• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

4. Faktor Terjadinya Pernikahan Dini

d. Makruh

Hukum menikah menjadi makruh bagi seseorang yang tidak sanggup memenuhi hak istriseperti lemah syahwat dan tidak mampu memberi nafkah kepada isrinya walaupun tidak merugikannya karena ia kaya dan tidak mempunyai keinginan syahwat yang kuat. Juga bertambah makruh hukumnya jika karena lemah syahwat itu ia berhenti dari melakukan suatu ibadah atau menuntut suatu ilmu.

e. Haram

Pernikahan haram hukumnya bagi orang yang tidak dapat memenuhi hak istri baik hubungan seks maupun nafkah, karena tidak mampu sedangkan hasrat melakukannya cukup besar. Bagi perempuan bila ia sadar bahwa dirinya tidak mampu memenuhi hak-hak suaminya, atau hal-hal yang menyebabkan dia tidak bisa melayani kebutuhan batin suaminya, karena sakit jiwa atau sakit lainnya, maka ia tidak boleh mendustainya. Ia wajib menerangkan semua menerangkan keadaan barang-barangnya yang akan dijual.

Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di garis kemiskinan, untuk meringankan beban orang tua maka anak wanita di kawinkan dengan orang yang dianggap mampu.

2. Faktor Pergaulan Bebas

Pergaulan bebas itu adalah salah satu bentuk perilaku menyimpang yang mana “bebas” yang dimaksud adalah melewati batas-batas norma ketimuran yang ada. Masalah pergaulan bebas ini sering kita dengar baik di lingkungan maupun dari media massa.

Pergaulan bebas juga merupakan sisi paling menakutkan bagi orang tua terhadap anak remaja mereka. Dorongan seksual rasa ingin tahu yang besar, namun tidak disertai pengetahuan dan pengalaman yang memadai menyebabkan banyak remaja terjerumus melakukan seks bebas.

3. Faktor Orang tua (perjodohan)

Walaupun orang tua mempunyai hak untuk menikahkan anaknya, tapi mereka tidak sewenang-wenang memilih tanpa ada pertimbangan dahulu dari anak-anaknya. Agar terjadi kemaslahatan umur dalam melakukan pernikahan yang benar-benar berdasarkan atas suka sama suka tanpa paksaan dari orang tua, karena yang demikian akan menimbulkan rasa tanggung jawab atas diri masing- masing.

4. Faktor Kemauan Sendiri

Pernikahan pada usia muda yang dilakukan bukan karena paksaan orang tua untuk segera menikahkan anak, namun karena keinginan anak sendiri, sebab kelakuan yang sudah mereka jalani tidak sesuai dengan usia remaja. Menikah dini adalah sebuah pilihan, pilihan hidup yang akan dilalui setiap orang, pilihan untuk segera menikah karena sudah bertemu dengan orang yang cocok dan siap untuk menikah.

5. Faktor Pendidikan

Tingkat pendidikan yang rendah atau tidak melanjutkan sekolah lagi bagi seorang wanita dapat mendorong untuk cepat-cepat menikah. Permasalahan yang terjadi karena mereka tidak mengetahui seluk beluk perkawinan sehingga cenderung untuk cepat berkeluarga dan melahirkan anak. Selain itu tingkat pendidikan keluarga juga dapat memengaruhi terjadinya perkawinan usia muda. Perkawinan usia muda juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan masyarakat secara.13

Dari penjelasan diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan yang rendah sangat mempengaruhi terjadinya pernikahan dini.

5. Pengertian Dampak Pernikahan Dini

13Nurul Izzah, ” Dampak Sosial Pernikahan Dini Di Kelurahan Samalewa Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan” (Skripsi Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Uin Alauddin Makassar 2016), h.26-28.

Secara etimologi, pernikahan berarti persetubuhan. Ada pula yang mengartikannya perjanjian (al-„Aqdu). Secara terminologi pernikahan menurut Abu Hanifa adalah : “‟Aqad yang dikukuhkan untuk memperoleh kenikmatan dari seorang wanita, yang dilakukan dengan sengaja”.

