• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Bentuk Pembinaan Mental Dapat Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Narapidana Anak di Lapas Kelas II A Parepare

Pelaksanaan pembinaan yang diterapkan bagi narapidana anak di Lapas Kelas IIA Parepare, Adalah pembinaan kerohanian, kepribadian, pendidikan, dan keterampilan.

a. Pembinaan Kerohanian

Pembinaan kerohanian tersebut sejalan dengan tujuan dari pemasyarakatan yaitu bagaimana membuat narapidana dapat menyadari kesalahan. memperbaiki diri dan tidak kembali mengulang perbuatan yang sama. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Dirga Ayu (Pembina Lapas) sebagai berikut:

"Disini ada program, Belajar Baca Tulis Al-quran, ee Sholat Dhuha berjamaah setiap hari, sama ada kegiatan yasinan setiap hari jumat"40

Dalam wawancara diatas pembinaan kerohanian atau keagamaan di lapas dilaksanakan oleh seluruh penghuni lapas baik dewasa maupun anak- anak, dalam pembinaan yang dilakukan pada dasarnya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pembinaan kerohanian sangat penting dilaksanakan, karena pada dasarnya kedekatan diri kepada Tuhan dapat menghindarkan dan mencegah kita terjerumus dalam perbuatan kejahatan, bagi narapidana yang telah terlanjur melakukan kejahatan, pembinaan kerohanian dibutuhkan agar mereka dapat menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat, memperbaiki diri sehingga dikemudian hari, setelah menyelesaikan proses pemidanaanya mereka tidak mengulangi perbuatan yang sama. Seperti yang dikatakan oleh Pak Arlin (Pembina Lapas) sebagai berikut:

40Dirga Ayu (Pembina Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

"Kalau pembinaan kerohaniaanya berupa ini dulu ini kan sekarang sudah bukanmi lapas anak itu sholat berjamaah wajib itu, kemudian ee mengaji setiap habis magrib, yasinan setiap jumat”41

Sebagaimana mengutip pernyataan dari Pak Arlin, yang mengatakan pentingnya seseorang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, karena pada dasarnya pengetahuan terhadap agama dan ketakutan dalam melakukan dosa maupun kejahatan dapat menjadi filter perbuatan baik dan buruk, benar dan salah, etis dan tidak etis.

Pembinaan kerohanian tersebut sejalan dengan tujuan dari pemasyarakatan yaitu bagaimana membuat narapidana dapat menyadari kesalahan, memeperbaiki diri dan tidak kembali mengulang perbuatan yang sama. Pembinaan kerohanian sangat penting dilaksanakan, karena pada dasarnya kedekatan diri kepada Tuhan dapat menghindarkan dan mencegah kita terjerumus dalam perbuatan kejahatan, bagi narapidana yang telah terlanjur melakukan kejahatan, pembinaan kerohanian dibutuhkan agar mereka dapat menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat, memperbaiki diri sehingga dikemudian hari, setelah menyelesaikan proses pemidanaannya mereka tidak lagi mengulangi perbuatan yang sama.

Dalam pembinaan kerohanian yang dilaksanakan oleh Lapas Kelas II A Parepare. Lapas Parepare melakukan kerja sama dengan pihak ketiga yang memiliki kompetensi dan kapasitas di bidang keagamaan. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Dirga Ayu (Pembina Lapas) sebagai berikut:

41Arlin Rusli (Pembina Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

"Dalam pelaksanaan program pembinaan kerohanian, kita bekerjasama dengan pihak ketiga dalam hal ini adalah KEMENAG"42

Dengan adanya kerjasama tersebut tujuan yang hendak dicapai seperti meningkatkan pengetahuan agama dan membangun rasa keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang maha esa, sehingga dikemudian hari mereka yang telah menjalani pembinaan keagamaan akan enggan dan tidak ingin lagi berbuat kejahatan dapat direalisasikan, hal ini dikarenakan pembinaan kerohanian tersebut diberikan langsung oleh orang-orang atau Pembina- pembina yang memiliki kapasitas dalam melakukan pembinaan kerohanian sehingga untuk hasil dari pembinaan tersebut diharapkan bisa lebih maksimal.

