BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
51
Kurikulum 2013 juga selalu mengalami revisi sehingga setiap pergantian revisi maka diikuti dengan penggantian RPP, buku cetak yang dibagikan ke siswa, serta penilaian.
8. Evaluasi
Penerapan kurikulum 2013 di SMP Negeri 13 Makassar mengharuskan evaluasi pembelajarannya pun harus berbasis K13 yaitu setiap kali pertemuan dilakukan penilaian baik dalam bentuk tes maupun non tes serta adanya penilaian karakter pada setiap mata pelajaran.
52
dalam pendidikan karakter terutama nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai ini sebagaimana dimaksud pada ayat tersebut merupakan perwujudan dari 5 (lima) nilai utama yang saling berkaitan yaitu religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas yang terintegrasi dalam kurikulum.
Menurut guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar dari hasil wawancara bahwa dalam pembelajaran Agama Islam pada tiga tingkatan kelas, guru agama Islam memiliki tujuan pembelajaran Agama Islam yang dirumuskan pada komptetensi spiritual yang tercantum dalam Perencanaan Pembelajarannya. Implementasi nilai spiritual yang diterapkan oleh guru Agama Islam secara umum diklasifikasi ke dalam beberapa kategori, yakni nilai aqidah, ibadah, dan akhlak.
a. Nilai Aqidah
Nilai aqidah terdiri dari 4 (empat) nilai karakter Islam, yaitu nilai religius, tanggungjawab, toleransi, dan jujur, dan masing-masing nilai karakter tersebut memiliki indikator.
1) Nilai Religius
Nilai religius merupakan konsep mengenai penghargaan tinggi yang diberikan oleh warga masyarakat kepada beberapa masalah pokok dalam kehidupan keagamaan yang bersifat suci sehingga dijadikan pedoman bagi tingkah laku keagamaan warga masyarakat yang bersangkutan. Makna religiusitas
53
lebih luas (universal) daripada agama, karena agama terbatas pada ajaran-ajaran atau aturan-aturan, berarti ia mengacu pada agama (ajaran) tertentu. Nilai religius dapat berkaitan dengan hubungan manusai dengan Tuhannya, hubungan sesama manusia, hubungan manusia dengan alam atau lingkungan, serta yang berkaitan dengan pendidikan keagamaan.
Hasil wawancara dari 4 guru agama Islam, rata-rata menyatakan bahwa nilai riligius selalu menjadi prioritas untuk ditanamkan kepada peserta didik dalam setiap pembelajaran. Guru menambahkan bahwa kompetensi spiritual aspek religius harus sejalan dengan penanaman kompeteni pengetahuan kepada peserta didik. Hal ini tampak pada kutipan wawancara dua orang guru Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar, yaitu (Muslihati guru Pendidikan Agma Islam kelas IX, 11 Maret 2020)
“Jika yang berkaitan dengan penanaman nilai karakter religius, saya kira itu menjadi program dan tujuan utama kita sebagai guru agama Islam. Namanya pelajaran Agama Islam, ya tentu harus berbasis religi, atau keislaman, dan itu tanggung jawab kita sebagai guru untuk mengajari dan menanamkannya kepada peserta didik agar dapat berguna bagi orang-orang di sekitarnya kelak.”
Kutipan wawancara dengan (Muammar,guru Pendidikan Agama Islam kelas VII,12 Maret 2020)
“Kalau saya, ya sebagai guru agama Islam punya tanggung jawab besar kepada anak didik kami untuk menanamkan nilai religius. Saya selalu berupaya dan mengulang-ulangi di setiap pembelajaran bahwa kalian sebagai hamba harus selalu menjaga hubungan baik dengan Tuhan, melaksanakan segala yang dianjurkannya dan menjauhi segala larangannya.
Adapun bentuk tindakannya biasanya dilakukan dalam praktik pembelajaran. Selalu juga mengajarkan kepada anak didik terutama anak kelas VII bagaimana menjalin hubungan antara sesama manusia, hubungan manusia dengan alam atau lingkungan, serta yang berkaitan dengan pendidikan keagamaan”.
54
Data hasil waancara tersebut menunjukkan bahwa guru pendidikan agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar telah menanamkan nilai pendidikan karakter religius pada peserta didiknya. Menurut guru sebagai responden bahwa mereka merumuskan tujuan pembelajaran pada aspek kompetensi spiritual lebih utama dengan tujuan menanamkan nilai karakter. Guru menyatakan pula bahwa pembelajaran yang dilaksanakan harus mencerminkan pembelajaran agama Islam, punya ciri khas dan tujuan yang berbeda dengan mata pelajaran lain.
