PENGELOLAAN KELAS
2. Evaluasi Pembelajaran
Mutu pendidikan dipengaruhi banyak faktor, seperti peserta didik (income), pengelola sekolah (kepala sekolah, karyawan dan dewan/komite sekolah), lingkungan (orangtua, masyarakat, sekolah), kualitas pembelajaran, kurikulum dan sebagainya. Faktor tersebut saling terkait dalam pelaksanaan proses pembelajaran, dan setiap faktor ikut memberikan andil dalam peningkatan mutu pembelajaran. Hal tersebut senada juga dikemukakan oleh Djemari Mardapi bahwa:
Usaha peningkatan kualitas pendidikan dapat ditempuh melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas sistem penilaian. Keduanya saling terkait, sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas belajar yang baik. Selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong pendidik untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi peserta didik untuk belajar yang lebih baik.
Dengan demikian, salah satu faktor penting untuk mencapai tujuan pendidikan adalah efektivitas proses pembelajaran yang dilakukan, sedangkan salah satu faktor penting untuk mengukur efektivitas evaluasi pembelajaran, baik proses maupun hasil. Evaluasi dapat memotivasi peserta didik belajar dan juga mendorong pendidik untuk lebih meningkatkan kualitas proses pembelajaran serta mendorong sekolah untuk lebih meningkatkan fasilitas dan kualitas manajemen sekolah.
Dalam pembelajaran, dibutuhkan pendidik yang tidak hanya
mampu mengajar dengan baik tetapi juga mampu melakukan evaluasi secara profesional. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program pembelajaran perlu dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar, tetapi juga perlu penilaian terhadap input, output maupun kualitas proses pembelajaran.
Ditinjau dari sasarannya, evaluasi ada yang bersifat makro dan ada yang mikro. Evaluasi yang bersifat makro sasarannya adalah program pendidikan, yaitu program yang direncanakan untuk memperbaiki bidang pendidikan. Evaluasi mikro sering digunakan di kelas, khususnya untuk mengetahui pencapaian belajar peserta didik. Pencapaian belajar bukan hanya yang bersifat kognitif saja, tetapi juga mencakup semua potensi yang ada pada peserta didik. Jadi sasaran evaluasi mikro adalah program pembelajaran di kelas dan yang menjadi penanggungjawabnya adalah pendidik untuk sekolah atau dosen untuk pendidikan tinggi.
Dalam konteks program pembelajaran di perguruan tinggi, Djemari Mardapi mengatakan bahwa keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari hasil belajar yang dicapai peserta didik. Di sisi lain, evaluasi pada program pembelajaran membutuhkan data tentang pelaksanaan dan tingkat ketercapaian tujuannya. Keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari aspek hasil belajar, sementara implementasi program di kelas atau kualitas proses pembelajaran itu berlangsung jarang tersentuh kegiatan penilaian.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik adalah:
a. Factor eksternal, yang meliputi:
1) Faktor lingkungan alam;
2) Faktor instrumental;
b. Faktor sosial, yang meliputi:
1) Faktor Lingkungan keluarga
2) Faktor Lingkungan sekolah 3) Faktor Lingkungan masyarakat c. Faktor internal, yang meliputi:
1) Faktor fisiologis;
2) Faktor psikologis.
Konteks di atas mendeskripsikan bahwa peserta didik memiliki potensi untuk berkembang dan dibutuhkan orang-orang di sekitarnya mem-backup potensi tersebut, khususnya dari pendidik, baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Peserta didik sangat dipengaruhi oleh kompetensi pendidik, baik kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Peserta didik juga dipengaruhi oleh suasana atau keadaan, baik dalam materi pembelajaran, media atau alat, proses kegiatan, dan hasil yang ingin dicapai. Prosedur dalam mengadakan evaluasi dapat dibagi atas beberapa langkah atau beberapa tahapan. Menurut Mochtar Buchari, membagi Prosedur evaluasi atas enam langkah pokok, yaitu:
a. Perencanaan ialah merumuskan tujuan evaluasi yang hendak dilaksanakan dalam suatu proses pendidikan didasarkan atas tujuan yang hendak dicapai dalam program;
b. Perencanaan ialah menetapkan aspek-aspek yang harus dinilai;
c. Perencanaan iaah menentukan metode evaluasi yang akan dipergunakan;
d. Perencanaan ialah memilih atau menyususn alat-alat evaluasi yang akan dipergunakan;
e. Perencanaan ialah menentukan kriteria yang akan dipergunakan;
f. Perencanaan ialah menetapkan frekuensi evaluasi.
Ada tiga istilah yang sering digunakan dalam evaluasi, yaitu tes, pengukuran, dan penilaian. (test, measurement, and assessment). Tes merupakan salah satu cara untuk menaksir besarnya kemampuan seseorang secara tidak langsung, yaitu melalui respons seseorang terhadap stimulus atau pertanyaan.
Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek. Objek ini bisa berupa kemampuan peserta didik, sikap, minat, maupun motivasi. Respons peserta didik terhadap sejumlah pertanyaan menggambarkan kemampuan dalam bidang tertentu.
Secara umum, evaluasi memiliki dua fungsi utama yaitu untuk mengetahui pencapaian hasil belajar peserta didik dan hasil mengajar pendidik. Pengetahuan tentang hasil belajar peserta didik terkait dengan sejauhmana peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi-kompetensi yang telah ditetapkan. Hasil mengajar pendidik terkait dengan sejauh mana pendidik sebagai manajer belajar peserta didik, dalam hal bagaimana pendidik merencanakan, mengelola, memimpin, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran.
Realitas menunjukkan bahwa masih banyak yang mereduksi evaluasi sebagai kegiatan tes. Kegiatan tersebut adalah pelaksanaan tes yang dilaksanakan setelah penyelesaikan pokok bahasan tertentu (kompetensi dasar tertentu) sebagai tes formatif dan tes akhir semester yang dikenal dengan tes sumatif serta tes yang diselenggarakan di akhir jenjang pendidikan tertentu dalam bentuk ujian akhir sekolah dan ujian nasional. Dari tes formatif, sumatif, hingga ujian akhir sekolah dan ujian nasional, sebagian besar dalam bentuk tes tertulis. Padahal, tes tertulis hanyalah salah satu bentuk tes (di samping tes lisan dan tindakan), dan tes hanyalah salah satu dari teknik evaluasi (di samping teknik nontes).
Menggunakan teknik tes tertulis untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik yang mencakup berbagai domain/ranah (intelektual, emosional, dan spiritual), tentunya tidak dapat memberikan informasi yang valid, reliabel, serta tidak selaras dengan prinsip kontinuitas, objektivitas, keseimbangan, dan komprehensivitas sebuah evaluasi. Tes akan tepat dipakai untuk mengukur pencapaian domain kognitif, tetapi tidak tepat untuk mengukur pencapaian ranah afektif. Padahal, cakupan tujuan pendidikan, baik pada tingkat nasional, tingkat jenjang pendidikan, satuan pendidikan, bahkan hingga tujuan mata pelajaran (standar kompetensi mata pelajaran) memuat domain kognitif, afektif, dan psikomotor sehingga ironis jika proses pembelajaran yang panjang (3 sampai dengan 6 tahun), terkadang ditentukan oleh hasil tes tertulis yang dilaksanakan beberapa jam pada mata pelajaran tertentu.