• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAAN

A. Hasil Penelitian

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna yang terkandung dalam teks aru tubarania gowa, makna aru tubarania yaitu sebuah pesan-pesan dan juga bertujuan untuk menyadarkan masyarakat yang kebanyakan sudah lupa akan adanya aru tubarania gowa yang mengandung makna atau pesan-pesan yang dulunya sangat dipegang teguh oleh masyarakat gowa dan sekarang mulai dilupakan seiring perkembangan zaman. Penelitian ini juga bisa menjadi penyadar bagi mahasiswa jurusan bahasa dan sastra indonesia yang sekarang notabenenya kebanyakan mengambil penelitian tindak kelas,sehingga kebanyakan mahasiswa melupakan sastra dan membuat mereka tidak tertarik meneliti tentang sastra klasik dan kebudayaan.

Berdasarkan hasil penelitian, Indonesia adalah salah satu negara yang dikenal dengan keanekaragaman budaya dan kaya akan nilai tradisi lokal, Hal ini disebabkan karena kepulauan nusantara terdiri atas aneka warna kebudayaan mulai dari sabang sampai ke merauke Indonesia dipenuhi oleh berbagai ragam budaya yang berbeda disetiap pelosok negeri sehingga banyak yang menarik minat para peneliti baik lokal, maupun peneliti asing.

Kebudayaan sendiri adalah perwujudan dari sebuah renungan, kerja keras dan kearifan suatu masyarakat dalam mengarungi dunia. Kebudayaan yang menjadikan suatu masyarakat memandang lingkungan hidupnya dengan bermakna.

Kebudayaan bukan sesuatu yang datang secara alamiah sejak lahir, melainkan tumbuh dan berkembang melalui interaksi manusia dengan lingkungan

37

sosialnya. Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain kemampuankemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat ( E.B Tylor, dalam Soerjono Soekanto, 2014: 14) Semantik diartikan sebagai ilmu tentang makna atau tentang arti, yaitu satu dari tiga tataran analisis bahasa:fonologi, gramatikal, dan semantik. Kata semantik disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik tengan hal-hal yang ditandainya, atau dengan kata lain,bidang studi dalam linguistic yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa. Semantik adalah cabang linguistic yang mempunyai hubungan erat dengan ilmu-ilmu sosial lain seperti sosiologi atau antropologi, bahkan juga dengan filsafat dan psikologi. Sosiologi mempunyai kepentiangan dengan semantic karena sering dijumpai kenyataan bahwa penggunaan kata-kata tertentu untuk mengatakan sesuatu makna dapat menandai identitas kelompok dalam masyarakat.

Makna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu: arti, maksud pembicara atau penulis. Makna adalah proses aktif yang ditafsirkan seseorang dalam suatu pesan. Semua ahli komunikasi, seperti dikutip Jalaluddin Rakhmat (1996), sepakat bahwa makna kata sangat subjektif words don’t mean, people mean

(Sobur:2015;20). Ada tiga hal yang dijelaskan para filsuf dan linguis sehubungan dengan usaha menjelaskan istilah makna. Ketiga hal itu, yakni : (1) menjelaskan makna secara alamiah, (2) mendeskripsikan kalimat secara alamiah, (3) menjelaskan makna dalam proses komunikasi (Kempson, dalam Sobur:2015;23).

Maka dari itu sesungguhnya istilah makna adalah istilah yang memiliki banyak arti.

Menurut F.R Plamer dikutip Sobur (2015;24), untuk dapat memahami apa yang disebut makna, kita mesti kembali ke teori Ferdinand de Saussure. Dimana dalam bukunya, Course in General Linguistik (1916), de Saussure menyebut tanda linguistik. Tiap tanda linguistik terdiri atas dua unsur, yakni yang diartikan (unsur makna) dan yang mengartikan (unsur bunyi). Kedua unsur ini, yang disebut unsur intralingual, biasanya merujuk pada sesuatu referen yang merupakan unsur ekstralingual. Sedangkan kata Peursen, “manusia ditandai dengan kata”, (Sobur:2015;24).

