BEKAL HUNTING
Di dalam memotret, selalu ada hal yg prioritas di benak kita. Kalau tidak ada namanya kamera pocket. Terutama setelah kita mengetahui efek dari masing masing kombinasi.
Mayoritas digolongkan menjadi dua bagian besar yaitu; Aperture Priority, dimana dlm memotret kita menghendaki efek dari bukaan tertentu sebagai factor yg ditetapkan yang lain variable.; Speed Priority dimana dlm memotret kita menghendaki speed tertentu dlm
mengabadikan moment, yang lain variable.
Memotret pemkalianngan yang semuanya akan ditonjolkan membutuhkan dept of field yang besar sehingga orang dapat menset bukaan sekecil mungkin. Memotret model di mana dihendaki pengisolasian subject dari lingkungan membutuhkan dept of field yang sekecil mungkin.
Kecepatan yang merupakan variable diset mengikuti takaran sesuai ISO yg dipilih. Kalau perlu pakai tripod atau monopod. Memotret pemkalianngan tanpa tripod orang akan mempertahankan kecepatan terendah yang dia bisa pertahankan, aperture akan mengikuti.
Memotret sport dgn kecepatan tinggi orang akan menetapkan speed yang tinggi dan aperture mengikuti. Demikian pula memotret low exposure dan panning orang akan menetapkan speed yang akan diikuti aperture sesuai ISO yang dipakai.
Komponen Variabel yang mensuport pilihan di atas juga harus dipilih untuk lebih memperkuat pilihan efek yang hendak dibuat. Memotret pemkalianngan orang cenderung memakai wide angle lens yang memiliki dept of field yg dalam dan distorsi cembung.
Dlm memilih ISO juga cenderung memakai film ISO rendah yang memiliki butiran yang halus yang akan menunjang dept of field yang dalam tersebut. Memotret model orang cenderung
The HandBook | smamdaPhoto memakai tele yang memiliki depth of field yg
tipis dan distorsi cekung yang akan membuat muka org menjadi langsingan. Kalau perlu memakai fast lens yang memiliki bukaan 2,8 bahkan 1.8
Komponen penunjang lainnya seperti tripod di mana kecepatan yang dipilih lebih rendah dari yang mampu kita tahan. Netral Density Filter dimana kecepatan yang dihasilkan dari bukaan yang paling memungkinkan masih lebih cepat dari yang kita inginkan.
MENGAPA MEMBUAT FOTO Foto-foto yang dibuat karena subyeknya merupakan kengan kita; anak, isteri, suami, pacar, anggota keluarga, sahabat, binatang kengan, bunga kengan dan benda-benda lain yang ingin kita dokumentasikan.
Di sisi yang lain, kita juga melihat foto-foto dari peristiwa wisata dan budaya, politik, sosial, ekonomi dan lainnya. Hubungan antar manusia, keadaan alam dan banyak aspek kehiduapan lainnya.
Ada foto-foto yang dibuat dengan nuansa seni yang tinggi, kental dengan pilihan-pilihan yang estetis. Ada pula yang mementingkan
momentum dan peistiwanya dengan kadar jurnalistik yang tepat.
Kualitas yang disajikan beragam tingkatannya, ada yang membuatnya dalam keterbatasan, alat dan pengetahuan tentang fotografi. Ada pula yang sudah melangkah jauh, menyajikan teknik- teknik yang apik dan canggih, sejauh
menggabungkan beberapa foto dengan finishing yang sangat halus.
Para pengasuh memberikan keleluasaan kepada kita untuk menilai foto-foto yang ada, dengan 6 (enam) pilihan, mulai dari foto yang tidak patut ditayangkan, dengan nilai tiga jempol ke bawah, hingga nilai 3 jempol ke atas, yang berarti foto tersebut sempurna.
Komentar maupun catatan yang menyertai foto- foto, kerapkali memberikan nilai yang subyektif, semisal; " suka foto ini", atau "foto Blackie, anjing kengan kami".
Tidak ada yang salah dari pernyataan-pernyataan tersebut, karena sistim nilai suatu foto sangat tergantung kepada persepsi yang dimiliki tiap orang berdasarkan pengalaman hidupnya.
Dengan demikian kita tidak perlu kecewa kalau nilai dan komentar yang diberikan anggota lain tidak memenuhi harapan kita.
