• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

1. Program Tahfidz Al-Qur’an yang Berlangsung di Ma’had Putri IAIN Bengkulu

Program tahfidz Qur‟an yaitu suatu rancangan kegiatan menghafal Al-Qur‟an yang dilaksanankan berdasarkan aturan yang telah dibuat, mulai dari peraturan, jadwal dan lain sebagainya untuk mencapai tujuan program tahfidz Al-Qur‟an. Untuk melihat hasil tentang bagaimana proses pelaksanaan program tahfidz di ma’had putri IAIN Bengkulu agar tercapainya suatu tujuan secara efektif dan efisien maka peneliti mengajukan pertanyaan yaitu : Bagaimana program tahfidz di ma’had putri IAIN Bengkulu? “

Bapak Kurniawan, M.Pd. selaku staf bidang al-Qur‟an dan humas menjawab:

Merupakan program utama dan unggulan jadi semua mahasantri ma‟had al-jamiah IAIN Bengkulu itu diwajibkan untuk menghapal al-qur‟an kemudian mengulang-ulang hapalannya dan menyetrokan hapalannnya kepada ustad dan ustadaz yang sudah ditunjuk sesuai

dengan hasil kesepakatan para ustad hasil musyawarah hasil rapat santri ini setornya sama ustad siapa santri ini setoran sama ustadaz yang mana itu jadi programnya wajib bagi seluruh mahad santri yang ada di ma‟had al-jamiah kemudian masa pendemi seperti ini santri semseter satu, dua, tiga, dan empat dipulangkan semua dan mereka menyetorkan hapalanya secara online atau daring melalui channel yuotube atau google drive kemudian santri yang ada di asrama adalah santri-santri yang sedang kkn atau menulis skripsi dan mereka bisa setor langsung kepada ustad-ustadnya”.62

Gambar 4.1 Pelaksanaan setoran hafalan quran dengan Pembina atau mentoring secara bergantian setelah sholat magrib dan subuh

Sumber: Data Primer, 2021

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Amirul selaku mentoring sebaya menjawab:

“Program itu merupakan wajib di ma‟had program tahfidz itu dimulai dari juz tiga puluh disetorkan kepada musyrifah atau kepada ustad ustadznya masing-masing sesuai dengan pembagiannya masing-masing mahasantri yang tinggal di ma‟had itu wajib setoran sekaligus menyelesaikan target-target yang sudah ditetapkan”.63

62 Kurniawan, Wawancara, (Staf Bidang al-Qur‟an dan Humas Ma‟had Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu), Tanggal 02 September 2021

63 Amirul, Wawancara, (Mentoring Sebaya Ma‟had Putri IAIN Bengkulu), Tanggal 3 September 2021

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Amirul selaku mentoring sebaya menjawab:

“Program itu merupakan wajib di ma‟had program tahfidz itu dimulai dari juz tiga puluh disetorkan kepada musyrifah atau kepada ustad ustadznya masing-masing sesuai dengan pembagiannya masing-masing mahasantri yang tinggal di ma‟had itu wajib setoran sekaligus menyelesaikan target-target yang sudah ditetapkan”.64

Gambar 4.2 Pelaksanaan setoran hafalan quran dengan Pembina atau mentoring secara bergantian setelah sholat subuh

Sumber: Data Primer, 2021

Untuk memberikan hasil yang maksimal terhadap suatu tujuan, tentu dibutuhkkan sistem pengorganisasian yang terstruktur. Untuk memperluas hasil penelitian, peneliti mengajukan pertanyaan terkait waktu pelaksanaan hafalandan setoran program tahfidz Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu.