Aru atau angngaru (bersumpah) adalah ikrar yang diucapkan orang-orang Gowa dulu. Biasanya diucapkan oleh abdi raja kepada rajanya, atau sebaliknya, oleh raja kepada rakyatnya. Aru dipercayai mengandung nilai magis dan religius.

Makanya, aru harus diungkapkan dengan sungguh-sungguh dan harus dilaksanakan pula dengan sungguh-sungguh. Sebagai contoh, misalnya, ketika pasukan hendak pergi berperang, mereka mengucapkan aru di depan Raja Gowa bahwa mereka akan berjuang untuk mempertahankan wilayah kerajaan, membela kebenaran, dan 'tak akan mundur selangkah pun sebelum musuh melangkahi mayatnya. aru tubarani, sumpahnya orang-orang berani.

Biimillahi Rahmani Rahim Atta...karaeng (sungguh...karaeng)

Tabe' kipammoporang mama' (maafkan aku) Ridallekang labbiritta (diharibaanmu yang mulia)

37

Risa'ri karatuanta (di sisi kebesaranmu) Riempoang matinggita (di tahtamu yang agung) Inakkemi anne karaeng (akulah karaeng)

Lambara tatassallanna Gowa (satria dari tanah Gowa) Nakareppekangi sallang karaeng (akan memecahkan kelak) Pangngulu ri barugayya (hulu keris di arena)

Nakatepokangi sallang karaeng (akan mematahkan kelak)

Pasorang attangnga parang (gagang tombak di tengah gelanggang) Inai-naimo sallang karaeng (barang siapa jua)

Tamappatojengi tojenga (yang 'tak membenarkan kebenaran) Tamappiadaki adaka (yang menantang adat budaya)

Kusalagai siri'na (kuhancurkan tempatnya berpijak) Kuisara parallakkenna (kululuhkan ruang geraknya)

Berangja kunipatebba (aku ibarat parang yang dihantamkan) Pangkulu kunisoeyang (kapak yang diayungkan)

Ikau anging karaeng (engkau ibarat angin karaeng) Naikambe lekok kayu (aku ibarat daun kayu)

Mirikko anging (berhembuslah angin)

Namarunang lekok kayu (ku rela gugur bersamamu)

Iya sani madidiyaji nurunang (hanya yang kuning gugurkan) Ikau je'ne karaeng (engkau ibarat air karaeng)

Naikambe matang mamayu (aku ibarat batang kayu) Solongko je'ne (mengalirlah air)

Namamayu batang kayu (ku rela hanyut bersamamu) Iya sani sompo bonangpi kianyu (di air pasang kami hanyut) Ikau jarung karaeng (engkau ibarat jarum karaeng)

Naikambe bannang panjai (aku ibarat benang jahit) Ta'leko jarung (menembuslah jarum)

Namminawang bannang panjai (aku akan ikut bekas jejakmu)

Iya sani lambusuppi nakontu tojeng (hanya mengikuti kebenaran) Makkanamamaki mae karaeng (bersabdalah karaeng)

Naikambe mappajari (aku akan berbuat)

Mannyabbu mamaki mae karaeng (bertitahlah karaeng) Naikambe mappa'rupa (aku akan berbakti)

39

Punna sallang takammayya (bila nanti janji tidak kutepati) Aruku ri dallekanta (sebagaimana ikrarku di depanmu) Pangkai jerakku (pasak pusaraku)

Tinra bate onjokku (coret na maku dalam sejarah)

Pauwang ana' ri boko (sampaikan pada generasi mendatang) Pasang ana' tanjari (pesankan pada anak-cucu)

Tumakkanayya karaeng (apabila hanya mampu berikrar karaeng) Natanarupai janjinna (tapi tidak mampu membuktikan ikrarnya) Sikammajinne aruku ri dallek anta (demikian ikrarku dihadapanmu) Dasi nadasi nana tarima pa'ngaruku (semoga Tuhan mengabulkannya) Salama...(amin)...

