• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

baru. Namun jika kesimpulan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali kelapangan maka kesimpulan tersebut adalah kesimpulan yang kredibel.

I. Teknik Keabsahan Data

Teknik keabsahan data adalah proses mengtringulasikan tiga data yang terdiri dari data observasi, wawancara, dan dokumen.Dalam setiap penelitian diperlukan suatu kebenaran atau keabsahan data agar penelitian memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas.Alat yang digunakan untuk menguji keabsahan data yang terdiri dari triangulasi sumber, triangulasi waktu, triangulasi teori, dan triangulasi pakar. Keabsahan data ini termasuk dalam cross check karena data yang diperoleh lebih terjamin dan factual sesuai dengan fenomena yang terjadi di lapangan.

1. Triangulasi sumber, artinya keabsahan data yang diperoleh agar mendapatkan informasi yang sesuai maka peneliti melakukan perbandingan melalui pengecekan ulang terhadap suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda. Agar memperoleh data yang berbeda dan hasil yang akurat maka peneliti melakukan wawancara terhadap narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Sungguminasa Gowa untuk keabsahan informasi.

2. Triangulasi metode, peneliti melakukan penelitian untuk melengkapi kekurangan informasi yang diperoleh dengan cara ricek cross cek kepercayaan data kepada sumber yang sama dengan metode tertentu.

Peneliti membandingkan melalui data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, kemudian diperkuat dengan dokumentasi dan melalui teori teori yang terkait dengan tema penelitian yakni Dukungan Sosial Keluarga Terhadap Pola Pikir Narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Sungguminasa Gowa

3. Triangulasi waktu, waktu yang digunakan untuk menguji keabsahan data dengan melakukan pengamatan dan wawancara dalam waktu dan situasi yang berbeda. Tujuan dari triangulasi waktu adalah untuk mengetahui keakuratan data yang diperoleh selama wawancara dan observasi lapangan.

Luas wilayah Kabupaten Luwu Utara tercatat 7.502,58, 75 Km2 dengan jumlah penduduk 321.979 jiwa dan secara administrasi pemerintahan terbagi menjadi 11 Kecamatan dengan 169 Desa yang merupakan desa definitif. Dari 169 desa tersebut terdapat 4 (empat) desa sudah termasuk dalam klasifikasi daerah perkotaan atau sudah dalam bentuk kelurahan. Keempat kelurahan yaitu, kelurahan Kappuna, Kelurahan Bone, Kelurahan Kasimbong dan kelurahan Baliase. Kecamatan Sukamaju merupakan Kecamatan dengan jumlah desa terbanyak, yaitu 26 desa dan UPT sedangkan Kecamatan Rampi adalah paling sedikit jumlah desanya, yaitu hanya 6 desa. Kemudian terdapat 7 Kelurahan dan 4 unit pemukiman Transmigrasi. Terdapat pula sekitar 8 (delapan) sungai besar yang mengaliri wilayah Kabupaten Luwu Utara. Sungai yang terpanjang adalah sungai Rongkong dengan panjang 108 km yang melewati 3 Kecamatan, yaitu Kecamatan Sabbang, Kecamatan Baebunta dan Kecamatan Malangke.

Adapun rincian Kabupaten Luwu Utara secara administrasi pemerintahan sebagai berikut :

Gambar 4.1 Peta Luwu Utara

Tabel 4.1 Nama, Jarak Ibukota, banyaknya Desa/Kelurahan, Lingkungan/

Dusun menurut Kecamatan di Kabupaten Luwu Utara

No. Kecamatan Ibukota Kecamatan Banyak Desa

Banyak Kelurahan

Banyak Dusun

Nama Jarak ke

Ibukota Kab. (km)

1. Sabbang Marobo 15 19 1 97

2. Baebunta Salassa 12 20 1 113

3. Malangke Tolada 38 14 0 59

4. Malangke Barat Pao 44 13 0 61

5. Sukamaju Sukamaju 21 26 0 100

6. Bone-Bone Bone-Bone 28 20 1 72

7. Masamba Kasimbong 0 17 4 61

8. Mappedeceng Kapidi 15 15 0 49

9. Rampi Onondaga 88 6 0 18

10. Limbong Limbong 165 7 0 22

11. Seko Padang Balua 198 12 0 52

Jumlah Total 169 7 940

Sumber : BPS Kabupaten Luwu Utara Tahun 2018

Berdasarkan data tersebut dapat diuraikan daftar nama kelurahan dan desa berdasarkan kecamatan yang ada di Kabupaten Luwu Utara yaitu, sebagai berikut:

