• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

Tabel 4 : Jumlah pegawai sesuai golongan Pangkat Gol Jumlah Ket

IV 1 Orang -

III 25 Orang - II 22 Orang -

I - -

Sumber : Database Rutan Jeneponto 2019 11) Jadwal tugas pegawai

1. Petugas piket siang bagi tenaga perawat masuk melaksanakan tugas Senin s/d Minggu pukul 12:00 WITA s/d 19:00 WITA dan perawat yang masuk hari jumat mulai pukul 08:00 WITA s/d 13:00 WITA

2. Petugas piket malam mulai dari pukul 19:00 WITA s/d 07:00 WITA 3. Jadwal tugas jaga pagi mulai pukul 07:00 s/d 13:00 WITA

4. Jawal tugas jaga siang mulai pukul 13:00 s/d 15:00 WITA 5. Jadwal tugas jaga malam mulai pukul 15:00 s/d 07:00 WITA

bersama, Jika karyawan tidak melakukan pekerjaannya, maka suatu organisasi akan mengalami kegagalan.Seperti juga perilaku manusia, tingkat, dan kualitas kinerja ditentukan oleh sejumlah variabel perseorangan dan lingkungan, kemudian dalam pembinaan narapidana adalah kegiatan untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, intelektual, dan perilaku, profesional, kesehatan jasmani dan rohani narapidana dan anak didik permasyarakatan.

Kemudian dalam mengukur kinerja yang dilakukan oleh pegawai rumah tahanan kepada narapidana penulis menggunaka indikator pada teori Mas‟ud yang mengatakan ada lima indikator kinerja diantaranya yakni 1) kualitas 2) kuantitas 3) ketepatan waktu 4) efektivitas e) komitmen kerja.

a. Kualitas

“Kualitas kerja merupakan usaha-usaha yang sistematis terorganisasi untuk memberikan peluang yang lebih besar dalam jabatan mereka dan kontribusi mereka terhadap efektivitas organisasi secara menyeluruh”.Kualitas kerja ditentukan oleh bagaimana para karyawan merasakan peran mereka di dalam organisasi, sedangkan produktivitas ditingkatkan melalui penciptaan mutu kehidupan kerja yang baik. Diharapkan melalui kehidupan lingkungan kerja yang produktif, keterlibatan karyawan dalam proses manajemen meningkat. Kualitas kerja yang umumnya berkonotasi dengan mutu kehidupan kerja adalah pendekatan sistim untuk mendesain pekerjaan (job design) dan pengembangan dalam ruang lingkup yang sangat luas, terutama dalam melakukan job enrichment.

Adapun beberapa sub indikator dari kualitas kerja yakni 1) konstribusi 2) produktivitas dan 3) mutu kehidupan kerja

Dengan indikator diatas adapun beberapa pertanyaan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada enam narasumber yakni, Kepala Tahanan Negara Kelas IIB Kabupaten Jeneponto, Staf subsi pengelolaan, staf subsi pelayanan tahanan, dan tiga narapidana.

Berdasarkan indikator kualitasatau kualitas kerja pada kinerja pegawai dalam pembinaan narapidanadi rumah tahanan negara kelas II B kabupaten Jeneponto, mengenai seperti apa kualitas kerja pegawai dalam memberikan pembinaan kepada para narapidana. Melalui wawancara yang dilakukan bersama MK (kepala rumah tahanan negara) dan terkait kualitas kinerja pegawai mengatakan bahwa:

“...kualitas kerja yang pegawai rutan berikan kepada narapidana saya pikir sudah baik, dan sudah berdasarkan peraturan dan prosedur. Pembinaan- pembinaan inikan yang akan membentuk kesadarannya para narapidana.