Kutipan tersebut juga mengindikasikan wujud nilai pendidikan karakter yang selalu ditanamkan oleh guru dalam pembelajaran agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar. Guru pendidikan Agama Islam menyatakan bahwa tanggung jawabnya kepada peserta didik sangat besar untuk membekalinya dalam pengetahuan spiritual.
Dari hasil pengamatan saat pembelajaran agama Islam belangsung, ditemukan wujud penanaman nilai karakter oleh guru terhadap peserta didiknya.
Nilai karakter yang ditanamkan sebagai wujud religiusitas adalah peserta didik dibiasakan berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran sebagai tampak pada gambar berikut ini.
55
Gambar 4.1 Aktivitas Peserta Didik Sebelum Memulai Pembelajaran Agama Islam
Gambar tersebut mencerminkan wujud penanaman nilai karakter religius kepada peserta didik. Dalam kegiatan ini, peserta didik dituntut agar mampu memahami dan meningkatkan intensitas hubungannya dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta melalui berdoa kepada-Nya agar segala sesuatu yang dilakukan (belajar selama di sekolah) diberikan kemudahan, kelancaran, dan terutama keberkahan sehingga bernilai ibadah untuk dunia dan akhirat.37
Gambar 4.2 Aktivitas Peserta Didik dalam Melaksanakan Salat Wajib
37Observasi proses kegiatan belajar mengajar pada tanggal 13 Maret 2020 pada kelas IX 2
56
Lebih lanjut, wujud penanaman nilai karakter religius kepada peserta didik di SMP Negeri 13 Makassar tampak pada upaya guru meningkatkan kompetensi spiritual peserta didik melalui kegiatan rutinitas salat, terutama salat berjamaah di masjid sekolah ditambah salat sunnah lainnya. 38
Pada konteks lain, tampak wujud penanaman nilai karakter religius kepada peserta didik melalui kegiatan keagamaan di sekolah, seperti mengikuti peringatan hari besar keagamaan, seperti Maulid Nabi Besar Muhammad saw dan Isra Miraj.
Walaupun sifatnya kegiatan sekolah, tetapi hal ini diitegrasikan oleh guru sebagai bagian pembelajaran agama Islam. Pada kegiatan ini, peserta didik diwajibkan mengikuti semua rangkaian kegiatan dan guru memberikan tugas tertentu yang bekaitan dengan materi, seperti meringkas materi ceramah, menuliskan hikmah dari kegiatan tersebut, dan sebagainya.
2) Tanggung Jawab
Tanggung jawab merupakan kemampuan bawaan makhluk hidup, mewakili kehendak untuk dapat melaksanakan semua tugas dengan sebaik mungkin dengan tujuan untuk mengembangkan rasa tanggung jawab dalam diri peserta didik. Tangggung jawab juga diartikan sebagai sikap dan perilaku untuk melaksanakan tugas dan kewajaiban sebagaimana seharusnya dilakukan terhadap diri sendir, masyarakat, lingkungan, negara, dan Tuhan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar bahwa penanaman karakter bertangung jawab sering
38Observasi proses kegiatan belajar mengajar pada tanggal 12 Maret 2020 pada kelas IX 2
57
ditanamkan kepada peserta didik sebagaimana tampak pada kutipan wawancara berikut ini.
(Muslihati guru Pendidikan Agma Islam kelas IX, 11 Maret 2020)
“Kita sebagai guru juga punya tanggung jawab, yakni mendidik peserta didik. Jadi, bukan hanya peserta didik yang punya tanggung jawab di sekolah. Jika pertanyaannya tentang apakah Anda sering menanamkan nilai karakter tanggung jawab di sekolah, ya jawabannya pasti seringlah sebagaimana telah tertuang dalam program pembelajaran atau RPP yang disusun oleh setiap guru. Dalam RPP sudah tergambar karakter yang ingin ditanamkan kepada peserta didik. Dalam kaitannya dengan karakter tanggung jawab, ada beberapa komponen yang perlu ditanamkan kepada peserta didik, di antaranya menanamkan dalam dirinya tentang perlunya memajukan diri sendiri, menjaga kehormatan diri, komitmen pada tugas-tugas, dan tentunya adalah bertanggung jawab atas keberhasilan sekolahnya dengan mengikuti proses belajar dengan baik untuk sebagai wujud bukti kepada orang tuanya.”42
Data wawancara tersebut menggambarkan bahwa karakter tanggung jawab merupakan salah satu wujud karakter yang sering ditanamkan kepada peserta didik di SMP Negeri 13 Makassar. Ada beberapa wujud karakter tanggung jawab, seperti melatih peserta didik agar mampu memajukan diri sendiri, menjaga kehormatan diri, komitmen pada tugas-tugas, dan tentunya adalah bertanggung jawab atas keberhasilan sekolahnya dengan mengikuti proses belajar dengan baik untuk sebagai wujud bukti kepada orang tuanya.