64 Amirul, Wawancara, (Mentoring Sebaya Ma‟had Putri IAIN Bengkulu), Tanggal 3 September 2021

Adapun waktu pelaksanaan setoran hafalan tahfidz quran di ma’had putri IAIN Bengkulu sebagai berikut:

a. Waktu Setoran Hafalan Tahfidz

Setoran hafalan merupakan gerbang utama menuju hafidz quran dan program ini diwajibkan bagi seluruh santri. Biasanya di setiap lembaga memiliki berbagai metode atau kebijakan dalam melaksanakan setoran hafalan quran. Berdasarkan hasil wawancara dengan Risda selaku mentoring sebaya yang mana peneliti mengajukan pertanyaan: kapan pelaksanaan hafalan dan setoran rutin program tahfidz?

“Nah kalau ustad iwan itu setorannya setiap habiis ashar, kalau ustad dia ada dua kali jadwal habis magrib dan habis subuh, kalau sama umi itu seminggu sekali tapi mereka banyak, maksudnya kalau kami bedah misalnya satu kali sehari itu minimal satu halaman jadi boleh magrib atau subuh tapi kalau umi biasanya mereka itu terkadang sampai empat lembar delapan halaman jadi mereka sama umi itu dikumpulkan dulu hapalannya baru disetrokan, terus kalau misalnya peringkingan setiap mau nak semester itu perengkingan dari terbanyak hapalannya misalnya sudah berapa juz hapalannya sampai yang terakhir itu tidak membatasi kalau dia semester berapa satu, dua, tiga dia memang seluruhnya digabung dari semester satu sampai tujuh itukan anti kalau misalnya sudah dua puluh kebawah hati-hati dikeluarkan”.65

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Ustad Iwan Staf Bidang Umum dan Humas beliau menjawab :

“Untuk waktu pelaksanaannya dalam satu minggu diadakan selama empat kali pertemuan di empat kali pertemuan ini terdapat sistem menghafal dan menyetoran hafalannya. Bagi mahasantri yang tidak bisa memenuhi jumlah hafalannya,

65 Risda, Wawancara, (Mentoring Sebaya Ma‟had Putri IAIN Bengkulu), Tanggal 3 September 2021

sebagaimana sudah menjadi kebijakan Ma‟had Al-Jami‟ah, maka santrti tersebut akan dikeluarkan dari Ma‟had selama 3 bulan.” 66

Dari hasil wawancara di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa waktu pelaksanaanya menghafal dan setoran hafalan dilaksanakan empat kali dalam satu minggu. Sifatnya fleksibel sesuai dengan kesepakatan dengan mentoring masing-masing. Yang terpenting adalah dalam waktu satu mnggu ini, kegiatan menghafal dan setoran hafalan rutin dilakasanakan.

b. Agen pelaksana program tahfidz

Dalam sebuah lembaga atau organisasi tentu diperlukan agen pelaksana atau aktor untuk penggerak organisasi tersebut. Agar suatu tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Hal ini juga diperkuat berdasarkan hasil wawancara dengan ustadz Kurniawan selaku Staff Humas dan pengembangan al-Qur‟an Ma‟had Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu. Yang mana peneliti mengajukan pertanyaan “Siapa saja pelaksana program tahfidz Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu?

“Pelaksana program tahfidz di ma’had putri IAIN Bengkulu adalah seluruh Ustadz-Ustadzah Ma‟had terhususnya yang diamanahkan dibagian posisi staff pengembangan al-Quran Al- Jamiah IAIN Bengkulu. Selain itu kami juga mengamanahkan kepada mahasantri yang sudah dipercaya untuk membantu menjadi mentoring sebaya bagi adik-adiknya.”67

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Risda selaku mentoring sebaya ma‟had putri IAIN Bengkulu.

66 Ustad Iwan, Wawancara, (Staf Bidang Umum dan Humas Ma‟had Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu), Tanggal 02 September 2021

67 Kurniawan, Wawancara, (Staf Bidang al-Qur‟an dan Humas Ma‟had Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu), Tanggal 02 September 2021

“Mentoringnya itu terdiri dari ustadz-ustadzah serta tutor sebaya. Setiap peserta atau santri menyetorkan hafalannya sesuai dengan mentoringnya masing-masing. Namun di program ini memiliki beberapa target hafalan setiap santri”.68 Pernyataan senada juga disampaikan oleh Amirul selaku mentoring sebaya di ma’had putri IAIN Bengkulu.