Kalaupun ditindak tegas saya kira sudah seharusnya memang pegawai rutan itu tegas..” (hasil wawancara MK, 17 september 2019)

Berdasarkan wawancara di atas yakni kualitas kerja dari pegawai rutan baik sebab sudah dilakukan berdasarkan peraturan dan prosedur pembinaan kepada narapidana, sedangkan tindakan tegas yang diberikan adalah sikap yang sudah sewajarnya diberikan pada tahanan. Selanjutnya PR (staf subsi pengelolaan)mengatakan :

“...sebagai kepala subsi pengelola, kinerja pegawai rutan di sini semuanya tidak ada masalah, alhamdulilah kinerja staf baik, walaupun mungkin ada 1-2 orang yang agak kurang kualitasnya dalam bekerja tapi kalau ketahuan pasti akan dilakukan peneguran..” (hasil wawancara PR, 17 september 2019)

Berdasarkan wawancara di atas yakni kinerja pegawai baik walaupun ada beberapa oknum pegawai yang kualitas kerjanya kurang baik, namun hal tersebut tentu akan di tindak langsung oleh atasan pegawai. Selanjutnya wawancara

dilakukan bersama SA ( staf subsi pelayanan tahanan) mengatakan bahwa:

“...kinerja pegawai rutan semua alhamdulilah baik, apa lagi kami di sini bagian pelayanan tahanan, kami memberikan pelayanan sesuai tidak ada narapidana yang di istimewakan semua perlakuan sama...”(hasil wawancara SA, 17 september 2019)

Wawancara di atas menunjukkan bahwa kinerja pegawai baik, baik itu dari pelayanan tahanan yang dilakukan pegawai terhadap narapidana dan tidak ada perlakuan yang dibedakan-bedakan pada setiap narapidana.Kemudian dilakukan juga wawancara bersama beberapa narapidana yakni salah satunya RR mengatakan bahwa:

“...setau saya mereka bekerja sesuai aturan, tapi kalau kinerjanya dalam memberikan pembinaan menurut saya ini masih kurang. Terkadang mereka perlakuannya kurang baik dengan napi..” (hasil wawancara RR, 18 september 2019)

Dari hasil wawancara di atas pegawai bekerja sesuai aturan, namun kinerja pegawai belum sepenuhnya baik dalam memberikan pembinaan di sebabkan perlakuan yang tidak pantas kepada narapidana. Jadi berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwasannya kualitas kinerja pegawai Rumah Tahanan Kelas IIB Kabupaten Jeneponto masih kurang dikarenakan berdasarkan hasil wawancara bersama kepala tahanan yang mengakui ada beberapa pegawai yang memang masih kinerjanya dalam membina narapidana masih kurang, walaupun pada pernyataannya dalam memberikan pelayanan dan bekerja sudah sesuai dengan prosedur dan aturan namun masih ada beberapa narapidana mendapatkan perlakuan yang berbeda dan perlakuan kasar yang kerap di dapatkan oleh narapidana.

Berdasarkan indikator kualitasatau kualitas kerja pada kinerja pegawai

dalam pembinaan narapidana di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kabupaten Jeneponto, mengenai produktivitas kera pegawai terhadap pekerjaannya, melalui wawancara yang dilakukan bersama MK (kepala rumahtahanan )mengatakan bahwa:

“..kalau produktivitasnya pegawai disini baik semua, mereka punya tugas masing-masing. Mereka juga punya jadwal jadi kalau untuk produktivitas mereka tidak bermalas-malasan karena mereka memang punya jadwal yang ketat..” (hasil wawancara MK, 17 september 2019)

Menurut hasil wawancara di atas yakni produktivitas pegwai baik, pegawai memiliki tugasnya masing-masing, dan jadwal kerja jadi tidak ada waktu untuk tidak bekerja atau sekedar membuang-buang waktu dikarenakan jadwal kerja yang padat, selanjutnya PR (staf subsi pegelolaan)mengatakan :

“..pegawai kalau mereka tidak memiliki produktivitas kinerja yang tidak baik ya pasti ditegur, kemudian bisa dipindah tugaskan jadi kalau produktivitas harus baik mau tidak mau mereka harus produktivitas kinerja yang baik..” (hasil wawancara PR, 17 september 2019)

Dari hasil wawancara di atas yakni bahwasannya produktivitas kerja pegawai baik sedangkan untuk pegawai yang tidak memiliki produktivitas pada kinerjanya akan ada sanksi peneguran serta akan dilakukan pemindahan tugas, kemudian selanjutnya wawancara yang dilakukan bersama SA (staf subsi pelayanan tahanan) mengatakan bahwa:

