• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Penetapan Harga Transfer Dalam Perusahaan

Penetapan Harga Transfer dari satu unit ke unit lain pada prinsipnya ditetapkan berdasarkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) yaitu rencana biaya operasi dibagi dengan rencana penjualan tenaga listrik (Kwh Jual) sebagaimana tercantum dalam RKAP unit tersebut. Namun penetapan harga transfer yang diterapkan oleh Unit Pengaturan Beban mengandung beberapa kelemahan, diantaranya :

1. Harga transfer dari satu unit berupa harga rata-rata sehingga tidak dapat memberikan signal yang mengarah pada peningkatan kinerja keuangan sekaligus kinerja operasional, mengingat pengendalian biaya oleh suatu unit memerlukan pengidentifikasian yang jelas antara biaya tetap dan biaya variabel.

2. Harga transfer antar unit akan berfluktuasi dari satu tahun ke tahun karena akan dipengaruhi oleh fluktuasi tahunan biaya pemeliharaan berkaitan dengan variasi tahunan jenis pemeliharaan pembangkit.

3. Harga transfer yang hanya dihitung dari awal tahun dari rencana kerja dan anggaran perusahaan tidak dapat mengikuti fluktuasi harga bahan bakar dan pelumas, kurs rupiah serta harga listrik swasta, padahal ketiga unsur ini merupakan unsur-unsur biaya pokok yang paling dominan.

Mengingat adanya kelemahan-kelemahan yang disebutkan di atas, maka untuk memperbaiki dan menyempurnakan system pembebanan biaya, khususnya dalam konsep penetapan harga transfer pada unit penyaluran, maka penerapan konsep atau rumusan harga transfer pada unit penyaluran perlu diadakan perbaikan.

Dalam hal ini, perlu dipertimbangkan metode lain yang dapat dipergunakan dalam penetapan harga transfer. Salah satu metode alternatif yang ditawarkan adalah metode penetapan harga transfer berdasarkan metode dua langkah (ganda).

Namun sebelum kita mempertimbangkan untuk menerapkan metode penerapan harga transfer berdasarkan dua langkah, maka kita terlebih dahulu harus mempertimbangkan juga kondisi yang ada dalam perusahaan yang mendukung penerapan metode ini. Kondisi perusahaan yang mendukung diterapkannya metode ini antara lain :

a. Perusahaan mempunyai beberapa unit usaha yang merupakan pusat laba.

b. Pusat-pusat laba tersebut dinilai prestasinya berdasarkan perolehan laba yang nantinya akan dikontribusikan kepada perusahaan.

c. Harga transfer yang terjadi dipengaruhi oleh komponen biaya yang sifatnya fluktuasi, seperti harga bahan bakar dan kurs valuta asing.

d. Jumlah pemakaian dipengaruhi oleh permintaan konsumen sehingga cenderung berubah-ubah.

Jika kondisi diatas terpenuhi oleh perusahaan dan kemudian memutuskan untuk menetapkan harga transfer berdasarkan metode dua langkah, maka langkah selanjutnya adalah mempertimbangkan kebaikan dan kelemahan dari metode ini.

Sebagai bahan pertimbangan, dibawah ini akan diuraikan beberapa kebaikan penetapan harga transfer berdasarkan metode dua langkah (ganda), yaitu :

1) Menggambarkan transaksi independen bagi tiap unit(pusat laba).

2) Merupakan dasar yang baik untuk mengambil keputusan bagi unit yang menjual, karena berapa jumlah yang dijual dapat diperhitungkan lebih akurat.

3) Menjadikan setiap unit usaha sebagai satuan bisnis yang terpisah satu sama lain, sehingga mencerminkan profitabilitas produk dan prestasi manajemen unit usaha.

Sebagaimana diketahui bahwa tidak ada satupun metode yang sempurna.

Begitupun metode penetapan harga transfer berdasarkan metode dua langkah.

Metode dua langkah juga mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya :

1) Beberapa komponen biaya seringkali berubah sehingga perlu diadakan penyesuaian kembali atas harga transfer yang ditetapkan.

2) Perlu tambahan pengorbanan waktu dan biaya untuk memperoleh informasi harga atas perubahan beberapa komponen biaya tersebut.

Berdasarkan uraian diatas, tampak bahwa penetapan metode harga transfer

berdasarkan metode dua langka (ganda) dapat diterapkan pada PLN Unit Pengaturan Beban. Metode dua langka yang digunakan akan menunjukkan nilai dari peningkata laba yang terjadi pada Unit Pengaturan Beban sebagai unit penjualan. Dengan demikian laba yang diperoleh masing-masing unit usuha menjadi lebih wajar. Prestasi masing-masing usaha dapat dinilai menjadi lebih tepat, karena prestasi yang tercermin dari perolehan laba masing-masing unit bukan lagi laba yang semu seperti yang diterapkan sampai saat ini.

Dalam prakteknya, penggunaan metode dua langkah sebagai dasar penetapan harga transfer jarang menimbulkan konflik diantara pihak-pihak yang terlibat.

Metode ini memberikan ukuran profitabilitas unit usaha yang akan mencerminkan kontribusi ekonomi nyata bagi unit usaha karena terdapat total laba perusahaan dan merupakan dasar pengukuran prestasi yang paling sesuai karena bersifat objektif. Metode ini merupakan dasar yang sesuai dengan konsep pusat laba, terutama jika di pandang dari sudut pengukuran prestasi sebagai dasar aktivitas transfer yang dapat meningkatkan efesiensi suatu unit usaha tanpa merugikan unit usaha yang lain dan dapat memotivasi untuk menghasilkan laba yang wajar secara keseluruhan.

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dalam pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka peneliti dapat menarik kesimpulan, sebagai berikut :

1. Metode penetapan harga transfer yang diterapkan oleh PT.

PLN(PERSERO) Unit Pengaturan Beban (Penyaluran) adalah berdasarkan Harga Pokok (Cost Pricing), setelah semua Manajer yang terlibat yaitu Manajer Pembangkit, Penyaluran, dan Manajer Area melakukan dialog mengenai syarat dan besarnya harga transfer.

2. Harga transfer dari satu unit ke unit lain pada prinsipnya ditetapkan berdasarkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) yaitu rencana biaya operasi dibagi dengan rencana penjualan tenaga listrik (Kwh Jual) sebagaimana tercantum dalam RKAP unit tersebut.

3. Metode penetapan harga transfer berdasarkan Harga Pokok (Cost Pricing) yang diterapkan oleh Unit Penyaluran selama ini mengandung beberapa kelemahan yaitu harga transfer dari satu unit berupa harga rata-rata sehingga tidak dapat memberikan signal yang mengarah pada peningkatan kinerja keuangan sekaligus kinerja operasional, harga transfer yang diterapkan tidak fleksibel terhadap fluktuasi harga dan kurs rupiah padahal ketiga unsur ini merupakan unsur-unsur biaya yang sangat

dominan.Pembebanan biaya untuk menghitung Harga Transfer pada Unit Pengaturan Beban (UPB) terdiri dari harga daya dan harga energi.

4. Bahwa dari total anggaran biaya Harga Transfer pada PT.PLN (Persero) Unit Pengaturan Beban Sistem Sulsel untuk tahun 2012 anggaran sebesar Rp. 2.232.160, Harga rata-rata dari Harga Daya sebesar Rp.119.177,65, WBP sebesar Rp. 766.33 dan LWBP sebesar Rp. 474.89. Jadi Harga rata- rata dari semua Unit sebesar Rp. 87.982,157.

Dokumen terkait