BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Sejarah Singkat Kabupaten Kepulauan Selayar
Kabupaten Kepulauan Selayar adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Selata. Ibu kota kabupaten Kepulauan Selayar adalah Kota Benteng. Kabupaten ini memiliki luas sebesar 10.503,69 km (wilayah daratan dan lautan) dan berpenduduk sebanyak +_
134.000 jiwa. Kabupaten Kupulaun Selayar terdiri dari 2 sub area wilayah pemerintahan yaitu wilayah daratan yang meliputi kecamatan Benteng, Bontoharu, Bontomanai, Buki, Bontomatene, dan Bontosikuyu serta wilayah kepulauan yang meliputi kecamatan Pasimarannu, Pasimasunggu, Pasimasunggu Timur, Takabonerate, dan Pasilambena. Pada masa lalu, kabupaten Kepulauan Selayar pernah menjadi rute dagang menuju pusat rempah-rempah di Maluku. Di pulau Selayar, para pedagang singgah untuk mengisi perbekalan sambil menunggu 38 musim yang baik untuk berlayar. Dikutip dari keminfo “kepulauanselayarkab.go.id” Nama Selayar muncul dari kata cedaya (Bahasa Sangsekerta) yang berarti sau layar, karena konon banyak perahu satu layar yang singgah di pulau ini.
Kata cedaya telah diabadikan namanya dalam Kitab Negarakertama karangan Empu Prapanca pada abad 14. Ditulis bahwa pada pertengahan abad 14, ketika Majapahit dipimpi oleh Hayam Wuruk yang bergelar
38
Rajasanegara, Selayar digolongkan dalam Nusantara, yaitu pulau-pulau lain di luar Jawa yang berada di bawah kekuasaan Majapahit. Selain Nama Selayar, pulau ini dinamakan pulau dengan Nama Tana Doang yang berarti tanah tempat berdo’a. Dimasa lalu pulau Selayar menjadi tempat berdo’a bagi para pelaut yang hendak melanjutkan perjalanan baik ke Barat maupun ke Timur untuk keselamatan pelayaran mereka.
Tahun hari jadi Selayar diambil dari tahun masuknya agama Islam di kabupaten Kepulauan Selayar yang dibawa oleh Datuk Ribandang, setelah 19 hari insiden hotel yamato di Surabaya, sekumpulan pemuda dari berbagai kelompok dengan jumblah sekitar 200 orang yang dipimpin oleh seorang pemuda bekas Heiho bernama Rauf Rahman memasuki kantor polisi kolonial (sekarang kantor PD. Berdikari). Yang ditandai dengan masuk Islamnya Raja Gantarang, Pangali Patta Radja, yang kemudian bernama Sultan Alauddin, pemberian Datuk Ribandang.
Kabupaten Selayar yang merupakan salah satu Kabupaten dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, terbentuk berdasarkan undang-undang no 29 tahun 1959 tentang pembentukan daerah tingkat II di Sulawesi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahu 1059 nomo 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1822) yang kemudian berubah nama menjadi Kabupaten Kepulaun Selayar berdasarkan PP. No.
59 Tahun 2008. Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan satu-satunya Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang secara geografis terpisah dari Pulau Sulawesi. Selayar yang dikenal dengan sebutan “Tana Doang”
39
yang berarti tanah tempat berdo’a adalah wilaya kepulauan dengan jumlah 130 pulau, baik berukuran besar maupun kecil yang terhampar mengarah ke utara sampai selatan. Diantara hamparan pulau-pulau tersebut, terdapat gugusan karang atol terbesar ke-3 di dunia.
