• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

49

“… Kepala Desa melalui Tugasnya, beliau mempunyai wewenang berdasarkan peraturan untuk melakukan pengangkatan perangkat desa baru. Hal itu didasarkan pada pembuatan surat keputusan dan dilaksanakan oleh tim yang dibentuk oleh Kepala Desa”

Selanjutnya, Kepala Desa Lambo Lemo menambahkan,

“.. Iya betul, saya menerbitkan SK pembentukan Tim penyeleksi perangkat Desa, yang dimana terdapat Ketua tim, sekretaris dan anggota. Semuanya sudah saya arahkan dan mandatkan untuk mengerjakan proses rekrutmen aparat baru”.

Berdasarkan hasil wawancara dan data yang didapatkan, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa, peran kepala desa pada organisasi telah dilaksanakan dengan baik. Hal itu dibuktikan dengan kewenangan kepala desa Lambo Lemo yang seorang pimpinan membentuk tim penyeleksi. Hal itu didasarkan pada kedudukan dan kewenangannya dalam mengambil sikap maupun keputusan dalam organisasi.

Adapun data yang didapatkan oleh peneliti berkaitan dengan susunan aparat Desa Lambo Lemo pada periode sebelumnya yaitu sebagai berikut:

Tabel 4.2. Daftar perangkat Desa Lambo Lemo periode 2013-2017

NO NAMA JABATAN

1 Herman Kaur Pemerintahan

2 Umar Kaur Umum

3 Anton Kaur Pelayanan

4 Salama’ Kadus I

5 Ambo Dg. Pabiring Kadus II

6 Agge Kadus III

7 Fatahudin Kadus IV

8 Ismail Kadus V

9 Kanta Kadus VI

Sumber: Arsip Desa Lambo Lemo tahun 2018

51

2. Tanggung Jawab

Dalam proses rekrutmen aparat desa di Desa Lambo Lemo, peran Kepala desa lainnya adalah tanggung jawab. Pada indikator tanggung jawab peneliti merangkum dalam beberapa poin yaitu Tanggung jawab pemerintah desa dalam pengambilan keputusan dalam pengkatan perangkat Desa, Tujuan pemerintah desa dalam pengakatan perangkat desa, Pengawasan pelaksaan pengangkatan perangkat desa, dan Memperhatikan kebaikan untuk masyarakat desa.

Hasil yang didapatkan pada indikator ini adalah didasarkan pada pengamatan dan hasil wawancara pada aparat desa dan masyarakat juga melibatkan wawancara dengan Badan Pengawasan Desa (BPD).

Berdasarkan wawancara yang dilakukan peneliti kepada Kepala Desa Lambo Lemo, Kepala Desa menerangkan bahwa:

“.. Saya memiliki tanggung jawab yaitu melaksanakan semua kewajiban saya sebagai kepala desa. Diantaranya melaksanakan visi dan misi. Dan juga tidak terlepas dari peraturan perundang-undangan desa. Sehingga saya harapkan mampu membawa desa ini semakin maju”.

Lebih lanjut, Kepala desa menerangkan:

“…Terkait dengan rekrutmen, itu sudah menjadi tugas saya ketika diharuskan mengangkat aparat baru. Tentunya harus mempunyai dasar yang kuat. Dan semua itu ada pada wewenang sebagai kepala desa.

Tanggung jawabnya yaitu tetap pada aturan tadi, seperti membentuk tim seleksi, mengawasi, dan mengangkat perangkat desa yang baru melalui seleksi”

Peneliti juga mendapatkan informasi dari narasumber yaitu aparat desa Lambo Lemo yang mengatakan:

“… Tujuan dari perekrutan aparat baru merupakan perintah dari kepala desa, tujuannya adalah mengisi kekosongan dan juga ketika memang diharuskan mengangkat aparat yang baru. Semua itu merupakan tugas dan

tanggung jawab kepala desa dan dikerjakan oleh tim penyeleksi. Menurut saya hal itu sudah sesuai dengan aturan dan kebutuhan”.

