• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen tugas akhir - Universitas Bosowa (Halaman 60-83)

4.1. Analisa Ketersediaan

Metode yang di gunakan untuk menghitung ketersedian air sungai majeng yaitu Metode F.J. MOCK. Beberapa hal yang menjadi dasar dan pertimbangan dalam analisis dan perhitungan hidrologi ini adalah:

1. Stasiun penakar hujan yang digunakan dalam analisis hidrologi ini adalah Stasiun Bendung Benteng, Stasiun Bungi, dan Stasiun Kalosi.

2. Data curah hujan harian yang terekam pada stasiun penakar hujan yang bisa digunakan untuk analisis adalah 10 (Sepuluh) tahun periode tahun 2008 – 2018.

3. Berdasarkan map studi didapatkan parameter Daerah Aliran Sungai (DAS) Batulappa yaitu 7.22 km2, dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:

IV - 2

Gambar 4.1 Peta SUB DAS Batulappa 4.1.1. Analisis Curah Hujan

Data curah hujan yang digunakan untuk analisis ketersediaan air sungai Majeng diambil dari pos penakar hujan yaitu Stasiun Bendung Benteng, Stasiu Bungi, dan Stasiun Kalosi. Pemilihan pemakaian stasiun ini didasarkan pertimbangan bahwa lokasi stasiun ini merupakan stasiun yang terdekat dengan SUB DAS yang bersangkutan dengan pencatatan yang lengkap selama kurun waktu lebih dari 10 (Sepuluh) tahun.

4.1.2. Klimatologi

Faktor iklim yang membentuk ciri-ciri hidrologi suatu daerah, antara lain adalah jumlah dan distribusi presipitasi (hujan), pengaruh angin, temperatur dan kelembaban udara terhadap evaporasi.

IV - 3

Evaporasi merupakan faktor penting di dalam studi tentang pengembangan sumber-sumber daya air. Evaporasi sangat mempengaruhi debit sungai, besarnya kapasitas waduk, besarnya kapasitas pompa untuk irigasi, penggunaan konsumtif (consumptive use) untuk tanaman dan lain-lain. Air akan menguap dari dalam tanah, baik tanah gundul atau yang tertutup oleh tanaman dan pepohonan, permukaan tidak tembus air seperti atap dan jalan raya, air bebas dan air mengalir. Laju evaporasi atau penguapan akan berubah-ubah menurut warna dan sifat pemantulan permukaan (albedo) dan berbeda pada permukaan yang langsung tersinari matahari (air bebas) dan yang terlindung. Data klimatologi yang digunakan dari stasiun terdekat yaitu banga-banga.

Informasi klimatologi ini meliputi : Tabel 4.1 Data Klimatologi

Data Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des

Suhu Udara (o C) 28.1 28.4 29.2 29.2 29.0 28.0 27.5 27.7 28.7 29.8 29.8 28.9 Kelembaban Relatif (%) 92.4 91.9 91.5 90.6 91.4 93.0 93.3 92.8 91.7 93.2 92.4 93.9 Lama Penyinaran Matahari

(Jam/hari) 54.2 27.6 35.1 90.2 2.7 1.5 43.4 63.3 7.5 12.4 9.6 30.6 Kecepatan Angin (Km/hari) 54.2 27.6 35.1 90.2 2.7 1.5 43.4 63.3 7.5 12.4 9.6 30.6 Penguapan (mm) 6.2 5.8 5.5 6.2 6.9 7.4 5.0 5.1 5.9 7.1 6.6 5.9

Sumber: Unit Hidrologi BBWS Pompengan Jeneberang

IV - 4

4.1.3. Evaporasi potensial (Eto) Metode Penman

Metode ini menggunakan suhu udara, kelembaban udara, lama penyinaran matahari, lecepatan angin, dan elevasi lokasi studi dalam perhitungannya. Berikut ini adalah

Berikut ini adalah hasil perhitungan Secara lengkap evapotranspirasi sungai maajeng.

IV - 5

Tabel 4.2 Perhitungan Evaporasi Potensial (ET0) Metode Penman Modifikasi

IV - 6 4.1.4. Metode F.J.Mock

Parameterisasi Model F.J. Mock di lakukan dengan cara mencoba–coban nilai dari parameter Model F.J. Mock seperti singkapan lahan (m), koefisien infiltrasi (i), kapasitas kelembaban tanah (SMC), penyimpanan awal (IS), dan faktor resesi aliran air tanah (k) hingga mendapatkan Q model (debit hasil pendugaan Model F.J.

Mock) yang nilainya mendekati nilai Q observasi (debit hasil pengukuran lapangan). Hasil parameterisasi Model F.J. Mock disajikan pada tabel 4.3

Tabel 4.3

Parameter Parameter F.J. Mock Sub Das Batulappa

Sumber: Analisa Perhitungan

Berikut ini adalah Perhitungan F.J. Mock sungai Majeng pada tahun 2018

.

