• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Obyek Penelitian

Dalam dokumen sholawat, seni dan pendidikan agama islam (Halaman 60-74)

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

A. Gambaran Obyek Penelitian

1. Sejarah Ahbaabul Musthofa Jember52

Sejarah Jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember bermula dari sebuah Jamiyah Manaqib yang ada Desa Curah Malang Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember. Jamiyah manaqib ini terbentuk pada kisaran tahun 1980-an, jauh sebelum jamiyah sholawat itu terbentuk. Namun dari jamiyah manaqib inilah ‗keguyuban‘ masyarakat di daerah Curah Malang terbentuk, yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya kesatuan dan menjadi pembuka jalan bagi perkembangan jamiyah sholawat pada masa berikutnya.

Jamiyah manaqib ini dibentuk oleh Gus Nasikh yang merupakan putra dari Kyai Abdul Hamid, Pasuruan. Beliau memperistri Nyai Mutmainnah, yang merupakan adik dari Kyai Nurus Sholih (Gus Sholeh).

Manaqib rintisan Gus Nasikh ini tidak jauh berbeda dengan pembacaan manaqib ala Kyai Abdul Hamid. Kegiatannya diisi dengan pembacaan Nurul Burhan serta menelusuri riwayat dan jejak hidup dari Syech Abdul Qadir al-Jailani.

51Data merupakan hasil reproduksi penulis atas hasil wawancara pada tanggal 11, 12 dan 17 Juni 2016, dikarenakan pengurus tidak memiliki data tertulis terkait profil jamiyah.

52 Gus Abrori, Wawancara, Jember, 12 Juni 2016, Pukul 11.03 WIB.

Jamiyah manaqib saat itu masih sederhana, kepengurusannya tidak bisa diketahui dengan pasti karena peran Gus Nasikh kala itu sangat dominan sehingga setiap kinerja jamiyah tentu harus memperoleh persetujuan dari beliau. Namun jamiyah manaqib kala itu sudah cukup berkembang. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya cabang yang ada di daerah sekitarnya, seperti daerah Nogosari, Gumelar serta Balung. Namun pusat jamiyah manaqib bentukan Gus Nasikh berlokasi di Desa Curah Malang tersebut.

Kegiatan manaqib Gus Nasikh diawali dengan pembacaan Sholawat Burdah, yang kemudian secara berturut turut diisi dengan pembacaan Istighosah, Surat Yasin, Manaqib, Tahlil kemudian Do‘a serta pengajian (mauizhoh) bagi para jamaah. Model manaqib ini merupakan model manaqib komplit yang mengadopsi model manaqib ala Kyai Abdul Hamid, Pasuruan. Kegiatannya dilaksanakan setiap Minggu Kliwon dan tempat acaranya keliling, artinya dilaksanakan secara bergantian dari rumah ke rumah setiap jamaah.

Hingga pada tahun 1990-an, Gus Nasikh wafat, sehingga kegiatan manaqib di Desa Curah Malang sempat vakum beberapa waktu. Kemudian Gus Sholeh sebagai kakak tertua sekaligus ipar dari Gus Nasikh menggantikan Gus Nasikh sebagai muaziz pada jamiyah tersebut. Pada masa Gus Sholeh ini dibentuk pula Jamiyah Rotiban yang dilaksanakan pada tiap Malam Sabtu dan berlokasi di rumah Gus Sholeh sendiri. Namun

kegiatan rotiban ini tidak meninggalkan kegiatan manaqib yang lebih dulu terbentuk.

Perkembangan jamiyah yang semakin baik membuat Gus Sholeh membentuk jamiyah yang berbeda namun dengan basic yang sama seperti misalnya jamiyah ROSHO (Rotib dan Sholawat) dan jamiyah MANROSHO (Manaqib, Rotib dan Sholawat), Jamiyah manaqib putra putri serta jamiyah Sholawatan. Gus Sholeh kemudian mengembangkan sholawatannya dengan mempelajari Sholawat Isyhari. Namun pada perkembangannya Sholawat Isyhari ini tidak berhasil bahkan sebelum muncul ke masyarakat.

