno atau klasik, melainkan tetap menggunakan teknologi masyarakat global, namun teknologi itu diarahkan untuk ramah lingkungan dan alam semesta, sehingga, alam tidak rusak dengan tehnologi yang dihasilkan oleh dialektika
24 Samsul Bahri, “Bayani, Burhani, dan Irfani Triologi Epistemologi Kegelisahan Seorang Muhammad Abid Al Jabiri”, dalam Jurnal Cakrawala Hukum, vol. XI, No. 1 tahun 2015, hlm. 1-18.
rasio dan inderawi manusia dengan fakta-fakta empiris alam semest.
Selain epistemologi bayani dan burhani yang dikenal dalam tradisi pemikiran Islam, masyarakat Islam juga mengenal istilah epistemologi irfani.25 Epistemologi Irfani ini dalam tradisi Islam menempatkan posisi paling tinggi dalam pengalaman keagamaan seorang muslim. Hanya saja, nalar ifrani ini seringkali dituding kurang islami oleh kalangan bayani, karena sering kali mengedepankan pengalaman naluriah atau intuitif keagamaan dari pada ajaran agama yang tersurat dalam teks-teks keagamaan.
Corak pemikiran atau nalar dariirfānāini adalah berbasis pengalaman kebatinan yang berbasis sufistik(tasawuf intuitif al-‘atify), sehingga, wajar jika nalar irfani ini kurang begitu disukai oleh tradisi berpikir keilmuan bayānā (Fikih dan Kalam) yang murni mengandalkan teks-teks keagamaan dalam memahami ajaran agama.26 Sinisitas terhadap nalar irfani ini tidak saja datang dari kalangan yang menggunakan bayani, melainkan juga dari kalangan burhani. Sinisitas
25 Secara etimologis atau kebahasaan , kata Irfan merupakan bentuk masdar dari kata (نافرع ف -ر -ع) yang berarti al’ilm (ilmu, pengetahuan, atau pencerahan), yang memiliki arti sama dengan Alma’rifah. Kata itu dikenal dalam kalangan sufi muslim sebagai Almutasawwifah Alislamiyyin.
Pemadanan kata Irfani dengan Almutasawwifah Alislamiyyin ini bertujuan untuk menunjukkan atau menjelaskan jenis pengetahuan yang paling luhur yang hadir dalam kalbu seorang muslim melalui kasyf atau ilham.
Lebih lanjut, baca M. Faisol, “Struktur Nalar Arab Islam Menurut Abid Al-Jabiri”, dalam jurnal Tsaqafah, Vol. 6, No. 2, Oktober 2010, hlm. 335- 359.
26 Musliadi, “Epistemologi Keilmuan dalam Islam: Kajian Terhadap Pemikiran M. Amin Abdullah”, dalam Jurnal Ilmiah Islam Futura, Vol. 13, No. 2, Februari 2014, hlm. 160-183.
kalangan burhani lebih tinggi daripada kalangan bayani terhadap irfani, karena kalangan burhani yang sangat rasionalitas dan empirisitas ini tdak dapat menjangkau atau mengerti pengalaman keagamaan kalangan irfani yang sangat sufistik. Terkadang, pengalaman beragamanya para irfani sangat berbanding terbalik dengan burhani.
Kalangan irfani bisa mengimbangi badan sambil berputar ratusan kali, tentu bagi burhani hal ini tidak dapat diterima oleh rasionalitas manusia pada umumnya, karena berputar sepuluh kali saja menurut panca indera burhani dunia sudah terlihat bergoyang dan tidak sanggup berdiri.
Menariknya, kalangan irfani yang didominasi oleh para sufis muslim melihat bahwa para bayani dan burhani sebagai tahapan dalam menjalankan ritualitas keagamaan dalam mempelajari ajaran agama. Bagi para irfani, tahapan keilmuan dalam Islam terdiri dari burhani, bayani, dan yang paling tinggi adalah pengalaman kebatinan dalam beragama, yang disebut sebagai irfani.Kaum sufi membedakan pengetahuan ke dalam tiga kategori, Pertama,pengetahuan yang dihasilkan melalui indera, fikiran sehat, atau rasionalitas(sense/al-hiss). Pada dataran ini, para sufis memasukkan metode bayani dan burhani.