b. Pembinaan Kepribadian

Dalam kegiatan pembinaan kepribadian diarahkan pada pembinaan mental dan watak agar Warga Binaan Pemasyarakatan diharapkan dapat menjadi manusia seutuhnya, bertaqwa dan bertanggung jawab kepada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Kegiatan pembinaan jasmani ini selain untuk menjaga kesehatan dan kebugaran narapidana, namun juga sebagai tempat dan sarana menjalin komunikasi dan sosialisasi antara petugas Lapas dan narapidana itu sendiri.

Selain itu, kegiatan ini sebagai hiburan terhadap narapidana agar tidak bosan dan jenuh dengan aktivitas mereka. Seperti yang dikatakan oleh Pak Arlin (Pembina Lapas) sebagai berikut:

"'Disini juga ada setiap hari sabtu kegiatan olahraga senam kebugaran serentak baik itu anak-anak dan dewasa"43

42Dirga Ayu (Pembina Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

Pembinaan kepribadian jasmani yang dilakukan oleh Lapas saat ini adalah senam yang dilakukan setiap sabtu pagi sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh petugas Lapas adapun kegiatan pembinaan jasmani yang lainnya adalah kegiatan olahraga seperti futsal, sepak takraw dan bulu tangkis yang dilakukan bergantian setiap hari setelah sholat ashar. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Dirga Ayu (Pembina Lapas) sebagai berikut:

"Anak-anak disini juga biasa diberikan Nasehat, motivasi-motivasi, dan games-games dalam program konseling. Agar mereka bisa dapat merasa percaya diri ketika ia kembali ke masyarakat."44

Pemberian nasihat diserupakan dengan penjahit pakaian. la berusaha menjaga kualitas dan memperbaiki barang yang diterimanya. Ia menjahit baju yang sobek. Pemberian nasihat juga berupaya meluruskan dan memperbaiki keagamaan seseorang seperti membersihkan madu dari lumuran lilin. Nasihat adalah menyampaikan suatu ucapan kepada orang lain untuk memperbaiki kekurangan atau kekeliruan tingkah lakunya.

Tentunya dari pesan atau nasihat yang disampaikan para Pembina dan petugas Lapas mereka berharap agar dapat merubah narapidana dari yang tidak terarah menjadi terarah, kemudian mereka bisa berubah sedikit demi sedikit selama berada di Lembaga permasyarakatan dan terlebih-lebih setelah mereka bebas. Perubahan dapat terjadi pada diri narapidana apabila mereka tekun dan disiplin dalam mengikuti program yang dilaksanakan oleh Lapas Kelas IIA Parepare.

43Arlin Rusli (Pembina Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

44Dirga Ayu (Pembina Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

c. Pembinaan Pendidikan

Lembaga Permasyarakatan dibawah naungan Kementrian Hukum dan HAM RI tidak luput dari jangkauan pembinaan terhadap narapidana khusus pada pembinaan pendidikan yang menjadi Program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah menyamaratakan pendidikan untuk seluruh masyarakat Indonesia tanpa melihat latar belakang dan status yang dimiliki oleh masyarakat. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Dirga Ayu (Pembina Lapas) sebagai berikut:

"Pembinaanya yaitu program paket A, B, dan C, program belajar bahasa inggris, program perpustakaan, disini ada pendidikan kesetaraan A, B dan C kayak seprti sekolah tapi di dalam lapas resmi nanti kalau keluar ada ijazahnya, sama ada kegiatan belajar bahasa Inggris yang kerjasama dari LIBAM IAIN Parepare, kegiatan perpustakaan semacam membaca buku, diskusi-diskusi."45

Dalam wawancara diatas pembinaan pendidikan berupaya dalam memberikan sebuah pendidikan bagi narapidana khususnya anak agar kelak ketika ia keluar dari lapas dan kembali kemasyarakat dapat menjadi orang yang bermanfaat dan dapat melanjutkan pendidikannya setelah ia bebas.