Pasca kemunculan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf dari Solo yang begitu fenomenal. Sholawatan seperti kembali mengalami zaman keemasannya. Mulai dari Kota Solo, Sholawat ala Habib Syech merambah ke banyak daerah dan kota lain seiring seringnya Beliau mengisi acara sholawatan didaerah lain. Dan yang menarik adalah kemampuan Habib Syech menarik kaum muda untuk berminat bahkan ikut berpartisipasi dalam setiap acara sholawatan Ahbaabul Musthofa dimanapun.

Gus Sholeh yang melihat fenomena ini menjadi tertarik untuk mengikuti jejak langkah Habib Syech. Sistem dakwah Habib Syech yang menyasar kaum muda menjadi pemicu Gus Sholeh untuk melakukan hal yang serupa, maka kemudian Gus Sholeh mengumpulkan para pemuda serta sebagian jamaah manaqib dan jamaah yang sempat berlatih Sholawat Isyhari untuk kemudian dilatih sholawat ala Habib Syech.

Pada mulanya Gus Sholeh mendatangkan pelatih dari Kecamatan Tanggul untuk melatih teknik menabuh rebana (terbang), yaitu ust. Holik yang juga jamaah dari Habib Nizar bin Muhdor untuk melatih grup sholawat yang baru dibentuk tersebut, kemudian seiring waktu Gus Sholeh kerap mendatangkan salah satu vokal Ahbaabul Musthofa milik Habib Syech. Beberapa diantaranya yaitu Ust. Ulum dari Jepara, Ust. Zaman Suyuti dari Surabaya, Ust. Hamam, Ust. Shofa dan terakhir Ust. Wahid dari Jogjakarta. Para ustad tersebut tidak hanya melatih vokal semata akan tetapi juga teknik pukulan beserta penampilannya. Maka dari situlah terbentuk grup sholawat ala Habib Syech di Desa Curah Malang Kecamatan Rambipuji Kabupaten Jember.

2. Penamaan Ahbaabul Musthofa Jember53

Setelah terbentuk grup sholawat yang sepenuhnya berkiblat pada sholawat ala Habib Syech, Gus Sholeh selaku pengasuh dari jamiyah Ahbaabul Musthofa kebingungan akan nama yang akan disandang oleh jamiyah sholawat ini. Maka pada Bulan Februari tahun 2013, Gus Sholeh menelpon langsung Habib Syech yang ada di Solo dan meminta beliau untuk berkenan memberikan nama bagi jamiyah sholawat bentukannya.

Gus Sholeh tidak secara spesifik meminta nama Ahbaabul Musthofa, namun tidak disangka melalui sambungan telepon ini, Habib Syech berkenan untuk memberikan nama Ahbaabul Musthofa Jember dan menjadikan jamiyah ini sebagai cabang dari Jamiyah Sholawat Ahbabul

53 Gus Abrori, Wawancara, Jember, 12 Juni 2016, Pukul 11.05 WIB.

Musthofa Solo. Habib Syech mengesahkannya dengan pembacaan Surat al- Fatihah oleh Habib Syech secara langsung yang diikuti oleh Gus Sholeh selaku Ketua Jamiyah Sholawat Ahbaabul Musthofa cabang Jember.

Ahbaabul Musthofa berarti Pecinta Nabi Muhammad. Nama ini merupakan nama yang dipakai oleh jamiyah sholawat Habib Syech dari Solo. Namun tidak hanya di Solo semata, nama Ahbaabul Musthofa juga digunakan sebagai nama jamiyah sholawat didaerah atau kota lain yang berkiblat pada model sholawat yang digunakan oleh Habib Syech, kemudian jamiyah ini menjadi cabang Ahbaabul Musthofa Solo, salah satunya seperti Ahbaabul Musthofa Jogjakarta, Ahbaabul Musthofa Madura serta ahbaabul mustthofa Jember, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ahbaabul Musthofa Jember merupakan satu satunya jamiyah

‗resmi‘ yang diakui secara langsung oleh Habib Syech untuk wilayah Jawa bagian timur, maka tidak heran jika jamiyah ini sering mendampingi Habib Syech apabila beliau sedang mendapat undangan sholawatan di daerah Jawa Timur, khususnya daerah Jember dan Banyuwangi, bahkan eksistensi jamiyah ini juga sampai ke Pulau Bali.