A. Hasil Penelitian

Menurut syarifuddin dg tutu (2019) angngaru menurutnya berasal dari bahasa makassar (tinggi) yang artinya sumpah atau ikrar,dg tutu menebutkan bahwa angngaru merupakan suatu bentuk ikrar kesetiaan terhadap raja gowa yang bersifat sangat sakral.tradisi tersebut nerupakan tradisi yang di saksikan oleh tomanurung baineya sorang petri yang turun dari kanyangan saat di angkat menjadi raja gowa yang pertama oleh sembilan federasi kerajaaan atau yang disebut kasuwiyang salapan.

Berdasarkan hasil analisis diatas data yang telah dilakukan oleh peneliti mengenai makna yang terkandung dalam teks aru tubarnia gowa di temukan hasil sebagai berikut:

Adapun hasil penlitian beserta teks aru tubarania yang ditemukan oleh peneliti diuraikan sebagai berikut :

Biimillahi Rahmani Rahim

Atta...karaeng (sungguh...karaeng)

Tabe' kipammoporang mama' (maafkan aku) Ridallekang labbiritta (diharibaanmu yang mulia) Risa'ri karatuanta (di sisi kebesaranmu) Riempoang matinggita (di tahtamu yang agung) Inakkemi anne karaeng (akulah karaeng)

Lambara tatassallanna Gowa (satria dari tanah Gowa) Nakareppekangi sallang karaeng (akan memecahkan kelak) Pangngulu ri barugayya (hulu keris di arena)

Nakatepokangi sallang karaeng (akan mematahkan kelak)

Pasorang attangnga parang (gagang tombak di tengah gelanggang) Inai-naimo sallang karaeng (barang siapa jua)

41

Tamappatojengi tojenga (yang 'tak membenarkan kebenaran) Tamappiadaki adaka (yang menantang adat budaya)

Kusalagai siri'na (kuhancurkan tempatnya berpijak) Kuisara parallakkenna (kululuhkan ruang geraknya)

Berangja kunipatebba (aku ibarat parang yang dihantamkan) Pangkulu kunisoeyang (kapak yang diayungkan)

Ikau anging karaeng (engkau ibarat angin karaeng) Naikambe lekok kayu (aku ibarat daun kayu) Mirikko anging (berhembuslah angin)

Namarunang lekok kayu (ku rela gugur bersamamu)

Iya sani madidiyaji nurunang (hanya yang kuning gugurkan) Ikau je'ne karaeng (engkau ibarat air karaeng)

Naikambe matang mamayu (aku ibarat batang kayu) Solongko je'ne (mengalirlah air)

Namamayu batang kayu (ku rela hanyut bersamamu) Iya sani sompo bonangpi kianyu (di air pasang kami hanyut) Ikau jarung karaeng (engkau ibarat jarum karaeng)

Naikambe bannang panjai (aku ibarat benang jahit) Ta'leko jarung (menembuslah jarum)

Namminawang bannang panjai (aku akan ikut bekas jejakmu) Iya sani lambusuppi nakontu tojeng (hanya mengikuti kebenaran)

Makkanamamaki mae karaeng (bersabdalah karaeng) Naikambe mappajari (aku akan berbuat)

Mannyabbu mamaki mae karaeng (bertitahlah karaeng) Naikambe mappa'rupa (aku akan berbakti)

Punna sallang takammayya (bila nanti janji tidak kutepati) Aruku ri dallekanta (sebagaimana ikrarku di depanmu) Pangkai jerakku (pasak pusaraku)

Tinra bate onjokku (coret na maku dalam sejarah)

Pauwang ana' ri boko (sampaikan pada generasi mendatang) Pasang ana' tanjari (pesankan pada anak-cucu)

Tumakkanayya karaeng (apabila hanya mampu berikrar karaeng) Natanarupai janjinna (tapi tidak mampu membuktikan ikrarnya) Sikammajinne aruku ri dallek anta (demikian ikrarku dihadapanmu)

43

Dasi nadasi nana tarima pa'ngaruku (semoga Tuhan mengabulkannya) Salama...(amin)...