The HandBook | smamdaPhoto Ada dua kemungkinan: yaitu: 'ilmu kita" belum
sampai pada tingkatan seseorang yang telah matang luar dalam, atau sebaliknya, pemirsa belum dapat menangkap "pesan" yang ingin di komunikasikan melalui foto tersebut.
Sejauh ini, nampaknya kita sudah banyak membahas berbagai motivasi dan cara yang digunakan para fotografer, sehingga fotonya tertayang di galeri, fotonya dinilai oleh kurator, komentarnya dibaca sesama rekan dan puluhan hal lain yang dapat dilakukan seseorang dengan menjadi anggota.
Apapun yang mendasari partispasi di sini, kita mempunyai satu hal yang "common" (umum), yaitu keinginan untuk berbagi (sharing).
Yang fotonya ditayangkan ingin berbagi suatu keadaan (scene) melalui medium komunikasi visual, fotografi, kepada rekan lainnya.
Yang menulis komentar, ingin berbagi "kesan"
(impresi) yang didapatkannya dari foto rekannya.
Ada juga fasilitas untuk berbagi ilmu, informasi.
FOTO YANG INDAH?: FOLLOW YOUR PASSION
Menghasilkan karya foto yang indah rasanya sudah menjadi suatu hasrat yang umum di
kalangan pelaku seni fotografi. Bahkan seringkali menjadi suatu obsesi bagi sebagian mereka. Dalam upayanya, maka digelarlah puluhan lomba foto ini-itu dengan intensitas dan frekuensi yang sangat tinggi. Mulai dari lomba foto tingkat klub sampai lomba paling bergengsi a la Salon Foto Indonesia. Membajirlah ratusan bahkan ribuan foto-foto juara yang telah diapresiasi dan dinilai sebagai foto yang
"bagus", "indah","eksotis", "unik", dan seribu penghargaan lainnya.
Sebagai seorang pengamat sekaligus pelaku seni -yang awam dan sangat tidak dikenal- di luar dunia fotografi, pun terbawa ke dalam
antusiasme untuk mencoba ikut menikmati foto- foto hasil hiruk-pikuk lomba melukis dengan cahaya ini. Pertanyaan yg paling awal muncul dlm diri sendiri "bagaimana membuat sebuah foto yang indah? "
Apakah sebuah foto yg "indah" adalah sebuah foto dalam definisi keindahan yang sangat eksplisit (bentuk, warna, komposisi, gelap- terang, pola) semata? Semuanya cukup berhenti di sana? Bukankah keindahan adalah sesuatu yg sangat subyektif dan pribadi sifatnya?.
Bagaimana mungkin seperangkat aturan yg stkalianrd dan general bisa menangkap seluruh dimensi perasaan banyak manusia lain? tidak
The HandBook | smamdaPhoto bicara soal kesempurnaan teori/format/teknis
sebuah foto, karena semua foto yg dibilang bagus itu tentulah sudah dinilai "layak lomba"
dan oleh karena itu secara teknis tentulah sudah dikatakan "layak jadi juara". Namun seperti yang juga pernah baca, bukankah foto yg indah tidak selalu foto yang benar secara teknis??.
pun mulai banyak bertanya kepada diri sendiri.
Beberapa pekan dalam keraguan dan
kebimbangan. Berdialog dengan teman, sahabat, dan hati nurani.
Keindahan membutuhkan "rasa", esensi kesadaran paling mendalam dari si pelaku seni yang mengalir melalui hasrat dan panca
inderanya dan akhirnya mewujud kedalam karya seninya. Sebuah lukisan adalah juga cermin jiwa si pelukis. "It's not a painting, it's me". Dan rasa sangatlah subyektif sifatnya, karena ia terbentuk pada tataran alam bahwa sadar oleh pengalaman- pengalaman pribadi individu dalam berinteraksi dengan orang-orang, kultur, dan alam di sekitarnya.
Keindahan, jadinya sangatlah subyektif sifatnya.
Indah menurut , belum tentu dibilang indah menurut orang lain. Dalam session penjurian foto misalnya, sesudah terpenuhinya aspek teknikal fotografi, seringkali sebuah foto dinilai
9 "istimewa" dan pada saat yang sama juga dinilai 1 "jelek sekali" oleh juri yang lain. Bukan karena masalah format/teknisnya, tapi lebih karena ternyata "rasa"-nya tidak selalu nyambung dengan "rasa" seluruh anggota jurinya.