1. Kecamatan Sabbang

Desa Bakka, Desa Batu Alang, Desa Bone Subur, Desa Buangin, Desa Buntu Terpedo, Desa Dandang, Desa Klotok, Desa Kampung Baru, Desa Malimbu, Desa Mari-Mari, Desa Marobo, Desa Pararra, Desa Pengkendekan,

Desa Pompaniki, Kelurahan Sabbang, Desa Salama, Desa Tandung, Desa Torpedo Jaya, Desa Tete Uri, Desa TulakTallu.

2. Kecamatan Baebunta

Kelurahan Baebunta, Desa Beringin Jaya, Desa Bumi Harapan, Desa Kariango, Desa Lara, Desa Lawe, Desa Lembang-Lembang, Desa Marannu, Desa Mario, Desa Mekar Sari Jaya, Desa Meli, Desa Mukti Jaya, Desa Mukti Tama, Desa Palandan, Desa Polewali, Desa Radda, Desa Salassa, Desa Salulemo, Desa Sassa, Desa Tarobok.

3. Kecamatan Malangke

Desa Benteng, Desa Girikusuma, Desa Ladongi, Desa Malangke, Desa Pattimang, Desa Petta Landung, Desa PincePute, Desa Pute Mata, Desa Salekoe, Desa Takkalala, Desa Tandung, Desa Tingkara, Desa To Lada, Desa Tokke.

4. Kecamatan Malangke Barat

Desa Arusu, Desa Baku-Baku, Desa Cenning, Desa Kalitata, Desa LimbongWara, Desa Pao, Desa Pembuniang, Desa Penganjang, Desa Pole Jiwa, Desa Pombakka, Desa Waelawi, Desa Waetuo, Desa Wara.

5. Kecamatan Sukamaju

Desa Banyuwangi, Desa Kaluku, Desa Katulungan, Desa Lampuawa, Desa Lino, Desa MinangaTallu, Desa Mulyasari, Desa Mulyorejo, Desa Paomacang, Desa Rawamangun, Desa Salulemo, Desa Saptamarga, Desa Sidoraharjo, Desa Subur, Desa Sukadamai, Desa Suka harapan, Desa Sukamaju, Desa Sukamukti, Desa Sumber Baru, Desa Tamboke, Desa Pelangi, Desa Tulung Indah, Desa Tulung Sari, Desa Wonokerto, Desa Wonosari.

6. Kecamatan Bone Bone

Desa Bantimurung, Desa Banyu Urip, Desa Batang Tongka, Kelurahan Bone-Bone, Desa Bungadidi, Desa Bunga Padi, Desa Karondang, Desa Muktisari, Desa Munte, Desa Patila, Desa Patoloan, Desa Pongko, Desa Poreang, Desa Ampang, Desa Sido Binangun, Desa Sidomakmur, Desa Sidomukti, Desa Sukaraya, Desa Sumber dadi, Desa Tamuku.

7. Kecamatan Masamba

Desa Baleno, Kelurahan Kappuna, Kelurahan Bone, Kelurahan Kasimbong, Kelurahan Baliase, Desa Kemiri, Desa Laba, Desa Lantang Tallang, Desa Lapapa, Desa Lero, Desa Masamba, Desa Pandak, Desa Pincara, Desa Pombakka, Desa Pongo, Desa Rompu, Desa Sepakat, Desa Sumillin, Desa Toradda.

8. Kecamatan Mappedeceng

Desa Benteng, Desa Cendana Putih, Desa Cendana Putih Dua, Desa Cendana Putih Satu, Desa Harapan, Desa Hasanah, Desa Kapidi, Desa Mangalle, Desa Mappedeceng, Desa Mekar Jaya Tondok, Desa Sumber Harum, Desa Sumber Wangi Desa TarraTallu, Desa Ujung Mattajang, Desa Uraso.

9. Kecamatan Rampi

Desa Dodolo, Desa Lebani, Desa Onondoa, Desa Rampi, Desa Sulaku, Desa Tedeboe.

10. Kecamatan Limbong

Desa RindingAllo, Desa Kanandede,DesaKomba, Desa Limbong, Desa Marampa, Desa Minanga, Desa Pengkendekan.