Berdasarkan teks tersebut, peneiti menganalisis menggunakan makna denotatif dan makna konotatif untuk memahami isi dari teks tersebut.

Adapun hasil analisis yang dilakukan peneliti diuraikan sebagai berikut : 1. Makna Denotatif

Makna denotatif merupakan makna umum atau makna yang mengandung arti sebenarnya. Adapun hasil penelitian dari makna denotative di uraikan sebagai berikut :

Data 1

Atta...karaeng (sungguh...karaeng)

Tabe' kipammoporang mama' (maafkan aku) Ridallekang labbiritta (diharibaanmu yang mulia) Risa'ri karatuanta (di sisi kebesaranmu) Riempoang matinggita (di tahtamu yang agung)

Kalimat di atas merupakan kalimat yang mengandung makna denotatif. Hal tersebut dapat dilihat dari keseluruhan kalimat yang merupakan makna yang sbenarnya. Tradisi tersbut dilakukan sebelum berangkat berperang sang kesatria yang mengucapkan sumpah yaitu bersungguh-sungguh dalam mengikrarkan

sumpah (aru) dihadapan rajanya dan meminta maaf dihadapan sang raja disisi kekuasaannya dan didepan singgasananya.

Data 2

Inakkemi anne karaeng (akulah karaeng)

Lambara tatassallanna Gowa (satria dari tanah Gowa) Nakareppekangi sallang karaeng (akan memecahkan kelak)

Kalimat di atas merupakan kalimat yang mengandung makna denotatif. Hal tersebut dapat dilihat dari keseluruhan kalimat yang merupakan makna yang sebenarnya. Sebelum berangkat berperang seorang prajurit memperkenalkan dirinya terlebih dahulu didepan sang raja bahwa dia adalah pejuang dari tanah gowa yang nantimya akan menghancurkan.

Data 3

Inai-naimo sallang karaeng (barang siapa jua)

Tamappatojengi tojenga (yang 'tak membenarkan kebenaran) Tamappiadaki adaka (yang menantang adat budaya)

Kusalagai siri'na (kuhancurkan tempatnya berpijak) Kuisara parallakkenna (kululuhkan ruang geraknya) seorang prajurit berkata didepan rajanya bahwa siapa pun nanti yang raja yang tidak memperjuangkan sebuah kebenaran dan mempermainkan sebuah aturan-aturan yang telah dijunjung selama

45

ini maka akan aku hancurka dimana pun iya berada bahkan akan kubuat menjadi debu seprti tanah yang ia pijak.Kalimat di atas merupakan kalimat yang mengandung makna denotatif. Hal tersebut dapat dilihat dari keseluruhan kalimat yang merupakan makna yang sebenarnya.

Data 4

Iya sani lambusuppi nakontu tojeng (hanya mengikuti kebenaran) Makkanamamaki mae karaeng (bersabdalah karaeng) Naikambe

mappajari (aku akan berbuat) seorang prajurit bersumpah dia akan

memperjuangkan sebuah kebenaran dan seorang prajurit meminta kepada rajaya untuk berbicara dan diberikan sebuah tugas kepadanya maka iya akan

melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.Kalimat di atas merupakan kalimat yang mengandung makna denotatif. Hal tersebut dapat dilihat dari keseluruhan kalimat yang merupakan makna yang sebenarnya.

Data 5

Mannyabbu mamaki mae karaeng (bertitahlah karaeng) Naikambe mappa'rupa (aku akan berbakti)

Kalimat di atas merupakan kalimat yang mengandung makna denotatif.