Pengukuhan disini maksudnya adalah ketetapan pembuat syariah, bukan sekedar pengukuhan yang dilakukan oleh dua orang yang saling membuat

„aqad (perjanjian) yang bertujuan hanya sekedar untuk mendapatkan kenikmatan semata.

Menurut mazhab Maliki, pernikahan adalah : “Aqad yang dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan dari wanita. Dengan „aqad tersebut seseorang akan terhindar dari perbuatan haram (zina). Menurut mazhab Syafi‟i pernikahan adalah: „‟Aqad yang menjamin diperbolehkannya persetubuhan”. Sedangkan menurut mazhab Hambali adalah: „‟Aqad yang di dalamnya terdapat lafazh pernikahan secara jelas, agar diperbolehkannya bercampur”.14

Kalau kita perhatiakan keempat definisi tersebut jelas, bahwa yang menjadi inti pokok pernikahan itu adalah „aqad (perjanjian) yaitu serah trima antara orang tua calon mempelai wanita dengan calon mempelai pria. Penyerahan dan penerimaan tanggung jawab dalam arti luas, telah terjadi pada saat „aqad nikah itu, di samping penghalalan bercampur keduanya sebagai suami-istri.Pernikahan menjadikan manusia itu saling

14M. Ali Hasan, Pedoman Hidup Berumah Tangga Dalam Islam, ( Jakarta: Siraja, 2006), h.

11-12

berpasangan untuk dapat membentuk keluarga. Pernikahan menjadikan kehalalan bagi hubungan manusia agar tidak terjerumus ke dalam zina.

Ta‟rif perkawinan yaitu akad yang menghalalkan pergaulan dan membatasi hak dan kewajiban sett bertolong-tolongan antara seorang laki- laki dan perempuan yang antara keduanya bukan muhrim. Dalam bahasa Indonesia, perkawinan berasal dari kata “kawin” yang menurut bahasa artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis, melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh. Perkawinan disebut juga “pernikahan”, berasal dari kata “nikah” yang menurut bahasa artinya mengumpulkan, saling memasukkan, dan digunakan untuk arti bersetubuh (wathi). Kata “nikah”

sendiri sering dipergunakan untuk persetubuhan (coitus).15

Perkawinan atau pernikahan dalam literatur fiqih bahasa Arab sendiri disebut dengan dua kata yaitu nikah dan zawad. Kedua kata ini kata yang terpakai dalam kehidupan sehari-hari orang Arab dan

banyak terdapat dalam Al-Qur‟an dan hadits Nabi.16Kata na-ka-ha banyak terdapat dalam Al-Qur‟an dengan arti kawin, seperti dalam surat An-Nisa‟

ayat 3:

نِإو فِخ مُت قُت َّلََّأ لٱ يِف ْاىُطِس َهِّم مُكَل َباَط اَم ْاىُحِكوٱَف َٰىَمََٰتَي

اَسِّىلٱ ثَم ِء َعََٰتُزَو َثََٰلُثَو َٰىَى نِإَف

فِخ مُت عَت َّلََّأ وَأ ًجَدِح ََٰىَف ْاىُلِد

اَم ْاىُلىُعَت َّلََّأ َٰىَو دَأ َكِل ََٰذ مُكُى ََٰم يَأ تَكَلَم

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian

15Muhammad Ali, Fikih Munakahat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016) h. 15-16.

16 Amir Syarifuddin, “Garis-Garis Besar Fiqih”, (Jakarta: Prenada Media), h. 73

jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.17

Pengertian fiqih, pernikahan adalah akad yang mengundang kebolehan melakukan hubungan suami istri dengan kata-kata nikah atau dengan kata- kata yang semakna dengan itu. Sedangkan perkawinan menurut agama adalah melakukan akad atau perjanjian untuk mengikat diri antara seorang laki-laki dan seorang wanita untuk menghalalkan hubungan kelamin antara kedua belah pihak untuk mewujudkan suatu kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa kasih dan sayang dan ketentraman dengan cara-cara yang diridhoi Allah.18

Allah swt berfirman dalam QS. An-Nuur/24: 32.