Pada hari Selasa, 5 maret 2013, Ahbaabul Musthofa Jember berkesempatan untuk sowan langsung dan bertemu dengan Habib Syech di Sleman Jogjakarta. Jamiyah ini mendemonstrasikan penampilannya pada Habib Syech dan semakin meneguhkan eksistensinya karena Habib Syech

terkesan dengan penampilan jamiyah ini. Kemudian peresmian secara langsung oleh Habib Syech terjadi pada tanggal 7 Januari 2016 di sekretariat Ahbaabul Musthofa Jember, Desa Curah Malang Kecamatan Rambipuji ketika Habib Syech mengunjungi Jember.

3. Tujuan dan Fungsi Ahbaabul Musthofa Jember54

Pertunjukan seni sholawat pada mulanya bertujuan untuk media penyebaran Agama Islam yang dilaksanakan pada setiap acara Maulid Nabi Muhammad yang jatuh pada Bulan Rabi‘ul Awal, Rajaban (memperingati Isro‘ Mi‘roj), Hari Raya Idul Fitri dan hari besar Islam lainnya. Pada perkembangan berikutnya seni sholawat biasa dipertunjukkan pada acara Selametan sebagai sarana penanaman kecintaan kepada Rasulullah SAW serta juga sebagai hiburan alternatif bagi jamaah pada upacara perkawinan, khitanan atau pengajian umum, dan lain sebagainya.

Tujuan dibentuknya jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember ini adalah sebagai wadah untuk lebih mengenalkan pada Nabi Muhammad SAW kepada generasi muda dan masyarakat pada umumnya karena semakin mengenal maka akan tumbuh kecintaan pada Rasulullah SAW yang pada ujungnya akan membuat jamaah mengikuti setiap jejak langkah Sang Rasul dengan menaati berbagai hal yang dicontohkan Rasul. Namun lebih dari sebagai bentuk ibadah, seni sholawat juga mengajarkan jamaah mencintai majelis sholawat, maka secara tidak langsung pagelaran seni

54 Gus Abrori, Wawancara, Jember, 12 Juni 2016, Pukul 11.10 WIB.

sholawat dapat dikategorikan sebagai media Pendidikan Agama Islam yang efektif dalam mendidik masyarakat secara kolektif.

4. Struktur Organisasi dan Job Description Ahbaabul Musthofa Jember55

Ketua Jamiyah Kyai Nurus Sholih

Ust. Nurul Abrori

Ust. Abdul Kholiq H. Nur Salam

Bpk. Taufik Bpk. Chotib

Wakil Ketua Jamiyah

Bendahara Jamiyah Sekretaris Jamiyah

Sound System Koordinator

Wilayah Perlengkapan & Terop

Bpk. Suwito

Jamaah

Dari bagan diatas dapat diketahui jika struktur kepengurusan jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember masih sangat sederhana maka pola komunikasi dan koordinasi yang terbentuk pun juga sederhana dan bersifat fleksibel. Tidak ada kinerja yang secara mengikat dilakoni oleh seorang

55 Abd. Kholiq, Wawancara, Jember, 17 Juni 2016, Pukul 14.36 WIB.

personel, melainkan dilakoni secara bersama-sama, hanya saja peran Ketua jamiyah sangat dominan terhadap berjalannya setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh jamiyah.

Namun yang menarik adalah adanya Koordinator wilayah (Korwil) di masing-masing wilayah jamaah. Korwil yang ada di masing-masing daerah bertugas mengamankan dan menjaga ketertiban jamaah selama prosesi sholawatan berlangsung. Peran keberadaan Korwil sangat dirasakan manfaatnya oleh pengurus jamiyah dalam memastikan jamaah khususnya pemuda dan pemudinya dapat mengikuti jalannya sholawatan secara tertib dan teratur.