Kedua, pengetahuan yang dihasilkan lewat pengalaman kebatinan atau sering disebut sebagai al-kasyf, pengetahaun jenis ini merupakan pengetahuan yang bisa didapat oleh segelintiran orang saja, dan menempati tempat yang paling tinggi(‘aliyan).27
27 Lebih lanjut, lihat M. Faisol, “Struktur Nalar Arab Islam Menurut Abid Al-Jabiri”, dalam jurnal Tsaqafah, Vol. 6, No. 2, Oktober 2010, hlm. 335-359.
Jadi, dalam konteks hukum Islam, dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa epistemologi bayani merupakan metode penggalian hukum Islam dengan mengandalkan teks-teks keagamaan, atau ijtihad hukum berdasarkan teks Al-Quran, Sunnah, Ijma, Qiyas, dan lain sebagainya. Sedangkan epistemologi burhani merupakan metode penggalian hukum dengan bersumber pada rasio atau akal dan pengalaman inderawi terhadap fakta-fakta empiris, fakta sosial masyarakat, dan fakta-fakta alam semesta. Terakhir adalah epistemologi irfani merupakan penggalian dan ijtihad hukum berdasarkan pengalaman kebatinan atau metafisik. Misalnya, dalam masyarakat Indonesia sangat sering terjadi main hakim sendiri teradap kasus santet, sihir, guna-guna, dan lain sebagainya. Jika kasus ini digiring ke renah pengadilan, maka pembuktian dari kasus ini harus juga menggunakan metode metafisik, atau metode yang digunakan dalam santet, sihir, guna- guna, dan lain sebagianya. Seperti yang diketahui bahwa, seseorang akan dapat dikatakan bersalah dalam hukum, setidaknya seorang pemohon atau penggugat harus dapat menghadirkan sekurang-kurangnya dua alat bukti untuk meyakini hakim bahwa orang yang dituntut benar-benar bersalah atau melanggar ketentuan hukum yang ada.
Seharusnya, ketiga metode itu harus dipahami sebagai sistem, dalam arti bahwa satu-sama lain saling mengikat, atau saling bergantung. Bayani tidak akan menjadi matang atau mapan jika tidak didukung oleh burhani dan irfani, begitu juga dengan burhani, tidak akan menemui jati dirinya jika tidak melibatkan bayani dan irfani. Irfani pun demikian, mustahil akan dapat terwujud jika tidak melalui proses bayani dan burhani. Singkatnya, ketiga epistemologi
ini harus dapat disinergikan satu sama lain, dan harus juga dapat menemukan epitemologi baru selain dari ketiga epistemoligi ini.
Hirarki Keabsahan Norma dan Metode Ijtihad Hukum Islam
H
irarki norma dikenal luas dalam tradisi berhukumnya masyarakat negara modern, yang dikenal dengan tradisi berhukumnya yang sangat legalistik dan sangat litigatif (litigation). Bagi negara yang litigasinya sangat tinggi yang menggunakan sistem hukumcommon law syistem, hakim memiliki otoritas untuk membuat hukum. sedangkan dalam negara-negara yang menganut sistem hukum yang bercorak hukum masyarakat civil (civil law/Eropa continentalsystem,28 hakim hanya berfungsi sebagia corong dari undang-undang.Pada dasarnya, kedua sistem hukum masyarakat modern sama- sama menitik beratkan kepada legalitas suatu hukum yang diberlakukan oleh penguasa atau orang yang berwenang28 Secara garis besar sistem hukum di dunia pada dasarnya dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yakni sistem hukum Civil Law dan Common Law, Civil Law dianut oleh negara-negara kawasan Eropa Kontinental atau Eropa daratan, dan Common Law di anut oleh suku- suku Anglia yang sebagaian besar masyarakat Inggris sehingga disebut sistem Anglo-Saxon. Lebih jelas lihat, Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 223.
di suatu Negara, sehingga, dikenal juga dengan istilah masyarakat yang positifistik, atau dalam hukum sering disebut sebagai positifisme hukum (legal positivism). Doktrin yang khas dari teori positifisme29 hukum ini adalah mengenai keadilan yang sangat normative, baginya keadilan adalah apa-apa yang tertulis dalam buku undang-undang yang sudah disahkan oleh penguasa (law in books), atau keadilan adalah apa-apa yang diputuskan oleh hakim dan segenap kekuasaan yang melekat padanya (law in action)..