َ لٱ ْاىُحِكوَأَو مُكىِم َٰىَمََٰي

هِم َهيِحِل ََّٰصلٱَو مُكِداَثِع

اَمِإَو مُكِئ

نِإ ميِلَع ٌعِس ََٰو ُ َّللَّٱَو ِهِل ۦ ضَف هِم ُ َّللَّٱ ُمِهِى غُي َء اَسَقُف ْاىُوىُكَي

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang- orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hambamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (PemberianNya) lagi Maha Mengetahui”.19

Nikah adalah salah satu kebutuhan hidup yang utama dalam pergaulan atau masyarakat yang sempurna, bukan saja pernikahan itu satu jalan yang amat mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan turunan. Tetapi pernikahan itu dapat dipandang sebagai suatu jalan menuju pintu

17 QS. An- Nisa : 3

18Siti Maleha, “Dampak Psikologis Pernikahan Dini dan Solusinya Dalam PerspektifBimbingan Konseling Islam” (Skripsi Sarjana, Fakultas Dakwah, Institut Agama Islam NegeriWalisongo, Semarang, 2010), h. 16

19 QS. An – Nur : 32

perkenalan itu akan menjadi jalan untuk saling tolong-menolong antara satu sama lain.

Menikah atau perkawinan adalah sunnatullah bagi umat Rassulullah SAW. Dengan pernikahan Allah berharap mereka yang melakukan pernikahan dapat menjalani kehidupan dengan penuh kedamaian. Umat manusia dianjurkan untuk menikah dikarenakan untuk menjaga pandangan mata yang salah dan melindungi syahwat. Menurut pandangan islam, pernikahan itu sebagai perbuatan ibadah, dan juga merupakan sunnatullah dan sunnah Rasul.

Sunnatul Allah, berarti menurut qodrat dan iradat Allah dalam penciptaan alam ini, sedangkan sunnah Rasul merupakan suatu tradisi yang telah ditetapkan oleh Rasul untuk dirinya sendiri dan umatnya. Oleh karena itu, menikah adalah sunnatullah pada hamba-hamba- Nya. Dengan pernikahan Allah menghendaki agar mereka mengemudikan bahtera kehidupan.

Tetapi Allah SWT, tidak menghendaki perkembangan dunia berjalan sekehendaknya. Oleh sebab itu, diatur-Nya naluri pada manusia dan dan dibuatlah sebuah prinsip-prinsip dan undang-undang, sehinggah nilai kemanusiaan tetap utuh, bahkan semakin baik. Namun segala sesuatu yang ada pada jiwa manusia sebenarnya tidak satupun terlepas dari bimbingan dan campur tangan Allah SWT.

6. Dampak Pernikahan Dini

Dampak adalah pengaruh kuat yang mendatangkan akibat, baik maupun positif baik positif maupun negatif. Dari kacamata psikologi, pernikahan di usia muda adalah motivator untuk meningkatkan potensi diri dalam segala aspek positif. Dengan adanya cinta kasih yang di dapat dari pernikahan menimbulkan rasa aman, nyaman yang akan memberikan dampak mental bagi seseorang yang melakukan pernikahan. Individu yang hidup dalam lingkungan sosia yang diwarnai dengan suasana cinta kasih, akan menjadi seseorang yang bisa menyayangi dan menghargai orang lain.20

