A. Paparan Data Dan Analisis
2) Evaluasi Kinerja
dan keselarasan antara kegiatan dan program, atau antara program yang lebih rendah dengan program yang lebih tinggi, ataupun antara kebijakan instansi yang lebih rendah dengan kebijakan instansi yang lebih tinggi, dapat menggunakan formulir PK (Pengukuran Kinerja).
Laporan akuntabilitas kinerja tidak hanya berisi tingkat keberhasilan/ kegagalan yang dicerminkan oleh evaluasi indikator- indikator kinerja, sebagaimana yang ditunjukkan oleh pengukuran dan penilaian kinerja, tetapi juga harus menyajikan data dan informasi relevan lainya bagi pembuat keputusan agar dapat mengimplementasikan keberhasilan atau kegagalan secara lebih luas dan mendalam.Oleh karena itu dari kesimpulan evaluasi perlu dibuat suatu analisis tentang pencapaian akuntabilitas kinerja instansi atau lembaga secara keseluruhan. Analisis tersebut meliputi uraian tentang keterkaitan pencapaian kinerja kegiatan dan program dengan kebijakan dalam rangka mewujudkan sasaran, tujuan , visi dan misi sebagaimana ditetapkan dalam perencanaan strategik.
Dalam analisis ini perlu pula dijelaskan proses dan nuansa sasaran dan tujuan secara efektif, efisien dan ekonomis sesuai dengan kebijakan, program dan kegiatan yang telah ditetapkan. Analisis dilakukan dengan menggunakan informasi atau data yang diperoleh secara lengkap dan rinci. Juga perlu dilakukan analisis terhadap komponen-komponen dalam evalauasi kinerja anatara lain mencakup analisis inputs-outputs, analisis realisasi outcomes dan benefits, analisis impacts baik positif maupun negatif dan analisis proses pencapaian indikator-indikator kinerja tersebut, analisis keuangan dana analisis kebijakan.
Laporan akuntabilitas kinerja instansi atau lembaga harus disusun secara jujur, obyektif dan transparan. Disamping itu pula perlu diperhatikan prinsip-prinsip:
(1) Prinsip pertanggungjawaban, sehingga jelas hal –hal yang dikendalikan maupun yang tidak dikendalikan oleh pihak yang melaporkan dan harus dapat dimengerti oleh pembaca laporan.
(2) prinsip pengecualian, yang dilaporkan yang penting dan terdepan bagi pengambilan keputusan, keberhasilan dan kegagalan serta perbedaan realisasi dan target, penyimpangan-penyimpangan dari rencana karena alasan tertentu.
(3) prinsip perbandingan, laporan dapat memberikan gambaran keadaan masa yang dilaporkan dibandingkan dengan periode-periode lain/
instansi lain.
(4) Prinsip akuntabilitas, prinsip ini mensyaratkan bahwa yang terutama dilaporkan adalah hal-hal dominan yang membuat akses atau gagalnya pelaksanaan rencana.
(5) prinsip manfaat yaitu manfaat laporan harus lebih besar dari pada biaya penyusunan.
Beberapa ciri laporan yang baik perlu diperhatikan yakni: relevan, tepat waktu, dapat dipercaya atau diandalkan, mudah dimengerti (jelas dan cermat), dalam bentuk yang menarik (tegas, konsisten, dan tidak
terstandarisasi.
Isi laporan adalah uraian pertanggungjawaban pelaksanaan tegas dan fungsi dalam rangka pencapaian visi dan misi serta penjabaranya.
Disamping itu pula dimasukkan dalam laporan berbagai aspek pendukung yang meliputi: a) Aspek Keuangan; b) Aspek SDM; c) Aspek Sarana dan Prasarana; d) Metode kerja, pengendalian manajemen, dan kebijaka lain yang mendukung pelaksanaan tugas utama lembaga.
(1) Uraian pertanggungjawaban keuangan dititik beratkan kepada perolehan dan penggunaan dana baik yang berasal dari alokasi APBN maupun dana yang berasal dari masyarakat.
(2) Uraian pertanggungjawaban SDM, dititikberatkan pada penggunaan dan pembinaan dalam hubunganya dengan peningkatan kinerja yang berorientasi kepada hasil atau manfaat dan peningakatan kualitas pada masyarakat.
(3) Urusan mengenai pertanggungjawaban penggunaan sarana dan prasarana dititik beratkan pada pengelolaan, pemeliharaan,pemanfaatan dan pengembangan.
Uraian mengenai metode kerja, pengendalian manajemen dan kebijakan lainya difokuskan kepada manfaat atau dampak dari suatu kebijakan yang merupakan cerminan pertanggungjawaban kebijakan.
Kebutuhan dana untuk kegiatan operasional secara rutin dan pengembangan program sekolah / madrasah secara berkelanjutan sangat dirasakan setiap pengelola lembaga pendidikan. Semakin banyak kegiatan yang dilakukan sekolah, semakin banyak juga dana yang dibutuhkan sekolah.
