• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hakikat Permainan Tradisional

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Hakikat Permainan Tradisional

Menurut pendapat Soetoto Pontjoopoetro Negera Kesatuan Republik Indonesia memiliki keberagaman, sdengan demikian banyak memiliki jenis- jenis permainan tradisional yang sering dimainkan oleh masyarakat secara keseluruhan untuk mengisi waktu luang disela sela pekerjaanya. selesai melakukan kegiatan sehari-hari. Selanjutnya menurut pendapat Sukintaka,

telah dimainkan anak-anak secara tradisi, yang dimaksud tradisi di sini adalah

permainan telah diwariskan dan genera

Jadi permainan-permainan tersebut telah dimainkan oleh anak-anak dari satu jaman ke jaman berikutnya.

Menurut pendapat Sukintaka permainan daerah merupakan sumber permainan tradisional yang memiliki keunikan masing-masing disuatu wilayag atau daerah masing-masing. Permainan daerah merupakan suatu kegiatan yang sangat bermakna untuk wahana eksplorasi mengenai satuan pendidikan generasi bangsa indonesia.

Permaina tradisional sangatlah penting melakukan pengangkatan kembali permainan daerah untuk kepentingan perkembagan suatu pendidikan.

Hal ini diharapakan dapat membantu usaha pengembangan dan pelestarian

tahui bahwa budaya asli indonesia selalu menampilkan jati diri bangsa yang dapat dibanggakan, dan beraneka raga permainan daerah yang dimiliki, merupakan wujud kekayaan bangsa indonesia akan budaya.Sehingga bagaimana banyaknya permainan yang ada di Indonesia ini yang harus dijaga dan dilestarikan sampai anak cucu dapat memainkan permainan tradisional lagi.

Permainan tradisional merupakan permainan yang sering dimainkan anak- anak sejak jaman dahulu, permainan ini beraneka ragam baik di berbagai daerah memiliki permainan trdisional masing-masing.12

12 12 https://text-id.123dok.com/document/9yn9r69jq-pengertian-permainan-tradisional- hakikat-permainan-tradisional.html. Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak Jilid 1, Jakarta:

18

Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa permainan tradisional merupakan suatu hasil budaya masyarakan yang telah tumbuh dan hidupsampai sekarang, permainan peninggalan nenek moyang yang dilakukan dengan suka rela diman permainan tersebut dimainkan menggunakan bahasa maupun ciri khas dari daerah tertentu yang harus dilestarikan guna memperkokoh jati diri bangsa. Permainan tradisional menjadikan orang bersifat terampil, ulet, cekatan, tangkas, dan lain sebagainya serta memiliki manfaat bagi anak.

D. Bentuk Permainan Tradisional Gopa

Permainan Gopa sampai sekarang masih dilakukan dan seluruh wilayah Indonesia mengenal permainan ini, meskipun disetiap daerah memiliki sebutan lain-lain. Gopa dimainkan oleh anak laki-laki dan juga perempuan. Bisa dilakukan oleh dua orang saja dan maksimal lima orang, sebab untuk memainkannya harus menunggu giliran dan jika banyak yang bermain maka akan lama menunggunya.

Permainan tradisional Gopa dimainakan dengan cara bermainnya dengan menggambar kotak-kotak di latar. Bermainnya di lapangan yang terang agar mudah menggambar kotak-kotaknya. Ada sembilan kotak yang terdiri dari tiga buah kotak horizontal, lalu disambung tiga kotak vertikal, setelah itu tambah satu kotak diatasnya dan terakhir dua kotak dihorizontal.

Satu persatu pemain melompati kotak tersebut dari awal hingga terakhir.

Melompatnya harus menggunakan satu kaki, jika kaki terjatuh maka harus

menaruh batu disalah satu kotak terakhir sebagai tanda untuk mengawali giliran.

1. Langkah-langkah permainan tradisional Gopa adala yaitu:

a. Permainan dimainkan oleh 2 sampai 5 orang atau lebih

b. Membuat bidang permainan Gopa dengan menggunakan kapur atau sejenisnya

c. Peserta yang bermain melakukan hompimpa untuk menentukan urutan pemain dalam bermain

d. Untuk memulai bermain, setiap pemain harus mempunyai kereweng yang biasa berupa pecahan genting, keramik, dan batu yang datar.

e. Pemain dengan melempar gacuk pada peta pertama bidang pemain.