Dampak perkawinan usia muda akan menimbulkan hak dan kewajiban diantara kedua belah pihak, baik dalam hubungannya dengan mereka sendiri, terhadap anak – anak, maupun terhadap keluarga mereka masing – masing. Dampak pernikahan usia dini diantaranya:

a. Dampak terhadap suami istri

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada pasangan suami istri yang telah melangsungkan perkawinan di usia muda tidak bisa memenuhi atau tidak bisa memenuhi atau tidak mengetahui hak dan kewajibannya sebagai suami istri. Hal tersebut timbul dikarenakan belum matangnya fisik maupun mental mereka yang cenderung keduanya memiliki sifat keegoisan yang tinggi.

b. Dampak terhadap anak – anaknya

20 Agoes Dariyo, “Psikologi Perkembangan Dewasa Muda”,(Jakarta: Grasindo Anggota Ikapi, 2003), hlm.135.

Masyarakat yang telah melangsungkan perkawinan pada usia muda atau di bawah umur akan membawa dampak. Selain berdampak pada pasangan yang melangsungkan perkawinan pada usia muda, perkawinan usia muda juga berdampak pada anak – anaknya. Karena bagi wanita yang melangsungkan perkawinan di bawah usia 20 tahun, bila hamil akan mengalami gangguan – gangguan pada kandungannya dan banyak juga dari mereka yang melahirkan anak.

c. Dampak terhadap masing – masing keluarga

Selain berdampak pada pasangan suami-istri dan anak- anaknya perkawinan di usia muda juga akan membawa dampak terhadap masing – masing keluarganya. Apabila perkawinan diantara anak- anak mereka lancar, sudah barang tentu akan menguntugkan orang tuanya masing – masing. Namun apabila sebaliknya keadaan rumah tangga mereka tidak bahagia dan akhirnya yang terjadi adalah perceraian. Hal ini akan mengakibatkan bertambahnya biaya hidup mereka dan yang paling parah lagi akan memutuskan tali kekeluargaan diantara kedua belah - pihak.

B. Pola Asuh Anak

1. Pengertian Pola Asuh

Pola asuh yaitu cara-cara atau bentuk pengasuhan anak menurut Cabib Thoha dalam Mangoenprasodjo bahwa, pola asuh merupakan suatu cara yang terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dan rasa tanggung jawab kepada anak.

Solaieman menyatakan, pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan anaknya, sikap ini dapat dilihat dari berbagai segi antara lain cara orang tua memberikan peraturan kepada anak, cara memberikan hadiah, dan hukuman dan cara orang tua.

Menurut Soekirman Mangoenprasodjo Pola asuh adalah kemampuan keluarga dan masyarakat untuk menyediakan waktu, perhatian dan ukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang sebaik-baiknya secara fisik, mental dan sosial.

Anak akan mengalami pertumbuhan secara alamiah dalam kehidupannya, walaupun demikian anak masih sangat tergantung pada keberadaan orang dewasa. Pola asuh akan sangat berpengaruh pada proses tumbuh kembangnya anak yang hidup dalam keluarga yang penuh dengan kasih sayang dan yang selalu di bawah tekanan akan berada dalam perkembangannya.21

Pola asuh anak dalam hal sikap dan perilaku ibu atau pegasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak memberikan makanan, merawat kebersihan, semuanya itu berhubungan dengan keadaan ibu dalam hal

21 Abu Al-Ghifari, “Pernikahan Dini Dilema Generasi Ekstravagansa”, (Bandung: Renika Cipta, 2004), h. 65.

kesehatan (fisik mental) status gizi, pendidikan umum keluarga dan masyarakat untuk pengetahuan tentang pengasuhan anak yang baik, peran dalam keluarga atau di masyarakat, sifat pekerjaan sehari-hari, adat kebiasaan keluarga dan masyarakat membagi kasih sayang dan sebagainya seibu atau pengasuhan anak.

