III. Peralatan l. Wayang kulit
8. Gending 9. C'erong(koor pria)
10. Siadenan (nyanyian Pesin&n) .an
rya rp"
na,
lah )un en- ada khir itas ber-
dan rbad rhwa I po- [dak
pada dan mpe- kali- ugan 966.
bukti lalam
&arta:
72-73.
Drusnya rmenja- Buwana
32
Wayng, Kcbufuyn hfuncsia dan PancasihGambar l9a. Pagelaran wayang purwa dasawarsa l92Gan (dari J. Kats).
Gambar l9b. Pagelaran wayang purwa pada waktu ini (sejak 160 tahun yang lalu sudah ada pesindennya). (dari Sena \Yangi).
;,*
ir1!
.::
I
1
I I
U
n si 1I
t( B
I
u
I
lUn
Wayang Pwwa 33 alami di India.32
Marilah kita lihat Tabel 2
dan kemudiankita
uraikan.Perhatikan bahwa jumlah
A
Unsur Pelaksana dan Peralatan adalah3 + 8,
sama dengan jumlah pada B Unsur Pertunjukan,yaitu I +
10. Metode Sebelas-sebelasini
terbukti sangat praktis sebagai carauntuk
menjelaskan seni budaya wayang yang sering dianggap misteriuskalau
cara menerangkannyatidak
dimulai dari apa yang dapatdilihat
dan didengar. Metode ini juga prak-tis
dalam usaha-usaha penelitian tentang wayangdan
dalam studi-studi perbandingan berbagaijenis
dan gaya wayang di masa lalu.33Uraian tentang kerangka dasar tersebut
di
atasakan
kita mulai dari sisiA,
diurut dari nomorI
sampai dengan nomor Il,
demikian
juga
sisiB
akandiurut
dari nomor 1 sampai dengan nomor IL
Unsur Pelaksana dan Peralatan. Secara ringkas
kita
uraikan satu persatu unsur yang melaksanakan dan peralatan yang di- pergunakan.1.
Dalang. Dalang adalah seniman utama dalam pertun-jukan
wayang.Ia
melaksanakan unsur-unsur pertunjukan yang dalamTabel 2
terteradi
bawahB
(unsur-unsur pertunjukan) dengan nomor-nomorI.l.
danII.l.
sampai dengan II.7.Pada umumnya dalang
itu pria,
karena pekerjaan sebagai dalang memang amat berat. Dalang wayang purwa harus duduk32D^lu
bulan Agustus-September 1973 penulis diundanguntuk menghadiri seminar tentang Komunikasi di kota Bangalore, negara bagian Karnathaka, India.
seminar itu berjudul Communicatian and Change in Rural Asia. Makalah yang penu-
lis bawakan dalam seminar itu berjudul llayang Purwa as a Medium for Change,
diterbitkan oleh cSIS Jakarta dalam majalah berbahasa lnggrislndonesian euarterly, Oktober 1973, juga diterbitkan oleh penyelenggara seminar tersebut di Singapura.
Penyelenggara seminar tersebut adalah rhe Asian Mass communication Research and Information centre yang berkantor di singapura. Dalam seminar tersebut penulis memamerkan wayang-wayang kulit purwa dan juga mempertunjukkan fragmen page- laran wayang purwa sebagai ilustrasi bagi makalah yang disampaikan.