Pada gambar berikut ini juga menggambarkan bentuk penanaman karakter tanggung jawab kepada peserta didik di SMP Negeri 13 Makassar.
58
Gambar 4.3 Diskusi Kelompok
sebagai Wujud Penanaman Karakter Tanggung Jawab
Pada gambar tersebut tampak kegiatan pembelajaran diskusi dalam belajar Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar. Menurut guru bahwa konteks kegiatan tersebut diharapkan dapat membentuk rasa tanggung jawab kepada peserta didik.
Ketika peserta didik belajar kelompok, semua memiliki beban tugas masing- masing untuk diselesaikan. 39
3) Toleransi
Pada dasarnya, konsep toleransi erat hubungannya dengan sikap jiwa terhadap segala sesuatu yang berbeda. Sikap jiwa yang dimaksudkan adalah sikap untuk menghormati, menghargai, bertenggang rasa, dan memberi kesempatan terhadap keberadaan segala sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di dalam diri kita. Konsep toleransi juga mengandung arti sebagai suatu sikap untuk tidak menghina, tidak mencela, tidak menghujat, tidak merasa benar sendiri, dan tidak ingin menang sendiri dalam hidup bersama dengan komponen lain yang berbeda dengan keberadaan kita. Saling hormat menghormati dalam kehidupan beragama.
39Observasi proses kegiatan belajar mengajar pada tanggal 12 Maret 2020 pada kelas IX 1
59
Toleransi di SMP Negeri 13 Makassar merupakan salah satu sikap dan karakter unggul yang terus ditanamkan oleh guru dalam proses pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik memiliki sikap kepekaan terhadap sesama dalam kehidupannya, terutama mampu menunjukkan sikap menghargai, memberikan kebebeasan kepada sesama, memahami perbedaan suku, rasa, dan agama sebagaimana tampak pada kutipan wawancara berikut ini.
(Muslihati guru Pendidikan Agama Islam kelas IX, 11 Maret 2020)
“Bertoleransi di sini sangat dianjurkan untuk dipahami oleh peserta didik.
Kita selalu mengajari untuk saling menghargai perbedaan. Di sekolah ini ada beberapa agama, dari situ peserta didik diajari untuk menghargai temannya yang beragama lain. Contohnya saja, kalau ada pembelajaran agama mereka dizinkan untuk mengikuti pelajarannya. Dalam diskusi juga diajarkan saling menghargai perbedaan pendapat. Jika terjadi perbedaan argumen, peserta didik diajarkan untuk menghargai argumen tersebut, tidak dengan saling menyalahkan.”
Kutipan wawancara tersebut mengindikasikan wujud penanaman karakter toleransi di SMP Negeri 13 Makassar. Pada data wawancara tersebut, peserta didik diajarkan dan ditanamkan karakter bertoleransi antarwarga sekolah untuk menghargai perbedaan. Hal ini perlu ditanamkan mengingkat peserta didik sebagai makhluk sosial yang kelak akan berbaur di tengah masyarakat yang memiliki banyak fenomena dan perbedaan. Jadi, toleransi merupakan alat penangkal perbedaan dan fenomena tersebut.
4) Jujur
Di era milenilai saat ini, kejujuran bukan lagi hal tabuh. Banyak tontonan di berbagai media yang ditampilkan oleh orang-orang dari kalangan masyarakat, mulai kalangan politis sampai akademisi sekalipun. Mengumbar janji dan harapan
60
manis yang endingnya akan bermuara pada harapan palsu. Dalam fenomena ini, terdapat indirect education yang akan ditiru oleh para generasi muda dengan mencoba melakukan hal yang sama atau sudah menyimpan di memori bahwa mengumbar janji itu tidak dilarang. Padahal, sesungguhnya janji itu adalah utang.