Dengan program kesetaraan pendidikan paket sama halnya ia bersekolah di sekolah lainnya tetapi membedakan hanya dari ijazahnya.

Begitupun dengan seorang yang telah divonis bersalah dan menyandang status narapidana yang menjadi asumsi dikalangan masyarakat luas adalah semua yang telah dicita-citakan tidak akan bisa terealisasi karena status yang dimiliki oleh seorang tersebut, namun perlu kita pahanmi status

45Dirga Ayu (Pembina Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

narapidana tidak mempengaruhi seseorang untuk tetap mendapatkan haknya, bukan karena mereka berada dalam tempat yang tidak bisa dijangkau oleh masyarakat luas sehingga dengan serta merta segalah hak dan kewajibannya tidak bisa mereka realisasikan. Seperti yang dikatakan oleh Pak Arlin (Pembina Lapas) sebagai berikut:

"Disini program pendidikan paket A, B, dan C semacam bersekolah juga didalam lapas"46

Dari wawancara diatas pembinaan pendidikan yang dilaksanakan di lapas tidak lepas dari kerjasama dari berbagai instansi terkait dalam mengembangkan pendidikan bagi narapidana.

Melaksanakan tugas dan fungsinya, Lembaga Permasyarakatan melaksanakan sistem permasyarakatan yang dijadikan sebagai metode pembinaan bagi narapidana dan anak didik, sedangkan narapidana adalah manusia-manusia yang menghadapi kesulitan dan terganggu status sosialnya sehingga mereka membutuhkan pendidikan dan pembinaan secara intensif agar mereka dapat mengatasi kesulitannya sedikit demi sedikit.

Pembinaan dan pendidikan terhadap narapidana secara umum meliputi, perawatan, pendidikan umum, pendidikan agama serta pendidikan keterampilan atau pekerjaan yang ada hubungannya dengan masyarakat. Agar dapat mencapai hasil yang optimal dari pelaksanaan system permasyarakatan, maka akan sangat tergantung sekali pada metode dan program pembinaan itu sendiri. Diharapkan kelak apabila mereka selesai menjalani masa pidana maka kemampuan dalam mengatasi segala sesuatu masalah yang dihadapinya

46Arlin Rusli (Pembina Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

bermanfaat dalam usaha memperbaiki interaksi sosialnya dengan lingkungan masyarakat.

Pada awalnya pendidikan bagi para narapidana bertujuan untuk memberi bekal mereka ketika keluar dari rumah tahanan. Di lembaga permasyarakatan pendidikan menjadi bernilai sosial melampaui nilai privat yang diterima oleh setiap individu. Jenis pendidikan pemanfatan ini sama potensialnya dengan dampak kejahatan yang ditimbulkan. Oleh sebab itu pendidikan menjadi penyebab positif untuk mengurangi tingkat kejahatan.

Semakin banyak orang mengenyam pendidikan maka pengangguran semakin berkurang, kondisi ini menjadikan pendidikan mempunyai manfaat sosial yang tak terhingga bagi masyarakat.

d. Pembinaan Keterampilan

Salah satu pembinaan kemandirian yang dilaksanakan oleh Lapas adalah kerajinan tangan, narapidana diberikan pembinaan dalam mengelola bahan limbah seperti Koran. Koran tersebut diolah sedemikian rupa menjadi kaligrafi, tempat tissue, dan bingkai foto. Seperti yang dikatakan oleh Pak Arlin (Pembina Lapas) sebagai berikut:

"Dulu disini kegiatannya anak ada kepramukaan disini juga salah satu gugus juga karna sekarang juga kita bukan lapas anak dan anak juga sisa 2 orang disini”.47

Keterampilan yaitu suatu kemampuan untuk menggunakan akal, pikiran, ide dan kreatifitas dalam mengerjakan, mengubah maupun membuat

