BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
50
m2. Genset sebanyak 15 unit dengan ukuran ruangan sebesar 32 m2. Ruang kantor Pelabuhan dengan ukuran 22 x 14 m.
1) Trestel sepanjang 22 meter, 100 meter, dan 100 meter.
2) Causeway 15 x 214 meter.
3) Lapangan Penumpukan.
Pelabuhan Belang-Belang memiliki 1 (satu) lapangan penumpukan dengan ukuran 13.863 m2.
e. Petugas Kesyahbandaran
Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pengawasan, keselamatan, dan keamanan pelayaran. Pelabuhan Belang-Belang melaksanakan pengawasan kelaiklautan kapal terhadap kapal-kapal yang tiba maupun yang berangkat dari pelabuhan Belang-Belang. Pemeriksaan fisik dan dokumen dilakukan terhadap setiap kapal yang mengajukan Surat Persetujuan Berlayar (SPB), guna memastikan bahwa kapal yang diberikan Surat Persetujuan Berlayar dalam kondisi laik laut sesuai PM. 82 Tahun 2014. Pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas kelaikan untuk memastikan bahwa kapal yang sudah diperiksa fisik dengan pengisian data checklistdan foto kondisi fisik kapal dimana kapal itu berada/sandar atau berlabuh.
memberikan efek positif terhadap pelayanan itu sendiri. Dalam mencapai suatu kinerja pegawai dalam pelayanan bongkar muat di Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Belang-Belang Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat yaitu indikator kinerja pegawai digunakan untuk mengetahui sejauh mana kinerja pegawai dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Indikator yang digunakan tersebut meliputi kuantitas kerja, kualitas kerja, pelaksanaan tugas, tanggungjawab, kemampuan, dan ketepatan waktu menurut Mangkunegara (Laia et al., 2021).
Tabel 3.5 Informan Penelitian
NAMA JABATAN
Kristina Anthon, Capt., S.SIT Kepala Kantor UPP Kelas III Belang-Belang Nasir Wahid, S.Sos Staff Kepegawaian
Ahmad M. Nur Pengawas Fasilitas dan Peralatan Pelabuhan Muhammad Isra Pengguna Jasa Pelabuhan
Trisna Utari Pengguna Jasa Pelabuhan
Agus Andika Pengguna Jasa Pelabuhan
1. Kuantitas Kerja
Kategori ini mencakup seberapa cermat seorang pegawai mengejakan pekerjaannya. Setiap pegawai harus bekerja dengan giat dalam pelayanan bongkar muat yaitu seberapa lama seorang pegawai bekerja dalam satu organisasi yang dilihat dari kecepatan kerja setiap pegawai itu masing-masing. Kuantitas kerja
52
mengenai banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh pegawai dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Jika jumlah pekerjaan yang dapat diselesaikan pegawai semakin banyak, maka semakin baik pula kinerja yang dihasilkan.
Pegawai yang senantiasa berusaha menyelesaikan pekerjaan yang diberikan, menunjukkan tanggung jawab yang sangat besar.
a. Jumlah Pekerjaan
Indikator untuk melihat kuantitas kerja yaitu mengenai banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh pegawai dalam kurun waktu yang telah ditentukan.
Berikut hasil wawancara dengan informan selaku Kepala Kantor UPP Belang- Belang, beliau mengatakan:
“Pegawai memiliki kemampuan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dengan kuantitas yang baik, sehingga para pegawai senantiasa berusaha memberikan hasil kerja yang baik, dan saya sendiri bangga melihat kinerja pegawai saya”.
(Hasil wawancara “KA” tanggal 29 Maret 2022)
Berdasarkan hasil wawancara dengan KA Disimpulkan bahwa pegawai yang kinerjanya baik adalah pegawai yang dapat menyelesaikan pekerjaan dengan waktu yang sesingkat-singkatnya. Pegawai yang memiliki kecakapan pengetahuan dan keterampilan kerja yang baik akan dengan mudah mengorganisir setiap pekerjaan yang diberikan kepadanya yang kemudian diselesaikan tepat waktu.
