• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Prosedur Penyaluran Kredit KUPEDES

Proses pelaksanaan pemberian kredit umum pedesaan (KUPEDES) pada PT.

Bank Rakyat Indonesia (persero), Tbk Unit Pekkabata Pinrang sudah baik dan terstruktur. Di mana tahapan atau prosedur pemberian KUPEDES tersebut merupakan proses pemberian kredit yang dilakukan oleh bank pada umumnya, terlihat dengan :

a. Pengajuan permohonan KUPEDES

Calon debitur yang ingin mengajukan permohonan pinjaman KUPEDES mendatangi BRI Unit Pekkabata Pinrang. Dengan dibantu oleh Customer service, calon debitur kemudian mengisi formulir permohonan pengajuan pinjaman atau surat keterangan permohonan pinjaman (SKPP) model 72 KUPEDES yang terlampir pada lampiran 2 atau model 75 KUPEDES bagi calon debitur yang mempunyai penghasilan tetap yang terlampir pada lampiran 3. Calon debitur mengisi pada formulir jenis usaha yang akan dibiayai kredit, besar pinjaman yang akan diminta, jangka waktu dan cara pembayaran, latar belakang permohonan kredit serta jaminan atau agunan yang dapat disediakan. Kemudian calon debitur menyerahkan dokumen-dokumen sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan seperti melampirkan legalitas usaha minimal surat keterangan usaha dari kepala desa atau lurah atau pasar, surat izin usaha perdagangan (SIUP), pengalaman usaha minimal satu tahun, foto copy berkas agunan, melampirkan identitas diri seperti kartu tanda penduduk (KTP) atau surat izin

mengemudi (SIM) kepada Deksman. Deksman (Customer service) wajib memberitahukan calon debitur untuk membuka rekening tabungan apabila calon debitur belum memiliki rekening tabungan di BRI.

b. Analisis Kredit

Setelah debitur mengisi surat keterangan permohonan pinjaman (SKPP) dan menyerahkan dokumen identitas diri kepada deksman.

Deksman melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan berkas berkas SUP yang telah diterima untuk diproses lebih lanjut dan memasukkan data calon debitur pada BRITNES sesuai SKPP dan tanda bukti dari debitur.

Kemudian deksman menyerahkan berkas SKPP tersebut kepada kepala Unit. Bila permohonan pinjaman debitur dinilai layak diberikan, maka kepala Unit menunjuk seorang mantra (Account Officer) untuk melakukan pemeriksaan langsung ke tempat usaha debitur (On The Spot) dan melakukan analisis sesuai dengan keterangan SKPP yang telah diisi oleh debitur. Mantri akan melakukan wawancara untuk mencari informasi dasar yang berhubungan dengan debitur seperti besarnya pinjaman yang diminta, usaha pokok yang dibiayai, alamat usaha, bentuk usaha yang dijalankan, jumlah tenaga kerja dan melakukan perhitungan rugi atau laba usaha. Mantri juga melakukan analisis untuk mengetahui proyeksi perkiraan kenaikan produksi usaha dan menilai jenis agunan. Laporan hasil pemeriksaan di lapangan dan basil analisis sehubungan dengan permohonan kredit yang dilakukan oleh mantra dicatat pada formulir 70 KUPEDES yang terlampir pada lampiran 4, mantri akan memberikan skorsing risiko kredit atas penilaian yang telah dilakukan. Dalam kebenaran dan melakukan penaksiran nilai agunan yang dimiliki debitur,

mantri juga membuat laporan penilaian pada formulir 71 -78 KUPEDES sesuai dengan ketentuan yang berlaku yang terlampir pada lampiran 5.

c. Persetujuan kredit

Setelah membuat laporan pemeriksaan dan analisis yang telah dilakukan, selanjutnya mantra menyerahkan berkas SKPP tersebut kepada deksman.

Berkas tersebut kemudian diserahkan kepada oleh deksman kepada kepala Unit.

