BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan memberikan dua perlakuan yang berbeda terhadap dua kelas yaitu pada SDN Wiringtasi sebagai kelas eksperimen (mengajar dengan menggunakan model pembelajaran Terbalik) dan SDN Lampoko sebagai kelas kontrol (mengajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional).
Hasil penelitian ini merupakan jawaban dari rumusan masalah yang telah ditetapkan sebelumnya yang dapat menguatkan sebuah hipotesis atau jawaban sementara.Pada penelitian ini, menggunakan analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial.
Penelitian ini dilakukan di kelas V Sekolah Dasar Gugus II Wilayah I Kecamatan Balusu Kabupaten Barru.Jumlah murid keseluruhan adalah 46 prang dari jumlah murid kelas ekseperimen 23 orang dan jumlah murid kelas kontrol 23 orang, semua murid dalam penelitian ini mempunyai pemahaman tentang konsep divisi yang beragam yang diklarifikasi dalam pengambilan setelah penggambaran:
1. Analisis Statistik Deskriptif Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan pada murid kelas V Sekolah Dasar Gugus II Wilayah I Kecamatan Balusu Kabupaten Barru
a. Pemahaman Konsep Pecahan pada kelas ekseprimen atau yang diajarkan melalui model pembelajran terbalik.
Hasil pretest dan posttest pada kelas eksperimen yang diberikan atau diajar melalui model pembelajaran terbalik pada murid kelas V pada materi pecahan. Berikut ini adalah deskripsi pemahaman konsep pecahan kelas V melalui model pembelajaran terbalik pada tabel 4.1.
Tabel 4.1.Deskripsi Pemahaman Konsep Pecahan pada Murid Kelas Eksperimen
Statistik Nilai Statistik Kelas Eksperimen
Pretest Posttest
Jumlah sampel 23 23
Nilai Minimum 53 63
Nilai Maksimum 80 90
Nilai Rata-rata 65.13 76.17
Standar Deviasi 7.724 7.401
Sumber: Hasil Olah data SPSS, 2020
Table 4.1 menjelaskan bahwa dari hasil prestest, pamahaman konsep pecahan di kelas V atau kelas eksperimen yang melalui model pembelajaran terbalik diperoleh nilai tertingginya 80 dan nilai terendahnya 53 dan rata ratanya 65,13 dengan standar deviasi 7,724.
Nilai posttest pemahaman konsep pecahan dikelas V atau kelas eksperimen yang melalui model pembelajaran terbalik diperoleh nilai tertinggi 90. Nilai terendah 63, dan rata ratanya yaitu 76,17 dengan standar deviasi 7.401. dari hasil rata rata pretest dan
posttest pada kelas V atau ekseperimen maka selisi dari rata ratanya diperoleh 11.04.
Nilai pretest dan posttest di kelas V atau eksperimen dikategori pemahaman konsep pecahan, maka didapatkan sebagai berikut:
Tabel 4.2. Kategorisasi pemahaman konsep pecahan pada kelas eksperimen dari hasil pretest dan posttes.
Kategori Interval
Pretest Posttest
Frekuensi Persentase
(%) Frekuensi Persentase (%) 0-59 Sangat
rendah 5 21.8 0
60-69 Rendah 10 43.5 3 13.0
70-80 Sedang 8 34.7 12 52.3
81-90 Tinggi 0 8 34.7
91 – 100 Sangat
tinggi 0 0 0 0
Jumlah 23 100 23 100
Sumber: Hasil Olah data SPSS, 2020
Dilihat dari table 4.2 bahwa nilai prstest pada kelas V eksperimen yang meluli model pembeljaran terblaik denga ketgori pemahman konsep pecahan yaitu terdapat 5 murid dengan persentase 21.8% berada pada kategori sangat rendah dan 10 murid berada pada kategori rendah dengan persentase 43.5% serta 8 murid berada pada kategori sedang dengan persentase 34.7% dan selanjutnya tidak terdapat murid yang berkategori tinggi.
Dilihat dari table 4.2 bahwa nilai postest pada kelas V ekseperimen yang melalui pembelajaran terbalik dengan ketegorisasi pemahaman konspe pecahan, yaitu yaitu 3 murid dengan presentasi
13.0% berada pada kategori rendah, 12 murid berada pada kategori sedang dengan persentase 52.3% dan 8 murid berada pada kategori tinggi dengan persentase 34.7%.
