• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

Tabel 4.2 : Daftar Pendistribusian Zakat dan Infaq Badan Amil Zakat Nasional Kabupaten Bantaeng

NO TAHUN

JENIS

JUMLAH

ZAKAT FITRAH

TOTAL ZAKAT INFAQ

1 2009 52.850.000 299.962.013 352.812.013 - 352.812.013

2 2010 191.825.000 61.432.120 253.257.120 - 253.257.120

3 2011 269.270.000 275.686.591 544.956.591 - 544.956.591

4 2012 295.857.750 202.029.920 497.887.670 256.096.514 753.984.184 5 2013 341.644.000 150.070.669 491.714.669 310.478.500 802.193.169 6 2014 642.140.000 187.266.251 829.406.251 595.905.000 1.422.311.251 7 2015 383.441.200 344.399.124 727.840.324 525.128.000 1.252.968.324 8 2016 457.225.000 475.680.231 932.905231 971.330.000 1.904.235.231 9 2017 1.064.558.691 572.844.507 1.637.403.198 1.261.322.000 2.898.725.198 10 2018 1.434.290.326 510.381.115 1.944.671.441 978.146.000 2.922.817.441

Sumber : Profil Badan Amil Zakat Nasional Kab. Bantaeng

55

Negara harus punya solusi jitu dalam menanggulanginya. Maka zakat bisa menjadi solusi ampuh untuk menanggulanginya.

Pada hakikatnya zakat adalah instrument pemasukan Negara yang berasal dari muslim dan disalurkan lagi ke muslim lainnya. Maka zakat sangat potensial diterapkan di Negara mayoritas muslim seperti Indonesia. Belum lagi perintah Al- Qur‟an yang menggandengkan kata shalat dan zakat di 83 tempat. Artinya antara ibadah dan muamalah tidak bisa dipisahkan kehadirannya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Bantaeng menyadarkan mayarakat muslim tentang pentingnya pengeluaran zakat secara terus menerus melalui pemahaman, sosialisasi dan memberikan bukti nyata terkait program kemanusiaan yang telah terealisasi khususnya dalam aspek pendidikan dan kesehatan. Sehingga masyarakat sadar akan pentingnya mengeluarkan zakat sehingga pengoptimalan dana zakat dapat terealisasi dengan melihat potensi zakat masyarakat Indonesia yang cukup besar khususnya Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan.

Sistem Penerapan zakat yang diterapkan pada BAZNAS Kabupaten Bantaeng menurut Bapak Kasir Madong, adalah:

“Penerapan zakat yang kami paparkan sesuai dengan ketentuan islam sebagaimana yang dijelaskan pada Al-qur‟an dan Penerapan zakat yang kami gunakan di BAZNAS Kab. Bantaeng ini sudah kami pastikan sesuai dengan syariat islam karena itulah hal yang paling kita utamkan.”37

37 H. M. Kasir Madong, wakil ketua IV, wawancara, 10 Februari 2020

Apa yang disampaikan oleh bapak Kasir Madong, dapat disimpulkan bahwa dalam penerapan zakat yang digunakan di BAZNAS kab. Bantaeng sudah sesuai dengan syariat Islam.

Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, vertical dan horizontal. Artinya secara vertical, zakat sebagai ibadah dan wujud ketakwaan dan kesyukuran seorang hamba kepada Allah SWT atas nikmat berupa harta yang diberikan Allah kepadanya serta untuk membersihkan dan mensucikan diri dari hartanya itu. Dalam konteks inilah zakat bertujuan untuk menata hubungan seorang hamba dengan tuhannya sebagai pembberi rezeki.

2. Bagaimana Pengelolaan Zakat dalam Meningkatkan Pembangunan Ekonomi pada Baznas Kabupaten Bantaeng

Pengelolaan zakat secara optimal dapat menjadi suatu instrument dalam meningkatkan ekonomi umat. Zakat, infak, dan sedekah sudah melekat dalam ajaran islam, seperti yang dijelaskan dalam surah Az Zariyat:19 bahwa didalam harta yang lebih terdapat hak untuk diberikan kepada mayarakat miskin agar menjadi solusi bagi mereka dalam menyelesaikan masalah kemiskinan.