Hal tersebut dapat dilihat dari keseluruhan kalimat yang merupakan makna yang sebenarnya. Ketika seorang raja sudah memerintahkan maka tidak ada alasan bagi seorang prajurit tidak menjalankan perintah tersebut, bahkan seorang prajurit

harus menjalankan tugas tersebut dan akan membuktikan bahwa tugas yang sudah diberikan dapat iya buktikan didepan sang raja.

Data 6

Punna sallang takammayya (bila nanti janji tidak kutepati) Aruku ri dallekanta (sebagaimana ikrarku di depanmu)

Kalimat di atas merupakan kalima t yang mengandung makna denotatif.

Hal tersebut dapat dilihat dari keseluruhan kalimat yang merupakan makna yang sebenarnya.makna seorang prajurit tidak dapat membuktikan atau menepati sumpah (janji) yang sudah iya ucapkan sendiri dihadapan rajanya.

Data 7

Pauwang ana' ri boko (sampaikan pada generasi mendatang) Pasang ana' tanjari (pesankan pada anak-cucu) ketika seorang prajurit tidak dapat menepati janjinya sendiri seperti yang ia ucapakan dihadapan rajanya ia meminta untuk diberitahukan kepada anak yang akan lahir terutama kedapa anak dan cucunya. Kalimat di atas merupakan kalimat yang mengandung makna denotatif.

Hal tersebut dapat dilihat dari keseluruhan kalimat yang merupakan makna yang sebenarnya.

Data 8

Tumakkanayya karaeng (apabila hanya mampu berikrar karaeng)

47

Natanarupai janjinna (tapi tidak mampu membuktikan ikrarnya)

Kalimat di atas merupakan kalimat yang mengandung makna denotatif. Hal tersebut dapat dilihat dari keseluruhan kalimat yang merupakan makna yang sebenarnya, kalimat diatas janji seorang prajurit terhaap rajanya hanya mampu berbicara atau bersumpah dihadapa rajanya tapi dia sendiri tidak mampu membuktikan apa yang dia sudah ucapkan sendiri.

Data 9

Sikammajinne aruku ri dallek anta (demikian ikrarku dihadapanmu) Dasi nadasi nana tarima pa'ngaruku (semoga Tuhan mengabulkannya) Salama...(amin)...

Kalimat di atas merupakan kalimat yang mengandung makna denotatif. Hal tersebut dapat dilihat dari keseluruhan kalimat yang merupakan makna yang sebenarnya, kalimat tersebut merupakan sekian sumpah yang sudah saya ucapakan di hadapan raja, semoga tuhan mengabulkan semua sumpah yang sudah saya ucapkan dihadapanmu…aamin.

2. Makna Konotatif

Adapun hasil penelitian yang ditemukan oleh peneliti dalam teks aru tobarania diuraikan sebagai berikut :

Data 1

Nakareppekngi sallang karaeng ( akan memecahkan kelak)

Pangngulu ri barugayya (hulu badik di arena)

Berdsarkan analisis makna konotatif terhadap kutipan diatas,sesuai dengan hasil pengkajian peneliti, kalimat tersebut merupakan kutipan yang mengandung makna konotatif. Hal tersebut dapat dilihat dari serangkaian kalimat yang saling berhubungan dan menggunakan bahasa kiasan pada penggunaanya.makna yang terkandung pada bait kutipan tersebut menjelskan bahwa “ keberanian peraajurit untuk memegang senjata (badik) demi menlindungi rajanya dari berbagai bahaya yang ada di medan-perang”

Data 2

Berangja kunipatebba (aku ibarat parang yang dihantamkan) Pangkulu kunisoeyang (kapak yang diayungkan)