2. Bentuk Pola Asuh

Secara garis besar pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya dapat digolongkan menjadi:

a. Pola asuh otoriter

Yang dimaksud adalah setiap orang tua dalam mendidik anak mengharuskan setiap anak patuh tunduk terhadap setiap kehendak orang tua. Anak tidak diberi kesempatan untuk menanyakan segala sesuatu yang menyangkut tentang tugas, kewajiban dan hak yang diberikan kepada dirinya.

b. Pola asuh demokrtis

Yang dimaksud adalah sikap orang tua yang mau mendengarkan pendapat anaknya, kemudian dilakukan musyawarah antara pendapat orang tua dan pendapat anak lalu diambil suatu kesimpulan secara bersama, tanpa ada yang merasa terpaksa.

c. Pola asuh permisif

Yang dimaksud dengan sikap orang tua dalam mendidik anak memberikan kebebasan secara mutlak kepada anak dalam bertindak tanpa ada pengarahan sehingga bagi anak yang perilakunya menyimpang akan menjadi anak yang tidak diterima di masyarakat karena dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.22

Dapat disimpulkan bahwa pola asuh permisif merupakan pola asuh yang memberikan kebebasan kepada anak sehingga anak tidak memiliki arahan yang baik di lingkungannya.

3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Anak

Menurut Rabiatul Adawiyah ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pola asuh orang tua, yaitu karakteristik orang tua yang berupa: 23

1. Kepribadian orang tua

Setiap orang berbeda dalam tingkat energi, kesabaran, intelegensi, sikap dan kematangannya. Karakteristik tersebut akan mempengaruhi kemampuan orang tua untuk memenuhi tuntutan peran sebagai orang tua dan bagaimana tingkat sensifitas orang tua terhadap kebutuhan anak-anaknya.

2. Keyakinan

22 Puji Astuti, Jurnal, “Pola Asuh Anak Dalam Keluarga (Studi Kasus Pada Pengamen Anak – Anak di Kampung Jlagran, Ygyakarta)”, Dosen Pendidikan Sosiologi Fise UNY, Dimensia, Vol. 2, No. 1, Maret 2008, h. 53-52.

23 Rabiatul Adawiyah, “Pola Asuh Orang Tua Dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Anak”, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, Vol.7, No.4/ mei 2017, 36.

Keyakinan yang dimiliki orang tua mengenai pengasuhan akan mempengaruhi nilai dari pola asuh dan akan mempengaruhi tingkah lakunya dalam mengasuh anak-anaknya.

3. Persamaan dengan pola asuh yang diterima orang tua

Bila orang tua merasa bahwa orang tua mereka dahulu berhasil menerapkan pola asuhnya pada anak dengan baik, maka mereka akan menggunakan teknik serupa dalam mengasuh anak bila mereka merasa pola asuh yang digunakan orang tua mereka tidak tepat, maka orang tua akan beralih ke teknik pola asuh yang lain:

a. Penyesuaian dengan cara disetujui kelompok

Orang tua yang baru memiliki anak atau yang lebih muda dan kurang berpengalaman lebih dipengaruhi oleh apa yang dianggap anggota kelompok (bisa berupa keluarga besar, masyarakat) merupakan cara terbaik dalam mendidik anak.

b. Usia orang tua

Orang tua yang berusia muda cenderung lebih demokratis dan permissive bila dibandingkan dengan orang tua yang berusia tua.

c. Pendidikan orang tua

Orang tua yang telah mendapatkan pendidikan yang tinggi, dan mengikuti kursus dalam mengasuh anak lebih menggunakan teknik pengasuhan authoritative dibandingkan dengan orang tua yang

tidak mendapatkan pendidikan dan pelatihan dalam mengasuh anak.

d. Jenis kelamin

Ibu pada umumnya lebih mengerti anak dan mereka cenderung kurang otoriter bila dibandingkan dengan bapak.

e. Status sosial ekonomi

Orang tua dari kelas menengah dan rendah cenderung lebih keras, mamaksa dan kurang toleran dibandingkan dengan orang tua dari kelas atas.

f. Konsep mengenai peran orang tua dewasa

Orang tua yang yang dicari atau dikumpulkan bersifatb kualitatif.