Sebelum memberikan persetujuan, kepala Unit memeriksa dan memastikan kembali hasil pemeriksaan dan analisis surat keterangan permohonan pinjaman (SKPP) yang telah dilakukan oleh mantra. Kepala Unit juga wajib memastikan keaslian dokumen yang telah diberikan oleh debitur. Apabila kepala Unit merasa tidak yakin atas hasil pemeriksaan tersebut, kepala Unit dapat memutuskan untuk dilakukan pemeriksaan ulang. Jika permohonan pinjaman tersebut tidak disetujui, kepala Unit wajib memberikan alasan penolakan dan mencantumkan dalam SKPP dan memberikannya pada deksman untuk dibuatkan surat penolakan.

Deksman akan memberitahukan kepada debitur untuk mengonfirmasikan kembali beberapa hari menurut hari yang telah ditentukan oleh pihak bank setelah pengajuan surat permohonan pinjaman.

d. Perjanjian kredit

Kepala Unit menyerahkan surat keterangan permohonan pinjaman (SKPP) yang telah disetujui kepada deksman. Deksman kemudian menyiapkan suratpengakuan hutang (SPH) dan surat pengikatan agunan untuk dibaca dan ditandatangani oleh debitur. Deksman harus memastikan bahwa dokumen-dokumen yang berhubungan dengan perjanjian pinjaman telah

ditanda tangani oleh debitur sebagai bukti persetujuan.

Selanjutnya, deksman kemudian mengisi kuitansi pencarian pinjaman serta menyerahkan semua berkas perjanji.pinjaman kepada kepala Unit serta menyerahkan semua berkas perjanjian pinjaman kepada kepala Unit untuk dilakukan via pembayaran pinjaman yang telah diputuskan sesuai dengan kewenangannya.

e. Pencairan kredit

Setelah menerima kuitansi dan berkas pinjaman dari deksman, kepala Unit memeriksa kelengkapan berkas sesuai dengan syarat yang telah ditentukan. Apabila sesuai, kepala Unit menandatangani kuitansi pencairan pinjaman yang telah diberikan. Kuitansi pencairan pinjaman diberikan kepada teller, sedangkan berkas pinjaman debitur diserahkan kembali kepada deksman. Pencairan pinjaman debitur dilakukan oleh teller berdasarkan kuitansi yang diterimah dari kepala Unit. Teller wajib meneliti keabsahan kuitansi terlebih dahulu. Besarnya pencairan pinjaman harus sesuai dengan kuitansi pencairan pinjaman yang telah disepakati.

Setelah penulis mengadakan penganalisaan data yang ada pada PT. Bank Rakyat Indonesia (persero), Tbk Unit Pekkabata Pinrang jumlah kredit yang tersalur untuk membantu para debitur pada periode 2015 - 2018, dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 5.1

Jumlah Kredit yang Disalurkan untuk Periode tahun 2015- 2018 Tahun Penyaluran kredit

(Rp.)

Perubahan (Rp.)

Peningkatan (Rp.)

2015 5.415.500.000 0 0,00

2016 5.984.550.000 569.050.000 10,5

2017 6.597.050.000 612.500.000 10,23

2018 7.055.000.000 457.950.000 6,94

Sumber :PT. BRI (persero), Tbk Unit Pekkabata Pinrang

Dengan melihat tabel 5.1, maka diketahui bahwa perkembangan penyaluran kredit pada tahun 2015 yaitu sebesar Rp.. 5.415.500 000,- dan pada tahun 2016 jumlah kredit sebesar Rp.. 5.984.550.000,- atau mengalami kenaikan sebesar 10,51% dari kredit tahun 2016, sedangkan untuk kredit tahun 2017 adalah sebanyak Rp..6.597.050.000,- atau terjadi kenaikan sebesar 10,23% dari kredit tahun 2016, kemudian tahun 2018 yaitu sebesar Rp..

7.055.000.000,- atau mengalami kenaikan penyaluran sebesar 6,94% dari tahun 2018.

Dengan demikian dari uraian perkembangan penyaluran kredit tersebut diatas, secara keseluruhan PT. Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk mengalami peningkatan usaha. Hal ini disebabkan oleh karena permintaan nasabah akan kredit dalam menambah usaha pada PT. BRI (persero),Tbk Unit Pekkabata Pinrang semakin meningkat. PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Unit Pekkabata Pinrang sesuai dengan hasil penelitian penulis

mengalami peningkatan baik jumlah kredit yang tersalur maupun jumlah anggota mengalami hal serupa, karena masyarakat memanfaatkan kredit yang telah diambilnya sangat merasakan dampak bantuannya tersebut. Untuk kejelasan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk Unit Pekkabata Pinrang dalam peningkatan jumlah nasabah mulai tahun 2015 hingga tahun 2018, dapat dilihat pada tabel dibawah ini

Tabel 5.2

Penyaluran Kredit Dan Jumlah Nasabah Periode tahun 2015- 2018

No. Urut Tahun Penyaluran kredit (Rp.)