29 Esensi positifisme hukum mernutur H.L.A. Hart adalah Pertama,that laws are commands of humans beings (hukum adalah perintah).
Kedua, that there is no necessary connection between law ang morals of law as it is and law as it ought to be (tidak ada keutuhan untuk menghubungkan hukum dengan moral, hukum sebagaimana diundangkan, ditetapkan, positif, harus senantiasa dipisahkan dari hukum yang seharusnya diciptakan yang diinginkan). Ketiga, that the analysis or study o meaning of legal concepts is an impotant study to be distinguished from (ghough in now way hostile to) historical inquires, sociological inquires and the critical apparaisal of law in terms or morals, socials ims, function (analisis atau studi tentang makna konsep-konsep hukum adalah suatu stadi yang penting, analis atau studi itu harus dibedakan dari studi sejarah, studi sosiologi dan penelitian kritis dalam makna moral, tujuan-tujuan social dan fungsi social). Keempat, that a legal system is a closed logical system in which correct decisions can be deduced from predetermined legal rules bay logical means alone.
(system hukum adalah system tertutup yang logis, yang merupakan putusan-putusan yang tepat yang dapat didedukasikan secara logis dari aturan-aturan yang sudah ada sebelumnya. Kelima, that moral judgments cannot be established, as statemens of fact can, by rasional argument, evidence or proof (non congnitivism in ethics). (penghukuman secara moral tidak lagi dapat ditegakkan, melainkan harus dengan jalan argument yang rasional ataupun pembuktian dengan alat bukti). Untuk lebih jelas, lihat Teguh Prasetyo dan Abdul Halim Barkatullah, Ilmu Hukum dan Filsafat Hukum (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hlm. 100.
Dalam catatan sejarah, jauh hari sebelum masyarakat modern hari ini mengal istilah hirariki norma yang diperkenalkan oleh Hens Kelsen melalui teori pertingkatan norma yang dikenal luas sebagai Stufenbau Theory, tradisi hukum Islam yang sudah berkembang sejak akhir abad ke-6 Mashi/awal abad ke-7 Mashi, tradisi hukum Islam sudah mengenal istilah pertingkatan norma atau perjenjangan norma. Dalam teori Stufenbau-nya, Kelsen mengisyaratkan,seperti yang ditulis oleh Syamsul Anwar yang mengatakan bahwa keabsahan dari suatu norma ditentukan oleh norma yang ada di atasnya atau norma yang lebih tingga, begitu juga dengan norma yang lebih tingga, keabsahan normanya ditentukan lagi oleh norma yang lebih tinggi, begitu juga seterusnya.30 Sehingga, teori perjenjangan norma yang digagas oleh Hens Kelsen, yang digunakan dalam berhukumnya masyarakat modern hari ini sering juga disebut sebagai teori sistem anak-tangga.
Dalam catatan Jimly, teori hirarki norma ini mengenal istilah norma superior dan norma inferior, semakin tinggi kedudukan suatu norma, maka semakin superior norma tersebut, sebaliknya, semakin rendah kedudukan suatu norma, maka semakin inferior norma tersebut.31 Jadi, apabila disandingkan dengan kata keadilan, maka dapat dikatakan bahwa berdasarkan teori stufenbau Kelsen ini
30 Lebih lanjut, baca Syamsul Anwar, “Teori Pertingkatan Norma dalam Usul Fikih”, dalam Asy-Syir’ah: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum, vol.
50, No. 1, Juni 2016, hlm. 145, dan 141-167.
31 Lihat Jimly Ash-Shiddiqie, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum (Jakarta: Sekretariat Jendral dan Kepanitreraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2006), hlm. 110-116.
bahwa keadilan adalah berdasarkan keabsahan tertinggi dari sistem norma hukum yang ada.