Berdasarkan tersebut, optimalisasi pengelolaan zakat dan strategis untuk menunjang pembangunan perekonomian Indonesia dalam mengentaskan kemiskinandan mewujudkan kesejahteraan di era modern ini.

Bagaimana zakat dalam meningkatkan pembangunan ekonomi pada BAZNAS Kabupaten Bantaeng menurut Bapak Kasir Madong adalah:

“Dengan adanya Zakat sudah sangat jelas dapat membangun perekonomian di Kab. Bantaeng, sebab adanya BAZNAS yang mengelola zakat dapat memeratakan perekonomian masyarakat di Kab. Bantaeng ini dan kami membagikan zakat 2 kali dalam setahun.”

57

Bapak Drs. H. M. Kasir Madong, M.Si, kembali melanjutkan, Jumlah yang didapatkan BAZNAS dalam setahun yaitu 1.700.000.000 (satu koma tujuh milliyar)38

Jadi dapat disimpulkan apa yang disampaikan Bapak Drs. H. M. Kasir Madong, M.Si (wakil ketua IV BAZNAS kabupaten bantaeng) bahwa jumlah zakat yang didapatkan adalah 1.700.000.000 (Satu milyar tujuh ratus juta) dengan zakat sebanyak ini tentunya zakat sudah tentu dapat membangun perekonomian dimana BAZNAS sebagai pengelola zakat yang bertujuan memeratakan perekonomian masyarakat yang dibagikan 2 kali selama setahun sesuai dengan pengumungutan zakat yang juga di lakukan 2 kali setahun.

Pengumpulan zakat menjadi tema yang mendesak untuk di koordinasikan antara BAZNAS. Koordinasi dalam hal pengumpulan dana zakat diwujudkan dengan memberikan batasan masing-masing dalam mengumpulkan dana zakat.

Hal ini bertujuan agar potensi dana zakat dimasyarakat dapat dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana diketahui bahwa potensi dana zakat di Indonesia menjadi tidak kurang dari 19 trilyun rupiah. Ini adalah angka yang sangat fantastik untuk dimaksimalkan dalam rangka pemberdayaan ekonomi umat. Agar potensi yang sangat besar tersebut dapat dimaksimalkan, maka harus ada pembagian kerja dalam pengumpulan ini, dimana tiap-tiap BAZNAS menempati posisi masing-masing.

38 H. M. Kasir Madong, wakil ketua IV, wawancara, 10 Februari 2020

Proses pengumpulan dana zakat pada BAZNAS Kabupaten Bantaeng menurut ibu Ningsih adalah :

“Adapun dalam pemungutan dana zakat pada BAZNAS Kabupaten Bantaeng dilakukan dengan cara : bagi mustahik yang rumahnya dekat dengan BAZNAS maka dikumpulkan di kantor BAZNAS Kabupaten Bantaeng. Sedangkan untuk mustahik yang jauh masing-masing dikumpulkan di Kantor Kecamatan. Itu dilakukan setiap dua kali dalam setahun. Dan ada pula yang secara langsung rumahnya di datangi oleh tim dari BAZNAS seperti mustahik yang menerima pembagian sembako atau yang menerima program benah rumah, maka disurvey untuk dipastikan apakah benar-benar tidak mampu (miskin) dan rumahnya memang layak untuk dibenah”39

Pengelolaan dana zakat yang telah terhimpun pada BAZNAS Kabupaten Bantaeng menurut ibu Ningsih:

“Dana zakat yang telah terhimpun kita bagi untuk 8 asnaf sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan lalu didistribusikan kepada mereka.