Jumlah Nasabah

Sisa Pinjaman

Ket

1 2015 5.415.500.000 900 - Lunas

2 2016 5.984.550.000 1150 - Lunas

3 2017 6.597.050.000 1250 - Lunas

4 2018 7.055.000.000 1360 120.000.000 -

25.052.100.000 4660 120.000.000 - Sumber : PT. BRI (Persero), Thk Unit Pekkabata Pinrang

Berdasarkan tabel 5.2 bahwa baik jumlah kredit maupun jumlah nasabah tiap tahun mengalami peningkatan pendapatan bagi yang menggunakan fasilitas kredit melalui PT. Bank Rakyat Indonesia (persero), Tbk Unit Pekkabata Pinrang yaitu mulai tahun 2015 jumlah anggota meningkat hingga tahun 2018, sehingga PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk Unit Pekkabata Pinrang adakalanya meladeni nasabah.

2. Sistem Pengendalian internal atas penyaluran KUPEDES pada PT. BRI (Persero), Tbk Unit Pekkabata Pinrang.

PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk merupakan salah satu lembaga perbankan nasional yang hingga saat ini telah menunjukkan konsistensinya dalam melayani nasabahnya.Pengelola bank dengan administrasi terbesar dan tersebar di seluruh Indonesia terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan kepada klien, baik item manfaat, organisasi, organisasi korespondensi, SDM, E- Channel dan Keuangan Serbaguna atau produk Mobile Banking. Jaringan unit kerja yang menjangkau masyarakat hingga pelosok, menumbuhkan Brand Image BRI yang positif di mata masyarakat. Masyarakat tidak lagi segan mengunjungi bank dan menikmati fasilitas layanan perbankan. BRI sebagai lembaga yang menghimpun aset masyarakat sebagai simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat pada umumnya sebagai kredit, terus berupaya meningkatkan pelayanan administrasi kepada nasabah. Dalam hal mengedarkan aset kepada masyarakat melalui pos uang muka, BRI tetap mengacu pada pengaturan biaya pinjaman Bank Indonesia. Hal ini dilakukan dengan tujuan akhir untuk menjaga konsistensi BRI di mata masyarakat luas. Kredit sangat penting untuk kelimpahan bank yang diberikan kepada penerima kredit. Kredit sebagai jenis pendapatan terbesar bank, digunakan untuk membantu tugas- tugas perbankan dan memperkuat desain permodalan bank. Oleh karena itu, dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat pada umumnya, BRI terbantu dengan menampilkan tenaga pengajar. Tenaga kerja promosi yang solid akan mengarahkan pemeriksaan dan penyelidikan terhadap kondisi dan kelayakan

bisnis klien sejauh dana, legalitas, dan kemungkinan bisnis klien

.

Analisa ini dibutuhkan Sistem pengawasan internal yang efektif merupakan komponen yang penting dalam manajemen dan dasar bagi kegiatan operasional bank yang sehat dan aman. Sistem pengawasan yang efektif dapat membantu pengurus bank menjaga Asset Bank. Menjamin tersedianya pelapor keuangan dan manajerial yang dapat dipercaya, meningkatkan kepatuhan bank terhadap ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta mengurangi risiko terjadinya kerugian, penyimpangan dan pelanggaran aspek kehati- hatian.

Dalam bab ini, penulis akan menganalisa penerapan pengawasan internal dalam pemberian KUPEDES pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk Unit Pekkabata Pinrang. Tanpa adanya pengawasan internal terhadap pemberian KUPEDES dapat mengakibatkan terjadinya , penyimpangan maupun penyelewengan yang berdampak negative terhadap kelanjutan usaha perusahaan.