“..untuk produktivitas mereka baik, khususnya dalam subsi pelayanan tahanan. Mereka bekerja sesuai tugasnya memberikan pelayanan kepada tahanan yang ada di sini..” (hasil wawancara SA, 17 septermber 2019) Wawancara di atas produktivitas baik, khususnya pada bidang subsi

pelayanan tahanan yang bekerja sesuai dengan tugas yang diberikan. Kemudian juga dilakukan wawancara kepada beberapa narapidana yakni salah satunya BN mengatakan:

“..saya kurang tau itu bagaimana, tapi mereka bekerja tidak malas-malasan mungkin karena mereka juga diawasi jadi bukan Cuma kami tahanan diawasi mereka juga diawasi sama atasan..” (hasil wawancara BN, 18 september 2019)

Wawancara di atas yakni tidak mengetahui seperti apa produktivitas yang dimaksud, namun pegawai bekerja sesuai dengan tugasnya dikarenakan ada pengawasan dari atasan. Jadi berdasarkan hasil wawancara di atas menurut kepala rutan dan staf yang bertugas bahwasannya produktivitas kinerja pegawai baik, dikarenakan memang sudah terjadwal dan memiliki tugas masing-masing dan juga ada sanksi yang berat jika tidak bekerja dengan baik. Dan juga menurut beberapa napi untuk produktivitas kerja pegawai cukup baik karena adanya pengawasan dari atasan.

Berdasarkan indikator kualitasatau kualitas kerja pada kinerja pegawai dalam pembinaan narapidana di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kabupaten Jeneponto, mengenai seperti apa konstribusi pegawai rutan dalam memberikan pembinaan kepada para narapidana. Berdasarkan wawancara yang dilakukan bersama MK (Kepala Rutan) mengatakan bahwa:

“..kalau bentuk konstribusinya dari pegawai karena memang tugasnya memberikan pembinaan agar napi yang dibina memiliki kesadaran atas kesalahannya, menjadi orang yang baik, bisa merubah perangai napi juga sudah menjadi bentuk konstribusi pegawai tahanan..”(hasil wawancara MK, 17 september 2019)

Hasil wawancara di atas bahwasannya konstribusi pegawai yakni memberikan pembinaan kepada narapidana, agar narapidana memiliki kesadaran

terhadap kesalahannya dan menjadi orang baik, serta merubah perangai narapidana. Selanjutnya PR (staf pengelolaan) mengatakan:

“..untuk konstribusi pegawai ya banyak, saya yakin tanpa konstribusi pegawai rutan, narapidana tidak bisa diatur, tidak ada perubahan, tidak bisa juga dihandle napi-napi yang nakal..” (hasil wawancara PR, 17 september 2019)

Berdasarkan wawancara di atas diketahui bahwasannya konstribusi pegawai banyak tanpa adanya konstribusi pegawai maka narapidana tidak dapat diatur serta tidak ada perubahan sebelum dan sesudah dilakukan pembinaan., selanjutnya dilakukan wawancara bersama SA (staf subsi pelayanan tahanan) mengatakan bahwa:

“..salah satu konstribusi pegawai yakni memberikan pelayanan yang pantas kepada napi, walaupun mereka tegas ya mereka tetap harus memperlakukan napi berdasarkan hak asasi manusia..” (hasil wawancara SA, 17 september 2019)

Wawancara di atas menunjukkan konstribusi pegawai yakni memberikan pelayanan yang baik walaupun dengan sikap yang tegas kepada narapidana.Selanjutnya dilakukan wawancara juga kepada beberapa narapidana terkait konstribusi salah satunya yakni RR mengatakan bahwa:

“..saya kurang taumi juga itu seperti apa konstribusimya..” (hasil wawancara RR, 18 september 2019)