Desa/Camat menyetor nama-nama masyarakat yang tergolong tidak mampu (miskin), maksimal 20 orang dalam satu Desa. Nah itulah yang kita berikan zakat jika telah dilakukan survei oleh tim dengan datang kerumah muzakki yang telah terdaftar namanya untuk membuktikan apakah mereka memang orang yang kurang mampu (miskin).”40

Dalam upaya meningkatkan kualitas pengelolaan dana zakat agar dapat diberdayakan secara optimal, maka Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat perlu di masyarakatkan secara luas dan merata. Setelah pengumpulan dana zakat dari para muzakki maka selanjutnya BAZNAS Kabupaten Bantaeng bertindak sebagai amil berkewajiban mendistribusikan kepada mustahik (orang yang berhak menerima zakat).

39 Syahriah Ningsih, Staf Bagian Pengumpulan, Wawancara, 10 Februari 2020

40 Syahriah Ningsih, Staf Bagian Pengumpulan, Wawancara, 10 Februari 2020

59

Sasaran pendistribusian zakat itu dibagikan kepada orang yang berhak menerimanya, yang dalam Al-Quran Surah Attaubah ayat 60, mustahik dibagi dalam 8 asnaf yaitu fakir, miskin, amil (pengurus zakat), para muallaf, riqab (hamba sahaya), gharim (orang yang berhutang), sabilillah dan ibnu sabil. Namun dalam melakukan pendistribusian, pengurus Lembaga Amil Zakat (LAZ) atau amil sebaiknya melakukan konsultasi dengan dewan pertimbangan tentang asnaf mana yang harus di prioritaskan, karena tidak semua asnaf harus dibagikan pada waktu yang bersamaan.

Pendistribusian dana zakat kepada mustahik menurut ibu Tiara adalah :

“Pendistribusian dana zakat pada BAZNAS Kabupaten Bantaeng dilakukan dengan cara : bagi mustahik yang rumahnya dekat dengan BAZNAS maka dikumpulkan di kantor BAZNAS Kabupaten Bantaeng.

Sedangkan untuk mustahik yang jauh masing-masing dikumpulkan di Kantor Kecamatan. Itu dilakukan setiap dua kali dalam setahun. Dan ada pula yang secara langsung rumahnya di datangi oleh tim dari BAZNAS seperti mustahik yang menerima pembagian sembako atau yang menerima program benah rumah, maka disurvey untuk dipastikan apakah benar- benar tidak mampu (miskin) dan rumahnya memang layak untuk dibenah”.41

Merujuk pada mekanisme pendistribusian zakat sebagaimana yang diisyaratkan oleh ajaran islam mengenai zakat, pendistribusian zakat itu dilakukan dengan beberapa ketentuan, diantaranya :

1. Distribusi zakat kepada masyarakat setempat (lokal) 2. Pendistribusian secara merata dengan ketentuan :

41 Tiara Sani Bachtiar, Staf Bagian Penditribusian dan Pendayagunaan, Wawancara, 10 Februari 2020

a. Didistribusikan kepada seluruh golongan yang berhak menerima zakat jika hasil pengumpulan zakat mencapai jumlah yang melimpah

b. Pendistribusiannya menyeluruh kepada golongan yang telah ditetapkan

c. Apabila didapati hanya terdapat beberapa golongan penerima zakat yang membutuhkan penanganan secara khusus, diperbolehkan untuk memberikan semua bagian zakat kepada beberapa golongan tersebut. Menjadikan golongan fakir miskin sebagai golongan pertama yang menerima zakat.

Para pemikir islam menganjurkan agar zakat didistribusikan dengan cara menggeser dan mengalihkan pola-pola pendistribusian secara konsumtif ke pendistribusian secara produktif. Pendistribusian zakat konsumtif, baik secara langsung untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari maupun sekedar mengatasi persoalan ekonomi mustahik dinilai sulit untuk mencapai tujuan pengelolaan zakat. Penyebabnya ialah, orientasi ditribusi zakat secara konsumtif tersebut lebih sekedar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dasar mustahik atau memenuhi kebutuhan peningkatan sumber daya manusia secara minimal.

Pendistribusian model ini hanya tepat jika dilakukan dalam kondisi yang mendesak, yaitu pada saat mustahik membutuhkan pemecahan masalah ekonomi.