2. Batti’-Batti
Masyarakat dan kebudayaan merupakan dua sisi dari satu kenyataan sosial kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan secara demokratis. Demkian pula tradisi yang merupakan salah satu wujud dari kebudayaan dalam suatu daerah, yang merupakan sebagi penciri suatu masyarakat atau komunitas sehingga hal-hal yang berhubungan dengan suatu kebiasaan selalu dihubugkan dengan etnis ataupun kepercayaan tertentu. Meskipun kenytaannya harus dihadapkan dengan pengaruh modernisasi dalam berbagai aspek kehidupan dengan ragam suguhan sebagai tuntutan zaman, secara gradual memperkeruh otentitas budaya lokal hingga mengikisnya secara perlahan. Karenanya jika tak ada upaya kearah pengenalan atas warisan budaya sendiri, maka dapat dipastikan generasi masa depan akan kehilangan identitas dan kebanggan kulturnya.
Ahmadin, A(2006).
Suatu masyarakat harus dilihat sebagai suatu sistem yang memiliki keterkaitan secara koresional antara satu dengan yang lain sebagai suatu kompleksitas kehidupan. Kondisi sosial masyarakat di Kabupaten Kepulauan Selayar dari masa ke masa, pada prisipnya merupakan bagian integral yang tak terpisahkan secara parsial sebagai suatu dinamika.
40
Kondisi budaya tersebut yakni stratifikasi social, sistem keberagaman, serta agama dan kepercayaan yang berlaku pada masyarakat yang bersangkutan.
Stratifikasi sosial masyarakat Selayar pada umumnya, sama dengan sistem pelapisan sosial pada masyarakat Bugis-Makassar. Mengenai awal keberadaannya sangat sulit ditelusuri, namun jauh sebelum kaum colonial menginjakkan kakinya di Sulawesi Selatan, tipe stratifikasi ini telah lama berlaku. Pelapisan sosial tersebut, yakni berdasarkan keturunan (ascribed status). Dalam perspektif Friedericy, pelapisan sosial masyarakat bugis-makassar terdiri atas 3 lapisan yakni Anak Karaeng, Tomaradeka, dan Ata. (Mattulada, 1975:25).
Selain lapisan starata sosial yang ada di kalangan masyarakat Kepulauan Selayar, masih banyak lagi budaya-budaya yang menonjolkan dirinya dalam kalangan masyarakat dan sekitar. Seperti halnya tradisi a dinging-dinging di tanah adat Tendro, Assigorai dalam tradisi masyarakat Tanete, dan tradisi Batti’-batti’ dalam kalanagn masyarakat Kepulauan Selayar yang hampir tak pernah terlihat lagi. Dalam penelitian penulis akan membahas tentang sejarah, koherensi, perbandingan, pelestarian dan pengertian tentang a kelong Batti’-batti’ dikalangan masyarakat Kepulauan Selayar.
a. Asal-Usul kelong Batti’-Batti’
Kelong Batti’-batti’ merupakan nyanyian yang diiringi alat musik gambus, mulai dikenal masyrakat Kabupaten Kepulauan Selayar
41
tepatnya di daerah pesisir pantai yang bernama Kampong (kampung) Padang pada masa penyebaran agama Islam yang dibawa oleh salah seorang pedagang Melayu yang bernama Datok Ri Bandang. Nama Kampong (kampung) Padang sendiri diambil dari mayoritas penduduk Melayu datang dari sumatera untuk berdagang dan menetap di daerah itu. Para pedagang melayu ini selain berdagang, juga menyebarkan agama Islam. Secara harfiah kelong diterjemahkan sebagai nyanyian.
Pada dasarnya kelong adalah karya sastra yang berbentuk larik-larik kelompok kata dan dibawakan dengancara bernyanyi ataupun bersenandung.
Batti’-batti’ diambil dari kata Ambatti’ yang berarati memetik.
Kelong batti’-batti’ adalah kesenian tradisional yang berupa lantunan-lantunan khas Kabupaten Kepulauan Selayar. Berupa nyanyian berbahasa Selayar yang mengandung banyak makna awalnya, lantunan ini belum diiringi dengan alat musik seperti sekarang ini. Sejarahnya alat musik gambus ini baru digunakan setelah para pedagang-pedagang Arab datang ke Indonesia dengan membawa alat musik gambus, akan tetapi jauh sebelum masuknya Islam dan alat musik gambus di Kepulauan Selayar, penduduk setempat mempunyai kebiasaan unik dalam tradisi panen kapas. Pada saat panen kapas tersebut laki-laki dan perempuan saling berbalas lagu dalam lantunan syair yang disebut dengan Batti’-batti’. Hal ini dilakukan pada saat mereka mulai membersihkan kapas dari biji-bijinya.