47Arlin Rusli (Pembina Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

suatu menjadi lebih bermakna sehingga menghasilkan dari hasil sebuah pekerjaan tersebut. Keterampilan hendaknya dikembangkan dan dilatih terus menerus agar dapat menambah kemampuan seseorang sehingga menjadi ahli atau profesional dalam dalam salah satu bidang tertentu. Seperti yang dikatakan oleh Pak Arlin (Pembina Lapas) sebagai berikut:

"Mereka juga biasa membuat keterampilan semacam kerajinan dari koran pembuatan kaligrafi, bingkai foto terbuat dari koran”.48

Seperti halnya yang dilakukan Pembina narapidana anak Lembaga Permasyarakatan Kelas IIA Parepare, tidak hanya pendidikan yang diberikan namun dengan mengajarkan beberapa keterampilan kepada narapidana untuk membekali kemampuannya saat berhadapan dengan masyarakat nantinya, berikut wawancara Pembina Lapas Parepare.

Dalam pembinaan mental menumbuhkan rasa percaya diri narapidana anak ialah dengan beberapa pembinaan yang dilaksanakan yakni pembinaan kerohanian, kepribadian, pendidikan, dan keterampilan termasuk dalam pembinaan mental bagi narapidana anak. Menurut Ibu Dirga Ayu dalam wawancaranya

"Iya disini dilakukan pembinaan mental yang menyangkut kepercayaan diri narapidana anak yang dilakukan dengan berbagai pembinaan disini baik itu pada saat pemberian konseling berupa nasehat, motivasi agar mental anak terbentuk dan kepercayaan dirinya pun terbentuk, sehingga kelak mereka jika keluar dari lapas ini akan tidak mengulangi kesalahan dan perbuatannya dimasa lalu".49

2. Rasa Percaya Diri Narapidana Anak Di Lapas Kelas II A Parepare

48Arlin Rusli (Pembina Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

49Dirga Ayu (Pembina Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

Kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri sehingga dalam tindakan-tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya, sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri. adapun rasa percaya diri narapidana anak meliputi perasaan tenang, kemampuan berkomunikasi, pola berfikir positif, memiliki mental dan fisik yang menunjang penampilannya, mampu mengatasi masalah emosi negatif.

a. Perasaan Tenang

Perasaan tenang dan tentram merupakan keinginan yang ada dalam diri setiap orang. Dalam menjalani kehidupan ini seseorang seringkali merasakan kebahagian dan kesedihan. Setiap tahap perkembangan seseorang akan dihadapkan pada masalah yang berbeda-beda dengan penanganan yang berbeda-beda pula. Seperti yang dikatakan oleh Arya (Narapidana Anak) dalam wawancara sebagai berikut:

"Saya merasakan tenang ketika ee melakukan sholat, baca al-quran, dan dzikir ketika di mesjid".50

Dari wawancara diatas dapat peneliti simpulkan bahwa setelah informan melakukan kegiatan pembinaan kerohanian perasaan informan tenang setelah melakukan sholat, baca al-quran, dan dzikir.

Masalah yang timbul dan tidak dapat teratasi dengan baik dapat menyebabkan kesedihan, dan apabila tidak segera diatasi akan menjadi

50Arya (Narapidana Anak Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

perasaan tertekan dalam diri seseorang. Begitu pula sebaliknya hal-hal yang menyenangkan mampu membuat seseorang merasakan sebuah kebahagiaan.

Seperti yang dikatakan oleh Farhan (Narapidana Anak) dalam wawancara sebagai berikut:

" Tenang kurasa kalau sudahka mengaji dan sholat"51

Berdasarkan wawancara diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa belajar dengan sungguh-sungguh akan mengantarkan kita menjadi lebih lanjar dalam membaca al-Qur'an dengan baik dan benar dan dengan adanya al- Qur'an membuat perasaan kita tenang dan pikiran menjadi positif dan akan melahirkan tingkah laku yang baik.