Semakin tinggi kuantitas kerja seorang pegawai dalam menyelesaikan suatu pekerjaan maka akan baik pula kinerja dari pegawai tersebut.
Wawancara dengan Kepala Kantor UPP Belang-Belang tersebut menunjukkan hasil yang relevan dengan teori menurut Mahmudi (Rambe, 2018) yang mengatakan bahwa efektivitas merupakan hubungan antara output dengan
tujuan, semakin besar kontribusi (sumbangan) output terhadap pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasi, program atau kegiatan. Berikut hasil wawancara dengan informan selaku petugas staf kepegawaian beliau mengatakan:
“Berbicara soal sub pelayanan, ada sendi-sendi pelayanan yang wajib dilaksanakan oleh setiap instansi maupun satuan kerja dalam suatu departemen diantaranya kedisiplinan, kesopanan, dan keramahan dan kami disini terus berupaya untuk meningkatkan penyelenggaraan pelayanan itu, untuk kemampuan merespon yang baik memang suatu hal yang penting dalam setiap instansi,dilihat dari sikap/ perilaku dan cara berkomunikasi yang diberikan harus jelas,tentunya saya selalu menghimbau pegawai agar selalu memberikan pelayanan terbaik kepada siapapun”. (Hasil wawancara “NW”
tanggal 29 Maret 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan NW disimpulkan bahwa dalam upaya meningkatkan penyelenggaraan pelayanan yang baik dapat dilihat dari sikap dan perilaku dari pegawai, hal tersebut sangatlah berpengaruh langsung terhadap kualitas pelayanan, sikap atau perilaku maupun cara berkomunikasi dari pegawai harus dijalankan berdasarkan sendi-sendi pelayanan.
Wawancara dengan petugas staf kepegawaian pelabuhan Belang-Belang tersebut menunjukkan hasil yang relevan dengan keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 tahun 2003, bahwa pemberian pelayanan umum kepada masyarakat merupakan perwujudan dari fungsi Aparatur negara sebagai abdi negara dan abdi masyarakat, sehingga penyelenggaraannya perlu di tingkatkan secara terus menerus sesuai dengan sasaran pembangunan yang dimana terdapat sepuluh sendi pelayanan yang harus dilaksanakan oleh instansi atau satuan kerja yang berfungsi sebagai unit pelayanan umum salah- satumya yaitu kedisiplinan, kesopanan, dan keramahan.
54
b. Kecepatan Pelayanan
Kecepatan pemberian pelayanan yang diberikan oleh pegawai dalam proses bongkar muat apakah sudah baik serta prosedur yang ada tidak berbelit-belit dan sesuai dengan SOP yang ada sehingga berjalan dengan efektif. Berikut hasil wawancara dengan informan selaku pengawas fasilitas dan peralatan pelabuhan beliau mengatakan:
“Waktu penyelesaian tugas dan tanggungjawab terhadap pekerjaan sangat terlihat jelas dalam kesehariannya, biasanya para pegawai terlihat santai ketika menunggu waktu istirahat tiba karena setiap pelayanan yang diberikan selalu dilakukan dengan cermat dan cepat sehingga waktu istirahat yang didapatkan lebih banyak ketika kantor tidak terlalu ramai pengurusan”. (Hasil wawancara “AM” tanggal 18 April 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan AM disimpulkan bahwa pegawai selalu berkeja dengan percaya diri dan cepat, maka dari itu tidak pekerjaan yang menumpuk atau tertunda sampai berjam-jam lamanya. Kuantitas kerja pegawai menunjukkan kategori yang baik, dengan kata lain pegawai selalu berusaha melakukan menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Wawancara dengan pengawas fasilitas dan peralatan pelabuhan Belang- Belang tersebut menunjukkan hasil yang relevan dengan teori menurut Amin Tunggul Widjaya (Masyita, 2016) mengemukakan bahwa efektivitas adalah hasil membuat keputusan yang mengarahkan, melakukan sesuatu dengan benar, yang membantu memenuhi misi suatu perusahaan atau pencapaian tujuan.Berikut hasil wawancara dengan informan selaku Nahkoda beliau mengatakan:
“iye….pokoknya disini pegawainya ramah dan sopan-sopan, komunikasinya juga sudah baik, asalkan sandarma disini tidak pernah lama artian, pasti cepat tanggapji tawwah dan sesuai SOP juga”. (Hasil wawancara “MI” tanggal 29 Maret 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan MI disimpulkan bahwa, dengan komunikasi yang efektif, maka para pengguna jasa di pelabuhan dengan mudah menyampaikan setiap keluhan yang dirasakan kepada para pegawai, berdasarkan penelitian yang dilakukan, peneliti menemukan jika komunikasi yang dilaksanakan berjalan dengan efektif, selain itu, para pengguna jasa yang datang kekantor langsung disambut dengan baik oleh petugas, kemampuan merespon juga dilihat dari kesigapan dari pegawai kantor dalam melayani para pengguna jasa.
Wawancara dengan Nahkoda selaku pengguna jasa pelabuhan Belang-Belang tersebut menunjukkan hasil yang relevan dengan teori menurut Handoko (Arif, 2018) efektivitas merupakan hubungan antara ouput dengan tujuan. Semakin besar kontribusi output terhadap pencapaian tujuan, maka semakin efektif organisasi, program atau kegiatan. Berikut hasil wawancara dengan informan selaku masyarakat pengguna jasa pelayanan di pelabuhan Belang-Belang beliau mengatakan:
“Perusahaan saya disini sudah beberapakali melakukan pengiriman barang, dan alhamdulillah sampai saat ini masih aman-aman saja dan pegawai di sini cukup cepat dalam proses pelayanannya”. (Hasil wawancara “TU” tanggal 16 Mei 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan TU disimpulkan bahwa, pengalaman yang dirasakan cukup memuaskan dan cepat, meskipun cepat, pegawai tetap menjadikan pelayanan yang aman dan nyaman yang utama..
Wawancara dengan Nahkoda selaku pengguna jasa pelabuhan Belang-Belang tersebut menunjukkan hasil yang relevan dengan teori menurut Sondang P.
Siagian (Nirmala et al., 2020) yaitu ada beberapa kriteria yang dapat digunakan
56
untuk mengukur efektivitas kerja dari organisasi yang memberikan pelayanan; (1) faktor waktu; (2) faktor kecermatan; (3) faktor gaya pemberian pelayanan.
2. Kualitas Kerja
Setiap pegawai dalam pelayanan bongkar muat mencerminkan seberapa baik dalam menyelesaikan pekerjaannya. Baik yang dimaksud di sini adalah ketepatan dalam melaksanakan pekerjaan, artinya adanya kesesuaian antara rencana kerja dengan sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Kelengkapan adalah kelengkapan ketelitian dalam melaksanakan pekerjaannya sedangkan, kerapian adalah kerapian dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Konsep kualitas atau mutu dipandang sesuatu yang relatif, yang tidak selalu mengandung arti yang bagus, baik, dan sebagainya. Kualitas atau mutu dapat mengartikan sifat-sifat yang dimiliki oleh jasa yang menunjukkan kepada pelanggan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh pekerja tersebut. Kualitas kerja merupakan suatu hasil yang dapat diukur dengan efektifitas dan efisiensi suatu pekerjaan yang dilakukan oleh sumber daya manusia atau sumber daya lainnya dalam pencapaian tujuan atau sasaran organisasi dengan baik dan berdaya guna.
a. Penyelesaian Pekerjaan
Indikator untuk melihat kualitas kerja yaitu seberapa baik dalam menyelesaikan pekerjaannya. Baik yang dimaksud di sini adalah ketepatan dalam melaksanakan pekerjaan. Proses pelayanan bongkar muat yang dilakukan oleh pegawai selalu dikerjakan dengan baik sehingga para pengguna jasa merasa puas dengan kinerjanya. pegawai selalu berhati-hati dalam memindahkan barang, selalu mengadakan cek ulang mengenai kelengkapan barang yang di bongkar muat.
