KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teoritis
2. Hakikat Konsep Pembelajaran
Model secara harfiah diartikan sebagai bentuk, strategi, taktik untuk mencapai tujuan, sedangkan pembelajaran adalah kegiatan mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik, baik melalui lembaga formal, nonformal, maupun informal agar terjadi perubahan tingkah laku pada peserta didik tersebut. Dengan demikian, secara operasional, model pembelajaran diartikan sebagai bentuk, cara-cara, metode-metode atau taktik yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Uno (2008: 1) model pembeajaran bekonotasi sebagai suatu patron atau pola yang dapat digunakan dalam melaksanakan pembelajaran, khususnya berbagai teori yang berkenaan dengan srtategi pembelajaran, metode pembelajara dan teknik pembelajaran.
Menurut Uno (2008: 2) metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru dalam menjalankan fungsinya, merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Teknik pembelajaran seringkali disamakan
artinya dengan metode pembelajaran. Teknik adalah jalan, alat, atau media yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan kegiatan peserta didik ke arah tujuan yang ingin dicapai, sedangkan strategi pebelajaran adalah cara-cara yang akan digunakan dan dipilih oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pemeblajaran sehingga akan memudahkan peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, yang pada akhirnya tujuan pembelajaran dapat dikuasainya di akhir kegiatan pembelajaran. Ketiga hal ini tidak dapat dipisahkan dalam proses pembelajaran.
Istilah “model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan sesuatu kegiatan. Model sering digunakan dalam pengertian yang sangat umum, yaitu suatu teori. Namun, terdapat perbedaan antara model dengan teori. Model belum teruji secara ketat seperti teori.
Dalam pembelajaran, istilah model diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. Model berfungsi sebagai pedoman bagi siswa dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran.
Secara tradisional, pembelajaran atau biasa diartikan sebagai kegiatan menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Pandangan ini dianggap sangat sempit karena terlalu mementingkan pendidikan intelektual
dan hanya berpusat pada mata pelajaran. Pendapat yang lebih modern menganggap belajar sebagai perubahan tingkah laku (a change in behavior).
Menurut Slameto (2003: 2) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya, sedangkan menurut Syah (2003: 67) belajar adalah kegiatan pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak yang dikuasai oleh siswa.
Menurut Skinner (dalam Rahim, 2013: 9) Belajar adalah suatu perilaku pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya jika ia tidak belajar maka responsnya menurun, sedangkan menurut Gagne (dalam Rahim, 2006: 13) belajar merupakan kegiatan yang kompleks., hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Slameto (2003; 79) belajar adalah perubahan perilaku yang diamati, sedangkan tingkah laku itu adalah tindakan yang diamati.
Apabila dicermati pendapat Santrock (dalam Syah, 2003: 265) bahwa proses belajar atau pembelajaran adalah fokus utama dalam dunia pendidikan, maka ketika orang ditanya apa fungsi sekolah itu, mereka biasanya akan menjawab “membantu siswa untuk belajar” . pembelajaran
(learning) dapat didefinisiskan sebagai pengaruh permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir melalui pengalaman.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya yang sistematik dan disengaja untuk menciptakan kondisi-kondisi agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien (Sutikno, 2005: 10). Menurut Muchlisoh dkk (1991: 17) pembelajaran adalah satu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mancapai tujuan pembelajaran. Menurut Sadirman (dalam Sutikno, 2005: 27) pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-smber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri peserta didik. Menurut Degeng (dalam Miriam (2006: 82) pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran tersebut tidak dapat lepas dari interaksi antara sumber belajar dengan warga belajar, sehingga dalam pelaksanaan interaksi tersebut diperlukan berbagai cara dalam pelaksanaannya. Dalam interaksi tersebut terlibat beberapa orang di antranya siswa, guru, dan tenaga ahli lainnya, misalnya laboratorium. Sumebr belajar di ataranya buku-buku, papan tulis, spidol, film, fotografi, dan lain-lain. Model pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai cara untuk menyampaiakan materi saja, sebab sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran mempunyai tiga cakupan yang luas yaitu di samping sebagai penyampai informasi juga mempunyai tugas
mengelola kegiatan pembelajaran sehingga siswa dapat belajar untuk mencapai tujuan secara cepat.
