• Tidak ada hasil yang ditemukan

Haji Wada‟

Dalam dokumen Sirah Nabawiyah (Halaman 151-156)

dari: 1. Untuk penduduk Madinah, Masjid Asyajarah di Dzul Hulaifah. 2. Untuk Thaif, Al-Qarnul Manazil, 3. Untuk Irak Wadi Al Aqiq, 4. Untuk Yaman, Yulamlam, 5. Untuk Syam Juhfah.

Kemudian untuk waktu atau Miqat Zamani adalah waktu boleh berihram, sejak 1 Syawal hingga 9 Dzulhijjah saat matahari tergelincir (Dzuhur). Atau sejak Idul Fitri hingga sehari sebelum Idul Adha yakni selama 72 hari.14

Kemudian Rasulullah SAW dan rombonganya mengenakan baju Ihram setelah itu mengucapkan kalimat Talbiyah. Kemudian setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh Rasulullah SAW dan rombongannya tiba di Makkah pada hari senin, 4 Zulhijjah.

Namun, sebelum beliau memasuki Masjidil Haram untuk bertawaf Aisyah melaporkan bahwa Rasulullah SAW mengambil wudhu terlebih dahulu. Beliau lalu menuju batu hitam (Hajarul Aswad), mengusapnya dengan tangan kanan, meletakkan dahi diatas Hajar Aswad lalu menciumnya. Mencium, mengusap, atau memberi isyarat ke Hajarul Aswad bagi seseorang yang menunaikan Haji merupakan baiat atau janji setia bahwa dirinya akan menaati Allah SWT, memenuhi perintahnya, dan menjauhi larangannya. Tepat di depan Hajarul Aswad, beliau mengelilingi Ka‟bah atau Tawaf, dalam arah berlawanan dengan jarum jam. Dengan kata lain, Ka‟bah berada di sebelah kiri. Dalam 3 putaran pertama, beliau terlihat setengah berlari. Kemudian beliau berjalan cepat, tapi langkahnya di perpendek. Setelah 7 kali berkeliling, beliau tepat berhenti di depan Hajarul Aswad, tidak lebih atau tidak kurang selangkah pun.

Selama Tawaf, Rasulullah SAW dan para jamaah tidak mengucapkan Talbiyah. Thawaf ini dikenal kemudian dengan Thawaf kedatangan atau Thawaf Qudum.15 Selesai bertawaf, beliau melangkah ke belakang Maqom Ibrahim dan membaca ayat Al-

14 Ibid, hlm. 23.

15Omar Hashem, Muhammad Sang Nabi, (Jakarta Selatan: Penerbit Tama

qur‟an yang artinya “Kamu jadikanlah Maqom Ibrahim tempat bershalat”.16 Rasulullah SAW lalu mengerjakan shalat 2 rakaat di belakang Maqom Ibrahim. Beliau lalu menuju sumur Zam-zam, meminum airnya, dan sebagiannya beliau siramkan ke atas kepala.

Sesudah itu beliau keluar dari pintu Masjid dan mendatangi bukit Shafa yang berjarak 130 meter sebelah tenggara Ka‟bah. Setelah tiba dekat Shafa beliau membaca ayat yang artinya: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah salah satu dari syiar-syiar Islam”.17 Beliau meneruskan langkahnya menuju Marwah yang berjarak 394 meter kearah Utara lalu beliau kembali ke Shafa dan mengulangi seperti tadi. Semuanya dilakukan sebanyak 7 kali.

Rasulullah SAW memerintahakan jama‟ah yang tidak membawa hewan Qurban agar melakukan Tahalul (meninggalkan Ihram), yaitu memotong rambut seperti diriwayatkan Muslim melalui Jabir, mengganti bajunya dengan baju biasa, dan berhenti mengucapkan Talbiyah, serta kembali ke penginapan masing-masing ini sesuai dengan perintah Allah SWT yang artinya: “Dan jangan mencukur rambutmu (Tahalul) sebelum Hadyunya atau hewan Qurban sampai ke tujuan.

Setelah membawa Hadyu Rasulullah SAW kembali ke Makkah dan tinggal dalam kemah yang telah disiapkan. Dengan demikian, Ibadah Haji Rasulullah SAW yang pertama dan terakhir ini disebut juga Haji Tamattu‟ atau Mut‟atul Hajj atau Haji gembira karena sejak selesai Sa‟i dan gunting rambut, larangan-larangan orang berhaji, Muharramat, tidak lagi berlaku hingga dimulai kembali Ihram pada hari Tarwiyah, yaitu tanggal 8 Dzulhijjah. Lalu pada tanggal 9 Dzulhijjah Rasulullah SAW dan rombongannya wukuf di Padang Arafah. Sepulangnya dari Arafah Rasulullah SAW menuju Mudzdalifah untuk mengerjakan shalat Maghrib dan Isya.