Berdsarkan analisis makna konotatif terhadap kutipan diatas,sesuai dengan hasil pengkajian peneliti, kalimat tersebut merupakan kutipan yang mengandung makna konotatif. Hal tersebut dapat dilihat dari serangkaian kalimat

yang saling berhubungan dan menggunakan bahasa kiasan pada penggunaanya.makna yang terkandung pada bait kutipan tersebut menjelskan bahwa “ seorang prajurit akan selalu berada dibarisan terdepan dalam pertempuran dan menjadi orang pertama yang akan menghadapi musuh yang ada dimedan perang”

Data 3

49

Ikau anging karaeng (engkau ibarat angin karaeng) Naikambe lekok kayu (aku ibarat daun kayu) Mirikko anging (berhembuslah angin)

Kalimat diatas merupakan kutipan yang mengandung makna konotatif Berdsarkan analisis makna konotatif terhadap kutipan diatas,sesuai dengan hasil pengkajian peneliti. Hal tersebut dapat dilihat dari serangkaian kalimat yang saling berhubungan dan menggunakan bahasa kiasan pada penggunaanya.makna yang terkandung pada bait kutipan tersebut menjelskan bahwa “ seorang raja harus tetap hidup agar dia dapat melihat bahwa dimemiliki prajurit yang tangguh”

Data 4

Namarunang lekok kayu (ku rela gugur bersamamu)

Iya sani madidiyaji nurunang (hanya yang kuning gugurkan)

Kalimat diatas merupakan kutipan yang mengandung makna konotatif Berdsarkan analisis makna konotatif terhadap kutipan diatas,sesuai dengan hasil pengkajian peneliti. Hal tersebut dapat dilihat dari serangkaian kalimat yang saling berhubungan dan menggunakan bahasa kiasan pada penggunaanya.makna yang terkandung pada bait kutipan tersebut menjelskan bahwa “ kesetiaan prajurit dapat dilihat dari bait diatas dimana seorang prajurit rela mati demi melindungi rajanya”

Data 5

Ikau je'ne karaeng (engkau ibarat air karaeng) Naikambe matang mamayu (aku ibarat batang kayu) Solongko je'ne (mengalirlah air)

Berdsarkan analisis makna konotatif terhadap kutipan diatas,sesuai dengan hasil pengkajian peneliti, kalimat tersebut merupakan kutipan yang mengandung makna konotatif. Hal tersebut dapat dilihat dari serangkaian kalimat

yang saling berhubungan dan menggunakan bahasa kiasan pada penggunaanya.makna yang terkandung pada bait kutipan tersebut menjelskan bahwanya “seorang raja bagaikan sumber semangat bagi prajuritnya maka dari itu seorang prajuritnya akan selalu bersama rajanya”

Data 6

Namamayu batang kayu (ku rela hanyut bersamamu) Iya sani sompo bonangpi kianyu (di air pasang kami hanyut)

Kalimat diatas merupakan kutipan yang mengandung makna konotatif Berdsarkan analisis makna konotatif terhadap kutipan diatas,sesuai dengan hasil pengkajian peneliti. Hal tersebut dapat dilihat dari serangkaian kalimat yang saling berhubungan dan menggunakan bahasa kiasan pada penggunaanya.makna yang terkandung pada bait kutipan tersebut menjelskan bahwa “Dimanapun raja berada maka seorang prajurit akan selalu ikut bersamnya, kalaupun harus gugur(mati) kurela demi berjuang bersamamu.

51

Data 7

Ikau jarung karaeng (engkau ibarat jarum karaeng) Naikambe bannang panjai (aku ibarat benang jahit) Ta'leko jarung (menembuslah jarum)

Namminawang bannang panjai (aku akan ikut bekas jejakmu)

Berdasarkan analisis makna konotatif terhadap kutipan diatas,sesuai dengan hasil pengkajian peneliti, kalimat tersebut merupakan kutipan yang mengandung makna konotatif. Hal tersebut dapat dilihat dari serangkaian kalimat yang saling berhubungan dan menggunakan bahasa kiasan pada penggunaanya.makna yang terkandung pada bait kutipan tersebut menjelskan bahwanya “seorang raja harus memiliki sikap yang tegas dan pembemberani, maka seperti itupula yang harus dimilki seorang prajurit dalam menjalangkan tugasnya.