Penelitian kualitatif di samping dapat mengungkap dan mendeskripsikan peristiwa-peristiwa riil di lapangan, juga dapat mengungkapkan nilai-nilai mempertahankan konsep tradisional cenderung lebih otoriter dibanding orang tua yang menganut konsep modern.

g. Jenis kelamin anak

Orang tua umumnya lebih keras terhadap anak perempuan daripada anak laki-laki.

h. Usia anak

Usia anak dapat mempengaruhi tugas-tugas pengasuhan dan harapan orang tua.

i. Temperamen

Pola asuh yang diterapkan orangtua akan sangat mempengaruhi temperamen seorang anak. Anak yang menarik dan dapat beradaptasi akan berbeda pengasuhannya dibandingkan dengan anak yang cerewet dan kaku.

j. Kemampuan anak

Orang tua akan membedakan perlakuan yang akan diberikan untuk anak yang berbakat dengan anak yang memiliki masalah dalam perkembangannya.

k. Situasi

Anak yang mengalami rasa takut dan kecemasan biasanya tidak diberi hukuman oleh orang tua. Tetapi sebaliknya, jika anak menentang dan berperilaku agresif kemungkinan orang tuaakan mengasuh dengan pola outhoritatif. Yang dimaksut pola Outhoritatif adalah mendorong anaknya untuk menjadi independen tetapi masih membatasi dan mengontrol tindakan anaknya.

Peneliti dapat menarik kesimpulan faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh anak yaitu, kepribadian orang tua, keyakinan, persamaan dengan pola asuh yang diterima orang tua, sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang seorang anak.

4. Peran Keluarga Dalam Pola Asuh Anak

Peran keluarga dalam pola asuh anak menurut Istina Rakhmawati, adalah sebagai berikut:24

a. Memberikan Keteladanan

Karena anak usia dini sangat sensitif terhadap rangsangan dari luar, maka perilaku dan sepak terjang orang tua sangat berpengaruh terhadap anak. Cara orang tua dalam berbicara, berperilaku, dan bergaul dengan orang lain menjadi cermin bagi anak.

b. Menjadikan Rumah Sebagai Taman Ilmu

Rumah adalah tempat lahir, tumbuh dan berkembangnya seorang anak. Melalui rumahlah pendidikan dimulai. Jika rumah mampu menjadi sumber ilmu, amal, dan perjuangan anak, maka anak akan tumbuh menjadi kader yang andal, mantap, dan penuh prestasi.

c. Menyediakan Wahana Kreativitas

Anak membawa ciri khasnya sendiri-sendiri. Ia memiliki kelebihan dan keunggulan yang khas yang tidak ada pada orang lain. Namun, banyak anak tidak menyadarinya, begitu juga orang tua. Mereka tidak menyadari bakat hebat yang ada pada anak. Padahal, jika terasah dengan baik akan menjadi faktor kesuksesan dan kegemilanganya di masa depan. Di sinilah pentignya menyediakan wahana kreativitas anak.

24 Istina Rakhmawati, “Peran Keluarga dalam Pengasuhan Anak”, Vol. 6, No. 1, Juni 2015, 10-12.

d. Menghindari Emosi yang Negatif

Emosi yang negatif seperti marah, kecewa, dan tersinggung adalah hal-hal alami yang ada pada setiap manusia. Namun, jika tidak bisa mengendalikannya, maka sanagt berbahaya, terlebih apabila dilakukan dihadapan anak.

Dari beberapa uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa peran keluarga dalam pola asuh anak, keluarga sangat berpengaruh bagi perkembangan psikologi dan psikomotorik bagi anak.