Seperti yang disampaikan marzuki “……Adapun perilaku anti karakter bangsa diantaranya ditunjukkan oleh hilangnya nilai-nilai luhur yang melekat pada bangsa Indonesia, seperti kejujuran, kesantunan, dan kebersamaan, serta ditandai dengan munculnya berbagai kasus kriminal” (Marzuki, 2013).
Di SMP Negeri 13 Makassar, pembelajaran agama Islam atau pembelajaran lain tentunya mengemban tujuan spiritual untuk menanamkan karakter jujur pada peserta didik. Sebagaimana tampak pada kutipan wawancara seperti yang dikatakan guru (Rosdiawati, guru Pendidikan Agama Islam kelas VIII, 12 Maret 2020) menyatakan bahwa
“Pada kompetensi inti tiap mata pelajaran, telah tertulis nyata bahwa peserta didik harus mampu memahami dan memiliki karakter jujur dalam kehidupannya. Bukan hanya karena telah termuatnya dalam kompetensi inti, saya sebagai guru agama punya tugas dan tanggung jawab moral untuk membentuk perilaku anak didik saya menjadi lebih baik, terutama jujur.
Saya sering sampaikan bahwa kebaikan seseorang dilihat dari kejujurannya, karenanya jangan sekali-kali hianati kejujuran itu”.
Dan juga wawancara dengan (Muammar, guru Pendidikan Agama Islam kelas VII, 11 maret 2020)
“Hampir setiap aktivitas belajar selalu ditanamkan sikap dan karakter jujur kepada peserta didik. Saat ujian, mengerjakan tugas agar sesuai dengan kemampuannya, tidak menyontek, dan sebagainya. Ketika berada di rumah, bersikap jujurlah kepada orang tua kalian, di kantin sekolah, dan sebagainya”.
Kedua kutipan tersebut menggambarkan penanaman karakter jujur kepada peserta didik di SMP Negeri 13 Makassar.
61
kepada peserta didik. Kejujuran adalah salah satunya sebagai cerminan identitas pribadi seseorang. Berbagai bentuk upaya guru dilakukan untuk membentuk karakter jujur bagi peserta didiknya. Pembelajaran di kelas merupakan momentum paling tepat sebagai proses pembentukan karakter jujur dengan melatih peserta didik berikap jujur saat menempuh ujian atau mengerjakan tugas individu.
b. Nilai pendidikan karakter
Nilai pendidikan karakter dalam penelitian ini terdiri dari 7 (tujuh) nilai karakter Islam, yaitu menghargai prestasi, peduli sosial, peduli lingkungan, gemar membaca, rasa ingin tahu, mandiri, dan kerja keras/ketekunan.
1) Prestasi
Salah satu karakter yang dibangun di SMP Negeri 13 Makassar optimis untuk berprestasi. Optimis membentuk karakter peserta didik yang memiliki daya juang tinggi, tidak mudah menyerah dalam meraih prestasi. Bila dalam suatu kegiatan seorang peserta didik mengalami kegagalan, anak yang tangguh adalah segera bangkit kembali untuk melakukan aktivitas menuju keberhasilan.
Optimistis membimbing peserta didik memiliki keyakinan bila mau bekerja dengan sungguh-sungguh akan memperoleh keberhasilan. Apa-apa yang telah dikerjakan dengan sungguh-sungguh pasti akan membawa manfaat bagi dirinya sendiri. Hasil wawancara penanaman karakter berprestasi tampak pada kutipan berikut ini.
(Rosdiawati, guru Pendidikan Agama Islam kelas VIII, 11 Maret 2020)
“Masalah memang bukan hal muda, tidak semua peserta didik punya potensi untuk berprestasi karena faktor latar belakang sosial budaya serta strata ekonomi dan pendidikan orang tuanya. Namun, saya sebagai guru sangat punya ekspektasi tinggi agar semua anak didik saya bisa berprestasi
62
dalam segala bidang. Setiap mengawali dan mengakhiri pembelajaran, saya selalu memberikan ilustrasi dan pandangan tentang orang sukses melalui biografinya. Kesuksesan tokoh tersebut karena dipengaruhi oleh salah satunya adalah prestasinya. Hal ini saya sampaikan kepada anak didik saya sebagai bentuk motivasi.”
(Rosdiawati, guru Pendidikan Agama Islam kelas VIII, 11 Maret 2020)
“Peserta didik selalu diikutkan dalam berbagai event dan kegiatan yang sifatnya perlombaan untuk menguji kemampuan dan mencari pengalaman.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik akan berupaya maksimal untuk menunjukkan prestasinya.”