Oleh karena itu, jika karya foto hendak
ditempatkan sebagai suatu "karya seni" dan ingin diapresiasi sebagai sebuah karya seni, maka seyogianya ia harus diperlakukan sebagaimana kita mengapresiasi karya seni lainnya seperti seni lukis, seni patung, seni batik, seni
sastra/puisi, dan lain-lain. Rasanya hampir tidak pernah kita dengar ada lomba lukis kecuali untuk anak-anak. Hampir tidak ada lomba seni patung, kecuali untuk pembuatan monumen yang spesifikasi wujudnya sudah jelas. Hampir tidak ada lomba lukis batik kecuali dlm program mempromosikan museum yg semakin sepi.
Pujangga-pujangga puisi saat ini justru mereka yg berani melepaskan diri dari format2 baku yg ada. Pada kenyataannya, para pelaku seni itu terus berkreasi dan terus berekspresi melalui medianya masing-masing, dengan gayanyanya masing-masing, untuk mengkspresikan "rasa"
individu masing-masing. Everybody is unique.
Mencoba menilai sederetan karya seni dengan suatu kriteria teoritis/format/teknis baku sama
The HandBook | smamdaPhoto artinya dgn melakukan standarisasi impresi.
Suatu tindakan yg justru bertentangan dengan spirit berkesenian yang membebaskan!
Membebaskan pelaku seni dari tuntutan untuk mengorbankan "rasa" demi mengikuti selera orang lain (mohon bedakan antara sebuah karya seni sebagai "seni" dengan sebuah karya seni sebagai "komoditi"). Membebaskan penikmat seni dari segala acuan formal tentang
"bagaimana membaca dan mengapresiasi suatu karya seni" serta kriteria baku bagus-tidak bagusnya suatu karya seni. Bukankah tidak semua orang menyukai gaya melukisnya Affandi? Tapi siapa yang bilang kalau
lukisannya Affandi "lebih jelek" dari lukisannya Basuki Abdullah?.
MEMOTRET TOKOH DAN MODEL Salah satu obyek yang paling sering dipotret adalah manusia. Ketika berwisata bersama keluarga, sekedar kumpul bareng teman, atau ketika lulus kuliah, kamera menjadi alat utama untuk mengabadikan saat-saat kenangan. Di dinding rumah pun bisa jadi foto manusia yang banyak dipajang, dalam bentuk foto keluarga di studio atau reuni teman-teman sekampus, sebagai misal.
Dalam data pribadi kerap kali dijumpai hobi difoto, untuk menyebut hobi-hobi lain seperti membaca, jalan-jalan, dan nonton film. Bisa jadi yang sebenarnya menjadi hobi adalah hobi melihat foto diri sendiri ketimbang difoto.
Karena untuk difoto sebenarnya tidak selalu semenyenangkan duduk sambil ngemil di depan TV atau membaca di kursi malas. Difoto, dalam arti serius, berarti wanita harus menyiapkan rias wajah dan rambut, sementara pria harus tampil rapi dengan pakaian necis.
Semakin serius sebuah pemotretan, berarti semakin serius pula persiapannya. Sebuah pemotretan model gaya ABG di studio-studio foto tentu tak seberat sesi pemotretan model untuk iklan produk. Lebih serius lagi jikalau model yang di-casting adalah model terkenal yang dibayar mahal. Bisa jadi sangat serius jika model foto adalah pejabat tinggi negara atau pengusaha kaya yang hendak ditampilkan anggun, gagah, berwibawa, chic dan mewah. Di luar itu semua, unsur fun tetap lebih banyak dan lebih dinikmati ketimbang peluh yang
bercucuran untuk menyiapkan kostum dan setting tempat. Terlebih lagi jika seluruh kru pemotretan dan model bisa berkomunikasi dengan akrab.