Adapun kemampuan pemahaman konsep murid yang menggunakan model Pembelajaran terbalik ditinjau dari 3 aspek pengamatan yang diuraikan sebagai berikut:
Tabel 4. 3. Deskripsi kemampuan pemahaman konsep menggunakan model Pembelajaran terbalik
No Kriteria Skala Jawaban
Jumlah Persentasi
1 % 2 % 3 % 4 % (%)
1
Membuat Pertanyaan (Questioning)
0 0 4 17.39 7 30.43 12 52.17 23 100
2 Memprediksi
(Predicting) 0 0 6 26.09 6 26.09 11 47.83 23 100 3 Mengklarifikasi
(Clarifying) 1 4.348 3 13.04 9 39.13 10 43.48 23 100 Sumber: Hasil pengolahan, 2020
Mengacu pada nilai persentase penilaian kemampuan pemahaman konsep pecahan murid dalam mengikuti pembelajaran menggunakan model pembelajaran terbalik diperoleh bahwa pada pelaksanaan pembelajaran pretest pada pertemuan pertama dan ke dua menunjukkan persentasi murid yang mampu membuat pertanyaan terkait pemahaman konsep pecahan sebanyak 4 orang dengan persentasi 17.39% sedangkan pada pelaksanaan pembelajaran pada tahap kedua yakni posttest penerapan model Pembelajaran terbalik menunjukkan bahwa pada pertemuan ketiga telrihat bahwa kemampuan murid membuat pertanyaan diperoleh
sebanyak 7 murid (30.43%) dan meningkat pada pertemuan selanjutnya sebanyak 12 orang (52.17%).
Penilaian aspek kedua yaitu memprediksi pada pembelajaran pretest pada pertemuan pertama dan ke dua menunjukkan persentasi murid yang mampu membuat prediksi terkait pemahaman konsep pecahan sebanyak 6 orang dengan persentasi 26.09%
sedangkan pada pelaksanaan pembelajaran pada tahap kedua yakni posttest penerapan model Pembelajaran terbalik menunjukkan bahwa pada pertemuan ketiga terlihat bahwa kemampuan murid membuat prediksi diperoleh sebanyak 6 murid (26.09 %) dan meningkat pada pertemuan selanjutnya sebanyak 11 orang (47.83%).
Penilaian aspek ketiga yaitu membuat klarifikasi dimana, pembelajaran pretest pada pertemuan pertama dan ke dua menunjukkan persentasi murid yang mampu membuat klarifkasi terkait pemahaman knsep pecahan sebanyak 4 orang dengan persentasi 17.39% sedangkan pada pelaksanaan pembelajaran pada tahap kedua yakni posttest penerapan model Pembelajaran terbalik menunjukkan bahwa pada pertemuan ketiga telrihat bahwa kemampuan murid membuat klarifkasi diperoleh sebanyak 9 murid (39.13%) dan meningkat pada pertemuan selanjutnya sebanyak 10 orang (43.48%).
Berdasarkan hasil penilaian pada aspek kemampuan pemahaman konsep disimpulkan bahwa pada kelas eksperimen mengalami peningkatan pada pemahaman konsep pecahan menggunakan penerapan model Pembelajaran terbalik.
b. Pemahaman konsep pecahan pada kelas control atau yang di ajar melalui pembelajaran konvensional.
Berdasarkan hasil pretest dan posttest yang diberikan pada kelas kontrol yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional pada murid kelas V Kabupaten Barru pada materi pecahan. Berikut adalah deskripsi pemahaman konsep pecahan pada kelas kontrol pada tabel 4.4:
Tabel 4.4. Deskripsi Pemahaman Konsep Pecahan pada Murid Kelas Kontrol
Statistik Nilai Statistik Kelas Kontrol
Pretest Posttest
Jumlah sampel 23 23
Nilai Minimum 43 63
Nilai Maksimum 73 86
Nilai Rata-rata 55.9 75.65
Standar Deviasi 8.160 6.227
Sumber: Hasil Olah data SPSS, 2020
Table 4.4 menjelaskan bahwa dari nilai pretest pemahaman konsep pecahan pada kelas control melalui pembelajaran konvensional diperoleh nilai tertinggi 73, nilai terendah 43 dan rata rata yang diperoleh 55,9 dengan standar deviasi 8.160.
Nilai postest pemahaman konsep pecahan pada kelas konterol melalui pembelajaran konvensional diperoleh nilai tertinggi 86, nilai
terendahnya 63 dan nilai rata-ratanya adalah 75.65 dengan standar deviasi 6.227. dari nilai rata rata pretest dan postest pada kelas control yang melalui pembelajaran konvensional mendapatkan selisi adalah 17.27.