“Pelaksananya adalah ustadz-ustadzah ma’had putri IAIN Bengkulu dan mentoringnya juga dibantu oleh sebagian mahasantri yang sudah memenuhi kriteria sebagai mentoring.”

Dari hasil wawancara di atas, maka penulis dapat menyimpukan bahwa agen pelaksana dari progam tahfidz ma’had putri IAIN Bengkulu adalah seluruh ustadz ustadzah yang sudah dimanahkan atau dipercayai untuk menjadi pembina atau mentoring mahasantri. Selain itu, disini juga ditunjuk mentoring sebaya yang mana diambil dari mahasantri yang sudah mahir dibidang tahfidz.

2. Pengorganisasian Program Ma’had Putri IAIN Bengkulu dalam Mengelola Program Tahfidz Al-Qur’an

Dalam melaksanakan sebuah lembaga atau organisasi, tentu diperlukan pembagian kerja agar dapat memaksimalkan hasil suatu tujuan.

Pengorganisasian program tahfidz al-Qur‟an merupakan penyusunan dan pembagian tugas kepada masing-masing anggota di dalam suatu kelompok untuk membuat kebijakan dan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu yang bertujuan untuk mempermudah santri dalam melakukan kegiatan menghapal al-Qur‟an sehingga tujuan program tahfidz al-Qur‟an dapat dicapai secara efektif.

68 Risda, Wawancara, (Mentoring Sebaya Ma‟had Putri IAIN Bengkulu), Tanggal 3 September 2021

Adapun pengorganisasian disini lebih dijelaskan dalam deskripsi pekerjaan dan membebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuannya mengalokasikan sumber daya, serta mengkoor- dinasikannya dalam rangka efektivitas pencapaian tujuan program tahfiz.

Sejalan dengan hal tersebut, pengorganisasian program tahfidz al- Qur‟an di ma’had putri IAIN Bengkulu ialah ada beberapa indikator yang harus dilakukan yaitu sebagai berikut: Pertama, perincian tenaga pembimbing atau disebut ustad dalam mengembangkan program tahfidz secara efektif dan efisien yang dilakukan pihak lembaga atau pimpinan ma’hd. Kedua, pembagian pekerjaan atau tugas ustad selaku pembina program tahfidz yakni menyimak setoran hapalan para santri secara bergiliran. Ketiga, melakukan pengelompokkan tugas yang saling berkaitan, dalam arti membagi tugas masing-masing para pembina program tahfidz. Keempat, menetapkan mekanisme kerja untuk mengkoordinasikan pekerjaan dalam satu kesatuan yang harmonis. Kelima, melakukan monitoring dan mengambil langkah-langkah penyesuain untuk mempertahankan dan meningkatkan efektivitas. Maka peneliti mengajukan pertanyaan bagaimana pembagian kerja program tahfidz ma’had putri IAIN Bengkulu? Bapak Kurniawan M.pd. selaku staf bidang al-Qur‟an dan humas menjawab:

“Misalnya ustad A santrinya sudah di bagian di tetapkan.

Begitulah dengan seterusnya. Nah, disini kami juga meunjuk seperti guru pamong atau disebut sebagai tutor sebaya. Untuk mentoring atau pembinanya tidak mesti terpaku sesuai bagian laki- laki hanya bagian laki-laki saja, begitupun sebaliknya dengan bagian perempuannya. Karena kapasitas guru laki-laki dan guru

perempuan terbatas. Sehingga ada yang menyetor dengan ustadz/ustadzah. Untuk pelaksanaan menyetor hafalan dilakukan secara fleksible. Missal jika ada waktu luang, santri boleh menyetor hafalannya sesuai dengan mentoringnya masing-masiing selagi itu tidak mengganggu waktu lain atau mungkin ada alas an syar‟i yang menghambat proses penyetoran hafalan santri”.69

Pernyataan senada juga disampaian oleh Risda selaku tutor sebaya di program tahfidz ma’had putri IAIN Bengkulu.