No Parameter Keterangan Besar

1 m Singkapan lahan 40

2 i Koefisien infiltrasi 0.4

3 SMC Kapasitas kelembaban

tanah 100

4 IS Penyimpanan awal 100

5 k Faktor resesi aliran air

tanah 0.6

IV - 7

Tabel 4.4

IV - 8

Perhitungan Keseluruhan Debit Merode F.J.Mock Dilakukan Secara Tabelis untuk Perhitungan Dapat dilihat pada lampiran.

Dari Hasil Perhitungan, maka dapat dilihat rekapitulasi perhitungan persetengah bulanan rata-rata Sub DAS Batulappa Seperti yang tunjukkan table 4.5.

T 4.8

IV - 9

Tabel 4.5 Hasil rekapitulasi perhitungan F.J Mock dalam (M3/bln)

Sumber: Hasil Perhitungan

IV - 10

1.3.5. Debit Andalan

Hasil Perhitugan diatas dapat didefinisikan sebagai debit andalan, bahwa debit minimum sungai unruk kemungkinan terpenuuhi yang sudah ditentukan yang dapat diapakai untuk Air Bersih. Kemungkinan terpenuhi di tetapkan 80 %, atau dengan kata lain kemungkinan bahwa debit rendah 20%, debit ini biasanya disebut sebagai debit dengan peluang 80% atau Q 80%. Untuk menentukan kemungkinan terpenuhi atau tidak , data debit disusun dengan urutan kecil ke besar.

Hasil perhitungan debit andalan metode F.J.Mock dapat dilihat pada table 4.6.

IV - 11

Table 4.6

Debit andalan pertengah bulanan sungai majeng (m3/dt)

Sumber : Hasil Perhitunga.

IV - 12 4.2. Analisa Pertumbuhan Penduduk

Perkembangan jumlah penduduk Kec.Batulappa dari tahun 2014 – 2018 adalah sebagai berikut :

Sumber: BPS Kab.Pinrang

Untuk menghitung presentase jumlah kenaikan penduduk per tahun dihitung secara rata – rata, dipergunakan rumus:

a. Metode Geometrik

𝑃t = jumlah penduduk tahun ke n ( n = 5 ) 𝑃0 = jumlah penduduk tahun 0 (2014)

𝑡 = Rentang waktu antara P0 dan Pt (tahun)

𝑟 = laju pertumbuhan penduduk rata-rata tiap tahun (%) Jadi : 𝑟 = − 1

Tabel 4.7

Perkembangan Penduduk di Kecamatan Batulappa Priode Tahun 2014-2018

No Desa/Kelurahan Jumlah Penduduk

2014 2015 2016 2017 2018

1 Tapporang 1647 1659 1661 1283 1693

2 Kassa 3394 3419 3445 3469 3491

3 Watang Kassa 1089 1098 1106 1114 1121

4 Batulappa 1639 1651 1663 1665 1685

5 Kaseralau 2111 2126 2142 2157 2171

Jumlah 9880 9953 10017 9688 10161

IV - 13 : 𝑟 = . − 1

: r = 0,007026 = 0.702 %

Jadi : jumlah penduduk 2014 =9.880 org.

: jumlah penduduk 2019 = P0 (1+r)t

: Jumlah penduduk 2019 = 9.880 (1+0.702%)5 = 20.231 org

b. Metode Aritmetrik

Pn = Jumlah penduduk yang akan dihitung Pt = Jumlah penduduk tahun ke t (jiwa) P0 = jumlah penduduk tahun ke 0 (jiwa)

q = pertumbuhan penduduk rata-rata setiap tahun (% ) n = Rentang waktu antara P0 dan Pt (tahun)

Jadi : q = 1/n (Pt / Po – 1) : q = ¼ ((10.161/9880)-1) : q = 0,0071 = 0.071 %

Jadi : jumlah penduduk 2014 = 9880 org jumlah penduduk 2019 = P0 (1 + n.q)

Jumlah penduduk 2019 = 9880 (1+(0.71%*5)) = 10.231 org.

IV - 14

Perhitungan selanjutnya untuk pertambahan jumlah penduduk sesudah tahun 2018 sampai dengan 2038 menurut metode geometric dan aritmetrik dapat dilihat pada tabel 4.8.

Tabel 4.8

Proyeksi Penduduk Kecamatan Batulappa

No Tahun Jumlah Proyeksi Penduduk (orang) Aritmatik Geometrik

1 2 3 4

1 2019 10231 10232

2 2020 10307 10307

3 2021 10373 10374

4 2022 10032 10033

5 2023 10522 10523

6 2024 10595 10596

7 2025 10673 10674

8 2026 10742 10743

9 2027 10389 10390

10 2028 10896 10897

11 2029 10972 10973

12 2030 11053 11054

13 2031 11124 11125

14 2032 10758 10760

15 2033 11284 11285

16 2034 11362 11364

17 2035 11446 11448

18 2036 11519 11521

19 2037 11141 11143

20 2038 11685 11687

IV - 15 4.3. Analisa Kebutuhan Air

Dalam upaya melakukan perkiraan terhadap kebutuhan air di masa- masa yang akan datang, maka dipengaruhi oleh faktor jenis kebutuhan air, jumlah pemakaian air dan jumlah kebutuhan air tiap pemakaian.

kebutuhan air bersih untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari atau rumah tangga seperti untuk minum, memasak, kesehatan individu (mandi, cuci dan sebagainya), menyiram tanaman, halaman dan pengangkutan air buangan (buangan dapur dan toilet).