Data 8

Tinra bate onjokku (coret namaku dalam sejarah)

Berdsarkan analisis makna konotatif terhadap kutipan diatas,sesuai dengan hasil pengkajian peneliti. Hal tersebut dapat dilihat dari serangkaian kalimat yang saling berhubungan dan menggunakan bahasa kiasan pada penggunaanya.makna yang terkandung pada bait kutipan tersebut menjelskan bahwa “ketika seorang prajurit tidak mampu membuktikan sumpah yang telah iya ucapakan, maka iya meminta untuk diberikan julukan pada dirinya bahwa dia orang gagal menjalangkan tugasnya”

Demikianlah pembahasan dari hasil penelitian makna yang terkandung dalam teks aru tubarania gowa.dari kutipan pertama hingga akhir dalam aru tubarania gowa mengandung makna atau pesan yakni suatu peristiwa sumpah kesetiaan prajurit terhadap rajanya,tradisi ini dilakukan saat hendak berangkat kemedan laga (perang),dalam pelaksaan aru tubarania prajurit atau panglima perang mengucapkan syair-syair angngaru tubarania dihadapan sombaya (raja) sembari menganuskan pedangnya,dengan suara lantang disertai ekspresi emosional yang di tunjukkan oleh pelaku angngaru.

Besar harapan penulis untuk masyarakat yang ada khususnya di kab gowa agar tetap memegang teguh makna yang terkandung dalam aru tersebut dan kembali melestarikan aru tubarania gowa yang menjadi budaya sejak dulu,karena beradaan aru sudah memprihatikan dan sudah banyak orang yang tidak tau bentuk atau bunyi aru itu,padahal dari teks aru ini bisa menjadi pengingat bagai kita tentang arti sebuah keseiaan dan perjuangan,dan semoga adanya penelitian ini masyarakat dan khususnya anak muda yang menjadi generasi penerus dapat mengumpulkan kembali semangat serta kemampuan literasinya agar aru bisa dilestarikan dan kembali dikenal banyak orang khususnya masyarakat yang ada di kab gowa dan daerah diluar sana.

BAB V PENUTUP A. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan terhadap makna yang terkandung dalam teks aru tubarania gowa, Aru merupakan salah satu karya sastra daerah makassar yang berupa puisi yang perlu dikaji dalam usaha pelestarian karya sastra, khususnya karya sastra lisan bugis-makasar.Aru dipandang penting untuk dibahas karena merupakan suatu bentuk sastra yang hidup didalam masyarakat suku makassar.Peneitian tentang aru sepanjang yang diketahui belum dilaksanakan secara menyeluruh.adapun aspek-aspek dalam aru tubarania gowa salah satunya makna atau pesan yang terkandung dalam teks tersebut disampaikan atau diungkapkan kepada khalayak pada saat acara tertentu.Namun pada saat ini aru masih kurang diminati kaum muda sehingga jarang dijumpai kecuali pada saat acara tertentu.tujuan peneliti meneliti makna aru tubarania gowa ini agar peneliti dapat membuat masyarakat khususnya remaja-remaja agar tahu mengenai makna yang terkandung dalam teks aru tersebut yang kelak akan menjadi penerus dan bisa sadar akan kebudayaannya yang harus dijaga dan dilestarikan,jangan sampai hanya petuah-petuah (orang-orang dulu) saja yang dapat membaca teks dan makna aru tubarania ini,akan tetapi remaja-remaja juga harus bisa mempelajari membaca dan memaknai apa yang terkandung dalam aru tubarania tersebut agar budaya kita tetap terjaga.

Dokumen terkait