“Pembagian kerjanya adalah dengan cara membagi beberapa kelompok yang mana mentoringnya itu terdiri dari ustadz-ustadzah serta tutor sebaya. Setiap peserta atau santri menyetorkan hafalannya sesuai dengan mentoringnya masing-masing. Namun di program ini memiliki beberapa target hafalan setiap santri. Yang mana santri tersebut harus bisa mencapai target hafalan sesuai dengan regulasi atau kebijakan dari Ma‟had. Untuk pelaksanaan hafalan ada yang namanya waktu yang ditentukan da nada waktu fleksibel. Nah jika seandainya ada santri yang ingin menyetorkan hafalannya, maka dibolehkan untuk menghubungi tutornya masing- masing. Sebagaimana tutornya telah di bagi dan ditetapkan”.70 Pernyataan senada juga disampaikan oleh Amirul selaku santri di program Tahfidz Ma‟had Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu.

“Pembagian kerjanya dibagi ada yang kepada musyrifahnya jadi ada yang kepada ustad ustadnya ada juga yang ke mbak-mbaknya.

Jadi kalau misalnya setroannya kepada ustad ustadnya itu tidak tiap hari. Ada juga tutor sebaya seperti kakak tingkatnya misalnya satu orang kakak tingkatnya ada dua orang adek yang setoran kepada beliua ada juga yang ke ustad ustadznya”.71

Selanjutnya, dalam mengorganisasikan program tahfidz ada beberapa hal yang harus disiapkan oleh musyrifah sebagai tenaga tutor tahfidz, sebagaimana yang diungkapkan oleh Bapak Kurniawan selaku staf

69 Kurniawan, Wawancara, (Staf Bidang al-Qur‟an dan Humas Ma‟had Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu), Tanggal 02 September 2021

70 Risda, Wawancara, (Mentoring Sebaya Ma‟had Putri IAIN Bengkulu), Tanggal 3 September 2021

71 Amirul, Wawancara, (Mentoring Sebaya Ma‟had Putri IAIN Bengkulu), Tanggal 3 September 2021

bidang al-Qur‟an dan humas ma’had Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu dalam wawancara, beliau mengatakan:

“Hal-hal yang harus disipakan oleh musyrifah sebagai tenaga tutor tahfidz yaitu komitmen, semangat, Qiroa‟tuhu (bacaannya harus standart) walaupun mereka belum memliki sanad minimal mereka mampu dalam bidang tadjwid atau makhrijul huruf dan terakhir, memanage program ini agar berjalan dengan baik”.72

Dari hasil wawancara penulis dapat menyimpulkan bahwa pengorganisasian kerja program Tahfidz di Ma‟had Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu merupakan ustad-ustadzah yang telah dimanahkan di bagian tahfidz tersebut. Selain itu, program ini juga dibantu oleh mahasantri atau disebut sebagai tutor sebaya yang sudah memenuhi standar kriteria yang cukup mumpuni di bidang tahfidz.

Lebih lanjut lagi dalam menetapkan mekanisme kerja untuk mengkoordinasikan pekerjaan dalam satu kesatuan yang hermonis, Bapak Kurniawan selaku staf bidang al-Qur‟an dan humas ma’had Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu, dalam wawancara mengatakan:

“Ada jadwal tertentu seperti pertemuan yang diadakan seminggu sekali guna mmbahas masalah-masalah mahasantri yang belum dapat mencapai target tertentu dikoordinasikan di forum dan dicari solusi bersama-sama, untuk kemudian diterapkan pada mahasantri- mahasantri tersebut”.73

Pernyataan senada juga disampaian oleh Risda selaku tutor sebaya di program tahfidz ma’had putri IAIN Bengkulu, dalam wawancara mengatakan:

72 Kurniawan, Wawancara, (Staf Bidang al-Qur‟an dan Humas Ma‟had Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu), Tanggal 02 September 2021