Dari segi pembagian tugas (Job Description) bersifat fleksibel, misalnya penabuh alat musik bisa bergantian, begitu pula pembawa lagu atau vokalisnya, dengan kata lain bersifat tidak mengikat. Antara pemain senior dan yunior juga terjalin komunikasi dan kerjasama yang harmonis, serta budaya saling membantu, sehingga jamiyah ini bisa berjalan dengan baik hingga saat ini.

5. Proses Pertunjukan Ahbaabul Musthofa Jember56

Tidak ada prosesi khusus yang dilakukan sebelum mementaskan sholawatan. Semuanya bergantung kepada kemampuan personel yang diasah melalui ketekunan berlatih dan ketulusan hati untuk bersungguh- sungguh menampilkan penampilan terbaik. Namun pada umumnya prosesi

56 Wawancara Ust. Abd. Kholiq pada Jum‘at, 17 Juni 2016, Pukul 14.40 WIB serta Observasi

peneliti pada Senin, 27 Juni 2016, pukul 19.21 WIB.

pagelaran sholawat Ahbaabul Musthofa Jember bersifat fleksibel. Artinya prosesinya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi tertentu tergantung kepada keinginan jamaah yang mengundangnya.

Pagelaran seni sholawat Jamiyah Ahbaabul Musthofa selalu disesuaikan dengan kondisi dan permintaan dari pengundang sehingga prossesi pertunjukannya pun sering kali menyesuaikan pula. Namun idealnya durasi pertunjukan sholawat Ahbaabul Musthofa berlangsung sekitar 3 jam yaitu mulai pukul 19.30 sampai pukul 22.30 WIB. Hal ini dikarenakan jamiyah Ahbaabul Musthofa juga mempertimbangkan aksesibilitas jamaah yang berada jauh dari lokasi sholawatan namun berkeinginan turut serta dalam mengikuti majelis sholawat jam‘iyah Ahbaabul Musthofa dimanapun penampilannya.

Pemain yang dibutuhkan untuk pertunjukan seni sholawat ini minimal sebanyak 13 orang dan maksimal sebanyak 35 orang, terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu Pemain Musik/Penabuh serta pembawa lagu/vokalis. Jalannya sholawatan adalah sebagai berikut: vokal utama membawakan sya‘ir sholawat nabi sambil diiringi tabuhan dari penabuh, setelah itu dijawab oleh anggota lainnya (backing vocal) dengan membawakan syair jawaban. Bahkan untuk menjawab syair jawaban juga terkadang diikuti oleh jamaah, keterlibatan jamaah dalam prosesi ini untuk mengajak jamaah bersholawat bersama serta menjadikan sholawatan semakin meriah.

Secara garis besar, prosesi sholawatan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu sholawatan dan Mauizhotul Hasanah (ceramah). Ada kalanya selain penampilan sholawatan juga diisi dengan ceramah yang disampaikan langsung oleh Gus Sholeh. Namun jika pengundang mendatangkan penceramah dari luar jamiyah sholawat maka jamiyah ini cukup menampilkan pertunjukan sholawatannya saja. Ada juga penampilan sholawatan yang dilakukan secara bergantian antara ceramah dan sholawatan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi rasa bosan jamaah jika penampilannya monoton.

6. Naskah, Alat Musik, Lagu dan Pakaian yang digunakan57

Naskah sholawatan yang digunakan jamiyah Ahbaabul Musthofa terkumpul dalam buku ―Kumpulan Sholawat dan Qashidah Pilihan‖ yang diterbitkan oleh jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember. Didalamnya berisi 88 Sholawat dan Qashidah yang berbahasa Arab, Bahasa Indonesia serta Bahasa Jawa. Selain dari buku kumpulan sholawat tersebut, ada juga buku ROSHO (Rotib dan Sholawat) yang berisi 27 sholawat dan qashidah yang biasa dibawakan oleh jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember.