Berikut hasil wawancara dengan informan selaku Kepala Kantor UPP Belang- Belang, beliau mengatakan:
“Kinerja pegawainya ada yang bagus, ada yang rajin, namun adapula yang sudah mengetahui tanggung jawabnya untuk mengerjakan tugasnya, jadi bisa dikatakan setiap pegawai memiliki kinerja yang berbeda, namun masih dalam kategori kinerja yang baik. Untuk kinerja dalam aspek kualitasnya pada setiap pelaporan biasanya sudah cukup sesuai”. (Hasil wawancara “KA” tanggal 29 Maret 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan KA disimpulkan bahwa kinerja pegawai memiliki kinerja yang beragam. Namun untuk kualitas hasil kerjanya sudah cukup sesuai dengan yang direncanakan/target.
Wawancara dengan Kepala Kantor UPP Belang-Belang tersebut menunjukkan hasil yang relevan dengan teori menurut Manullang (Syafrina, 2017) yang mengatakan bahwa kinerja adalah suatu keadaan yang menunjukkan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan atau dihasilkan seseorang individu atau sekelompok kerja sesuai dengan job description mereka masing-masing.
Berikut hasil wawancara dengan informan selaku petugas staf kepegawaian, beliau mengatakan:
“Sejauh ini, tidak ada. Hal tersebut karena dalam menyelesaikan pekerjaan seperti ini, pegawai masih bisa diberikan pendidikan dan pelatihan terkait dengan pekerjaannya sehingga ia dapat memiliki skill dan keterampilan yang sesuai dengan pekerjaannya dan dapat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya secara baik”. (Hasil wawancara “NW” tanggal 29 Maret 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan NW disimpulkan bahwa pekerja selalu bersedia mengikuti pelatihan-pelatihan yang dapat menunjang kinerjanya, sejauh ini kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Belang-Belang masih kebanyakan
58
menggunakan sumber daya manusia (SDM), maka dari itu perlu adanya pelatihan- pelatihan atau pengawasan rutin dalam pelaksanaan kerja pegawai.
Wawancara dengan petugas staf kepegawaian UPP Belang-Belang tersebut menunjukkan hasil yang relevan dengan apa yang tertera dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 tentang pelayanan publik bahwa
“pelayanan publik adalah latihan atau rangkaian latihan untuk memenuhi persyaratan pokok menurut undang-undang dan pedoman bagi setiap penduduk dan penghuni barang, administrasi dan tambahan administrasi otoritatif yang diberikan oleh koperasi spesialis terbuka.
b. Keterampilan dalam Bekerja
Keterampilan dalam bekerja adalah kemampuan seseorang dalam menguasai tugas yang diberikan kepadanya. Berikut hasil wawancara dengan informan selaku pengawas fasilitas dan peralatan pelabuhan beliau mengatakan:
“Yaa, .... Kinerja berkaitan dengan keterampilan, jika ada pelatihan meskipun backgroundnya tidak sesuai tapi mereka punya willingness atau kemauan untuk belajar bidang lain yang memang menjadi tugasnya. Hambatan lebih kepada karakter individual, kalo backgroundnya apa saja, jika dia mampu maka akan cepat memahami dan cepat belajar. Kemampuan bisa dilatih tapi masalah karakter individu itu harus ada revolusi mental pendidikan moral”.
(Hasil wawancara “AM” tanggal 18 April 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan AM dapat disimpulkan bahwa pelatihan sebagai upaya dalam mengembangkan sumber daya manusia terutama untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian manusia. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil yang maksimal dalam pengembangan karyawan diperlukan program pelatihan yang sesuai dengan tugasnya agar karyawan mengetahui tujuan pelatihan yang dijalankannya.