Kepala desa Lambo Lemo menambahkan:

“… Seluruh proses seleksi sampai pada pengangkatan itu sudah menjadi tanggung jawab saya selaku pimpinan. Saya juga turut mengawasi dari awal hingga akhir agar supaya proses rekrutmen ini transparan kepada publik, kami juga telah menginformasikan kepada masyarakat akan hal tersebut”

Namun pada informan lain yaitu masyarakat yang berinisial MR, mengungkapkan hal yang berbeda. Yang mengatakan bahwa:

“… Proses rekrutmen aparat desa di Desa Lambo Lemo kami tidak mengetahui. Tidak ada info kepada masyarakat luas terkait perekrutan.

Hal senada juga dikatakan oleh anggota BPD berinisial AK, mengatakan:

“… Kami tidak melihat adanya transparansi terkait rekrutmen aparat desa, semuanya terkesan tertutup dan tidak diketahui masyarakat. Itu dibuktikan dengan tiba-tiba sudah ada aparatur baru”.

Lebih lanjut hasil wawancara dengan salah seorang anggota karang taruna berinisial IL di Desa Lambo Lemo menuturkan:

“… Tidak ada transparansi kepada masyarakat. Untuk informasinyapun tidak ada. Kami juga merasa bahwa rekrutmen aparat desa terkesan hanya orang-orang terdekatnya saja yang diangkat. Proses seleksinyapun kami tidak tahu sampai pengangkatannya”

Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan yang peneliti lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa adanya ketidak cocokan antara pernyataan dari pihak Desa dan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya transparansi terkait dengan proses hingga pelantikan aparat desa di Desa Lambo Lemo. Selain itu, bukti yang kongkrit juga peneliti tidak temukan dilokasi penelitian seperti papan informasi rekrutmen, informasi media online maupun informasi berupa himbauan.

53

Selain itu, peneliti juga dapat menyimpulkan bahwa proses rekrutmen di Desa Lambo Lemo juga belum bisa memperhatikan kebaikan masyarakat. Karena tidak transparansinya proses perekrutan itu sendiri. Maka dalam hal ini kepala desa Lambo Lemo belum memenuhi kriteria pada indikator tanggungjawab.

3. Fungsi

Fungsi dan peran penting kepala desa dalam pengambilan keputusan dan juga bagaimana strategi kepala desa dalam pelayanan terhadap masyarakat dalam hal ini adalah terkait rekrutmen aparat desa dapat tergambar pada hasil wawancara peneliti dan beberapa informan.

Hasil wawancara peneliti dengan Kepala Desa Lambo Lemo mengatakan:

“… Strategi yang saya lakukan untuk proses rekrutmen adalah membentuk tim penyeleksi. Agar bekerja menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk rekrutmen. Semua persyaratan juga dibuat sesuai aturan. Tentu untuk diketahui juga oleh masyarakat”.

Kemudian Kepala Desa Lambo Lemo menambahkan:

“… Setelah dibentuk tim seleksi, kami melakukan penjaringan dan penyaringan. Sebelumnya juga ada yang namanya seleksi. Setelah itu baru dibuatkan SK pengangkatan yang disetujui oleh Camat”.

Informan lain yaitu Nurdi sebagai Sekretaris Desa mengatakan:

“… Kami melaksanakan rekrutmen itu berdasar pada keputusan kepala desa. Semua tahapan juga transparan. Kami informasikan kepada publik agar yang ingin menjadi aparat bisa ikut bagi yang berminat:.

Lebih lanjut informan Adi Iswandi selaku staff mengatakan:

“… Ada prosesnya, semua itu sudah kami sampaikan. Mulai dari meberikan informasi perekrutan, sosialisasi, tata cara mendaftar dan sebagainya. Tidak terlepas dari aturan dan arahan dari kepala desa. Kami hanya melaksanakan sesuai dengan arahan dan aturan”.