Wawancara di atas bahwasannya narapidana tidak mengetahui bagaimana bentuk konstribusi pegawai. Jadi berdasarkan hasil wawancara keseluruhan pada indikator kualitas kinerja pegawai yakni dapat disimpulkan bahwa kualitas kinerja pegawai Rumah Tahanan Kelas IIB Kabupaten Jeneponto masih kurang dikarenakan berdasarkan hasil wawancara bersama kepala tahanan yang mengakui ada beberapa pegawai yang memang masih kinerjanya dalam membina

narapidana masih kurang, walaupun pada pernyataannya dalam memberikan pelayanan dan bekerja sudah sesuai dengan prosedur dan aturan namun masih ada beberapa narapidana mendapatkan perlakuan yang berbeda dan perlakuan kasar yang kerap di dapatkan oleh narapidana. Kemudian untuk produktivitas kinerja pegawai baik, dikarenakan memang sudah terjadwal dan memiliki tugas masing-masing dan juga ada sanksi yang berat jika tidak bekerja dengan baik.

Dan juga menurut beberapa napi untuk produktivitas kerja pegawai cukup baik karena adanya pengawasan dari atasan, serta konstribusi pegawai dalam melakukan pembinaan yakni melakukan tugas dengan baik, membuat napi sadar benar akan kesalahannya, memberikan pengetahuan, dan beberapa hal lainnya.

jadi sehubungan dengan teori diatas mengenai indikator kualitas kinerja pegawai dalam memberikan pembinaan terhadap narapidana dapat dikatakan dilakukan dengan baik, manajemen waktu dalam aktivitas yang baik serta pegawai memaksimalkan kinerja untuk memberikan pembinaan kepada narapida sesuai dengan tugas dan fungsinya sebagai pegawai Rutan.

b. Kuantitas

Merupakan seberapa besarnya beban kerja atau sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan oleh seorang pegawai. Diukur dari kemampuan secara kuantitatif didalam mencapai target atau hasil kerja atas pekerjaan-pekerjaan baru/

atau jumlah siklus aktivitas yang di selesaikan.Adapun sub indikator dari kuantitas yakni 1) beban kerja 2) kemampuan 3) target/hasil. Dengan indikator diatas adapun beberapa pertanyaan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada enam narasumber yakni, Kepala Tahanan Negara Kelas IIB Kabupaten

Jeneponto, Staf subsi pengelolaan, staf subsi pelayanan tahanan, dan tiga narapidana.

Berdasarkan indikator kuantitaspada kinerja pegawai dalam pembinaan narapidana di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kabupaten Jeneponto, mengenai besar beban kerja yang dihadapkan pada pegawai rutan, melalui wawancara yang dilakukan bersama MK (kepala Rutan) mengatakan bahwa:

“..saya kira kalau untuk beban kerja tidak terlalu besar yah, karena kan yang di bina ini bukan anak kecil, orang dewasa jadi tinggal diarahkan bagaimana tahanan ini melakukan kegiatan itu saja kemudian ada pelaporan..” (hasil wawancara MK, 17 september 2019)

Hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa beban kerja pegawai tidaklah banyak dan berat, dikarenakan hanya melakukan pengarahan dan pembinaan kepada orang-orang yang mampu melakukan aktivitas sendiri.

Kemudian PR (staf subsi pengelolaan)mengatakan :

“..beban kerja pegawai di sini tidak berat, paling Cuma jadwal jaga yang harus ganti-gantian shift malam shif siang pagi sore, untuk pembinaan kerohanian dilaksanakan setiap pagi dari jam 11 sampai jam 1 sian, kalau pembinaan kemandirian jg Cuma dua kali dalam satu tahun, sedangkan pembinaan kepribadiannya Cuma dilaksanakan satu kali dalam seminggu selama 2 jam. sya pikir itu tidak memberatkan apa lagi mereka juga kan bergantian..” (hasil wawancara PR, 17 septermber 2019)

Berdasarkan hasil wawancara diatas beban kerja pegawai tidak berat kemudian juga ada pergantian tugas yang dilakukan oleh pegawai adapun jadwal pembinaan narapidana yakni pembinaan kerohanian dilaksanakan setiap hari jam 11 sampai jam 1 siang, untuk pembinaan kemandirian dilakukan dalam 2 kali dalam setahun, serta pembinaan kepribadian dilaksanakan satu kali dalasm seminggu selama dua jam sehingga tidak memberatkan sama sekali.

