• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

4. Era Digitalisasi

Sejarah media mengajarkan kepada kita untuk membayangkan masa depan dengan serius. Seperti saat ini, ketika semua perangkat teknologi media telah bersifat digital. Lewat teknologi digital, kebutuhan jurnalisme akan kecepatan semakin terpenuhi. Lewat digitalisasi, informasi dapat dikemas kedalam beragam format. Kiriman berita dapat digabung dengan hiburan, iklan, surat, sampai belanjaan rumah tangga.

Semua dikirim melalui perangkat audio dan visual, seperti : computer multimedia-TV-telepon-faks-CD-Rom. Digitalisasi membuat informasi mengalir secara personal dan sekejap ke rumah – rumah. Komputerisasi adalah membuat pemberitaan dapat dikirim, disebar dan diterima dalam kepingan data – data. Kecepatan ruang waktu elektronika dipakai untuk mengantarkan pesan bergambar dan bersuara (multimedia) (Bittner 1986:314-15). Teknologi digitalisasi membuat informasi dapat diakses

siapa pun dan dimana pun secara privat. Tiap berita bisa diframe ke dalam format yang diinginkan penerima (Santana, 2005:2-3).

Menurut Indrajit (2001), kemajuan teknologi digital yang dipadu dengan telekomunikasi telah membawa komputer memasuki masa – masa

“Revolusi”-nya. Pada awal tahun 1970-an, teknologi PC atau personal computer mulai digunakan. Pada masa ini, manajemen perubahan yang lebih ditekankan adalah system informasi karena computer dan teknologi informasi merupakan komponen dari system tersebut. Kunci keberhasilan perusahaan tahun 1980-an adalah penciptaan dan penguasaan dan penguasaan dianalogikan sebagai darah dalam peredaran darah manusia yang harus selalu mengalir dengan teratur cepat terus – menerus, ketempat – tempat yang membutuhkannya. Pada periode ini perubahan secara filosofis dari perusahaan tradisional menuju perusahaan manajemen melihat kunci kinerja perusahaan. (Sambas, 2015:161).

Dunia digital sudah mulai terjadi sejak satu dekade lalu, dan pada saat yang sama ada pertumbuhan alat penerima komunikasi yang semakin canggih. Alat komunikasi yang kita miliki sekarang memungkinkan kita untuk tidak sekedar berkomunikasi lisan, tetapi juga berkomunikasi dengan tukar menukar data, berkirim pesan tertulis, dalam jumlah yang sangat besar (Haryanto, 2014:170).

Tidak diragukan lagi, saat ini media dan informasi menjadi center warga dunia. Media, sedang berada di titik pusat perhatian masyarakat dunia abad dua puluh satu (McChesney, 2004:41). Semakin intensifnya

arus globalisasi ini membuat media ikut aktif bergerak, bergeser, dan bertransformasi. Hingga pemahaman terhadap transformasi media menjadi urgent, sebab transaksi ide dan banjir informasi menjadi tidak terelakkan. Gejala demikian berbanding lurus dengan gerakan transformasi media yang memasuki era cyberspace ternyata telah mempersempit batas geografis (Masco, 2004 :213).

a. New Media

Kehadiran media online atau new media menawarkan speed and space, di mana new media membuka peluang bagi kehadiran informasi – informasi yang tidak dapat ditemukan dalam bentuk hard copy media convensional. Format multimedia yang ditawarkan juga lebih inovatif dan lebih menarik (Fonton, 2010:7). Dengan kehadiran new media menciptakan digitalisasi informasi, yang memungkinkan akselerasi penyebarluasan informasi dan mempermudah penciptaan masyarakat informasi yang setara. Transisi dari old media ke new media menciptakan ruang publik yang lebih fleksibel dan cepat terhadap akses ke media.

New media secara eksklusif merujuk pada teknologi komputer yang menekankan bentuk dan konteks budaya yang mana teknologi digunakan, seperti dalam seni, film, perdagangan, sains dan diatas itu semua internet. Sementara digital media merupakan kecenderungan kepada kebebasan teknologi itu sendiri sebagai karakteristik sebuah

medium, atau merefleksikan teknologi digital. (Dewdney and Ride, 2006:8 & 20).