The HandBook | smamdaPhoto
SEGI TEKNIS PENTING
Tentu saja, unsur-unsur teknis tetap tak bisa disepelekan. Karena sedap tidaknya sebuah foto dipkalianng tetap dibangun oleh unsur-unsur teori dasar fotografi. Tak perlu rumit-rumit, cukup dengan bermain-main dengan komposisi dan pencahayaan maka sebuah foto model bisa dibuat dengan benar. Selebihnya, tinggal bagaimana cara fotografer mengarahkan pose dan ekspresi sang model. Misalnya saja pada foto close up Rahma Azhari. Dalam foto tersebut bisa dilihat penempatan titik Point of Interest (POI) sesuai dengan komposisi sepertiga (Rule of Third). Pencahayaan dibuat frontal
menggunakan reflektor, karena kondisi pemotretan aslinya adalah outdoor pada saat cahaya matahari pada posisi top lighting.
Sementara pada foto Rahma in Blue komposisi masih dibuat sesuai komposisi sepertiga tapi dalam format horisontal.
Masih dalam kaitan unsur teknis dasar fotografi, komposisi sepertiga juga diterapkan pada foto Main Air. POI diletakkan pada sepertiga bagian sebelah kanan dengan pose menghadap ke kiri
untuk mengisi bagian kiri foto. Di sini ada unsur teknis lain yang terlibat, yakni pemilihan ruang tajam (depth of field) yang sempit sehingga mem-blur-kan latar depan dan latar belakang.
Ruang tajam yang sempit (shallow depth of field) membantu fotografer mengarahkan perhatian pemirsa foto hanya pada model yang menjadi POI, tanpa harus teralihkan
perhatiannya dengan bebatuan di sekitar model.
Teknik dasar lain yang digunakan adalah freezing (membekukan gerak), dengan cara memakai kecepatan rana tinggi, untuk merekam butir-butir air secara tajam. Elemen-elemen yang ada di lokasi pemotretan, terutama pemotretan di luar ruangan, akan sangat berguna jika
dimanfaatkan secara cerdik.
POSE DAN EKSPRESI
Kemampuan model berpose dan berekspresi tetap menjadi unsur yang tak terpisahkan dari keberhasilan sebuah foto model. Mengarahkan model yang bukan profesional lebih menantang daripada model profesional. Tapi, bisa jadi lebih menarik dan menantang jika memotret tokoh dalam pose-pose yang lain dari biasanya. Istilah gampangnya, tampil unik tapi menarik, nyeleneh tapi jenaka, pose tak biasa tapi tetap sedap dipkalianng. Pose-pose tersebut membutuhkan
The HandBook | smamdaPhoto kemampuan non-fotografis yang kental, seperti
pendalaman pribadi, kedekatan emosional dan kemampuan berkomunikasi.
Resep utamanya adalah menggali hal unik yang menjadi pencerminan khas tokoh dan model yang hendak difoto.
Ketika memotret Sheila on 7 (SO7), yang notabene kerap bertemu muka di sebuah radio di Yogyakarta, tetap menjadi tantangan tersendiri.
Komunikasi yang dibangun kerap kali menjadi berckalian yang kebablasan berckalian terus, atau malah sebaliknya serius yang bablas menjadi kaku. Ketika itu sekitar tahun 1998, SO7 baru menyelesaikan album pertama dan dipotret untuk kepentingan materi iklan sebuah perusahaan t-shirt.
Hari berikutnya, mereka ingin difoto untuk kepentingan manajemen mereka dan koleksi pribadi. Jadilah, pose-pose yang nyeleneh, jenaka, dan unik yang tak terencanakan sebelumnya. Foto Sheila on 7s Free Style akhirnya dihasilkan bermodal komunikasi akrab. Ketika itu, kamera medium format fokus manual memaksa tangan terus menerus melekat di gelang fokus lensa dan tombol pelepas rana agar momen ekspresi yang muncul hanya untuk beberapa detik tak luput dari rekaman.
Lain halnya dengan pose-pose yang tidak terlalu dinamis bergerak atau berekspresi. Fotografer bisa dengan perlahan mengeset kamera dan pencahayaan serta berhati-hati memilih angle.
Misalnya saja pada foto Terkulai yang dibuat pada set indoor dengan pencahayaan artifisial dan sentuhan akhir di komputer untuk memberi pewarnaan berkesankesan lembut dan hangat.
PERLU PENDEKATAN PERSONAL Keberhasilan merekam pose-pose menarik memang tak berhubungan langsung dengan segi teknis fotografi. Tapi, keberhasilan secara teknis fotografi tak ada artinya dalam kancah memotret model dan tokoh tanpa pose yang sedap
dipkalianng mata. Terlebih lagi jika ingin mengekplorasi seorang tokoh dalam pose-pose yang unik dan ekspresif. Bisa jadi pose-pose tersebut adalah pose-pose apa adanya meski sebenarnya diarahkan oleh fotografer.
