• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

a. Pengetahuan tentang hambatan

Hasil wawancara tantang pengetahuan mengenai hambatan menunj ukkan mayorit pendidik (3%) mampu menjelaskan karakteristik hambatan. Ma yoritas informan menjelaskan karakteristik hambatan peserta didik meliput hambatan dalam komunikasi, bahasa, interkasi sosial atau kontak mata yang mini m, dan perilaku yang kadang terlalu aktif atau menyendiri.

Informan lainnya juga menungkapkan demikian,bahwa autis juga meng alami gangguan dalam berkonsentrasi serta sensitive yang berlebihan terhada- p suara. Informan lain juga mengungkapkan bahwa hambatan dalam berkonse ntrasi inilah yang menyebabkan hambatan dalam memahami pelajaran, sehingga autis juga mengalami hambatan dalam membaca,menulis, dan berhitung.

Sebagian kecil pendidik (1%) menjelaskan bahwa hambatan autis ada lah pada perilakunya dan menyendiri dari lingkungan sosial. Sebagian kecil tana ga kependidikan (2%) juga menambahan bahwa peserta didik autis mengala mi hambatan dalam komunikasi,perilaku dan kadang mengalami kesulitan dalam membaca,menulis, dan berhitung. Sedangkan 2% lainnya mengungk apkan bahwa peserta didik autis hanya mengalami gangguan perilaku dan ada yang mengungkapkan bahwa peserta didik autis mengalami keterbela kangan mental.

b. Pengetahuan tentang suasana pembelajaran untuk anak autis

Hasil wawancara mengenai suasana pembelajaran untuk anak autis menunjukkan bahwa semua individu memiliki keinginan yang berbeda-beda sehingga tidak menentu suasana yang di terapkan. Menurut salah satu pendidik yang berinisial Y.A mengatakan bahwa:

“kebutuhan setiap anak berbeda maka suasana belajar bagi anak autis yang satu dengan yang lainnya pun berbeda. Ada anak autis yang akan terganggu karena warna cat ruangannya terlalu terang, ruangannya terlalu banyak gangguan suara atau hal-hal lain yang berpotensi mengalihkan perhatian. Semua itu tergantung dari kebutuhan masing- masing individu. Jadi apabila ditanya suasana pembelajaran seperti apa yang cocok mungkin bisa dijawab suasana yang membuat anak tenang dan suasana yang lebih privat antara guru dan murid”

c. Pengetahuan tentang potensi

Berdasarkan hasil wawancara tentang pengetahuan pendidik dan te naga kependidikan mengenai potensi peserta didik autis,diperoleh data bahwa mayoritas pendidik memiliki pengetahuan yang cukup banyak.

Mayoritas (3%) pendidik mengungkapkan potensi peserta didik autis te rletak pada kemampuan visualnya dan kemampuan menghafal yang baik. Infor man lain menambahkan potensi yang dapat dikembangkan adalah keteram pilan menggambar atau keterampilan yang lain berhubungan dengan vis ualnya.

Informan lainnya mengungkapkan bahwa kemampuan yang bisa di kembangkan adalah kemampuan menghafalkosa kata bahasa inggris, karena kemampuan menghafal yang baik. Sama halnya dengan informan selanjutnya

juga mengungkapkan kemampuan matematika peserta didik autis juga bisa dikembangkan.

Pendidik juga mengungkapkan potensi lain, yaitu bidang olahraga atau kinestetik (1%), bidang elektronik atau komputer (1%), dan 2% tenaga kependidikan lainnya mengungkapkan bahwa peserta didik autis adalah potensi

luar biasa yang harus dikembangkan. Akan tetapi semua tenaga kependidik an (2%) belum mampu menjelaskan potensi yang dimiliki peserta didik aut is, namun mereka yakin setiap anak pasti memiliki potensi.

d. Pengetahuan tentang intervensi

Hasil wawancara tentang pengetahuan pendidik dan tenaga kependidik an mengenai intervensi peserta didik autis menunjukkan sebagian pendidi (2%)mengungkapkan bahwa intervensi peserta didik autis adalah terapi perilak u. Salah satu informan menjelaskan bahwa untuk menagani peserta didik auti s yang perludilakukan adalah intervensi kepatuhan melalui terapi atau mo difikasi perilaku (ABA). Sama halnya dengan informan lain juga mengungkapk an bahwa intervensi yang utama adalah terapi perilaku, dan selanjutnya bar u bisa diberikan intervensi yang lain misalnya akademik.