Selanjutnya dilakukan wawancara bersama SA (staf subsi pelayanan tahanan)

mengatakan:

“..bekerja di sini tidak memberatkan pegawai sama sekali, Cuma ya ada tanggung jawab terhadap pekerjaannya saja, saya kira itu..” (hasil wawancara SA, 17 september 2019)

Wawancara di atas yakni bahwasanya bekerja sebagai pegawai rumah tahanan tidak memiliki beban kerja yang berat melainkan hanya tanggung jawab pada tugasnya. Selanjutnya dilakukan juga wawancara bersama beberapa narapidana terkait kinerja pegawai rutan yakni salah satunya RR mengatakan bahwa:

“..menurutku beban kerja mungkin tidakji, kalau selesai meki kita ini diarahkan, mereka Cuma duduk2 mengawasi saja kami semua..” (hasil wawancara RR,18 september 2019)

Berdasarkan hasil wawancara di atas terkait mengenai beban kerja pegawai rutan tidak memiliki beban kerja yang berat pegawai hanya melakukan pengawasan pada aktivitas narapidana seperti mengawasi kegiatan pembinaan dan kegiatan sehari-hari narapidana. Jadi dari hasil wawancara di atas bahwa bebankerja tidak berat, karena tugas yang di jalankan hanya mengarahkan kegiatan narapidana dan mengawasi keseharian tahanan agar tetap mengikuti aturan dan ketetapan sebagai tahanan negara. Adapun jadwal pembinaan narapidana yakni pembinaan kerohanian dilakukan setiap hari dari jam 11 sampai jam 1 siang, kemudian pembinaan kemandirian dilakukan dua kali dalam setahun, sedangkan pembinaan kepribadian dilakukan seminggu sekali selama dua jam, dengan jadwal kerja yang jelas oleh sebab itu beban pegawai tidak berat dan seharusnya mampu memaksimalkan kinerjanya.

Berdasarkan indikator kuantitaspada kinerja pegawai dalam pembinaan narapidana di Numah Tahanan Negara Kelas IIB Kabupaten Jeneponto, mengenai

kemampuan pegawai rutan berdasarkan kuantitas pegawai yang ada di rutan, berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan bersama MK (kepala rutan) mengatakan bahwa:

“..untuk kemampuan tidak diragukan lagi lah, kitakan mengikuti seleksi yang di adakan oleh negara, kemudian mereka di didik diberikan pembekalan khusus untuk menangani narapidana seperti apa jadi mereka tidak perlu dipertanyakan lagi kemampuannya, sejauh ini juga kinerja dari pegawai di sini baik-baik semua sesuai yang kami harapkan juga sebagai atasan..(hasil wawancara MK, 17 september 2019)

Hasil wawancara di atas yakni kemampuan pegawai tidak perlu di ragukan dikarenakan pegawai melakukan seleksi penerimaan yang sangat ketat, dan pembekalan serta pendidikan yang diberikan dengan ketat.kemudian kinerja pegawai semuanya baik, sesuai dengan harapan oleh atasan berdasarkan pernyataan diatas.Selanjutnya PR (staf subsi pengelolaan) mengatakan:

“..untuk kuantitas memang sudah ditetapkan oleh negara, kemudian berdasarkan kebutuhan dikantor jadi kemampuan dan kuantitas sepadan menurut saya..” (hasil wawancara PR, 17 september 2019)

Berdasarkan hasil wawancara diatas mengatakan bahwasannya kuantitas sudah ditetapkan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan sepadan dengan kuantitas yang dimiliki. Selanjutnya dilakukan wawancara bersama SA (staf subsi pelayanan tahanan) mengatakan:

“..untuk jumlah pegawai saya kira sudah sesuai dengan kinerjanya, karena yang di tangani inipun jumlahnya tidak sedikit, ada banyak narapidana dari berbagai latar belakang kasus kejahatan yang dimiiki jadi memang sudah seharusnya pegawai rutan itu kuantitasnya bnyak, kemudian tentu juga mereka memiliki kemampuan dalam bekerja..(hasil wawancara SA, 17 september 2019)