33Du1"*
Pekan Wayang Indonesia
I
tahun 1959 metode ini penulis gunakan untuk mengadakan perbandingan berbagai jenis wayang dan laporan penulis menge- nai hal ini dimuat dalam buku laporan tentang kegiatan dalam pekan Wayang Indone- sia I tahun 1969. Dalam penyusunan blku Pathokan Pedalangon Gagrag Bant'urnas, metode ini penulis sampaikan kepada para anggota Panitia yang tempat tinggalny'a tersebar di 4 Kabupaten wilayah bekas Karesidenan Banyumas, ),akni Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbolinggo, Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Cilacap.34 Wayng, Kebndayaan Indonesia dan Pancasila
bersila semalaln
sutltuk,
melaksanakanpertunjukan
tersebut (yang akan diterangkandi
beiilkang nanti), dan juga nlentimpinlain-lain
seniman-seniwati yang dudukdi
belakangnya dengan aba-aba tersanlar, berupa wangsalan atau petunjuk sastra yang diselipkan dalanrcariyos atau
narasinya, berupa gerak-gerik wayang.berupa nyanyian, berupa
dodogandan
kepyakan.Di
nrasadahulu
dalang-dalangitu
mendapat pengetahuandan
ketc'raurpilannya terutantadari
orang tuanya,dari
sanak- saudaranya,karena seni
rnendalangdahulu diturunkan
dari orangtua
kepada anak dan keturunannya. Sejaktahun
1923,dimulai di kota
Sala. terlah ada kursus-kursus pedalangan, dankini
kepandaian rnendalangitu dapat dipelajari di
sekolah-sc'kolah menengah karawitan
di
berbagaikota
(Sala, yogya dan sebagainya). bahkan sarnpai pada tingkat Akademi,3a cli mana para pelajar dan urahasiswa wanita pun dapat belajar ntendalang.Itu tidak
berarti bahrva di zaman dulu belunr ada dalang wanita, karena tercatat dalant babad bahwa pada zaman penrerintahan raja Nlatararn pada abad ke-17, yaitu selnasa raja Amangkurat I, telah ada dalang wanita bernamaNyi
Panjangmas,istri
dalang keraton yang bernamaKi
Panjangmas.3s Meskipun scjak dulu telah dikenal adanya dalang-dalang wanita, namun jumlah me- reka diperkirakan tidak ada satu persen darijumlah
dalang wa- J"ang purwa yang seluruhnya diperkirakan puluhanribu
itu.36Di
samping sekolah-sekolah negeri pada tingkat-tingkat mene- ngah dan akademi, terdapat pula kasus-kasus pedalangan yang diselenggarakanoleh
swastadi
berbagaikota
besar dan kecildi
Jawa Tengah, JawaTimur dan
bahkandi
Jakarta. Seni pedalanganjuga dipelajari di kota atau tempat lain di
luar Pulau Jawa,bagi
orang yang berminat misalnyadi
Medan.3734Akudemi
Seni Karawitan Indonesia (ASKI) di kota Sala.adalah yang.pertama kali mengajarkan seni pedalangan di samping seni karawitan dan seni tari.
35 K.G.p. Ku sumadilaga dalam S e ra t S as t rami rucla.
36Jumlah yang pasti beium pernah diketahui benar. Periu dibedakan antara me- reka yang "dapat mendalang" yangjumlahnya diperkirakan puluhan ribu orang meli-
puti semua jenis dan gaya wayang yang terdapat di Indonesia, dan "mereka yang menjadi dalang profesional" yang diperkirakan ada ribuan, sedang mereka yang ter- kenal hanya puluhan saja.
37 Pada awal tahun 1971, menurut keterangan Almarhum Bapak Sri Handaya- kusuma dari Sa1a, di Medan diselenggarakan semacarn pekan wayang kecil yang diha- diri oleh kira-kira 300 dalang. Almarhum yang ahli pedalangan dan karawitan itu ikut hadir dalam pekan wayang di Medan itu.
l
!