Lain halnya dengan 2% pendidik mengungkapkan bahwa intervensi pe ndidikan diberikan dengan kombinasi kelas khusus dan kelas reguler, jika peserta didik masih mengalami hambatan yang berat dalam aspek perilaku,k omunikasi dan interaksi sosial maka intervensi diberikan di kelas reguler dan bila hambatan sudah dapat diminamilisir peserta didik ditempatkan di

kelas reguler. Penempatan peserta didik menyesuaikan kondisi dan karakteristi k peserta didik. Sebaian kecil saja pendidik yang belum mengetahuai int ervensi peserta didik autis, 1% pendidik mengungkapkan bahwa intervensi diberikan secara khusus, 1% mengungkapkan intervensi diberikan dengan m odifikasi,dan 2% lainnya belum mampu menjelaskan intervensi peserta didik autis . Sedangkan 3% dari tenaga kependidikan juga mengungkapkan bahwa intervensi peserta didik autis diberikan dikelas khusus, namun jika sudah mam pu bersosialisasi akan ditempatkan di kelas reguler. Sebagian besar tenaga p endidik belum mampu menjelaskan intervensi peserta didik autis.

Menurut M.A Salah satu tenaga kependidikan mengatakan bahwa:

“Intervensi dini pada dasarnya adalah menelaah, mengamati perkembangan anak pada usia dini dan anak dideteksi apakah mengalami resiko kondisi perkembangan yang tidak sesuai usia atau berbagai kebutuhan khusus lainnya.

Sehingga dapat memperbaiki masalah-masalah perkembangan yang ada dan mengantisipasinya. Program intervensi dini dilakukan untuk menembus tembok penghalang interaksi sosial anak dan menitikberatkan komunikasi dengan orang lain melalui cara menunjuk jari, mengguanakan gambar dan kadang bahasa isyarat serta kata-kata. Program ini terdiri dari Terapi fisik dan terapi okupasional (pengobatan dengan memberikan pekerjaan/kegiatan tertentu), Terapi wicara dan bahasa, Pendidikan masa kanak-kanak dini, Perangsangan sensorik. Program ini tentu saja baik untuk peningkatan kemampuan anak autis karena kebutuhan anak autis akan terpenuhi secara perlahan sehingga anak autis dapat bersosialisasi, mandiri, serta dapat mengembangkan bakat bidang minatnya”

e. Pengetahuan tentang tujuan pendidikan bagi anak peserta didik autis

Antara pendidik dan tenaga kependidikan memiliki pendapat yang sama tentang tujuan pendidikan bagi anak autis yang mana salah satu tenaga kependidikan yang bernisial A.S mengatakan bahwa:

“tujuan pendidikan autis adalah memberikan bekal agar setiap insan memiliki masa depan dengan kualitas hidup yang lebih baik. Seperti anak dapat mengendalikan emosinya, melakukan aktivitasnya sehari-hari secara mandiri, dapat bersosialisai dengan keluarga maupun lingkungan sekitarnya dengan baik.

Dengan adanya pendidikan untuk anak autis kebutuhannya akan terpenuhi maka lebih mudah mengetahui bakat dan minatnya sehingga guru dapat mengembangkannya. Dengan dikembangkannya bakat dan minat anak tidak mustahil bahwa anak dapat kesempatan untuk sukses seperti orang-orang yang normal lainnya”

f. Pengetahuan tentang proses pembelajaran yang baik untuk anak autis

Hasil wawancara mengenai proses pembelajaran yang baik bagi anak autis di dapat bahwa 3% pendidik mengatakan bahwa PPI bagi siswa. Sedankan 1% tenaga pendidikan mengatakan yang sama. Menurut S.L proses yang baik untuk anak autis adalah:

“Proses pembelajaran yang baik ialah proses yang dapat memenuhi kebutuhan siswa. Pertama-tama kurikulum harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan anak karena apabila kurikulumnya dan guru harus membuat PPI untuk siswa sehingga guru dapat mengetahui apa yang dibutuhkan siswa dan apa yang memang menjadi kelemahan siswa jarena apabila guru memaksakan materi yang sama untuk siswa autis maka akan terlalu berat mengikutinya maka bisa-bisa siswa menjadi benci belajar dan tidak mau sekolah lagi karena ia merasa telah tertinggal jauh dari teman-temannya. Guru-guru yang menangani siswa autis juga harus kreatif dalam proses pembelajarannya dengan dibuatkan media sehingga baik siswa autis maupun siswa normal dapat fokus ke pelajaran supaya kegiatan belajar menjadi lebih menarik dan dapat menarik minat siswa autis untuk lebih paham akan materi dan lebih menjadi ingin tahu tentang materi tersebut. Dalam proses pembelajarannya Siswa autis harus dibimbing secara individual oleh guru agar siswa dapat fokus dengan apa yang dipelajarinya dan proses KBM menjadi lebih optimal”

g. Keterampilan yang dimiliki seorang pendidik dalam mengajar anak autis.