Nilai pretest dan posttest di kelas V atau kelas kontrol dikategori pemahaman konsep pecahan, maka didapatkan sebagai berikut:
Tabel 4.5. Kategorisasi pemahaman konsep pecahan pada kelas kontrol dari hasil pretest dan posttes
Kategori Interval
Pretest Posttest
Frekuensi Persentase
(%) Frekuensi Persentase (%) 0-59 Sangat
rendah 15 65.3 0 0
60-69 Rendah 6 26.0 3 13.0
70-80 Sedang 2 8.7 10 43.5
81-90 Tinggi 0 0 10 43.5
91 – 100 Sangat
tinggi 0 0 0 0
Jumlah 23 100 23 100
Sumber: Hasil Olah data SPSS, 2020
Berdasarkan tabel 4.4, dapat dilihat bahwa hasil pretest pada kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional dengan kategorisasi kemampuan pemahaman konsep pecahan, yaitu 15 murid dengan persentase 65.3% berada pada kategori sangat rendah, 6 murid berada pada kategori rendah dengan persentase 26.0% serta 2 murid berada pada kategori sedang dengan persentase 8.7%, dan selanjutnya tidak ada murid berada pada kategori tinggi maupun sangat tinggi.
Nilai posttest pada kelas kontrol yang melalui model pembelajaran konvensional dengan kategorisasi kemampuan pemahaman konsep pecahan, yaitu 10 murid berada pada kategori tinggi dengan persentase 43.5% dan 10 murid berada pada kategori sedang dengan persentase 43.5%. sedangkan sisanya 3 murid masih berada pada kategori rendah dengan persentase 13.0%.
Melihat dari hasil persentase paling tinggi yang diperoleh pretest dan posttest yaitu 8.7% dan 87.0%, maka dapat disimpulkan bahwa gambaran pemahaman konsep pecahan pada kelas kontrol untuk hasil pretest berada pada kategori rendah sedangkan hasil posttest berada pada kategori tinggi.
Selanjutnya untuk melihat besarnya peningkatan sebelum dan sesudah pembelajaran dihitung dengan rumus gain ternormalisasi sebagai berikut:
Tabel 4.6. Distribusi Frekuensi Nilai Post-test Pemahaman konsep pecahan pada Kelas Eksperimen dan kelas Kontrol
Nilai N-
Gain Kriteria
Eksperimen Kontrol
Frekuensi Persentasi
(%) Frekuensi Persentasi (%) N-Gain ≥
0,70 Tinggi 20 87.0 20 87.0
0,30 ≤ N-
Gain <0,70 Sedang 3 13.0 3 13.0
N-Gain <
0,30 Rendah 0 0 0 0
Jumlah 23 100 23 100
Sumber: Data primer 2019, diolah dari lampiran
Berdasarkan tabel distribusi frekuensi nilai post-test pemahaman konsep kelas eksperimen dan kontrol berada pada kategori tinggi, selanjutnya diagram nilai post-test pemahaman konsep kelas eksperimen dan kontrol sebagai berikut.
Gambar 4.1. Diagram Nilai Post-test Pemahaman Konsep pecahan pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Sumber: Data primer 2020, diolah dari lampiran
2. Analisis Inferensial a. Uji Prasyarat
1) Uji Normalitas
Nilai hasil pretest dan postest materi pecahan pada kelas V di kelas ekperimen dan di kelas control dilakukan uji normalitas. Uji normalitas menggunakan aplikasi IBM SPSS Statistic versi 2020 for Windows, sehingga diperoleh data sebagai berikut:
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Frekuensi Persentasi (%)
Frekuensi Persentasi (%)
Kriteria Eksperimen Kontrol
Gain Pemahaman Konsep Murid
N-Gain ≥ 0,70 0,30 ≤ N-Gain <0,70 N-Gain < 0,30 Jumlah
Tabel 4.7.Uji Normalitas Pemahaman Konsep Pecahan pada Murid kelas V Sekolah Dasar Gugus II Wilayah I Kecamatan Balusu Kabupaten Barru
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Pretest eks Posttest eks Pretst Ktr posttest Ktr
N 23 23 23 23
Normal Parametersa,b
Mean 65.1304 76.1739 55.9565 75.6522
Std. Deviation 7.72425 7.40179 8.16020 6.22757 Most Extreme
Differences
Absolute .130 .170 .150 .192
Positive .130 .118 .150 .100
Negative -.107 -.170 -.098 -.192
Test Statistic .130 .170 .150 .192
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d .085c .195c .077c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.
Sumber: Hasil Olah data SPSS, 2020 Kriteria pengujian:
H0: data populasi berdistribusi normal, jika probabilitas > 0,05, H0 diterima
H1: data populasi tidak berdistribusi normal, jika probabilitas ≤ 0,05, H0 ditolak
Berdasarkan tabel 4.7 yang merupakan hasil output untuk uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov, diperoleh hasil pretest di kelas eksperimen dengan nilai signifikan sebesar 0.200> 0,05 maka H0 diterima atau data hasil pretest kemampuan pemahaman konsep pecahan di kelas eksperimen berdistribusi normal sedangkan hasil posttest di kelas eksperimen dengan nilai signifikan sebesar 0.085>
0,05 maka H0 diterima atau data hasil posttest kemampuan
pemahaman konsep pecahan di kelas eksperimen berdistribusi normal.