11. Kecamatan Seko

Desa Berapa, Desa Embona tanah, Desa Hoyane, Desa Lodang, Desa Malimongan, Desa Marante, Desa Padang Balua, Desa Padang Raya, Desa Taloto, Desa TanamaKaleang, Desa Tapi Yahoo, Desa Tirobali, Desa Wono.

Iklim termasuk iklim tropis, suhu udara minimum 25,300 C dan suhu maksimum 27,90 0C dengan kelembaban udara rata-rata 83 %. Menurut pengamatan (SP) bone-bone secara rata-rata jumlah hari hujan sekitar 9 hari dengan jumlah curah hujan 76. Stasiun pengamatan amasangan mencatat secara rata-rata jumlah hari hujan sekitar 8 hari dengan curah hujan 226. Sedangkan berdasarkan stasiun pengamatan Malangke secara rata-rata jumlah hari hujan sekitar 11 hari dengan jumlah curah hujan 247, dan stasiun pengamatan sabbang mencatat bahwa rata- rata jumlah hari hujan sekitar 14 hari dengan jumlah curah hujan 256.

2. Keadaan Penduduk Kabupaten Luwu Utara

Jumlah Penduduk Kabupaten Luwu Utara tercatat sebanyak 290.365 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 146.312 jiwa dan perempuan sebanyak 144.053 jiwa yang tersebar di 11 Kecamatan, dengan jumlah penduduk terbesar yakni 46.364 jiwa (15,97%) mendiami Kecamatan Bone-Bone dan jumlah penduduk terkecil yakni 2.912 jiwa (1,00%) mendiami Kecamatan Rampi. Rincian Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk menurut kecamatan adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Luwu Utara

No .

Kecamatan Luas Wilayah Penduduk Kepadatan

Penduduk (orang/km2)

Km2 % Jumlah %

1. Sabbang 525,08 7.00 35.327 12,17 67

2. Baebunta 295,25 3.94 43.468 14,97 147

3. Malangke 350,00 4.67 27.105 9,33 77

4. Malangke Barat 93,75 1.25 23.631 8,14 252

5. Sukamaju 255,48 3.41 40.939 14,10 160

6. Bone-Bone 277,33 3.70 46.364 15,97 167

7.

Masamba 1.068,85 14.25 31.988 11,02 30

8. Mappedeceng 275,50 3.67 22.142 7,63 80

9. Rampi 1.565,65 20.87 2.912 1,00 2

10. Limbong 686,50 1.00 3.826 1,32 6

11. Seko 2.109,19 28.11 12.663 4,36 6

Jumlah Total 7.502,58 100,00 290.365 100,00 39 Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Luwu Utara Tahun 2018

Kepadatan penduduk di Kabupaten Luwu Utara telah mencapai 39 jiwa/km2.Kecamatan Malangke Barat adalah Kecamatan terpadat dengan tingkat kepadatannya 252 jiwa/km2 dan paling rendah adalah Kecamatan Rampi yaitu 2 jiwa/km2. Kecamatan Seko dan Kecamatan Rampi Merupakan dua Kecamatan

terluas dengan luas masing-masing 2.109,19 Km2 atau 28% dari total luas wilayah Kabupaten Luwu Utara dan 1.565,65 Km2 atau 21% dari total luas Kabupaten Luwu Utara. Kecamatan Seko juga adalah Kecamatan yang letaknya paling jauh dari ibukota Kabupaten Luwu Utara, yakni berjarak 198 Km. Dan yang paling

Tabel 4.1 Peta Kecamatan Malangke Barat

Sebelah Utara : Desa Arusu

Sebelah Barat : Desa Waelawi/Pembuniang Sebelah Timur : Desa Pao

Adapun secara administrasi Desa Pengkajoang secara administrasi terdiri dari 4 (empat) dusun yaitu Dusun Labbu, Dusun Tompe, Dusun Panasae dan Dusun Kampung Baru.