Hasil wawancara mengenai keterampilan khusus yang harus dimiliki seorang pendidik dalam mengajar anak autis 3% pendidik mengatakan harus

memiliki kebutuhan khusus yang penting dimiliki. Sedangkan menurut H.I salah seorang tenaga kependidikan mengatakan bahwa:

“Pengajar yang dibutuhkan bagi anak autis adalah orang-orang yang selain memiliki kompetensi yang memadai untuk berhadapan dengan anak autis tentunya juga harus memiliki minat atau ketertarikan untuk terlibat dalam kehidupan anak autis, memiliki tingkat kesabaran yang tinggi, dan kecenderungan untuk selalu belajar sesuatu yang baru karena bidang ini adalah bidang baru yang selalu berkembang. Keterampilan yang tidak kalah pentingnya yaitu keterampilan dalam membuat program individual untuk siswa autis karena bagaimanapun juga tujuan anak autis mngenyam pendidikan adalah diharapkan anak autis dapat diketahui minat dan bakatnya serta diketahui kelemahan dan kekerangannya sehingga anak dapat ditangani sesuai dengan kebutuhannya.

Jangan sampai terjadi salah salah asesmen karena jika asesmen sudah salah lalu guru sudah pasti guru salah membuat program sehingga bisa terjadi mal praktek dalam pembelajaran karena pembelajarannya tidak sesuai dengan kebutuhan anak”

2. Hasil angket

Hasil angket yang saya peroleh dari pendidik dapat saya lampirkan dalam bentuk tabel berikut ini:

Tabel 4.7 Hasil angket pendidik

No Pertanyaan Jawaban Total

SS S R TS

1 2 3 4 5 6 7

1 Apakah setiap anak pendiam itu di

kategorikan autis? 1 2 3

2 Apakah anak autisme itu harus di terapi

perilakunya? 2 1 3

3 Apakah menurut anda anak autis sering bergabun dengan temanya yang bukan anak autis?

1 2 3

4 Apakah anak autis butuh di perhatikan? 3 3

1 2 3 4 5 6 7 5 Sebuah mitos ditemukan dimasyarakat

bahwa autisme dissebabkan oleh pernikahan antara keluarga terdekat?

3 3

6 Menurut anda apakah autisme sama dengan

keterbelakangan mental? 2 1 3

7 Banyak angka masyarakat indonesia yang mengecilkan anak autis dan menyebut mereka gila?

3 3

8 Menurut anda apakah anak autis dapat

dikatakan sama dengan anak indigo? 1 1 1 3

9 Jika seorang anak yang berada dalam kandungan telah dipastikan autis, setujukah anda apabila dilakukan aborsi untuk

mencegah lahirnya anak autis?

3 3

10 Apakah anak autis mudah menghafal kosa

kata? 1 1 1 3

Berdasarkan tabel diatas dapat saya simpulkan bahwa 2% pendidik mengatakan tidak setuju kalau semua anak pendiam itu autis sedankang 1% ragu- ragu, 2% pendidik sangat setuju anak didik autis harus diterapi 1% setuju, 2%

pendidik mengatakan tidak setuju anak didik autis sering bergabun dengan teman yang lainya melaingkan dia sendiri-sendiri, 3% pendidik tidak setuju anak autis di sebabkan karna pernikahan terhadap keluarga dekat, 3% pendidik setuju banyak angka masyarakat yang mengatakan anak autis itu gila, 2% pendidik setuju anak autis mudah menghafal kosakata 1% ragu-ragu.

Dapat pula kita katakan bahwa hampir semua pendidik memiliki keterampilan dan pengetahuan yang luas tentang peserta didik autis.

Tabel 4.8 Hasil angket kependidikan

No Pertanyaan Jawaban

Total

SS S R TS

1 Apakah setiap anak pendiam itu di kategorikan autis?

4 4

2 Apakah anak autisme itu harus di terapi perilakunya?

4 4

3 Apakah menurut anda anak autis sering bergabun dengan temanya yang bukan anak autis?

2 2

4 4 Apakah menurut anda anak autis butuh di

perhatikan?

4 4

5 Sebuah mitos ditemukan dimasyarakat bahwa autisme disebabkan oleh pernikahan antara keluarga terdekat?

4

4 6 Menurut anda apakah autisme sama dengan

keterbelakangan mental?

4 4

7 Banyak angka masyarakat indonesia yang mengecilkan anak autis dan menyebut mereka gila?

4

4 8 Menurut anda apakah anak autis dapat

dikatakan sama dengan anak indigo?

2 2

4 9 Jika seorang anak yang berada dalam

kandungan telah dipastikan autis, setujukah anda apabila dilakukan aborsi untuk

mencegah lahirnya anak autis?

4

4

10 Apakah anak autis mudah menghafal kosa kata?

4

4

Berdasarkan hasil angket kependidikan diatas maka dapat saya simpulkan bahwa 4% tenaga kependidikan tidak setuju semua anak pendiam itu anak autis, 4%

sangat setuju anak autis harus di terapi, 2% setujuh anak autis tidak sering bergabun

dengan teman yang lainya 2% ragu-ragu, 4% tenaga kependidikan tidak setuju anak autis disebabkan karna pernikahan dengan keluarga dekat, 4% setuju anak autis sama dengan keterbelakangan mental, 4% setuju banyak masyarakat mengatakan anak autis itu gila, 4% tidak setuju seorang anak yang berada dalam kandungan telah di pastikan autis, 4% setuju anak autis mudah menghafal kosakata.

Dokumen terkait