Gacuk yang dilempar tidak boleh meleset dari petak yang seharusnya sudah ditentukan atau mengenain garis antar petak.

f. Pemain melewati petak dimana dia melempar gacuknya dan kemudian melompat-lompat dengan satu kaki kepetak selanjutnya sampai kembali ke star. Namun sebelum masuk kembali ke petak yang ada gacuknya, pemain mengambil gacuk dengan tetap berbijak pada kaki satu, kemudian melompati petak tersebut. Pemain tidak boleh menginjak gacuk pemain lain, menginjak garis tepik, atau menginjak petak yang berisi gacuknya sendiri.

g. Pemain yang menyelesaikan satu putaran sampai dipuncak gunung, mengambil gacuk dengan membelakangi gunung, menutup mata, dan tidak boleh menyentuh garis titik. Apabila pemain tersebut menyentuh

20

garis/terjatuh saat mengambil gacuknya maka ia harus digantikan pemain selanjutnya.

h. Apabila pemain berhasil mengambil gacuk digunung, maka ia harus melemparkannya keluar dari bidang petak. Kemudian pemain tersebut melompat sesuai dengan kotak dan diakhiri dengan berpijak pada gacuk yang dilemparnya tadi.

i. Jika berhasil pemain lanjut pada tahap mencari sawah dengan cara menjaagling gacuk dengan telapak tangan bolak-balik selama 5 kali tanpa terjatuh. Hal ini dilakukan dengan posisi berjongkok membelakangi bidang petak dan berada ditempat jatuhnya gacuk yang tadi dilemparnya.

j. Bermain dinyatakan gugur atau diganti pemain,jika pemain menginjak atau keluar garis kotak menginjak kotak yang didalamnya terdapat gacuk melempar genting keluar dari kotak. Pemain yang memiliki sawah paling banyak adalah pemenangnya.13

Perkembangan Sosial sebagai manusia selalu berhubungan dengan orang lain. Manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan dari orang lain, senada

itu manusia perlu mendapatkan sosialisasi guna memahami bagaimana cara berkehiidupan dan berhubungan dengan orang lain. Begitu juga pada usia anak-anak, semakin banyak kesempatan yang anak miliki untuk melatih

13 Novi Mulyani, Super Asyik Permainan Tradisional Anak Indonesia, (Yogyakarta: Diva Press, 2016), hlm. 115-116.

kemampuan sosial ini, maka semakin cepat mereka belajar dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Pada masa anak-anak, perkembangan sosial adalah hal yang sangat penting di perhatikan terkait pemenuhan kebutuhan sosialisasi. Susanto perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan dan dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi, meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.

Perkembangan sosial adalah perilaku anak dalam meyesuaikan perkembangan sosial adalah menyesuaikan diri dengan aturan-aturan masyarakat dimana anak itu berada. Perkembangan sosial anak merupakan hasil belajar, bukan hanya sekedar hasil dari kematangan. Perkembangan sosial anak diperoleh dari berbagai respon mengenai dirinya, maka anak mampu diterima dilingkungan masyarakat jika ia sudah memiliki sikap mampu memahami masyarakat lain.

Permainan Gopa merupakan permainan tradsional untuk anak yang sangat popular. Permainan ini dapat ditemukan berbagai wilayah di Indonesia.

antara lain di daera asahan sumatera utara dikenal dengan Gopa, di daerah mandiling disebut marpice, sedangkan didaerah gayo aceh disebut dengan permainan goncang. Meskipun namanya berbeda tetapi permainan dan bentuknya sama. Permainan Gopa dilakukan dengan senang hati dan suka relah tanpa ada unsur paksaan dari pihak lain karena memainkan suatu permainan itu adalah suatu yang menyenangkan.

22

Gopa pada tahun 1970 an juga menjadi permainan favorit di kalangan anak-anak dan remaja, dalam bahasa jawa dinamakan Gopa karena caranya bermain menggunakan satu kaki jumlah Gopa bebas, biasa 2 samapi 5 anak tempat yang bermain tidak memerlukan pekarangan yang luas tetapi datar sehingga bisa dilakukan di pekarangan rumah maupun dilapangan sekolah dan dimainkan bersama-sama.

Gopa merupakan permainan tradisional lompat-lompatan pada bidang- bidang datar yang digambar di atas tanah, dengan membuat gambar kotak- kotak kemudian melompat dengan satu kaki dari kotak yang satu ke kotak berikutnya:

Gambar 2.2 Gaya Permainan Gopa

BAB III

METODE PENELITIAN A. Setting Penelitian

Penelitian ini merupakan setting penelitian tindakan kelas (PTK).

