BAB II LANDASAN TEORI
2.1.4 Faktor Internal dengan Pendekatan CAMEL
Menurut (Pandia, 2012) kesehatan suatu bank merupakan kepentingan semua pihak yang terkait, baik pemilik dan pengelola bank, masyarakat, pengguna jasa bank, maupun Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan selaku Pembina dan pengawas bank-bank. Bank yang sehat akan mempengaruhi sistem perekonomian suatu negara secara menyeluruh mengingat bank mengatur peredaran dana ibaratnya seperti ‘jantung’ yang mengatur peredaran darah ke seluruh tubuh manusia. Manfaat dari penilaian tingkat kesehatan bank adalah :
1) Sebagai tolak ukur manajemen bank untuk menilai apakah kinerja bank tersebut telah dilakukan berdasarkan asas-asas perbankan yang sehat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
21
2) Tolak ukur tersebut menentukan arah pembinaan dan pengembangan bank-bank baik secara individual maupun perbankan secara keseluruhan.
Bank-bank perlu dinilai tingkat kesehatannya, karena kegiatan bank berhubungan dengan dana-dana yang berasal dari masyarakat dan kegiatan usahanya sesuai dengan prinsip kepercayaan dari nasabahnya. Tata cara penilaian kesehatan bank diatur dalam Surat Keputusan Direksi BI No. 3/11/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 dan telah diubah menjadi SK Direksi BI tanggal 30 Mei 2004. Bank perlu menerapkan prinsip kehati-hatiannya dalam menjalankan usahanya dan ini diatur pula dalam UU No. 10 Tahun 1998 tentang perbankan pada bab V pasal 29 ayat 2 yang berisi : “Bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kualitas aset, kualitas manajemen, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian”. Tata cara penilaian Kesehatan Bank yang terbaru menurut Peraturan No. 6/10/PBI/2004 dengan menggunakan pendekatan CAMEL yang mencakup :
1. Permodalan (Capital)
2. Kualitas Aset (Asset Quality) 3. Manajemen (Management) 4. Rentabilitas (Earnings) 5. Likuiditas (Liquidity) 2.1.4.1 Aspek Capital
Indonesia Banking School
22
Menurut Pandia, (2012) modal adalah faktor penting bagi suatu perusahaan dalam rangka pengembangan usaha serta untuk menampung risiko yang kemungkinan terjadi. Adapun fungsi modal adalah :
1. Mengukur kemampuan bank dalam menyerap kerugian yang tidak dapat diharapkan.
2. Sebagai sumber dana yang diperlukan untuk membiayai usaha.
3. Sebagai alat pengukur besar kecilnya kekayaan bank atau kekeyaan pemegang saham.
4. Dengan modal yang mencukupi memungkinkan bagi manajemen bank untuk bekerja dengan efisiensi yang tinggi.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan Capital Adequacy Ratio yang dapat memperlihatkan seberapa jauh seluruh aktiva bank yang mengandung risiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank, di samping memperoleh dana-dana dari sumber- sumber di luar bank, seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain (Dendawijaya, 2005).
Dalam menilai capital suatu bank peneliti menggunakan Capital Adequacy Ratio (CAR) yang dapat dihitung dengan rumus berdasarkan SE BI No. 12/11/DPNP tahun 2010 sebagai berikut:
CAR =Aktiva Tertimbang Menurut ResikoModal x 100% (2.3)
2.1.4.2 Aspek Asset Quality
Menurut Pandia, (2012) asset adalah hal yang tidak kalah pentingnya
23
dibandingkan dengan modal, karena asset menopang jalannya usaha bank. Dalam penelitian ini menggunakan rasio NPL (Non Performing Loan), rasio ini menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Rasio itu dirumuskan sesuai SE BI No. 12/11/DPNP tahun 2010 :
NPL =Kredit Bermasalah
Total Kredit x 100% (2.4)
2.1.4.3 Aspek Management
Merupakan rasio yang diukur dengan menggunakan Net Profit Margin (NPM). Hal ini berdasarkan pada seluruh kegiatan manajemen suatu bank yang mencakup manajemen umum, manajemen risiko dan kepatuhan bank yang mempengaruhi perolehan laba. Net Profit Margin menggambarkan tingkat keuntungan yang diperoleh bank dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya. Rasio ini dapat dihitung dengan rumus :
NPM = Laba Bersih
Pendapatan Operasional x 100% (2.5) 2.1.4.4 Aspek Earnings
Earnings adalah suatu alat untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan laba dengan membandingkan laba dengan aktiva atau modal periode tertentu, earnings juga menunjukkan bagaimana manajemen perusahaan mempertanggungjawabkan modal yang diserahkan kepada pemilik modal kepada perusahaan (Pandia, 2012).
Indonesia Banking School
24
Disini peneliti menggunakan rasio BOPO guna menilai rentabilitas/earnings bank. BOPO digunakan untuk melihat perbandingan antara beban operasional dan pendapatan operasional. Rasio yang sering disebut rasio efisiensi ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Mengingat kegiatan utama bank pada prinsipnya adalah bertindak sebagai perantara, yaitu menghimpun dan menyalurkan dana, maka beban dan pendapatan operasional bank didominasi oleh biaya bunga dan hasil bunga, (Dendawijaya, 2005). Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Besarnya nilai BOPO dapat dihitung dengan rumus berdasarkan SE BI No. 12/11/DPNP tahun 2010 sebagai berikut:
BOPO = Biaya Operasional
Pendapatan Operasional x 100% (2.6)
2.1.4.5 Aspek Liquidity
Likuiditas adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Suatu bank dianggap likuid apabila bank tersebut mempunyai kesanggupan untuk membayar kewajiban jangka pendeknya.
Menurut Rolland I Robinson, dalam Pandia, (2012) menyatakan likuiditas bukan hanya menyangkut kemampuan bank untuk menyediakan uang tunai, baik yang sudah ada di bank bersangkutan (primary reserve) maupun melalui pinjaman, tetapi juga menyangkut kemampuan bank dalam menyediakan aktiva yang mudah
25
dicairkan (secondary reserve). Menurut pengertian diatas, maka suatu bank diberi predikat likuid apabila :
1. Mempunyai primary reserves yang cukup guna memenuhi kebutuhan likuiditas 2. Apabila primary reserves yang dimilikinya tidak mencukupi, bank masih mempunyai secondary reserves yang cukup dam dapat diubah menjadi alat likuid segera dengan tidak menimbulkan kerugian yang berarti.
3. Bank mempunyai kemampuan untuk mendapatkan alat-alat likuid melalui berbagai cara antara lain melalui pinjaman pasar uang (money market)
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Loan Deposit Ratio guna menilai likuiditas bank. LDR adalah seluruh jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank. Semakin tinggi rasio tersebut memberikan indikasi semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan (Dendawijaya, 2005). Rasio ini dapat dihitung dengan rumus berdasarkan SE BI No. 6/23/DPNP tahun 2004 sebagai berikut:
LDR =Jumlah Kredit yang Diberikan
Total Dana Pihak Ketiga x 100% (2.7)