Untuk lebih jelas, penulis akan menjabarkan tentang pengawasan internal tersebut. Di mana sistem pengawasan internal atas pemberian KUPEDES ini bisa dikatakan sudah efektif, dan itu terlihat dari te rpenuhinya komponen pengawasan internal (Bambang Hartadi) :

1. Lingkungan Pengendalian.

Teori COSO dalam bukunya Azhar Susanto mengatakan bahwa Pembentukan suasana organisasi serta memberikan kesadaran tentang perlunya pengendalian bagi suatu organisasi, yang merupakan dasar bagi semua komponen pengendalian internal lain yang melahirkan hierarki dalam membentuk struktur organisasi. Lingkungan pengendalian (kontrol environment), suasana organisasi yang mempengaruhi kesadaran

penguasaan (kontrol consciousness) dari seluruh pegawainya. Lingkungan pengendalian ini merupakan dasar dari komponen lain karena menyangkut kedisiplinan dan struktur Lingkungan pengawasan mencerminkan keseluruhan komitmen, perilaku dan kepedulian dan langkah-langkah dewan komisaris dan Direksi dalam melaksanakan kegiatan pengawasan operasional.

Dari hasil wawancara dan observasi, penulis menemukan hal yang telah dilaksanakan berhubungan dengan integritas dan nilai etika, diantaranya sikap pegawai yang sangat ramah dan bersedia meluangkan waktu untuk melakukan wawancara serta tanya jawab dengan penulis terkait pertanyaan yang berhubungan dengan topik skripsi yang dibahas. Tidak semua informasi bisa didapatkan oleh penulis karena itu berhubungan dengan kode etik pegawai bank di mana para pegawai wajib menjaga rahasia bank untuk hal yang dikategorikan rahasia.

Struktur organisasi yang dimiliki Bank BRI sudah baik dan tersusun rapi, dan adanya pemisahan tugas dan bagian yang mengontrol khusus proses pemberian kredit. Dalam pemberian kredit KUPEDES, kepala Unit mempunyai tugas dan tanggung jawab antara lain merencanakan, mengkoordinasikan, menetapkan strategi pemasaran simpan dan pinjam mikro untuk menghadapi persaingan bisnis mikro, melakukan pengawasan dan memonitor operasional Unit dan memastikan sistem telah berjalan sesuai dengan ketentuan untuk meminimalkan terjadinya penyimpangan, memonitor dan menganalisis laporan-laporan BRI Unit serta memastikan kebenarannya untuk keperluan penentuan kebijakan manajemen sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan target yang telah ditetapkan.

Laporan hasil pemeriksaan di lapangan dan hasil analisis sehubungan dengan permohonan pinjaman debitur yang telah dilakukan oleh mantri diserahkan kepada kepala Unit. Mantri membuat rencana target pinjaman, melakukan penelitian kelengkapan dan keabsahan dokumen pinjaman BRI Unit, analisa permohonan pinjaman nasabah dan calon nasabah, melakukan pembinaan, penagihan dan pinjaman BRI Unit mulai dari pinjaman dicairkan sampai dengan lunas untuk meminimalkan risiko pinjaman serta memasarkan dan memperkenalkan produk BRI dan menyampaikan hasil kunjungan ke nasabah kepada atasan dalam rangka memperluas jangkauan

2. Penilaian risiko

Untuk menghindari terjadinya kemungkinan risiko kredit bermasalah, sebelum menyetujui putusan kredit kepada debitur, kepala Unit mendisposisikan seorang mantri untuk melakukan analisis serta menilai jenis dan besarnya mulai agunan yang dimiliki oleh debitur, dalam melakukan analisis non finansial, mantri melakukan wawancara dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana karakter yang dimiliki debitur karena karakter merupakan penilaian yang paling penting dan paling diutamakan. Mantri juga melakukan pengawasan terhadap debitur yang mendapat pinjaman. Pengawasan dilakukan secara berkala untuk mengetahui kondisi usaha debitur pada saat mengajukan permohonan pinjaman hingga kondisi usaha debitur pada saat diperiksa. Setelah melakukan pengawasan terhadap debitur, mantri kemudian membuat laporan untuk diserahkan kepada kepala Unit. Selain pengawasan, mantri juga melakukan penagihan atas tunggakan yang dimiliki debitur.

BRI Unit Pekkabata juga memberikan pelanggaran bagi karyawan yang membuat kesalahan dalam bekerja. Hal ini dilakukan sebagai bagian pengawasan yang efektif untuk menilai kinerja karyawan.