Setiap tujuan yang dirumuskan menghendaki penggunaan model yang sesuai. Untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan setiap guru tidak mesti menggunakan suatu model, tetapi bisa juga menggunakann beberpa model dalam sebuah pembelajaran. Apalagi jika rumusan itu lebih dari satu, dua ataupun tiga rumusan tujuan, dalam hal ini guru perlu adanya sebuah penggabungan model pembelajaran (Nurgiantoro, 2008). Dengan begitu kekurangan model yang satu akan tertutupi dengan model yang lainnya, dengan demikian model pembelajaran yang saling melengkapi ini akan menghasilkan hasil pembelajaran yang lebih baik daripada menggunakan atau terpaku dalam satu model saja.
Menurut Suryabrata (2002: 27) bahwa model pembelajaran yang bervariasi akan menggairahkan belajar peserta didik. Variasi dalam kegiatan pembelajaran adalah perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi para peserta didik serta menguraikan kejenuhan dan kebosanan. Pada suatu kondisi tertentu peserta didik akan merasa bosan dengan model ceramah, disebabkan mereka harus dengan setia dan tenang mendengarkan penjelasan guru tentang suatu masalah. Kegiatan pembelajaran seperti itu harus guru alihkan dengan model pembelajaran yang lain, karena kemampuan setiap model pembelajaran tersebut berbeda-
beda, kemampuan yang dihasilkan oleh model pembelajaran yang satu tentunya akan berbeda dengan yang dihasilkan oleh model pebelajaran yang lain. Demikian juga dengan penggunaan model pembelajaran lainya.
Dalam pendidikan dan pembelajaran perubahan yang terjadi meliputi tiga domain yaitu domain kognitif, efektif, dan psikomotor. Belajar bergantung pada kebutuhan dan motivasi, dan terarah kepada pencapaian tujuan. Pada dasarnya perubahan di sekolah memerlukan perubahan-perubahan dalam tiga bidang tersebut, hanya perubahan di tingkat masing-masing disesuaikan dengan bidang ilmu yang dipelajarinya. Diharapkan dengan perubahan yang terjadi dalam tiga bidang tersebut akan berpengaruh dalam cara berpikir, merasa dan membentuk kebiasaan perilaku.
Teori belajar dan pembelajaran telah banyak dikemukakan oleh ahli psikologi dan pendidikan seperti dikemukakan oleh Hamalik (2001: 23) yaiu:
(1) teori conditioning yang menitikberatkan pada timbulnya respons yang disebabkan oleh suatu stimulus tertentu melalui proses persinggungan;
(2)teori connectionism yang menekankan bahwa belajar adalah pembentukan ikatan atau hubungan antara stimulus-respons melalui proses pengulangan;
(3) teori medan (fiels theory) yang mengatakan bahwa keseluruhan bagian yang satu dengan yang lainnya erat hubungannya dan saling bergantung, termasuk dalam hal ini adalah teori Gelstalt; (4) psikologi fenomenologis dan humanistis yang menitik beratkan pada kondisi dalam diri individu; (5) teori
stimulus-respons-relativistik yang mengatakan bahwa tingkah laku manusia merupakan moral behavior dan keseluruhan perilaku terhadap stimulus dan terhadap stimulus dan terhadap hubungan dua arah antara manusia dan lingkungan.
Selanjutnya Suryabrata (1985: 42) membedakan teori pembelajaran dalam dua golongan besar uaitu: (1) teori behavioristik-elementaristik; dan (2) teori kognitif holistik. Thorndike (dalam Suryabrata, 1985: 47) berpendapat bahwa pembelajaran berlangsung melalui tiga macam hukum belajar yaitu:
(1) low of readness yang menunjukkan kesiapan seseorang untuk bertindak;
(2) low of exercise yang mengatakan bahwa meningkatnya kemungkinan untuk merespons sesuatu bila situasi itu telah dihadapkannya dan diulang lagi; (3) low of effect yaitu teori yang mengatakan bahwa apabila koneksi yang dibuat dan disertai oleh keadaan yang memuaskan, maka kekuatan hubungan itu akan bertambah.
Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. Sebelum menentukan model pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan guru dalam memilih model pembelajaran, yaitu:
a. Pertimbangan terhadap tujuan yang ingin dicapai.
b. Pertimbangan yang berhubungan dengan materi.
c. Pertimbangan dari sudut peserta didik atau siswa.
d. Pertimbangan lainnya yang sifatnya nonteknis.
Adapun ciri-ciri model pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu.
b. Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu.
c. Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar mengajar di kelas.
d. Memiliki bagian-bagian model yang dinamakan : (1) urutan langkah-langkah pembelajaran; (2) adanya prinsip-prinsip reaksi; (3) sistem sosial; dan (4) sistem pendukung.
e. Memiliki dampak sebagai akibat terapan model.
Membuat persiapan mengajar dengan pedoman model pembelajaran yang dipilihnya.(Rusman, 2012: 136).