• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: GAMBARAN UMUM TENTANG TINDAKAN EUTHANASIA

F. Euthanasia Dalam Kajian Islam

40

menentang jamaah Islam.

Oleh karena itu, Islam tidak membenarkan dalam situasi apapun untuk melepaskan nyawanya hanya karena ada suatu bala’ atau musibah yang menimpanya atau karena gagal dalam cita-cita yang diimpi-impikan. Sebab seorang mukmin diciptakan justru untuk berjuang, bukan untuk lari dari kenyataan. Sebab setiap mukmin mempunyai senjata yang tidak bisa sumbing dan mempunyai kekayaan yang tidak bisa habis yaitu senjata iman dan kekayaan budi.27

41

manusia secara keseluruhan, sebagaimana firman Alah SWT : QS Al- Baqarah (2) : 179 Orang yang menghilangkan nyawa orang lain tanpa alasan yang dibolehkan dan dibenarkan agama, menurut Islam sama halnya dengan merusak tatanan kehidupan masyarakat seluruhnya Karena Islam memberikan penghargaan yang begitu besar terhadap jiwa manusia.

Dalam hukum Islam, pembunuhan dikenal ada tiga macam, yaitu: Pertama, pembunuhan sengaja (Alqathl al-’amd), suatu perbuatan yang direncanakan dahulu dengan menggunakan alat dengan maksud menghilangkan nyawa. Kedua, pembunuhan semi sengaja (Al-qathl sibhu al-’amd), suatu perbuatan penganiayaan terhadap diri seseorang tidak dengan suatu maksud membunuhnya, tetapi mengakibatkan kematian. Ketiga, pembunuhan karena kesalahan (Al-qathl al-khatta), pembunuhan yang terjadi karena adanya kesalahan dan tujuan perbuatannya.28

AR. Fachruddin yang dikutip oleh Imron Halimi mengemukakan bahwa dilihat dari aspek Agama Islam, Euthanasia untuk menolong si penderita ditolak dengan tegas, sebab orang yang sudah koma tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Mungkin malah justru orang yang masih hiduplah yang merasa menderita.29

Para tokoh Islam di Indonesia sangat menentang dilakukannya euthanasia, Prof Dr. Amir syarifuddin menyebutkan bahwa pembunuhan untuk menghilangkan penderitaan si sakit sama dengan

28 Djazuli, Fiqh Jinayat Upaya Menanggulangi Kejahatan dalam Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000) h. 123

29 Ahmad Wardi Muslich, Euthanasia Menurut Pandangan Hukum Positif Dan Hukum Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), h. 76

42

larangan Allah membunuh anak untuk tujuan menghilangkan kemiskinan. Tindakan dokter dengan menggunakan obat atau suntikan dengan sengaja untuk mengakhiri hidup pasien adalah termasuk pembunuhan disengaja. Hal tersebut berarti mendahului takdir Tuhan, meskipun niatnya adalah untuk melepaskan penderitaan pasien atau juga melepaskan tanggungan keluarga. Akan tetapi apabila dokter tidak lagi memberi pasien obat, karena yakin obat yang ada sudah tidak bisa menolong. Sekalian mengizinkan si pasien di bawa pulang, andai kata pasien itu meninggal, maka sikap dokter itu tidaklah termasuk perbuatan pembunuhan.30

Demikian juga dari sudut pandang agama, ada sebagian yang membolehkan dan ada sebagian yang melarang terhadap tindakan euthanasia, Islam mengajarkan bahwa jika kematian datang tidak ada seorang pun yang dapat memperlambat atau mempercepatnya. Allah menyatakan bahwa kematian hanya terjadi dengan izin-Nya dan kapan saat kematian itu tiba telah ditentukan waktunya oleh Allah.

Dalam Islam kematian adalah sebuah gerbang menuju kehidupan abadi (akhirat) dimana setiap manusia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya selama hidup didunia dihadapan Allah SWT.31

ِ ع

ِ ن

ِ

ِ م ل س وِ ه ي ل عِ للّاِى ل صِ للّاِ لو س رِ لا قِ: لا قِ، للّاِ د ب عِ ن بِ ب د ن ج

ِِ

ِ

ِ:

30 Chuzaimah T Yanggo dan HA Hafiz Anshari AZ, Problematika Hukum Islam Kontemporer, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995) hal. 61

31 https://aul-al-ghifary.blogspot.com/2013/10/hukum-euthanasia-menurut-islam.html, diakses tanggal 22 Agustus 2021.

43

ِ، ه د يِا ه بِ ز ح فِا ني ك سِ ذ خ أ فِ، ع ز ج فِ، ح ر جِ ه بِ ل ج رِ م ك ل ب قِ نا كِ ن مي فِ نا ك ى لا ع تِ للّاِ لا قِ، تا مِى ت حِ م دلاِ أ ق را م ف

ِ ت م ر حِ، ه س ف ن بِي د ب عِي ن ر دا بِ:

ِ

ِ ه ي ل ع

ِِ

ِ ة ن جلا

ِ

.