Selain itu, ada lagi buku yang berisi Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, yang keseluruhannya berbahasa Arab. Sehingga ada 3 buku yang biasa dibaca oleh jam‘iyah sholawat Ahbaabul Musthofa Jember dalam keseluruhan kegiatannya. Khusus untuk naskah sholawatan, hampir

57 Wawancara Abd. Kholiq pada Jum‘at, 17 Juni 2016, Pukul 14.45 WIB serta Observasi peneliti

pada Senin, 27 Juni 2016, pukul 19.21 WIB.

kesemuanya mengacu kepada naskah sholawat yang digunakan oleh Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf dari Solo.

Alat musik yang digunakan jamiyah sholawat Ahbaabul Musthofa yakni berupa: Terbang sebanyak 15 buah, Jedor 1 buah, Tramtam 1 buah dan Keprak sebanyak 5 buah. Sedangkan Lagu yang biasa dimainkan merupakan lagu sholawat yang ada di naskah kumpulan sholawat diatas, nada dan irama easy listening yang rancak dan menarik menjadikan lagu yang dibawakan jamiyah ini mudah diingat oleh jamaah.

Pakaian yang digunakan adalah seragam baju koko berwarna putih dengan kopiah yang berwarna serupa, namun sarung yang digunakan diperbolehkan menggunakan sarung yang berwarna variatif. Berbeda dengan penabuh yang biasanya memiliki seragam tertentu dengan atribut yang memang disediakan oleh jamiyah. Selain itu, bagi jamaah juga dianjurkan menggunakan pakaian putih dengan kopiah yang berwarna serupa dalam menghadiri acara sholawatan.

7. Momentum Pagelaran58

Momentum pagelaran seni sholawat Ahbaabul Musthofa Jember tidak dapat dipastikan secara rutin. Hal ini dikarenakan pagelaran seni sholawat semakin sering diadakan seiring dengan banyaknya undangan dari masyarakat. Namun biasanya undangan yang paling banyak yaitu pada Bulan Muharrom, Maulud, Bulan Rajab serta pada bulan-bulan Peringatan Hari Besar Islam lainnya. Selain itu, Jamiyah ini juga sering

58 Abd. Kholiq, Wawancara, Jember, 17 Juni 2016, Pukul 14.43 WIB.

diundang dalam acara syukuran atau selametan lainnya seperti Sepasaran, Selapanan, Walimatul Urusy, Khitanan, ataupun Syukuran atas kesuksesan tertentu.

8. Unsur Pendukung59

Faktor pendukung eksistensi seni sholawat Ahbaabul Musthofa dalam komunitas Desa Curah Malang bahkan di Kabupaten Jember dapat ditelaah dari perspektif pengurus jamiyah. Ternyata keberadaan seni sholawat Ahbaabul Musthofa hingga saat ini, didukung dengan adanya peranan pemimpin dalam mempersatukan atau mengorganisasikan anggotanya. Disamping itu figur ketua organisasi jamiyah disini termasuk dalam jenis wewenang charismatic authority, yaitu menggunakan wewenang yang didasarkan pada kualitas luar biasa yang dimilikinya yang tercermin dari sikap dan tindakannya (mengayomi, tegas, mampu mengatasi kesulitaan, rela berkorban serta memiliki disiplin yang tangguh).

Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, idealnya komunitas seni sholawat di Desa Curah Malang sangat sadar untuk mempertahankan nilai-nilai dan aturan atau konsensus dalam Islam yang terkafer dalam seni sholawat yang harus dilakukan setiap saat. Demikian pula jika kesadaran komunitas pendukung seni sholawat ini tidak terbangun, maka lambat laun eksistensi seni sholawat ini akan mati dengan sendirinya, apalagi dengan kondisi perkembangan teknologi saat ini.

59 Gus Abrori, Wawancara, Jember, 12 Juni 2016, Pukul 11.10 WIB.

Satu contoh nyata yang bisa dikategorikan sebagai unsur pendukung utama yaitu adanya jamaah yang dimiliki oleh jamiyah sholawat Ahbaabul Musthofa Jember. Hal ini dikarenakan jamaah memiliki peran vital dalam langgengnya eksistensi jamiyah sholawat tersebut. Jamaah yang meramaikan dan memakmurkan setiap pagelaran sholawat Ahbaabul Musthofa Jember dimana pun berada. Bahkan jika ada pagelaran sholawat di tempat yang cukup jauh sekalipun jamaah tetap antusias bahkan secara swadaya mengumpulkan dana untuk biaya transportasi dalam menghadiri acara sholawatan tersebut.