I
I )
c C
Wayang pwwa 35 Patokan-patokan pelajaran bagi para clalang yang
di
zaman dulu dituturkan secara lisan dan turun-temurun, setelah Indone- sia merdeka telah pula dibukukan. pedoman_pedomanpedalang_
an menurut gaya Surakarta, gaya yogyakarta aan gaya
nrryr_
mas telah dibukukan dan
digunakan daram sekorah_sekolah dan kursuskursus pedalangan.3tAda
berbagai kewajiban dan pantangan yang harus ditaati para dalang,di
samping keharusan menguasai macam_macamkeahlian seperti pandai
memainkan wayang_wayang dengan terampil, mampu menyuarakan sedikitnyatrga prfri .r.u*
suara para
tokoh
wayang yang masing-masing nremiliki*urut
_nya
yang khas, pandai memukau para hadirin dengan suaranya yang merdu, lnenguasai seni sastra,fllsatat
danJain ,.Orgoi
nya.3e
Di
samping adanya dalang_dalang wanita, dikenal pula ada_nya
dalang-dalang ,bocah,,yaitu
a,ak_a,ak belasatr tahun usiaSD
dan SMP. Lomba dalang_dalang bocahini
pernah digalak_kan
menjelang diselenggarakannyJR.kun Waiang tnoJn.ri, llll1978 di
Jakarta. pada pekan wayangitu
tarrap flnal ronrba dalang bocah diselenggarakan di Jakaita.a0Meskipun ada ribuan, bahkan mungkin puluhan
ribu
oraug yang mampudan
pandai mendalang, yang tersebardi
sentua golongan dan tingkatan pendudukJawa,o,"d";ik;;,r;r,,
rr,rr.rakyat
biasa maupunmiliter,
dari kalangan yangtidak berpen-38Buku yang paling duru terbit adarah patokan pedalangan Gaya Surakarta pada
ffi
,lill?i;$;usur oreh Pedoman p"a"r^'e""l"va Yogvakarta i i s zi i, J." c^r.39 Lihut misalnya Hazeu, op. cit., hlm.1 1 6 _ 1 I 7.
-., ^.o}-.,:*.dalang bocah ini diserenggarakan di Jakarta di mana penuris ikur seba- gar anggota juri pada rahap finar, paa, t-utan
i"riisls.
yang kel,ar seba-eai Juaraternyata seorang anak usia SD yang
*ng.;.;;;r';an
dengan beasis*.a Sena $laneiI maupun dari Super semar menyeleroitu, ,trairrvuir sup Negeri Sara dengan baik dan telah hampir menyelesaikanstudiny;;;;;;d;
SMo4lJumrah
darans vang pasri berum dikcrahui. Usaha-usaha pencrut.rlrrnnl.a orr,h PEPADI (persatuan Dalanq serrrruh r"a"n.rir,'u.ir,rr'u.rt.,r,it kurcna
hln1.:rkn1.a ke- sulitan dan kuranenya sarana. demikian .iro, u.rir"p*ndlttlrannl.:r olcrr Kantor_krn_
;:',*-TlT"i""L'jlemen Pendidik';
J#i;;;rl,In".x.p"r" ,,i,,, i.,",*,'",.,- vaitux,uupail;.,_;ili:llJfi,l[r..:If i,i,il,il:i:1:::-,lli:,,",1t*
oran€t yang dapat nrendala.tll*:rr?" ,lU, a"frn* Or"tesional dan han1.a sc,kitrr t0
orang yang dikenal luas. I ni un hr k jr.nis n.ul."ns ;r, 1L;,' rrl".
36 'lYayng, Kcbudayaan Indonesb daa Pancosila
didikan tbrmal
sampai yang sarjana, namun hanya beberapa orang saja yang mencapai kedudukan puncak atau dikenal luasdi
antara para penggernarnya, antara lain ada yangdi
sampingpernah
mendalangclari hutan
sarnpaiistana
presiden juga pernah bermaindari
Sabang sampai Merauke, dan bahkan per- nah berkeliling dunia dalam suatu Tim Wayang.a2Secara tradisional ada beberapa kelas dalang, yakni:
(l)
me- reka yang baru dapat mendalang, (2) yang sudah pandai menda- lang,(3)
yang telah menguasai semuateknik
pedalangan, (4)yang telah
menguasaiisi
pedalangan,dan (5)
'dalang sejati',yaitu
yangdi
samping telah menguasai semua isi pedalanganju-
ga dapat memberi suri teladan kepada masyarakat dalamkehi
dupan sehari-hari, seorang yangarif,
bljaksana, danpatut
di- hormati. Mengenai kewajiban dan larangan bagi para dalangitu
mula-muladituturkan
secara turun-temurun,tetapi
pada masakini
telah dibukukan dalam karya Pangeran Kusumadilagayang berjudul Serat Sastramiruda,diterbitkan di
Surakarta. Karya ini kemudiandikutip
dalam lain-lain penerbitan.Mengakui pentingnya kedudukan para dalang sebagai seni-
man
maupuntokoh
masyarakat, pada zamanOrde Baru ini
pemerintah memberikan penghargaan Hadiah Seni kepada pata eksponennya sejaktahun 1969.