C. Data Kependudukan dan Kondisi Sosial Ekonomi

a. Kependudukan

Tabel 7. Jumlah penduduk Desa Pengkajoang berdasarkan masing-masing dusun adalah sebagai berikut:

No. Nama Dusun Jumlah Penduduk Tahun 2019

Jumlah Penduduk Tahun

2020 Ket

KK LK PR JML KK LK PR JML

1. Labbu 170 324 324 648 170 322 323 645

2. Tompe 181 344 325 669 181 344 325 669

3. Panasae 137 289 289 578 137 289 289 578

4. Kampung baru

115 213 220 433 115 215 221 436

Jumlah 603 1.170 1.158 2.328 603 1.170 1.158 2.328 Sumber Data : Arsip Desa Pengkajoang

b. Aktivitas Ekonomi Masyarakat

Kondisi wilayah Desa Pengkajoang berada di daerah pesisir dengan ketinggian rata-rata di atas 3 meter dari permukaan laut dengan luas lahan masing- masing dusun adalah sebagai berikut:

a. Luas lahan perkebunan masing-masing dusun adalah:

1) Dusun Labbu: 55 Hektar 2) Dusun Tompe: 45 Hektar 3) Dusun Panasae: 60 Hektar

4) Dusun Kampung Baru: 50 Hektar

b. Luas lahan persawahan masing-masing dusun adalah:

1) Dusun Labbu: Tidak ada 2) Dusum Tompe: Tidak ada 3) Dusun Panasae: 10 Hektar

4) Dusun Kampung Baru: 10 Hektar

c. Luas lahan persawahan masing-masing dusun adalah:

1) Dusun Labbu: 80 Hektar 2) Dusum Tompe: 70 Hektar 3) Dusun Panasae: 50 Hektar

4) Dusun Kampung Baru: Tidak Ada c. Tingkat Pendidikan di malanke barat

DESA/KELURAHAN

SEKOLAH DASAR/Sederajat

2020

SMP/Sederajat 2020

SMA/Sederajat 2020

NEGERI Public

SWASTA Private

NEGERI Public

SWASTA Private

NEGERI Public

SWASTA Private

(1) (6) (7) (8) (9) (10) (11)

001 POMBAKKA 2 - - 1

2 WAELAWI 3 - 1 - - -

3 PENGKAJIAN 1 1 - 1 - 1

4 PAO 2 - 1 - - -

5 WAETUWO 1 1 1 1 -

6 ARUSU 2 - 1 - - -

7 PEMBUNIANG 1 - - - - -

8 CENNING 3 - - 1 1 -

9 WARA 2 - 1 1 - -

10 LIMBONG WARA 1 - - - - -

11 KALITATA 1 - 1 - - -

12 POLE JIWA - - - - - -

13 BAKU-BAKU 1 2 1 1 - -

JUMLAH/Total 20 4 6 6 2 1

Sumber : Kabupaten Luwu Utara dalam angka

1. Makna Sosial Tradisi Massorong Sesajen

Tradisi yang dalam bahasa latin disebut Tradition, “diteruskan” atau kebiasaan, merupakan suatu tingkah laku atau pembuatan yang dilakukan secara berulang-ulang oleh suatu kelompok masyarakat dan sudah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari masyarakat. Hal ini juga menunjukkan bahwa orang tersebut menyukai perbuatan itu kebiasaanya yang diulang-ulang ini dilakukan secara terus menerus karena dinilai bermanfaat bagi sekelompok orang tersebut melestarikannya. Kata ``Tradisi” diambil dari Bahasa latin “Tradere '' yang bermakna mentransmisikan dari satu tangan ke tangan lain untuk dilestarikan.

Tradisi secara umum dikenal sebagai suatu bentuk kebiasaan yang memiliki rangkaian peristiwa sejak kuno. Setiap tradisi dikembangkan untuk beberapa tujuan, seperti tujuan politis atau tujuan budaya dalam beberapa masa jika kebiasaan sudah diterimah oleh masyarakat dan dilakukan secara berulang, maka segala tindakan yang bertentangan dengan kebiasaan akan dirasakan sebagai perbuatan yang melanggar hukum.

Selain itu terdapat beberapa ciri ciri dari tradisi di antaranya

a. Tradisi mengacuh pada kepercayaan, benda atau istiadat yang dilakukan atau diyakini dimasa lalu di transmikrasikan melalui waktu dengan diajarkan oleh satu generasi ke generasi berikutnya, dan dilakukan atau diyakini di masa kini.