Dan teori yang berkaitan dengan hasil wawancara diatas yaitu teori Behaviour yang menjelaskan tentang proses pembelajaran dengan memberikan stimulus yang dilakukan secara berulang untuk hal-hal yang baru agar mendapatkan respon yang sama seperti hal-hal yang baru agar mendapatkan respon yang sama seperti hal-hal yang telah diketahui sebelumnya. Misalkan diberikan pembinaan secara berulang-ulang oleh pembina lapas dengan melakukan kegiatan mengaji dilapas sehingga membuat perasaan tenang dan pikiran menjadi positif.

b. Kemampuan Berkomunikasi

Berkomunikasi dengan baik akan sangat membantu kita untuk saling memahami satu sama lainnya, menghindari kesalah pahaman dan tentunya akan saling memberikan rasa nyaman. Memiliki kemampuan berkomunikasi

51Farhan (Narapidana Anak Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

yang baik dapat membangun hubungan yang baik. Seperti yang dikatakan oleh Arya (Narapidana Anak) dalam wawancara sebagai berikut:

“disini diajarki sama petugas cara berbicara yang sopan kepada orang yang lebih tua, tapi ada juga rasa takutku ketika berbicara ada yang salah ucap”52

Agar tidak menjadi kurang percaya diri dan sulit untuk berkomunikasi, diharapkan terus berlatih untuk meningkatkan kepercayaan dirinya sehingga dapat berkomunikasi interpersonal dengan lancar. Kemudian juga tidak lupa untuk mengevaluasi dirinya sendiri agar mampu mengoptimalisasikan kemampuan dirinya dengan maksimal. Adapun yang diungkapkan oleh Farhan (Narapidana Anak) dalam wawancara sebagai berikut:

"Kalau sesama temanku disini baikji cerita-ceritaku, karna kebetulan berdua ka ji disini diblok anak"53

Kepercayaan diri dalam berkomunikasi adalah keyakinan akan kemampuan, dan kekuatan pada diri dalam melakukan hubungan timbal balik dengan teman-teman sebayanya dan dapat memberikan sesuatu yang menyenangkan bagi teman-temannya. Kemampuan untuk mampu mengeluarkan pendapat, memberi tanggapan, dan melakukan komunikasi dengan orang lain. Indikator dalam penelitian ini adalah yakin terhadap kemampuan diri, optimis, objektif, bertanggung jawab, rasional dan realistis.

Berdasarkan wawancara diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa komunikasi yang pembina ajarkan kepada narapidana anak bisa dikatakan

52Arya (Narapidana Anak Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

53Farhan (Narapidana Anak Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

cukup baik, dikarenakan anak ini mampu menjawab setiap pertanyaan yang diberikan penulis.

c. Pola Berfikir Positif

Berpikir positif adalah kemampuan berpikir seseorang untuk menilai pengalaman-pengalaman dalam hidupnya, sebagai bahan yang berharga untuk pengalaman selanjutnya dan menganggap semua itu sebagai proses hidup yang harus diterima. individu yang berpikir positif akan mendapatkan hasil yang positif dan individu yang berpikir negatif akan mendapatkan hasil yang negative. Seperti yang dikatakan oleh Farhan (Narapidana Anak) dalam wawancara sebagai berikut:

"Pernah waktu di berikanki kayak bimbingan selaluki diberikan motivasi, semangat, dan harus kita selalu berfikir yang baik-baik"54

Apapun yang dilihat akan menghasilkan gagasan-gagasan positif yang akan menunjang rasa percaya dirinya. Individu percaya diri merasa yakin dengan kemampuan yang dimilikinya, sehingga ia bisa menyelesaikan masalah karena tahu apa yang dibutuhkan dalam hidupnya, serta mem-punyai sikap positif yang didasari keyakinan akan kemampuannya.

d. Memiliki Mental dan Fisik Yang Menunjang Penampilannya

Fenomena yang dilihat menunjukkan bahwa adanya sikap berlebihan dalam mengutamakan penampilan fisik yang tidak terkendali. Hal ini disebabkan oleh rasa ketidak percayaan diri pada seseorang. Kepercayaan diri

54Farhan (Narapidana Anak Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

merupakan kualitas yang dapat memberikan ketenangan batin pada seseorang.