3. Informasi dan komunikasi

Penerapan sistem informasi yang terdapat pada BRI khususnya Unit Pekkabata dikenal dengan istilah BRITNETS yang dilengkapi dengan user id dan password sebagai bagian dari pelaksanaan pengawasan terhadap sistem komputer dan pengamanan. BRITNETS dirancang untuk meningkatkan pelayanan nasabah dengan memudahkan para nasabah melakukan transaksi perbankan, mempercepat proses transaksi jasa keuangan serta memberikan kemudahan bagi para pihak manajemen dalam rangka melakukan pengawasan. Selain itu BRI Unit Pekkabata Pinrang juga dilengkapi juga dengan mesin ATM yang memiliki karakteristik melakukan setoran ke rekening pinjaman maupun simpanan, transfer, melakukan pembayaran, mengetahui informasi saldo serta melakukan pembagian pulsa untuk melayani para nasabah.

Dalam pelaksanaan pemberian KUPEDES, nasabah menyerahkan dokumen dokumen untuk mengajukan permohonan kredit. Dokumen dokumen tersebut kemudian disimpan dilemari simpanan oleh mantri.

Sebagai langkah pengendalian fisik terhadap aset maupun operasional yang dimiliki, BRI Unit Pekkabata dilengkapi dengan petugas keamanan serta CCTV demi menjaga keamanan.

4. Pengendalian Aktivitas pengawasan

Pengendalian aktivitas pengawasan membantu memastikan bahwa tindakan yang diperlukan berkenaan dengan risiko telah diambil untuk

pencapaian identitas suatu perusahaan. Secara keseluruhan, BRI Unit Pekkabata Pinrang memiliki pembagian tugas yang jelas. Ini dapat dilihat pada struktur organisasi yang dimiliki. Dalam pengawasan pemrosesan informasi, calon nasabah yang ingin mengajukan KUPEDES di BRI Unit Pekkabata Pinrang wajib untuk membuka tabungan terlebih dahulu.

Permohonan kredit diajukan calon nasabah kepada bank dengan melampirkan usaha minimal surat keterangan usaha dari kepala desa atau lurah atau pasar, Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), pengalaman usaha minimal satu tahun, foto copy agunan, melampirkan dokumen identitas diri seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Surat Izin Mengemudi (SIM).

Dokumen-dokumen tersebut diserahkan kepada deksman dan disimpan ke dalam lemari berkas pinjaman. Deksman yang bertugas untuk mengelola berkas pinjaman calon nasabah serta memastikan kelengkapan, keabsahan, keamanan dan ketertiban administrasi. Deksman juga mempunyai wewenang untuk memegang kunci berkas pinjaman nasabah.

5. Pemantauan

Sebelum menyetujui pemberian kredit, mantri melakukan kunjungan ke lokasi usaha calon debitur tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.

Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya pemberian informasi yang tidak sesuai oleh debitur dengan keadaan yang sebenarnya. BRI juga melakukan pengawasan debitur setelah kredit dicairkan yang dilakukan oleh mantri. Mantri kemudian melaporkan situasi dan kondisi nasabah yang masih lancar maupun yang buruk kepada kepala Unit serta memberikan usul, saran dan pemecahan agar lebih mudah melakukan tindak lanjut.

1. Perolehan Laba Pada PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk Unit Pekkabatai Pinrang

Perolehan laba operasional pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit Pekkabata Pinrang diperoleh dari pendapatan dikurangi dengan biaya operasional. Pendapatan operasional pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit Pekkabata Pinrang. Didominasi dari pendapatan bunga kredit yang dihasilkan dari kegiatan pemberian kredit khususnya Kredit Umum Pedesaan atau biasa disebut dengan KUPEDES. Untuk mengetahui besarnya perolehan laba operasional dengan hasil presentasi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Berdasarkan rumus diatas, maka hasil yang didapatkan dari perolehan laba operasional dapat dilihat pada tabel dibawah ini

Tabel 5.3

Perolehan Laba Operasional

Pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit Pekkabata Pinrang Tahun 2015 – 2018

Tahun Perolehan laba operasional (Rp.)