Ketika memotret seorang aktor teater dan seniman serba bisa Butet Kertarejasa, misalnya.
Tak ada pembicaraan khusus sebelumnya, selain berbincang ringan di ruang tunggu bkalianra pada suatu pagi. Lantas, niat untuk membuat suatu sesi foto kemudian muncul yang dilanjutkan dengan beberapa perencanaan sederhana, seperti soal lokasi
The HandBook | smamdaPhoto dan kostum. Memang, adalah penting untuk
membuat tokoh sebagai model tetap nyaman berpose di depan kamera dan berbagai perlengkapan pencahayaan. Dan memutuskan kediaman pribadi tokoh itu sendiri sebagai lokasi pemotretan tentu bukanlah suatu syarat yang sulit.
Perencanaan yang cerdik dibutuhkan untuk berhasil membuat foto-foto bagus. Mengenali diri seorang tokoh, berikut keseharian dan karir tokoh tersebut sama pentingnya dengan merencanakan kostum yang hendak dikenakan.
Pemanfaatan properti pun jangan disepelekan demi menciptakan suasana yang mencerminkan pribadi sang tokoh. Seperti dalam foto Oom Pasikom Style, sudah diketahui terlebih dahulu bahwa Butet melakoni tokoh bernama sama dengan judul foto dalam sebuah sinetron di stasiun TV swasta. Maka, kostumnya pun menjadi saling dukung-mendukung dengan pose, plus imbuhan properti mobil kuno koleksi pribadi Butet.
LOKASI DAN PROPERTI
Masih dalam mobil kunonya, Butet terlihat merasa sangat bebas dan nyaman, didukung suasana penuh ckalian dan komunikasi yang
berlangsung akrab. Jadilah pose jenaka pada foto Butet in Expression tercipta. Ini adalah pose yang tak muncul dalam benak sebagai fotografer ketika merencanakan pemotretan Butet. Bisa dibilang, pose ini adalah improvisasi yang berhasil.
Kebutuhan akan properti tak perlu berlebihan, dengan cara memanfaatkan properti yang sudah ada di lokasi. Kebetulan Butet pernah menulis di Kompas perihal koleksi kotak rokoknya. Maka, adalah pose yang wajar jika Butet kemudian difoto sambil merokok di depan koleksi kotak- kotak rokoknya, seperti pada foto Butet dan Koleksi Kotak Rokoknya. Lantas, ada pula faktor keberuntungan dan kebetulan yang bisa menghasilkan foto candid. Ketika dalam pose merokok di depan lemari koleksi kotak
rokoknya, kebetulan ponsel Butet berdering dan persilakan untuk menjawabnya. Tentu bukan tanpa alasan dan sama sekali tidak mengganggu sesi pemotretan, karena pada saat itulah salah satu kesempatan emas muncul untuk merekam ekspresi Butet yang paling tak dibuat-buat.
Maka, terciptalah foto Halo, Butet di Sini..
MENGUKUR KEBERHASILAN
The HandBook | smamdaPhoto Membuat foto model dan foto tokoh bisa disebut
berhasil jika fotografer berhasil
mengkomunikasikan ide di benaknya kepada para pemirsa foto. Jika pemirsa foto
mengernyitkan dahi pertkalian bingung atau memicingkan mata pertkalian tak nyaman memkalianng, maka bisa dibilang pemotretan belum berhasil sepenuhnya. Lain halnya jika pemirsa foto mengangguk-angguk pertkalian paham atau diam untuk merenung lantaran berhasil meresapi makna dan rasa dari foto yang dilihatnya. Keberhasilan itu menjadi lebih berguna lagi tatkala muncul inspirasi-inspirasi baru di benak pemirsa foto setelah melihat karya-karya seorang fotografer.***
QUALITY OF LIGHT MITOLOGI WARNA
Seberapa sering kalian melihat laki-laki berpakaian warna pink, atau barangkali seorang dokter dengan pakaian serba hitam saat bertugas di rumah sakit. Konon bayi yang baru lahir juga tidak boleh tidur diruang yang temboknya dicat serba hitam. Sebaliknya seorang Dedy Cobuzier rela menyiksa diri dengan dkaliannan aneh dan pakaian serba hitam. Seorang wanita akan
terlihat lebih seksi apabila memakai pakaian merah. Sementara itu seorang petualang rela tidak ganti pakaian berhari-hari agar bisa tetap memakai rompi coklatnya.