Seperti yang dikatakan oleh Arya (Narapidana Anak) dalam wawancara sebagai berikut:

"Kadang tidak begitu pede ka sama diriku sendiri, biasa juga disampaikan ki sama pembina pada saat diberikan motivasi haruski tampil percaya diri”55

Dengan kepercayaan diri yang dimiliki diharapkan ketika menyelesaikan tugas ataupun hal lainnya maka para remaja akan percaya pada kemampuan yang dimiliki sehingga kekurangan pada penampilan fisik dapat ditutupi. Dengan kepercayaan diri yang tinggi maka akan membiasakan untuk bersikap positif terhadap Body Imagenya dan tak mudah terpengaruh oleh orang lain. Rendahnya rasa percaya diri dapat menyebabkan rasa tidak nyaman secara emosional yang bersifat sementara. Seperti yang dikatakan oleh Farhan (Narapidana Anak) dalam wawancara sebagai berikut:

"Saya merasa tidak percaya diri dengan penampilan ku, karna tidak begitu bagus ji kurasa, tidak taumi kalau orang lain liatka"56

Berdasarkan wawancara dengan informan ia merasa tidak percaya diri dengan penampilan yang ia miliki. Dalam kepercayaan diri mengenai memandang fisik pada penampilan begitu pula mentalnya. Dalam hal ini pembinaan telah diberikan dengan metode pembinaan mental menyangkut kepercayaan diri telah diberikan oleh pembina dengan pelaksanaan pemberian pesan, nasehat, dan motivasi.

55Arya (Narapidana Anak Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

56Farhan (Narapidana Anak Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

e. Mampu Mengatasi Masalah Emosi Negatif/Pengendalian Perasaan

Pengendalian perasaan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Perasaan perlu dikelola secara baik. Apabila tidak dikelola secara baik bisa membentuk kekuatan besar yang tidak terduga dan bisa membuat seseorang lepas kendali. Untuk itu individu harus mampu mengendalikan perasaan, mempunyai keberanian dalam menghadapi tantangan, ketabahan dalam menghadapi masalah dan pengendalian dalam bertindak agar tidak mudah terbenam dalam emosi.

Emosi negatif bisa muncul kapan saja dan di mana saja, tergantung situasi yang dialami masing-masing orang. Namun, sebagian orang terkadang gagal mengontrol emosi negatif itu sehingga bisa berujung pada tindakan destruktif atau mempengaruhi mental. Sementara apabila seseorang bisa mengelola dan mengontrol emosi negatifnya maka ia akan lebih siap menghadapi situasi apa pun. Seperti yang dikatakan oleh Arya (Narapidana Anak) dalam wawancara sebagai berikut:

" Itumi juga se tdk bisa ka tahan emosiku, na masuk ka lapas, tapi kalau sekarang kayaknya bisami semenjak ku ikuti terus ceramah di mesjid sini."57

Orang yang tidak percaya diri dapat dikatakan tidak bisa mengendalikan perasaan sehingga menunjukkan ketakutan, kecemasan dan sulit menetralisasi ketegangan. Orang dapat dikatakan percaya diri, selain memiliki kepercayaan diri lahir yang tinggi pula. Individu harus memiliki

57Arya (Narapidana Anak Lapas Kelas IIA Parepare), wawancara 16 Februari 2021

komunikasi yang baik, memiliki ketegasan, mempunyai penampilan diri yang baik dan mampu mengendalikan perasaan.

Teori yang berkaitan dengan hasil wawancara diatas yaitu teori Behaviour yang menjelaskan tentang proses menegaskan bahwa manusia adalah hasil dari pengaruh-pengaruh disekelilingnya.

Dokumen terkait