Dalang-dalangdari
berbagaijenis
dan gaya pedalangandari
Sunda, Jawa danBali,
telah menerimanya.2. Niyaga atau wiyaga. (Di
Parahiyangan dinamakan42 D^l^ngtersebut adalah Panut Sosrodarmoko, satu-satunya dalang yang pernah mendalang di Istana Presiden untuk Almarhum Presiden Soekamo maupun untuk Presiden Suharto. Dalang yang naik haji tahun 1984 itu adatah Guru pada Sekolah Pendidikan Guru di kota Nganjuk, Iawa Timur dan pernah ikut tim kesenian di Dakka, Pakistan Timur (kini Bangladesh). Dalam tahun 1980 ia terpilih untuk ikut dalam Tim Wayang yang dipimpin penulis buku ini mengikuti festival wayang (puppetry) sedunia yang diselenggarakan oleh UNIMA di Wastrington, DC, Amerika Serikat. Tim ini mengadakan pementasan di Tokyo, Washington, DC, Bangkok, dan mengadakan perjalanan mengelilingi dunia yang meliputi Jepang, AS, Inggris, Peran- cis dan Thailand. Kecuali penulis sebagai ketua tim, anggota-anggota tim lainnya adalah Ir. Haryono Haryo Guritno sebagai Wakil Ketua, Ki Panut Sosrodarmoko se- bagai dalang, Pamudji (adik Ki Panut yangjuga Guru di SPG Nganjuk) *bagainiyaga penabuh gender dan Sugiri sebagai penatah dan penyungging wayang kulit purwa.
Boneka-boneka wayang yang dibawa untuk dipamerkan terdiri dari berbagai jenis, mewakili berbagai jenis wayang yang ada di Indonesia. Di Amerika Serikat, Tim ini juga diperkuat oleh Direktur Museum Wayang, Bambang Gunardjo, BA.
I (
I
j
aI
j
LI
k b
ti
N
S( br
ul kt p(
1a
nl
ya
tj( rir
Gc
ti)
nt
&
h ili rt E
(a m n- ra B.
,e a.
is,
ni
WcyangPmm 37 nayago) adalah sebutan bags para penabuh gamelan. Untuk me- ngiringi pertunjukan wayang purwa, jumlah nigayo
itu
sedikit-nya
sepuluhorang untuk
memainkansedikitnya lima
belas peralatan gamelan. Jadi harus ada beberapa orang yang mampu merangkap memainkan beberapa peralatan gamelan, jika jumlah niyaga kurang dari lima belas.Untuk
mengiringi berbagai lakon pertunjukan wayang pur- wa secara lengkap sesuai ketentuan tradisional diperlukan lebih dari seratus enam puluh gending klasik.a3 Dalam halini
penge- tahuan dan kemampuan sesuatu kelompok niyagaikut
menen-tukan pilihan
gending-gending yang dimainkan.Jika
mereka misalnyahanya dapat
memainkan30
macam gending, maka dalangpun
terbatas sekali dalam pilihannya, dan pertunjukan- nya tidak dapat bermutu tinggi.Kebanyakan peralatan gamelan yang dimainkan adalah per- alatan pukul yang dibunyikan dengan memukul, yaitu beberapa jenis gender, gambang beberapa jenis saron, kempyang, kethuk, kenong,
kempul
dan gong. Peralatanpukul
yang bernama bo- nang sekarang juga umum digunakanuntuk
mengiringi pertun-jukan
wayang purwa, meskipun pada awal abadini
halitu
be- lum termasukketentuur.*
Di samping peralatan pukul, diguna- kan juga peralatan lain seperti beberapajenis kendang, peralatan berdawai seperti rebab dan kadang-kadang jugasiter,
dan alat-tiup
berupa suling(di
Yogyakarta digunakanjuga
terompet).Mengenai jenis-jenis
alat musik
dalam perangkat gamelar-ritu
selanjutnya akan dibicarakan dalam bagianA.l I
disertai gam- bar-gambarnya.Niyaga biasanya
pria.