Wawancara dengan pengawas fasilitas dan peralatan UPP Belang-Belang tersebut menunjukkan hasil yang relevan dengan apa yang tertera dalam keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 Tahun 2004, hakekat pelayanan publik adalah pemberian pelayanan prima kepada masyarakat yang merupakan perwujudan kewajiban aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakatBerikut hasil wawancara dengan informan selaku petugas staf kepegawaian beliau mengatakan:
“Disini kami selalu berusaha bersikap ramah dan sopan kepada para pengguna jasa yang ingin mendapatkan pelayanan agar mereka juga merasa nyaman saat melakukan pengurusan dikantor ini, contohnya saat mereka datang kami langsung menyapa dan menanyakan keperluannya, menyapa dengan cara yang bersahabat, juga memberikan rasa hormat dan juga menutup interaksi layanan dengan cara yang tepat”. (Hasil wawancara “NW”
tanggal 29 Maret 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan NW dapat disimpulkan bahwa dalam memberikan pelayanan kepada para pengguna jasa yang membutuhkan, Pegawai Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhann Belang-Belang menerapkan beberapa cara yakni: (1) selalu siap sedia, artinya saat seseorang memasuki kantor, pegawai harus segera mungkin untuk menyapa dan memperhatikan keperluannya, serta berhenti melakukan apapun jika itu tidak terlalu penting. (2) Menyapa dengan cara yang bersahabat, dalam hal ini pegawai melakukan kontak mata, tersenyum, dan mengatakan sesuatu sesuai kebutuhan pengguna jasa dipelabuhan. (3) Memberikan rasa hormat serta berperilaku sopan, artinya saat melakukan interaksi, pegawai senantiasa memperhatikan kebutuhan pengguna jasa, agar mereka juga merasa dihargai atas pelayanan yang diberikan. (4) Menutup interaksi layanan dengan tepat yakni memberikan beberapa pesan terhadap pengguna jasa
60
apabila pelayanan yang diberikan telah selesai. Berikut hasil wawancara dengan informan selaku Nahkoda beliau mengatakan:
“Dari pegawainya disini sudah bersikap ramah dan sopan saat melayani, karena sudah berapa kali saya melakukan pengurusan surat-surat kapal disini dan menunggu barang dalam proses bongkar muat, mereka selalu ramah dan saya juga merasa diterima dan disambut dengan baik, pegawainya juga langsung menanyakan perihal keperluan dan barang yang akan diurus”. (Hasil wawancara “MI” tanggal 29 Maret 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan MI dapat disimpulkan bahwa sebagai penerima jasa yang merasakan langsung bagusnya pelayanan yang diberikan tidak terlepas dari sikap yang diperlihatkan pegawai dalam melakukan pekerjaannya.
Disamping efektivitas kerjanya pegawai juga berusahan melakukan pendekatan secara kekeluargaan kepada para pelanggannya.
Wawancara dengan Nahkoda selaku pengguna jasa pelabuhan Belang-Belang tersebut menunjukkan hasil yang relevan dengan teori menurut Kotler (Kanedi et al., 2017) yang mengatakan bahwa pelayanan merupakan perilaku produsen dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen demi tercapainyakepuasan pada konsumen itu sendiri. Kotler juga mengatakan bahwa perilaku tersebut dapat terjadi pada saat, sebelum dan sesudah terjadinya transaksi. Berikut hasil wawancara dengan informan selaku pengguna jasa pelabuhan:
“Kalau dari kualitas pelayanannya saya sangat apresiasi yah.. sebab saya sering melakukan pemuatan barang atau pengemasan barang di sini dan saya mengikuti setiap pemuatannya dan kalau diperhatikan sangat berhati-hati itu pegawainya semua”. (Hasil wawancara “AA” tanggal 16 Mei 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan AA dapat disimpulkan bahwa sebagai pengguna jasa di pelabuhan Belang-Belang merasa puas akan pelayanan diberikan, pegawai sangat berhati-hati dalam melakukan pekerjaannya.