“Dari Jundub bin Abdullah, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu

‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kamu yang mengalami luka, lalu dia berkeluh kesah, kemudian dia mengambil pisau, lalu dia memotong tangannya. Kemudian darah tidak berhenti mengalir sampai dia mati. Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hamba-Ku mendahului-Ku terhadap dirinya, Aku haramkan surga baginya’. [HR. Al-Bukhâri, no. 3463]

Masjfuk Zuhdi mengatakan bahwa Islam tetap tidak membolehkan si penderita menghabisi nyawanya, baik dengan tenaganya sendiri (bunuh diri) dengan minum racun atau menggantung dirinya dan sebagainya, maupun dengan bantuan orang lain, sekalipun itu dokter dengan cara memberikan suntikan mematikan atau obat yang dapat mempercepat kematian (euthanasia aktif) atau dengan cara menghentikan segala macam pertolongan bagi si penderita, termasuk kelanjutan proses pengobatannya (euthanasia pasif).32

Namun Ibrahim Hosen menyatakan bahwa, Islam membolehkan

32 Masjfuk Zuhdi, Penderita AIDS Tidak Boleh Dieuthanasia, Mimbar Hukum No. 6 Tahun VII, (Jakarta: Ditbanpera Islam, 1996) h. 157

44

penderita AIDS dieuthanasia bilamana memenuhi syarat-syarat berikut:

1. Obat atau vaksin tidak ada

2. kondisi kesehatannya makin parah

3. atas permintaannya atau keluarganya serta atas persetujuan dokter

4. adanya peraturan perundang-undangan yang mana mengizinkannya.

Pendapat Ibrahim Hosen, disandarkan kepada suatu kaidah ushul fiqh: Al-Irtifaqu Akhaffu Dlarurain, melakukan yang teringan dari dua mudlarat. Jadi katanya, langkah ini boleh dipilih karena ia merupakan pilihan dari dua hal yang buruk. Pertama, penderita mengalami penderitaan. Kedua, jika menular membahayakan sekali artinya dia menjadi penyebab orang lain menderita karena tertular penyakitnya dan beliau bukan hanya menganjurkan euthanasia pasif tapi juga euthanasia aktif.33

Sedangkan syariah Islam mengharamkan euthanasia aktif, karena termasuk dalam kategori pembunuhan sengaja (al-qatlu al amad), walaupun niatnya baik yaitu untuk meringankan penderitaan pasien. Hukumnya tetap haram, walaupun atas permintaan pasien sendiri atau keluarganya. Hal itu karena yang berhak mematikan dan menghidupkan manusia hanyalah Allah dan oleh karenanya manusia dalam hal ini tidak mempunyai hak atau kewenangan untuk memberi

33 Masjfuk Zuhdi, Penderita AIDS Tidak Boleh Dieuthanasia, Dalam Mimbar Hukum No. 6 Tahun VII, (Jakarta: Ditbanpera Islam, 1996), h. 28

45

hidup dan atau mematikannya. (QS.Yunus:56, Al-Mulk:1-2).34 Sudah merupakan fitrah manusia selalu ingin hidup sehat, baik fisik maupun mental. Namun keinginan manusia itu tidak selalu terpenuhi. Dalam hidupnya manusia terkadang sakit atau menderita suatu penyakit. Ada yang menderita suatu penyakit yang tergolong berat dan sukar, ada pula yang menderita suatu penyakit ringan dan mudah disembuhkan. Dari penyakit-penyakit ini, baik berat maupun ringan dianjurkan oleh agama untuk mengobatinya, karena sebagai mana sabda Rasulullah saw yang artinya “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan ia menurunkan pula obatnya”35

Para Ulama berbeda pendapat mengenai mana yang lebih utama.

Berobat ataukah bersabar? Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa bersabar (tidak berobat) itu lebih utama, berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan dalam kitab sahih dari seorang wanita yang ditimpa penyakit, wanita itu meminta kepada Nabi SAW agar mendoakannya, lalu beliau menjawab “Jika engkau mau bersabar (maka bersabarlah) engkau akan mendapat surga; jika engkau mau, maka saya doakan kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu. Wanita itu menjawab aku akan bersabar. Sebenarnya saya tadi ingin dihilangkan penyakit saja, oleh karena itu doakanlah kepada Allah agar saya tidak minta dihilangkan penyakit saya. Lalu Nabi mendoakan orang itu agar tidak meminta dihilangkan penyakitnya”.

Menurut jumhur ulama, mengobati atau berobat itu hukumnya

34https://naifu.wordpress.com/2010/08/12/euthanasia-dalam-perspektif-al- qur%E2%80%99an/, diakses tanggal 22 Agustus 2021.

35 Shahih Al-Bukhari, Juz V (Beirut: Dar Al-Fikri, 1992 ), h.11

46

mandub (sunnah), tidak wajib. Namun sebagian ulama ada yang mewajibkan berobat, seperti kalangan ulama Syafiiyah dan Hanabilah, seperti yang dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.36

Dalam kaitan ini Imam Abu Hamid Al-Ghazali membantah orang yang berpendapat bahwa tidak berobat itu lebih utama dalam keadaan apapun. Pendapat fuqaha yang lebih popular mengenai masalah berobat atau tidak bagi orang sakit adalah: sebagian besar diantara mereka berpendapat mubah, sebagian kecil menganggapnya sunat, dan sebagian kecil lagi (lebih sedikit) berpendapat wajib.37

36 Setiawan Budi Utomo, Fiqih Aktual Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer, (Jakarta, Gema Insani Press: 2003) h.180

37 https://aul-al-ghifary.blogspot.com/2013/10/hukum-euthanasia-menurut-islam.html, diakses tanggal 22 Agustus 2021.

47

Dokumen terkait