59

b. Awalnya, tradisi diwariskan secara lisan tanpa membutuhkan sistem penulisan alat untuk membantu proses ini termasuk alat puitis seperti rime dan aliterasi. Kisah-kisah yang dilestarikan dengan demikian juga disebut sebagai tradisi atau sebagai bagian dari tradisi lisan.

c. Tradisi sering dianggap kuno, tidak dapat diubah, dan sangat penting, meskipun terkadang tradisi tersebut kurang “alami” dari pada yang diperkirakan. Diasumsikan bahwa setidaknya dua transmisi selama tiga generasi diperlukan agar praktik, keyakinan, atau objek dipandang sebagai tradisional.

d. Beberapa tradisi sengaja diciptakan karena satu dengan alasan sering kali untuk mengerti atau meningkatkan pentingnya Lembaga tertentu.

e. Tradisi juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan hari ini, dan perubahan tersebut dapat diterima sebagian dari tradisi kuno, tradisi berubah perlahan, dengan perubahan dari satu generasi ke generasi berikutnya dianggap signifikan.

Massorong adalah tradisi yang menghanyutkan sesaji ke aliran sungai untuk meminta keselamatan oleh penunggu air. Selain itu, tradisi massorong akan mendatangkan berkah atau tolak bala serta sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas rahmat yang diperoleh. Tradisi massorong juga merupakan penghormatan kepada nenek moyang dan apabila tidak dilaksanakan akan sakit. Sedangkan sesajen adalah sarana komunikasi masyarakat kepada kekuatan tertinggi yang telah memberikan kehidupan dan yang menjadi pusat harapan atas berbagai keinginan positif masyarakat atau sarana komunikasi masyarakat kepada

kekuatan-kekuatan gaib yang menurut pemahaman masyarakat telah melindungi mereka selama ini sesajen dapat berupa berbagai macam benda, namun umumnya berupa makan, disebut kuliner sesaji sebagian sesajen berupa benda-benda khusus yang dipercaya disukai sang kekuatan tertinggi .khususnya yang terjadi di sekitar masyarakat yang masih mengandung adat istiadat yang sangat kental. Sesajen mengandung arti pemberian sesajen -sesajen sebagai tanda penghormatan atau rasa syukur terhadap semua yang terjadi dimasyarakat sesuai bisikan ghaib yang berasal dari para normal atau petuah-petua. Sesajen merupakan warisan budaya hindu dan budha yang bisa dilakukan untuk memuja para dewa, roh tertentu atau penunggu tempat (pohon, batu, persimpangan,) dan lain-lain. Yang mereka yakini dapat mendatangkan keberuntungan dan penolak kesialan. Seperti: upacara menjelang panen yang mereka persembahkan kepada Dewi Sri (dewi padi dan kesuburan) yang mungkin masih dipraktekkan sebagian di daerah pengkajoang.

Proses ini sudah sangat lama, sudah bisa dikatakan dari nenek moyang kita yang mempercayai adanya pemikiran-pemikiran yang religious. Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat guna mencapai sesuatu keinginan atau terkabulnya sesuatu yang bersifat duniawi namun sampai sejau ini masi banyak juga yang pemeluk agama silam mengikuti ajaran tersebut di sebabkan karena sudut pandang yang membedakan antara budaya dengan ajarana agama

Adapun Pendapat Dari Salah Satu Informan yang Selalu pemeluk agama hindu yang masih melakukan tradisi Massorong sesajen selaku masyarakat Pengkajoang Kabupaten Luwu Utara tersebut bernama Kr mengatakan

Massorong sasejen memang sangat berkaitan dengan ajaran agama kami tapi hal tersebut bukan berarti tidak bisa di lakukan agama lain

kadang kami melakukan masorong sasejen bukan karna di ataskan nama agama tapi kami mengatas namakan sebagai penghormatan kami kepada leluhur di mana kita tidak bisa seperti sekarang tanpa nenek moyang kita, dan nada pepata megatakan jagan durhaka kepada orang tua dan begituhlah sudut pandang kami, kami meghargai orang yang telah memberikan ke hidupan kepada kami, dan sala satu perwujudan untuk menunjukan rasa penghormatan kepada leluhur dengan cara sesuatu yang telah di ajarkan secara turun temenurun yaitu masorong sasejen jadi menurut saya arti Massorong sasejen adalah budaya yang telah di warisakan kepada penerusnya

(wawancara : Kr , Kamis, 12/8/2021)

Dari hasil wawancara dengan salah satu informan yang bernama bernama Kr selaku pemeluk pemeluk agama hindu yang masih melakukan tradisi Massorong sesajen bagi masyarakat Pengkajoang Kabupaten Luwu Utara berpendapat bahwa tradisi massorong sasejen juga dapat dilakukan oleh agama lain karena pada dasarnya massorong sesajen adalah sebuah tradisi atau kebiasaan para leluhur yang diturunkan kepada penerusnya