42
Cara pembersihannya dengancara memetik atau dalam bahasa Selayar disebut Ambatti. Proses Ambatti ini sendiri terbilang cukup lama dilakukan oleh karenanya para kaum laki-laki dan perempuan saling berbalas syair agar mereka tidak bosan dalam pekerjaan Ambatti. Seiring dengan masuknya Islam dan gambus kedaerah itu kemudian mereka mulai memadukan kebiasaan melantunkan Kelong Batti’-Batti’ itu dengan alat musik gambus.
b. Bentuk Pementasan Kesenian Tradisional Kelong Batti’-batti’.
Kesenian Kelong Batti’-batti’ hingga saat ini kembali digeluti oleh beberapa penggiat yang ada di Kepulauan Selayar. Salah satunya adalah sanggar seni Tanah Doang. Untuk mengatasi kelelahan dalam pementasan kesenian ini, maka group pementas akan bergantian untuk mementaskan kelong Batti’-batti’ ini. Karena pementasannya membutuhkan waktu cukup panjang untuk berbalas syair dan juga membutuhkan suara yang sangat keras.
Pementasan kesenian ini dilakukan pada acara-acara pernikahan, sunatan, atau pementasan yang diadakan oleh pemerintah setempat untuk suatu kegiatan seperti perayaan ulang tahun Kabupaten atau penyambutan tamu di bandara. Pada acara pernikahan, perlu diketahui kesenian ini dipentaskan satu malam sebelum acara pernikahan ataupun resepsi jadi bukan pada hari pernikahan atau resepsi berlangsung. Dalam pementasan biasanya keluarga yang akan melakukan acara pernikahan telah mengundang pemain atau grup
43
kesenian kelong batti’-batti’ jauh- jauh hari sebelumnya. Pementasan ini juga dilakukan setelah sholat Isya (Ba’da Isya) waktu setempat dan akan berlangsung hingga dini hari. Pementasan yang dilakukan sebelum acara pernikahan sebenarny bertujuan menghibur tamu-tamu yang akan melakukan pernikahan, karena kebiasaan dalam sebuah acara seperti ini banyak tamu yang datang secara suka rela membantu menyiapkan persiapan-persiapan untuk acara pernikahan besok, maka keluarga yang akan melangsungkan acara pernikahan mengadakan pementasan kelong batti’-batti’ dengan tujuan untuk menghibur para tamu yang dating untuk membantu.
Satu kelompok terdiri atas dua penyanyi perempuan dan dua penyanyi laki-laki sekaligus pemain alat musik gambusnya, ditambah dua orang pemain alat musik rebana. Untuk menghindari kelelahan dalam pementasan kesenian ini, biasanya grup atau kelompok bergantian untuk mementaskan kesenian ini. Penyayi perempuan dan pemain alat musik gambus dalam hal ini sebagai penyanyi laki-laki akan mengambil posisi saling berhadapan ditengah posisi pemain rebana dalam formasi huruf U, tapi untuk mengurangi kelelahan penyanyi laki-laki biasanya juga hanya memainkan alat musik rebana karena terbilang mudah dan ringan untuk di pegang dan tidak menguras tenaga sambil bernyanyi melantunkan lagu batti’-batti’.
Menarik dilihat alat musik gambus yang dimainkan oleh laki-laki, biasanya juga sebagai peyanyi terdapat cermin di ujung dawai
44
senar tasi (nion untuk pancing). Karena pada saat itu bertatap muka secara langsug masih dianggap tabu. Jadilah kini setiap pembuatan gambus terdapat cermin di ujungnya. Hal ini dilakukan oleh pemain gambus ternyata bertujuan untuk melirik penyanyi perempuan yang ada di depan mereka tanpa harus melihat langsung meskipin dalam posisi berhadapan. Ini yang biasanya membuat kikuk penyanyi perempuan ketika mereka berpapasan mata meskipun lewat cermin yang terdapat pada gambus penyanyi laki-lakinya.