Perkembangan media baru sebenarnya merujuk pada sebuah perubahan dalam proses produksi media, distribusi dan penggunaan.

Media baru tidak terlepas dari key term seperti digitality, interactivity, hypertextuality, dispersal dan virtuality. (Lister, 2009:13).

Ciri utama media baru adalah adanya saling berhubungan, aksesnya terhadap khalayak individu sebagai penerima maupun pengirim pesan, interaktivitasnya, kegunaan yang beragam yang dibutuhkan dalam menjalin interaksi interpersonal. (McQuail, 2011:43). New media adalah sebuah media yang memfasilitasi interaksi antara pengirim dan penerima (Danaher dan Davis, 2003:462).

Media online atau biasa disebut dengan internet adalah hasil dari Crosspolination teknologi komunikasi yang menawarkan kepada pengguna sebagai media yang berfungsi sebagai alat komunikasi manusia. Media online disebut juga dengan media interaktif, yaitu suatu jenis media kolaboratif, mengacu pada media yang memungkinkan partisipasi aktif oleh penerima dan pengirim (interaktif). Dinalik kemudahan dan kecepatan mekanisme publikasi media online, Al-Qur‟an memiliki pandangan yang dijelaskan dalam Q.S Al- Hujurat/49:6

Artinya :

“Hai orang – orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannyayang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

Ayat diatas merupakan salah satu dasar yang ditetapkan agama dalam kehidupan social sekaligus merupakan tuntunan yang sangat jelas dan logis penerimaan dan pengalaman suatu berita. Kehidupan manusia dan interaksinya haruslah didasarkan pada hal – hal yang diketahui dan jelas.

Perkembangan teknologi yang begitu cepat diiringi dengan media online yang kehadirannya belum terlalu lama. Media online sebagai salah satu jenis media massa yang tergolong memiliki pertumbuhan yang spektakuler. Bahkan saat ini, hampir sebagian besar masyarakat mulai dan sedang menggemari media online, sekalipun internet tidak sepenuhnya dimanfaatkan untuk media massa, tetapi keberadaan media online saat ini sudah diperhitungkan banyak orang sebagai alternatif dalam memperoleh akses informasi dan berita. (Syarifudin Yunus, 12:2010). Sama dengan media massa lainnya, media online memiliki kelebihan dan kelemahan yaitu: Kelebihan atau keunggulan new media, memiliki kelebihan tersendiri, informasinya lebih „personal‟, yang dapat diakses siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Tentu dengan syarat; ada

sarananya, berupa perangkat computer, hanphone dan jaringan internetnya. Kelebihan lain, informasi yang disebarkan dapat di update setiap saat, bila perlu setiap detik, lebih dari itu, media online juga dilengkapi fasilitas pencarian berita dan pengarsipan berita yang dapat diakses dengan mudah.

Kelemahan media online, terletak pada peralatan dan kemampuan penggunanya. Media online harus menggunakan jaringan internet yang hingga saat ini biayanya cukup mahal. Saat ini belum seluruh Indonesia memiliki jaringan internet, di samping diperlukan keahlian tertentu guna memanfaatkannya, dan mungkin juga belum banyak orang menguasainya (Mondry, 2008:22-25).

Karakteristik media baru secara struktural adalah integrasi telekomunikasi, komunikasi data, dan komunikasi massa dalam satu medium. Sehingga menjadi satu medium merupakan proses yang disebutnya konvergensi. Karena alasan inilah new media sering disebut multimedia. (Dijk. 2006:7).

Internet begitu memukau dan begitu cepat berkembang dengan varian – varian program programnya yang menjadikan bumi ini dalam cengkraman teknologi. Internet telah berkembang menjadi sebuah teknologi yang tidak saja mampu menciptakan dunia baru dalam realitas kehidupan manusia, yaitu sebuah realitas materialistis yang tercipta dalam dunia maya (Bungin, 2006:136).

Adam Thierer and Clyde Wayne Crews Jr. menjelaskan dengan sangat baik dalam bunkunya The Net, Internet Governance and Jurisdiction, mengenai prinsip pengelolaan dan penataan internet.

“Penataan” atau “governance” adalah teknologi yang memiliki arti memberikan perhatian pada struktur aturan, baik yang bersifat implisit ataupun eksplisit.