Selisih Persentase (%) 2015 3.080.747.000

2016 2.851.316.000 (229.431.000) (7,45)

2017 3.150.724.000 299.408.000 10,50

2018 2.751.653.000 (399.071.000) (12,67) Sumber : Data Perolehan Laba Operasional PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Unit

Pekkbata Pinrang 2015- 2018

perolehan setahun % = π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘œπ‘™π‘’β„Žπ‘Žπ‘› π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘› π‘ π‘’π‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘”βˆ’π‘π‘’π‘Ÿπ‘œπ‘™π‘’β„Žπ‘Žπ‘› π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘› π‘ π‘’π‘π‘’π‘™π‘’π‘šπ‘›π‘¦π‘Ž

π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘œπ‘™π‘’β„Žπ‘Žπ‘› π‘‘π‘Žβ„Žπ‘’π‘› π‘ π‘’π‘π‘’π‘™π‘’π‘šπ‘›π‘¦π‘Ž π‘₯ 100%

Penjelasan mengenai perolehan laba operasional dari tabel 5.3 diuraikan sebagai berikut:

1. Pada tahun 2015 perolehan laba operasional sebesar Rp. 3.080.747.000,- hasil ini diperoleh dari selisih pendapatan operasional dengan biaya operasional pada laporan perkembangan BRI Unit Pekkbata Pinrang . 2. Pada tahun 2016 perolehan laba operasional sebesar Rp. 2.851.316.000,-.

Pada tahun ini perolehan laba operasional mengalami penurunan sebesar Rp. 229.431.000,- atau 7,45 %. Penurunan ini disebabkan karena bank mengeluarkan biaya operasional yang cukup tinggi, misalnya biaya pelatihan karyawan, biaya Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif atau cadangan penghapusan KUPEDES, biaya promosi KUPEDES untuk memperkenalkan kepada masyarakat umum dan biaya pemeliharaan dan perbaikan inventaris kantor seperti komputer, sehingga mempengaruhi laba. Alasan lainnya adalah adanya KUPEDES yang ribet, misalnya kredit macet untuk cicilan porsi KUPEDES. Salah satu penyebab buruknya uang muka awal dari bank sebenarnya adalah tidak adanya pengawasan (pengecekan) yang dilakukan oleh bank kepada pemegang utang sehingga tidak terpenuhinya kewajiban dalam angsuran KUPEDES yang membuat manfaat tidak bertambah.

3. Pada tahun 2017 perolehan laba operasional sebesar Rp. 3.150.724.000,.

tunjangan laba operasional pada . Kenaikan ini karena bank mulai mengatur dan mengendalikan biaya operasional yang diakibatkan oleh berkurangnya angsuran tambahan kepada pekerja, biaya kemajuan KUPEDES dan biaya pembenahan stok kantor, sehingga biaya yang ditimbulkan tidak terlalu besar. Selain itu juga pembayaran angsuran

KUPEDES oleh nasabah sudah mulai berjalan dengan lancar karena bank sekarang dalam memberikan kredit berdasarkan asas kehati-hatian terutama dalam hal pemeriksaan kredit kepada debitur dan juga sudah mulai membangun pengawasan terhadap pemegang rekening yang secara finansial lewat angsuran KUPEDES sehingga pembayaran dari pendapatan kredit semakin tinggi sehingga perolehan laba semakin besar.

Pada tahun 2018 perolehan laba operasional sebesar Rp..

2.751.653.000, Perolehan laba operasional pada tahun ini mengalami penurunan sebesar sebesar Rp. 399.071.000,- atau 12,67 %. Penurunan ini disebabkan karena kredit macet terhadap pembayaran angsuran KUPEDES yang dilakukan oleh debitur mulai mengalami kenaikan atau tinggi. Terjadinya kredit macet atau tersendatnya pembayaran angsuran KUPEDES pada tahun ini disebabkan dari faktor nasabah yaitu usaha debitur yang mengalami kemerosotan sehingga penghasilannya tidak maksimal dan hal ini menyebabkan debitur tidak mampu membayar angsuran KUPEDES. Selain itu juga dari debitur KUPEDES sektor pertanian terjadi kredit macet pula. Hal ini disebabkan karena gagalnya panen yang dihasilkan petani karena serangan hama dan kebanjiran sehingga hasil panennya tidak optimal dan mempengaruhi pembayaran KUPEDES. Pada tahun ini juga terjadi kenaikan harga-harga kebutuhan hidup yang melonjak yang diawali dengan naiknya harga BBM sehingga pembayaran angsuran dari debitur tersendat, Selain itu, pengurangan ini disebabkan selain adanya KUPEDES yang macet seperti uang muka yang mengerikan, juga karena pengurangan dalam pengaturan KUPEDES sehingga pembayaran dari bunga kredit juga berkurang dan keuntungan