Kostum untuk pementasan pada kesenian ini disesuaikan dengan permintaan penyelenggara hajatan. Pada saat pementasan yang dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Selayar, barulah para penyanyi memakai pakaiaan adat dan pada saat penjemputan tamu, mengisi acara disalah satu instansi pemerintah, atau undangan keluar dari pulau Selayar himgga ke level Nasional dan Internasional. Dalam menyanyikan atau melantunkan lirik-lirik kelong batti’batti’ Ibu Rosdiana (penyanyi) dalam kemdikbud, mengakui bahwa apa yang dia lantunkan secara spontanitas keluar begitu saja dan selanjutnya akan dibalas oleh penyanyi laki-laki tanpa ada jedah untuk berpikir ini merupakan salah satu keunikan dari kesenian ini.
Para penyanyi berbalas lantunan seakan mereka telah mengetahui apa yang harus mereka lantunkan setelah lawan menyanyi mereka mengucapkan lirik lantunan kelong batti’-batti’. Kelong batti’-batti’
tidak diperuntukkan untuk kalanagan tertentu, jadi siapa saja berhak
45
melakukan pementasan ini, baik untuk acara pernikahan ataupun yang lainnya.
c. Pesan-pesan Budaya Kesenian Tradisional Kelong Batti’-batti’.
Kelong Batti’-batti’ memiliki banyak pesan didalamnya, meskipun beberapa pesannya mengandung unsur humor. Pesan-pesan yang terkandung didalamnya merupakan pesan moral, bahkan spiritual. Sepenggal lirik tentang pesan agama dalam syair kelong Batti’-batti’: laki-laki dan perempuan mannasungguki rilinoa andi, panra linota2x ya sijauh banggi.
Dalam pementasannya, kesenian ini terkadang melantunkan unsur kisah cinta antara dua kekasih yang diperankan oleh penyanyi wanita dan penyanyi laki-laki sekaligus pemain gambus. Meskipun demikian syair atau lirik yang dilantunkan tersebut tetap mengandung pesan-pesan yang penuh makna yang membuat penontonnya terhibur
Pesan moral yang terdapat dalam lirik kelong batti’-batti’ ialah mementingkan adat istiadat dan kebiasaan meskipun banyak hal yang harus dipertaruhkan sekalipun kisah asmara menjadi imbasnya.
Penelitian karya ilmiah ini ditemukan tiga data yang termaksud dalam jenis pesan moral yang terdapat pada lirik kelong batti’-batti’
diantaranya.