5. Fungsi Keluarga Dalam Pola Asuh Anak

Menurut Puji Lestari fungsi keluarga dalam pola asuh anak berdasarkan pendekatan budaya dan sosiologis adalah sebagai berikut :25

a. Fungsi Pendidikan

Fungsi pendidikan mengharuskan setiap orang tua untuk mengkondisikan kehidupan keluarga menjadi situasi pendidikan, sehingga terdapat proses saling belajar di antara anggota keluarga.

Dalam situasi ini orang tua menjadi pemegang peran utama dalam proses pembelajaran anakanaknya, terutama di kala mereka belum dewasa. Kegiatannya antara lain melalui asuhan, bimbingan, dan teladan.

b. Fungsi Beragama

Fungsi beragama berkaitan dengan kewajiban orang tua untuk mengenalkan, membimbing, memberi teladan dan melibatkan anak

25 Puji Lestari, “Pola Asuh Anak Dalam Keluarga”, Dimensia, Vol.2, No. 1, Maret 2008, 54-56.

serta anggota keluarga lainnya mengenai kaidah-kaidah agama dan perilaku keagamaan. Fungsi ini mengharuskan orang tua, sebagai seorang tokoh inti dan panutan dalam keluarga, untuk menciptakan iklim keagamaan dalam kehidupan keluarganya.

c. Fungsi Perlindungan

Fungsi perlindungan dalam keluarga ialah untuk menjaga dan memelihara anak dan anggota keluarga lainnya dari tindakan negatif yang mungkin timbul. Baik dari dalam maupun dari luar kehidupan keluarga

d. Fungsi Sosialisasi Anak

Fungsi sosialisasi berkaitan dengan mempersiapkan anak untuk menjadi anggota masyarakat yang baik. Dalam melaksanakan fungsi ini, keluarga berperan sebagai penghubung antara kehidupan anak dengan kehidupan sosial dan norma-norma sosial, sehingga kehidupan di sekitarnya dapat dimengerti oleh anak, sehingga pada gilirannya anak berpikir dan berbuat positif di dalam keluarga dan terhadap lingkungannya.

e. Fungsi Kasih Sayang

Keluarga harus dapat menjalankan tugasnya menjadi lembaga interaksi dalam ikatan batin yang kuat antara anggotanya, sesuai dengan status dan peranan sosial masing-masing dalam kehidupan keluarga itu. Ikatan batin yang dalam dan kuat ini, harus dapat dirasakan oleh setiap anggota keluarga sebagai bentuk kasih sayang.

Dalam suasana yang penuh kerukunan, keakraban, kerjasama dalam menghadapi berbagai masalah dan persoalan hidup.

f. Fungsi Ekonomis

Fungsi ini menunjukkan bahwa keluarga merupakan kesatuan ekonomis. Aktivitas dalam fungsi ekonomis berkaitan dengan pencarian nafkah, pembinaan usaha, dan perencanaan anggaran biaya, baik penerimaan maupun pengeluaran biaya keluarga.

g. Fungsi Rekreatif

Suasana Rekreatif akan dialami oleh anak dan anggota keluarga lainnya apabila dalam kehidupan keluarga itu terdapat perasaan damai, jauh dari ketegangan batin, dan pada saat-saat tertentu merasakan kehidupan bebas dari kesibukan sehari-hari.

h. Fungsi status keluarga

Fungsi ini dapat dicapai apabila keluarga telah menjalankan fungsinya yang lain. Fungsi keluarga ini menunjuk pada kadar kedudukan (status) keluarga dibandingkan dengan keluarga lainnya.

Dari penjelasan diatas fungsi keluarga dalam pola asuh anak yaitu keluarga sebagai faktor utama dan faktor penting bagi terbentuknya karakter, sifat serta watak yang baik untuk anak.

C. Dampak Pernikahan Dini Terhadap Pola Asuh Anak

Pernikahan dini pasti akan berdampak pada pola asuh anak. Menurut Heri Cahyono & Eka Dewi dampak yang ditimbulkan adalah pasangan suami istri yang menikah muda, belum memiliki pemikiran yang dewasa dan

Dokumen terkait