Lalu, pada tanggal 10 Dzulhijjah atau hari Qurban (Idul Adha)

16 Al-Quran, Al-Baqarah [2]:125

17 Al-Quran. Al-Baqarah [2]:15

seusai melakukan shalat subuh di Mudzdalifah Rasulullah SAW memerintahkan Abdullah bin Abbas untuk mengumpulkan kerikil untuk melempar jumrah, kerikil yang dikumpulkan sebesar ujung jari sebanyak 70 butir.

Rasulullah SAW kemudian meneruskan perjalanan seraya melewati jumrah pertama (Al-Jumratul Ula) dan kedua (Al-Jumratu Ats-Tsaniyah), tanpa melemparinya dengan kerikil. Sebab, di hari ini Rasulullah SAW hanya melempar Jumrah terakhir yaitu Jumrah Aqabah atau Jumrah Al-Kubra yang terletak agak tinggi di kaki bukit dan berada sebelah kanan bila menghadap Ka‟bah. Namun Rasulullah SAW tetap membaca Talbiyah dan takbir. Mulailah Rasulullah SAW melempar Jumrah Aqabah tatkala matahari mulai meninggi, yakni saat sepanjang tombak (istilah untuk pagi hari) dengan menggunakan tujuh buah kerikil dari atas pelana unta.

Setiap kali melempar sebuah kerikil, Rasulullah SAW mengangkat tangan dan membaca takbir. Setelah berakhirnya Jumrah, Rasulullah SAW berhenti membaca Talbiyah.

Rasulullah SAW membawa seratus ternak kurban yang sehat ke Mina pada 4 Dzulhijjah. Kemudian beliau menyembelih 63 ekor unta dengan tangan beliau sendiri dan sisanya di sembelih oleh Ali. Beliau menyuruh orang-orang mengambil daging sedikit- sedikit dari hewan-hewan Qurban tersebut untuk dimasak dan Rasulullah SAW serta Ali memakan dagingnya dan meminum kuahnya. Kemudian Rasulullah SAW dan rombongan Haji mencukur rambut. Sebagian sahabat mencukur rambutnya, sementara sebagian lainnya hanya memotong sekadarnya.

Sesudah mencukur rambut di pagi hari Qurban tanggal 10 Dzulhijjah, Rasulullah SAW bertolak ke Makkah dan melakukan Thawaf Ifadhah. Dalam Tawaf Ifadhah Rasulullah SAW tidak lagi berlari-lari kecil pada tiga putaran awal seperti Tawaf Qudum dan juga tidak ada Sa‟i.

Pada tanggal 11 Dzulhijjah atau di sebut juga Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah). Pada hari ini Rasulullah SAW melempar Jumrah hingga tanggal 13 Dzulhijjah, Jumrah yang dilempari terdiri 3 buah yaitu:

1. Jumrah Al-Ula yang berarti tempat pelemparan pertama.

Rasulullah SAW melempar Jumrah yang terletak dekat Masjid Mina, sebanyak 7 kali. Setiap kali melempar Jumrah Rasulullah SAW menghadap Ka‟bah untuk berdoa.

2. Yang berarti tempat pelemparan pertengahan. Rasulullah SAW melempar 7 kerikil seraya mengucapkan takbir setelah melempar. Rasulullah SAW juga menghadap Ka‟bah untuk berdoa.

3. Jumrah Al-Aqabah atau di sebut juga Jumrah Al-Kubra.

Rasulullah SAW melempar 7 kerikil, mengucapkan takbir setiap selesai melempar, lalu pergi tanpa menunggu lagi.

Masing-masing Jumrah menggunakan tujuh buah kerikil, sehingga pada hari ini (11 Dzulhijjah) semua kerikil yang digunakan berjumlah 21 buah. Pada tanggal 12 Dzulhijjah atau di sebut juga Hari Nafar Awal. Pada hari ini Rasulullah SAW kembali melakukan pelemparan Jumrah seperti yang dilakukan pada hari sebelumnya.

Kemudian pada tanggal 13 Dzulhijjah atau disebut juga Hari Nafar Akhir, Rasulullah SAW melakukan pelemparan Jumrah yang terakhir. Dengan demikian, jumlah kerikil yang digunakan itu mencapai 70 butir. 7 butir pada tanggal 10 Dzulhijjah, dan 21 lainnya masing-msing pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Akhirnya Rasulullah SAW melakukan Thawaf Perpisahan atau Thawaf Al-Wada‟. Setelah melakukan pelemparan Jumrah, Rasulullah SAW dan rombongan Haji kembali menuju Makkah untuk melaksanakan Thawaf wada‟. Thawaf ini dilakukan tanpa berlari-berlari kecil dan tanpa Sa‟i. Maka selesailah perjalanan Haji Wada‟ Rasulullah SAW.

Dalam dokumen Sirah Nabawiyah (Halaman 151-156)