9. Unsur Penghambat60

Dewasa ini perkembangan teknologi informasi menjadikan kesenian dan hiburan alternatif bagi masyarakat semakin beragam dan banyak sekali. Sehingga seni Islami pun dituntut untuk mampu bertransformasi serta dapat berkompromi dengan kemajuan zaman tersebut. Jika hal ini tidak diindahkan maka dikhawatirkan nantinya menjadi salah satu unsur penghambat secara eksternal bagi seni sholawat Ahbaabul Musthofa Jember.

Namun dari segi internal, faktor yang menghambat bagi perkembangan jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember adalah jamaah yang melakukan tindakan pelanggaran serta melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan norma dan akhlak yang mulia. Semisal adanya jamaah muda mudi yang menjadikan acara sholawatan sebagai momen kencan

60 Gus Abrori, Wawancara, Jember, 12 Juni 2016, Pukul 11.10 WIB.

dengan pasangannya, ada juga jamaah supporter sepak bola yang menjadikan momen sholawatan sebagai waktu pertemuan bersama. Hal ini justru mencoreng serta mendegradasi nilai dan kultur jamiyah sholawat Ahbaabul Musthofa Jember.

Selain itu peran Gus Sholeh yang sangat dominan menjadikan kepengurusan tidak berjalan sebagaimana tupoksi masing-masing yang berakibat pada terkendalanya kinerja masing-masing khususnya dari segi manajemen kepengurusan beserta kinerja administratif-nya. Selain itu masih adanya rasa ketergantungan pada jamiyah Ahbaabul Musthofa pusat membuat jamiyah ini sulit berkembang. Posisi sebagai bagian dari cabang membuat jamiyah ini merasa pesimis untuk dapat meningkatkan kompetensi bakat dan kemampuan kelompoknya.

10. Peluang Marketabel dan Promosi61

Jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember sebagai sebuah organisasi yang relatif muda memiliki sistem manajemen yang masih sangat sederhana. Proses pengambilan keputusan didominasi oleh Gus Sholeh selaku pimpinan jamiyah, hampir setiap koordinasi dilakukan oleh Gus Sholeh secara langsung tanpa harus melalui sekretaris ataupun humas.

Apabila ada masyarakat yang ingin mengundang jamiyah sholawat ini maka bisa menghadap langsung kepada Gus Sholeh atau melalui korwil yang kemudian akan diteruskan kepada beliau. Hal ini dikarenakan menyesuaikan dengan jadwal yang dimiliki oleh Gus Sholeh baik jadwal

61 Abd. Kholiq, Wawancara, Jember, 17 Juni 2016, Pukul 14.45 WIB.

beliau sebagai penceramah ataupun jadwal Jamiyah Ahbaabul Musthofa Jember.

Selain itu, Jamiyah Ahbaabul Musthofa membutuhkan keterlibatan jamaah untuk memeriahkan setiap acara sholawatan yang digelar. Hal ini karena peran jamaah yang membuat acara sholawatan menjadi semarak.

Namun promosi terhadap kegiatan sholawatan masih sangat sederhana.

Setidaknya ada dua cara yang dilakukan pengurus dalam menginformasikan kepada jamaah terkait acara sholawatan yang bisa jamaah ikuti. Pertama, Pengurus mempromosikan acara sholawatan melalui surat yang disampaikan kepada masing-masing Korwil disetiap wilayah desa untuk kemudian diumumkan pada majelis-majelis umum dan kedua, pengurus mengumumkan kepada jamaah secara langsung pada setiap akhir sholawatan yang dilaksanakan di wilayah tertentu terkait dengan acara sholawatan yang akan diselenggarakan pada waktu berikutnya.

Dalam dokumen sholawat, seni dan pendidikan agama islam (Halaman 60-74)

Dokumen terkait