Namun informan dari pihak BPD berinisial AK mengatakan hal yang berbeda. Beliau mengatakan:

“… Pengambilan keputusan kepala desa terkesan tertutup dan tidak transparan. Melihat dari apa yang terjadi dilapangan, masyarakat tidak semuanya tahu. Kami juga di BPD tidak pernah dilibatkan dalam proses rekrutmen itu”.

Lebih lanjut informan dari masyarakat berinisial MR mengungkapkan”

“… Saya tidak pernah melihat maupun mendengarkan adanya keputusan dari kepala desa. Kami hanya mengetahui ketika sudah dilantik”. Tidak ada sosialiasi apalagi penyampaian secara terbuka”.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, peneliti menemukan bahwa tidak adanya kesesuaian hasil wawancara dari pihak desa maupun masyarakat. Peran seorang kepala dalam membuat keputusan rekrutmen dinilai tidak baik. Karena tidak terbuka dan tidak adanya keterlibatan masyarakat atau publik. Hal itu dibuktikan dengan masyarakat tidak menahu soal rekrutmen begitupun BPD dan organisasi kepemudaan di desa tersebut.

Selain itu peneliti dapat menyimpulan bahwa fungsi kepala desa dalam rekrutmen dinilai tidak sesuai dengan tugas atau peran sebagaimana mestinya.

Karena tidak ditemukannya keterbukaan kepada masyarakat hanya sebatas aparat di desa itu sendiri.

4. Orientasi

Meninjau sejauh mana kepala desa melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan dan juga melihat hasil dari pengambilan keputusan oleh kepala desa.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Desa Lambo Lemo, beliau mengatakan bahwa:

55

“… Dalam hal rekrutmen tentu melihat banyak aspek. Diantaranya kami selalu terbuka ketika ada keputusan kepada masyarakat. Proses rekrutmen ini sepenuhnya bisa diketahui masyarakat”

Lebih lanjut informan dari aparat desa yaitu xxx mengatakan:

“… Pelibatan masyarakat dalam rekrutmen sudah dilaksanakan. Kami sudah infokan dan terbuka”

Selanjutnya informan dari pihak BPD yaitu AK mengatakan:

“… Tidak ada pelibatan masyarakat dalam rekrutmen. Oleh anggota BPD juga tidak menahu perihal tersebut”

Masyarakat desa Lambo Lemo inisial LH mengutarakan”

“… Jangankan melibatkan, informasinyapun kami tidak ketahui. Kami rasa kepala desa keliru padahal informasi untuk rekrutemen itu harusnya di sampaikan sepenuhnya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Agar masayarakat yang berminat bisa ikut andil memberikan masukan ataupun ikut mendftar menjadi aparat”

Karang taruna desa lambeloma juga menambahkan:

“… Saya rasa keputusan kepala desa dalam rekrutmen kemarin tidak sesuai yang diharapkan oleh masyarakat. Buktinya hanya segelintir orang yang direkrut dan terkesan ditutupi”

Selain dari wawancara peneliti juga mendapatkan fakta dilapangan melalui pengamatan secara langsung dan menyimpulkan bahwa keputusan dalam melibatkan masyarakat memang susah dibuktikan, mengingat di desa Lambo Lemo tidak pernah adanya rapat oleh pihak desa, BPD, Karang Taruna dan juga masyarakat umum. Hal ini juga dibuktikan dengan hasil wawancara dengan informan dari BPD yang mengatakan”

“… Tidak pernah ada rapat atau musyawarah. Selain musrenbang, kami tidak menahu yang lainnya termasuk rekrutmen. Jadi saya rasa ini perlu menjadi perhatian agar tidak muncul ketimpangan dimasyarakat”

Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan yang peneliti lakukan maka dapat disimpulkan bahwa orientasi seorang kepala desa dalam rekrutmen belum memenuhi syarat. Karena melibatkan masyarakat merupakan suatu kewajiban namun tidak diindahkan. Semua tergambar dari tidak adanya keterbukaan, musyawarah, pertemuan dengan pihak masyarakat, BPD, pemuda tidak ada.

C. Pembahasan

Dokumen terkait