Internet telah membawa banyak perubahan bagi masyarakat.

Sebagai new media, internet tidak hanya memiliki fungsi sebagai alat produksi dan distribusi pesan sebagaimana media tradisional lainnya, namun juga sebagai media penyimpanan pesan (McQuail, 2010:135).

Komunikasi antar individu di era internet ini mampu menukarkan pesan, suara, gambar, video melalui website interaktif, email dan forum.

Seperti yang dikemukakan oleh Mark Poster bahwa internet adalah media yang menyediakan alternatif untuk model serempak, yang didalamnya termasuk produser, distributor, dan konsumennya. Budaya digital merupakan formasi social yang memproduksi secara eksklusif melalui ikatan antara informasi dan teknologi komunikasi (Bury dalam Littlejohn & Foss, 2009:309).

Media baru dianggap memiliki kebaruan yang berbeda dengan media konvensional. Kebaruan tersebut bisa disingkast menjadi 4C, yaitu computing and information technology, communication networks, digitalized media and information content, dan convergence (Flew,

2005:2). Dengan demikian media baru selalu berkaitan dengan komunikasi yang termediasi, yang dengan demikian menjadikan semua pesan media menjadi konvergen. Ke empat hal inilah yang membedakan media baru dengan media konvensional. Media konvensional memiliki karakter audiens atau pengakses yang cenderung atomistik, tidak berjaringan antar audiens. Pesannya pun bersifat analog. Tidak berkaitan dengan satu sama lain.

Media baru juga memperluas kemampuan media konvensional.

Kemajuan serta kemudahan produksi dan distribusi pesan media digambarkan oleh Negrophonte dengan sederhana sekaligus indah melalui metaphor bit dan atom. Bit adalah media baru serta atom adalah media lama atau konvensional. (Negrophonte, 1995:19). Bit tidak menghabiskan ruang dan dapat didistribusikan dengan sangat mudah, serta atom memiliki konsekuensi ruang dan cenderung lebih sulit untuk didistribusikan. Kita dapat melihat bagaimana surat kabar, majalah, film, radio, dan televisi menjadi lebih baik kualitasnya dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Aspek produksi pesan misalnya, menjadikan media konvensional lebih terbuka dan egaliter dibandingkan dengan masa lalu di mana produsen pesan tidak harus memiliki kemampuan yang lengkap karena teknologinya relatif mudah didapatkan dan dipelajari. Fenomena ini juga menjadikan media lama dan baru semakin saling berkaitan satu sama lain. Kebaruan media baru ada tiga yaitu: Pertama, media baru berbasis bit bukan atom. Dengan demikian,

pesan media baru dapat berganti format dengan sesama media. Hal ini berbeda dengan media konvensional tidak dapat berpindah ke media konvensional yang lain. Kebaruan kedua, pesan media baru bersifat lebih mudah diproduksi, didistribusikan, ditampilkan dan disimpan, selain bersifat konvergen. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa semua media, lama maupun baru, yang dimunculkan oleh teknologi informasi dan komunikasi, saling terangkai satu sama lain dengan fungsi yang lebih luas dan dapat dipertukarkan. Kebaruan terakhir adalah media baru bersifat lebih interaktif dibandingkan dengan media massa. Interaktivitas di sini adalah interaktivitas yang esensial, yang melekat pada media, bukan interaktivitas antara manusia dan computer.

b. Tantangan media cetak sebagai konsekuensi adanya media baru

Journalisme warga marak sejak tahun 2000. Awalnya, di Korea Selatan, yakni Oh Yeon–Ho dan rekan – rekannya menciptakan surat kabar harian online bernama OhMyNews. Surat kabar ini berusaha mendobrak media mainstream seperti surat kabar cetak. Oh memperkenalkan “Guerilla Methods” yaitu menggunakan volunteer reporters dan mem-posting hasil berita pada internet. Reporter di sini tidak harus memiliki latar belakang pendidikan jurnalisme. Inilah yang nantinya menjadi dasar berkembangnya online citizen journalism saat setiap memiliki kesempatan untuk menjadi reporter, Outing. Adapun tantangan media cetak di era new media yaitu pengguna internet setiap tahun meningkat seperti yang dikatakan oleh Direktur Marketing First