Data kutipan tersebut menggambarkan bentuk nilai karakter yang ditanamkan di SMP Negeri 13 Makassar. Berprestasi merupakan karakter yang didambakan oleh smeua sekolah agar peserta didiknya dapat meraih prestasi yang gemilang sebagai gambaran kebanggaan sekolah. Salah satu cara yang dilakukan adalah melalui pembiasaan dalam mengikuti tantangan dalam bentuk perlombaan.
2) Peduli sosial
Peduli sosial adalah sikap dan perbuatan mencerminkan kepedulian terhadap orang lain maupun masyarakat yang membutuhkan. Kepedulian tercermin pada kemampuan individu memperlakukan orang lain dengan sopan, bertindak santun, tidak menyakiti orang lain, tidak mengambil keuntungan dari orang lain, dan sebagainya.
Peduli sosial merupakan hal penting yang harus ditanamkan pada setiap anak, agar dapat mengapresiasi karya seni dan budaya secara maksimal. Hal ini
63
akan menjadi modal dasar anak menjadi manusia yang berkarakter, berkepribadian berdasarkan Pancasila.
Gambar 4.4 Kegiatan Sosial Tukar Beras dari Hasil Pengumpulan Sampah
Gambar 4.4 tersebut menampilkan aktivitas kepedulian sosial peserta didik di SMP Negeri 13 Makassar. Peserta didik selalu diajari dan dibiasakan
mengumpulkan sampah dan dari pengumpulan sampah tersebut ditukar dengan barang berharga. Hal ini mencerminkan penanaman karakter kepedulian sosial.
Melalui kegiatan ini, peserta didik akan memahami bahwa menukar barang berharga dari hasil jerih payah seseorang merupakan bentuk kepedulian sosial.40 3) Peduli lingkungan
Karakter peduli lingkungan merupakan karakter yang wajib diimplementasikan bagi sekolah di setiap jenjang pendidikan. Semua warga sekolah harus mempunyai sikap peduli terhadap lingkungan dengan cara meningkatkan kualitas lingkungan hidup, meningkatkan kesadaran warga sekolah tentang pentingnya peduli lingkungan serta mempunyai inisiatif untuk mencegah
40Observasi proses kegiatan belajar mengajar pada tanggal 12 Maret 2020 pada kelas IX 1
64
kerusakan lingkungan. Pendidikan karakter peduli lingkungan ditanamkan sejak dini kepada peserta didik sehingga dapat mengelola secara bijaksana sumber daya alam yang ada di sekitar,Barnadib (1999 : 120) menyatakan bahwa “Barnadib mengemukakan bahwa lingkungan keluarga merupakan lingkungan utama yang bertanggung jawab atas pembentukkan kepribadian, kasih sayang, kelakuan, perhatian, bimbingan, kesehatan dan suasana rumah”.
Berikut ini dokumentasi kepedulian lingkungan yang sering ditanamkan oleh guru SMP Negeri 13 Makassar.
Gambar 4.5 Kegiatan Kebersihan Lingkungan Sekitar Sekolah
Gambar 4.6 Kegiatan Kebersihan Lingkungan dalam Sekolah
Data tersebut menunjukkan karakter kepedulian lingkungan peserta didik.
Melalui pembiasaan kerja bakti dan menanam tanaman merupakan bentuk kepedulian lingkungan sekitar sekolah dan masyarakat. Tampak peserta dengan
65
arahan dan bimbingan guru membersihkan lingkungan masyarakat sekitar sekolah dan lingkungan sekolah itu sendiri. 41
Pada hasil wawancara dengan salah seorang guru di SMP Negeri 13 Makassar bahwa kepedulian lingkungan sering dilakukan: (Rosdiawati, guru Pendidikan Agama Islam kelas VIII, 11 Maret 2020)
“Peserta didik selalu ditanamkan agar mau mencintai lingkungan sekitarnya, merawatnya, membersihkan dan menghijaukan kembali. Setiap hari Jumat ada disebut Jumat bersih. Di situ semua peserta didik melakukan pembersihan di sekitar lingkungan sekolah. Hal ini dilakukan tentu untuk menumbuhkembangkan kepekaan peserta didik terhadap sekitarnya”
Penanaman karakter peduli lingkungan pada dasarnya membantu guru dalam penanaman karakter peserta didik tentang kepedulian mereka terhadap lingkungan. Pendidikan karakter peduli lingkungan dapat menjadi tolok ukur kepedulian serta kepekaan peserta didik kepada lingkungannya. Kepedulian dan kepekaan peserta didik terhadap lingkungan akan suasana belajar mengajar yang sehat dan nyaman. Lingkungan sekolah atau suasana belajar mengajar yang sehat dan nyaman dapat meningkatkan prestasi dan kreativitas peserta didik.