Menurut Lexy J maleong penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, presepsi, motivasi, tindakan, dan lain- lain, secara holistik, dan dengan cara diskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di TK Melati Desa Mbawa Kecamatan Donggo Kab. Bima Nusa Tenggara Barat.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun pelajaran 2022/2023 di TK Melati Desa Mbawa Kecamatan Donggo Kab. Bima.

Pada peneltian ini dilaksanakan dua siklus dan dimulai pada tanggal 9 agustus 2022 sampai 22 gustus 2022.

B. Sasaran Tindakan

Sasaran penelitian merupakan suatu objek penelitian tindakan kelas yang merupakan suatu yang aktif dan dapat dikenai aktivitas bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak. Adapun sasaran penelitian ini adalah siswa kelas B yang berjumlah 15 orang yang terdiri dari 11 anak perempuan dan 4

24

orang anak perempuan laki-laki. Dari 15 anak kurang lebih 4 orang anak yang sudah mampu menunjukan kemampuan sosial emosional anak dalam berkerjasama, sedangkan 11 anak yang lain masih terlihat kurang optimal.

C. Desain PTK

Sebelum pelaksanaan PTK, dilakukan berbagai rancangan desain pembelajaran yang akan dijadikan PTK yaitu: membuat rencana kegiatan satu siklus, membuat rencana kegiatan harian. Penguasaan permainan.

Menyediakan media dan sumber belajar, penataan kegiatan, pengelolah kelas, penggunaan waktu dan menyediakan alat penilaian.

D. Rencana Tindakan

Penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas atau dikenal dengan (PTK).Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah proses pengkajian secara mendalam sebagai proses pembelajaran di dalaam suatu kelas mulai refleksi diri dan upaya untuk memecahkan masalah dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dan tersistematik dalam situasi nyata serta menganalisis/mengakaji dengan cermat setiap pengaruh dari tindakan tersebut.14

1 Lexy J. MOLEONG, Metode Penelitian Tindakan kelas (PTK), (Bandung: Pt. Remaja Rosdakarya, 2007), 5

(Jakarta:

Kencana, 2013), hlm. 149.

Tabel 3.1

Siklus PTK Model Kemmis dan Mc Taggart

Penelitian ini akan dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Prosedur pelaksanaan tindakan dan implementasi di lokasi penelitian sebagai berikut:

1. Siklus I

a) Tahap Perencanaan (Planing)

Perencanaan adalah persiapan segala sesuatu yang dibutuhkan sebelum melakukan penelitian. Untuk penelitian ini, maka segala sesuatu yang dibutuhkan selama kegiatan belajar mengajar adalah yang berkaitan dengan perkembangan sosial emosional anak. Sebagai tahap persiapan awal, peneliti mengadakan observasi tentang keadaan atau

Perencanaan

Pelaksanaa n

SIKLUS I

Pengamatan Refleksi

perencanaan

SIKLUS II Pelaksanaa Pengamatan n

Refleksi

26

sitasi sekolah dan peserta didik sebagai dasar penyususnan perencanaan. Adapun perencanaan yang diperlukan sebagai berikut:

a) Menyusun Rencana Kegiatan Harian (RKH) sebagai acuan dalam kegiatan belajar, dalam penelitian ini serangkaian kegiatan dengan melalui permainan tradisional Gopa.

b) Mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam pembelajaran melalui permainan tradisional Gopa.

c) Mempersiapkan instrumen penelitian seperti lembar observasi peserta didik dan guru.

d) Menyiapkan kelengkapan peralatan untuk mendokumentasikan kegiatan pembelajaran yang akan berlangsung.

e) Menyiapkan instrumen penilaian untuk mengukur sosial emosional siswa.

b) Tahap pelaksanaan Tindakan dan Observasi (Act danObserve) Pada tahap pelaksanaan tindakan, kegiatan yang akan dilakukan adalah guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan permainan Gopa untuk meningkatkan perkembangan sosial emosional anak. Sedangkan peneliti melakukan pengamatan (observasi) selama kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan bersama saat proses belajar mengajar berlangsung.

c) Tahap Pengamatan

Pengamatan bisa diartikan sebuah proses penelitian yang secara langsung dilakukan oleh penenliti dengan bantua wali kelas dan berlangsung di kelas itusendiri, yang dimana bertindak sebagai obsever. Cara pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan melihat secara langsung tingkat perkembangan sosial- emosional anak melalui permainan-permainann tradisional (Gopa).

Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan menggunakan lembar observasi yang sudah disediakan.

Proses menyusun secara sistematik data yang diperoleh hasil observasi, wawancara, tes, catatan lapangan, dan bahan-bahan, sehingga dapat dipahami, dan berhasil temuanya dapat diinformasikan kepada orang lain.

d) Refleksi (Reflection)

Pada tahap ini peneliti mengumpulkan dan menganalisis data yang diperoleh selama observasi. Kegiatan refleksi ini bertujuan untuk mengetahui kelebihan ataupu kekurangan yang terjadi selama proses kegiatan melalui permainan tradisional engklek berlangsung, yang kemudian di evaluasi. Dari hasil evaluais tersebut akan dicari solusi untuk mencari permasalahan yang muncul pada siklus I sehingga dapat disusun rencana pada siklus selanjutnya hingga tercapainya kriteria yang menjdi target, atau sudah mencapai indikator keberhasilan.

28

Adapun setiap siklus menggunakan RKH dengan menggunakan metode permainan tradisional Gopa.15

2. Siklus II

Pada siklus II ini kegiatannya hampir sama dengan siklus I, tetapi tindakan yang dilakukan pada siklus II diperbaiki berdasarkan refleksi pada akhir siklus. Siklus II bertujuan untuk memperbaiki kekurangan dari siklus I sehingga dapatmencapai indikator keberhasilan.

E. Jenis-Jenis Instrumen dan Cara Penggunanya

Instrumen penelitian adalah alat bantu yang dimana untuk digunakan oleh peneliti dalam membantu pengumpulkan data penelitian dengan cara melakukan penguukuran. 16 Adapun instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi adalah megamati secara langsung pada objek penelitian.

Observasi merupakan usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yan terstandar. Pengumpulan data melalui` observasi langsung yang dilakukan sendiri oleh peneliti pada kelas yang dijadikan sampel, guna mendapat gambaran secara langsung bagaimana kegiatan belajar anak didalam kelas. Hasil dari pengumpulan data dengan metode observasi ini, akan digunakan oleh peneliti sebagai gambaran dan persiapan sebelum peneliti menggunakan penelitian.

15 Suharsini Arikunto, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2014), hlm.16-18.

16 Tehnik Penyusunan Instrumen Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 51.

Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data tentang perekembangan sosial emosional anak.

Pengamatan dilakukan oleh peneliti dengan mengobservasi perkembangan sosial emosional peserta didik dan aktivitas yang dilakukan guru selama prose pembelajaran. Lembar pengamatan yang digunakan berupa lembar pengamatan perkembangan sosial emosional anak dan lembar pengamatan aktivitas guru. pedoman observasi yang digunakan dalam penelitian ini berikut adalah

a. Lembar Observasi Aktivitas Guru Tabel 3.3

Lembar Observasi Aktivitas Guru

No

Aspek yang diamati Jawaban

YA Tidak 1 Guru membuka pelajaran dengan memberi salam

2 Guru bernyanyi sebelum kegiatan inti dilakukan.

3 Guru menanyakan kabar peserta didik.

4 Guru memerintahkan peserta didik untuk membaca doa sebelum belajar.

5 Guru menjelaskan media dan cara penggunaannya.

6 Guru mengajukan pertanyaan untuk didiskusikan bersama peserta didik.

7 Guru memancing peserta didik untuk berpikir dan berperan aktif dalam pembelajaran (bertanya, berpendapat, menjawab pertanyaan).

8 Guru menunjukkan tanggung jawabnya atas setiap kegiatan dalam pembelajaran.

9 Guru memberikan penghargaan kepada setiap peserta didik yang berperan aktif dalam pembelajaran.

10 Guru mengatur waktu pelajaran dengan baik.

30

11 Guru menutup pelajaran dengan menyuruh peserta didik membaca doa sesudah belajar bersama-sama.

Jumlah skor yang Nampak Jumlah descriptor

Nilai skor

Ketuntasan klasikal Petunjuk:

a.

b.

Setelah menghitung presentasi pada aktivitas guru dapat dilihat penilaian sebagai berikut:

55%-59% (Kurang) 60%-75% (Cukup) 76%-85% (Baik)

86%-100% (Sangat Baik) b. Lembar observasi aktivitas siswa

Lembar observasi aktivitas siswa merupakan instrumen yang memuat tentang sejumlah kegiatan yang akan dilakukan oleh siswa selama proses kegiatan belajara megajar belangsung dengan menggunakan permainan tradisionalGopa dalam meningkatkan perkembangan sosial emisional melalui permainan tradisional Gopa di kelas B TK Melati.