Dari beberapa contoh di atas maka tentunya dapat disimpulkan kalau warna bukan hanya berkaitan dengan estetika saja, tetapi melaui warna manusia juga mencoba untuk
mengkomunikasikan sesuatu. Setiap warna dapat menimbulkan suatu persepsi tertentu. Bahkan apabila dikombinasikan dengan atribut lain warna bukan hanya menimbulkan persepsi dan citra tertentu, warna akan akan semakin menguatkan suatu “symbol” tertentu seperti keagungan, kematian, kehidupan dan lain-lain.
Warna merupakan suatu bahasa yang
disembunyikan. Pertama, Warna bisa mewakili usia tertentu, misal saja warna-warna remaja yang cenderung bernuansa cerah dan memiliki saturasi tinggi, sebaliknya warna yang mewakili usia dewasa cenderung lebih gelap dan memiliki saturasi rendah. Kedua, warna bisa mewakili suasana hati misalnya orang yang berduka seringkali memakai pakaian dan kerudung hitam, sedangkan orang yang sedang bersukacita cenderung memakai pakaian bercorak putih atau warna-warna cerah seperti pink, kuning, oranye.
Ketiga, Warna bisa menunjukkan kepribadian,
The HandBook | smamdaPhoto warna selalu dikaitkan dengan kepribadian.
Dalam film kita selau melihat jagoan-jagoan memakai kostum merah, seperti Spiderman dan Superman, walau sebenarnnya warna kostumnya sengaja disamakan dgn bendera Amerika untuk menumbuhkan rasa patriotik dan nasionalisme pada perang dunia 2, warna merah mempunyai sifat berani dan semangat yang tinggi. Contoh lain yang dapat kita lihat adalah seorang yang suka memakai warna kuning cenderung memiliki sifat percaya diri. Keempat, Warna untuk menunjukkan status sosial tertentu. Orang orang di kalangan ekonomi menengah atas memakai pakaian yang memiliki corak warna keemasan. Atau warna-warna yang memiliki sifat berkilau seperti warna silver dan putih.
Sebaliknya orang-orang kalangan bawah cenderung memakai pakaian dengan warna- warna kusam yang gelap dan kecoklatan.
Kelima, Warna bisa menunjukkan orientasi seksual dan jenis kelamin. Seorang metroseksual menkaliani diri dengan memakai pakaian dengan warna-warna saturasi tinggi dan memakai banyak atribut warna dalam pakaiannya. Selain itu warna maskulin adalah biru tua dan warna feminim adalah pink. Keenam, Warna sebagai penunjuk waktu. Survai membuktikan kalau apabila diruang kerja didominasi warna-warna panas (kuning, oranye, merah) maka waktu
rasanya semakin sepat berlalu, akibatnya kita seringkali terburu-buru. Sebaliknya jika ruang kerja yang didominasi warna dingin (hijau, biru, ungu) waktu terasa lebih santai dan enjoy.
Warna klasik seperti coklat dapat memberi suasana masa lampau, sedang warna silver bisa memberi suasana futuristik.
Hanya saja sejak kecil kita sudah dipaksa bahkan
“diperkosa” untuk mendefinisikan warna secara gegabah tanpa memperhitungkan proses
semiosis antara penkalian menjadi petkalian atau sebaliknya. Misalnya saja warna bendera Indonesia, Merah berarti berani dan putih berarti suci. Padahal merah bisa juga berarti gairah dan seksualitas, sedangkan putih bisa juga berarti kebahagiaan dan kejujuran. Satu contoh tersebut kita dihadapkan dalam sifat ambigu dari warna, karena satu warna bisa mempunyai banyak sekali arti.
Ada beberapa hal yang membuat warna sulit didefinisikan karena sifat warna yang komplek.
Pertama, eksistensi warna. Jumlah warna sebenarnya tidak terbatas karena setiap warna bisa dicampur dan memiliki saturasi dan value yang berbeda. Oeh karena itu perlu kita batasi yang dimaksud warna disini adalah warna
“awam”, artinya yang dimaksud dengan merah