4) Gemar Membaca Melalui Gerakan Literasi Sekolah
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah salah satu program Kemendikbud RI. Program ini dicetuskan oleh mantan Mendikbud RI Anies Baswedan. Program ini lahir untuk memperkuat Permendikbud RI Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang salah satunya adalah upaya penumbuhan budaya literasi pada peserta didik dengan cara membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Gerakan literasi sekolah merupakan kemampuan
41Observasi proses kegiatan sebelum pembelajaran pada tanggal 12 Maret 2020 pada setiap kelas.
66
mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis dan berbicara. GLS berupaya menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat melalui pelibatan publik.
Karakter gemar membaca sebagai bentuk literasi, rutin dilaksanakan di SMP Negeri 13 Makassar seperti tampak pada dokumentasi kegiatan berikut ini.
Gambar 4.7 Kegiatan Membaca sebagai Wujud Literasi
Gambar 4.8 Kegiatan Membaca sebagai Wujud Literasi
Gambar 4.7 dan 4.8 menunjukkan implementasi gerakan literasi sekolah melalui kegiatan membaca. Kegiatan ini dilakukan selama 15 menit sebelum
67
pembelajaran dimulai. Setting pelaksanaannya berlangsung di depan kelas masing-masing. Setiap peserta didik melakukan keterampilan informasi atau membaca untuk mendapat informasi terbarukan. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan semangat kebiasaan membaca bagi generasi muda. Kegiatan ini merupakan program sekolah agar yang ingin menciptakan semua warga sekolah yang literat. 42
Pada konteks lain, upaya menumbuhkan kegemaran membaca juga dilakukan oleh setiap guru mata pelajaran. Peserta didik digiring untuk mengakses informasi melalui membaca di perpustakaan pada waktu tertentu sebagai penunjang materi pembelajaran yang sedang diajarkan. Perhatikan gambar berikut ini!
Gambar 4.9 Kegiatan Literasi Baca di Perpustakaan
Pada gambar tersebut tampak kegiatan berliterasi baca di perpustakaan sekolah. Peserta didik mengakses berbagai informasi dengan membaca buku
42Observasi proses pembelajaran di kelas VII 1 pada tanggal 11 Maret 2020.
68
terbaru yang ada di perpustakaan. Menurut guru bahwa literais baca sangat penting dilakukan pada setiap pembelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk memperdalam materi yang sedang dipelajari dengan memperbanyak sumber dan referensi bacaan.
5) Rasa Ingin Tahu
Rasa ingin tahu (curiosity) merupakan keinginan untuk menyelidiki dan amencari pemhaman terhadap rahasia alam. Rasa ingin tahu senantiasa akan memotivasi diri untuk terus mencari dan mengetahui hal-hal yang baru sehingga akan memperbanyak ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan belajar. Rasa ingin tahu akan memperlihatkan sikap dan tindakan yang selalu berusaha untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya.
Dalam pembelajaran Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar, guru selalu menumbuhkan rasa ingin tahu peserta didik dengan membangkitkan emosi untuk terus bereksplorasi, investigasi, dan belajar. (Muslihati guru Pendidikan Agama Islam kelas IX, 13 Maret 2020)
“Menurut saya, karakter rasa ingin tahu memang harus terus ditumbuhkan dan ditanamkan kepada peserta didik. Hal ini sesuai dengan amanah dalam kurikulum 2013 dan konsep pembelajaran abad 21. Dalam pembelajaran abad 21, peserta didik aktif, kreatif, dan inovatif dengan terus mencari dan mencari sesuatu yang baru. Namun, perlu diingat bahwa guru juga harus terampil dan kreatif menciptakan pembelajaran yang bisa menggiring peserta didik untuk terus aktif bereksplorasi dengan konsep kelas yang menyenangkan”.
(Muslihati guru Pendidikan Agama Islam kelas IX, 11 Maret 2020)
“Rasa ingin ditanamkan kepada peserta didik dengan menuntun dan membimbing untuk terus bertanya dan bertanya saat pembelajaran berlangsung, memberikan stimulus yang bersumber dari berbagai media