Keadilan dalam hukum Islam adalah keadilan yang terkandung dalam ayat-ayat hukum pada Al-Quran itu sendiri, namun akan sangat berbeda jika keadilan dilihat dari perspektif yang berbeda. Katakan saja keadilan social Islam, sehingga jika ayat-ayat waris di atas dilihat dalam perspektif social, dimana situasi dan kondisi yang tidak dalam keadaan normal dalam arti bahwa konteks social masyarakat tidak seperti dalam keadaan turunnya ayat-ayat waris itu, maka sudah barang tentu akan mengakibatkan multi tafsir dari ayat tersebut. Pemakalah berasumsi bahwa, setiap orang yang sedang mencari keadilan di depan pengadilan atau lembaga yang dikategorikan sebagai lembaga yudikatif (katakana saja begitu, untuk mengikuti istilah ketata negaraan dalam dunia peradilan modern), sudah dapat dipastikan bahwa masing-masing ingin mendominasi atau memenangi tuntutan atau permohonan masing-masing, sehingga sudah barang tetentu dibutuhkan ketetnuan- ketentuan yang jelas untuk menekan egoisme pribadi orang-orang yang sedang mencari keadilan. dalam situasi semacam ini, sangat diperlukan parameter keadilan dalam hukum islam yang jelas untuk mendapatkan kepastian hukum sesuai dengan yang terkandung dalam Islam.32
32 Kata keadilan sangat sensitive dan sangat relative, sehingga dibutuhkan parameter-parameter yang jelas dalam menentukan keadilan yang diinginkan. Dalam kajian Aristoteles, keadilan diklasifikasikan menjadi dua tipe, tipe pertama sebagai keadilan destributif yang dalam matematisnya sebagai keadilan secara merata atas pencapaian yang merata. Tipe kedua adalah keadilan korektif, keadilan tipe kedua ini tidak berbeda dengan keadilan yang proporsional, dalam arti bahwa
Dalam teori Ilmu Hukum murni (ilmu hukum positif) dikenal istilah sumber hukum dan asas hukum, sumber hukum tidak lain merupakan isi yang terkandung dalam kumpulan-kumpulan hukum yang terdiri dari sumber materil dan sumber formil.33 Sedangkan asas merupakan suatu landasan dasar pemikiran yang dirumuskan secara luas yang mendasari suatu norma hukum.34 Dalam hukum Islam dikenal juga istilah Sumber hukum Islam, para Fuqaha mengklasifikasi sumber hukum Islam, yakni Al- Qur’an, Sunnah Nabi Muhammad SAW, Ijama (konsensus para ulama), Fatwa Sahabat, Qiyas, Istihsan, Urf (tradisi), Mashlahah Mursalah, Dzariah, Istishab, Syariat Umat Terdahulu, Pertentangan Antar Dalil.35 Selain itu, dalam teori hukum murni dikenal juga istilah hirarki peundang- undangan sebagai sumber hukum dalam bentuk materil,
setiap orang diberikan keadilan berdasarkan prestasi dan keadaan yang mengitarinya. Untuk lebih jelas, lihat Carl Joakhim Friedrich, Filsafat Hukum Perspektif Historis, terj. Raisul Muttaqien(Bandung: Nusa Media, 2010), hlm. 24-25.
33 Sumber materil sebagai isi muatan hukum dan sebagai sumber untuk kekuatan mengikat dari hukum, sedangkan sumber hukum dalam arti formil merupakan sifat praktis yang mengatur mekanaisme peradilan (yang mengikat para hakim dan penduduk). Mr. L.J. van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, terj. Oetarid Sadino (Jakarta: Pradnya Paramita, 2009), hlm. 76-77.
34 M. marwan dan Jimmy, dalam kamus Hukum (Surabaya: Reality Publisher, 2009), hlm. 56. Dalam hukum kewarisan Islam, ada beberapa asas yang dikenal, diantaranya: asa Ijbari, bilateral, individual, keadilan berimbang, dan asas semata akibat kematian. Amir Syaarifuddin, Hukum Kewarisan Islam… hlm. 16-33.
35 Untuk lebih jelas, baca Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqih, terj. Saefullah Maksum dkk (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), hlm. 99- 470.
dan jika dikontekkan dengan hukum islam maka dapat berupa Al-Quran, Al-Hadis, konsensus dan seterusnya.
Teori ini menekankan bahwa undang-undang paling tinggi adalah berupa norma dasar (grand norm), undang-undang yang lebih tinggi menaungi semua undang-undang yang ada dibawahnya, dan undang-undang yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan undang-undang yang lebih tinggi. Sehubungan dengan penjelasan ini, maka, pada pembahasan di bawah ini akan didiskusikan tentang beberapa sumber dalam hukum Islam tersebut, diantaranya Alquran, Sunnah, Ijmak, Kiyas, Maslahah Mursalah, Urf, dan Istish-hab.