Yang menduduki tempat terpentinguntuk
mengiringiperturjukan
wayang purwa adalah penabuh kendang, karenaialah
yang biasanya menangkap isyarat danperintah dalang, dan
meneruskannyakepada niyaga
yanglain,
terutamauntuk
melirihkan atau mengeraskanbunyi
ga- melan, mempercepat atau melambatkan irama gending, memu-43ur,tuk pedalangan gaya Surakarta, jenis-jenis gending iringan pagelaran wa- yang purwa itu telah disebut dalam buku pedoman karya Nojowirongko arias Atmo- tjendono, serat Tuntunan Padalangan, Jitid I, hlm. 2g-39. Buku yang lebih meme- rincinya dan memuat nada-nada gendinggending itu adalah karya s. probohar_djono, Gending-gending Ingkang Kange Nabuhi wayang htrwa (yogyakarta: p.T. sinduni- ti).
'
4Noiowirongko, op. cir., hlm. 61.3 8 Wayng, Kebdayan Indonesia dan Parlcasila
lai dan
menghentikannya.Ia juga
harus menghidupkan page- laran karena bunyi kendang-kendangnya yang mengiringi gerak-gerik
waya*g-wayangdi
pentas sungguh mempakan ilustrasi yang menghid upkan suasana.Penabuh gender, yang biasanya
duduk
dekatdi
belakang dalang,iuga hampir tidak
pernah berhenti menabuh selama masa pertunjukan. Para niyaga mulai menjalankan tugas mereka sekitarpukul 20.30
sampai matahariterbit
keesokan harinya.Dalang
naik
pallggung sesudahdibunyikan
gending-gending pembukaan, menjelangpukul 21.00.
Suara gender_la"h yang memberi contoh-contoh nada bagi nyanyian wayang (tembang) atausuluk
dalang, danjika lain{ain
alat gamelan sudah ber- lrenti, gender masih dibunyikan pelanuntuk
menciptakan sua- sana yang diperlukan. Pada masa silam yang biasanya memain_kan gender adalah
istri
dalang, karena ialah yang paling menge_nal suasa,a batin dan kemauan suaminya, dan dalam pementas- an dapat mengungkapkannya dengan suara gendernya,as
Karena pemain kendanglah yang paling menentukan bagi kesesuaian antara
bunyi
dan irama gending dengan keinginan dalang, maka ialah yang selalu dibawa oleh dalang ke manapunia
melakukan pementasan, sedanglain{ain
niyaga dapat sajamereka yang
bukan
anak buahnyadan diambil dari
mereka yang adadi
tempat pagelaran dilakukan.Di
samping menabuh gamelan, para niyagaitu
kadang-kadang juga menyanyi dalam paduan suara pria, yang dinam akan gerong.Di
kalangan karawitan Jawakini
dikenaljuga
nama Iain bagi para niyagaitu,
yaitu pradangga, nama yang setahu penulisbaru
diperkenalkan secara luas sesudah negarakita
merdeka, meskipun istilahitu
sudah lama dikenal.Untuk
para niyagaitu
telah lama pula dikenal adanya kur_sus-kursus tempat mereka dididik, dan setelah Indonesia merde-
ka
ada sekolah-sekolah menengah kesenian yang mengajarkan pengetahuan dan keterampilan tersebut,yaitu
yang dipeloporioleh
Konservatori Karawitandi kota
Sala sejaktahun
1950, yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Menengah Kara_witan Indonesia dan akhirnya menjadi Akademi Seni Karawitan
45 Gunder yang bersuara lembut ini tidak dibunyikan jika gamelan ditabuh keras pada adegan-adegan perang atau tegang. Kini istri dalang, jika pand"i menyanyi, kebanyakan mengiringi sebagai pesinden.