Berdasarkan tabel 4.7 yang merupakan hasil output untuk uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov, diperoleh hasil pretest di kelas kontrol dengan nilai signifikan sebesar 0.195> 0,05 maka H0 diterima atau data hasil pretest kemampuan pemahaman konsep pecahan di kelas kontrol berdistribusi normal sedangkan hasil posttest di kelas kontrol dengan nilai signifikan sebesar 0.077> 0,05 maka H0 diterima atau data hasil posttest kemampuan pemahaman konsep pecahan di kelas kontrol berdistribusi normal.
2) Uji Homogenitas
Pengujian homogenitas varians dilakukan pada data kemampuan pemahaman konsep pecahan dan pengetahuan awal murid di kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Test of Homogeneity of Variances
Levene Statistic df1 df2 Sig.
Pemahaman Konsep
Based on Mean .004 1 44 .951
Based on Median .015 1 44 .905
Based on Median and with adjusted df
.015 1 44 .905
Based on trimmed mean
.005 1 44 .942
Sumber: Hasil Olah data SPSS, 2020
Kriteria pengujian:
H0: distribusi populasi homogen, jika sig > 0,05, H0 diterima H1: distribusi populasi tidak homogen, jika sig ≤ 0,05, H0 ditolak
Berdasarkan hasil output pada tabel 4.11 Test of Homogeneity of Variances diperoleh data pretest levene Statistic = 0,15 df1= 1;
df2= 44 dengan signifikan = 0,951> 0,05 maka H0 diterima atau data kemampuan pemahaman konsep pecahan berdistribusi homogen.
b. Uji Hipotesis perbedaan kemampuan pemahaman konsep pecahan pada pembelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran terbalik dengan pembelajaran konvensoinal
Pada bagian ini digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang kedua. Analisis yang digunakan adalah analisis statistik inferensial.Sebelum melakukan analisis statistik inferensial dalam menguji hipotesis, maka diperlukan pengujian dasar meliputi uji normalitas dan uji homogenitas. Informasi dari pemahaman konsep murid dalam memahamai konsep pecahan dan informasi sebelumnya sudah bias tersampaikan dan homogen. Data hasil pemahaman konsep pecahan dan pengetahuan awal murid telah berdistribusi normal dan homogen, sehingga dapat dilakukan pengujian hipotesis dengan menggunakan uji independent sample test.
Tabel 4.8. Uji Independent Samples Statistik Kelas Eksperimen Group Statistics
Kls N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
Prepost Kelas Kontrol 23 75.6522 6.22757 1.29854
Kelas Eksperimen 23 76.1739 7.40179 1.54338
Independent Samples Test
Levene's Test for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. T df
Sig. (2- tailed)
Mean Difference
Std. Error Difference
95% Confidence Interval of the
Difference Lower Upper Prepost Equal
variances assumed
.984 .327 -9.202 44 .000 -.52174 2.01698 -4.58670 3.54323
Equal variances not assumed
-9.202 42.749 .000 -.52174 2.01698 -4.59006 3.54659
Sumber: Hasil Olah data SPSS, 2020
Berdasarkan pada hasil analisi uji independent sample test diperoleh nilai t htung > t tabel (9.202> 0.680) dan p-value (0.000 <
0.005), maka Ho ditolak, artinya bahwa ada perbedaan antara rata- rata nilai ujian kelas eksperimen dengan rata-rata nilai ujian kelas kontrol. Pada tabel Group Statistics terlihat rata-rata (mean) untuk kelas kontrol adalah 75.65 dan untuk kelas eksperimen adalah 76.17, artinya bahwa rata-rata nilai ujian pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada rata-rata nilai ujian pada kelas kontrol. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedanaan
pada kemampuan pemahaman konsep pecahan pada pembelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran terbalik dengan pembelajaran konvensional. Adapun perbedaan rata-rata (mean diference) sebesar 0.52 (76.17-75.65), dan perbedaan berkisar antara -4.58 sampai 3.54.
Berdasarkan pada nilai signifikansi pada tabel independent sample test menujukkan bahwa sig 0.000<0.050, maka berarti bahwa terdapat perbedaan pemahaman konsep pecahan antara kelas eksperimen dan kelas control, dan berdasarkan pada rata-rata posttest kelas eksperimen 76.17<rata-rata posttest kelas kontrol 75.65, dengan demikian maka hipotsis penelitian adalah menolak Ho dan meneriman H1. Sehingga berarti bahwa nilai matematika pada murid yang menggunakan model Pembelajaran Terbalik lebih tinggi dari pada pembelajaran konvensional.