Untuk pedoman perencanaan air bersih dapat diliat pada table 2.5.

Perhitungan Kebutuhan air bersih Kecamtan Batulappa untuk kebutuhan air untuk 20 tahun mendatang dapat dilihat pada table table 4.9.

IV - 16

Tabel 4.9 Rekapitulasi Perhitungan kebutuhan Air Bersih Kecamatan Batulappa Proyeksi sampai Tahun 2038

Sumber: Hasil Perhitungan

IV - 17

4.4. Evaluasi Ketersedian Air dengan Kebutuhan Air

Dari hasil perhitungan sebelumnya telah didapatkan ketersediaan air sungai majengdan kebutuhan air penduduk kecamatan Batulappa, berikut ini adalah tabel dan naraca pebandingan antara kebutuhan dan ketersediaan.

IV - 18

Tabel 4.10 Rekapitulasi Ketersediaan Air Sungai Majeng dan Kebutuhan Air Kecamatan Batulappa

IV - 19 4.5.

Sistem Penyediaan Air Baku

1.5.1. Unit Air Baku

Untuk pengambilan air baku kecamatan Batulappa berada pada sungai Majeng, perncanaan bangunan yang disaran kan yaitu Embung dan berada pada ketinggian 125 mdpl

Bak penampungan (reservoir) berada pada desa batulappa dengan ketinggian 120 mdpl lokasi. Jadi pada pengambilan air ke bak penampungan dillakukan dengan cara Gravitasi dikarenakan beda tinggi anatara Intake dan bak penampungan yaitu 5 m.

1.5.2. Unit Produksi

Lokasi pengolahan atau IPA berada dilokasi yang sama dengan lokasi bak penampungan dikarenakan lokasi yang cukup luas

1.5.3. Unit Distribusi

Pada unit distribusi juga terdapat bak panampungan atau reservoir yang berfungsi untuk disaat pemakaian lebih sedikit dari suplai dan digunakan untuk menutupi kekurangan disaat pemakaian lebih besar dari suplai. Lokasi Reservoir distribusi berada pada lokasi yang sama dengan IPA.

IV - 20

Untuk Pipa distribusi tidak dapat ditentukan dikarenakan butuh studi lebih lanjut dan teliti mengenai jenis pipa dan sistem distribusi yang lebih efisien.

Berikut ini adalah peta sistem penyedian air baku kecamatan batulappa:

V - 1 BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

1. Ketersediaan air atau debit andalan sungai majeng yang tersedia paling sedikit berada pada bulan September II yaitu 0.072 m3/dt dan Oktober II yaitu 0,069 m3/dt

2. Kebutuhan air Kecamatan Batulappa hingga Tahun 2038 yaitu sebesar 20,21 l/dt atau 0,020 m3/dt, dari hasil perhitungan kebutuhan dan ketersediaan air yang telah dilakukan maka bangunan intake yang direkomendasikan yaitu Embung dikarenakan akan ada tampungan air yang berlebih dan dapat di gunakan untuk kebutuhan sawah maupun kebun yang ada di sekitar lokasi.

3. Lokasi rencana Embung berada pada ketinggian 125 mdpl dan untuk rencana lokasi reservoir air baku, IPA dan reservoir distribusi berada pada lokasi yang sama yaitu 120 mdpl, maka sistem pengaliran air yang digunakan dari intake ke reservoir air baku yaitu gravitasi dikarena lokasi intake lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi reservoir. untuk distribusi air, sistem pengalirannya ada yang menggunakan pompa dan ada juga yang menggunakan gravitasi.

V - 2 5.2 Saran

1. Perlu adanya penelitian lanjutan mengenai detail desain embung dan perhitungan kebutuhan untuk sawah dan kebun yang ada disekitar lokasi apakah jumlah air yang di tampung dapat memenuhi atau tidak.

2. Perlu adanya Analisa mengenai penempatan lokasi embung yang direncakan

3. Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan untuk Pipa Distribusi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kecamatan Batulappa.

U

Rencana Embung Jalur Pipa Kereservoir

-Rencana Reservoir - Rencana IPAL

- Rencana Reservoir Distribusi

Pipa Distribusi

Koordinat X = 119°41'3.18"

Y = 3°35'42.90"

Z = 125

Koordinat

X = 119°41'24.09"

Y = 3°35'40.83"

Z = 120

PETA SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH

KECAMATAN BATULAPPA

Keterangan:

Intake Pengambilan Air Baku

- Reservoir Air Baku - IPAL

- Reservoir Distribusi

Pipa Reservoir

Pipa Reservoir Distribusi

Sumber Peta :

Peta Google Earth

Dalam dokumen tugas akhir - Universitas Bosowa (Halaman 60-83)

Dokumen terkait