Media, Dicky Moechtar bahwa pengguna internet di Indonesia meningkat 1000% dalam 10 tahun terakhir. Tahun 2009 pengguna internet mencapai 25 juta orang, tahun 2010 mencapai 50 juta orang, dan tahun 2015 mencapai 88 juta orang (Kompas, 26 Maret 2015).

c. Konvergensi Media

Konvergensi media merupakan sebuah keniscayaan yang mutlak perlu diantisipasi para penerbit media cetak melalui peningkatan sumber daya manusia perusahaan pers dalam penguasaan informasi dan teknologi (Kompas dalam Sugiya, 2012).

Terry Flew dalam An Introduction to New Media menyatakan konvergensi media merupakan hasil dari irisan tiga unsur new media yaitu jaringan komunikasi, teknologi informasi, dan konten media.

Konvergensi media mengusung pada konsep penyatuan berbagai layanan informasi dalam satu piranti informasi membuat satu gebrakan digitalisasi yang tidak bisa dibendung lagi arus informasinya.

Konvergensi menyebabkan perubahan radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan pemprosesan seluruh bentuk informasi baik visual, audio, data dan sebagainya (Preston, 2001).

Menurut McMillan (2004), teknologi komunikasi baru memungkinkan sebuah media menfasilitasi komunikasi interpersonal yang termediasi. Dahulu ketika internet muncul di penghujung abad ke- 21, pengguna internet dan masyarakat luas masih mengidentikkannya sebagai “alat”semata. Berbeda halnya sekarang, internet menjadi

“media” tersendiri yang bahkan mempunyai kemampuan interaktif.

Sifat interactivity dari penggunaan media konvergen telah melampaui kemampuan potensi umpan balik (Feedback), karena seorang khalayak pengakses media konvergen secara langsung memberikan umpan balik atas pesan – pesan yang disampaikan. Adapun tiga fase yang terdapat dalam konvergensi, yaitu

1) Konvergensi terjadi antara segmen pasar yang berada pada satu sektor contohnya antara telepon kabel dengan operator seluler.

2) Penghalang struktural industri perlahan menghilang, produk digital yang menggabungkan dua layanan atau lebih dalam satu perangkat kini kian mudah ditemui.

3) Perangkat – perangkat digital tradisional yang begitu terspesifikasi dulunya menjadi membaur satu sama lain.

Saat ini kecenderungan industri media sebagai alat kapitalisme menjadi semakin nyata. Bentuknya menjadi semakin menggurita, menjangkau kemana – mana, cenderung ingin menopoli dan bahkan melintasi batas negara. Tetapi kontrol pemiliknya justru makin terkonsentrasi hanya pada beberapa orang saja. Dalam menjelaskan fenomena tersebut Peter Gollding dan Graham Murdoch mengatakan.

“Media as political and economic vehicle, tent to be controlled be conglomerates and media barons who are becoming fewer in number but through acquisition, controlled the large part of the world’s mass media and mass communication”, (2000,71).

Media surat kabar online memiliki kelebihan dan kelemahan masing – masing. Surat kabar dikesankan lambat, karena informasi yang sudah diberitakan di TV dan media online baru dapat dinikmati pembaca keesokan harinya. Sementara media online memiliki keunggulan cepat dalam menyampaikan informasi.

Dunia moderen akan menjadi desa global yang berarti suatu kondisi mengenai perkembangan teknologi komunikasi di mana dunia dapat dianalogikan menjadi sebuah desa yang sangat besar dan luas (Marshall McLuhan dalam bukunya yang berjudul Understanding Media : Extension of A Man), karena teknologi telah meyatukan berbagai kebutuhan informasi manusia. Konvergensi juga membawa dampak positif karena mengefesienkan banyak kegiatan. Dengan konvergengsi penanganan kebutuhan komunikasi publik makin mengarah pada integritas pelayanan di internet. Penggunaan internet di sektor publik semakin sentral.

Surat kabar digital sebagai media konvergensi di era digital.