Tabel 3.5

Lembar observasi aktivitas siswa

No Aspek pengamatan Jawaban

Ya tidak 1 Anak menjawab salam

2 Anak ikut bernyanyi bersama-sama.

3 Anak menjawab pertanyaan guru dengan

4 Anak membaca doa sebelum belajar.

5 Anak menyimak penjelasan guru dengan seksama

dan bertanya jika kurang jelas

6 Anak meminta diajarkan untuk menggunakan media jika belum bisa.

7 Anak berperan aktif dan semangat dalam belajar

maupun menjawab pertanyaan-pertanyaan guru 8 Anak bertanggung jawab mengikuti pembelajaran

dengan baik.

9 Anak mengikuti pembelajaran sesuai waktu yang ditentukan

10 Anak berlomba-lomba untuk mendapatkan

penghargaan atau reward dari guru

11 Anak sudah menunjukan mandirinya dalam memiliki kegiatan

12 Anak memiliki sikap gigih yang tidak mudah menyerah

13 Anak memahami peraturan dan disiplin di saat

belajar

14 Anak mentaati aturan yang berlaku dalam saatu permainan

15 Anak membaca doa setelah belajar dan

menikmati hari-harinya sebagai peserta didik.

Jumlah skor yang Nampak Jumlah descriptor

Nilai skor

Ketuntasan klasikal

32 Petunjuk:

a.

b.

Setelah menghitung presentasi pada aktivitas siswa dapat dilihat penilaian sebagai berikut:

0%-25% (Kurang) 26%-50% (Cukup) 51%-75% (Baik)

76%-100% (Sangat Baik)

c. Lembar Observasi Perkembangan Sosial Emosional Anak Tabel 4.3

Lembar Observasi Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-5Tahun

Variabel Sub Variabel Indikator

Perkembangan Sosial Emosional Anak

Kesadaran diri Menunjukan sikap mandiri dalam memilih kegiatan.

Rasa tanggung jawab untuk diri sendiri dan orang lain.

1. Anak memahami peraturan dan disiplin disaat belajar

2. Mentaati aturan yang berlaku dalam suatu permainan.

Perilaku prososial Memiliki sikap gigih tidak mudah menyerah.

2. Wawancara

Menurut Slamet, wawancara adalah cara yang dipakai untuk memperoleh informasi melalui kegiatan interaksi sosial antara peneliti dengan yang diteliti. Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi

untuk mengumulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian.17

Tabel 3.6

Kisi-kisi pedoman wawancara

No Komponen sub komponen Pertanyaan

1. Mengetahui informasi awal guru dan siswa

a. Lamanya guru mengajar disekolah dan dikelas.

1) berapa lama ibu mengajar di TK Melati Desa Mbawa?

2.) berapa lama ibu mengajar di kelas B?

b. Jumlah siswa di kelas.

Berapa jumlah peserta didik dikelas B?

c. Pasil belajar siswa sebelum dilaksanakan penelitian.

Bagaimana hasil belajar siswa di kelas.

2. Respon dan proses cara mengajar guru sebelum

melakukan permainan Gopa.

a. Cara menyampaikan

materi dalam

permainan Gopa

1.) Bagaimana cara ibu menyampaikan materi kepada peserta didik?

2.) Apakah dalam proses pembelajaran ibu pernah menggunakan permainan Gopa?

b. Permainan

pembelajaran yang diketahui guru dan yang biasanya digunakan.

1) Permainan

pembelajaran apakah yang ibu ketahui?

2) Permainan

pembelajaran yang sering ibu gunakan

pada proses

permainan?

34

c. Respon siswa terhadap

pembelajaran dan respon siswa dalam permainan yang digunakan.

1) Bagaimana respon

siswa pada

pembelajaran?

2) Bagaimana respon siswa terhadap permainan Gopa yang ibu terapkan?

3. Mengetahui informasi akhir guru setelah menggunakan permainan Gopa

a. Pembelajaran lebih

mudah dipahami. 1. Apakah dengan menggunakan permainan Gopa adalah pembelajaran lebih mudah dipahami?

b. Dapat mengecek pemahaman siswa pada saat mengajukan pertanyaan.

1) Apakah denga melakukan permainan Gopa dapat mengecek pemahaman masing- masing siswa?