l I
I I
I
S S s,
k tt ti
gi d
m€
di'
Wayang pwwa 39 Indonesia
(ASKI) di kota
yang sama.Di
beberapakota
lain seperti Yogyakarta, Bandung, Denpasar, padangpanjang dan Ujung Pandangjuga
adasekolah-sekolah menengut,,r.g..i
yurg mengajarkankarawitan dan/atau tari, meskipun tentu
sajayang diajarkan berlainan dengan yang diajarkan di Sala. seperti halnya
untuk
para dalang, pada masa Orde Baruini
puru niyogo yang berprestasi besar juga diberi hadiah seni oleh pemerintah.3.
Pesindenatau
penyanyi wanita. pesinden atau penya_nyi
wanita sudah lama dikenaldi
kalangan senidi
pulau Jawa.Namun
sebagaiseniwati yang
mengiringi pagelaian wayungpurwa'
mereka baru dikenar sekitar dasawarsa tiga puluhan da-lam
abadini,
sehingga mulai masaitu
setiap pagelaran wayang purwa ada pesindennya, dan dianggap tidak wajar apabila pesin-den tidak ada. Jika
para niyaga dinamakanlugi
praaingga,maka
para pesindenpun
mendapat nama-namabaru,
yaituw o ro ngga /w, w id uwa t
i
atau suqrawa t i.Penggunaan nama-nama lain bagi para niyaga dan pesinden
itu
sejalan dengantuntutan
penghargaan terhadap para seni_man-seniwati karawitan setelah negara kita merdeka. pada masa penjajahan status mereka dalam masyarakat memang dianggap rendah.a6
Nyanyian
para pesinden dan niyagaitu
(dalam gerong =koor
pria) kebanyakan dari jenis Macapat, yang bentuk_bentuk syairnya sudah dikenal sejak zaman Majapahit.4T Kebanyakan syair-syairyang mereka nyanyikan
adalahdari
karya_karya sastra para pujangga abadke-lg
dan abadke-I9,
misalnya dari karya-karya sastra YasadipuraI
sepertiserat
Rama,seiat
Bra- tayuda, pada akhir abad ke-lg,a8 karya paku BuwanaIV
seper- .ti
Serot l|ulangreh pada awal abad ke-l 9,askarya
Mangkune_gara
lY
sepertiSerat
Wedttatamu,Tripama,
dan Manuharasodan dari
pujangga terakhir kerajaan Surakarta, Ranggawarsita trHa irri pernah penulis dengar- juga dari Ibu Tjondrolukito, r,annggana yang memenangkan Hadiah seni tahun r9g0. Juga penuris ietahui dari para ahlii<arawitan di Yogyakarta pada tahun 1950.47 Poerbatjarak a, op.' cit., hlm. 7 3.
€Poerbatjarak
z, op. cit., hlm. 149-150.
49Poerbatjarak
a, op. cit_, tim. 176-177.
Sol,ih"t Daftar pustaka, Mangkunegara ly, Serat Dwija Isywara.
y'rQ Ylayag, Kebudayun Indonesia dan paacasila
dengan.karyanya Serat
Kalatidha
dan Jokolodhang pada abadke-I9,"
dan sebagainya.Itu tidak
berarti bahwa tidak ada kar- ya-karya sastra masakini
yang digunakan dalam pagelaran wa-yang purwa,
meskipun penggunaannyabelum
mantap. Citra klasik dan daya pukau sastra lama memang tersebar luas melalui perpustakaan-perpustakaan, diterbitkan oleh berbagai badan pe- nerbit termasuk oleh Balai Pustaka.Pengetahuan dan kemahiran peginden dapat pula dipelajari