Pendapat yang serupa juga diungkapkan oleh salah satu masyarakat pemeluk agama Islam yang masih melakukan tradisi Massorong sesajen selaku masyarakat Pengkajoang Kabupaten Luwu Utara tersebut bernama Nr mengatakan :

Kalau menurut saya, saya mengartikan sorong sasejen itu sebagai tradisi yang di wariskan dari leluhur kepada penerusnya dengan tujuan agar kita tetap saling megigat sejara kita

(wawancara : Nr, Kamis, 12/8/2021)

Sala satu pendapat informan yang bernama Nr selalu pemeluk agama Islam yang masih melakukan tradisi Massorong sesajen bagi masyarakat Pengkajoang Kabupaten Luwu Utara tersebut berpendapat bahwa Makna Massorong sesajen bagi masyarakat Pengkajoang Kabupaten Luwu Utara yaitu sebuah tradisi yang diwariskan kepada leluhur dan hal tersebut yang dikatakan oleh informan bahwa tradisi massorong sasejen tidak ada hubunganya dengan

agama karna pada dasarnya tradisi adalah sebuah kebiasaan sering dilakukan oleh para leluhur dan diajarkan kepada anak cucunya agar tetap mengingat para leluhur

Selain itu yang pendapat yang serupa juga diungkapkan salah satu informan selaku pemeluk agama islam yang tidak melakukan tradisi Massorong sesajen bagi masyarakat Pengkajoang Kabupaten Luwu Utara tersebut bernama Hm mengatakan :

Bagi saya makna tradisi massorong sesajen itu adalah kebiasaan dari leluhur yang diwariskan kepada penerusnya, walaupun saya tidak mengikuti ajaran tersebut tapi saya sering sekali belajar di lingkungan bahwa tradisi dengan agama itu memang tidak bisa disatukan bila tradisi membawakan hukum hukum agama maka itu sudah bisa dikatakan musyrik tapi selama mereka berjalan sesuai dengan keyakinan tradisi yaitu kebiasaan para leluhur saya itu tidak masalah (wawancara : Hm, Jumat, 13/8/2021)

Sala satu pendapat informan selaku pemeluk agama islam yang tidak melakukan tradisi Massorong sesajen bagi masyarakat Pengkajoang Kabupaten Luwu Utara tersebut bernama Hm mengatakan kebiasaan dari leluhur yang diwariskan kepada penerusnya dalam dan hal tersebut tidak berkaitan dengan agama seperti yang diutarakan oleh informan dan walaupun informan tersebut tidak melakukan tradisi tersebut tapi dapat mengartikan tradisi massorong dari arti yang hampir semua tradisi hampir mirip itu yaitu tradisi adalah warisan yang telah diturunkan

Dari semua hasil wawancara yang didapatkan berpendapat bahwa tradisi massorong sasejen adalah tradisi atau adat yang diwariskan kepada leluhur atau para pendahulu yang bertujuan untuk mengingat para leluhur yang telah pergi

karna para leluhur masyarakat setempat tidak bisa merasakan kehidupan yang diwariskan kepada pendahulunya

Tradisi mengacuh pada kepercayaan, benda atau istiadat yang dilakukan atau diyakini dimasa lalu di transmikrasikan melalui waktu dengan diajarkan oleh satu generasi ke generasi berikutnya, dan dilakukan atau diyakini di masa kini.

Awalnya, tradisi diwariskan secara lisan tanpa membutuhkan sistem penulisan alat untuk membantu proses ini termasuk alat puitis seperti rime dan aliterasi. Kisah-kisah yang dilestarikan dengan demikian juga disebut sebagai tradisi atau sebagai bagian dari tradisi lisan dan kebanyakan Tradisi sering dianggap kuno, tidak dapat diubah, dan sangat penting, meskipun terkadang tradisi tersebut kurang “alami” dari pada yang diperkirakan. Diasumsikan bahwa setidaknya dua transmisi selama tiga generasi diperlukan agar praktik, keyakinan, atau objek dipandang sebagai tradisional. Kemudian ada Beberapa tradisi sengaja diciptakan karena satu dengan alasan sering kali untuk mengerti atau meningkatkan pentingnya Lembaga tertentu selain itu Tradisi juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan hari ini, dan perubahan tersebut dapat diterima sebagian dari tradisi kuno, tradisi berubah perlahan, dengan perubahan dari satu generasi ke generasi berikutnya dianggap signifikan.