juga berkurang. Bank mengurangi penyelenggaraan KUPEDES tahun ini dengan alasan bahwa untuk mengantisipasi kenaikan uang muka yang mengerikan dari tahun sebelumnya, maka mereka berusaha untuk membendung uang muka buruk yang terjadi dengan memperbaiki pengawasan terhadap orang-orang yang berhutang yang telah lewat jatuh tempo secara finansial

Dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2018 secara umum akan mengalami kenaikan atau peningkatan meskipun masih terdapat pengurangan dalam manfaat kerja. Peningkatan terbesar pada tunjangan kerja terjadi pada tahun 2017 yaitu 10,50% dari tahun sebelumnya yang mengalami penurunan. Kenaikan ini karena perbankan mulai membenahi pengelolaan pengawasan sehingga jumlah kredit macet mulai berkurang.

Hal ini diungkapkan pula oleh Lukman Dendawijaya (2009:79) bahwa

"Pengawasan (Monitoring) kredit yang dilakukan oleh bank setelah kredit disalurkan merupakan salah satu kunci mendasar bagi tercapainya pemberian kredit, meskipun ketajaman dan ketelitian yang dilakukan sebagai kredit uang muka yang macet atau uang muka yang buruk) lebih banyak disebabkan oleh kecerobohan bank dalam memimpin pengelolaan kredit, sedangkan jaminan tunjangan kerja yang mengalami pembusukan besar terjadi pada tahun 2018 yaitu 12,67. Hal ni karena banyaknya kemajuan dahsyat yang terjadi pada tahun itu sehingga manfaatnya tidak bertambah.

Apalagi biaya operasional yang dikeluarkan bank sangat tinggi. Salah satu penyebab kredit buruk adalah penurunan bisnis debitur sehingga pembayarannya juga berkurang yang menyebabkan angsuran bagian kredit terombang-ambing. Selain itu, ada komponen yang tidak disengaja,

menyiratkan bahwa debitur tidak membayar porsi kredit karena mengalami musibah.

Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Kasmir (2010: 128), secara khusus β€œsecara praktis, kemacetan kredit disebabkan oleh dua komponen, khususnya dari bank yang sebenarnya dan nasabah. Alasan yang berasal dari bank adalah peristiwa tersebut. Kesalahan pengawasan kredit terhadap kelayakan usaha nasabah yang akan mengajukan kredit bahwa penyidik kurang hati-hati sehingga apa yang seharusnya terjadi tidak diantisipasi sebelumnya atau mungkin salah dalam melakukan estimasi.

terjadi karena pengaturan dari pengawasan yang diakui untuk pemegang rekening sehingga pemeriksaan dilakukan secara abstrak.Sedangkan penyebab yang berasal dari nasabah yang sebenarnya, misalnya usaha yang menurun, sehingga pembayarannya juga berkurang dan menyebabkan angsuran kredit menjadi berkurang dan ada komponen insidental, yang menyatakan bahwa debitur akan membayar tetapi tidak dapat membayar, misalnya kredit yang dibiayai mengalami kegagalan seperti kebakaran, iritasi, banjir, dan lain sebagainya sehingga kapasitas untuk membayar kredit Tidak ada". Kredit yang buruk atau penundaan angsuran target yang dilakukan oleh debitur juga disebabkan oleh tidak adanya pengelolaan (pengawasan) yang dilakukan oleh bank. Dengan tidak adanya pengelolaan yang dilakukan oleh pihak bank, khususnya bagi individu yang berutang yang sering terlambat membayar bagian kredit (utang yang belum dibayar) akan mengakibatkan KUPEDES yang berisiko sehingga keuntungan yang dihasilkan dari penerimaan kredit menjadi berkurang dan tidak sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Dokumen terkait