Revolusi teknologi komunikasi dan informasi secara perlahan memberikan dimensi baru bagi perkembangan pers di manapun berada, termasuk di Indonesia. Internet yang mempunyai kemampuan menjangkau seluruh belahan dunia tanpa batasan. (cyberspace), secara perlahan dan pasti, diadopsi media massa di tanah air untuk mendukung kegiatan jurnalistiknya. Dengan sifatnya yang global, perangkat teknologi komunikasi dan informasi membawa implikasi

dalam perkembangan bentuk media pers. Daniel Okrent (Dalam Pattijadjawane, Kompas 5 juli 2000) menandaskan bahwa berita – berita masa depan tidak lagi bergantung pada jenis penerbitan seperti surat kabar, majalah, atau media lainnya. Media di era digital adalah media canggih berbasiskan informasi (Slouka, 1999:166).

Media baru di era digital dapat berupa media konvergensi yang mengintegrasikan berbagai media massa dengan teknologi internet dan multimedia (Ishadi SK, Kompas 28 Juni 2000).

Teknologi yang tepat dalam penggabungan berbagai media industri content (muatan, isi atau program acara) seperti hiburan penerbitan dan penyedia informasi dengan teknologi yang tersedia dan yang sedang dikembangkan adalah konvergensi (Pattiradjawane, kompas 5 Juli 2000). Media yang telah ada, baik itu media cetak, radio maupun televisi digabungkan dengan internet.

Surat kabar, tabloid dan majalah, sebelumnya hanya mengandalkan internet dalam proses penyampaian berita dari narasumber dan wartawan kepada redaksi. Setelah teknologi internet berkembang, surat kabr konvesional mengintegrasikan diri dengan internet. Surat kabar ini dapat dinyatakan sebagai surat kabar digital (Siregar, Kompas 28 juni 2000). Surat kabar digital bukan hanya surat kabar konvensional yang menggabungkan dirinya dengan teknologi internet, media khas seperti portal menyediakan informasi secara independen juga merupakan surat kabar digital.

Staubhaar dan La Rose ( 2000:12-13) menambahkan bahwa surat kabar digital memiliki ciri interaktif. Para pengguna atau user dan penyedia informasi dapat memberikan respon atau umpan balik satu sama lain secara langsung, tidak tertuda seperti surat kabar konvesnsional.

Konvergensi industri media dan teknologi digital mengarah pada bentuk – bentuk yang dikenal sebagai komunikasi multimedia.

Multimedia atau dikenal juga sebagai media campuran, pada umumnya didefinisikan sebagai medium yang mengintegrasikan dua bentuk komunikasi atau lebih (Fiddler, 2003:39). Fiddler (2003) menyatakan kehadiran konvergensi media sebagai salah satu bentuk media morfosis yaitu transformasi media komunikasi yang biasanya ditimbulkan akibat hubungan timbal balik yang rumit antara berbagai kebutuhan yang dirasakan, tekanan persaingan dan politik, serta berbagai inovasi social dan teknologi.

Konteks inovasi, konvergensi media terjadi sebagai akibat dari suatu proses pembelajaran dalam interaksi yang kompleks, pengembangan atas pilihan platform teknologi media, produk, cara multi-platfrom (e-paper, e-books, radio, streaming, media social dan lain – lain) yang bersinggungan dengan teknologi digital agar dapat bertahan di persaingan bisnis media.

Perspektif ekonomi media, teknologi memiliki peran penting dalam industri media. Industri media massa harus senantiasa mengikuti perkembangan teknologi (Usman Ks., 2009:30). Menurut Fiddler (2003:29) terjadinya konvergensi media didukung oleh berbagai hal seperti kekuatan – kekuatan ekonomi, politik, dan sosial yang memainkan peran besar dalam penciptaan teknologi – teknologi baru.

Transformasi media cetak ke arah konvergensi dapat mengadopsi jenis konvergensi yang dikemukakan oleh Grant (2009:33). Konvergensi jurnalistik mensyaratkan perubahan cara berpikir media tentang berita dan peliputannya. Bagaimana media memproduksi berita dan bagaimana media menyampaikan berita kepada khalayaknya. Namun, praktik konvergensi saat ini masih sebatas pada acara menyampaikan berita melalui platform yang berbeda yaitu media cetak, penyiaran, dan online.