73 Kurniawan, Wawancara, (Staf Bidang al-Qur‟an dan Humas Ma‟had Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu), Tanggal 02 September 2021

“Karena mahasantrinya sudah lumayan banyak, jadi masing-masing pembina dalam hal ini disebut juga sebagai ustazah dan juga musyrifah senantiasa saling berkoordinasi mengenai perkembangan hafalan santri kemudian membuat laporan kepada kabid al-qur‟an dan humas ma’had untuk selanjutnya dilaporkan ke sekretais kemudian dilanjutkan ke pada direktur ma’had, untuk dilakukan tindakan yang sesuai dengan permasalahan yang terjadi”.74

Berdasarkan wawancara diatas dapat penulis simpulkan, bahwa dalam menetapkan mekanisme kerja untuk mengkoordinasikan pekerjaan para ustazah dan mentor serta musyrifah tahfidz harus bekerjasama dalam memberi dukungan kepada mahasantri dan memprioritaskan program tahfidzh Al-Qu‟an. Sehingga antara ustadzah ataupun pembina tahfidz dengan kabid al-qur‟an dan humas mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah-masalah yang ada di program tahfidz, misalkan ada anak–anak yang sulit atau membaca al-qur‟an boleh dikoordinasikan dengan forum, setelah itu dicari solusi secara bersama-sama. Kemudian ketika sudah bersepakat ada solusi bersama baru nanti dilapangan diterapkan apa yang sudah diarapatkan. Semua itu dilakukan agar program tahfidz dapat mencapai tujuannya.

Selain tahapan koordinasi pekerjaan, pengorganisasian program tahfidz di ma’had Putri IAIN Bengkulu juga melakukan kegiatan monitoring dan mengambil langkah-langkah penyesuain untuk mempertahankan dan meningkatkan efektivitas dari program tahfidz Al- Qur‟an. Seperti yang dikatakan oleh staf bidang al-Qur‟an dan humas ma’had Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu ialah sebagai berikut:

74 Risda, Wawancara, (Mentoring Sebaya Ma‟had Putri IAIN Bengkulu), Tanggal 3 September 2021

“Sebelum pengelompokkan pagi siang dan ba‟da subuh, bagian Ttq mengecekatau mengontrol mentoring dan mahsantri santri untuk diabsen. kemudian setiap bulan ada laporan setiap pembimbinng kepada kepala bidang tahfidz Al-Qur‟an, seperti sudah sampai dimana kemampuan hapalan dan bacaannya. Tujuannnya untuk melihat bagaimana perkembangan dari setiap mahasantri.

Kemudian mahasantri yang baru bisa belajar membaca al-quran atau tahsin kepada musyrifah atau kepada musrifatul itu mbak-mbak senior atau mas-mas senior yang ditunjuk diasrama kemudian nanti selanjutnya maha santri baru tersebut juga tetap sentoran kepada ustad dan ustadaz dan mbak mas musyrifah atau musrifatul juga tetap menyetorkan hapalan ustad dan ustadznya jadi sistemnya prinsipnya juga berjenjang berpusat jadi maha santri baru juga bisa belajar kepada musyrifah dan musrifatul dan musyrifah dan musrifatul menyetorkan kepada ustad dan ustdazahnya”.75

Pernyataan senanda juga disampaikan oleh Risda selaku mentoring program Tahfidz Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu beliau menjawab:

“Adik tingkat semester 1 mereka setahun pakai tutor maksudnya dari kami dipilih jadi mereka nyetornya kekami dulu nanti kalau sudah masuk juz tiga puluh sudah mau masuk juz satu itu baru ke ustadnya.