3. Pelaksanaan Tugas
Pelaksanaan tugas merupakan tingkat seberapa jauh pegawai mampu melakukan pekerjaanya dengan akurat atau tidak ada kesalahan. Setiap pegawai melaksanakan tugasnya dalam pelayanan bongkar muat harus mampu melakukan pekerjaannya dengan akurat. Komunikasi merupakan proses dimana dua orang atau lebih melakukan pertukaran informasi antar satu sama lain. Dengan komunikasi yang efektif, maka para pengguna jasa di pelabuhan dengan mudah menyampaikan setiap keluhan yang dirasakan kepada para pegawai.
a. Konsisten dalam Bekerja
Indikator untuk melihat pelaksanaan tugas yaitu seberapa jauh pegawai mampu melakukan pekerjaanya dengan akurat atau tidak ada kesalahan. Dengan adanya pembagian jadwal kerja yang diterapkan pada pelayanan bongkar muat di Pelabuhan Belang-Belang maka setiap tugas dapat dicapai sesuai targetnya masing-masing. Berikut hasil wawancara dengan informan selaku Kepala Kantor UPP Belang-Belang beliau mengatakan:
“Ada perintah terkait pengawasan dan pengendalian dalam penyelenggaraan pemerintah dilingkungan kementrian perhubungan kepada pimpinan unit kerja yaitu melaksanakan pengendalian secara melekat dan terprogram terhadap pelaksanaan pekerjaan dan pemberian pelayanan kemudian melaksanakan pengawasan terhadap pelayanan publik agar terbebas dari praktek pungli atau korupsi juga meningkatkan pelayanan sesuai SOP yang ditetapkan, saya selaku kepala kantor selalu menghimbau kepada para petugas disini untuk selalu melakukan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan yang ada. Disini juga ada beberapa peraturan yang berlaku terkait hal tersebut.” (Hasil wawancara “KA” tanggal 29 Maret 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan KA dapat disimpulkan bahwa terkait Pengawasan dan Pengendalian dalam Penyelenggaraan Pemerintah dilingkungan
62
Kementrian Perhubungan, Menteri Perhubungan memerintahkan kepada seluruh pimpinan unit kerja baik di tingkat pusat dan daerah untuk melakukan berbagai hal yakni melaksanakan pengendalian secara melekat dan terprogram terhadap pelaksanaan pekerjaan dan pemberian pelayanan kepada masyarakat pengguna jasa.
Wawancara dengan Kepala Kantor UPP Belang-Belang tersebut menunjukkan hasil yang relevan dengan teori menurut Winardi (Utami, 2017), yang mengemukakan bahwa ada beberapa indikator untuk menilai serta mengukur pelaksanaan tugas maupun kinerja dari pegawai yaitu: (1) pemanfaatan waktu yang tepat; (2) jumlah output; (3) kesediaan untuk bekerjasama; (4) kualitas pekerjaan. Berikut hasil wawancara dengan informan selaku petugas staf kepegawaian beliau mengatakan:
“Saya mendukung penuh setiap pekerjaan anggota-anggota saya karena mereka semua memiliki kompetensi terhadap pekerjaan mereka, di setiap kesempatan saya selalu mengatakan kepada anggota saya untuk selalu displin dalam bekerja dan harus memiliki rasa tanggung jawab pada pekerjaan yang di emban”. (Hasil wawancara “NW” tanggal 29 Maret 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan NW dapat disimpulkan bahwa kepercayaan juga termasuk dalam faktor pendukung kinerja seseorang, Ketika pimpinan percaya sepenuhnya terhadap kinerja pegawainya maka hal yang dirasakan oleh pegawai juga adalah berkeja dengan sungguh-sungguh tanpa beban dari pimpinannya karena, pegawai sebagai kunci berjalannya proses bongkar muat maka dari itu sikap saling percaya harus selalu ada diantara para pegawai dan pimpinannya.