Untuk itulah kreatifitas setiap pengelola sekolah/ kepala sekolah dalam menggali dana dari berbagai sumber akan sangat membantu kelancaran pelaksanaan program sekolah baik rutin maupun pengembangan di lembaga yang bersangkutan. Sumber keuangan pada sekolah islam secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga diantaranya adalah pemerintah, baik pemerintah pusat , pemerintah daerah maupun kedua-duanya, yang bersifat umum dan khusus dimana untuk kepentinagan pendidikan, orangtua peserta didik, masyarakat baik yang mengikat atauoun yang tidak mengikat.
Adapun dari segi bentuknya, partisipasi masyarakat itu berupa gagasan, kritik membangun, dukungan dan pelaksanaan pendidikan. Semua bentuk partisipasi ini menjadi sangat penting untuk mewujudkan tanggung jawab bersama antara pihak lembaga masyarakat terhadap masa depan pendidikan.
Berdasarkan tuntutan kebutuhan di sekolah tersebut, utamanya kebutuhan pengembangan pembelajaran yang sangat membutuhkan biaya yang relatif banyak, maka sumber-sumber pendapatan diupayakan dari berbagai pihak agar membantu penyelenggaraan pendidikan di sekolah, disamping sekolah perlu melakukan usaha mandiri yang bisa menghasilkan
menjadi kebun. Hal ini akan terwujud apabila manajemen sekolah dilasanakan dengan sebaik-baiknya, disamping juga perlu adanya kreativitas kepala sekolah juga menjadi andalan utama.
Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2004-2009: bagian IV Bab 27.C Arah Kebijakan Nomor 19 berbunyi:
“Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan termasuk dalam pembiayaan pendidikan , penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat serta dalam peningkatan mutu layanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan’.
Sumber-sumber keuangan dan pembiayaan pada suatu sekolah secara gari besar dapat dikelompokkan atas tiga sumber, yaitu:
1) Pemerintah, baik pemerintah pusat, daerah maupun kedua-duanya, yang bersifat umum atau khusus diperuntukkan bagi kepentingan pendidikan;
2) Orang tua atau peserta didik;
3) Masyarakat, baik mengikat maupun tidak mengikat.
Berkaitan dengan penerimaan keuangan, orang tua dan masyarakat ditegaskan dalam Undang- Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa karena keterbatasan kemampuan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan dana pendidikan, tanggung jawab atas pemenuhan dana pendidikan merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, masyarakat dan orang tua. Adapun dimensi pengeluaran meliputi biaya rutin dan biaya pembangunan.
seperti gaji pegawai (guru dan non guru), serta biaya operasional, biaya pemeliharaan gedung, fasilitas dan alat-alat pembelajaran (barang-barang habis pakai). Sementara biaya pembangunan, misalnya biaya pembelian atau pengembangan tanah, pembangunan gedung, perbaikan dan rehab gedung, penambahan furniture serta biaya atau pengeluaran lain untuk barang-barang yang tidak habis pakai.
Dalam implementasi MBS manajemen keuangan harus dilaksanakan dengan baik dan teliti mulai dari tahap penyusunan anggaran,penggunaan serta pengawasan dan pertanggungjawaban seseuai dengan ketentuan yang berlaku agar semua dana sekolah benar-benar dimanfaatkan secara efektif, efisien, tidak ada kebocoran-kebocoran, serta terbebas dari penyakit-penyakit korupsi, kolusi dan nepotisme.
Seperti halnya penuturan bapak Muali Ruslan selaku Kepala Madrasah di Madrasah Tsanawiyah Hasanuddin Semboro, bahwa:
“Setelah lembaga mendapatkan dana dari pemerintah, masyarakat, maka komite dengan pihak lembaga telah mengadakan musyawarah agar dalam penyelenggaraan pendidikan khususnya pada pembiayaan, meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan termasuk dalam pembiayaan pendidikan, penyelenggaraan pendidikan.178
Dalam peningakatan mutu layanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Karena
178 Muali Ruslan, Wawancara, Jember 27 Desember 2018.
pendidikan, tanggungjawab atas pemenuhan kebutuhan dana pendidikan, tanggung jawab atas pemenuhan dana pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan orangtua. Adapun dimensi pengeluaran meliputi biaya rutin dan biaya pembangunan.
Agar dalam proses penyusunan sumber-sumebr pembiayaan, yang telah diprogamkan Madrasah perlu tersedianya sejumlah dana tertentu pula, maka diperlukan peran serta masyarakat dalam pertanggungjawaban terhadap madrasah, agar menjadi komponen keuangan bisa dilaksanakan dengan baik dan teliti mulai dari tahap penyusunan anggaran, penggunaan, sampai pengawasan dan pertanggungjawaban sesuai denga ketentuan yang berlaku agar semua dana sekolah benar benar dimanfaatkan secara efektif, efisien dan transparan tidak ada kebocoran-kebocoran, serta terbebas dari penyakit korupsi, kolusi dan nepotisme.179
Bendahara sekolah di Madrasah Tsanawiyah Hasanuddin Semboro, dalam petikan wawancara berikut:
“Pembiayaan yang ada telah disediakan dari alokasi dana pemerintah setiap tahunya, terdapat keterbatasan kemampuan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan dana pendidikan, tanggung jawab atas pemenuhan dana pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan orang tua. Adapun dimensi pengeluaran meliputi biaya rutin dan biaya pembangunan. Maka lembaga pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Hasanuddin Semboro ini mengembangkan peran serta masyarakat terutama dalam bidang pembiayaan yang ada di Madrasah Tsanawiyah Hasanuddin Semboro, yaitu guna pemenuhan kebutuhan biaya rutin dan biaya pembangunan.