Wawancara di atas bahwa jumlah pegawai sudah sesuai dengan kinerja karena jumlah narapidana yang akan ditangani juga jumlahnya tidak sedikit sehingga membutuhkan pegawai dengan jumlah yang banyak.Selanjutnya dilakukan juga wawancara bersama beberapa narapidana terkait mengenai

kuantitas dan kemampuan kinerja pegawai rutan dengan salah satu narapidana yakni RR

“...jumlahnya pegawai memang tidak sedikit, dikarenakan banyaknya narapidana yang harus diawasi, kemampuan disini mungkin tidak terlalu ..” (hasil wawancara RR, 18 september 2019)

Jadi berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa Berdasarkan hasil wawancara diatas mengatakan bahwasannya kemampuan pegawai rumah tahanan tidak perlu di ragukan karena proses seleksi yang diadakan sangat ketat oleh negara, kemudian ada pendidikan dan pembekalan, serta kuantitasn dan kemampuan yang sepadan dengan kinerja yang dilakukan oleh pegawai Rutan. Kemudian kemampuan yang di miliki oleh pegawai rutan juga tidak memerlukan ke ahlian khusus yang berat. Serta dari kinerja pegawai tidak ada masalah dan sesuai dengan harapan atasan.

Berdasarkan indikator kuantitas pada kinerja pegawai dalam pembinaan narapidana di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kabupaten Jeneponto, mengenai target yang harus di selesaikan oleh pegawai dalam pekerjaannya dalam jangka waktu tertrntu, berdasarkan wawancara yang dilakukan bersama MK (kepala rutan) mengatakan bahwa:

“..tidak ada target dalam pekerjaan ini hanya saja memang harus bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawab. Karena di sini ada namanya inspeksi kalau tidak benar caranya bekerja pasti akan dapat teguran langsung..” (hasil wawancaara MK, 17 september 2019)

Berdasarkan hasil wawancara diatas bahwasannya tidak ada target, namun harus bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawab, karena diberlakukan pemeriksaan terhadap kinerja pegawai, selanjutnya PR (staf subsi pengelolaan) mengatakan :

“..tidak ada ji target, target yang harus kerjakan disini karena lebih banyak

melakukan pengajaran dan pembinaan agar narapidana ini sadar dan bisa berubah kemudian diterima lagi dengan masyarakat lingkungannya..”

(hasil wawancara PR, 17 september 2019)

Berdasarkan hasil wawancara di atas menyatakan bahwasannya targetnya adalah melakukan pembinaan pembinaan agar narapidana menjadi sadar dan mampu diterima kembali di lingkungannya. kemudian dilakukan wawancara berasama SA (staf subsi pelayanan tahana) mengatakan bahwa:

“..kalau pelayanan tahanan sendiri tidak ada sama sekali target yang harus di selesaikan, bekerja saja sesuai dengan tugas sebagaimana mestinya..”

(hasil wawancara SA, 17 september 2019)

Hasil wawancara diatas yakni pelayanan tahanan tidak ada target yang di selesaikan, namun bekerja sesuai dengan perintah dan arahan. Selanjutnya dilakukan wawancara terhadap beberapa narapidana menyangkut target yang harus di selesaikan oleh pegawai, salah satu narasumber yakni RR mengatakan bahwa:

“..saya tidak tau ada target atau tidak karena saya ini Cuma narapidana saya tidak paham dengan yang seperti itu..”(hasil wawancara RR, 18 september 2019)

Wawancara diatas bahwasannya tidak mengetahui ada atau tidak target dalam kinerja pegawai rutan, karena ketidak pahamam dari narapidana. Jadi berdasarkan hasil wawancara pada indikator kuantitas yakni terkait mengenai beban kerja pegawai rutan kabupaten jeneponto tidak berat, karena tugas yang di jalankan hanya mengarahkan kegiatan narapidana dan mengawasi keseharian tahanan agar tetap mengikuti aturan dan ketetapan sebagai tahanan negara.Serta dengan jadwal kerja yang jelas oleh sebab itu beban pegawai tidak berat dan seharusnya mampu memaksimalkan kinerjanya. Kemudian kemampuan pegawai rumah tahanan tidak perlu di ragukan karena proses seleksi yang diadakan sangat

ketat oleh negara, kemudian ada pendidikan dan pembekalan, serta kuantitasn dan kemampuan yang sepadan dengan kinerja yang dilakukan oleh pegawai rutan.

Kemudian kemampuan yang di miliki oleh pegawai rutan juga tidak memerlukan ke ahlian khusus yang berat. Serta bahwasannya tidak ada target yang diberikan atasan kepada pegawainya dalam bekerja, melainkan hanya menuntut bekerja dengan maksimal dan baik dan penuh tanggung jawab.di karenakan tugas dan fungsi pegawai yakni melakukan pengawasan dan pengarahan membina narapidana untuk menjadi lebih baik. indikator kuantitas mengenai pembinaan narapidana pegawai tidak memerlukan aktivitas dan target dalam bekerja, pembinaan dilakukan berdasarkan jadwal dan arahan, serta dalam memberikan pembinaan tidak memerlukan kemampuan yang detail dikarenakan pada saat pembinaan baik itu pembinaan kepribadian, disiapkan orang khusus seperti psikolog, kemudian untuk pembinaan kerohanian juga disiapkan orang yang ahli dalam spiritual dan agama dan kerohanian.

c. Ketepatan Waktu

Merupakan tingkat aktivitas diselesaikan pada awal waktu yang dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain. Adapun sub indikator dari ketepatan waktu yakni 1) penyelesaian tugas berdasarkan waktu 2) kordinasi dan hasil Dengan indikator diatas adapun beberapa pertanyaan wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada enam narasumber yakni, Kepala Tahanan Negara Kelas IIB, Staf subsi pengelolaan, staf subsi pelayanan tahanan, dan tiga narapidana.

Berdasarkan indikator ketepatan waktupada kinerja pegawai dalam pembinaan narapidana di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Kabupaten Jeneponto, mengenai cara pegawai menyelesaikan aktivitas bekerja sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, berdasarkan wawancara yang dilakukan bersama MK (kepala Rutan) mengatakan bahwa:

“..memang pegawai rutan ini harus bekerja sesuai dengan waktu yang sudah ditetapkan, karena kedisiplinan merupakan hal yang wajib dalam bekerja, oleh sebab itu pegawai dari awal diberikan pendidikan dan latihan untuk tetap disiplin dan akurat dalam melaksanakan tugas..” (hasil wawancara MK, 17 september 2019)

Berdasarkan hasil wawancara di atas yakni pegawai Rutan bekerja sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, kedisiplinan menjadi kewajiban dalam bekerja, pegawai diberikan pelatihan dan didikan untuk disilin waktu agar mudah melaksanakan tugas. Selanjutnya PR (staf subsi pengelolaan) mengatakan:

“..pegawai memang dituntut untuk melakukan tugas dengan cepat sesuai waktu yang ditetapkan,tidak ada tawar menawar kalau sudah waktunya untuk selesai ya harus selesai kemudian lanjut lagi untuk kegiatan selanjutnya..” (hasil wawancara PR, 17 september 2019)

Berdasarkan wawancara di atas bahwasannya pegawai dituntut untuk melaksanakan tugas dengan akurat dan tepat waktu.Selanjutnya dalam wawancara bersama SA (staf subsi pelayanan tahanan) mengatakan bahwa:

“..pegawai rutan ini dilatih secara militer, jadi untuk ketepatan waktu juga merupakan kunci dalam bekerja, pegawai sangat dituntut untuk menyelesaikan kegiatan/pekerjaannya sesuai dengan waktu yang ditentukan..” (hasil wawancara SA, 17 september 2019)

Wawacara di atas menunukkan bahwa pegawai rutan dilatih secara militer dan kedisiplinan waktu merupakan kunci dalam menyelesaikan pekerjaannya. Selanjutnya dilakukan wawancara bersama beberapa narapidana terkait ketepatan waktu kerja pegawai dalam menjalankan tugasnya, bersama salah satu narasumber BN mengatakan bahwa:

Dokumen terkait