4. Respon siswa setelah

menggunakan permainan Gopa

a. Permainan Gopadapat membuat siswa lebih tertarik dan aktif bermain

1) Apakah dengan menggunakan

permainan Gopa siswa lebih tertarik dan aktif dalam bermain?

b. Hasil bermain siswa 1) Bagaiman hasil bermain siswa?

5. Aspek sosial emosional anak dalam melakukan permainan Gopa.

a. Kesadaran diri siswa dalam melakukan permainan Gopa

Apakah siswa sudah menunjukan sikap mandirinya di saat melakukan permainan Gopa?

b. Perilaku siswa dalam melakukan permainan

Apakah siswa memahami peraturan dan disiplin di saat bermain?

c. Rasa tanggung jawab siswa untuk diri sendiri dan orang lain di saat bermain.

1) Apakah siswa bisa menjaga dirinya sendiri saat bermain?

2) Apakah siswa menghargai keunggulan orang lain?

2. Dokumentasi

Menurut Gonttschalk menyatakan bahwa dokumen (dokumentasi) dalam pengertian yang lebih luas berupa setiap proses pembuktian yang didasarkan atas jenis sumber apapun, baik yang bersifat tulisan, lisan, gambaran, atau arkeologis. Metode dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, traskip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya.

Dalam penelitian ini, peneliti mempersiapkan alat dokumentasi seperti kamera untuk mengambil gambar-gambar atau foto sebagai bukti bahwa telah melakukan kegiatan peneliti.

F. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan dilaksanakan di bulan Agustussampai September. Pada Kelas B TK Melati Desa Mbawa Kecamatan Donggo Kabupaten Bima Tahun Ajaran 2022/2023.

G. Cara Pengamatan (Monitoring)/Evaluasi

Pengamatan di saat penelitian dilakukan secara langsung di dalam kelas oleh penenliti yang mengamati sebagai obsever. pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan upaya menambah meningkatkan perkembaengan sosial-emosional anak melalui permainan tradisional (Gopa).

Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan menggunakan lembaran obseervasi.

Proses mencari dan menyusun secara sistematik data yang diperoleh hasil observasi, wawancara, tes, catatan lapangan, dan bahan-bahan

36

lain, sehingga dapat dipahami, dan berhasil temuanya dapat diinformasikan kepada orang lain, adapun data yang digunakan analisis data.

H. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan adalah suatu ukuran tingkat pencapaian belajar siswa dalam setiap indikator. Ada dua kategori ketuntasan belajar siswa, yaitu secara individual dan klasikal. Adapun bentuk penilaian dalam indikator keberhasilannya adalah sebagai berikut:

a) Penilaian ketuntasan individual meningkatkan perkembangan sosial emosional anak melalui permainan tradisioal Gopa

Penilaian ketuntasan individual dikatakan tercapai apabila mencapai 65%

ke atas.18 Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

x100%19 Keterangan:

NP = Nilai Persen yang dicari R = Skor yang diperoleh siswa SM = Skor maksimum

Adapun untuk menghitung nilai rata-rata

Keterangan:

X = Nilai rata-rata

X = Jumlah semua nilai siswa N = Jumlah siswa20

18Zainal Aqib, dkk. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru TK/RA-SLBS, (Yogyakarta:

Ar-Ruzz Media, 2008), hlm 323.

19Ibid, hlm. 323.

b) Penilaian ketuntasan klasikal

Ketuntasan kalsikal dikatakan telah tercapai apabila mencapai 80%.21 Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

Skor yang diperoleh siswa dalam ketuntasan belajar dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kriteria sebagai berikut:

Tabel 3.1

Tingkat Ketuntasan Klasikal Siswa22

Penilaian Kriteria

0%-25% Belum Berkembang 26%-50% Mulai Berkembang 51%-75% Berkembang Sesuai Harapan 76%-100% Berkembang Sangat Baik

Adapun untuk mengetahui nilai aktivitas guru dan siswa dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

23

Hasil observasi aktivitas guru dan aktivitas siswa dapat diklasifikasikan dalam beberapa kriteria sebagai berikut:

20Ibid, hlm. 323.

21Ibid, hlm. 324.

22Johni Dimyati, Metodologi Penelitian dan Aplikasi Pada Pendidikan Anak Usia Dini, (Jakarta: Kencana, 2013), hlm. 103.

23Mansur Muclish, Melaksanakan PTK itu Mudah, (Jakarta: PT.Bumi Aksara, 2012), hlm.

Dokumen terkait