Kegiatan penyaluran yang sudah dipercaya oleh muzakki dan berdampak besar bagi kesejahteraan mustahik, sehingga muzakki akan selalu mendonasikan zakatnya di BAZNAS.

61 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

1. penerapan zakat sudah dipastikan sesuai dengan syariat islam sebagaimana yang dijelaskan pada Al-qur‟an karena itulah hal yang paling di utamkan di dalam perekonomian sebagai masyarakat khususnya yang beragama islam.

2. pembangunan ekonomi dengan cara pengelolaan yang sudah efektif, terkait dengan pengumpulan, pengelolaan dan pendistribusian dananya dengan melihat besarnya dana zakat dan pendayagunaannya yang meliputi beberapa aspek kesehatan dan pendidikan serta modal usaha yang dapat membantu dalam mendanai kehidupan sehari-hari atau bersifat produktif.

B. Saran

1. Sebagai umat islam marilah kita tingkatkan kesadaran dalam memenuhi syarat untuk mengeluarkan zakat terutama bagi mereka yang lebih mampu, karena dengan zakatlah cara mensucikan harta kita dan dengan zakat pula kita beribadah sekaligus membantu kaum yang lemah khususnya kaum fakir miskin serta menunjang modal pembangunan masyarakat dan bangsa.

2. Sebelum mendaftarkan ke kantor pusat nama-nama mustahik yang disetor oleh pemerintah Desa/Camat ke kantor BAZNAS, sebaiknya tim BAZNAS mensurvey terlebih dahulu kondisi mustahik dengan mendatangi tempat

tinggal mereka, apakah benar-benar mustahik yang akan di berikan zakat memang kurang mampu (miskin) dan wajib mendapatkan zakat atau tidak.

3. Menambah program-program yang bersifat produktif, serta menjaga kepercayaan para muzakki dalam pengelolaan dan penyaluran dana zakat dengan menerapkan sifat siddi, tabligh, amanah dan fathonah.

63

DAFTAR PUSTAKA

. Al-Qur’an dan Terjemahnya. 2008. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur‟an.

Ali, Muhammad Daud. 1988. Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf. Cet. 1;

Jakarta: UI

Al Mi‟dawi, Nabil, Fathi. 1998. Az Zakat Sabiil Lil Hilli al Masyaakil al Iqtiisodiyah al Ijtimaiyah. Cairo: Jami‟atul al Azhar.

Asnaini, 2008. Zakat Produktif dalam Perspektif Hukum Islam. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Derajat, Zakiah, dan Said, Usnan. 1983. Ilmu Fiqih. Jilid. II; Jakarta: IAIN Pusat.

Dr. K. H. Hafiuddin, Didin, M.Se. 2002. Zakat dalam Perekonomian Moderen.

Cet. 1; Jakarta: Gema Insani.

Departemen Agama RI. 1989. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur‟an.

Depag. Bimas Islam dan Urusan Haji Pedoman Zakat. Seri IV.

Dr. Qadir, Abdurrachman, MA. 1998. Zakat dalam Dimensi Mahdah dan Sosial. Cet. 1; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Elman, Syaifuddin. 2015. Strategi Penyaluran Dana Zakat BAZNAZ Melalui Program Pemberdayaan Ekonomi.UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Fakultas Syariah dan Hukum.

Fandeli, Chafid. 2017. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dalam Pembangunan Berbagai Sektor. Yogyakarta: UGM.

Hornby, A.S, Siswoyo, E.C. Parnwell dan Siswoyo. 1997. Kamus Lengkap Inggris Indonesia. Cet. 1; Jakarta: PT. Ilmu Pustaka.

Hasan, Muhammad, S.Pd., M. Pd. 2018. Pembangunan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat. Cet. 1; Makassar. 2017.

Khoirunnisa, Rosa. 2017. Anlisis Pengaruh Pembangunan Ekonomi dan Pembangunan Sosial Terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011-2015. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

Lubis, Suhrawandi K. 2000. Hukum Ekonomi Islam. Ed.1, Cet. II; Jakarta:

Sinar Grafindo.