Sudah tidak bisa lagi ketutornya lagi nanti setiap tahun masuk lagi murid baru nah yang kakak-kakak tingkatnya tadi yang pandai terima setoran yang hapalannya bagus baru dijadikan tutor dan tidak semaunya sama ustad itupun dibagi tidak semunya mungki tiga puluh orang sama umi, sama ustad Iwan, dan ustad Kur. Kalau kami dulu sebelumya memang anak Bidikmisa saja yang masuk sini dan angkatan kami itu memang diseleksi jadi dari latar belakang yang MAN dan SMA jadi targetnya satu juz setengah. Kalau yang di bawah kami adik-adik sudah dipilih dari ustad maksudnya memang anak-anak yang pernah mondok tahfidz bawahan hapalannya 10 juz jadi merka dua juz. Jadi ketika masuk kesini tidak perlu ada pegangan hapalannya yang penting ada kemaun, untuk hapalannya nanti kembali diulang”.76

Pernyataan senanda juga disampaikan oleh Amirul selaku santri program Tahfidz Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu beliau menjawab:

75 Kurniawan, Wawancara, (Staf Bidang al-Qur‟an dan Humas Ma‟had Al-Jami‟ah IAIN Bengkulu), Tanggal 02 September 2021

76 Risda, Wawancara, (Mentoring Sebaya Ma‟had Putri IAIN Bengkulu), Tanggal 3 September 2021

“Kalau yang tahfidz maksudnya yang adek-adeknya harus continuous orangnya jadi kita harus juga memperhatikan siapa saja yang setoran karena ada buku tahfidz. Karena di ma‟had harus sesuai dengan target”.77

Dari hasil wwancara di atas, penulis dapat menyimpulkan kegiatan monitoring dari pengorganisasian program tahfidz Al-Qur‟an ma’had putri IAIN Bengkulu adalah pertama, melakukan absensi baik guru maupun santri yang ada dalam kelompok program tahfidz. Kedua, kepala bidang Ttq dan pembina tahfidz melakukan pertemuan yaitu seminggu sekali dalam bentuk memberikan laporan hasil setoran santri. Ketiga, direktur ma’had dan kepala staf bidang al-Qur‟an dan Humas ma’had melakukan pengecekkan dan melihat langsung berjalan atau tidaknya program tahfidz yang telah direncanakan dan diorganisasikan.

Untuk memudahkan dalam proses pelaksanaan menghafal dan menyetor hafalan, program tahfidz di ma’had putri IAIN Bengkulu membagi peserta dalam bentu kelompok guna untuk keefektifan dalam menghafal. Hal ini juga diperkuat yang mana peneliti mengajukan pertanyaan kepada Dinda selaku mahasantri di ma’had putri IAIN Bengkulu. Adapun pertanyaa yang peneliti ajukan adalah: Berapa orang dalam satu kelompok?

“Dalam satu kelompok dibagi rata dari jumlah mahasantri. Dalam satu elompok ini terdiri dari kisaran 30 orang yang mana 30 orang ini di pegang oleh satu orang Pembina”.78

77 Amirul, Wawancara, (Mentoring Sebaya Ma‟had Putri IAIN Bengkulu), Tanggal 3 September 2021

78Dinda, Wawancara, (Mahasantri Ma‟had Putri IAIN Bengkulu), Tanggal 6 September 2021

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Risda selaku tutor sebaya beliau menjawab:

“Saya selaku tutor sebaya,saya diamanahkan untuk memegang 2/3 orang peserta dan kami dari tutor sebaya diamanahkan untuk menyimak hafalan dibagian juz 30 saja mbak”.79

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Amirul tutor sebaya beliau menjawab:

“Dalam satu kelompok kami selaku tutor sebaya diamanahkah untuk memegang 2/3 orang peserta saja.”

Pernyataan senada juga disampakan oleh Dinda selaku mahasantri Mah‟ad Al-Jami‟ah beliau menjawab:

“Dalam satu kelompok terdiri dari 30 orang yang mana setiap Pembina mempunyai 30 orang untuk di pegang”.80

Dari hasil wawancara di atas, dapat penulis simpulkan bahwa pembagian kelompok dibagi rata sesusai dengan jumlah mahasantri. Dalam satu kelompok terdapat kisaran tiga puluh orang.

Dokumen terkait