46
Pada kelong batti’-batti’ yang berjudul “Rambang Pulo”
terdapat lirik yang menggambarkan pesan moral tentang mementingkan adat kebiasaan:
P: “Kappakonjomi pauta daengku”
“A’ra’na jo’jo’ atingta”
“Pauki se’re 2x daengku 2x”
“Laripassama turuki”
Terjemahan: “Karena itu yang engkau katakana”
“Yang ada di hatimu”
“Tetapkan satu kata”
“Agar kira bersatu”
L: “Surangki jammeng aringku”
“Se’re kuburu ri julu”
“Pandang sikere’ 2x aringku 2x”
“Ruayyaki lahondui”
Terjemahan: “Kita bersama dalam satu tanah”
“Ke akhirat kita bersama”
“Di bawah pusara kita berdua”
“Wanginya kita bersama”
P: “Kuta’langerangki garring daengku”
“Inakke rammusu todo”
“Iditte mate 2x daengku 2x”
“Inakke rate bulekang”
47
Terjemahan: “Dikala engkau menderita”
“Aku ikut merasakannya”
“Engkau yang meninggal”
“Serasa aku yang berada diatas keranda”
L: “Ampa maingmi kupau aringku”
“Maingmu kusuro kana”
“Kupattunra-tunraang aringku 2x”
“Amme’leng simata jarung”
Terjemahan: “Apa yang sudah kukatakan”
“Tidak akan kuulangi lagi”
“Ku bersumpah”
“Pantang berpaling kepada yang lain”
P: “Teteng jarreppi japputa daengku”
“Ampa maingmu ripau”
“Rikatutui2x daengku 2x”
“Atorang kabakkakangta”
Terjemahan: “Pegang teguh kakakku”
“Apa yang sudah kau katakana”
“Jagalah”
“Adat kebiasaan”
Pada kelong batti’-batti’ yang berjudul “Sallo Bangngi” juga terdapat lirik yang mengandung pesan moral dengan makna bersikap ramah jika berada di negeri orang, berikut liriknya:
48
L: “Kaladerei lampamu andile’”
“Ri kampong tau to sunggu”
“Ri kampong atu tp sunggu andile’”
“U’rangi tongi 2x”
“Ya sijauh malam, kampongku kukamallangang”
“U’rangi tongi”
“Ya sijauh malam, kampongku manna kamase”
Terjemahan: “Karena engkau akan pergi jauh”
“Di kampung orang yang senang”
“Di kampung orang yang senang adikku”
“Ingatlah juga2x”
“Kampung halamanku biarkasihan”
“Ingatlah juga”
“Kampungku walau kasian”
P: “Uru lampai ri sapongku daelle’”
“Na lapasanga indokku”
“Na lapasanga indokku siana’”
“Tolongko tuna2x 2x”
“Ya sijauh malam, tolongko kaasi-asi”
Terjemahan: “Disaat aku meninggalkan rumah”
“Ibuku berpesan kepadaku”
“Ibuku berpesan saudara”
“Bersikap ramah”
49
“Bersikap rendah hati”
L: “Rie’ pasang kupabattu andile’”
“Inrung lakupuli-puli”
“Inrung lakupuli-puli andile’”
“Tutuki bede2x”
“Ya sijauh malam, annyombalang bara’ karring”
Terjemahan: “Ada pesan yang hendak kusampaikan”
“Amanah yang harus dilaksnakan”
“Amanah yang harus dilaksanakan adik”
“Bersikap hati-hatilah”
“Mengarungi kerasnya arus kehidupan”
Pada syair kelong batti’-batti’ yang berjudul “Rambang Pulo” terdapat lirik yang mengandung makna pesan moral tentang kisah asmara antara laki-laki dan perempuan yang secara tidak langsung diceritakan dalam lantunan kelong tersebut, dibawah ini adalah liriknya:
L: “I nakke nakuaikang aringku”
“Garring tongki nasa’genna”
“Gele minang 2x aringku2x”
“Ambokoi sinna mata”
Terjemahan: “Asal engkau tahu perasaanku”
“Sampai kapanpun”
“Saya tidak akan pernah adikku”
“Berpaling kelain hati”
50
P: “Kappakonjomi pauta daenku”
“Tutuku parallehai”
“Laanda rie’ 2x daengku 2x”
“Sesse’ lalang ribattui”
Terjemahan: “Begitulah perkataan kita”
“Marilah kita saling menjaga”
“Supaya tidak ada kakakku”
“Penyesalan dikemudian hari”
L: “Akkomo bata –batai aringku”
“Ampa maimmi kupau”
“Sirikku jua 2x aringku 2x”
“Kupammariang ri lino”
Terjemahan: “Jangan engkau ragu adikku”
“Kalau sudah saya katakana”
“Harga diriku saja adikku”
“Keberada di dunnia ini”
P: “Barang ri bauna jua daengku”
“Na pakonjoi pauta”
“Ri boko sallo 2x daeng 2x”
“Ri maraeng pangngitunta”
Terjemahan: “Mungkin karena baru bertemu”
“Engkau berkata demikian”
“Dikemudian hari kakakku”
51
“Berpaling kepada yang lain”