Lestari, Siti. 2015. Analisi Pengelolaan Zakat Produktif Untuk Pemberdayaan Ekonomo. UIN Walisongo. Fakultas Syariah dan Hukum.

Mas‟udi, Masadar F. 1993. Agama Keadilan Risalah Zakat (Pajak) dalam Islam. Cet. III; Jakarta: Pustaka Firdaus.

Majid, Ahmad abd, MA. 1994. Msa’il Fiqhiyah 2. Cet. 1; Jakarta: PT. Graeda Buana Indah.

Mujaib, M. Abdul, dkk. 1994. Kamus Istilah Fiqih. Cet. II; Jakarta: Pustaka Firdaus.

Proyek Peningkatan Sarana Keagamaan Islam. 1995. Zakat dan Wakaf (Pedoman zakat 9 Seri). Jakarta: PT. Prodja.

Prof. KH. Yafie, Ali. 1994. Menggagas Fikhi Sosial. Cet. II; Bandung: Mizan Anggota AKAPI.

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam. 2008. Ekonomi islam.

Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Prof. H. Ali, Daud Muhammad SH, Hj. Daud, Habibah, SH. 1998. Lembaga- lembaga Islam di Indonesia. Ed.1, Cet. 1; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Rahardjo, Dawan. 1990. Etika Ekonomi dan Manajemen. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Siddiqi, Najatullah Muhammad. 1996. Kegiatan Ekonomi dalam Islam. Cet. II;

Jakarta.

Sugiarto, Wiwid. 2018. Implementasi Zakat Profesi dalam Perspektif Hukum Islam. UIN Raden Intan Lampung. Fakultas Syariah dan Hukum.

Van Hoeve, Ictiar, Baru. 1997. Ensiklopedia Islam. Jilid. II; Jakarta.

65

RIWAYAT HIDUP

JUSNAWATI, Lahir di jeneponto tanggal 15 September 1996. Putri dari pasangan Sattu dan Hawati. Penulis menyelesaikan jenjang pendidikannya di SDN No. 40 Tombo-tombolo tepatnya di Jeneponto Sulawesi Selatan pada tahun 2009. Peneliti melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama di Smp Negeri 2 Kelara dan tamat tahun 2012. Setelah itu peneliti melanjutkan sekolah menengah atas di Sma Negeri 1 Kelara Jeneponto dan tamat pada tahun 2015. Kemudian pada pertengahan tahun 2015 penulis melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Swasta Universitas Muhammadiyah Makassar fakultas Agama Islam program studi Hukum Ekonomi Syariah.

Atas ridho Allah SWT dan kerja keras, pengorbanan serta kesabaran pada tahun 2020 penulis mengakhiri masa perkuliahan S1 dengan judul : “Tinjauan Pengelolaan Zakat dalam Meningkatkan Pembangunan Ekonomi ”.

LAMPIRAN Lampiran 1

Pertanyaan Wawancara Penelitian

Tinjauan penerapan Zakat Dalam Landasan Syariah Untuk Meningkatkan Pembangunan Ekonomi (Studi Objek BAZNAS Kabupaten Bantaeng)

A. Identitas Responden

1. Nama :

2. Jenis Kelamin :

3. Agama :

4. Umur :

5. Alamat :

B. Pertanyaan :

1. Bagaimana penerapan zakat pada BAZNAS Kabupaten Bantaeng, Apakah sudah sesuai dengan syariat islam yang sebenarnya?

2. Apakah dalam penerapan zakat dapat meningkatkan pembangunan ekonomi?

3. Berapa potensi (Jumlah) zakat yang didapatkan dalam setahun dan digunakan untuk apa saja zakat itu?

4. Zakat diberikan kepada golongan apa saja?

5. Bagaimana cara mengumpulkan zakat dan bagaimana system pembagian zakat ?

67

Lampiran 2

Dokumen terkait