• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fokus Kesejahteraan Masyarakat 1) Pendidikan

Dalam dokumen DAFTAR ISI (Halaman 58-62)

BAB X. PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN

II- 1 BAB 2

1) Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian

2.2.2. Fokus Kesejahteraan Masyarakat 1) Pendidikan

a. Angka Melek Huruf

Angka Melek Huruf (dewasa) adalah proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dalam huruf latin atau lainnya. AMH dapat digunakan untuk:

II-27

(i) Mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf, terutama di daerah pedesaan di Indonesia dimana masih tinggi jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat SD.

(ii) Menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media.

(iii)Menunjukkan kemampuan dalam berkomunikasi secara lisan dan tertulis. Sehingga angka melek huruf dapat mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah.

Capaian kinerja angka melek huruf didukung dengan program seperti penyelenggaraan kejar paket A, B dan C serta melalui keaksaraan fungsional, pelaksanaan beberapa pelatihan kecakapan hidup serta peningkatan kualitas pendidikan informal seperti pelatihan pengelolaan kursus-kursus yang ada di Kabupaten Blitar. Berikut adalah grafik angka melek huruf Kabupaten Blitar.

Gambar 2.12

Angka Melek Huruf Kabupaten Blitar (%) Tahun 2011-2015

Sumber: Dinas Pendidikan Kab. Blitar, 2016

b. Angka Rata-Rata Lama Sekolah

Angka rata-rata lama sekolah merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menghitung angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Dengan adanya metode baru dalam penghitungan angka IPM, angka rata- rata lama sekolah kabupaten Blitar pada awal periode tahun 2011 adalah

95% 95%

97%

98% 98%

2011 2012 2013 2014 2015

II-28

6,52 tahun. Indikator ini mengalami peningkatan setiap tahunnya, dengan kondisi sampai dengan akhir tahun 2015 mencapai 7,24 tahun.

Capaian kinerja tersebut didukung dengan program seperti pelatihan kecakapan hidup, penyelenggaraan kegiatan kejar paket B dan C, serta rintisan wajib belajar pendidikan menengah 12 tahun. Berikut adalah grafik angka rata-rata lama sekolah Kabupaten Blitar.

Gambar 2.13

Angka Rata-Rata Lama Sekolah (Tahun) Kabupaten Blitar Tahun 2011-2015

Sumber: BPS Kabupaten Blitar, 2016 (diolah)

c. Angka Partisipasi Kasar

Angka Partisipasi Kasar (APK), menunjukkkan partisipasi penduduk yang sedang mengenyam pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikannya.

APK merupakan persentase jumlah penduduk yang sedang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan (berapapun usianya) terhadap jumlah penduduk usia sekolah yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut.

Tabel 2.10

Angka Partisipasi Kasar (%) Tahun 2011-2015 Kabupaten Blitar

Indikator 2011 2012 2013 2014 2015

APK SD/MI dan Paket A 99 99 99 99 123

APK SMP/MTs dan Paket B 98 98 99 9999 108

APK SMA/SMK/MA 39 39 42 5242 41

Sumber: Dinas Pendidikan Kab. Blitar, 2016

6,52 6,59 6,67

6,82

7,24

2011 2012 2013 2014 2015

II-29

APK digunakan untuk mengukur keberhasilan program pembangunan pendidikan yang diselenggarakan dalam rangka memperluas kesempatan bagi penduduk untuk mengenyam pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan.

Nilai APK bisa lebih dari 100% . Hal ini disebabkan karena populasi murid yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan mencakup anak berusia diluar batas usia sekolah pada jenjang pendidikan yang bersangkutan. Sebagai contoh, banyak anak-anak usia diatas 12 tahun, tetapi masih sekolah di tingkat SD atau juga banyak anak-anak yang belum berusia 7 tahun tetapi telah masuk SD.

Adanya siswa dengan usia lebih tua dibanding usia standar di jenjang pendidikan tertentu menunjukkan terjadinya kasus tinggal kelas atau terlambat masuk sekolah. Sebaliknya, siswa yang lebih muda dibanding usia standar yang duduk di suatu jenjang pendidikan menunjukkan siswa tersebut masuk sekolah di usia yang lebih muda atau mungkin bisa jg akibat adanya sistem akselerasi. Pada kondisi APK ini dapat terlihat semakin tinggi tingkat pendidikan, nilai realisasinya semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor seperti masih rendahnya tingkat ekonomi masyarakat yang apada khirnya mengalami kesulitan biaya untuk menlanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.

d. Angka Partisipasi Murni

Angka Partisipasi Murni (APM) adalah persentase jumlah anak pada kelompok usia sekolah tertentu yang sedang bersekolah pada jenjang pendidikan yang sesuai dengan usianya terhadap jumlah seluruh anak pada kelompok usia sekolah yang bersangkutan. Bila APK digunakan untuk mengetahui seberapa banyak penduduk usia sekolah yang sudah dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan di suatu jenjang pendidikan tertentu tanpa melihat berapa usianya, maka APM mengukur proporsi anak yang bersekolah tepat waktu.

Tabel 2.11

Angka Partisipasi Murni (%) Kabupaten Blitar Tahun 2011-2015

Indikator 2011 2012 2013 2014 2015

APM SD/MI 92 95 95 97 108

APM SMP/MTs 80 80 81 81 84

APM SMA/SMK/MA 36 36 40 40 40

Sumber: Dinas Pendidikan, 2016

II-30

Bila seluruh anak usia sekolah dapat bersekolah tepat waktu, maka APM akan mencapai nilai 100. Secara umum, nilai APM akan selalu lebih rendah dari APK karena nilai APK mencakup anak diluar usia sekolah pada jenjang pendidikan yang bersangkutan. Selisih antara APK dan APM menunjukkan proporsi siswa yang terlambat atau terlalu cepat bersekolah.

Peningkatan akses pendidikan juga diikuti dengan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang ditandai dengan meningkatnya APM. Capaian APM Kabupaten Blitar tahun 2015 belum sesuai dengan target yang ditetapkan. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal diantaranya :

• Pola pikir sebagian besar masyarakat Kabupaten Blitar yang beranggapan bahwa kualitas lembaga pendidikan di luar Kabupaten Blitar lebih baik, sehingga sebagian besar masyarakat Kabupaten Blitar menyekolahkan putra putrinya di luar Kabupaten Blitar.

• Adanya pola pikir anak-anak usia sekolah yang beranggapan bahwa sekolah di luar Kabupaten Blitar lebih prestise dari pada sekolah di Kabupaten Blitar.

• Adanya kebijakan pendidikan gratis di luar Kabupaten Blitar, sehingga secara tidak langsung berpengaruh terhadap keputusan orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya di luar Kabupaten Blitar.

Untuk meningkatkan APM di Kabupaten Blitar, Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar terus membenahi dan melengkapi sarana dan prasarana pendidikan di Kabupaten Blitar serta mensosialisasikan prestasi-prestasi sekolah yang ada di Kabupaten Blitar.

Dalam dokumen DAFTAR ISI (Halaman 58-62)