Masyarakat adalah kelompok manusia yang menjalin erat karena adanya sistem tertentu. Yang berhubungan antar individu atau sekelompok manusia yang besar. Menurut Koentjaraningrat menjelaskan bahwa masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul atau dengan istilah ilmia, saling

“berinteraksi”. Satu kesatuan manusia dapat mempunyai prasarana agar warganya

dapat saling berinteraksi dan Sebagai makhluk bersosial, manusia tidak mampu hidup sendiri. Ketidakmampuan itu mendorong manusia hidup berkelompok.

Sebab, manusia senantiasa membutuhkan bantuan orang lain. Konsep tersebut mengantarkan masing-masing individu hidup bermasyarakat dan Ketika manusia membentuk kelompok, mereka selalu berusaha mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia akan berupaya menyatukan pikiran dan pengalaman Bersama akan agar terbentuk suatu rumusan yang dapat menjadi pedoman tingkah laku mereka, yakni kebudayaan. Selanjutnya, budaya itu dipelihara dan diwariskan ke generasi-generasi berikutnya.

masyarakat cenderung mengikuti peraturan-peraturan yang diberlakukan di wilayahnya. Contohnya, dalam lingkup keluarga, kepala keluarga mempunyai wewenang tertinggi untuk mengayomi keluarganya. Istri dan anak patih kepada ayah atau suaminya. Hal ini menunjukkan dalam masyarakat ada peran pemimpin yang membantu menyatukan individu-individu dan hal ini bisa menjadi salah satu alasan bagi masyarakat mengikuti tradisi Massorong sasejen di Pengkajoang Kabupaten Luwu Utara dan juga alasan lain yang sering diungkapkan oleh para masyarakat tentang alasan mengikuti tradisi atau suatu adat adalah karena rasa penghormatan kepada leluhur atau cara mengenang para leluhur yang telah meninggal

Adapun hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti berkaitan dengan alasan mengikuti tradisi massorong sesajen yang bernama Rs selaku pemeluk agama islam yang berasal dari Pengkajoang Kabupaten Luwu Utara mengatakan :

alasan saya masih mengikuti tradisi massorong sasejen karena itu massorong sesajen adalah tradisi yang berasal dari tempat saya besar sampai sekarang yang mau tidak mau kita juga harus mengikutinya karena dari kecil kita memang diarahkan tentang tradisi itu hingga menjadi kebiasaan bagi saya

(wawancara : Rs , Jumat, 13/8/2021)

sala satu pendapat dari narasumber yang bernama Rs selaku pemeluk agama islam yang berasal dari Pengkajoang Kabupaten Luwu Utara berpendapat tentang alasan kenapa masih mengikuti ajaran tradisi massorong sasejen karena pengaruh lingkungan yang menyebabkan menjadi kebiasaan baginya sehingga hal tersebut sudah dianggap hal yang harus dilakukan masyarakat setempat dan hal sudah menjadi tidak asing bagi masyarakat yang sering melakukanya dan mereka paham perbedaan antara agama dan tradisi walaupun status beragama islam mereka tetap melakukanya karena alasan dari informan yaitu ajaran dari keluarga yang mengharuskan melakukanya juga sehingga membuatnya terbiasa

Pendapat lain yang di unkapkan sala satu informan yang bernama Lb selaku masyarakat yang masi mengikuti tradisi masorong sasejen di Pengkajoang Kabupaten Luwu Utara megatakan :

Alasan saya masih mengikuti tradisi massorong sasejen yaitu karena saya takut terkena dampaknya karena orang tua yang mewariskan tradisi tersebut selalu mengajarkan dampak yang akan terjadi bila kita meninggalkan tradisi massorong sejen dan dampaknya itu biasa sering kena sial atau biasa kita dihantui oleh para leluhur dan bahkan kita biasa sakit saat meninggalkan tradisi tersebut dan menurut orang tua bahwa leluhur kita itu marah saat kita melupakan nya ibaratkan seorang anak yang melupakan orang tuanya telah melahirkannya begitulah ajaran yang telah diberikan kepada saya dari orang tua saya

(wawancara : Lb , Kamis, 12/8/2021)

Dokumen terkait