Wawancara dengan petugas staf kepegawaian di kantor UPP Belang-Belang tersebut menunjukkan hasil yang relevan dengan teori menurut Flippo (Nasution, 2018) mengatakan bahwa inti dari kualitas kerja adalah suatu hasil yang dapat diukur dengan efektifitas dan efisiensi suatu pekerjaan yang dilakukan oleh sumber daya manusia atau sumber daya lainnya dalam pencapaian tujuan atau sasaran perusahaan denga baik dan berdaya guna.
b. Bekerja dengan Akurat
Ketika pimpinan percaya sepenuhnya terhadap kinerja pegawainya maka hal yang dirasakan oleh pegawai juga adalah berkeja dengan sungguh-sungguh tanpa beban dari pimpinannya karena, pegawai sebagai kunci berjalannya proses bongkar muat maka dari itu sikap saling percaya harus selalu ada diantara para pegawai dan pimpinannya. Berikut hasil wawancara dengan informan selaku pengawas fasilitas dan peralatan pelabuhan beliau mengatakan:
“Yah memang disini kita harus dituntut untuk teliti karena dengan teliti pasti dapat menutup kemungkinan adanya kesalahan. Terutama itu dari proses bongkar muat jangan sampai ada kesalahan, dan sampai saat ini Alhamdulillah belum ada kesalahan yang berarti saya lihat. (Wawancara
“AM” 18 April 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan AM dapat disimpulkan bahwa upaya untuk menghindari kekeliruan atau kesalahan dapat diminimalisir dengan upaya memaksimalkan atau berusaha fokus dalam pekerjaan, teliti agar tidak ada kesalahan yang akan memebrikan dampak buruk bagi semua lapisan yang terkait.
Wawancara dengan pengawas fasilitas dan peralatan pelabuhan Belang- Belang tersebut menunjukkan hasil yang relevan dengan teori menurut Hariandja (Lie & Siagian, 2018) mengatakan bahwa kinerja adalah hasil kerja yang
64
dihasilkan oleh pegawai atau perilaku nyata yang ditampilkan sesuai dengan perannya dalam organisasi. Berikut hasil wawancara dengan informan selaku Nahkoda, beliau mengatakan:
“Selama ini saya tidak pernah kelamaan menunggu dalam proses bongkar muat, karena pelayanan disini setiap kami informasikan untuk berlabuh segera pasti semuanya sudah dipersipkan jadi kami sebagai pengguna jasa mereka itu juga senang melihat kinerjanya”. (Hasil wawancara “MI” tanggal 29 Maret 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan MI dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan tugas yang di Pelabuhan ini sudah termasuk baik serta struktur dengan baik, sehingga tidak terjadi antrian dalam proses bongkar muat, semuanya dikerjakan dengan terjadwal oleh pegawai.
Wawancara dengan Nahkoda selaku pengguna jasa pelabuhan Belang-Belang tersebut menunjukkan hasil yang relevan dengan teori menurut Manullang (Syafrina, 2017) yang mengatakan bahwa kinerja adalah suatu keadaan yang menunjukkan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan atau dihasilkan seseorang individu atau sekelompok kerja sesuai dengan job description mereka masing-masing. Berikut hasil wawancara dengan informan selaku pengguna jasa pelabuhan:
“Mereka terlihat sigap dalam melaksanakan tugas-tugasnya, kalau saya perhatikan juga, sepertinya mereka ini mendapatkan semacam pelatihan dalam bersikap ke pelanggannya semua.”. (Hasil Wawancara “TU” tanggal 16 Mei 2022).
Berdasarkan hasil wawancara informan TU dapat disimpulkan bahwa dalam hal pelayanan sebagai pengguna jasa pelayanan tersebut merasa puas untuk