Demikianlah dana tersebut digunakan untuk kebutuhan keperluan lembaga sekolah diantaranya kebutuhan fisik dan non fisik yang
179 Muali Ruslan, Wawancara Jember, 20 Oktober 2018.
gaji guru, penyelenggaraan program serta layanan pendidikan dan yang lainya. Madrasah Tsanwiyah Hasanuddin semboro menggunakan dana tersebut sesuai dengan kebutuhan yang harus segera dipenuhi guna untuk menunjang proses pembelajaran dengan tidak meninggalkan prinsip prinsip efektif, efisien dan transparan. Dan tidak ada penyalahgunaan dalam pengelolaan dana yang ada di Madrasah Tsanawiyah Hasanuddin Semboro karena anggaran yang dimiliki seimbang dengan pengeluaran yang harus dibelanjakan sesuai dengan kebutuhan itu tadi.180
Bapak Syamhudi Syakuri selaku bagian humas, beliau juga menuturkan bahwa:
Penggunaan dana atau pembiayaan di lembaga pendidikan Islam di Madrasah Tsanawiyah Hasanuddin Semboro ini, bahwa hasil dari sumber-sumber pembiayaan sekolah/ Madrasah selain dana dari pemerintah, ada juga yang dari dalam usaha lembaga sekolah ini.
Karena keterbatasan kemampuan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan dana pendidikan merupakan tanggung jawab bersama ntara pemerintah, masyarakat dan wali murid (orang tua). Adapun dimensi pengeluaran meliputi pengeluaran biaya rutin dan pegeluaran dan biaya pembangunan. Saya selaku bagian humas, orang tua bersama komite sekolah, meminta masyarakat dan orangtua untuk selalu ikut berpartisipasi dan siap untuk membantu madrasah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan, jika terdapat kekurangan, contoh kekurangan dana dalam penyelenggaraan suatu kegiatan tertentu seperti rehabilitasi atau perbaikan gedung madrasah, kegiatan sosial. Ekstrakulikuler.181 Untuk menguatkan pernyataan tersebut saya menyempatkan diri untuk melihat jalanya rapat, penyampaian di bidang keuangan yang berkaitan dengan penerimaan dan pengeluaran keuangan madrasah.
“Pembiayaan yang ada di Madrasah Tsanawiyah Hasanuddin Semboro telah disediakan dari alokasi dana pemerintah setiap tahunya, karena banyaknya pembiayaan yang ada di madrasah, sampai adanya keterbatasan kemampuan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan dana pendidikan, sehingga tanggung jawab atas pemenuhan dana pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan orang tua. Adapun dimensi pengeluaran meliputi biaya
180 Sulistyorini, Wawancara, Jember 25 Oktober 2018.
181 Syamhudi Syakuri, Wawancara, Jember, 25 Oktober 2018.
Tsanawiyah Hasanuddin Semboro ini mengembangkan peran serta masyarakat terutama dalam bidang pembiayaan yang ada di Madrasah guna pemenuhan kebutuhan biaya rutin dan biaya pembangunan.182 Berdasarkan pandangan diatas, diperlukan sebuah kinerja sekolah dengan semua fihak, termasuk masyarakat pada umumnya. Untuk merealisasikan adanya hubungan madrasah/ sekolah dengan masyarakat, tersebut ada beberapa syarat dan cara yang jitu yang bisa ditempuh, antara lain dengan bekerjasama , sebaiknya memenuhi syarat jujur, transparan, mencakup segala yang dibutuhkan, komprehensif, sensitif terhadap masyarakat, dan dapat dipahami oleh pihak yang lain, cara yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan sosialisasi secara realistis argumentatif kepada masyarakat tentang program-program ideal yang telah dialaksanakan, jadi masyarakat bisa diyakinkan dan kemudian menyatakan dukungan kepada kebijakan manajer melalui program-program yang telah disampaikan tersebut.
Bila demikian, dukungan masyarakat itu sangat variatif muali dari yang bersifat individual hingga kolektif. Pada 54 ayat (1) UU RI No. 21 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ditegaskan bahwa,” Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. Adapun dari segi bentuknya, partisipasi masyarakat itu berupa gagasan, kritik membangun, dukungan dan pelaksanaan pendidikan, semua
182 Observasi, Jember 29 November 2018.
jawab bersama antara pihak lembaga masyarakat terhadap masa depan pendidikan.
2. Prinsip Efektifitas Pembiayaan Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan